Disclaimer : Masashi Kishimoto

terinspirasi dari Screat Garden, maaf bila masih banyak kekurangan , semoga tidak terlalu mengecewakan. thanks yang sudah berkenan membaca. hehe.. jangan lupa kripik dan sarannya ya,

Saat istirahat Hinata duduk sendirian di Taman KHS, dia dan Sasuke belum berbaikan.

"hai Hinata" sapa Sakura, gadis bersurai merah muda yang menjabat sebagai kakak tingkatnya itu berjalan ke arahnya. Hinata hanya tersenyum ramah,

"kau sendirian ?" Tanya Sakura duduk di sebelah Hinata dan di jawab dengan anggukan lemah Hinata

"biar ku tebak, kau bertengkar lagi dengan Sasuke kan ?" tebak Sakura dengan mata memincing

"Y-ya, seperti itulah" jawab Hinata ragu

"Hinata, kita berteman kan ? coba katakan, kenapa akhir – akhir ini kalian sering sekali bertengkar ? kalo itu aku dan Naruto mungkin sudah biasa. Tetapi kalau kau dan Sasuke, terasa aneh bagiku" terang Sakura

"tidak apa, kami terlalu sering bersama. Mungkin kami butuh waktu untuk sendiri dulu" sahut Hinata

"haha… Hinata , kau lucu sekali. Kalian itu kadang terlihat seperti sepasang kekasih saja, membuatku iri" celetuk Sakura, Hinata hanya tersenyum kikuk

"hey merah muda, jangan ganggu Hinata"celetuk Naruto yang entah datang dari mana

"NARUTO ! kau mengagetkanku saja" teriak Sakura kesal

"Huh dasar nenek lampir , teriakanmu membuat telingaku sakit tau" protes Naruto mengejek Sakura

"apa kau bilang ! tidak sopan, awas kau ya…!" teriak Sakura berlari mengejar Naruto dengan kesal, sementara Naruto berlari menghindar sambil terus mengejek Sakura.

Hinata yang masih duduk di bangku taman hanya tersenyum melihat tingkah konyol ke dua sahabatnya itu. Walau lebih tua dari Naruto, Sakura terlihat sama kekanakannya bila bersama naruto.

"sejujurnya aku iri melihat mereka, Sakura dan Naruto terlihat begitu dekat. Entah kenapa aku tidak bisa seperti Sakura yang selalu membuat Naruto terlihat lebih bersemangat. Apa aku cemburu ?" batin Hinata

"mereka berdua terlihat saling melengkapi, bebas dan apa adanya. Aku tahu Sasuke-nii sangat menyayangiku tetapi apa dia tidak tau dengan sikapnya itu aku merasa sangat terkekang ? aku ingin persahabatanku dan Sasuke-nii seperti mereka. Tanpa beban dan tanpa kekangan" pikir Hinata

"Naruto ! aku lelah, awas saja kau pulang nanti !" teriak Sakura berjalan pergi membuyarkan lamunan Hinata. Naruto pun menghampiri Hinata dengan terengah – engah.

"pasti lelah" kata Hinata ketika Naruto duduk di sampingnya

"hehe… tidak juga, menggoda Sakura seperti itu sangat menyenangkan" jawab Naruto dengan cengiran khasnya.

"N-Naruto apa kau pernah melarang Sakura dekat dengan orang lain, atau sebaliknya ?" Tanya Hinata Ragu

Naruto menatap Hinata bingung, "haha… kau bicara apa Hinata ? untuk apa melarngnya seperti itu ? lagi pula melihatnya bersemangat dan senang seperti itu sudah membuatku senang. Aku tidak ingin membuatnya sedih atau merasa tidak nyaman" sahut Naruto

"Naruto kau benar – benar baik ya" pikir Hinata

"tapi sejujurnya, terkadang aku cemburu melihatnya terus menempel pada si Teme" celetuk Naruto

"A-apa maksudmu Naruto ?" Tanya Hinata tergagap mencoba tetap tersenyum, walau tanpa di sadari tangan mungil Hinata telah meremas kasar buku yang tadi dia baca hingga kusut untuk menahan perasaannya.

