Naruto © Masashi Kishimoto

A Naruto Fanfiction by Yukimura Hana & Iwahashi Hani

.

.

A/N: Terima kasih atas respon para pembaca yang telah menyempatkan diri membaca prolog fic ini kemarin. Kami kurang mengerti, apa arti 'seru' sebenarnya. Jadi, chapter satu ini, menceritakan tentang kehidupan Naruto sehari-hari, belum tentang apa yang dijelaskan di prolog. OK, Let's read!

.

.

Chapter I : I am Namikaze Naruto.

Mentari pagi telah menampakkan dirinya di ufuk timur. Sebagian penghuni bumi telah beranjak melakukan aktifitas mereka masing-masing. Tapi, tidak untuk pemuda ini. Dirinya masih nyaman bergelut dengan bantal dan gulingnya, seakan enggan menampakkan iris birunya kepada dunia.

KRINGGGG— Naruto meloncat kaget dari kasurnya kala jam weker kesayangannya berdering dengan suara yang memekakkan telinga. Diusapnya pelan bokongnya yang sedikit sakit sembari menguap pelan lalu melirik jam berbentuk cup ramen itu.

"07.06! AKU TELAT!"

Naruto segera berlari beranjak dari kasurnya menuju sebuah kamar mandi kecil di pojok kiri apartemennya. Ia membasuh wajah tampannya dengan air, berharap bulir-bulir menyegarkan itu meredakan emosinya yang tak stabil.

Dibukanya lemari kayu di sebelah kasurnya, lalu meraih sebuah seragam sekolah bermotif garis kotak-kotak biru tua. Usai memakai seragam itu, Naruto mematut dirinya di depan cermin, merapikan anak rambutnya yang berantakan ke bawah, tapi tentu percuma karena rambutnya tetap akan ke atas seperti biasa.

Ia berlari, mengambil sehelai roti tawar dan bergegas menuju pintu apartemennya. Jam di tangannya telah menunjukkan 07.12 waktu Konoha, itu artinya hanya tersisa beberapa menit lagi sebelum bel sekolahnya berdering. Helaan nafas terdengar dari mulut Naruto sebelum ia mengambil langkah pertama, bersiap untuk hal 'mengerikan' yang akan terjadi hari ini.

Kaki jenjangnya berlari melewati beberapa pintu rumah tetangganya, tanpa menggubris tatapan sinis, tidak suka, dan benci dari orang-orang yang melihatnya. Oh, hatinya sudah keras. Keras akan perlakuan orang-orang tak berkemanusiaan itu terhadap dirinya. Dicaci, dimaki, ditendang, dipukul, diludahi, hal-hal itu tak cukup untuk menjelaskan apa yang dilakukan orang-orang itu kepadanya.

Kadang, dirinya tak habis pikir. Apa yang pernah dirinya lakukan kepada orang-orang itu? Apakah salah terlahir sebagai seorang anak lelaki dari orang tua yang dijatuhi hukuman mati akibat pengedaran benda haram narkoba? Ah, ya, dia tau. Tau bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan keji di dunia. Tetapi, bukankah memperlakukan seorang anak berusia 13 tahun yang tak tau tentang pola kehidupan orang tuanya sendiri dengan kasar tanpa alasan yang jelas seperti itu merupakan hal yang sama kejinya melebihi PSK sekalipun?

Ironis.

Sebuah bus kuning mencolok menarik perhatiannya. Naruto segera mengejar kendaraan itu dan menaikinya, meski harus berdesak-desakan dengan orang yang tak terduga. Ia hanya diam, tak menanggapi beberapa orang yang membicarakan dirinya di setiap sudut bus. Yang terpenting, ia tidak telat hari ini.

Naruto meminta sang supir berhenti di ujung jalan kala sekolahnya terlihat. Bus itu berhenti, tapi Naruto turun dengan posisi tersungkur ke bawah akibat di dorong oleh salah satu di antara mereka yang tak suka dengan dirinya. Heh, apakah orang itu tak mempunyai rasa nurani seorang manusia melihat dirinya diperlakukan seperti hewan ternak?

