Lies Are For Lovers #2
.
Pagi itu, Ciel menguap lebar sambil meregangkan tangannya sesaat setelah ia terbangun. Ia bangkit duduk perlahan, rambutnya mencuat ke segala arah, menimbulkan kesan seakan ia berguling gelisah dalam tidurnya, walau kenyataan berkata sebaliknya. Ia menoleh ke samping, dan keningnya berkerut mendapati pemandangan yang dilihatnya.
Bantal di sampingnya kosong, walau seprai dan selimut yang kusut menandakan seseorang telah tidur di sana. Ciel memandangnya kosong beberapa saat, sebelum menyadarkan dirinya sendiri dan memutuskan memulai harinya. Masih merengut, Ciel turun dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi, berniat mencuci muka dan mengosok gigi. Sepanjang perjalanan, ia merasa aneh. Kakinya terasa dingin sekali, seakan lantai di bawahnya terbuat dari es yang membeku. Hal ini tidak familiar untuknya...
Kemudian ia teringat, itu karena biasanya Sebastian menggendongnya dari tempat tidur ke kamar mandi, sehingga ia tak pernah merasakan dinginnya marmer kamar tidurnya di pagi hari. Berusaha mengabaikan semburat merah yang muncul di pipinya, Ciel memfokuskan dirinya ke hal yang lebih penting.
"Pergi kemana Sebastian..."
.
.
Ciel membuka pintu kamarnya, dan segera aroma lezat menyerbu hidungnya. Ia segera mengikutinya ke sumbernya, dan tahu bahwa ia akan menemukan orang yang dicarinya sejak bangun tidur. Benar saja, sesosok bertubuh tinggi ramping berdiri di depan oven, berpakaian rapi bercemelek putih tak bernoda. Sosok itu menoleh mendengar suara langkah kaki mendekatinya, dan tersenyum ketika matanya jatuh pada sosok Ciel.
"Selamat pagi, Sayang," senandungnya menggoda.
Ciel merona merah muda, namun tak membantah seperti bertahun-tahun lalu ketika Sebastian mulai menggunakan panggilan itu.
"Kenapa kau sudah bangun sepagi ini, dan kenapa kau tidak membangunkanku? Hari ini kan hari libur untukmu, dan semalam kau pulang larut sekali. Seharusnya kau istirahat, Sebastian. Lagipula, sekarang kan giliranku memasak," ujar Ciel sedikit kecewa, mengerling oven yang jelas sedang memanggang sesuatu. Sebagian kecil benaknya bertanya-tanya penasaran ingin mengetahui apa yang sedang Sebastian panggang. Apapun yang Sebastian buat selalu enak.
Sejenak Ciel hampir bersumpah ia melihat ekspresi panik melintas di rupa Sebastian, tetapi sedetik kemudian yang ia lihat hanyalah ekspresi Sebastian yang biasa, tenang tanpa riak. Senyumnya melembut. "Maaf Ciel, tetapi kau terlihat pulas sekali. Dan lagi, kau pernah mengatakan beberapa hari yang lalu kau ingin sarapan dengan croissant. Semalam sebelum tidur aku sudah membuat adonannya, dan pagi ini aku ingin memberikan kejutan untukmu, jadi..."
Ciel memerah lagi, mengutuk dirinya dalam hati yang mudah sekali terpengaruh oleh kata-kata manis Sebastian. "Y-ya sudah, kalau begitu aku tunggu saja di meja makan," timpalnya, buru-buru berbalik supaya ia bisa menyembunyikan wajahnya.
Namun sesuatu menarik tangannya, menghentikannya. "Kau melupakan sesuatu," kata Sebastian.
"Hah?" Alis Ciel terangkat, tidak bisa mengingat apa yang mungkin dilupakannya. Ia mengancingkan semua kancing kemejanya dengan benar, dan tidak lupa mengenakan celana panjang. Ia tidak perlu pakai kaus kaki dan sepatu di dalam rumah kan?
