"Segitiga"

Proudly Present by Cakue-chan

.

.

[Satu]

.

.

.

Itu adalah malam yang gelap ketika Kim Taehyung membuka pintu apartemen dengan sangat, sangat hati-hati. Meminimalisir adanya alunan derit yang menggema, sekecil apa pun itu, termasuk dengung suara yang memecah hening. Ia tahu betul, terkadang malam bisa sangat mengkhianati. Neneknya selalu bilang; jangan percaya pada kegelapan, jangan pernah percaya!; yang seringkali diceritakan lewat dongeng pengantar tidur meski akhirnya Taehyung kecil malah ketakutan.

Oke, mungkin abaikan saja yang satu itu.

Daun pintu berhasil ditutup kembali, sukses dikunci pula, dan Tahyung mendapati dirinya berderap dengan langkah mengendap-endap di sepanjang lorong kecil yang menghubungkan pintu keluar utama dan ruang tengah. Sepatu tentu saja telah dilepas, ia mana sudi melangkah dengan sol yang mengganggu itu.

Peringatan kecil dalam benaknya selalu berkata; lewati ruang tengah yang gelap itu secara diam-diam layaknya langkah hantu. Lalu, setelah kau berhasil melewatinya, ambil seribu langkah secepat, seringan, bahkan sehening mungkin sampai kau berhenti di depan pintu kamar dan masuk dengan tenang. Dan kau akan bebas dari masalah, eureka!

Setidaknya, begitulah pikir Taehyung.

Well, pemikiran yang simpel sekali, bukan?

Pik.

Setengah detik. Dan ruangan mendadak begitu terang karena sinar lampu. Taehyung mengerjap, satu... dua... lantas menoleh dengan gerakan patah-patah dimana dua pintu kamar lainnya sudah lebih dulu terbuka. Ha ha, sialan.

Jeon Jungkook dan Park Jimin menjebaknya.

"Jadi, ada alasan bagus, Kim Taehyung?"

Taehyung mematung.

Oh, damn.

"Nah, coba kita lihat jam—oh! Pukul sebelas malam!" Suara tawa mengudara. Taehyung merasa itu mengerikan, astaga. "Kalau tidak salah, peraturan tetaplah peraturan."

Taehyung protes. "Tunggu, Jimin aku—"

"Bagaimana, Jungkook?"

"Hei aku belum—"

"Kalau tidak salah, bunyinya seperti ini; dilarang pulang lebih dari pukul sepuluh malam—"

"Ya, Tuhan! Kalian selalu melakukannya!"

"—dan peraturan tersebut hanya berlaku bagi Kim Taehyung, termasuk jangan sembarangan memotong pembicaraan orang lain. Dan tetap dikhususkan pada orang yang sama." Jungkook mengulas seringai lebar. "Dan berhenti memberenggut seperti itu. Kau manis, omong-omong."

"Aku bisa gila!" Taehyung menggertak. Ia bahkan nyaris menendang pintu kamarnya. "Seenaknya saja memberikan peraturan seperti itu sedangkan kalian—"

"Peraturan selanjutnya—"

"JUNGKOOK!"

Jimin melanjutkan. "Jika membantah, terima hukumannya."

Taehyung membuka mulut, namun dengan cepat ditutupnya begitu radar bahaya yang dikirimkan melalui sel otaknya mulai bereaksi. Delapan langkah untuk Jimin dan lima langkah bagi Jungkook dari tempatnya berpijak. Kamar mereka bertiga memang sengaja didesain berdekatan, meski tetap meninggalkan jarak yang wajar.

Itu berarti...

"Aku duluan!"

"Yak! Kim Taehyung!"

Kim Taehyung setidaknya memiliki kesempatan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen untuk bisa berlari segesit mungkin ke arah pintu kamarnya, membuka lantas menutupnya kembali dengan bantingan keras tanpa tedeng aling-aling.

(Lalu, bagaimana dengan satu persennya?)

Ia berhasil! For God sake, ia berhasil mengunci pintu kamarnya dari dalam! Dan si menyebalkan Jungkook juga si bodoh Jimin itu tidak dapat masuk ke dalam untuk mengganggu tidur tenang—

"Jungkook, bisa kau ambilkan kunci cadangan pintu kamar Taehyung di kotak sana?"

atau tidak sama sekali.

"KALIAN MENYEBALKAN!"

.

(Karena satu persen persentase keberuntungan Kim Taehyung berada di tangan Jeon Jungkook dan Park Jimin).

.


[satu]


A/N : saya nista, emang. Kalo bukan anceman adek tercinta saya di rumah (dan dia serius, demi apa, fak) saya gak ada niat buat bikin fanfic ini jadi Kumpulan Drabble *nanges* Terima kasih buat yang udah review, fave, follow di chapter sebelumnya 8"D /sungkem/ Chapter satu ini sebagai pembuka, dimulai dengan adegan klise matjam shoujo manga, maafkan 8"D

Btw, karena saya gak yakin sama kumpulan drabble ini *nyengir* bisa kok request adegan di kotak review X'D/oy.

Terima kasih sudah membaca~

.

p.s : imouto no baka, isshouni sashimi o tabemasenka.