Naruto
.
.
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
Rate : M
.
.
.
.
.
.
Chara Universe!
.
.
.
.
Jangan Lupa Berdoa sebelum Membaca
.
.
.
"Bagaimana...
"...Apa kau menerimanya...
"...Uzumaki...
"...Naruto...?"
Naruto memejamkan matanya, memikirkan apa yang terjadi, dirinya tak habis pikir bagaimana ia bisa terpilih,
Setelah memikirkannya, Naruto pun membuka matanya menatap sosok 'dirinya' yang tengah menunggu jawabannya.
"Aku..."
.
.
.
.
.
Chapter 1
"Aku..."
"... Menerimanya," Itulah jawaban yang diinginkan oleh 'Naruto', Ia pun langsung tersenyum mendengar jawaban tersebut.
"Seperti yang sudah kuduga, kau pasti akan menerimanya,"
Sebenarnya 'Naruto' tidak khawatir kalau sosok lain dirinya tidak menerimanya, hanya saja ada sesuatu yang lebih ia khawatirkan, yaitu apabila dia tidak menerimanya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia merasa ada kegelapan yang ingin menyelimuti dunianya, sangat gelap dan pekat. Kegelapan itu seakan ingin menelannya bulat-bulat.
Karena itu selain ingin Naruto menggantikannya, ia juga ingin mempersiapkan akan datangnya kegelapan itu, ia yakin suatu saat nanti Naruto pasti akan melawan Sang Kegelapan. Kapan itu terjadi, ia tidak tahu.
"Karena itu, sebelum kau memasuki duniaku berada, kau terlebih dulu harus kulatih untuk mempersiapkan diri,
"Duniaku berbeda dengan duniamu, dunia penuh dengan hal-hal yang mungkin kau anggap itu mistis dan khayalan, padahal itu kenyataan,
"Oleh karena itu aku harus mempersiapkan dirimu, agar kau tidak kaget ketika datang ke duniaku," Naruto pun mengangguk mendengar penjelasan dari 'dirinya'.
"Baiklah, sebelum itu..."
'Naruto' pun menjulurkan tangan kedepan, seberkas sinar cahaya menyinari genggaman tangannya, kemudian sinar cahaya itu menghilang memperlihatkan empat buah batu yang mirip zamrud seukuran bola pingpong.
Itulah Orb, batu legenda yang konon kekuatannya tidak tertandingi, yang kini telah berhasil dikumpulkan oleh sosok 'Naruto', meskipun harus membayarnya dengan harga nyawa.
"Aku akan memindahkan Orb kedalam tubuhmu, bagaimanapun kau harus mempunyai bekal saat berada di duniaku,"
Seberkas sinar cahaya kembali menyinari keempat Orb tersebut. Cahaya itu pun lalu bergerak, memasuki tubuh Naruto yang kini tengah terdiam menyaksikannya.
Naruto pun sontak tersadar ketika cahaya itu telah memasuki tubuhnya, dan melihat bahwa keempat batu yang berada di atas telapak tangan 'Naruto' kini telah menghilang.
"... Apa itu tadi?''
"Orb itu telah memasuki dirimu, kini kau mempunyai kekuatan yang konon tidak tertandingi, dan selanjutnya aku akan melatihmu sementara waktu disini,"
"Bersiaplah untuk latihanmu, karena aku tidak akan segan-segan meskipun kau adalah diriku sekalipun," Melihat 'Naruto' yang kini menyeringai kepadanya, entah kenapa seperti ia merasakan akan ada hal berbahaya nanti.
Glek...
'Astaga, sepertinya siksaan ku akan datang sebentar lagi,' Pikir Naruto saat melihat seringai dari 'dirinya' tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah Empat tahun (dua hari dunia nyata) 'Naruto' melatih dirinya, selama empat tahun itu pula ia melatih fisik sekaligus melatih kemampuan batu Orb.
Dan kini waktunya bagi mereka untuk berpisah. 'Naruto' yang menyadari bahwa waktunya tak lama lagi pun menyuruh Naruto untuk mendekatinya,
"Naruto, sudah empat tahun aku melatihmu, dan sepertinya waktunya untuk kita berpisah hari ini," Naruto yang mendengar itu pun menundukkan kepalanya, entah kenapa ia merasa kehilangan ketika 'dirinya' mengatakan hal tersebut.
