CHAPTER 2 : OBSESI
PAIR : CHANHUN, JOONGHUN
Cast : Park Chanyeol, Oh Sehun, Song Joongki, Im Yoona
WARN : GS, TYPOS
Sebuah adaptasi dari novel karya DEE LESTARI : SUPERNOVA : KSATRIA, PUTERI DAN BINTANG JATUH
Park Chanyeol, seorang pengusaha tampan, muda dan sukses yang bisa dibilang telah mempunyai segalanya. Di umurnya yang menginjak tiga puluh tahun, Chanyeol telah menjadi salah satu pengusaha muda paling sukses se Asia.
Ia belum pernah menikah karena ia terlampau sibuk dan terlalu gila kerja. Chanyeol yang begitu ambisius sehingga melupakan tentang pernikahan.
Semenjak kecil, Chanyeol tinggal dengan sang nenek. Dan sang nenek selalu membacakan kisah dari sebuah buku dongeng berjudul Falling Star. Chanyeol menyukai kisah yang ada di dalam buku tersebut yang menceritakan tentang seorang pangeran yang jatuh cinta pada seorang putri nan cantik rupawan dari negara langit. Sang puteri yang ternyata adalah seorang malaikat tidak semestinya jatuh hati pada manusia.
Suatu hari, sang putri harus kembali ke langit. Sang pangeran ingin menyusul tapi dia tak tahu bagaimana caranya untuk dapat terbang ke langit.
Tidak ada hewan apapun yang dapat membantunya untuk terbang tinggi dan ia putus asa. Pangeran memohon bantuan kepada si angin pun tidak dapat menolongnya. Pangeran makin sedih dan patah arang. Ia tak tahu bagaimana caranya untuk bisa bertemu dengan sang putri.
Sampai suatu malam, ada sebuah bintang jatuh yang mendengar semua permohonannya. Bintang itu setuju untuk membantu pangeran dengan satu persyaratan. Jika pangeran tidak dapat tiba tepat waktu tepat di tempat putrinya, maka pangeran akan hancur berkeping-keping. Pangeran setuju dan rela memberikan nyawanya demi putrinya.
Mereka berdua pun melesat jauh ke langit di mana sang putri tinggal. Tapi, ketika bintang jatuh melihat ke bawah, ia terpana akan kecantikan seorang putri yang sendirian dan kesepian. Bintang jatuh jatuh hati. Genggamannya di tangan pangeran pun ia lepaskan. Pangeran pun melesat jatuh menuju kehancuran. Sementara sang bintang jatuh melesat terbang untuk mendapatkan sang putri.
Sungguh pangeran yang malang. Kemudian di langit pun muncul sebuah bintang, sebagai pertanda akan ketulusan hati sang pangeran yang malang.
.
.
Berangkat dari cerita sejak kecilnya, sosok Chanyeol selalu memimpikan sang putrinya yang belum pernah ditemuinya. Ia sendiri menggambarkan dirinya seperti sosok pangeran dan ia percaya kalau suatu hari akan bersua dengan putrinya.
Ia terobsesi. Ia sungguh terobsesi untuk menjadi seperti pangeran, hanya bedanya, dia tidak akan berakhir menyedihkan seperti pangeran di cerita itu. Ia akan berusaha mendapatkan sang putri nantinya.
.
.
Di sisi lain, Sehun, seorang wanita dua puluh enam tahun yang bersuamikan Song Joongki, seorang pengusaha yang berasal dari keluarga keturunan bangsawan yang memiliki tutur kata halus dan sopan-santun yang luar biasa.
Pernikahan Joongki dan Sehun didukung oleh segenap keluarga Sehun yang sangat setuju apabila Sehun menikah dengan laki-laki luar biasa seperti Joongki.
Pernikahan mereka yang telah berjalan selama lima tahun, bahagia. Nyaris tak ada konflik yang berarti dalam kelangsungan rumah tangga Sehun dan Joongki.
