Disclaimer: SVT © Pledis Entertainment. No profit gained, no copyright law infringement intended.
Hertz
(Literally Meaningful After Story)
-Azura Eve-
.
Lenght: Multi-chaptered (1/17)
Pairing: Meanie/GyuWon.
Genre(s): Slice-of-Life, Romance, Drama
Rating: T (PG-13)
Summary: Jeon Wonwoo si penyandang tunarungu dipertemukan takdir oleh Kim Mingyu yang matanya berfungsi sebelah. Mereka menjadi telinga dan mata untuk satu sama lain; tapi hidup bersama ternyata lebih sulit dari dugaan mereka.
.
.
Warning(s): Alternate-Universe; disability-theme; difable!GyuWon; self-beta.
PS (MUST READ!): Fanfiksi ini adl cerita lanjutan dari Literally Meaningful dan sekuelnya, CLARITY. Jadi, kalo mau ngikutin cerita ini, syaratnya harus udah baca dua fanfiksi yang disebut barusan. Boleh aja nggak dibaca sih, tapi aku takut nanti yang baca bingung di tengah-tengah; jadi kusaranin baca dulu prekuelnya. Bisa dicek langsung ke profilku, kok. Oh, ya! Kalo sebelumnya Mingyu masih bisa ngeliat dengan satu mata, di sini dia udah buta total. Aku nulis berbekal pengalaman di dunia nyata, jadi kuharap pesannya bisa nyampe. Terakhir ..., selamat membaca. :)
.
.
.
Play Now: Gummy - You Are My Everything
((disaranin buat diputer pas dengerin chap ini; terutama pas scene mingyu jemput wonwoo, tehee.))
—Second Voice—
2 Wicked Scenes of Fate (2,080 words)
Nyaris seperempat jam Wonwoo berdiri kaku setelah punggung Mingyu berjalan mendahuluinya. Kakinya seolah terpancang di sana, tak mampu melangkah. Segala keinginan untuk membahasakan pikiran menguap tanpa bekas; karena sebanyak apapun dia ingin berucap maaf, Mingyu tidak di sana untuk mendengarnya.
Beberapa tetes hujan mulai turun karena sejak mereka keluar, langit menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan. Suara atap ditimpa gerimis adalah melodi, tapi tidak untuk mereka yang tak mampu mendengar. Wonwoo berdiri, surainya mulai basah dan dia tak peduli; karena Mingyu bisa jadi juga kehujanan bahkan lebih daripadanya. Bagaimana pria itu akan menemukan letak swalayan? Mingyu jarang keluar sendirian, kalaupun melakukannya dia pasti membawa kompas bicara bersamanya.
Pandangan Wonwoo terus mengarah ke tanah, hingga hujan tak lagi terasa membanting kulitnya. Pelan-pelan, dia mengangkat kepala. Dan hatinya patah saat mendapati Mingyu dengan senyumnya yang biasa, berdiri di hadapannya seperti tidak terjadi apapun sebelum ini. Dia mencondongkan payung hingga mengorbankan dirinya sendiri kebasahan. Demi pasangannya, Mingyu rela melakukan apapun.
Alih-alih berhenti, hujan turun makin deras tapi Mingyu tidak sedikitpun berubah posisi.
Pakaian pria itu basah kuyup sekarang.
Sudut mulut Wonwoo bergerak, untuk memanggil nama pasangannya, tapi sebelum dia dapat melakukannya, Mingyu sudah mendahului dengan ajakan yang terdengar ringan dan kekanakan:
"Mari kita pulang, Wonwoo ..."
Wonwoo tak mengerti. Setelah semua, dia tidak mampu memahami Mingyu hingga ke akar dan masih terlalu banyak misteri yang pria itu simpan. Segala sesuatu tentang dirinya. Hal-hal kecil seperti memahami satu sama lain dan toleransinya yang terlalu tinggi. Beberapa saat lalu, Wonwoo yakin Mingyu pergi dengan mempertahankan argumen dan menolak gagasan Wonwoo tentang penyebab kebutaannya. Namun sekarang, pria itu bersikap seolah-olah mereka tidak pernah terlibat percakapan rumit.
Mingyu meletakkan tas plastik ke atas meja makan, dan menarik bangku untuk duduk.
"Aku membeli kue beras pedas." Dia berucap. "Makanlah. Mumpung baru selesai dimasak, jadi rasanya masih enak."