"Kau belum memberiku ciuman 'selamat pagi'," Sebastian menjelaskan, melihat ekspresi bingung Ciel.
Ciel merasa pipinya semakin panas, dan suara beep dari oven mendorong Sebastian untuk segera mengeluarkan isinya. Jadi sebelum Sebastian berpaling darinya, dan sebelum keberaniannya menghilang, Ciel berjinjit mengecup cepat ujung bibir Sebastian, sebelum melarikan diri ke meja makan.
Kekeh geli Sebastian mengiringi pelariannya.
.
.
"Ayolah Ciel, jangan cemberut terus. Aku sudah minta maaf kan."
Ciel mengabaikan Sebastian, tidak mau menatapnya. Garpunya menusuk-nusuk croissant di piringnya.
"Apa croissant buatanku seburuk itu, Ciel?"
Ciel melirik croissantnya, yang sudah berlubang-lubang dan hampir tidak berbentuk lagi. Rasa bersalah melintas di hatinya, mengingat bahwa Sebastian membuat adonannya setelah ia pulang larut malam, dan bangun pagi di hari liburnya agar ia bisa menyajikannya saat sarapan tiba. Ciel menusuk sekali lagi salah satu potongan croissantnya, namun kali ini memasukkannya ke mulutnya.
Seperti yang ia tahu, apapun yang Sebastian buat pasti enak. Tidak terkecuali croissant-croissant ini.
"Nah, begitu. Sekarang kalau saja kau mau tersenyum, maka akan lebih baik lagi."
Ciel mengunyah croissantnya lambat-lambat, seakan tidak mendengar kata-kata Sebastian, namun di akhir ia menggumam, "Memang apa pengaruhnya kalau aku tersenyum atau tidak, yang penting aku makan kan."
Ciel tidak mengharapkan balasan apapun dari Sebastian, tetapi ia tetap menjawab, dalam suara dalamnya yang hangat.
"Karena aku sangat suka senyummu, Ciel."
Setelah bertahun-tahun tinggal bersama, Ciel masih tidak bisa mengendalikan rona pipinya.
.
.
Ciel menunggu dengan gugup di dalam ruangan dokter yang sering sekali dikunjunginya, mengingat ia harus kontrol rutin untuk alergi asmanya. Sebastian tidak ikut karena Ciel bersikeras ia harus istirahat setelah memasak sepagian, dan Ciel mampu pergi ke rumah sakit sendiri. Lagipula kunjungan seperti ini hanya sebentar, ia akan pulang pada waktu makan siang bergulir.
Dan lagi... ia memiliki alasan lain tidak menginginkan Sebastian ikut di kunjungan ini...
"Jadi, bagaimana dokter? Sudah terkonfirmasi?"
Dokter yang bersangkutan tak membuka mulut. Ia hanya menatap Ciel sejenak, lalu menyodorkan sebuah amplop besar tanpa memutus kontak mata mereka.
Ciel tak perlu membuka amplop tersebut untuk mengetahui apa yang tertera pada kertas di dalamnya. Tatapan dokternya memberitahunya segalanya.
"Terima kasih," ujarnya singkat, tersenyum kecil, yang kemudian memudar menjadi garis tipis pucat.
"Apa kau yakin, Ciel? Kau tak ingin mencoba... kau tahu..." kata-kata si dokter melemah di tengah jalan, karena mereka sudah kenal sejak lama, sejak keluarga Phantomhive masih lengkap. Mereka telah mendiskusikan ini berkali-kali, dan jawaban Ciel selalu sama.
"Terima kasih tawarannya. Tapi, aku tak ingin mengkhianati Sebastian."
Dengan kalimat itu, Ciel berlalu pergi, meninggalkan seorang dokter yang mendesah berat di kursinya, tampak sepuluh tahun lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.
.
.
"Sebastian, kau di rumah?"