Disaat itu, sebuah tangan terulur kepadanya. Ia mendongkak, dan mendapati seorang pemuda berambut raven yang menatapnya dingin, sedingin es di kutub utara. Naruto mengerutkan keningnya, ia tau pemuda itu. Sasuke, Uchiha Sasuke. Pemuda yang selalu dihadiahi teriakkan histeris dari para wanita. Ugh, rasanya pasti menyenangkan jika jadi dia.

"Maaf, tak sengaja. Ayo berdiri."

Nada tanpa intonasi itu membuat Naruto semakin bingung. Ia meraih tangannya, manik biru lautnya kembali menatap iris sekelam malam Sasuke dengan aneh. Kenapa lelaki beken itu mau membantunya?

"Thanks," Ucap Naruto, menepuk seragamnya dan langsung melesat memasuki gerbang sekolahnya.

.

.

.

Pagi ini, cukup senggang bagi murid kelas VIII-2. Guru matematika yang terkenal kesangarannya, Mitarashi Anko tidak masuk hari ini. Seperti kelas pada umumnya, jika tak ada guru yang masuk, kelas akan ramai seperti pasar tradisional.

Sedari tadi, Naruto menengok ke kanan ke kiri, merasakan sepasang mata yang mengawasinya sejak ia mendudukkan bokongnya di kursi kayu itu. Ia menggeleng, mungkin hanya perasaannya saja. Posisi duduknya yang di pojok, dan berada di belakang kelas tak mungkin membuatnya diperhatikan? Cih, mendengar namanya saja, membuat beberapa orang jijik, apalagi memperhatikannya? Jangan berharap!

Pikirannya melayang, mengingat insiden jatuhnya dia tadi pagi. Sasuke, Uchiha Sasuke. Satu-satunya keturunan Uchiha yang masih menapakkan kaki di Konoha. Naruto ingat, saat dirinya menginjak kelas lima, pemuda berambut emo itu menjadi pembicaraan seisi Konoha, bahkan melebihi dirinya yang disebut-sebut sebagai penerus 'kotoran' dari Namikaze Minato.

Keluarga Sasuke, marga Uchiha tepatnya, dibantai oleh Itachi, kakak Sasuke yang pernah menjadi senpai-nya saat sekolah dasar. Berita yang sangat heboh, juga mengenaskan. Tapi, kenapa Sasuke tidak ikut dicaci sepertinya? Tidak dimaki ataupun diberi tatapan tak suka? Kenapa pemuda biru dongker itu malah dipuja-puja oleh banyak orang? Apakah Tuhan tak adil?

Naruto menggeleng, ia tak patut menuduh Tuhan tak adil. Tuhan, memberikan segalanya bagi umat manusia. Kehidupan, ketenangan, kebebasan, kebahagiaan, bahkan akan memberikan sesuatu yang lebih baik lagi seusai makhluknya meninggalkan alam semesta. Apakah itu yang dimaksudkan Tuhan tak adil? Semua orang tau, Tuhan adalah zat yang paling adil.

Disaat iris safirnya menatap lurus, Naruto menemukannya. Menemukan pelaku yang sedari tadi membuatnya risih. Pelaku yang sedari tadi menatapnya dengan lugu, iba, tanpa ada kebencian di dalamnya. Ia mendengus, gadis itu. Gadis cantik bermarga terpandang di sekolahnya. Gadis bermata perak, dengan rona merah yang selalu hinggap di wajah ayu-nya. Naruto akui, gadis indigo itu memang cantik, bahkan gadis tercantik yang pernah ia kenal selain ibunya.

Naruto membalikkan badan menghadap jendela, berharap Hinata berhenti menatapnya. Sungguh, demi apapun, ia tak mau berurusan dengan Hyuuga Neji, yang notabenenya kakak Hinata yang merupakan ketua klub taekwondo di sekolah. Sudah cukup ia dipukuli oleh beberapa lelaki dewasa yang tak suka akan kehadiran dirinya waktu itu.

