"Jongin-ah, Kim Jongin!" seru Kyungsoo seraya mengibaskan selimut yang masih membungkus badan suaminya.

"Nggh… ada apa?" ucap Jongin seraya mengerjapkan kedua matanya.

"Bangun! Aku akan pergi hari ini. Kau harus mengurus Taeoh."

"Eh? Pagi-pagi begini?" jawab Jongin yang masih berada di bawah alam sadarnya.

"Iya, aku harus mengantarkan Baekhyun pergi ke Gwangju dan mungkin baru pulang sore hari nanti. Ingat, hari ini kau harus memandikan anak kita. Jangan lupa memberinya makan yang sehat! Kau selalu memberinya makanan instan! Ajak dia jalan-jalan juga. Selain itu kau harus membawanya untuk memotong rambut. Poninya sudah terlalu panjang. Aku tidak mau jika jagoanku terlihat cantik." Ucap Kyungsoo sambil merapikan penampilannya di depan cermin.

Jongin yang mendengar istrinya mengoceh langsung berdiri dan menghampirinya walaupun dengan nyawa yang masih melayang entah kemana. Dia pun mengamitkan kedua lengannya ke pinggang ramping Kyungsoo dan menyandarkan kepalanya di pundak wanita itu.

"Aku masih mengantuk dan kau sudah mengoceh begitu…" gumamnya.

"Kalau aku tidak begitu, kau tidak ingat tugasmu. Ah, jangan lupa juga beri Taeoh susu dan vitamin. Aku tidak ingin dia sakit lagi."

Dengan helaan nafasnya, Jongin menjawab, "Arra, arra. Kau akan berangkat sebentar lagi?"

"Aku tinggal menunggu Baekhyun kemari. Mungkin setengah jam lagi. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian di meja makan."

Jongin hanya mengangguk pelan. Dia hanya mengikuti apa yang sudah diinstruksikan istrinya. Padahal sebenarnya akhir pekan ini dia ingin beristirahat karena dalam seminggu ini dia baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar.

"Ah, aku bangunkan Taeoh dulu. Dia selalu rewel kalau bukan aku yang membangunkannya. Tunggu kami di meja makan." Kata Kyungsoo yang sudah melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuju kamar anaknya.

Pria itu keluar dari kamar dengan langkah yang terseret. Jiwanya masih terbang dan belum kembali. Biasanya dia bangun jam 9 pagi saat akhir pekan, tapi saat itu baru pukul tujuh. Pantas saja jika dia masih sangat mengantuk. Sesampainya di meja makan, Jongin mendudukkan dirinya dan menaruh kepalanya di atas meja. Bahkan karena mengantuk, dia tidak sadar jika anak dan istrinya sudah berada disana.

Ternyata bukan hanya Jongin yang mengantuk. Taeoh juga sama. Dia bahkan tertidur di meja makan dengan bib yang terpasang di dadanya.

"Sayang, ayo makan dulu." Ucap Kyungsoo yang dijawab anggukan dari Taeoh.

"Jongin-ah, bangun!"

Jongin pun mendongakkan kepalanya, "Kau ini. Memanggil Taeoh lembut tapi membentak padaku." Protesnya.

"Karena kau sudah dewasa Jongin-ah. Sudah, makan ini. Kau bisa membuat sandwich sendiri kan?"

"Hmm…" jawab Jongin seraya memutar matanya.

"Sayang, hari ini eomma akan pergi dengan bibi Baekhyun. Taeoh di rumah dengan appa, ya. Nanti appa akan ajak Taeoh jalan-jalan kok."

Tiba-tiba Taeoh merengek, "Shireo! Taeoh ikut eomma! Taeoh tidak mau sama appa!"

Jongin menghentikan aktivitas makannya dan mendelik ke arah anaknya, "Kau pikir aku mau, huh?" gumamnya dengan mulut yang penuh makanan.

"Sayang, eomma akan pergi sebentar saja. Ah, nanti eomma akan membawakan Taeoh oleh-oleh, ya?"

"Tidak mau!" seru Taeoh dengan wajah yang sudah hampir menangis.

"Taeoh-ah, nanti appa akan mengajakmu pergi ke taman dan menemui Iron Man. Taeoh mau?"

'Iron Man katamu? Yeobo… aku tahu kau membujuknya, tapi jangan mempersulit aku juga.' Batin Jongin.

Mendengar kata Iron Man, Taeoh pun mengalihkan perhatiannya ke arah Jongin, "Benar, appa? Appa akan mengajak Taeoh melihat Iron Man?"

