Pria tersebut tetap menarik senyum lebarnya, seolah tak terjadi apapun di dunia ini. Seolah tak ada kematian yang terjadi—tidak kakaknya, bukan juga dia, bukan juga orang lain.

Sial.

Mereka berdua sampai di sebuah ruangan besar dengan jendela tinggi, cahaya masuk menerpa mereka. Menciptakan dimensi bayangan yang nyata akan eksistensi benda di dalamnya, Yong Soo menghela nafas berat. Kenapa orang ini seperti berbelit-belit? Apa memang sulit sekali mengatakan sesuatu?

"Sebelumnya kuharap kau tidak berpikir yang tidak-tidak mengenai misi yang kuberikan pada kakakmu, daa."Ungkap pemuda berpostur besar tersebut dengan nada riang, duduk di salah satu bangku bergaya klasik—Yong Soo menyusul kemudian dengan pandangan ragu, apa orang ini membaca pikirannya?

Keduanya tidak berbicara selama beberapa menit, seorang pemuda belia tampak takut-takut membawakan cemilan kecil. Cairan berwarna merah pekat tertampung dalam dua buah cangkir putih, selama beberapa saat Yong Soo terpikir akan minuman itu. Apa ini Sirup Vampire murahan yang biasa di jual di toko kelontong?

"Tapi aku masih tetap tidak bisa percaya padamu, da ze"

Harus di akui cukup berani dirinya itu, sang King of Heart yang berkuasa hanya tersenyum meladeni sindiran tersebut. Tidak masalah dengan hal tersebut, lagian ia tidak ingin Yao marah kalau ia sampai menjebloskan orang ini ke kurungan Hades akibat kelancangan tersebut.

Walau sejujurnya Ivan juga harus berhati-hati berhadapan dengan Yong Soo—ia tidak bisa meremehkan bagaimana overprotektifnya adik-adik Yao pada kakak besarnya. Ia bisa merasakan tatapan lain jika anak-anak Asia tersebut bertemu dengannya, seperti ingin menelannya bulat-bulat entah mengapa.

"Minumlah, daa."Ivan menegur Yong Soo yang bengong ketika di hadapkan pada secangkir sajian hangat tersebut, "Aku tidak memberimu racun kok daa."

Arbei berkabut, Yong Soo merasakan cita rasa minuman tersebut dengan agak terkejut, rasa curiganya perlahan menipis ketika ia tahu minuman macam apa yang ia teguk, Memang gaya keluarga Branginski, batinnya—agak malu mengakui bahwa ia suka dengan pilihan orang ini. Sial.

"Aku memang dulu punya beberapa urusan dengannya daa."Jelas pemuda itu lagi, "Tapi aku tidak bermaksud menjerumuskannya ke daerah berbahaya seperti itu, daa. Aku sendiri terkejut bahwa ia tewas—"

Yong Soo mengangguk malas, sepertinya ini akan jadi pembicaraan yang panjang.

"Jadi, apakah Kakakku itu meninggalkan sesuatu untukku da ze? Atau pesan da ze?"Tebaknya dengan menghela nafas berat, "Kau ingin aku mengambil perbotannya di tempatnya bertugas da ze?"

"Tidak, daa."

Lalu apa yang membuatmu memanggilku? Yong Soo membatin jengkel, yaah, tapi ia sudah tahu tabiat Kakaknya itu—rasanya tidak mungkin Pyong Soo akan meninggalkan warisan benda-benda padanya, apalagi uang. Tapi kalau sisa barang produk Korea sih boleh saja.

"Kalau soal itu aku tidak perlu memanggilmu daa."Ivan melanjutkan keterangannya, "Itu bisa di urus oleh Toris dan Eduard, daa."

"….."

"Tapi sayangnya Kakakmu itu terikat kontrak, daa."

Kakaknya memang merepotkan.

"Jadi Kakak-ku itu terlibat semacam hutang da ze? Atau kontrak dengan penyihir da ze?" Yong Soo berkata dengan jengkel, terdiam berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Atau jangan-jangan…"

"Jika dia mati, kau yang akan menggantikannya daa."

