DIET

Disclaimer: Papa Himaruya, saya pinjam anak-anakmu ya!

Story: Hay Anime-14

Warn: OOC,Gaje,Abal,non Canon, gak sesua EYD, Typos and miss typos, dll OC ALLERT!

OC!FEM!INDO: Kirana Paramesti Nusantara

OC!MALE!MALAY: Razak Abdul Parawa (Harusnya sih, NUSANTARA)

OC!MALE!SINGA: Dan Simha Kirkland(Harusnya sih, NUSANTARA)

OC!MALE!BRUNEI: Darojatun Lukman Kirkland(Harusnya sih, NUSANTARA)

.

Bagi yang merasa enek, gak suka silahkan tekan tombol back atau exit. Maksa baca, bukan paksaan saya kan?

~Happy Reading, Minna~

.

.

.

Disinilah America. Berdiri di halaman luas yang berlokasi di sebuah rumah besar berlantai tiga—katanya bau direnovasi—yang terpelosok—jauh dari penduduk setempat akibat nasib menjadi personifikasi yang wajib dilundungi keberadaannya bagaikan satwa langka. Tapi jika kau melihat rumahnya...

Itu Rumah sumpah gede amat. Horror. Pohon-pohonnya ngalangin banget. Dan—apaan tuh yang gerak-gerak di dahan.

(America merinding disko)

Dari dulu, para nation yang pernah berkunjung ke Rumah ini—Katanya sih, ni rumah udah ditempati jauh-jauh sebelum para Kompeni datang menjajah, tempat yang akhirnya ditempati Indonesia sendiri dengan para Ex-Motherland yang silih berganti—hawa-hawa gak enak sering banget menghantui. Dan kejadian aneh sering banget terjadi.

America gak bakal berani tidur sendiri.

"Tenang saja America, teman-temanku selama sebulan entar pergi dari rumah."

Sebagai tuan rumah yang peka, Indonesia mengerti mengapa America tak kunjung masuk ke rumah.

"Kau takut, America?" Malaysia sebagai salah satu mantan saudara bertanya seraya tersenyum memuakkan.

America, sebagai nation penuh harga diri tentu saja menggeleng membantah.

"GAK! AKU HERO DAN HERO GAK TAKUT APA-APA!"

Singapore memutar mata malas. "Ya-ya. Terserah."

"Maafkan mereka, America," Brunei tersenyum lembut yang senyumannya tentu jauh berbeda dari sang kakak kedua. "Mereka Cuma bercanda kok. Jangan diambil hati ya?"

Bersyukurlah America. Setidaknya masih ada yang peduli padamu.

Jadi. Disinilah America sekarang. Setelah selesai menaruh koper-kopernya begitu saja diruang tamu—katanya entar ada yang bakalan nganterin ke kamar, dan America gak mau tahu siapa yang akan mengantar—dia mengikuti empat saudara berjalan ke sebuah gedung kecil yang berada tepat disamping rumah digunakan sebagai tempat olahraga.

Mereka punya gym pribadi , toh—America membatin(Lalu Saudara Melayu protes. Mereka bilang itu GOR pribadi)

Sedari tadi, America menebak-nebak sendiri. Program diet apa yang akan ia jalani? Ia penasaran karena semenjak Meeting, Indonesia dan adik-adiknya hanya bilang kalau 'Progam Dietnya' kali ini akan berbeda jauh dengan program diet yang selama ini pernah ia jalani. Tapi, jangan khawatir—kata mereka—program diet ini menyenangkan dan mereka selalu rutin melakukannya setiap tahun.

Jadi karena itu Keluarga Melayu terlihat kecil? Mereka sudah kecil—kurus dalam pandangan America kalau boleh jujur— mengapa harus rutin melakukannya?! Itu menyiksa diri sendiri!—America hanya iri, Cuma tak mau mengakui.

Setidaknya, ternyata bukan hanya aku yang punya masalah dengan berat badan!

Kau-tahu-apa-maksudku-America-hanya-bersyukur-setidaknya-dia-tak-sendiri-itu-menurut-America-loh-yaa.

Karena itu, dari belakang, America bertanya keras dengan nada semangat seperti biasa.

"Apa sekarang kita akan memulai program dietnya? Seperti apa?!"

"Belum. Itu akan kita lakukan besok. Sekarang kita hanya akan melakukan 'beberapa' pemeriksaan. Nah, kita sudah sampai!"