Kepala Ciel menyembul dari ambang pintu, melirik menjelajahi ruangan mencari keberadaan kekasihnya. Ia mendapati sepasang sepatu menyembul dari atas tangan kursi, dan mendapati gundukan hitam darimana sepasang kaki yang mengenakannya berasal. Ia memutar bola matanya, namun tak kuasa menahan senyum melihat pemandangan yang tak hanya sekali dilihatnya ini.
Dalam beberapa langkah saja Ciel sudah berada di samping gundukan hitam tersebut, dan menepuknya perlahan, kalau-kalau yang bersangkutan sudah benar-benar terlelap.
"Sebastian...?"
Beberapa detik, hanya hening yang menyambut. Ciel hampir akan bangun dari posisi berjongkoknya, namun sebelum ia sempat melakukannya, tiba-tiba sebuah tangan merangkulnya, mendekatkannya pada si gundukan hitam yang kini membuka sebelah mata.
"Welcome home, Ciel."
Ciel yang sudah berniat merengut, pada akhirnya hanya bisa tersenyum pasrah. "Aku pulang."
Sebastian menatap Ciel lekat-lekat, hidung mereka hanya berjarak beberapa sentimeter mengingat Sebastian belum melepaskan rengkuhannya. "Apa kata dokter barusan?" Sebastian bertanya pelan, segurat garis kekhawatiran muncul si dahinya.
"Yang seperti biasa saja. Asmaku tidak tambah parah, ia hanya memberi resep untuk membeli obatku yang sudah habis," jawab Ciel sama pelannya. "Apa kau lapar? Aku bisa memas-"
"Ah, benar juga! Makan siang!" Sebastian tiba-tiba melompat bangun, "Ayo kita masak bersama, Ciel! Apron, mana apron-" dan pemuda bertubuh jangkung itu menghilang ke dalam dapur untuk mencari si apron yang hilang. Melihat tingkah Sebastian, Ciel ingin terkikik geli, namun tas di tangannya menghalanginya untuk melakukan hal sederhana itu.
"Aku akan meletakkan obatnya dulu di kamar," tukas Ciel, yang disambut geraman setuju dari ruangan sebelah.
.
.
Ciel mengaitkan kancing terakhir ke tempatnya, hampir otomatis. Pikirannya masih berada di rumah sakit, di hasil yang akhirnya dibacanya dari amplop yang diterimanya, yang sesuai dengan dugaannya hanya dari membaca raut wajah dokternya. Amplop yang bersangkutan kini tersimpan aman di tempat yang bahkan Sebastian tidak tahu. Pikirannya berat, berkecamuk.
Sempat terpikir olehnya untuk memberitahu Sebastian, tetapi...
Apa reaksi Sebastian nantinya, kalau ia tahu keadaan Ciel yang sebenarnya?
Akankah ia meninggalkan Ciel, ketika ia paling membutuhkannya?
Ciel menggeleng miris, tentu saja tidak, hal bodoh apa yang dipikirkannya. Dari semua sifat Sebastian, yang paling ia pegang erat adalah kesetiaannya pada Ciel.
Tidak ada yang bisa menggoyahkan hal itu, dan membuat Sebastian pergi menjauh darinya. Saat Ciel masih bersama orang lainpun, Sebastian masih mendampinginya.
Ia yakin, bahkan kanker seperti inipun tidak bisa mengusir Sebastian dari sisinya.
Sambil menelan ludah, Ciel tersenyum getir. Siapa sangka, selain mewarisi asma yang mengganggu kehidupan sehari-harinya, ia juga akan mewarisi kanker paru-paru, penyakit yang merengut nyawa ibunya bertahun-tahun yang lalu?
Ia bisa saja memberitahu Sebastian, dan ia yakin bahwa Sebastian akan berjalan di sampingnya di setiap langkah yang dijalaninya, memberikan dukungan yang Ciel tak ragu akan sangat dibutuhkannya. Dokter sendiri mengatakan bahwa kankernya sebenarnya masih berupa sel-sel jinak. Baru awal mulanya saja. Dan masih bisa terobati, meskipun dengan pengobatan yang mungkin... terasa tidak nyaman, dan tidak bisa dipastikan kapan akan selesai, walau sudah jelas waktunya tidak akan singkat.