Perhatian Wonwoo tak pernah teralih dari pria itu. Caranya berkata-kata, matanya yang melengkung ketika dia menyengir tanpa sadar, semuanya. Mata Wonwoo berat, dorongan untuk menumpahkan perasaan sangat banyak dan menggedor-gedor pertahannya sedaritadi. "... Se-be-nar-nya, a-pa yang ka-u-la-ku-kan?" tanyanya, menahan airmata keluar – karena dia lelah menangis.
Mingyu menghentikan gerakannya yang ingin membuka kemasan makanan. "Kau bicara sesuatu, Wonwoo?"
"... Ba-gai-ma-na ka-u bi-sa ta-hu a-ku di sa-na, Min-gyu?" Dia mengubah pertanyaannya.
Mingyu mengendurkan ekspresi wajahnya. "Kau percaya pada telepati? Karena Wonwoo, aku melakukannya dan itu menuntunku untuk pulang lewat lapangan lagi, dan ternyata kau masih di sana. Bukankah aku sudah menyuruhmu pulang duluan?"
Wonwoo mengesah, tangannya terangkat untuk menghapus airmata yang mengalir di wajah. "Ma-na bi-sa a-ku pu-lang du-lu-an dan me-ning-gal-kan-mu sen-di-ri-an? A-pa ka-u ber-can-da?"
Mingyu mengendikkan bahu, lalu sengirannya terbit. Sangat lebar, bahkan membuat Wonwoo melupakan apa yang semestinya dia katakan. "Mungkin. Aku tidak suka tensi yang kaku, kauingat?" katanya. "Lagipula, kau tidak perlu khawatir padaku. Aku sudah hapal beberapa rute di dekat sini. Kalau kau pergi bekerja dan aku bosan, biasanya aku keluar untuk menghabiskan waktu duduk-duduk di dekat taman."
"A-ku ... ba-ru ta-hu ..."
"Hmm. Kapan-kapan, bagaimana jika kita pergi bersama dengan beberapa lapis roti isi. Kurasa itu bagus untuk menyegarkan pikiran."
Wonwoo mengangguk. "Ba-ik-lah."
Mereka makan malam dengan hening. Sendok yang berbenturan dengan piring makan membuat Wonwoo sepenuhnya lupa pada apa yang ingin dia tanya. Rasa lapar Mingyu menuntunnya menjadi barbar dan pria itu sempat menumpahkan kuah panas ke tangannya sendiri. Wonwoo bangkit dari bangku, mengambil kain bersih dan melap kekacauan yang dibuat Mingyu dengan sabar.
Saat mereka bersisian untuk pergi tidur, Wonwoo bergumam sendiri.
"Ku-pi-kir ka-u ta-k se-pen-da-pat de-ngan-ku."
(Mingyu ternyata mendengarnya.)
"Tidak sependapat bukan alasan untuk kita saling berdiam-diaman, bukan? Kita pasangan, terlebih lagi, kita tinggal serumah. Bukan hal bagus kalau komunikasi kita memburuk hanya karena sejumlah ketidakcocokan." ucap Mingyu.
Wonwoo tertegun beberapa saat sebelum menggigit bibir bawahnya. Dia mendengar. "... Se-be-ra-pa be-sar se-be-nar-nya ke-bo-do-han-mu i-tu? O-rang la-in se-ha-rus-nya ma-rah ji-ka ja-di di-ri-mu."
Mingyu berbalik ke samping, meraba ruang kosong di depannya hingga tangannya mampu meraih leher pasangannya. Wonwoo dibawa ke dalam pelukan. "Mungkin tak ada yang lebih bodoh daripadaku, karena aku benar-benar bodoh. Tapi harus kautahu, aku tak nyaman jika kau memperpanjang masalah. Jadi kuminta, tetap bersikap seperti biasa. Aku lebih suka kau kembali banyak bicara."
Wonwoo mengangguk, jatuh tertidur dalam rengkuhan pasangannya dan hangat selimut yang menutup mereka berdua.
Pada akhirnya, Mingyu masih akan jadi sederhana meskipun banyak rahasia yang pria itu simpan dengannya.
Hari itu Mingyu memiliki jadwal untuk mengecek matanya. Meskipun penglihatannya hilang, dia dipesankan untuk selalu rutin datang ke rumah sakit, memantau beberapa perkembangan, sebagai antisipasi untuk komplikasi yang dalam beberapa kasus mungkin saja terjadi. Dokter menyarankannya untuk pergi per dua bulan sekali, tapi Mingyu tak ingin datang terlalu sering jadi dia melakukannya hanya setiap setengah tahun sekali.
