Disclaimer : I do not take any profit from this story. Naruto and all the characters belong to Masashi Kishimoto


Bangun Pagi


"Ohayou, Sasuke-kun."

Tak pernah ada yang membuatku lebih bersyukur ketika aku selalu disambut senyuman yang menenangkan di setiap pagiku.

Suaranya yang renyah sudah tidak asing lagi kudengar selama beberapa tahun belakangan. Terkadang terdengar sangat berisik–jika mengingat dulu aku sering membuatnya menangis karena aku melontarkan kata-kata pedas kepadanya. Namun suaranya justru menjadi satu hal yang kurindukan ketika ia tak ada di sampingku.

Begitu pula dengan baunya. Aroma lembut cherry blossom yang menguar dari tubuhnya adalah yang paling kusuka. Seringkali aku bertanya sudah berapa botol parfum yang dia habiskan selama hidupnya? Tapi aku tak pernah bosan, sama seperti parfumnya; dia manis dan segar.

Sama seperti saat ini, aku masih bergelung diatas kasur. Dia hanya menatapku polos sambil memberiku senyuman indah yang menjadi favoritku, lalu menyapaku dengan ringan, "ohayou, Sasuke-kun." Aroma parfumnya menguar sampai ke hidungku.

Ah, pasti dia sudah bangun daritadi.

Aku mendesah pelan sambil melirik jam tangan di tangan kiri. Aku tidak pernah melepas jam tanganku walaupun saat tidur sekalipun. Tapi kemarin, sepertinya aku bahkan belum melepas sepatuku –entahlah, aku tidak ingat.

"Maaf ya, kulepas. Capek sekali ya semalam sampai langsung tidur begitu.." ucapnya lembut sambil menepuk punggung tanganku. Padahal sudah berkali-kali kubilang untuk tidak melepas jam tanganku apapun yang terjadi. Tidak sempat kujawab, aku mengacuhkannya untuk bergegas melihat jam dan pergi ke kamar mandi secepatnya. Pukul enam pagi, tentu aku harus mempersiapkan diri lebih cepat atau aku akan terlambat.

Tak perlu repot-repot aku merayunya dan memberikan kecupan ringan agar dia tidak marah dengan sikapku barusan. Karena dia benar-benar mengerti aku sepenuhnya –bahkan mungkin melebihi diriku sendiri mungkin.

Itulah wanitaku.

Sembari aku mandi, aku sudah tahu apa yang akan dilakukannya dan apa yang akan terjadi. Tapi kali ini aku masih tidak paham mengapa dia malah duduk diatas kasur dan dia merapikan isi tas kerjaku–aku sudah katakan berkali-kali untuk tidak menyentuhnya tapi entah kenapa aku tidak pernah tega untuk memarahinya.

"Kenapa masih disini?" tanyaku heran. Kulihat dia masih duduk santai sambil menatapku yang baru selesai dengan ritual pagiku. Kimono handuk selutut dan rambut basah dengan handuk tergantung di leher.

"Masih 6.15–HEY! Kau hanya mandi lima belas menit!" Dia berkacak pinggang dengan raut wajah seperti ibu memarahi anaknya.

"Itu karena kau tidak membangunkanku lebih awal."

Dia tertawa keras dan berjalan menghampiriku yang masih berdiri depan pintu kamar mandi. Lagi-lagi dress motif flower selutut yang kubelikan untuk hadiah ulang tahunnya yang dia pakai. Tangannya yang lembut dan jari-jarinya yang kecil menarik paksa handuk di leherku. "Memangnya mau kemana dengan rambut masih basah begini?"

Berdiri di depan kamar mandi, aku memutuskan untuk diam dan menuruti kata-katanya. Jari-jarinya dengan lincah mengeringkan rambutku hingga air tidak lagi menetes. Dengan sabar dia mengeringkan bagian rambutku yang masih basah satu per satu. Tatapannya yang polos dan sok serius membuatku ingin tertawa. Tapi aku masih diam–menikmati sentuhannya yang menenangkan. "Hari ini hari libur. Percuma kalau tahu jam berapa tapi tidak tahu kalau sekarang libur, 'kan?" bisa kudengar suara tawanya yang mengejek. "Sudah kering. Nah, kalau sudah begini jadi lebih ganteng." imbuhnya ringan lalu meninggalkanku sendiri mematung di depan kamar mandi.

Sial, ini hari Minggu.

.

.

.

Kau memang lebih hebat dariku, Sakura Uchiha.


end


AN

Republish. Karena fic ini singkat, daripada sendiri, mending digabung disini jadi chapter 2 hihihi.

fic super duper singkat yang dibuat pas puasaan kemaren. tentang indah dan nikmatnya pagi. ngga tau mau dilanjutin apa ngga ya enaknya hmmm...
bisa bikin senyum-senyum ngga?

Review?

Terima kasih sudah membaca :)