Sudah di duga.

"Kurasa aku bisa mencari uang sendiri da ze."

"Untuk kehidupan yang lebih baik daa—itu kata Kakakmu—"

Kehidupan yang lebih baik apanya? Memangnya ini seperti iklan lampu?

"Apa aku harus da ze?"Yong Soo bertanya dengan nada sakratis, "Seperti aku tak ada kerjaan saja da ze."

"Tapi ini mendesak, daa."

Yong Soo terdiam.

Satu hal yang perlu kujelaskan dulu, daa—kakakmu kutugaskan untuk menangani daerah selatan; tempat di mana banyak pembajak langit yang mengganggu para pelukis langit malam, pusat dari segala jenis ilmu sihir tingkat hitam—di mana pemimpinnya adalah ahli sihir terkemuka di seluruh penjuru dimensi. Daerah itu adalah daerah yang idependen dari kekuasaan pusat. Namun belakangan ini terjadi kekacauan di mana warga daerahnya mulai membuat kerusuhan mengganggu daerah sekitar. Percecokan sempat terjadi dan kita hampir sepakat untuk mengeluarkannya dari dimensi tiga sebelum akhirnya di putuskan untuk bekerja sama membantai habis para pengacau ini. Sebagai King of Heart tentu saja tak tinggal diam, karena itulah Pyong Soo di kirim untuk membantu pemusnahan kelompok ini.

Ia terlibat kontrak padaku bahwa akan menyerahkan tugasnya pada Yong Soo kalau ia gagal. Dan di sinilah masalahnya, Pyong Soo akan menikah politik dengan seorang gadis di daerah lain untuk menggalang kekuatan besar sekaligus mempererat Kingdom of Heart dengan daerah tersebut, jika seandainya kekuatan pengacau tak bisa di bendung setidaknya daerah tersebut bisa menjadi tameng untuk melindungi daerah lain, termasuk kekuasaan Kingdom of Heart. Seharusnya kemarin itu adalah hari di mana Pyong Soo akan menyerahkan cindramata dari daerah calon istrinya—daerah dongeng. Dan akhir pekan ini adalah hari pernikahannya—

Ivan menjelaskan panjang lebar pada Yong Soo, tentu tak ketinggalan trademarknya yang khas—itu tak perlu di jelaskan banyak. Yong Soo bisa menangkap maksudnya, jadi dia harus mempersunting permaisuri?

"Kurasa sia-sia saja da ze."Yong Soo akhirnya berkata lagi dengan nada meremehkan, menunjuk ahoge-nya "Aku dan dia berbeda da ze."

"Itu bisa di atur, daa."Ivan mersepon kalem, "Toh, wajah kalian sangat mirip, daa."

"Tapi—"

"Pyong Soo mengenakan baju zirah tertutup, daa."Ivan memotong dengan hawa-hawa tak nyaman, "Jadi keluarga mempelai tak pernah melihat wajah aslinya da. Karena mereka belum resmi menikah, daa."

Yong Soo merasa kalah.

"Kau sepakat kan, daa?"

Pemuda Korea tersebut terdiam, menatap selembar kontrak tersebut dengan pandangan berkedut. Pikirannya kalut dan lidahnya kelu—tak tahu harus menjawab apa. Pandangannya tertuju pada kertas itu dalam jeda diskusi ini.

Sebuah pulpen tergeletak di dekatnya.


Gadis dengan kostum hitamnya hanya menggerutu kesal melihat kehadiran pemuda tersebut, semua orang bergabung saat makan malam dan cukup menciptakan suasana hangat untuk si pendatang baru kastil ini.