Wonwoo sudah berangkat ke tempat kerjanya sejak dua jam lalu, meninggalkan salam pagi yang familier di telinga Mingyu: "A-ku per-gi du-lu. Ja-ga di-ri-mu, Min-gyu."
Jadi, dia bersiap dengan keperluan tunanetra. Dia memasukkan kartu identitas, tongkat, dan kompas bicara sebagai pegangan. Dia menyandang tas lalu menyetop taksi, mengatakan alamatnya pada sang sopir dan mendapat potongan harga berkat kartu disabilitas.
Memasuki kawasan rumah sakit, perawat menawarkan diri untuk menuntun tapi Mingyu menjulurkan tongkatnya seolah dia membuktikan dia mampu. "Saya bisa sendiri." tolaknya halus.
Kemudian, dia dapat mendengar bisik-bisik. Terlalu biasa. Dia telah makan asam-garam tentang menjadi penyandang disabilitas. Bahwa penyandang disabilitas akan selalu menjadi minor dan keberadaannya masih dianggap mengganggu bagi beberapa orang dengan pikiran terbatas. (Wajahnya terlalu tampan untuk jadi orang buta. - Jangan memandangnya lama-lama, aku pernah dengar orang buta bisa membaca pikiran! - Yaaah, kasihan sekali dia. - Aku pasti sudah bunuh diri jika menjadi orang itu. - Hmm, kalau saja dia bisa melihat, pasti aku langsung jatuh cinta ...)
Mingyu telah mencatat letak ruangan dokter pribadinya sesuai pesan yang ditinggalkan sang dokter dalam surel yang dikirim ke kotak masuknya. Dia masuk ke lift bersama beberapa orang – dan sebagian dari mereka sempat membuat Mingyu nyaris tak tahan berada di dalam karena sindiran mereka terlalu jelas baginya. Mingyu meraba permukaan dinding lift dan menemukan tombol lantai empat, dia menekannya tanpa basa-basi lalu lega saat mendengar suara dari pengeras yang mengatakan dia sudah tiba.
Dia menunggu di ruang tunggu. Ada anak kecil, perempuan, menggenggam tangan sang ibu, duduk di samping Mingyu. Pertanyaannya mengalir seperti air, dan tak bisa diantisipasi. "Mama, apa nama benda yang Kakak itu pegang? Besi panjang yang bisa dilipat?"
"Jangan tidak sopan begitu, Mina." Ibu muda itu membuat mimik campur aduk, gabungan simpati dan perasaan tak enak. "M-maafkan kelancangan anak saya." Dia menunduk dalam meski Mingyu tak bisa melihatnya.
Mingyu menoleh ke sumber suara dan menarik senyum. "Tak apa, Nyonya." ucapnya. "Anak-anak tetaplah anak-anak dengan pikiran hijau mereka." Lalu, tangannya terjulur. Sang ibu muda mengerti dan membawa anaknya maju mendekati Mingyu. Anak itu tak mundur atau merasa takut, alih-alih, dia justru senang.
Dia berkedip lucu mendapati Mingyu, dengan mata terbuka lebar, tapi tatapannya kosong dan tak mengarah padanya alih-alih mereka sedang berhadapan. "Kakak ... tidak bisa melihat?"
Mingyu berjongkok, menepuk kepalanya (setelah memperhitungkan anak itu berada di mana). "Dulu aku bisa. Tapi sekarang ya, aku tidak bisa." katanya. "Makanya, aku membawa benda ini. Namanya adalah tongkat."
Anak itu membuat ekspresi terpana. "Aku harap aku juga memilikinya. Benda ini keren saat Kakak menggunakannya tadi!"
"Terima kasih. Itu ucapan yang menyenangkan untuk orang buta." Mingyu tersenyum bahagia.
(Mingyu pikir, terkadang anak-anak bisa menjadi lebih ramah daripada orang dewasa dengan nalar yang harusnya sudah berkembang penuh.)
Masuk ke ruangan dokter tak pernah menjadi semengerikan ini sebelumnya. Mingyu menghitung langkah; satu-satu, karena entah kenapa dia punya firasat ada sesuatu tak menyenangkan yang bakal disampaikan di dalam sini. Dan untuk alasan tertentu, Mingyu tak ingin mendengarnya.
Tapi dia terlanjur datang dan sudah terlambat untuk kembali. Sehingga dia duduk di bangku konsultasi dengan keringat dingin mengalir di tengkuknya. Tongkatnya dilipat ke dalam saku dan tangannya bergerak untuk mencari pengalihan, meremas lutut yang terbalut denim.