Sehun yang cantik dan menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi dan wartawati sebuah majalah bisnis terkenal di Seoul selalu dipuji-puji oleh kedua orangtua Joongki. Mereka bersyukur Joongki bisa menikah dengan wanita secantik dan sebaik sehun.
Sehun dan Joongki memilih menikah di usia muda dengan alasan untuk menghindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, contohnya adalah hamil di luar nikah.
Namun sampai sekarang, di kala usia pernikahan mereka menginjak lima tahun dua bulan, Sehun belum juga mengandung. Meskipun begitu, Joongki tidak pernah mempermasalahkannya. Ia sangat mencintai istrinya. Ia tidak akan mempermasalahkan belum adanya anak di antara mereka. Menurut Joongki, mereka hanya belum diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa memiliki keturunan.
Joongki dan Sehun tinggal di rumah mewah yang terasa sepi karena hanya ada mereka berdua.
Namun Sehun juga merasakan kalau hidupnya mulai hampa dan ia berpikir mungkin anak akan membuat hidupnya lebih berwarna. Ia menyukai anak kecil dan ia selalu bermimpi untuk dapat dikarunai dua orang anak : laki-laki dan perempuan yang manis, lalu memelihara seekor anjing kecil maka hidupnya akan sempurna.
.
.
"Kenapa kau terus mempermasalahkan masalah itu, sayang ? anak ? kita akan memilikinya kalau kita siap dan Tuhan akan menitipkannya pada kita . Kita berusaha dan Tuhan akan memberikannya pada kita jika waktunya sudah tepat "
Joongki berkata pada Sehun di suatu sore. Kata-katanya selalu seperti itu. Teratur dan terlalu baik. Membuatnya terhibur memang, tapi mau sampai kapan ? mau sampai kapan ia harus seperti ini ? ke dokter kandungan juga sudah mereka lakukan, dan dokter berkata kalau mereka berdua tidak mandul, namun Sehun tak kunjung hamil.
Sehun pernah berpikir akan mengadopsi anak namun ia berpikir kembali soal itu, kalau ia mengadopsi anak maka ia tidak akan bisa bekerja lagi karena akan mengurus anak itu nantinya dan untuk saat ini ia belum bisa meninggalkan pekerjaannya.
Joongki tidak pernah menuntut.
Ia selalu akan menerima keadaan Sehun apa adanya dan mungkin Sehun tidak akan bisa berhenti bersyukur telah dipertemukan dengan laki-laki sesabar dan seluar biasa Joongki. Namun keteraturan hidupnya membuatnya bosan juga. Terlampau monoton dan rutin.
Mungkin laki-laki tampan bernama Joongki itu diciptakan dari seratus persen bubuk kebaikan karena ia hampir tidak pernah marah dan Joongki pun pernah berkata kalau ia mempunyai termperamen yang sangat baik.
Sehun menyandarkan kepalanya di paha Joongki. Kebiasaan kecil pasangan muda itu ketika mereka sama-sama saling merindukan satu sama lain. Joongki dan sehun sama-sama sibuk. Mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga jarang bertemu.
Joongki sebagai direktur utama sebuah perusahaan tekstil terbsar di Seoul dan Sehun sebagai wakil pemimpin redaksi sebuah majalah bisnis sekaligus wartawati yang harus siap terjun ke lapangan untuk mencari berita. Mereka hanya bertemu di malam hari, namun kurangnya kebersamaan di antara mereka tidak lantas merenggangkan hubungan mereka.
Di mata Joongki, sehun adalah sosok istri yang baik dan patuh. Terkadang, ia mengkuatirkan kesehatan Sehun karena istrinya itu adalah sosok pekerja keras dan ulet.
Namun, Sehun selalu memberikan senyuman terbaiknya yang tak pernah gagal membuat jantung Joongki berdetak seribu kali lebih cepat.
.
.