.

.

.

Tahap Pertama: Ayo ukur tinggi badan.

"Baiklah America, berapa tinggi badanmu?"

"Buat apa?"

"Biar bisa ngitung berat idealmu nanti,ck." Malaysia berdecak kesal karena masih gak—sepenuhnya—terima bakal jadi mentor diet dadakan.

Pokoknya, entar aku mau minta uang muka!

America terlihat berfikir.

5 detik.

.

15 detik.

.

30 detik.

.

1 menit.

.

2 menit.

.

10 menit kemudian...

.

Sabar, sebentar lagi pembalasan...

.

"1XX cm!"

"Oke. Kanishta*, catet."

Tahap Pertama: Ayo ukur tinggi badan—SUKSES.

Didapati: Tinggi America, 1XX cm.

Ket: Karena faktor umur, sepertinya America lupa ngukur tinggi.

.

.

.

Tahap kedua: Ayo timbang berat badan.

"Sekarang America," ke-4 saudara yang kini sudah berperan sebagai mentor jadi-jadian sepertinya mulai terlihat menikmati pekerjaan baru mereka.

Tapi ini baru permulaan.

"Berapa berat badanmu?"

America—100% sontak terdiam canggung.

Itu topik sensitif banget, kawan...

"A-apa?" Fix. Dia udah kayak orang bego disini.

"Indon nanya(Indonesia berteriak protes dipanggil Indon)... berapa berat badanmu?" Dengan melagu, Malaysia bertanya sambil kembali tersenyum manis hingga kedua matanya menyipit.

Ah-ha.. dia beneran suka pekerjaan ini!

Tak sabar saya buat acara utama nanti—dalam hati, Malaysia tertawa sadis.

Dan yang menjadi tokoh utama kita, hanya bisa tertawa gugup. Menggaruk tengkuknya awkward, ia berfikir kenapa setiap diet harus ada pertanyaan terkait berat badan.

"Tidak tahu?"

Itu malah terdengar seperti bertanya balik.

Tapi America gak mau tahu!

Gantian—keempat saudara itu yang kini bengong seketika.

"Dan, ambil timbangan."

"EEEH? BUAT APA—"

"Kamu nyuruh kita siaga?" Singapore mengabaikan kalimat America yang terpotong olehnya lantas menatap saudara perempuannya nyalang.

Malaysia tertawa. Brunei tersenyum maklum. America masih nyeloteh. Indonesia sewot.

Ket: Dan itu Bersiaga dalam bahasa Sansekerta.

"Ck, udahlah Sing! Cepat ambil tanpa banyak cekcok! Keburu kakak santet kamu!"

Lagian kan nama Dan cakep! Kayak kependekan dari Danny!

Disuatu tempat tak terjamah, para pendahulu Saudara Melayu meribut—"Ada anak yang main-main sama bahasa kita."

"Baiklah, kakak." Setelah memberikan leletan lidah kepada sang kakak, Singapore melangkah pergi ke tempat yang America tak tahu. Terdengar suara barang-barang yang jatuh dan diacak-acak(Sing ngapain sih? Ribut amat)tak lama—pemuda dengan kacamata yang identik dengan Malaysia dan sebenarnya tak banyak bicara itu kembali dengan sebuah timbangan raksasa(Jangan tanya—Singapore melotot sebelum saudara-saudaranya sempat bertanya) yang diletakkan tepat didepan America.

"Jadi sekarang America, tolong naik."

America menatap benda yang disediakan didepan untuknya risih—juga mual. Maunya nolak, tapi sesudah mendengar permintaan—atau perintah yang diberikan Indonesia kepadanya... nada bicaranya itu—gimana gitu. Ditambah dengan senyuman-senyuman manis para Saudara Melayu serta aura-aura tak mengenakkan dibelakang mereka('Katanya teman-temanmu bakal pergi sebulan!'—America protes sesaat pistolnya hilang setelah masuk ke dalam rumah. 'Memang,tapi mereka baru berangkat besok'—Indonesia berkilah).

America menyerah.

"Baiklah. Tapi—jangan pada lihat ya?"

Krik.

"Eh! Terus gimana kita tahu?!" Malaysia yang pertama sadar, kemudian berseru protes.

"Ya, aku aja yang tahu! Kalian enggak usah!"

"TERUS GIMANA KITA MAU TAHU BERAT IDEAL KAMU SOMPLAAK?!"