"Aku akan membiarkanmu untuk menentukan sendiri tujuanmu kelak, karena bagaimanapun ini adalah hidupmu," 'Naruto' pun menjulurkan tangannya, menyentuh kening Naruto dengan jari telunjuk nya
Deg...
Naruto pun menunduk, ketika kepalanya mendadak menerima kepingan memori kehidupan dari sosok dihadapannya ini.
Setelah semua selesai 'Naruto' pun menarik kembali tangannya,
"Inilah waktu untuk mulai Naruto, bersiaplah..."
Di dekat kedua sosok tersebut, sebuah portal berbentuk spiral tercipta, portal itulah yang akan membawanya ke dunia baru.
"Arigatou," Naruto memeluk sosok dihadapannya ini dengan erat yang juga dibalas olehnya, jujur ia belum siap untuk berpisah dengan sosok yang sudah dianggap saudaranya ini. Tapi karena tujuan yang harus ia capai ia harus siap menerimanya.
Melepaskan pelukannya, Naruto pun melangkah perlahan mendekati portal. Menengokan kepalanya ke samping, melihat 'Naruto' yang kini tersenyum sembari mengangguk kearahnya.
'Baiklah...'
'Aku siap...'
Naruto pun melangkah memasuki portal, sempat berbalik dan melihat 'Naruto' yang tengah melambaikan tangannya dengan rendah, sebelum akhirnya portal tersebut pun tertutup.
'Aku percaya pada dirimu...'
'... Uzumaki Naruto...'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Engh...," Sosok pemuda berambut jabrik itu membuka matanya perlahan. Penglihatannya pun lalu menangkap sebuah ruangan yang penuh serba warna putih.
'Rumah sakit kah?' Pikir pemuda yang tak lain adalah 'pendatang' baru dunia ini, siapa lagi kalau bukan Uzumaki Naruto.
Cklek...
Pintu ruangan terbuka, menampilkan sesosok pemuda berambut pirang dan seorang pemuda berambut raven, yang sedikit terkejut saat melihatnya.
"Kau sudah sadar, eh Naruto...?" Ucap pria berambut pirang, mendekatinya.
Naruto pun mengangguk pelan, berdasarkan ingatan yang ia dapat dari 'sosok' lain dirinya. Pemuda pirang dan pemuda raven ini adalah sahabat 'Naruto' . Raiser Phenex dan Uchiha Sasuke.
Dua orang yang tidak memandang siapa itu 'Naruto', dan memilih untuk berteman dengan nya disaat yang lain menjauhinya, meskipun tahu mereka berdua tahu ia tidak mempunyai aliran mana sekalipun.
Mereka tidak memandang apa dan siapa orangnya, asalkan tidak memiliki sifat sombong, kedua orang itu pasti akan mau berteman dengan siapa saja.
"Sudah berapa lama aku pingsan?" Sebenarnya Naruto sudah tahu, hanya sekedar memastikan.
"Tiga hari, kau pingsan selama tiga hari, Naruto," Jawab Sasuke.
"Oh..."
"Tapi aku menemukan dirimu yang sudah tergeletak pingsan di hutan, bisa saja kau pingsan lebih dari tiga hari...,"
"Sebenarnya apa yang terjadi, Naruto?" Tanya Raiser, yang menemukan sosok Naruto yang sudah tergeletak pingsan di hutan, tiga hari yang lalu.
Raiser awalnya mengira telah terjadi pertempuran di sana, tapi saat melihat kondisi tempat yang baik-baik saja dan saat mengecek kondisi Naruto yang terlihat kelelahan, maka dapat dipastikan.
"Aku sehabis berlatih...," Jawab Naruto sembari merenggangkan otot lehernya.
"Kau terus berjuang Naruto, padahal kau memiliki kekurangan," Ucap Raiser mengingat sahabatnya ini memiliki kekurangan, yaitu tidak berfungsinya aliran mana ditubuhnya.
"Setidaknya aku telah berjuang, bagaimanapun selama jiwaku masih ada, aku akan terus berjuang tak peduli apapun yang orang katakan,"
Kata-kata Naruto membuat kedua sahabatnya tersentak. Pertama kalinya bagi mereka, menemukan sosok seperti Naruto.
Naruto adalah seorang pejuang, tak peduli apa yang dikatakan oleh orang lain ia akan terus berjuang, dan membuktikan ia bisa bangkit dengan segala kekurangan yang dimilikinya.