"Mungkin kita harus berbulan madu, Hunnie. Kupikir kita terlalu sibuk sehingga tak punya waktu berduaan. Bagaimana menurutmu ?" tanya Joongki kepada sehun yang masih belum mengantuk. Sebaliknya, di saat jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi, wanita berambut hitam panjang itu justru tengah memelototi layar laptopnya dengan punggung bersandar di bantal.
Bulan madu. Sehun tentu menginginkannya, namun tuntutan pekerjaan tetaplah yang utama di matanya dan ia tahu kalau Joongki pun selalu memikirkan pekerjaan dan lagi-lagi mereka harus rela menunda proyek bulan madu mereka.
.
.
"Iya, setelah proyek baruku ini selesai, kita pergi berbulan madu. Kau ingin ke mana ?"
Sehun mengalihkan pandangannya kepada sang suami tampannya dan meletakkan laptop berwarna putihnya ke sisi ranjangnya.
"Menurutmu kita mesti ke mana ? Eropa ? Asia ?" tanya Sehun lagi dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Joongki.
"Ke mana saja, asal bersamamu "
Joongki menghirup aroma shampo beraroma buah yang menguar dari rambut Sehun yang halus.
"Gombal sekali, rupanya suamiku yang tampan inis ekarang sudah pinta sekali menggombal, hm ? " Sehun terkekeh pelan dan Joongki menyandarkan dagunya di puncak kepala sang istri.
"Memang ada proyek apa, sepertinya penting sekali ?"
Tentu saja Joongki mengetahui kedudukan penting Sehun di kantor majalah tempatnya bekerja dan ia mengetahui kalau Sehun berkata proyek ini penting, pastilah memang benar begitu adanya. Istrinya tidak akan berbohong. Tidak akan ada rahasia atau dusta apapun di antara mereka. Joongki dan Sehun memang menikah atas dasar perjodohan.
Keluarga Sehun dan keluarga Joongki sudah saling mengenal sejak lama dan orangtua Sehun menjodohkan putri tunggal mereka dengan Joongki, karena melihat latar belakang keluarga pria itu yang merupakan keturunan bangsawan dan juga merupakan keluarga terpandang di Korea. Dan sebagai anak yang patuh, Sehun tak keberatan akan perjodohan itu.
.
.
"Perusahaan memintaku untuk mewawancarai Park Chanyeol " terang Sehun.
"Park Chanyeol ?"
Joongki mengerutkan dahinya. Tentu saja, ia tahu siapa itu Park Chanyeol. Mereka berdua adalah sama-sama pengusaha, dan ia tahu benar bagaimana sepak terjang seorang Chanyeol di dunia bisnis. Chanyeol adalag pengusaha yang ambisius.
Di matanya, Chanyeol adalah seorang eksekutif muda yang ambisius dan luar biasa. Dan dia tahu juga kalau seorang Chanyeol mempunyai wajah yang sangat tampan. Dengan wajah seperti itu dan kesuksesan seperti itu, Joongki tidak bisa membayangkan berapa banyak gadis yang akan berlutut dan bermimpi untuk bisa menjadi istrinya.
.
.
"Iya, kenapa sayang ?" Sehun membelai wajah sang suami dan Joongki menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Tidak ada apa-apa, Hunnie. Ini pasti wawancara yang sangat penting untukmu dan sebaiknya kau beristrirahat sekarang. Kapan wawancaranya, besok ?"
"Hm.. besok siang "
Sehun menguap dan Joongki menemukan tingkah istrinya sangat cute. Joongki pun tak tahan untuk tidak mendaratkan bibirnya di bibir plum sang istri dan menyelimutinya. Mengecup dahinya dengan penuh sayang sekali lagi.
"Selamat malam, sayang. Hunnie-ku. Aku sangat mencintaimu "
"Selamat malam, Joongki oppa-ku. Aku juga mencintaimu "
"Aku lebih mencintaimu, sayang " Joongki mengecup bibir Sehun lagi dan memberikan lumatan-lumatan lembut di sana.