"AKU SAJA YANG LIHAT! AKU DEH ENTAR YANG NULIS DICATETANNYA BRUNEI! TAPI PLEASE, JANGAN LIAAT! INI MENYANGKUT HARGA DIRIKU! TOLONGLAH INDONESIA!"

"ENGGAK BISA GITU DO—"

"Oke. Silahkan."

"TAPI NDON—"

"Biarin aja, Malon." memandang kepada sang adik kembarnya, Indonesia menunjukkan senyuman tipis. Tak apa, beberapa jam lagi kau bebas melakukan apa saja.

"TAPI INDON! PERATURAN DASAR YANG KE—"

"Malon."

Biarkan dia menikmati dulu kebebasannya...

Malaysia menelan ludah—susah payah menahan sudut bibir agar tak tertarik keatas.

"Silahkan, America."

Tetapi America tetap diam tak bergeming. Menatap Saudara Melayu satu-satu, ia kembali berkata, "Tapi kaliannya tutup mata."

Nih anak manja amat, sumpah, seperti terhubung Batin mereka berfikir sama. Tapi mereka tetap mengikuti kata-kata Sang Super Power untuk menutup mata.

Tubuh America gemetar. Dengan kaki yang bergetar pula, ia mecoba melangkah berdiri diatas timbangan. Mulutnya berkomat-kamit dengan peluh mulai memenuhi tubuh. Digit-digit pada timbangan digital itu mulai bergerak cepat. Terus bertambah, hingga akhirnya melambat dan berhenti pada nominal—

"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!"

America menjerit nyaring, dan Saudara Melayu yang mendengar jeritan bagai wanita itu sontak membuka mata cepat. Pandangan mereka berpaku pada pemuda yang kini berdiri tak jauh dari timbangan dengan cengiran—bodoh—biasa di wajah.

Terus, jeritan tadi?

"Bagaimana?" Sebagai anak tertua, Indonesia memecah suasana. Ah, habis ini dia—tidak,tapi saudara-saudaranya juga—mesti ke THT. Telinganya berdenging mulu.

Sang personifikasi Adidaya itu mengacungkan jempol. Buat apa coba? "SUKSES!"

"Kalau begitu," karena dia yang disuruh mencatat, Brunei menyondorkan notes kecil hasil catatannya. "Tolong tulis disini, America."

"Tidak perlu."

Tetap dengan cengiran bodohnya, America sukses membuat tetesan air imaginer di kepala empat bersaudara.

Sekarang apa lagi coba?!

"Serius, America," kata Malaysia sembari mendesis, tatapan nyalang, tangan terkepal berusaha menahan emosi.

Kata Indon, dia kudu sabar...

Dan seolah belum memahami situasi, pemuda dengan kacamata itu menepuk dadanya bangga.

"Karena aku HERO! Dan HERO dapat mengingat segala hal termasuk berat badanku sendiri! Dan karena aku HERO, aku beri tahu kalau berat badanku 40!"

Sip. Keempat saudara itu sukses keki. Dan mereka kompak mengaktifkan telepati.

'Malon, Dan, berapa berat badan kalian?'

'58.'

'56.'

'Sip. Masing-masing ambil posisi.'

"Heyheyhey, kalian mau apa, kawan?" Dibilang America kurang peka. Jadi dia diam saja saat dua dari empat bersaudara melangkah maju kearahnya dengan tatapan lapar-oh-ukeku-tunggu-aku-datang.

Entah kenapa, jadi berasa humu...

(Indonesia menahan diri agar tidak menjerit girang)

"HIMPIT DIAAAAAAAAA!"

"HUAAAAAAAAAAA! TUNGGU! KALIAN MAU APAAAAAAAAAAAAAAAAA?!"

"BAWA DIA KE TIMBANGAAAAAAN!"

"SUDAH NDON/KAK!"

"DUA RATUS DUA PULUH DUA DIKURANG SERATUS EMPAT BELAS HASILNYA SERATUS DELAPAN! KANISHTA, CATAT!"

"SIAP!"

Tahap kedua: Ayo timbang berat badan—SUKSES dengan sedikit paksaan.

Didapati: Berat America, 108 kg.

Ket: Diharapkan kepada petugas kesehatan; Jangan percaya America jika dia ingin menimbang sendiri, dijamin pasti dia berkilah mulu!