Sifat semangat dan pantang menyerah itulah yang menyebabkan Naruto bisa bersahabat dengan keduanya, yang merupakan termasuk salah satu murid terkenal di Akademi Konoha.
"Oh, ya, bagaimana persiapanmu menghadapi turnamen?"
Empat bulan lagi Akademi Konoha akan mengadakan turnamen. Turnamen yang diadakan enam bulan sekali, bertujuan untuk melatih sekaligus meningkatkan rank murid akademinya.
"Tentu saja aku sudah siap," Naruto mengetahui perihal turnamen itu dari ingatan yang diterimanya, dan ini adlaah turnamen yang pertama baginya.
.
.
.
.
.
Akademi Konoha, adalah akademi khusus milik Konoha Kingdom. Konoha Kingdom adalah salah satu kerajaan terluas dari lima kerajaan lainnya di dunia. Terkenal akan pertahanannya yang kuat karena kerajaan ini dikelilingi oleh hutan lebat dengan pohon-pohonnya yang menjulang tinggi dan memiliki pasukan yang tangguh.
Pemerintahan kerajaan ini telah memasuki masa keempat mereka. Dipimpin oleh seorang raja yang terkenal akan julukan yellow flash dikarenakan kecepatannya, raja keempat Konoha Kingdom, Namikaze Minato.
Sang raja, Namikaze Minato, mempunyai tiga orang anak, dua anak perempuan dan satu anak lelaki, meskipun anak lelaki nya sepertinya kurang terlalu diperhatikan.
Dua anak perempuannya, bernama Namikaze Karin, dan Namikaze Naruko, yang merupakan saudara kembar dari kakaknya Uzumaki Naruto.
Akademi Konoha memakai sistem rank untuk mengukur kemampuan murid-muridnya. Rank tersebut dibagi menjadi tujuh tingkatan yang dimana setiap tingkatan dibagi lagi menjadi lima. Tingkatkan rank tersebut yaitu, Bronze, Zilver, Elite, Mazter, Platinum, Epic, dan tingkatan tertinggi, Legend, sampai saat ini hanya dua orang yang mencapai tingkatan Legend, Hasirama Senju dan Uchiha Madara.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya Naruto pun diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Ia sebenarnya menyayangkan kalau keduanya orangtuanya tuanya tidak menjenguknya, bahkan saudarinya sendiri.
Dan disinilah ia, di depan pintu apartemen pemberian sosok yang sudah dianggap kakaknya sendiri, salah satu dari sedikit orang-orang yang menganggap nya ada, Hatake Kakashi.
Cklek...
Membuka pintu lalu memasukinya. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, Naruto menghela nafas panjang saat melihat kondisi ruangan apartemen.
Mengetahui kalau sosok 'dirinya' disini seperti kurang terlalu merawat ruangannya sendiri membuat Naruto menggelengkan kepalanya.
'Ternyata sifatnya tidak begitu sama denganku,' Pikir Naruto
'Sepertinya aku harus sedikit merubah ruangan ini,'
Mengulurkan tangan kanannya ke depan, Naruto pun bergumam,
"[Eraser]''
Semua benda disitu pun bersinar lalu kemudian menghilang, ruangan itu pun menjadi kosong.
"[Create]"
Gumamnya lagi yang kemudian ruangan itu kembali bersinar dan menjadi terisi kembali. Dengan dekorasi dan penempatan seperti hotel berbintang lima di dunianya.
'Ini baru bagus,' Pikirnya senang saat melihat ruangan yang telah diubahnya ini.
.
.
.
.
.
.
Setelah bersiap-bersiap Naruto pun lalu melangkah pergi ke akademi. Jarak antara apartemen Naruto dengan akademi tidak begitu jauh.
Sesampainya di akademi, ia bisa merasakan pandangan orang lain saat menatap nya, pandangan meremehkan, ia tahu itu.
Siapa yang tidak mengenal Naruto di akademi. Bukan karena kemampuannya yang membuat ia terkenal, tetapi lebih pada kekurangan dan julukannya lah yang membuat ia terkenal. 'Wingless' itulah julukan yang diberikan atasnya karena ia tidak mempunyai aliran mana sama sekali, kapasitas mana nya bahkan dibawah salah satu murid yang juga mempunyai mana sedikit, Rock Lee.