Park Chanyeol yang menentukan lokasi wawancara mereka dan ia menginginkan kalau lokasinya adalah di kapal pesiar pribadinya sendiri. Dan ia sudha mendengar siapa yang akan mewawancarainya dan di benaknya sudah tertanam imej kalau sang wartawati adalah seorang wanita berumsia sekita ermpat puluh tahunan yang membosankan layaknya wartawan pada umumnya.
.
.
Sehun ternganga melihat kapal pesiar yang sangat mewah tersebut. Kapal itu sangat indah dan mewah. Interiornya terasa sangat elegan dan berkelas.
Sehun bisa membayangkan kalau seorang pengusaha seperti Park Chanyeol pastilah sangat kaya sehingga bisa memiliki kapal seperti ini. Sehun dan suaminya juga datang dari keluarga terpandang tapi ia bisa mengetahui kalau Chanyeol pastilah lebih kaya dari mereka.
Sehun mengedarkan pandangannya ke lautan luas dan ia yang memang sangat menyukai lautan merasa sangat senang bisa diberikan kesempatan untuk menginjakkan kakinya di kapal ini.
Sehun duduk di sebuah sofa empuk berwarna merah marun yang terletak di dalam kapal tersebut dan setelah setengah jam menunggu, sang pemilik kapal sekaligus yang akan menjadi objek wawancaraanya belum menampakkan dirinya.
"Mungkin dia sibuk " gumamnya pelan seraya menikmati semilir angin yang menerpa rambut dan wajahnya.
"Maaf sudah lama menunggu ya ?"
Suara berat itu sontak saja menarik Sehun dari lamunannya dan wanita itu berdiri dan membungkuk sedikit untuk memberi salam pada Chanyeol yang di matanya jauh lebih tampan daripada dari foto-foto yang sering ia lihat ataupun dari tayangan televisi.
"Tidak apa, baru saja. " Sehun tersenyum ramah.
Suasana kapal yang nyaman ditambah musik yang mengalun syahdu nan lembut membuat Sehun nyaman dalam melakukan tugasnya untuk mewawancarai Chanyeol dan yang diwawancarai pun merasa demikian, ia tak pernah merasa senyaman ini ketika menjadi objek wawancara seseorang.
"Jujur saja kupikir aku akan diwawancarai jurnalis senior beumur sekitar empat puluh tahunan " dan kuping Sehu n sedikit terasa panas mendengar adanya nada meremehkan dalam perkataan Chanyeol, namun ia mengabaikannya.
Wanita itu tersenyum dan dengan tenang membalas
"Sama sengan saya, kupikir anda terlalu muda untuk menjadi direktur yang snagat sukses dan kita sama sebenarnya, hanya saja berbeda bidang " dan Chanyeol tertawa dan mengangguk, menyukai rasa percaya diri yang ada di pribadi Sehun.
Obrolan demi obrolan pun mengalir. Tanpa keterpkasaan dan membuat keduanya merasa nyaman sekali
Sebuah wawancara langka yang penuh dengan kejujuran tentang cinta, kesuksesan dan kebebasan. Dan Sehun bisa merasakan bagaimana tajamnya tatapan mata seorang Chanyeol padanya ketika wawancara berlangsung.
Dari obrolan-obrolan mereka dan dari penampilan Sehun sendiri, Chanyeol bisa merasakan kalau sosok putri yang ada di impiannya selama ini, putri yang dinilainya cocok bersanding dengan dirinya, ia bisa menemukannya di dalam sosok Sehun. Entah mengapa, pandangan Chanyeol mendadak tertuju pada cincin pernikahan yang melingkari jari Sehun. Ia tahu wanita di depannya sudah menikah. Dan entah mengapa sebagian dari diri Chanyeol tidak menyukai hal itu.
.
.
Wawancara itu telah mengubah hidup Chanyeol. Sehun adalah sosok dalam cerita yang menjadi nyata dan sekarang berada di hadapannya. Yang menjadi masalah adalah, putri itu telah bersuami dan Chanyeol tidak menyukai bagian di mana Sehun mulai menceritakan tentang rumah tangganya.