Karena Kyungsoo sudah mendelik ke arahnya, Jongin pun tersenyum dan mengangguk. Dia sadar jika dia tidak melakukannya Kyungsoo akan menceramahinya habis-habisan.

"Taeoh ikut appa!" seru Taeoh dengan wajah yang berbinar-binar.

'God bless you, Kim Jongin.' batin Jongin lagi.


"Yeobo! Aku pergi dulu! Jangan lupa juga untuk membereskan rumah!" seru Kyungsoo sambil mencium pipi Jongin – yang baru saja mandi – sekilas.

"Jangan lama-lama!" balas pria itu.

Ketika Kyungsoo pergi dari rumah, Jongin merasa bahwa harinya baru akan dimulai. Bukannya tidak suka dengan anaknya sendiri, tapi dia tidak pernah mengurus Taeoh sendirian. Apalagi saat akhir pekan begini. Selain itu tugas yang diberikan istrinya cukup banyak sehingga dia bingung harus menyelesaikan yang mana terlebih dulu.

Disaat Taeoh sedang bermain dengan mobil-mobilannya, Jongin terduduk di ruang tengah sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya. Ah, dia sedang membuat to-do-list atas tugas-tugas yang diberikan istrinya.

"Baiklah… tugas pertama… memandikan little devil itu." Gumamnya.

Setelah memastikan lagi apa yang harus dilakukan, Jongin pun memanggil Taeoh, "Kim Taeoh! Ayo mandi!"

"Tidak mau!" balas Taeoh yang masih sibuk dengan mainan-mainannya.

"Hey, jagoan appa. Ayo mandi sekarang. Kau boleh membawa ducky – bebek karet kesayangan Taeoh – ke kamar mandi. Nanti kita main gelembung sabun juga." Ucap Jongin sambil mengangkat Taeoh ke gendongannya.

"Biasanya appa marah kalau Taeoh memandikan ducky." Jawab anaknya polos.

"Kali ini kita akan mandi bersama! Bagaimana?"

"Ayo kita ambil ducky!" seru Taeoh kegirangan.

Ternyata memandikan Taeoh tidak semudah yang Jongin kira. Anaknya hanya bermain dan tidak mau keluar dari bathtub-nya. Bahkan sekarang baju Jongin yang baru saja dipakainya harus basah kuyup karena Taeoh yang memberontak ketika digendong.

"Eommaaaaa!" teriak Taeoh yang menangis karena Jongin yang menyelesaikan acara mandinya dengan paksa.

"Kim Taeoh." Ucap Jongin dengan wajah yang serius kepada anaknya.

Melihat appanya yang melihatnya dan menampakkan wajah serius, Taeoh yang semula menangis keras sekarang diam dan meninggalkan sesenggukkannya saja. Dia juga mulai kedinginan karena Jongin tidak langsung memakaikannya baju dan hanya membungkus anak itu dengan handuk.

"Dingin? Apa Taeoh kedinginan?" tanya Jongin yang dijawab dengan anggukkan lemah dari anaknya.

"Kalau dingin apa yang harus kita lakukan? Mandi lagi?"

"Aniya… Taeoh ingin pakai baju sekarang." Jawab Taeoh lemah.

Jongin pun tersenyum dan memakaikan baju kepada anak semata wayangnya itu. Meskipun dengan cara yang agak kejam, tapi akhirnya Jongin berhasil membujuk Taeoh tanpa harus memakai emosi.

Setelah memakaikan Taeoh baju, Jongin memeluk anak itu karena takut jika Taeoh mengalami hypothermia. Dia sadar jika cara yang dilakukannya membuat Taeoh menggigil, tapi paling tidak dia ingin anaknya belajar dan mengerti tentang konsekuensi.

"Memandikan Taeoh, selesai," gumamnya seraya membuat tanda centang pada to-do-list di ponselnya, "sekarang, mengajaknya potong rambut."

"Taeoh-ah, apa anak appa ini ingin jalan-jalan?" tanya Jongin pada Taeoh yang berada pada gendongannya.

"Aku mau, appa." Jawab Taeoh lirih karena masih ketakutan.

"Hmm… Taeoh, wae?" tanya Jongin yang hanya dijawab dengan gelengan kepala dari Taeoh.

"Baiklah, sekarang kita pergi. Tunggu appa disini. Appa harus mengganti baju terlebih dulu. Jangan berlarian, mengerti?" kata Jongin sambil mendudukkan Taeoh di ruang tengah.

"Ne, appa."