"Wah, wah..., coba lihat, murid kesayangan kita sudah sembuh rupanya,"
"Kau benar Issei, kukira ia takut untuk ikut sekolah lagi disini,"
Dua orang pemuda menghalangi jalannya, ia tahu siapa mereka, dua orang yang sama yang selalu membuly dirinya.
Seorang pemuda dengan tato segitiga terbalik di pipinya, lalu seorang pemuda terkenal akan kekuatan naganya --selain itu dia juga terkenal akan kemesuman nya.
Siapa lagi kalau bukan Inuzuka Kiba dan Hyoudo Issei, dua orang murid Akademi Konoha dengan rank Zilver II, orang yang selalu membuly dirinya di akademi.
Bukan tidak ada yang berani, tepatnya tidak ada yang peduli kepadanya. Mereka bahkan senang dirinya dibuly disini.
Meskipun mereka tahu kalau Naruto adalah anak raja, tetapi mereka juga tahu kalau keluarganya tidak ada yang peduli kepadanya, karena kekurangannya itu.
Ia bisa sekolah disini karena sosok yang sudah dianggap pamannya sendiri, yang telah menyekolahkannya dan merupakan kepala sekolah disini.
Naruto hanya menghela nafas pelan mendengar ucapan dari Kiba itu. Di dunianya ia adalah mantan seorang tentara, ia dilatih untuk mengendalikan emosi, ia sudah kebal terhadap itu.
Mengabaikan ucapan mereka berdua, Ia memilih untuk kembali melangkah melewati keduanya.
Greb...
"Kau pikir bisa pergi begitu saja?" Ucap Kiba menahan pundak Naruto, mencengkeram nya cukup erat.
"Bisakah kau lepaskan aku? Aku datang dengan damai kesini," Ucap Naruto lirih namun masih dapat didengar oleh keduanya.
"Melepaskanmu? jangan harap itu terjadi!"
Kiba mengepalkan tangannya, mengarahkan tinjauannya ke wajah Naruto.
Ketika tinjuan itu hanya tinggal beberapa senti lagi...,--
"--Apa yang kau lakukan Inuzuka-san?" Sebuah intrupsi suara menghentikan gerakannya
Kiba menolehkan kepalanya, dan terkejut ketika mengetahui siapa yang telah menegurnya--begitu pula dengan Issei.
Sang ketua osis, Kaguya Ootsutsuki datang sendiri untuk menghentikan aksi mereka berdua. Naruto kembali menghela nafas pelan, tidak biasanya anggota osis mau menolongnya --Ini pertama kalinya ia ditolong oleh orang lain.
"Kaichou!" Pekik Kiba dan Issei yang terdiam akan kedatangan sang ketua osis.
Kaguya Otsutsuki, merupakan ketua osis yang baru dilantik setahun lalu dengan rank Mazter III menggantikan ketua osis sebelumnya, yang sebentar lagi akan lulus.
Ia terkenal akan ketegasannya dan sikap dinginnya terhadap siapapun. Dengan wajah berbentuk oval, berambut putih, dengan iris mata putihnya yang indah.
Ia sendiri bisa dikatakan cantik jika saja tak tertutupi dengan wajah datar dan sikap dinginnya itu.
"Apa yang kau lakukan, Inuzuka-san?" Tanya Kaguya kembali, mata nya menatap datar ketiga pemuda tersebut, dan Kiba merasa kalau tatapan itu seolah mengulitinya.
"Mmm.., Ano Kaicho..,--"
"Jika tidak ada urusan lebih baik kau pergi, Inuzuka-san!" Ucapan Kiba terpotong perintah dari sang ketua.
Kiba yang merasa tak ada gunanya melawan pun memilih tuk pergi, tak lupa mengajak Issei. Matanya sempat menatap tajam Naruto sebelum ia pergi.
'Akan kubalas kau nanti' itulah arti tatapan dari Kiba.
Naruto hanya menatap datar kepergian Kiba dan Issei, tatapannya beralih ke sang ketua yang masih berdiri di tempatnya.
Naruto sendiri cukup heran melihat sang ketua peduli kepadanya, bahkan rela untuk turun tangan sendiri membantunya, namun ia tak mau pikir panjang.
"Arigatou, Kaichou," Naruto merasa tuk mengucap terima kasih.
Kaguya membalasnya dengan mengangguk.
"Kalau begitu saya pamit, Kaichou," Naruto pun berbalik, melanjutkan perjalanan.
.
.
.
.
.