.

.

.

Tahap ketiga: Ayo ukur lemak di badan(?).

America masih memeluk kedua kakinya. Pundung di pojokan.

Sudah! Jatuh sudah semua harga dirinya! Berat badan yang merupakan privasinya, rahasia negaranya! TOP SECRET! Ah-gawat! Sepertinya America yang asli sedang dalam bahaya!

Ja-jangan-jangan, China sudah mulai menyerang?

America terlalu hiperbolis...

"Oy, America!" kata Malaysia berseru. Menarik-narik tubuh lelaki yang lebih besar darinya itu.

"Ayo bangun! Pemeriksaan belum selesai! Dan! Bantu aku!" Merasa usahanya untuk memaksa lelaki itu bangun tak kunjung berhasil, Malaysia berbalik meminta bantuan saudaranya.

Tapi saudaranya yang dikenal maniak banget sama singa—sesuai namanya—itu hanya mengangkat bahu. Bodo amat.

"Panggil aku Simha(Singa)."

WTF!

Akhirnya Indonesia turun tangan.

"America," katanya lembut(Dibelakang, Malaysia pura-pura muntah—mana Indon yang beringas?)sambil menyentuh pelan pundak kiri lelaki itu.

"Ayo lanjutkan pemeriksaan," lanjutnya. Tetapi, America menggeleng pelan.

"Tidak mau!" katanya dengan penuh kesedihan(?). "Aku lelah, harga diriku jatuh sudah! Tak ada lagi yang bisa kubanggakan! Aku mesti bagaimana? Walaupun diujung sana pemimpinku masih sudi menerimaku, tapi rakyatku? Siapa yang tahu! " America menyedot ingus. "Meskipun mereka tetap ingin menerimaku, tetapi malu dibawa seumur hidup! Aku teladan mereka, harapan mereka! Tetapi apa gunanya? Berbuat malu memang gampang. Sepertinya, aku harus mencari personifikasi baru yang dapat menggantikanku, lebih layak dariku, dapat membawa negaraku pintu gerbang kesuksesan yang lebih besar. Aku malu!"

Ah, telenovela khas Amerika.

Dibelakang, Malaysia nyiapin parang, Singapore dan Brunei—juga beberapa teman—sedang mengemil Popcorn.

"Aku malu! Aku mesti bagaimana?!"

Malu, Harakiri saja, Singapore dan Brunei—apalagi Malaysia membatin kompak.

Indonesia yang menjadi saksi dekat telenovela itu tertawa pelan(Otaknya cepat mencatat bahan cerita Sinetron baru). Kemudian, mendekatkan wajahnya kepada America agar dapat menatap langsung ke iris biru sewarna langit yang tengah terselimut kabut.

"Dengar America."

Lagi dibelakang, Singapore dan Brunei menahan Malaysia yang sudah ngayun-ngayun parang.

"Aku tahu kamu merasa malu dengan berat badanmu. Aku minta maaf. Tapi ini semua demi kamu, demi masa depan kamu."

Jujur, Author mulai merasa geli sendiri.

Kembali kebelakang, Singapore dan Brunei kewalahan menahan Malaysia yang kini sudah memegang AK-47.

"Aku janji, setelah ini gak bakal ada lagi yang berhubungan dengan berat badan. Tapi—hey! Kenapa harus malu, America? Kamu Hero kan? Superman saja beratnya sekitar 102 kg sampai 105 kg! Berat badanmu ngelebihin dia, lho."

Indonesia, kau memuji atau menyindir?

Malaysia tertawa keras. Singapore dan Brunei segera mengamankan parang dan senapan yang dilupakan.

Mata biru langit itu berbinar. Dia mengedip dan Kabut yang menyelimuti bagai kaca itu menghilang setelahnya. Digantikan dengan pancaran penuh semangat. Segera, dia bangkit berdiri. Tangannya sudah terkepal erat.

"Kau benar, Indonesia! Aku memang Hero! Dan aku merasa bangga telah mengalahkan—berat—salah satu Hero dari negaraku! Terima kasih, Indonesia!" Lelaki itu menjabat tangan mungil Indonesia keras tanpa sadar membuat gadis itu meringis pelan—Kebelakang lagi, Malaysia berteriak marah— Tapi lagi-lagi, America gak peka.

"Ternyata kau suka juga ya film-film Hero negaraku? Haha, film itu memang keren! Lain kali ayo kita nonton bareng!"