Ia tidak merasa nyaman entah mengapa dengan kehadiran rekan stalkernya di samping, denting peralatan makan membahana dan semuanya hanya diam saja—tak banyak percakapan berarti. Ia memang sudah di beritahu bahwa Yong Soo akan bergabung di bawah bendera kekuasaan Kakaknya—untuk sementara. Tapi rasanya baru kemarin mereka bertemu dan sekarang sudah…

"Natalya? Ada apa?" Kakaknya, Katyusha menanyainya dengan mulut yang rada belepotan, "Kau demam? Wajahmu tampak merah—"

.Semakin menempel….

"Eh?! Masa' da ze?"Dengan sekejab saja pemuda dengan kostum anehnya itu menatapnya dengan intens dalam jarak yang dekat, Natalya sedikit tersentak akan gerak cepat orang tersebut. Menatap garang Yong Soo yang mendekat padanya dengan wajah tak bersalah tersebut, "Menjauh dariku. Sekarang."

"Tapi kau harus minum obat, da ze. Mau gingseng Korea da ze? Aku punya sisa—"

"Aku nggak sakit!"

Dan perkelahian konyol tak dapat terelakan, penghuni meja makan yang lain hanya memberi respon seperti tersenyum kecut atau terkikik geli melihat aksi dua orang ini. Suasana tak kondusif barusan terpatahkan.

"Tapi syukurlah Yong Soo ada di sini."Katyusha berkata dengan senyum lebar, menghentikan perkelahian yang berlangsung tersebut, "Kalian bisa main di sini—tidak perlu jalan keluar, kan?"

"Eh?"

Semua orang terbengong melihat perkataan wanita tersebut, yang di tatap jadi bingung sendiri salah tingkah, "Eee… yang salah…?"

Sementara itu, Ivan berbalik menatap Yong Soo dengan penuh selidik.

Natalya mengurungkan niatnya untuk menghujamkan belatinya, kembali duduk dengan tenang bersama Yong Soo. Sebelum akhirnya beradu tatap dengan Kakak perempuannya, "Kakak…"

" melihat kalian bersama-sama—cukup akrab—jadi—"

"…"

"…. salah….?"

Natalya tak menjawab dan menundukan pandangan, apa yang akan di katakan Kak Ivan jika tahu bahwa ia sering bermain-main dengan Yong Soo? Membuntutinya? Termasuk berusaha menggagalkan kencan mereka?

Dan bisa-bisa Kakak tersayangnya akan salah paham—TIDAK! Ia tidak ada apa-apa dengan—

…..

"Ini sudah terlalu larut—"Pria Russia itu bangkit, diikuti beberapa orang lainnya seperti Raivis atau pemuda Cuba berambut gimbal. Cukup mengalihkan pembicaraan, "Kurasa kita bisa membicarakannya nanti, daa."

Suara kursi berderit mengisi keheningan kembali, semua orang benar-benar meninggalkan ruang makan tersebut. Raut wajah Natalya terlihat panik dan segera mengejar kakaknya, rok hitam itu bergerak mengikuti pergerakan angin.

"Eh—tunggu-tunggu da ze!"

Di luar dugaan kali ini Yong Soo ikutan—ia mencengkram pergelangan tangan Natalya dengan erat seolah tak ingin membiarkannya pergi. Yang di cengkram membalikan badan dan menatap berang, "Apa'an sih?!"

Yong Soo cukup terpengarah ketika mendapat respon yang kasar tersebut, "Maaf-maaf~~"katanya dengan nada melas, "Tapi toiletnya di sebelah mana da ze?"

Ya Ampun…

"Tanya sama yang lain sana!"Natalya berusaha melepaskan diri dari cengkraman pemuda tersebut, "Aku harus nyusul Kakak!"

"Tapi aku kan nggak akrab sama mereka da ze. Eh, lagian Kakakmu pasti mau istirahat—"

"Memang."Natalya membalas dingin, mengeluarkan kameranya—mengatur beberapa settingan di sana.

"Jangan-jangan kau sampai—"

"Ya."Iris violet menatap beku sebongkah cokelat gelap asia milik Yong Soo, "Memangnya kenapa?"

"….Ternyata kau lebih banget ya da ze."Yong Soo berguman dengan nada sungguh-sungguh, "Eh, dari pada itu, anterin aku ke toilet yuk da ze!"