Tetapi... membayangkan Sebastian menghabiskan seluruh waktunya di samping tempat tidurnya di rumah sakit, berwajah murah dan letih, dan tawa terkekehnya meredup, Ciel tak ingin melihat hal itu. Belum lagi biayanya, yang akan sangat membebani Sebastian yang hanya seorang pegawai biasa di sebuah perusahaan IT tak ternama. Mungkin Ciel bahkan harus berobat keluar kota, atau bahkan keluar negeri, mengingat kota kecil mereka mungkin tak memiliki peralatan dan pengobatan yang dibutuhkan. Mungkin mereka harus meminjam sana-sini untuk membayar semuanya. Dan kalau pengobatannya tidak berhasil... Ciel akan meninggalkan Sebastian hidup dalam hutang...
Ciel tidak menginginkan itu. Ia ingin menjalani sisa hidupnya dengan Sebastian senormal mungkin, dipenuhi canda tawa, rayuan dan teriakan sebal, yang dijalaninya hari ini. Ia ingin melihat Sebastian selalu dengan seringai lancipnya, dan kilat misterius di matanya yang seakan mengatakan, 'aku tahu hal-hal yang tak kau ketahui,' pada orang-orang di sekitarnya.
"Aku sangat suka senyummu."
Ciel juga sangat menyukai senyum Sebastian yang selalu menggoda, menyimpan kegelian dan kepuasan tersembunyi. Ia tidak ingin melihat senyum itu menghilang, dan ia juga tidak akan membiarkan Sebastian melihatnya tanpa senyum.
"Ciel, ada apa? Kok lama sekali? Kau lapar kan?" Suara Sebastian, disusul pemiliknya, memasuki kamar. Ia mengenakan celemek putih panjang polos.
Ciel merasa alisnya berkedut melihat celemek lain di tangan Sebastian, jelas-jelas berenda, dan meskipun sekilas kelihatan putih polos, namun Ciel tahu bertulisan 'kiss the cook' di bagian dadanya. Ia dengan bijak memutuskan untuk tidak berkomentar. Alih-alih ia berkata, "Tidak ada apa-apa. Aku kan harus ganti baju dulu." Ia merentangkan tangannya ke depan seakan untuk membuktikan perkataannya.
"Hmmm," Sebastian bergumam, kilat di matanya muncul lagi, tangannya menggosok dagunya pelan. "Kau tahu, aku baru ingat ada satu hal yang terlupakan barusan."
"A-apa itu?" tanya Ciel waspada, memiliki firasat Sebastian akan menggodanya lagi, sejak melihat kilatan itu.
"Kau belum memberiku ciuman 'aku pulang'," senandung Sebastian, mengetuk pelan bibirnya.
Sontak Ciel memerah padam. Memang hanya mereka berdua yang ada di rumah ini, tetapi tetap saja hal-hal seperti ini membuatnya malu. Meskipun ada denyut kebahagiaan menyertainya, menyebabkannya mau tak mau tersenyum.
Ia tak akan pernah menukar momen ini dengan apapun.
Ciel mendekat perlahan hingga ia ada di depan pemuda yang sekepala lebih tinggi darinya-fakta yang masih membuatnya sedikit kesal-dan menjulurkan tangannya, merengkuh leher jenjang itu dan menempelkan bibir mereka lembut, kakinya sedikit berjinjit.
Karena Ciel mencintainya, ia berbohong.
.
.
The End
.
.
A/N. Oh Ciel, andai saja kau tahu ._.
Saya nulis ini dalam waktu tiga jam (pakai HP) sambil ngobrol soal ukuran baju ^^; memang aneh sekali...
Ya sudahlah, daripada bergalau ria, ada yang mau datang ke AFAID kah? Ayo ketemu! Haha XD minimal sapa-sapa lalu temenin saya stalking cosplayer lain lah XD *dipentung*