Jongin pun bergegas menuju kamar dan mengganti bajunya. Dia menyelesaikan itu dengan cepat karena takut jika Taeoh berlarian ataupun memanjat sesuatu yang lumayan tinggi. Dia khawatir karena beberapa hari yang lalu Kyungsoo mengatakan jika anaknya mulai bisa memanjat almari kecil yang ada di ruang tengah.

Ternyata dugaan Jongin keliru. Taeoh hanya berpindah tempat duduk dari sofa ke lantai. Dia duduk di lantai karena ingin memainkan beberapa mainan yang berserakan disana.

"Kim Taeoh, kajja!" seru Jongin sambil menengadahkan tangan agar Taeoh berlari menuju gendongannya.


Setibanya di tempat potong rambut, – untuk anak – Taeoh langsung menangis. Sepertinya dia ingat bagaimana terror yang terjadi ketika dia memotong rambutnya dua bulan yang lalu.

"Appaaa!" serunya sambil mengeratkan pelukannya pada Jongin.

"Hey, Taeoh sayang. Kita duduk disana, ya?" tanya Jongin yang berusaha menghibur anaknya.

Tiba-tiba terdengar suara wanita dari belakangnya, "Adik kecil ini ingin potong rambut?"

"Ah, tolong potongkan poninya." Ujar Jongin dengan lembut.

Jongin berusaha mengalihkan perhatian Taeoh yang sedari tadi terus menangis. Dia bahkan harus mendudukkan Taeoh di pangkuannya karena anak itu terus memberontak ketika gunting rambut menyentuh keningnya.

"Taeoh-ah, lihat disana ada siapa yang baru datang!" seru Jongin sambil menunjuk beberapa anak yang memasuki tempat itu.

Taeoh segera mengalihkan pandangannya menuju jari telunjuk Jongin, "Manse hyung!" teriaknya kegirangan.

Untuk sejenak Jongin merasa lega. Kehadiran ketiga hyung dari Taeoh setidaknya membuat anak itu tenang. Dan beruntunglah si kembar tiga mau membantu Jongin untuk mengalihkan perhatian anaknya. Tapi ada yang sebenarnya mengganggu Jongin, si wanita pemotong rambut itu sedari memandanginya. Mungkin si wanita mengagumi betapa tampannya seorang ayah muda beranak satu itu.

"Aigooo… tampannya jagoan appa!" ucap Jongin kepada Taeoh yang sedang menghadap ke cermin, "sekarang kita pergi ke taman. Taeoh mau?"

"Ne!" seru Taeoh seraya memelukkan tangannya pada leher Jongin.

"Baiklah… kita berpamitan dulu pada mereka." Ujar Jongin sambil menunjuk si kembar tiga.


"Appa! Ayo kita duduk disana!" teriak Taeoh sambil menarik paksa tangan Jongin.

"Arraseo…"

"Appa, kita main lempar bola!" seru Taeoh sambil mengacungkan bola yang dibawanya.

"Baiklah. Taeoh ambil bola yang appa lempar, ya?" tanya Jongin yang dibarengi dengan anggukan Taeoh yang bersemangat.

Taeoh memang anak yang sangat aktif. Berkali-kali Jongin harus melemparkan bola. Tapi anak itu ajaibnya tidak menunjukkan tanda-tanda lelah walaupun saat siang dan terik. Dia tetap saja berlari sambil sesekali tertawa dengan renyahnya. Ketika sedang duduk di taman sambil mengawasi anaknya bermain, tiba-tiba ponsel Jongin berbunyi.

"Halo?"

"Yeobo, sedang apa?" tanya seseorang di seberang yang ternyata adalah Kyungsoo.

"Aku sedang di taman bersama Taeoh. Dia sedang bermain-main sekarang." Jawab Jongin sembari mengambil bola di genggaman Taeoh.

"Apa kau sudah memotong rambutnya?"

"Sudah, yeobo." Kemudian dia mendudukkan Taeoh pada pangkuannya, "Sayang, ini eomma. Say hallo?"

"Halo?" ucap Taeoh.

"Halo, sayang. Apa jagoan eomma bersikap baik hari ini?"

"Ne, eomma! Eomma, aku baru saja memotong rambutku."

"Benarkah? Apa anak eomma sekarang semakin tampan?"

"Ne! Tentu eomma!" seru Taeoh.

Jongin menarik ponselnya kembali, "Yeobo, aku tidak mengerti kenapa anak ini tidak punya rasa lelah. Aku saja yang hanya duduk di kursi dan melemparkan bola untuknya merasa lelah."

"Kau tahu sendiri anak kecil itu bagaimana. Apalagi dia seorang namja. Ah, aku harus menemani Baekki sebentar. Jangan lupa makan siang ya, yeobo. Annyeong~"

Jongin akhirnya mengalihkan perhatiannya lagi pada Taeoh yang duduk manis di pangkuannya, "Apa anak appa ini sudah lapar?"

