Malaikat Tak Bersayap

Semua Pairing milik om Masashi kok.. aku cuma minjem.. beneran..

Warning: Typo, AU, sedikit OOC, Shonen Ai, BLB, dan lain-lain sebagainya..

.

.

.

Sinar mentari pagi menembus diantara celah celah atap yg bolong. Menyorot pada seorang pemuda blonde yg sedang tertidur dalam damai.

"Nghh~" Naruto pemuda itu menggeliat merasakan sinar matahari yg menyapa dirinya. Ia pun menguap lalu menggaruk-garuk pipinya.

"Jam berapa ini ?" gumamnya sambil mengucek matanya mencoba membiasakan penglihatannya. Ia menatap sekitar.

Ahh~ ternyata masih didapur Gaara. Yg tadi malam itu bukan mimpi.

Ia pun berdiri dan menatap wastafel, lalu mencoba menyalakannya 'Aneh.. Semalam masih menyala..' ucapnya dalam hati. Dia coba memutar mutar kerannya namun hasilnya nihil.

"Haahh.. Sudahlah.." Ia pun menyerah. Dan berjalan keluar dapur menuju ruang err.. Naruto masih bingung menyebutnya apa. Ia pun melihat jam usang yg masih berfungsi di dinding ruangan itu.

"Hemm.. Jam sepuluh pagi ya ?" gumamnya bodoh(emang Naruto bodoh sih xD).

"HUAPAAAA ! JAM SEPULUH ?" Jeritnya histeris. Bagaimana ga histeris jam segini baru bangun ? Kalo diatas langit pasti udah digantung dia.

Buagh!

Dan sebuah bantal yg lumayan keras sukses mencium wajahnya yg berantakan jadi semakin berantakan.

"Hei kau brengsek ! Berisik ! Aku sedang tidur" omel seorang wanita yg sepertinya cukup dewasa berambut pirang dan berkuncir empat.

"Heehh ?" Naruto melongo dgn tampang bodoh setelah 'hadiah' bantal melayang itu jatuh ke lantai.

"Kau siapa ? Kemana Gaara ?" tanya Naruto dgn bodohnya. Wanita itu menatap tajam Naruto. Yg ditatap serasa dikuliti dan dibelah dua. Hehehe.. Boong ding.

Ia menatap Naruto dr atas sampai bawah. Seperti mencoba menilai sesuatu dari Naruto. Karena ditatap seperti itu Naruto merasa risih dan kembali bertanya.

"Kau siapa ? Gaara kemana ?" tanyanya lagi dgn nada suara lebih tinggi.

"Sekolah" ucap wanita itu singkat lalu kembali tidur.

"Sekolah ? Memangnya Gaara sekolah ? Hei, kau belum menjawab pertanyaanku!" Protes Naruto saat wanita itu tidak menghiraukannya.

"Diam kau berisik ! Aku sedang mencoba tidur.. Sekali lagi kau mengangguku.. Akan ku kuliti kau hidup-hidup" ucapnya tajam dan terdengar menyeramkan. Naruto langsung bergidik ngeri. Wajahnya langsung berubah pucat.

Ia pun berbalik dan memilih ke kamar mandi aja membersihkan diri daripada harus dikuliti hidup-hidup. Hiihh~ membayangkannya membuat Naruto merinding sendiri.

Setelah selesai berperang ehem maksudnya mandi dgn melawan para musuhnya -Kecoa sebangsanya- Naruto pun bergegas keluar rumah itu sekedar jalan-jalan atau mencari Gaara. Ia sempat menoleh pada wanita yg sedang tertidur pulas difuton usang tersebut. Dahi Naruto mengeryit. 'Seperti ada sesuatu pada wanita ini' ucapnya dalam hati. Namun ia tak mau berprasangka buruk. Dan ia memilih keluar rumah aja. 'Dasar ga sopan!' Rutuk Author.

Tanpa ia tau futon tanpa alas bantal itu telah basah oleh airmata.

Naruto berjalan pelan menyusuri jalanan kota yg lumayan ramai di siang hari seperti ini. Matanya tak henti menatap gedung-gedung tinggi yg menjulang begitu megahnya. Sementara ada rumah-rumah kecil terpencil diantaranya.

Dia menatap gedung itu dgn heran. Bukan kagum. Ia bingung kenapa manusia suka sekali membuat hal yg menurutnya aneh dan malah merusak alam.