"Toiletnya tinggal belok kiri sana."

"Sekalian naik ke menara da ze~~"

"Kau hanya akan masuk angin keluar malam seperti ini."

"Tapi katanya malam ini ada pertunjukan langit da ze!"Yong Soo menggenggam tangan gadis itu, "Kau suka langitnya kan da ze?"

"Aku tidak pernah bilang."

"Tapi kau terpesona kan waktu itu da ze?"Yong Soo berkata riang, menarik Natalya untuk mengikutinya, "Katanya Feli udah sembuh lho da ze!"

"Siapa?"

"Pelukis langit terkenal da ze! Katanya bakal collab sama si Hong!"

Natalya tak mengatakan apa-apa dan menunggu saja di luar pintu toilet, bersandar pada dinding batu. Pada akhirnya ia malah tidak menstalker Kakaknya malam ini. Tapi kenapa juga ya ia mau saja di ajak orang itu?

"Ayolaah~~jangan merajuk gitu deh da ze. Aku kan pendatang baru di sini, jangan tampilin muka masem gitu da ze."Yong Soo menenangkan ketika mereka kembali berjalan menuju menara, "Lagian kalau mau stalking—besok aja dengan aku dan kamera Koreaku yang luar biasa ini da ze!"

Natalya memutar bola matanya malas, "Bisakah kau hentikan kata menjijikan itu? Kau membuatku mual."

"Hahahaha, lelucon yang bagus da ze!"Yong Soo berbalik dan memberinya tanda thumbs up. "Lagiankan kalau malam hasilnya burem da ze!"

"Aku tidak meminta komentar."Natalya berkata ketus, melewati Yong Soo dan melangkah dengan kesal, "Dan berhentilah menggangguiku."

"Eh, apa da ze?"Yong Soo tampak baru sadar kalau Natalya mengatakan sesuatu dengan suara cukup pelan, "Kau mengatakan sesuatu da ze?"

Natalya malas mengulang.

Ketika mereka menginjakan kaki di puncak menara, keduanya bisa melihat bahwa langit memang telah di lukiskan dengan anggun. Ledakan kembang api memeriahkan pola manis dalam garis bintang, semua orang mungkin tengah menonton pertunjukan ini.

"Hong itu perakit mercon da ze!"Yong Soo menjelaskan, duduk di atas permukaan lantai batu dengan senyum bangga, "Bagus kan da ze?!"

Natalya tak menjawab dan hanya ikut duduk dalam jarak yang agak renggang dengan Yong Soo. Ia tidak akan membiarkan seseorang melihatnya bersama—dan berpersepsi aneh-aneh lagi; bahwa ia ada sesuatu yang spesial dengan orang ini. Pemuda di sebelahnya itu tampak mengguman sendiri dan terpukau, berceloteh macam-macam. Ia menanggapinya dingin. Ia tidak ingin terlalu dekat…lagi.

Karena ia mencintai Kak Ivan—lebih dalam dari siapapun…

….

"Membosankan."

"Eh?"

"Kenapa kau suka sekali dengan langit ini sih?"Natalya bertanya ketus, bangkit dari duduknya dan membersihkan pakaiannya dari debu. "Aku sudah bosan—hanya membuang waktu saja."

Yong Soo perlahan turut bangkit dan menatap gadis bersurai platinum blonde tersebut, mengambil nafas berat dan mengikuti Natalya yang berbalik menuju pintu kayu tua tersebut. Ragu apakah ia harus mengatakannya atau tidak.

"…Karena aku…."

Natalya menoleh, menatap pemuda asia tersebut dengan datar sebelum akhirnya berbalik pergi. Di lepaskannya pula tangan yang memegang pergelangan tangannya dengan cukup kuat. "Selamat malam."

Yong Soo membatu mendengar penuturan dingin tersebut, Ya Tuhan—kenapa gadis itu begitu dingin pada semua orang? Terutama dirinya? Tidak bisakah ia melunak sedikit saja untuknya?