Indonesia menarik otot pipinya—tersenyum manis. Tak salah jika negaranya dikenal sebagai negara termurah senyum.

"Jadi, siap untuk pemeriksaan selanjutnya?"

"Tentu Hero siap! Ini demi harga diri!" America berseru lantang. Sementara personifikasi didepannya masih senantiasa memberi senyum.

"Baiklah." Entah dari mana, tiba-tiba di tangannya Indonesia sudah memainkan meteran baju.

Ini buat apa lagi? Seingatnya America gak ingat mau mesan batik.

"Ehm, Indonesia? Itu buat apa?"

"Oh, ini? Ini meteran baju."

AMERICA UDAH TAHU ITU DODOL!

"Ma-maksudku buat apaan?" America bertanya gugup. Ah, perasaanya jadi gak enak. Tumben peka.

"Gak buat apa-apa kok. Cuma buat ngukur lemak di badanmu."

INI APA LAGI COBAAAA?!

"I-Indonesia! Untuk apa ngukur lemak di tubuhku?! Kau bilang—"

"Aku bilang gak akan lagi berbicara tentang berat badanmu. Bukan lemak. Jadi sekarang, aku mau ngukur lemak di badanmu," kata Indonesia sambil masih tersenyum manis hingga matanya menyipit. Tetap memainkan meteran baju itu layaknya tali tambang. Aura ungu-hitam tak mengenakan menjadi latar gadis berambut hitam yang diikat kuda itu. Sekilas, America merasa melihat Rusia versi wanita. Ah iya, gadis ini pernah dekat dengannya semenjak Cold War dulu sampai sekarang.

Mengingat itu, America bergumam kesal.

"Ayo sini America~Serahkan tubuhmu~ Biarkan aku mengukur lemak-lemaknya~"

America gak mau!

Lelaki itu menggeleng sekeras-kerasnya.

"Mau pilih mana? Malam ini diserang mimpi 'buruk' atau kawat keluar dari mulut?~"

Buruk disini, bukan hanya dikejar setan.

America merinding disko. Biasanya—dia biasa saja jika England mengancamnya dengan sihir kutukan. Toh, England pasti bakal gagal. Tapi personifikasi ini... mengingat rumahnya yang membuatnya takut sendiri saja America langsung meringkuk. Apa lagi membayangkan kawat panjang keluar dari mulut secara paksa dan perlahan! AMERICA GAK MAU! TAPI DIA JUGA GAK MAU LEMAK DI BADANNYA DIUKUR! Jadi...

"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"AMERICAAA! JANGAN LARI LU!"

Aksi kejar-kejaran terjadi.

"HUAAAAAAA! BUKA PINTUNYA! KENAPA TERKUNCI?! AKU MAU PULAAAAAAAAAAAAAAAANG!"

Ah, mahluk-mahluk itu juga ikut membantu karena mendapat tontonan gratis. Lumayan, hiburan sebelum minggat sebulan.

"AHHAAA! MAU KEMANA LU, AMERICA~?"

"INDONESIAAAAAAA! AKU GAK MAUUU!"

"MALOOON! AMBIL KURSI HUKUMAN!"

"APA LAGI ITU?!"

"SIAP!"

"MALON! DAN! IKAT DIA! LALU TETAP TAHAN DIA!"

"SUDAH NDON/KAK!"

"SIP! KANISHTA, CATAT! LINGKAR DADA—"

"AH! AMERICA DIAM NAPA?!"

"PERATURAN KEDUA AMERICAAA!"

"KANISHTA, ULANGI! LINGKAR DADA—AMERICA! JANGAN BANYAK GERAK!"

"AKU MAU PULAAAANNGGGGG!"

"RISIK AMAT SIH! JANGAN GERAK! INDON ENGGAK BISA NGUKUR!"

"AMERICA! TOLONG AKU MAU NYATET!"

"AKU ENGGAK MAUUUUU!"

"America. Tubuhmu kan banyak lemak. Kukasih ke singa-singa peliharaanku biar kurus mau?"

"ENGGGGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!"

"MAKANYA DIAM! MAU KU SANTET YA? MALON! DAN! TAHAN LEBIH KERAS! KANISHTA! LINGKAR DADA—"

Tahap ketiga: Ayo ukur lemak di badan(?)—SUKSES, lagi-lagi dengan sedikit paksaan

Didapati: (Yang ada coret-coretan abstrak tak terbaca)

Ket: Mengukur lemak di badan America memang butuh tenaga Extra.