Dia ingat saat menjadi malaikat pernah melihat sebuah hutan yg dulunya lebat berubah menjadi gersang bak padang pasir. Kadang hatinya miris melihat ciptaan Kami-sama yg satu ini.

Manusia memang aneh.

Ditempat lain terlihat seorang pemuda berambut merah darah sedang melamun diatap sebuah gedung sekolah.

Baju seragamnya agak kumal dan berantakan. Dua kancing diatasnya terbuka dan bajunya tidak dimasukkan. Celana abu-abunya agak sobek dan ada tambalan semacam hansaplast dilututnya.

Ia menatap langit biru diatas kepalanya. Begitu cerah.. Berbanding terbalik dgn suasana hatinya yg sedang sedih, marah, jg kesal. Ia masih merasakan perasaan sakit setelah kejadian tadi pagi itu menyapanya.

#Flashback

BRAK!

Terdengar suara pintu dibuka paksa atau didobrak seseorang. Terlihat seorang wanita berambut blonde dan berkuncir empat dibalik pintu yg engselnya hampir copot tersebut. Pertanda dialah pelakunya.

Gaara yg saat itu masih tidur langsung terbangun dan duduk lalu mengusap matanya. Ia melihat wanita itu dgn gusar. Temari, kakak perempuan sulungnya pasti mabuk lagi malam ini.

Gaara hampir tidak peduli saat sebuah tas berukuran sedang melayang tepat ke kepala merahnya.

"Pergi kau brengsek! Aku muak melihatmu!" Omelnya. Gaara berfikir kakaknya pasti hanya meracau jadi Gaara tidak peduli. Saat kembali tidur.

"Heh! Sudah ku bilang pergi.. Dasar anak pembawa sial !" bentak Temari kali ini. Anak pembawa sial. Itu adalah kata-kata yg paling ia benci.

Akhirnya Gaara hanya menatap kakaknya dgn marah lalu bergegas pergi dgn membawa tas sekolahnya.

#Flashback off

Dan disinilah Gaara, semenjak tadi pagi sampai matahari berada diujung. Gaara hanya duduk disini. Diatap sekolah. Ia merasa hidup dan nasib menertawainya. Gaara hanya memejamkan matanya.

Sampai..

"GAARAAA!"

NGIINNGGGG..

Kuping author langsung berdenging mendengar teriakan dari pemerannya yang satu ini. Bahkan sampai si satpam yang berjaga disana kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan busa.

Gaara reflek menoleh karena namanya sudah dipanggil oleh orang yang sepertinya ia kenal dan memperhatikan siapa orang itu. Gaara memicingkan matanya dan melihat lebih teliti siapa orang tersebut. Rambut pirang jabrik, kulit tan, mata biru dan suara cempreng. tak salah lagi.. ITU NARUTO!

Ia lalu segera turun dari atap menuju gerbang sekolah, terlihat olehnya Naruto sedang mencoba menyadarkan si satpam yang kejang-kejang seperti orang terkena rabies karena mulutnya mengeluarkan busa. Ya ampun, apa yang Naruto lakukan ? tapi tak apalah dengan begitu Gaara bisa bolos dengan lebih mudah.

"Hiks.. hiks.. Gaaraaa.." Naruto menatap Gaara dengan wajah seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. "Aku.. aku tak sengaja.." ucapnya dengan wajah memerah karena menangis, Gaara menatap pemuda yang sedang berjongkok dihadapan satpam sekolahnya. Kalau diperhatikan wajah pemuda itu terlihat manis.

APA! TIDAK-TIDAK!

Gaara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menghilangkan pikiran aneh yang tiba-tiba muncul begitu saja, membuat dirinya jadi berfantasi yang iya-iya. Tapi dia itu.. ah sudahlah.

Grep!

"Ayo Naruto.. kita pergi dari sini" ucapnya datar lalu menggamit tangan Naruto dan membawanya pergi dari sana.

"Ta..tapi Gaara.. orang itu.." ucap Naruto terbata seraya menoleh kebelakang dan menatap pada si satpam yang tergeletak mengenaskan disana.

"Sudah tak perlu kau pikirkan sekarang lebih baik kita pergi dari sini.." ucapnya sambil terus berlari dan tanpa sadar terus memegang tangan Naruto.