"Bagaimana rasanya menikah ? menyenangkan ?"
Sehun tersenyum dan agak kaget juga ketika tiba-tiba Chanyeol menanyakan hal semacam itu. Chanyeol terllau frontal dan terus terang.
"Begitulah. Namun agak berbeda dengan yang saya bayangkan selama ini tentang menikah " jawab Sehun, terus terang.
"Memangnya apa yang berbeda dengan pernikahan yang anda jalaini dengan pernikahan yang pernah ada di benak anda, Nona ?"
Chanyeol penasaran dengan Sehun, itu pasti.
"Pernikahan yang saya rasakan dan jalani ini terlalu baik " jawaban misterius Sehun tak ayal makin membuat Chanyeol penasaran.
"Ceritakan juga tentang anda, Chanyeol " Sehun malah berbalik bertanya pada Chanyeol
Dan inilah, Sehun yang merasa ingin lebih mengenal sosok seperti apa Park Chanyeol itu. Dan ia seperti menemukan sosok yang bebas di dalam diri Chanyeol, berbeda dengan sosok teratur seperti Joongki.
Mengobrol dengan Chanyeol, yang walaupun hanya berlangsung sejak satu setengah jam yang lalu, bisa membuat jantung Sehun berdetak seribu kali lebih kencang.
.
.
Park Chanyeol sudah jatuh cinta dengan Oh Sehun. Mungkin ini terdengar konyol, dimana lelaki itu sudah merasa menyukai seseorang di saat mereka baru mengobrol beberapa jam saja namun itulah kenyataannya. Chanyeol dapat merasa sehun adalah wanita yang tepat untuknya, wanita itu yang bisa membuat jantungnya berdegup lebih kencang dan membuat matanya tak bisa berpaling.
Lelaki itu sedikit kecewa memang ketika melihat cincin pernikahan yang ada di jari manis Sehun dan ketika wanita itu mengaku secara gamblang kalau ia sudah menajdi istri seseorang namun bukan Chanyeol namanya kalau ia akan menyerah begitu saja. Bahkan lelaki ambisius itu sudha bertekad untuk melepaskan cincin itu dari jari manis kurus milik Sehun. Dan ketika Chanyeol telha berkehendak akan sesuatu maka itu bukan main-main dan dia pasti akan mendapatkan apa yang dia incar.
"Kenapa jantungku seperti ini ? dan kenapa aku seperti terhipnotis dan sulit mengalihkan pandanganku dari matanya ?"
Sehun berkata dalam hatinya dan mata tajam bulat milik lawan bicaranya memang seperti menghipnotis dirinya untuk tetap memandangnya dalam.
Jadi, mungkin, perasaan suka Chanyeol tidak bertepuk sebelah tangan.
Selama ini, Sehun selalu saja merasa terkungkung dan tidak bebas dalam menjalankan pilihan-pilihan hidupnya, bahkan rumah tangganya dengan Joongki pun tak pernah lepas dari campur tangan kedua orangtua mereka dan Sehun merasa tak bebas. Ia seperti berada di dalam sangkar emas dan ia amat mendamba aroma kebebasan yang tak pernah dihirupnya sebelumnya.
Chanyeol mendapatkan kesuksesan seperti saat ini dengan perjuangan keras. Terbiasa hidup mandiri semenjak kedua orangtuanya meninggal dan hidup hanya dengan neneknya yang juga meninggal di saat usianya lima belas tahun. Chanyeol sedikit demi sedikit meniti karirnya hingga jenjang saat ini.
.
.
"Karena... aku suka kau yang percaya diri akan dirimu sendiri, Sehun "
Sehun bisa mendengar namanya sendiri terasa begitu indah ketika keluar dari bibir seorang Chanyeol. Lelaki itu sudah tidak memanggilnya dengan sebutan 'Nona' namun dengan namanya langsung.
Dan kedua mata tajam tiu terus menatapnya secara intens dan Sehhun merasa terhanyut oleh manik hitam yang jernih itu.