Sang dokter menaruh hasil rontgen di atas meja kerjanya. "Saya telah menulis beberapa hipotesa dari hasil pemeriksaan beberapa bulan lalu. Dan aku akan menjawab pertanyaanmu." Menarik bangku di hadapan Mingyu, pria itu duduk. "Ada dua hal yang bisa kusimpulkan."
"... Apakah itu berita yang menyenangkan ... atau ... sebaliknya?" Mingyu bertanya lamat-lamat.
"Dua-duanya." Dokter itu menarik napas, menatap pasiennya. "Jadi, mana yang ingin kaudengar lebih dulu?"
Mingyu berpikir untuk beberapa saat sebelum menjawab: "... Aku akan mendengar yang buruk belakangan."
Dokter itu menarik senyum simpul. "Anda punya kemungkinan untuk bisa melihat lagi."
Lama otaknya mencerna kalimat barusan seperti dia baru disodori soal olimpiade Eksak paling sukar; sang dokter sampai menyuil lengannya untuk membuat Mingyu kembali tersadar. "... Apa aku benar-benar punya kemungkinan tersebut? Atau Anda hanya membuat harapanku melambung karena yang akan kaukatakan selanjutnya terlalu sangat berkebalikan dari berita ini ...?"
"Kode etik dokter adalah tabu untuk membuat keterangan palsu terhadap pasiennya. Lagipula, berita yang bakal kuterangkan ada hubungannya dengan kemungkinanmu bisa melihat lagi." Dokter itu berucap. "Tapi sebelum itu saya ingin bertanya."
Mingyu memandang satu titik dan pandangannya kosong ke depan. Sang dokter memahaminya sebagai gestur Mingyu untuk menjadi pendengar yang baik.
"Apa yang Anda rasakan, tepatnya akhir-akhir ini?"
Mingyu coba mengingat-ingat. "Minggu ini tidak berbeda. Aku masih tak mampu melihat. Tapi aku mulai tidak bisa membedakan mana pagi dan malam hari, tidak seperti bulan-bulan sebelumnya."
"Itu dia masalahnya."
"Maksud Dokter?"
Suara napas dihela. "Kau harus segera mencari donor mata yang cocok jika sungguhan ingin penglihatanmu kembali, atau kau benar-benar tak bisa melihat lagi sepanjang sisa usiamu."
"Apa aku tidak punya harapan lain, Dok?"
Dokter paruh baya itu mengesah panjang. Mingyu tak perlu melihat dulu untuk tahu ekspresi apa yang sedang dia tunjukkan. "... Sepertinya tidak, ya?" Dia tertawa dengan hatinya yang retak di dalam. "Jadi ..., berapa lama lagi yang kupunya?"
"... Aku tidak tahu, Nak. Dokter hanya manusia, bisa menduga, tapi tak bisa memberi kepastian sebenarnya." Bahu Mingyu ditepuk, dan pria itu mengartikannya sebagai simpati. Bagaimanapun, dokter itu pasti lebih paham tentang mekanismenya. "Tapi kusarankan kau bergegas. Aku menghitung dalam beberapa minggu dari sekarang, kau harus sesegera mungkin menjalankan operasi."
Mingyu paham manusia terlahir dengan tanggungan masalah masing-masing, namun dia tak menyangka takdir akan memainkan peran dengan sangat lihai dalam hidupnya. Nampaknya, mekanisme roda sepeda itu benar terjadi; Mingyu harus mengalami saat-saat terendah dalam hidup di mana dia tak bisa berlari kecuali memanjat ke atas. Tapi, memanjat ke atas hanya bisa dilakukan jika seseorang dalam keadaan mampu menerima dengan sepenuh hati.
Kemudian, dia teringat Wonwoo. Tangannya mengepal sendiri. Pikirannya bergulat hebat.
Kumohon. Sebentar lagi saja. Aku harus membuatnya lepas dariku dulu, untuk beberapa alasan.
Mingyu ijin menyudahi pertemuan setelah membungkuk sopan dan perasaan yang hancur.
Malamnya, Wonwoo merapikan beberapa buah dokumen yang harus dibawanya besok. Mingyu baru selesai menulis surat. Dan dia sudah menyelipkannya di bawah taplak meja kerja Wonwoo dengan maksud supaya pasangannya bisa segera menemukannya.