Matanya memandang tajam ke arah jendela, seakan benda mati itu adalah objek yang patut disalahkan. Tangannya mengepal, menahan gejolak amarah di batinnya. Dunia serasa berhenti berputar, ia mulai mengingat, mengingat kembali wajah kedua orang tuanya yang telah singgah di alam baka. Wajah mereka, senyum mereka, kenapa mereka melakukan hal yang bejat yang membuatnya dikucilkan seperti sampah rongsokan? Kenapa!?

PRANGGG— Tanpa ia sadari, Naruto memukul jendela transparan itu hingga pecah berkeping-keping. Seisi kelas menatapnya tajam, seakan mengintimidasi sang pelaku ke bagian paling rapuh, meminta jawaban apa yang dilakukan pemuda kuning itu.

"Hey bodoh, apa yang kau lakukan hah!?"

Naruto tak bergeming, namanya bukan 'bodoh', melainkan Namikaze Naruto! Jadi, untuk apa ia menoleh? Cih, memangnya gadis kuning itu pintar hah?

"Hey! Aku berta—"

"Diam kau setan!" Potong Naruto, kesal. Ia beranjak dari tempatnya menuju keluar kelas tanpa mempedulikan tatapan sinis teman-temannya yang masih setia di bola mata mereka masing-masing.

∞o∞o∞o∞o∞o∞o∞o∞o∞o∞o∞o∞

Hinata melirik jam yang melingkar di tangannya dengan gusar. Bel dimulainya jam pelajaran terakhir sudah berdering sedari tadi, tetapi pemuda kuning yang memang menarik perhatiannya sejak memasuki masa sekolah menengah pertama itu tak kunjung menampakkan eksistensinya. Gelisah, takut, cemas mengendap di batinnya, ke manakah Naruto?

Guru Kakashi yang mengajar sejarah, tidak masuk karena sakit. Jadi, hari ini benar-benar senggang untuk kelas Hinata. Hinata berpikir sejenak, lalu mulai melangkahkan kaki menuju keluar kelas dengan menggenggam sebuah kotak dan mencari Naruto tanpa menanggapi sepasang mata yang menatapnya tajam.

.

.

Naruto duduk menikmati semilir angin yang menerpa wajah tampannya. Dirinya tidak tau, kenapa ia bisa sekesal itu terhadap wanita kuning yang mengatakannya bodoh tadi. Padahal, ia sudah kebal mendengar satu kata itu. Bodoh, ya memang dirinya bodoh. Merasa bodoh memiliki tulisan 'Namikaze' di dalam namanya.

Naruto mengepalkan tangannya, lalu kembali menonjokkannya pada kawat besi pembatas. Batinnya sakit, sangat sakit. Melebihi sakit tangannya yang sedari tadi tak henti-hentinya mengeluarkan liquid berwarna merah. Ia marah, marah pada diri sendiri. Kenapa dirinya memiliki orang tua yang bejat?

KRIIIIEEETTT— Decitan pintu kayu atap sekolah membuat Naruto mengalihkan perhatian padanya. Seorang gadis bersurai indigo, dengan wajah manis dan ayu menampakkan dirinya di depan iris safir Naruto. Lagi-lagi, Naruto mendelik sebal, apa maunya gadis ini?

"Na-Namikaze-san.."

Marganya disebut, membuat Naruto sedikit terperangah. Kenapa gadis ini tak mengatakan dirinya bodoh seperti murid-murid yang lain? Mau dikata hebat, hah? Mau dikata berbelas kasihan karena mengasihani seorang NAMIKAZE NARUTO? Mengasihani seorang anak dari perkawinan pelaku pengedar benda haram? Cih, lebih baik gadis itu enyah dari hadapannya.

"A-aku membawakan be-bento untukmu.."

Apa dia bilang? Bento? Apakah gadis itu ingin membunuhnya dengan cara menaruh racun di dalamnya? Tertawa bahagia saat dirinya terkapar payah dengan mulut dipenuhi busa di hadapannya? Cih, walau ia tau itu tak mungkin dilakukan oleh seorang Hyuuga Hinata. Naruto beranjak dari tempatnya, melalui gadis bermata perak itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Na-Namikaze-san, ku mohon te-terimalah!"