"apa kau mau mendengar sebuah rahasia Hinata ?" Tanya Naruto setengah berfikir

"Tidakk…entah kenapa hatiku tiba – tiba merasa tidak enak. Aku merasa takut dan tidak ingin mendengar apa yang akan Naruto katakan. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi" pikir Hinata

"j-jika itu memang rahasia d-dan N-Naruto tidak ingin mengatakannya, j-jangan katakan Naruto" tolak Hinata halus, Hinata merasa hatinya benar – benar tidak siap.

"hemm, tidak apa. Kau kan sahabatku. Jadi rahasiaku juga rahasiamu. Oke … " kata Naruto bersemangat

"sebenarnya- sebenarnya… aku menyukai Sakura" bisik Naruto, Hinata terdiam membatu mendengarnya

"haha… lega sekali bisa membagi perasaanku padamu Hinata, kau tau ? sejak dulu aku sudah menyukainnya tapi dia malah semakin dekat dengan si Teme itu. Menyebalkan sekali dia" cerocos Naruto tanpa memperhatikan perubahan Hinata.

"cukup Naruto " kata Hinata tertunduk, menutupi wajahnya dengan poninya

"maaf " sahut Hinata berlari pergi

"hai Hinata ? kau mau kemana ? aku kan belum selesai bercerita" Sahut Naruto di abaikan oleh Hinata

Tanpa Naruto sadari, air mata Hinata sudah menetes sejak pertama dia menyebut nama Sakura sebagai orang yang dia sukai. Dan Hinata tidak dapat menahan Rasa sakitnya lagi bila harus mendengar lebih jauh tentang perasaan Naruto. Orang yang diam – diam di cintai dan malah dengan gamblang menceritakan gadis lain di depannya.

Kini Hinata hanya ingin menangis, hanya toilet tujuan utama Hinata karena di sana dia Bisa menangis sepuasnya tanpa ada yang menyadari.

"Hinata…" panggil Sasuke yang tidak sengaja berpapasan dengan Hinata. Tanpa Hinata sadari, Sasuke melihat air mata Hinata menetes.

"kenapa dia ?" desis Sasuke khawatir dan menyusul Hinata

Sasuke berhenti di depan toilet wanita.

"aku yakin, tadi dia menangis. Tapi kenapa ?" batin Sasuke kesal

"tunggu, jangan – jangan … Naruto ! awas kau" pikir Sasuke geram, mencari Naruto.

"tuhan, kenapa ? kenapa saat aku benar – benar menyukai seseorang dia malah menyukai orang lain ? tidak bisakah, sekali saja dia menyukaiku ? melihatku ? kenapa Naruto seperti itu ? seandainya saja aku adalah Sakura ! seandainya saja Naruto adalah Sasuke ! pasti, pasti tidak akan seperti ini" isak Hinata.

Di taman KHS :

"tadi Hinata kenapa ya ? apa dia akan kembali ke sini ? sebaiknya aku tunggu atau aku pergi ya ?" celoteh Naruto bimbang.

"ehh … apa itu ?" pekik Naruto melihat bunga berbentuk seperti mawar

"bunga apa ini ? Mawar Ungu " Pikir Naruto memetik bunga itu

"Lucu sekali akan ku perlihatkan pada Sakura nanti" pikir Naruto mengamati bunga itu

"hai kau !" teriak Sasuke yang tiba – tiba datang dengan wajah kesal

"Teme! lihat bunga ini, lucu sekali kan ?" teriak Naruto menghampiri Sasuke tanpa memperdulikan ekspresi Sasuke saat itu

Karena kesal Sasuke menyambar bunga di tangan Naruto dan membuangnya dengan kasar, tidak sengaja Naruto dan Sasuke tertusuk duri bunga itu bersamaan.

"Aw… sakit, apa – apaan kau Teme !" Tanya Naruto kesal menghisap telunjuknya yang berdarah.

"apa yang kau lakuhkan pada Hinata Hemm?" solot Sasuke meremas kerah kemeja putih Naruto dengan tangannya yang tertusuk tadi, hingga darah Sasuke menempel pada seragam Naruto

"aku tidak mela-" tiba – tiba semua gelap.