"Dan, aku...mungkin menyukaimu, Sehun " perkataan Chanyeol yang terlalu terus terang jelas membuat sehun gugup namun wanita cantik itu memilih mengabaikannya dan tetap bersikap tenang namun justru hal inilah, sikap tenang inilah yang makin membuat chanyeol penasaran karena selama ini tidak ada wanita mana pun yang bisa tenang jika berhadapan dengan seorang Chanyeol. Tidak ada seorangpun kecuali OH SEHUN.
.
.
Pertemuan pertama Sehun dengan chanyeol di yacht mewah itu membawa perubahan di diri Sehun. Wanita cantik itu mulai merasa tertarik, baik secara fisik maupun mental dengan sosok chanyeol. Ia tahu dan sadar benar kalau ini salah, ini tak semestinya perasaan yang ia rasakan.
Ia sudah bersuami dan ia mencintai suaminya. Salah...suaminya yang sangat mencintai dirinya, sedangkan ia selama ini ? Ia selama ini hanya 'berusaha' memberikan cinta yang sama besarnya dengan yang suaminya berikan padanya.
Dan, Sehun tak bisa memungkiri kalau kini ia tertarik pada sang pengusaha muda nan tampan, Park Chanyeol.
Dan entah mulai kapan dan siapa yang memulai, namun Chanyeol dan sehun sekarang telah ada di sebuah cafe. Chanyeol yang meminta Sehun untuk menemuinya dan wanita itu menolak dengan halus sebelum akhirnya chanyeol muncul dengan sendirinya di depan pintu ruangan kantor sehun dan Sehun tak bisa menolak ajakan makan siangnya di sebuah cafe mewah itu.
Pertemuan kedua mereka.
"Apa aku mengganggu waktumu ?" tanya sehun pada Chanyeol yang duduk di sebelahnya.
"Tidak, mungkin aku yang harus bertanya begitu. Kau seorang wakil pemimpin redaksi yang sibuk, mungkin ajakanku ini sudah menyita waktumu yang berharga " dan Sehun tertawa.
Chanyeol bisa melihat kerut halus di sudut mata Sehun yang semakin membuatnya cantik dan menarik. Chanyeol tak peduli dengan status Sehun sebagai istri orang. Ia ingin bersama sehun dan ia akan mengejar wanita itu, tidak akan membiarkan dirinya yang ia ibaratkan sendiri seperti pangeran jatuh dan hancur seperti dalam cerita dongeng itu. Ia akan mendapatkan putrinya kali ini.
.
.
Chanyeol menyulut rokoknya. Kebiasaannya setelah makan.
Melihat raut wajah Sehun yang sedikit berubah, membuat Chanyeol heran.
"Kenapa denganmu, Sehun ? kau baik-baik saja ?"
"Aku...kurang menyukai bau asap rokok, jadi bisakah kau tolong matikan rokokmu. Itu membuatku pusing" dan dengan cepat, Chanyeol mematikan puntung rokoknya yang masih menyala.
"Kau bilang saja, aku janji aku tidak akan merokok lagi di depanmu "
'Merokok tak baik untuk kesehatan, Chanyeol " dan sebuah kata-kata simpel itu sudah cukup untuk membuat pria itu berjanji akan mengurangi kebiasaan merokoknya.
.
.
"Ceritakan padaku tentang rumah tanggamu, sehun "
"Bukankah waktu itu kau tidak mau aku berbicara soal itu ?" Sehun masih ingat ekspresi tidak suka tercetak di wajah tampan Chanyeol saat itu.
"Aku berubah pikiran, sekarang aku ingin mendengarnya langsung darimu "
Chanyeol memberanikan diri mengelus punggung tangan Sehun dan Sehun bisa merasakan seluruh tubuhnya terasa hangat. Ia menyukai sentuhan pria itu. Chanyeol mulai berani berkontak fisik dengan wanita luar biasa ini dan Sehun nampaknya juga tak keberatan dna ini adalah awal mula yang bagus menurut chnayeol.