Teriakkan dari sang Hyuuga tak digubrisnya. Naruto terus melangkahkan kakinya tak menentu, berharap gadis gagap yang memunggunginya pergi dari hadapannya dan tak mengganggunya lagi. Ia menuju taman belakang, perpustakaan, laboratorium ipa, hingga kantin. Tetapi, gadis itu tetap mengikutinya. Walau dirinya tak menganggap kehadiran Hinata, tetap ia mulai gerah sendiri. Apa motif gadis ini?

Naruto berjalan dengan jengkel menuju toilet pria di belakang taman. Saat di ambang pintu, ia berbalik dan menatap Hinata dengan tajam. Apa iya gadis itu ingin ikut masuk dengannya? Gila saja!

"Mau apa kau hah?! Tak capek mengikutiku sedari tadi? Aku ingin ke toilet!"

Hinata hanya terdiam, menundukkan kepalanya tanpa berani menatap kilatan amarah di manik biru laut Naruto. Jemari lentiknya menyodorkan sebuah kotak bento yang memang ia siapkan tadi pagi untuk pemuda kuning itu. Takut-takut, ia membuka suara, "A-aku hanya ingin memberikan ini.." lirihnya.

Naruto menatapnya sebal, meraih kotak bento itu dan membuka tutupnya. Sebuah menu makan siang yang bisa dibilang sehat, dengan wajah tampannya yang menjadi hiasan toping. Ia mendecih, untuk apa gadis ini repot-repot membuatkannya makanan seperti ini?

"Sudah ku terima 'kan? Jangan ikuti aku lagi!" Desisnya, tajam, lalu memasuki toilet pria itu tanpa menengok kembali ke arah Hinata. Ia memasuki salah satu ruangan yang kosong, duduk disana dan mulai merenung lagi.

Perutnya bergemuruh, walau isi bento yang diberikan Hinata telah mendingin, wanginya menyeruak kemana-mana. Gengsi, sebal tapi tertarik. Dibukanya tutup kotak itu, dan menghirup aromanya dalam-dalam. Bahkan ia tidak ingat, kapan terakhir kali memakan masakan rumahan seperti ini. Lagipula, siapa yang mau membuatkannya makanan seperti ini di rumah? ia tak memiliki teman, saudara, bahkan keluarga. Tak ada, tak ada yang memperdulikannya.

Ia memakan bekal itu dengan lahap. Sebuah senyum tipis terulas di wajah tampannya. Masakkan gadis cantik itu sungguhlah enak, membuat dirinya ingin mencoba masakkannya lagi. Oh, apa yang dia pikirkan? Menatap iris perak bulan gadis itu saja bisa membuatnya berrusan dengan Neji, apalagi menyuruhnya dengan seenak jidat memasakkan bento untuknya?

Seusai melahap habis makanannya, Naruto beranjak berjalan keluar. Tapi, langkahnya terhenti kala Hinata masih setia berdiri di depan toilet. Otak kirinya berputar, mencari akal bagaimana caranya ia keluar tanpa ada Hinata di balik punggungnya.

Sebuah ventilasi udara yang menghubungkan antara toilet pria dengan taman belakang terlintas di kepalanya. Naruto menyeringai, ventilasi yang tak besar, namun cukup untuk tubuhnya yang terbilang kurus pun dipilihnya. Ia memanjat, menginjak wastafel sebagai pijakannya, meraih penutup benda itu dan memasukinya.

KRINGGGG— Berderingnya bel pulang pun mengiringi keberhasilannya. Naruto bergegas berlari menuju kelasnya, mengambil tas dan melesat keluarga gerbang sekolah tanpa mengetahui Hinata yang masih menunggunya di depan toilet.

-ooooooooooooooooooooo-

Matahari sudah terbenam sejak dua jam yang lalu. Naruto berjalan pelan melalui setapak jalan yang terhubung dengan apartemennya. Kerja sambilan, ia baru saja menyelesaikan part time kerjanya sebagai pencuci piring di kedai ramen favoritnya dulu. Bernasib baik pemilik kedai sangatlah ramah, sehingga ia dipekerjakan tanpa memandang siapa dirinya.