"Etto.. Gaara.." ucap Naruto canggung, sambil terus menatap tangannya yang dipegang Gaara. Reflek Gaara menoleh lalu melepas tangannya dari Naruto. Ada keterkejutan diwajahnya saat ia tanpa sadar menggenggam tangan Naruto. Namun dengan cepat ia kembali pada wajah datar stoicnya. Author sampe sweatdrop sendiri ngeliatnya.

Naruto mengelus tangannya lalu wajahnya berubah memerah. Gaara melihatnya dan itu terlihat.. manis.

APA! APA-APAAN KAU GAARA?

Gaara kembali menggelengkan kepalanya lalu mengusap wajahnya dan menatap Naruto "Apa yang kau lakukan disini ?" tanya Gaara pada Naruto dengan wajah sedatar papan triplek. Naruto menoleh pada Gaara lalu mengerjapkan matanya yang bulat dan biru itu. Ia menatap Gaara dengan tampang bodoh, walaupun memang dia bodoh. Gaara menunggu.

"Oohh, iya itu.. aku bosan dirumahmu jadi aku keluar mencarimu.." jawabnya polos sambil nyengir lima jari tanpa dosa.

"Lalu bagaimana kau bisa kemari ? kesekolahku ?" tanya Gaara lagi, ia tak sadar kalau Naruto sedang memakai bajunya.

"Ettoo.. itu, aku.." Naruto mulai bercerita mengapa ia bisa sampai kemari.

#Flashback

Naruto berjalan santai sambil melihat-lihat gedung yang menjulang tinggi, ia hanya berjalan tanpa arah tujuan sambil mencari Gaara dan menikmati pamandangan. Walaupun sebenarnya ia lebih sering mengeryit bingung dan kasihan pada keadaan bumi sekarang ketimbang menikmatinya. Ia hanya berjalan tanpa arah sampai menemukan sebuah mobil terparkir disana dengan seseorang didepannya. Karena kap mobilnya terbuka, bisa dipastikan ada masalah.

Naruto menghampirinya tanpa ragu "Etto.. sedang apa man.. eh maksudku, paman.." Huh.. nyaris dia keceplosan nyebut manusia. Bisa aneh kedengarannya, lagian ngapain pake nanya segala ? udah tau tuh orang lagi ngecek mobilnya.

Author jadi ngomel-ngomel sendiri. Susah emang punya pemeran yang bodohnya ga ketulungan. Author langsung dilempar batu ama Gaara. Authorpun pingsan seketika.

"Yaah Gaara.. kasiankan Authornya.. liat tuh dia langsung pingsan" Naruto sedikit protes juga iba ngeliat author yang tergeletak mengenaskan.

"Biarkan aja, siapa suruh dia ngejelekin kamu ?"

"Ah Gaara.. tapi kan.."

"Sudah lanjutin aja ceritanya" titah Gaara

"Oh eh iya, maaf" Naruto melanjutkan ceritanya dan melupakan rasa ibanya pada author. kasiaann..

Jadi setelah bertanya, orang itu pun berdiri dan menatap Naruto dari atas sampai kaki lalu tersenyum setelah melihat wajah polos Naruto "Oh.. ini mobil saya mogok, mungkin ada masalah sama mesinnya tapi saya tidak begitu mengerti soal mesin" orang itu yang setelah diperhatikan mungkin seorang pria menatap bingung pada mesin mobilnya. Siapa yang tak bingung dengan gendernya jika dilihat dari wajahnya yang terlihat lembut dengan kulit coklat, dan rambut panjang yang dikuncir tinggi. Kalau tidak karena dia pakai jas, celana dan sepatu pantofel, mungkin ia akan dikira perempuan.

"Ohh.. kalau boleh, aku membantu paman ?" tawar Naruto dengan ramah.

"Ah benarkah ? tentu saja boleh.." jawabnya senang dan menunjukkan wajah terima kasih. Tanpa sadar Naruto melompat kegirangan karena dengan begitu ia bisa berbuat kebaikan. Pria yang melihatnya sedikit heran namun ia tersenyum melihat tingkah pemuda itu.

Narutopun mengecek dan melihat mesin mobilnya. Walau tidak begitu mengerti tapi ia tetap berusaha mencari dan memperbaiki masalahnya. Ia menemukan sepasang kabel yang terlepas dari entah apa namanya ia tak tau, lalu ia memasangnya "Coba nyalakan mesinnya paman.." ucap Naruto lalu dijawab oleh pria itu dengan langsung masuk mobil dan menyalakan mobilnya.