.

.

.

Tahap keempat: Begini cara kerjanya.

Setelah proses tahap ketiga selesai, America kini tetap duduk di kursi 'hukuman' dengan keadaan tenang walau hatinya masih takut dihadapan Saudara Melayu yang tengah duduk di kursi plastik berwarna merah dengan merek L*on St*ar(Gak modal banget). Pengikat ditangannya sudah dilepas. Dia sendiri tak bisa lari karena masih dijaga ketat. Ah, benar-benar sial. Mana lagi kenyataan pintu terkunci dan tak bisa didobrak dengan kekuatannya(America merasa ada yang tertawa keras tapi bukan Saudara Melayu). Lelaki itu lagi-lagi menggigil. Dan jangan lupakan ancaman dimakan singa-singanya Singapore juga santet Indonesia.

IGGYYYYY! AKU MAU PULAAAAANG—America menangis dalam hati.

"Jadi America, setelah kami menghitung hasil tinggi, berat, dan lemak badanmu—wow, hasilnya fantastis."

Jangan ungkit lagi. Harga diri America lagi-lagi terasa jatuh.

Aku harus menelfon bos. Apakah China sudah menyerang?

"Jadi, kami akan menerangkan sedikit bagaimana 'Program Diet'-mu besok."

America enggak peduli lagi. Pokoknya dia mau pulang!

Sayangnya, tatapan serta perkataan yang diberikan Saudara Melayu itu, membuat America menciut seketika.

"Dan jika kau berfikir ingin pulang America, kupastikan kau tak akan keluar dari 'Hutan' kecil ini. Percuma kamu menelfon bosmu. Dia gak bakal peduli karena mendukung banget kamu untuk diet. Dan satu lagi," Indonesia tersenyum—Dan America bersumpah itu bukan lagi senyuman manis—melambai-lambaikan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang. "Ponselmu kami sita."

THE HEEEEELLLL! Sejak kapan?!

America lelah. Sudahlah, ia akan mencoba mengikuti permainan yang diberikan Keluarga coretsadiscoret ini.

"Jadi America, nama Program Diet ini disebut 'Puasa'."

"Puasa?" America mengernyitkan dahi. Kayaknya dia pernah dengar istilah itu.

Apa aku sudah pernah mencoba program itu ya?

"Iya, puasa," gadis didepannya menghela nafas kemudian bertopang dagu. "Selengkapnya bakal dijelasin ama Kanishta."

"Lah, kok aku?" yang disebut malah menunjuk dirinya sendiri.

Ketiga saudaranya menatapnya malas dan menyahut dengan kompak, "Soalnya, kamu yang paling alim."

Nasib menjadi anak bantet.

Lain kali, aku bakal bawa Timtim kesini.

Menyerah, akhirnya Brunei tetap menjalankan 'Amanat' kakak tercinta.

"Puasa, kalau dalam bahasa Inggris, Fast. Disini, kita tidak makan minum dari matahari terbit sampai tenggelam selama se—"

"BAKAL MATI DONG?!"

"Enggak bakal mati kok, kita bakal cukup makan."

"TAPI KAN—"

"America, dengar penjelasan Umaatau kusuruh Singaku memakanmu."

"..."

"Oke. Tadi sampai mana? Ah ya! Kita akan menjalaninya selama sebulan. Te—"

"SEBULAN?!"

"America."

"..."

"Terus tak hanya itu, selain tak makan dan minum kita juga dituntut untuk menjaga emosi serta hawa nafsu kita. Mengerti? Kegiatan inilah yang akan kita jalankan."

"Kenapa kalian rutin melakukan ini setiap tahun?"

Brunei tertawa gugup. "Kenapa ya? Karena sudah terbiasa sih. Dan lagi—"

Pemuda itu sengaja memotong perkataanya lalu tersenyum tipis.

Serius. Keluarga Melayu pada murah senyum ya?

"Kami berempat menganggap ini tantangan. Barang siapa yang berhasil melakukannya sebulan penuh, dia menang. Dan jika ada yang gagal, dia wajib mengganti jumlah hari yang tidak puasa di hari lain dan bagi kami yang menang, bebas melakukan apa saja pada orang yang gagal."