Sesosok pria berambut coklat panjang berdiri di depan pintu apartemennya. Ia tau, siapa sosok itu sebenarnya. Ia melangkah dengan takut-takut, berdehem kecil sebelum Neji menolehkan badan ke arahnya.

"DIMANA HINATA?!"

Sebuah pertanyaan dengan nada sinis dan tak suka langsung terhujam ke arahnya. Naruto mengerutkan keningnya, Hinata? Kenapa Neji menanyakan gadis indigo itu kepadanya? Naruto menggeleng, memberanikan diri menatap iris cerah milik Hyuuga Neji.

"Aku tidak tau, kenapa kau menanyakan hal itu padaku?"

Neji mengeratkan cengkramannya, menekan keras bagian bawah leher bawah Naruto dengan geram. "Teman sekelas Hinata bilang, kau dan dia tak ada saat pelajaran berakhir. DIMANA DIA?!"

Naruto lagi-lagi menggeleng dengan susah payah, berusaha melepaskan cengkraman yang bisa melayangkan nyawanya hanya dalam lima menit. Iris safirnya bergejolak marah, lalu kembali menatap amethyst di hadapannya.

"Tak tau! Silakan geledah apartemenku jika kau masih tak percaya dengan ucapanku!"

Neji melepaskan cengkramannya tanpa melepaskan tatapan tajam pedangnya dari pemuda kuning di hadapannya. "Jika kau tertangkap basah melakukan sesuatu kepada adikku, kau akan mati, Namikaze." Ancamnya, lalu beranjak pergi dari tempat Naruto.

Naruto masih diam tak berkutik, kata seram milik Neji memang selalu bisa membuatnya seperti ini. Dengan tubuh yang masih bergetar, ia memasuki apartemennya. Mungkin, mandi bisa mengurangi rasa takutnya. Ia melangkah mengambil sehelai handuk, menggantungkannya di belakang pintu dan mulai membasahi anak pirangnya dengan air.

Hinata. Ia mulai mengingat-ingat, apa yang gadis itu lakukan padanya siang tadi. Mengikuti, bento, toi— Apakah gadis itu masih menunggunya di depan toilet belakang taman? Seketika, manik birunya membulat. Hinata adalah gadis polos dan lugu, jadi.. kemungkinan besar dia masih menunggunya!

Tanpa banyak bicara, Naruto membersihkan sisa sabun yang masih menempel di tubuhnya. Membalutnya dengan handuk, dan bergegas memakai pakaian yang berada di dalam lemarinya. Kaos hitam tipis, dengan celana panjang sebetis dipilihnya. Diraihnya jaket jingga-hitam kesayangannya dan melesat pergi dari apartemennya.

O,o,O

Semilir angin malam mengusiknya saat ini. Hinata menggigil, menunggu hampir tujuh jam di depan ruangan nan gelap. Sebenarnya, ia bisa saja masuk dan memastikan apakah Naruto masih ada di dalam. Tetapi, tata krama Hyuuga yang diajarkan kepadanya, tak boleh sembarangan masuk ke dalam toilet lawan jenis.

Perutnya bergemuruh, kepalanya pening dan bajunya sedikit lepek, membuat tubuhnya tak kunjung membaik. Dieratkannya kaos kaki putih sebetis miliknya, dan juga seragam sekolahnya yang tak sepenuhnya menutupi kulit putihnya itu.

"Na-Naruto.."

TAPTAPTAP— Derap langkah seseorang menggema di koridor sekolah. Namun, Hinata tak menggubrisnya sama sekali, jika hantu pastilah tidak menapak. Jadi, untuk apa ia takut? Tetapi, cerita tentang monster di kartun favoritnya mengingatkannya, tentang monster yang suka memakan anak gadis di tengah kegelapan malam. Apakah itu dia?

"HINATAAAA!"

Suara bariton itu. Hinata tau, itulah suaranya. Suara pemuda yang selalu mengusik batinnya. Suara seorang Namikaze Naruto. Ingin sekali dia menanggapi suara milik Naruto, tetapi pita suaranya terasa tercekat, tak bisa mengeluarkan sepatah katapun saat ini.