Wonwoo tertegun saat punggungnya dilempar bola kertas kecil dan dia mendesah lega saat mendapati Mingyu yang berdiri di depan pintu ruangan kerjanya.
"Aku pergi tidur duluan, tak apa ya?" Mingyu bertanya. Wajah terarah pada pasangannya.
Wonwoo mengangguk sekilas. "A-pa ka-u se-le-lah i-tu un-tuk ti-dur le-bih la-ma?" Dia mengecek jam digital yang terpampang di layar komputernya. "I-ni ba-ru jam de-la-pan le-bih li-ma me-nit ...?"
Mingyu mengerutkan bibir. "Aku ingin menemanimu," Dia melonggarkan jari-jarinya dan menyandarkan punggung ke kusen pintu. "Tapi sepertinya aku butuh istirahat lebih banyak."
Wonwoo menutup komputer tanpa mematikannya lalu berjalan menghampiri Mingyu. Dahi Mingyu diperiksa. "A-pa ka-u sa-kit? Ka-u te-lat ma-kan? Bu-kan-kah su-dah per-nah ku-bi-lang pa-da-mu ja-ngan per-nah me-ning-gal-kan ma-kan si-ang?!" Mingyu meraba lengan Wonwoo hingga tangannya berhasil menangkup wajah Wonwoo. "Rewel seperti biasa, hm?"
Wonwoo mengetukkan lidah.
"Aku makan, Wonwoo. Aku hanya lelah ..., mungkin." ucapan Mingyu mengambang.
Mengesah, Wonwoo menepuk pipi pasangannya. "O-ke. Ti-dur-lah de-ngan nye-nyak. A-ku a-kan me-nyu-sul se-te-lah pe-ker-ja-an-ku ram-pung."
Tiba di kamar, Mingyu tak beristirahat seperti yang dia katakan sebagai alasan. Alih-alih, Mingyu menyeret kopor besar berisi tumpukan baju-baju serta beberapa perlengkapan remeh seperti sabun dan deodoran. Ponsel dimasukkan saku, dompet dan tanda pengenal dia simpan rapi di balik bagian kopor yang transparan. Dia bisa kabur diam-diam sebab Wonwoo selalu mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja. Sebelumnya, ruang kerja itu hanya sebatas gudang sebelum Wonwoo pindah ke situ. Kakinya berjinjit, meminimalisir suara apapun meski tahu tanpa melakukannya saja Wonwoo tak mungkin mendengar.
Bagaimanapun, ada beberapa halangan dalam usahanya. Roda kopornya tersangkut di kaki sofa, menyebabkan kakinya sendiri tersandung ujung karpet yang terjulur keluar. Pria itu terhuyung, refleks mengambil beberapa benda untuk berpegangan, tapi gravitasi dan tubuhnya membuatnya tak sempat berbuat lebih banyak. Bunyi barang pecah beradu dengan lantai. Mingyu tersungkur di pinggiran sofa dan kepalanya yang terantuk membuatnya hilang kesadaran seketika.
Wonwoo mengerjakan pekerjannya dengan tatapan fokus dan penuh konsentrasi.
Dia tidak bisa mendengar apa yang terjadi di ruang tengah.
zula's note:
haii. aku balik bawa chap duanya oke. :D kucepetin sehari nih dari jadwal apdet. :p dan hmm aku kayaknya lagi gabisa nulis note panjang since i've limited time now.
ps; kompas bicara itu mirip pada dasarnya sama kayak kompas biasa, tapi itu didesain khusus buat tunanetra. cara makenya, pengguna ngomong dia mau pergi kemana dan kompas itu bakal ngasih petunjuk lewat suara dia harus kemana dan kemana. lebih jelas, mas gugel punya segala informasi. or kalo mau tanya banyak, ke pm-ku aja. ;)
ps2; ... buat kalian yg penasaran kenapa ini 17 chap. first, aku mau masukkin beberapa konflik di hertz ini. second, aku suka angka ini karna svt kan 17. #apasih
ps3; kemarin prodi (re: jurusan) ku ngasih tawaran utk student-exchange ke korea, fall season tahun ini. spesifiknya ke gyeongsang university. aku disuruh banget utk apply tapi aku masih bingung. ortu juga belum kukasihtau. tapi penawaran ini jarangjarang. duh gimana ini. ;_;)
ps4; aku minta reviewnya paling nggak hmm 25 biji? oke? okelah. i don't mind with siders, but sometimes i'd like to know wht u think 'bout ma writing. jadi, tinggalin reviewnya yaa. kutunggu muah. ;)