"Taeoh lapar, appa…"

"Kalau begitu… Taeoh-ah, sebaiknya kita makan apa?" tanyanya.

"Manddu!" seru Taeoh.

"Manddu? Baiklah. Apa Taeoh berjanji untuk menghabiskan semua manddu-nya?"

"Iya! Taeoh ingin makan banyak agar bisa sekuat appa!" jawab Taeoh polos yang menyebabkan Jongin tertawa.

Untung bagi Jongin anaknya tidak sulit untuk makan. Bahkan Jongin saja merasa kenyang ketika melihat Taeoh makan dengan lahapnya. Sesekali Jongin harus menyuapinya karena Taeoh yang berlari kesana kemari. Ya walaupun ujung-ujungnya tujuan akhir anak itu tetap meja yang ada makanannya. Pemandangan Jongin yang mengasuh Taeoh menjadi perhatian orang-orang disekitarnya. Bayangkan saja seorang ayah muda mau mengurusi anaknya yang masih kecil dan lucu itu.

Setelah selesai makan, Jongin bergegas pulang ke rumah. Ternyata di dalam mobil, yang baru saja berjalan sekitar sepuluh menit, Taeoh sudah terlelap karena mungkin lelah setelah berlarian.

"Pantas saja tidak mengoceh, ternyata dia sudah tertidur." Ucap Jongin dengan tawa kecilnya ketika mengecek Taeoh yang duduk di sampingnya.

Sesampainya di rumah, Jongin menggendong Taeoh dan membawanya ke ranjang. Kali ini bukan di kamar Taeoh, tapi kamarnya sendiri. Entah mengapa kali ini dia ingin Taeoh tidur di kamarnya. Ah, mungkin secara tidak langsung dia juga merindukan anaknya karena baru saja menempuh minggu yang berat.


"Aku pulang!" seru Kyungsoo.

Setelah masuk ke dalam rumah, dia mendapati ruang tengah kosong dan tidak ada jawaban, "Eh? Apa mereka belum pulang? Tapi mobil sudah ada di garasi." Gumamnya.

Akhirnya Kyungsoo mencari keberadaan anak dan suaminya. Dia tersenyum ketika melihat Taeoh dan Jongin yang tertidur pulas di kamarnya. Bahkan Jongin yang masih menggunakan pakaian rapi atau bisa dibilang belum sempat mengganti bajunya.

"Aigoo, gwiyeowo…" ucap Kyungsoo tersenyum.

Mendengar ucapan istrinya, Jongin pun terbangun, "Oh, kau sudah pulang?"

"Iya, aku baru saja pulang dan mencari kalian berdua. Aku sempat bingung karena tidak menemukan di semua ruangan. Ternyata kalian tidur disini. Kau belum mengganti bajumu?"

"Belum. Aku tertidur. Maaf aku belum sempat merapikan rumah."

"Tidak apa. Kau pasti lelah mengajaknya jalan-jalan." Ujar Kyungsoo sambil mengelap keringat di kening anak lelakinya.

"Aku hanya mengajaknya ke taman. Tapi mungkin karena lelahku kemarin belum terbayar, makanya aku sampai tertidur begini."

"Tidak apa, kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik." Kata Kyungsoo seraya menghampiri dan mengecup kening Jongin.

Karena orang tuanya yang mungkin agak gaduh, Taeoh memutar badan dan membuka kedua matanya, "Eomma?"

"Hey, anak eomma. Apa anak eomma ini lelah?" tanya Kyungsoo sambil mengangkat Taeoh ke dekapannya.

"Iya, eomma."

"Aigoo… apa Taeoh sudah makan?"

"Sudah eomma, tadi appa mengajak Taeoh makan manddu."

"Taeoh bisa menghabiskan semuanya?"

"Hmm!" jawab Taeoh seraya menganggukkan kepalanya.

Tiba-tiba Jongin mengusap kepala anaknya, "Anak pintar."

"Apa appa hari ini menyebalkan?" Goda Kyungsoo.

Jongin menantikan jawaban ini. Dia merasa bahwa dia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tentu harapannya Taeoh membelanya di depan sang ibu.

"Iya, appa menyebalkan. Appa tidak membawaku bertemu dengan Iron Man."

Jongin terkejut dengan jawaban anaknya. Dia tidak mengira bahwa Taeoh akan ingat dengan superhero kesayangannya itu. Bahkan dia menyesal sudah memuji anaknya sekarang.

"YA! KIM TAEOH!"

END.