"Hinata!"

Naruto menghampirinya kala menemukan tubuh Hinata terduduk di depan toilet. Kaku, Naruto memeluknya, menyalurkan kehangatan dalam tubuhnya pada gadis bersurai indigo itu.

"Ka-kau lama sekali di toilet, Na-Namikaze-san.."

Pemuda kuning itu tercekat, jadi benar Hinata menunggunya sedari tadi? Naruto berdehem kecil, lalu mengulurkan jaket kesayangannya kepada Hinata. "Pakailah, kau akan kedinginan." Ujarnya. Desiran hangat menjalar di kedua pipi Hinata, ia memakainya, menyesapi aroma cytrus Naruto dan kembali menatap tubuhnya yang sudah berdiri dari posisinya.

"Ayo pulang." Gumam Naruto, lalu berjalan pelan meninggalkan Hinata yang masih menatap punggungnya.

Gadis manis itu mengangguk, mulai berdiri dari tempatnya dan menyusul pemuda kuning di depannya. Tetapi, pening kembali menyerang kepalanya dan tubuhnya bergetar hebat, seakan tak mau diajak pergi oleh sang empu pemiliknya.

"Na-Naru...to.."

BRUKKKK— Dan tanpa aba-aba, Hinatapun pingsan seketika.

"Hey, gadis gagap ayo berdi— HINATA!"

.

.

.

Cahaya bulan purnama terang berderang di kota Kiyoshi. Ratusan kurcaci merah menatapnya dengan suka cita. Seekor katak yang berdiri di hadapan mereka pun nampak mengelilingi sebuah lingkaran bersimbol yin-yang, yang merupakan tersorotnya sinar rembulan yang terang itu.

Fukusaku mengeluarkan sebuah tongkat di balik punggungnya, menghentakkan kayu bermotif air kemudian menggesekkannya ke arah lingkaran itu. Tiba-tiba, sebuah kristal muncul seiring dekatnya sinar bulan purnama ke arahnya, mengukir sesosok pemuda dengan kekuatan sihir disertai iringan salju di antaranya.

"Penjaga baru.. Namikaze Naruto?" gumam Fukusaku, sedikit tak percaya.

BYARRRR— Sebuah dadu bercahaya putih pun ikut terpental seiring ledakan kristal itu, menampakkan hanya satu titik merah. Berarti hanya seorang Namikaze Narutolah yang berhak mendapatkan seluruh kekuatan pusaka. Fukusaku terperangah, satu? Hanya satu? Apakah sesuatu yang dilihatnya tak salah?

Perlahan, cahaya itu menghilang, menyisakan sebuah kalung berkristal biru dengan dua lonceng di setiap sisinya. Fukusaku menggenggam kalung itu, dan mengucapkan rasa syukur kepada Dewa Alam Semesta yang telah mengutus seseorang baru. Seseorang yang mungkin bisa melepaskan tirani kebencian yang menguasai bumi. Ya, mungkin..

ooooooooooooooooooooo

Gemuruh yang berasal dari perutnya membuat Hinata terjaga. Dikerjap-kerjapkan matanya, mengingat apa yang terjadi padanya tadi. Seingatnya, ia masih berada di sekolah bersama Naruto. Diliriknya asal suara dentingan jam di tangannya, jam 10.17 malam?!

Hinata menyibak selimut yang menutupi dirinya, beranjak dari sana untuk mencari tau dimana dia sekarang. Kepalanya pening, seiring langkahnya menjauhi tepat tidur itu. Lantai kotor berserakan benda yang Hinata tidak ketahui apa itu menyulitkan perjalanannya, ia lapar, sungguh lapar. Mungkin di tempat itu memiliki makanan yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya.

Wangi yang entah apa itu menyeruak, membuat perutnya semakin sulit diajak kompromi.. Sebuah cup dengan uap panas yang masih tersisa di atasnya tergeletak di atas meja. Hinata meraihnya, bukankah itu benda yang sama dengan apa yang ia lihat di bawah lantai tadi? Ah, ia tak peduli, yang penting perutnya terisi.