"Apakah kau bahagia dengan suamimu ? apa kau merasa bahagia dengan pernikahanmu ?".
Dan pertanyaan Chanyeol barusan itu serasa menyadarkan Sehun.
Cinta.
Sehun sama sekali tidak tahu apakah ia mencintai Joongki.
Sejak kecil, kehidupan Sehun selalu diatur pihak orangtuanya sampai keputusannya menikah dengan Joongki pun dipengaruhi keluarganya. Sehun tidak pernah memiliki ruang gerak penuh untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya.
Dan mungkin, sebelumnya, ia nyaman dengan hidup seperti yang ia jalani itu.
Tapi, kini setelah pertemuannya dengan Chanyeol dan pertanyaan lelaki itu juga, ia merasa telah dikungkung begitu jauh dan ia ingin menemukan kebebasannya sendiri.
"Aku tak tahu, Chanyeol. Aku tak tahu soal itu "
Sehun menunduk dan ia merasa tak sanggup menatap mata tajam CHANYEOL. Pria itu mungkin bisa membaca pikirannya saat ini.
"Mungkin aku mencintainya meskipun pernikahan kami bukan atas kemauanku semata " jelasnya dan sudut bibir chanyeol tertarik membentuk sebuah senyuman. Pria tampan itu mengulurkan tangannya kemudian
"Apakah kau bisa mencoba mencintaiku, Sehun ? Bagaimana kalau kita pacaran ? Kau...dan...aku ?" Chanyeol mengucapkannya dengan penuh percaya diri dan sekali lagi membuat Sehun seperti terhipnotis. Lelaki itu begitu percaya diri dan Sehun menyukai itu.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya ? suamimu itu, siapa namanya ? ahhh, aku memang belum tahu siapa namanya, karena tidka mau tahu sebelumnya namun sekarang aku ingin tahu. Siapa namanya, Sehun ?" Chanyeol mengucapkan kata demi kata dengan begitu lembut dan nyaris tanpa emosi dan membuat Sehun terkesan , cenderung seperti terhipnotis.
"Song Joongki, namanya Joongki "
"Ah, jadi Joongki namanya "
Sehun mengangguk .
"Kami dijodohkan, bukannya aku sudah pernah berkata ya padamu soal itu ?"
"Memang, namun belum detilnya dan aku mau tahu detilnya "
"Kami...tepatnya keluarga kami yang semenjak kami masih kecil sudah saling mengenal dan ketika kami dewasa, orangtuaku dan Joongki oppa ingin menjodohkan kami "
"Dan kau langsung setuju ? wow..biasanya para gadis akan menolak secara langsung namun kau langsung setuju ? apakah ia begitu tampan ?"
Sehun tertawa
"Ia tampan, namun bukan itu alasannya. Aku hanya tidak ingin kedua orangtuaku sedih dan kecewa jadi kupikir mereka tahu apa yang terbaik untukku dan mereka tidak akan mencarikan seseorang yang tak baik untuk menjadi suamiku "
"Namun kau tak tampak bahagia. Jujur saja, Sehun, kau tidak tampak bahagia dengan pernikahanmu dan peranmu sebagai istri Joongki-ssi "
"Bagaimana kau tahu ?"
"Karena kau akan menjadi milikku dan akan meninggalkan laki-laki itu demi aku "
Kepercayaan itu, yang Chanyeol miliki, sekali lagi membuat mata indah Sehun tak mampu berpaling.
"Kau akan melepaskan cincin di jarimu itu dan menggantinya dengan cincin dariku "
"Kau begitu percaya diri, Chanyeol-ssi"
"Aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku ucapkan sendiri dn apa yang kuinginkan akan selalu kudapatkan, apapun caranya "
Dan di detik berikutnya, tubuh Chanyeol sudah condong ke depan dan tanpa aba-aba, pria itu mengecup daun telinga Sehun, membuat wanita itu terkejut dan tidak siap.