Setelah mengikuti pelajaran --yang menurut Naruto membosankan selama dua jam, waktu istirahat pun tiba. Murid di kelas itu pun segera melangkahkan kaki keluar ruangan, pergi ke kantin atau sekadar mengobrol santai di halaman akademi, sedangkan beberapa murid lainnya memilih tuk tetap di kelas dengan aktivitas masing-masing.
Naruto memilih tuk tetap di kelas. Meletakan kepalanya di atas meja, menyesuaikan posisi, memilih untuk tidur.
...
...
Twich...
Twich...
Entah ini nyata atau hanya perasaannya saja, ia merasa ada seseorang yang tengah mencubit pelan hidungnya.
Twich...
Twich...
Sosok tersebut kembali mencubit hidungnya dengan sedikit tambahan tenaga, yang tentu saja membuat sang empunya mengerang.
Naruto menbuka matanya, ingin mengetahui siapa yang tadi menganggu tidur nyenyaknya.
Seorang gadis berambut ungu twintail berdiri sembari tersenyum kearahnya. Ia adalah Rukia, Kouhainya Akademi Konoha dan merupakan adik kelas Naruto dengan Rank Zilver I.
Naruto pernah menyelamatkannya dari sekumpulan Orc pada saat pencarian batu Orb.
Selain ras Manusia ada juga ras lainnya yang menempati dunia ini. Sebut saja ras Kurcaci, ras Goblin dan Orc, ras Elf --yang merupakan rasnya Rukia, dan juga ras lainnya
Berbicara soal rank, apa rank milik Naruto? Naruto tidak memiliki rank. Itulah kenapa ia mendapatkan julukan 'Tak Bersayap'.
"Rukia-chan? Ada apa?" Tanya Naruto, melirik heran ke sosok gadis ungu didekatnya ini.
"Mmm..., A-ano, Apakah Onii-chan sudah makan?" Tanya Rukia, memasang ekspresi seperti anak kecil, yang membuatnya semakin Kawai.
"Belum, memangnya kenapa Rukia-chan?"
"Ba-bagaimana kalau Onii-chan ikut makan bersamaku...?" Tawar Rukia Sembari menunjukkan kotak bekal miliknya.
"Apa tidak apa-apa?"
Rukia pun mengangguk semangat, mengiyakan pertanyaan Naruto
"Huft... Baiklah,"
.
.
.
.
.
Another Place...
Tiga sosok berjubah berdiri mengelilingi sebuah patung kuno.
Dengan hodie yang menutupi kepala mereka dan ruangan yang hanya disinari dua obor, menyamarkan wajah mereka.
Salah satu sosok mendekati patung tersebut, meletakkan tangannya disisi patung.
"Sudah waktunya bagi anda untuk bangkit dari tidur anda, Yang Mulia!" Ucap sosok tersebut.
Tangannya itu pun bersinar, sinar itu pun kemudian menyelimuti patung tersebut.
Sring...
Sosok itu menarik tangannya kembali. Segera setelah sinar itu menghilang, keretakan terjadi di segala sisi patung yang makin lama membesar hingga akhirnya patung itu pun hancur, menampilkan sesosok dengan aura kegelapan pekat yang menyelimuti dirinya.
Ketiga sosok tersebut menunduk hormat, layaknya sang kesatria kepada sang raja.
"Selamat datang kembali, Raja Kegelapan!"
Sosok yang dipanggil 'Raja Kegelapan' itu pun lalu membuka matanya.
Wush...
Memperlihatkan kedua matanya yang putih bersinar, namun dengan aura kegelapan saat orang lain melihatnya.
.
.
.
.
.
.
.
~To Be Continue~
.
.
.
A/N : Huft... Akhirnya selesai juga chapter ini... Maaf kalo wordnya kurang dan belum bisa sesuai ekspektasi...
Fic ini murni fiksi, dan tidak berhubungan dengan tema anime yang asli, jadi harap maklum kalau ada sedikit perubahan di fic ini.
Saya juga akan menjelaskan sedikit tentang kekuatan Naruto yang tadi.
[Create] : Adalah kekuatan dari batu Orb yang mampu menciptakan apapun sesuai keinginan pengguna --Kecuali mahluk hidup.
[Eraser] : Adalah kekuatan dari batu Orb yang mampu menghapus apapun sesuai keinginan pengguna --Kecuali mahluk hidup.
Untuk pair masih belum terpikirkan. Tolong berikan saran dan komentar anda!
Emerlard-kun Out~~~