Tiba-tiba saja, America mulai kembali tertarik. Apa lagi ternyata Brunei belum selesai berbicara.

"Dan puasa, bukan berarti kami lemah begitu saja. Kami malah berlatih untuk kuat. Dan juga, kami berlomba-lomba berbuat baik membantu orang dan sebagainya."

Jika America tetap tak mau menjalani dietnya, tenang saja. Bukan tanpa sebab Indonesia menunjuk Brunei untuk menjelaskan.

Ternyata, Brunei pintar sekali menggunakan kartu AS.

"America, katamu kamu Hero kan? Tugas Hero kan berbuat baik dan membantu orang?"

"TENTU SAJA! AKU HERO! AKU AKAN MELAKUKAN PROGAM DIET YANG DISEBUT 'PUASA' INI DAN IKUT TANTANGAN KALIAN! SEORANG HERO TIDAK MENOLAK TANTANGAN!"

Mendengarnya, otot keempat saudara itu tertarik ke atas serentak.

"Kamarmu ada di lantai tiga. Pintu paling belakang."

"Aku mengerti!"

"Besok jangan lupa bangun pagi."

"Tentu saja! Hero selalu bangun pagi!"

America mulai bersemangat lagi. Sudah dibayangkannya dia banyak menolong orang dengan kostum Super Hero-nya yang selalu ia bawa di koper—sayangnya dia gak tahu, kalau kostumnya sudah mereka sita—dan pandangan harapan juga kagum orang-orang yang ditolongnya kepadanya.

Iggy pasti bangga!

Dan lagi—oh America sudah membayangkannya dan sangat bersyukur, berat badannya nanti akan segera teratasi! Tidak akan ada lagi yang mengejeknya, England akan berhenti membentaknya, dan dia akan bisa lebih sering lagi memakan Hamburgernya.

(Tidak America, setelah itu pasti kau akan membesar dua kali lipat)

America sangat senang!

Tubuh Ideal, aku datang~

Namun, America belum tahu apa yang akan dihadapinya mulai besok pagi...

Tahap keempat: Begini cara kerjanya—SUKSES.

Didapati: America sudah setuju untuk ikut puasa.

Ket: Tanpa sadar, America sudah mentandatangani kontrak tak tertulis untuk esok pagi...*EvilSmirk*

.

.

.

*Kanishta: Yang termuda dalam bahasa Sansekerta.

TBC or END?

.

.

.

~Omake~

"Woi, Indon!" Masuk ke ruang keluarga, Malaysia berteriak kesal. "Ngapain sih kamu mau ngebantu America mengatasi berat badannya?! Dan kenapa dia kamu ikutin ke kegiatan puasa kita?!"

Pemuda itu terus berteriak-teriak protes, mengeluarkan semua unek-uneknya. Walau ia terlihat membantu, tapi dalam hati ia masih tidak setuju.

Cemburu. Apa lagi setelah ngeliat telenovela secara Live action.

Aku gak pernah dimanisin sama Indon!

Peduli amat jika America mendengar teriakannya. Lagian itu enggak akan mungkin. America sudah berada di kamarnya paling ujung yang terletak di lantai tiga. Sementara ruang keluarga di lantai satu.

Ayo tebak, alasan Saudara Melayu memposisikannya di lantai tiga? Padahal di lantai dua sendiri masih banya kamar kosong.

Indonesia tak memandang adik—kembar—nya. Matanya terpaku pada Tv. Memutar Sinetron favorit pemirsa Indonesia yang memenangi Movie Award '7 Manusia Singa'. Tangannya bergerak pelan, memasukkan potongan bengkoang ke dalam mulut penuh khitmad.

"Memang kenapa sih, Lon?" tanyanya sembari masih mengunyah. Menelan potongan bengkoang yang telah hancur akibat gerakan mekanis dan kimiawi yang bekerja sama.

Tapi Malaysia tak menyahut lagi. Ah, adiknya ini menurini sifat sang ExMotherland-nya begitu baik. Indonesia gemas sendiri. Adiknya tsundere banget sih~~

Gadis itu mengusap ujung mulutnya dengan tisu. Kemudian menatap salah satu adiknya itu.

"Menolong orang gak perlu alasan, Lon. Kalau hati manusia merasa tergelitik ngeliat sesuatu yang salah, ya harus dibantu lah. Sama seperti kita menolong Rohingya. Walau dia dan America berbeda kasus."