"kepalaku sakit di mana ini ?" kata Naruto meremas rambutnya mencoba membuka matanya.

"tidaakkk !" teriak Naruto tiba- tiba ketika melihat seseorang yang berbaring di sampingnya

"berisik kau Dobe !" desis Sasuke membuka kedua matanya,

1 detik

2 detik

3 detik

"apa ini ?" Tanya Sasuke tidak percaya

"apa – apa aku sudah mati ?" Tanya Naruto frustasi

"kau Naruto ?" Tanya Sasuke tidak percaya

"tentu saja ! kau kira aku siapa ?" cerca Naruto

"tunggu, siapa kau ? kenapa aku berbicara padaku ?" Tanya Naruto bingung

"bodoh !" kata Sasuke menarik paksa Naruto ke cermin untuk memastikan sesuatu

"tidaakk… apa ini ?" teriak Naruto terkejut

"berisik !" celetuk Sasuke

"kau, siapa kau ?! kenapa kau ada di tubuhku. Dan kenapa aku bisa menjadi Sasuke jelek ini ?" protes Naruto melihat cermin

"brisiikk ! aku Sasuke bodoh !" protes Sasuke

"lalu, kenapa kita bisa bertukar tubuh seperti ini ?" Tanya Naruto meratapi nasib

Sasuke terdiam, berfikir keras memahami apa yang terjadi.

"Sasuke, coba pukul aku. Ini pasti mimpi !" perintah Naruto

"memang itu yang ingin ku lakuhkan" kata Sasuke tanpa basa – basi menonjok Naruto sampai terjatuh

"apa – apaan kau Teme ! sakit !" geram Naruto

Sasuke hanya mendecih kesal melihat tubuhnya yang asli tak berdaya hanya karena satu pukulan.

"walau memakai tubuhku, kau tetap lemah dobe !" ejek Sasuke sinis

"hei, kalian?! apa – apaan ini ?" Tanya guru kakashi yang baru saja melewati UKS dan mendengar keributan di sana.

"Guru, Sasuke memakai tubuhku !" celetuk Naruto menuding Sasuke

"Sasuke, sebenarnya apa yang kau katakan ?" tanya guru kakashi tidak mengerti

"aku bukan Sa-" belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah menariknya pergi.

"Sasuke ! apa yang kau lakuhkan bodoh ? kita bisa meminta bantuan guru kakashi untuk kembali !" desis Naruto kesal

"kau yang bodoh, kau kira guru kakashi akan percaya begitu saja heh ? ini seperti lelucon baginya atau bahkan menganggap kita gila" solot Sasuke

"lalu apa yang harus kita lakuhkan ?" Tanya Naruto pasrah.

Mereka duduk termenung berdua di taman,

"tunggu… " sasuke melihat jarinya (jari Naruto)

"lihat, kenapa tidak ada bekas luka di jari ini gara – gara bunga tadi" celetuk Naruto ketika melakuhkan hal yang sama dengan Sasuke

"benar, ini aneh" pikir Sasuke

"di mana kau mendapat bunga tadi ?" Tanya Sasuke, Naruto pun berjalan ke belakang pohon yang ada di belakang mereka saat ini.

"tadi , tadi bunga itu tumbuh di sini ! aku yakin ! tapi, kenapa sekarang tidak ada ? bahkan bekas akarnya pun tak tersisa" kata Naruto tidak percaya

Sasuke memeriksa tanah di sekitar sana,

"kau yakin Dobe ? tidak ada tanda - tanda ada bunga tumbuh atau baru di cabut di sini" solot Sasuke

"tentu saja aku yakin !" celetuk Naruto ikut memeriksa tanah

"bagaimana ini apa yang harus kita lakuhkan ?" rajuk Naruto frustasi

"hemm, tidak ada cara lain. sementara ini, kita bertukar tempat sambil memikirkan jalan keluarnya" desis Sasuke kesal

Sasuke dan Naruto saling memandang sinis.

"Jangan macam - macam dengan tubuhku !" gertak Naruto dan Sasuke bersamaan