Disaat itu pula, Naruto yang baru selesai menjemur pakaiannya, berjalan menuju dapur. Ia berniat memakan ramennya yang masih tergeletak di meja makannya. Tapi, keinginannya patah seketika kala melihat Hinata yang sudah menghabiskan ramennya itu.

"Na-Naru— ma-maksudku Namikaze-san.."

Gadis itu sudah bangun rupanya, batinnya. Naruto melangkah, melalui Hinata tanpa memperdulikan sapaannya tadi. Ia meraih satu ramen cup lagi yang ada di lacinya, membuka kemasannya dan menyeduhnya, lalu duduk di sebelah Hinata.

"Lebih baik, kau segera pulang. Aku tak mau berurusan dengan kakakmu." Ujarnya, dingin.

Bukannya menanggapi ucapan Naruto, Hinata malah menatap wajah tampan Naruto yang tengah menikmati ramennya. Bukan, bukan wajahnya tetapi ramennya. Perutnya masih lapar, dan ramen yang dimakan Naruto sangat menggugah perutnya. Naruto yang menyadari itu, mendelik kesal. Tangannya menyodorkan ramen yang dipegangnya kepada Hinata tanpa melepas tatapan tajam miliknya.

"Cih, habiskan ini, lalu aku akan mengantarkanmu pulang."

Gadis manis itu mengangguk, lalu segera melahap ramen itu. Pipi merahnya yang mengembung kala memasukkan semua ramen itu ke mulutnya membuat Naruto menahan kekehannya. Kenapa raut wajah Hinara sangat mirip dengan anak kecil yang tidak sabaran memakan kuenya? Tiba-tiba ia teringat, akan kotak bento yang diberikan Hinata tadi siang. Tangan kekarnya meraih benda itu, dan menyodorkannya kepada Hinata ragu. "Bentomu enak, terima kasih."

Hinata tersedak, seakan makanan yang sedang dilahapnya itu minta dikeluarkan kembali. Naruto memakan bentonya? Hingga habis? Mimpi apa ia semalam..

"Sa-sama-sama, ji-jika kau mau, aku bisa membuatkanmu se-setiap hari."

Sepuluh kata yang dilontarkan Hinata membuat Naruto sedikit tercengang. Membuatkannya setiap hari? Kenapa gadis itu mau repot-repot untuknya?

"Heh, terserahlah."

.

.

Jam di tangan Hinata telah menujukkan pukul 11 kurang tujuh belas menit. Gerbang yang sangat ia kenali pun sudah terlihat di depannya. Naruto hanya bisa berdiri menatapnya sejauh sepuluh meter, takut-takut kakak Hinata yang menyeramkan itu malah memukulinya habis-habisan.

Ia melangkahkan kakinya setelah Hinata memasuki gerbang rumahnya. Baru beberapa langkah, ia dikejutkan oleh sosok Neji yang menatapnya tajam, melebihi tajamnya pedang pusaka sekalipun.

"Apa kau bilang heh, Namikaze? Kau bilang, kau tak bersama adikku. TADI ITU APA?!"

BUAGHHH— Belum sempat Naruto membuka mulut, Neji sudah menghajarnya. Memukul perutnya, tengkuk, punggung, kepala hingga kemaluannya. Naruto meringis, tak bisa melakukan apapun. Tubuhnya yang kurus dan tak sebanding dengan Neji membuatnya kalah telak. Hanya diam tanpa melawan yang bisa ia lakukan saat ini.

"Jangan dekati adikku, NAMIKAZE!"

GRAKKKK!— Dan tubuh Naruto terpental bersamaan dengan beranjaknya Neji dari tempatnya. Naruto mengepalkan tangannya, mengusap darah yang belomba-lomba keluar dari hidung dan bibirnya dengan kasar. Pandangannya mengabur, dan yang terakhir ia lihat adalah seorang pemuda berambut raven seusianya yang tengah berusaha membangunkan dirinya.

.

.

.

-TBC-