Indonesia mulai ceramah. Malaysia masih menatap dengan pandangan menuntut. Merasa apa yang dibilang kakaknya—cuih,tak sudi dia mengakui—belum semua dikeluarkan.

Kakaknya itu terlalu baik.

Indonesia menghela nafas. Kemudian otot pipinya tertarik, membuat seringai.

MANA INDON-NYA YANG MANIS?

"Tapi, Razak," mengganti channel Tv karena menampilkan iklan, hawa-hawa menusuk mulai memenuhi ruang keluarga. "Kalau kamu nanya alasan, kamu sendiri ada alasan?"

Malaysia lantas duduk di samping sang kakak corettercintacoret. Ikut menyomot sepotong bengkuang yang dipotong kakaknya itu. Mumpung kakaknya lagi enggak neriakin dia maling, kapan lagi?

Alasan dia mau membantu America... Kenapa ya?

"Karena dia mantan koloni kesayangan England."

Apa hubungannya?

Malaysia mau membantu ExMotherland-nya itu. Kasihan England.

"Nah, itu tahu," sekarang, seringai itu berganti dengan senyuman riang. "Kalau aku mah Lon, siapa tahu dengan begitu utangku semua ke America lunas tanpa syarat."

Licik. Dasar Indonesia.

Tapi setelah ditatap dengan pandangan sakti milik Malaysia, Indonesia tertawa.

Pandangan Malaysia jatuh ke sofa lain. Tepat kepada adiknya yang memiliki kacamata identik Cuma berbeda warna(Malaysia Hitam, Singapore Putih)dan tengah berkutik pada Ipod bergambar apel dimakan ulat.

Menyadari pandangan kakaknya tanpa menoleh Singapore berkata, "Siapa tahu aku tahu kelemahannya dan menjadi Negeri Adidaya menggantikannya. Apalagi produsen Game nomer satu."

Sama licik.

Terakhir, pandangan Malaysia hanya bergerak beberapa centi dari pemuda maniak elektronik itu. Menatap saudara yang paling muda diantara mereka yang tengah bermain bersama orangutan peliharaannya.

"Menolong orang itu kan baik."

Ah, Malaysia bersyukur ada yang masih punya hati suci.

Tapi apa yang di mulut berbeda sama apa yang di hati. Diam-diam, tapi mereka menyadari kalau mereka semua mempunyai alasan yang sama dalam hati.

.

.

.

.

Yap halo. Kembali lagi. Saya pulang dari luar kota setelah tiga hari.

WOOHOOOO AKHIRNYA BERHASIL BIKIN MULTI CHAPTER PERTAMA KALI! BIASANYA GAGAL LOH*lirik dua fic yang menganggur*

Apa kabar? Bagaimana komentar kalian tentang fic ini? Ini ngandung SARA gak sih? Tolong jawab.

Human name nya aneh? Saya gak bisa ngerangkai nama.

Indonesia nya cewek? Saya baru nyadar kalau nulis 'gadis' di chapter satu*Maklum,buru-buru* tadinya belum tahu gendernya apa. Karena terlanjur, ya sudah.

Terinspirasi dari berbagai doujin yang menceritakan America dan berat badannya lalu menjalani diet. Sayangnya semua dietnya berakhir gagal. Jadi, kita lihat, apakah Keluarga Melayu dapat berhasil membuat berat badan America turun?

Ada salah satu doujin, dimana France dan Japan ngebantu America Diet. Tapi saya suka doujin dimana America dan France membantu Japan buat komik berakhir dengan Japan dan France kena luka dikepala akibat-ya-kau-tahu-lah.

Kata-kata Kiku disitu membuat dia sesaat jadi Seme. *sayabukanFujotapisayaembatnyawalauituslash*

Ah hahaha.

Balas Review disini yuk~

Rei Arisawa: Terima kasih karena penasaran! Tapi kayaknya 'cara' diet ala Indo baru di chap depan^^

Kuroi uso: apa yang terjadi ya? Lihat saja nanti... lagian ini sudah diperlihatkan sedikitkan?

Lena. Lofiel: Ini udah lanjut

Uchiha Iggyland: BENAR! Tapi saya memasukkannya buat omake

Dan Danke bagi kalian yang sudah review, follow dan fave fic gaje ini. Kat. Mini. 718-Eqa skylight-Acriel Braginschmidt

Akhir kata

Hay Anime 14