"Aku menginginkanmu, Oh Sehun " bisiknya dan ia mengecup telinga Sehun lagi.
..
.
Sehun tetaplah seorang istri yang baik untuk ada yang berubah dari perangai Sehun di rumah. Pelukan dan ciuman tetap ia berikan seperti biasa pada suaminya namun Joongki tidak tahu sama sekali kalau Sehun memiliki perasaan pada pria lain selain dirinya jauh di dalam hatinya.
Kalau Sehun tak lagi mengatakan 'aku juga mencintaimu' saat Joongki mengatakan hal yang sama.
Dan malam ini, saat Sehun dan Joongki hampir saja melakukan hubungan suami istri itu, tiba-tiba Sehun menolak dan penolakan Sehun sungguh membuat Joongki kaget.
"Aku lelah, oppa..aku sedang tidak ingin, sedang 'kedatangan tamu bulanan' "
Tentu saja, itu Cuma alasan sehun saja, ia tidak sedang datang bulan. Namun entah mengapa, ia sedang tidak ingin melakukan 'itu'.
Memilih tidur memunggungi suaminya, Joongki merasakan ada yang tidak biasa dengan perangai Sehun. Istrinya itu tidak bertingkah seperti biasanya.
"Kau kenapa, hmm ? jagiya ..." Joongki mencoba memeluk tubuh Sehun dari belakang namun tidak ada respon dari istri cantiknya tersebut.
"Bukankah, kalau aku tidak salah ingat, kau baru saja selesai datang bulan seminggu yang lalu ?"
Sial. Umpat sehun dalam hati. Bagus sekali, kini ia sudah mulai berbohong pada suaminya dan tanpa sadar ia melakukannya demi LELAKI LAIN.
Ia merasa bersalah sekarang namun ia benar-benar sedang tidak ingin.
"Hmmm, entahlah...tadi pagi ada bercak darah dan kupikir aku datang bulan lagi " bohong Sehun tanpa melihat ke mata Joongki.
"Mungkin kau terlalu lelah.. Jangan terlalu lelah, atau besok pagi kutemani kau ke dokter untuk memeriksakan diri ? masa satu bulan datang bulan dua kali ? "
Joongki yang baik dan Sehun menyakitinya.
"Tidak perlu, aku janji tidak akan terlalu capek lagi, suamiku " Sehun berbalik dan menghadap ke arah suaminya, menangkup wajahnya dengan dua tangannya.
"Terima kasih karena kuatir padaku "
"Hey, aku ini suamimu, dan aku sangat sayang pada istriku "
Sehun tersenyum kikuk .
.
.
Sehun belum bisa memejamkan matanya saat sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
From : Chanyeol
To : Sehun
"Hallo cantik, sudah tidur ?"
Bibir Sehun diam-diam membentuk senyuman.
To : Chanyeol
From : Sehun
"Belum, tidak bisa tidur. Kau sendiri ?"
From : Chanyeol
To : Sehun
"Belum, masih mengerjakan beberapa tugas kantor. Tidurlah, aku tahu kau capek. Atau kau bisa memikirkan aku agar bisa tidur. Atau kau mau aku ke sana ?"
Mata Sehun membelalak.
To : Chanyeol
From : Sehun
"Kau jangan gila ya. Jangan ke sini, baiklah aku akan tidur sekarang. Selamat malam"
From : Chanyeol
To : Sehun
"Hahahaha...tidurlah, dan aku menyayangimu. Jangan pikirkan orangyang di sampingmu dan pikirkan aku saja "
Kalimat Chanyeol barusan egois namun diam-diam Sehun menyukainya. Ia melirik ke samping kirinya dan dilihatnya Joongki sudah terlelap, dan rasa bersalah diam-diam merayapi hatinya.
"Maaf " lirihnya.
.
.
.
TBC
Thanks to : , pratomoony,chuapExo31,;iekloss, chanhun's daughter,MinnieWW yang sudah review ^^
.