Namun mobilnya tidak menyala juga "Coba kau dorong sebentar" ucapnya seraya melongokkan kepalanya dari jendela mobil. Naruto mengangguk lalu dengan cepat beralih kebelakang mobil dan mendorongnya.

BRUUMM BRUUMM

"Yeaayy.. menyala" pekik Naruto kegirangan. Lalu pria itu keluar dari mobil dan menghampiri Naruto. Ia lalu menyodorkan beberapa lembaran uang pada Naruto, namun dengan cepat ditolak oleh pemuda blonde kelebihan energi itu.

"Tidak paman aku tulus melakukannya" tolaknya halus dan sedikit mundur. Pria itu hanya tersenyum lalu mengantongi lagi uangnya dan gantian mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang sepertinya adalah kartu nama.

"Ini kartu namaku.. saya punya sebuah restoran didekat sini, kamu bisa menghubungiku jika butuh bantuan ke nomer itu atau datang saja langsung jika mau, alamatnya ada disitu" jelasnya pada Naruto yang sedang menatap kertas ditangannya. "Arigatou paman.. ini akan ku simpan" ucapnya tersenyum lima jari.

"Namaku Iruka.." ucapnya singkat sambil tersenyum ramah.

"Ya paman Iruka.. namaku Naruto" balasnya riang.

"Nah Naruto, kamu mau kemana ?" tanya Iruka kemudian, mengingat seharusnya pemuda seumurannya berada disekolah.

"Oh eh.. itu.." Naruto kebingungan harus jawab apa ia hanya melirik sana sini. Iruka memperhatikan gerak gerik Naruto dan melihat nama sekolah pada baju seragam yang melekat padanya.

"Kau mau kesekolah ? hei.. kenapa kau tidak sekolah ? kamu bolos ?" tanya Iruka sedikit kesal pada Naruto.

"Tidak paman.. bukan begitu.. aku.. tersesat.." jawab Naruto takut-takut. Iruka pun mengerti dan akhirnya menawarkan mobilnya untuk mengantar Naruto ke sekolah yang pemuda itu tuju.

"Nah, begitu ceritanya Gaara.." ucap Naruto kemudian mengakhiri ceritany dengan cengiran, Gaara pun baru sadar kalau pemuda dihadapannya ini memakai sergam sekolahnya yang tentu saja kebesaran ditubuhnya.

"Kenapa kau pakai baju seragamku ?" tanya Gaara datar sedatar jalan tol.

"Habisnya, aku tak punya baju Gaara.. jadi aku pakai bajumu.."

"Darimana kau mendapatkan bajuku ?" tanyanya penuh selidik dan kekesalan.

Naruto menatap Gaara takut-takut, karena matanya yang menatap Naruto seakan ingin menelannya bulat-bulat. Naruto menelan ludahnya "Itu.. itu.. aku dapat dari lemarimu" jawabnya pelan.

"APA?" teriak Gaara kesal "Kenapa kau berani sekali mengacak-acak isi lemariku ?" tanya Gaara gusar.

"Ma-maaf Gaara.." Naruto mencicit dan menunduk takut "Aku..aku.." belum selesai ia melanjutkan kata-katanya Gaara sudah menarik tangannya dan membawa atau menariknya kesuatu tempat. Ia dibawa kesebuah gang kecil dan punggungnya dipaksa menghantam tembok oleh Gaara. Tubuhnya dikunci menggunakan kedua tangan pemuda merah dihadapannya.

"Kau,, lancang sekali untuk orang yang baru mengenalku.." ucap Gaara sambil menyeringgai. Ia menatap Naruto yang terlihat takut, ada airmata disudut matanya yang sedang terpejam, tubuh kecilnya gemetaran tapi justru ia malah terlihat begitu manis dimatanya. Matanya menggelap ditutupi kabut dan tanpa aba-aba ia langsung mencium bibir kecil Naruto.

"Mmfhh.. Ga-mmffhh.."

.

.

.

To Be Continue

Maaf updatenya lama banget.. maaf juga ratenya diganti karena otak author lagi korslet jadi maklumi author gila yang satu ini.
berharap banget review dari kalian semua para readers biar author lebih semangat lagi.. arigatou :D