Sepasang iris cokelat gelap menatap goresan di langit oranye gelap tersebut, tersenyum tipis menyapa dunia. Yaah, tidak masalah sih kalau soal Natalya, toh, tampaknya sifat gadis itu memang demikian. Yong Soo memandang cukup lama pada cakrawala malam sebelum akhirnya melangkah pergi.

Tapi kenapa…


Under the Pumpkin Sky


Hetalia © Hidekaz Himaruya

Under the Pumpkin Sky © Me

.

For 13 Days Halloween

Warning : crackpair, AU, fantasy, mungkin OOC, mungkin typo dll

.

Happy Reading

Don't like don't read


"Kau harus jaga dirimu baik-baik, aru."

Yao berkata dengan nada khawatir, itu terlihat jelas dari pandanganya. Tangannya mengelus helai rambut cokelat gelap Yong Soo. Ia memang mengkhawatirkan nasib adiknya ini—ia masih terlalu belia untuk menghadapi krisis dimensi dan semoga saja Yong Soo tak akan berakhir seperti Pyong Soo.

Yong Soo tersenyum riang saja dan mencoba meyakinkan Kakaknya itu bahwa ia cukup kuat untuk menghadapi semua ini, kan dia punya sisa puing perabotan dari Korea yang luar biasa dan pasti akan berguna sekali; baginya.

Hari ini pun ia melihat wajah Kakaknya tampak lelah dan sakit, ia harap si hidung besar alias bosnya memperlakukan Kakaknya ini dengan baik. Jika ia melihat yang lebih parah dari ini ia tak akan segan menggetok King of Heart tersebut; ia tahu betul apa yang terjadi antara Kakaknya dengan Ivan.

Yao mengangguk dan akhirnya berbalik pergi, menaiki undakan tangga di lorong-lorong. Yong Soo menghembuskan nafas lega dan melirik satu sisi dinding di mana terdapat kamera tersembunyi. Menarik seringai kepuasan akan menit-menit yang telah berlalu sebelumnya, sosok gadis lain yang familiar muncul di dekatnya; masih dengan wajah dingin dan sorot mata yang tajam.

"Yeeei~~"

Natalya tak menanggapinya.

"Fuuh~~nyaris aja da ze!"Yong Soo bertutur dengan nada sungguh-sungguh, "Kau baik-baik saja da ze?"

Sepercik cairan ungu jatuh dari ujung rambut platinum bonde Natalya. Yong Soo jadi kalap sendiri, segera ia keluarkan sapu tangan putihnya. Membersihkan kotoran yang menempel di wajah gadis itu dengan sesal; bisa-bisa gadis itu akan menerkamnya hidup-hidup kalau seperti ini. Hawa-hawa mengerikan itu sudah menjalar dari tubuh berkostum hitam tersebut, mencekat sang tokoh utama kita.

"Bisa-bisanya kau seenaknya mendorongku masuk ke celah menjijikan itu."

"Eeer…"

"Kau sengaja, ya?"

Ini sudah dua hari mereka menjalani hidup satu tempat tinggal, Yong Soo hanya nyengir nista meminta perdamaian, "Ampun, ampun Naat~~serius deh, itu gerak reflek tadi da ze. Aku nggak nyangka kalau Yao-hyung datang sebelum kita selesai betul pasang kamera da ze."

"….."

"Nat, damai ya, damai~~eh, kameranya bener udah ke pasang kan da ze?"

Natalya memandang sejenak wajah memelas pemuda Korea tersebut sebelum akhirnya meraih kamera tersebut dan menyerahkannya dengan kasar. Wajahnya terlihat merengut, "Iih…jelek banget wajahmu kalau merengut kaya' gitu da ze!"

Orang ini ngajak ribut ya?

"Fuuh, tapi kalau sampai Yao-hyung juga liat kita berduaan bisa-bisa kan dia makin berpersepsi aneh, da ze."Yong Soo menjelaskan dengan ekspresi kecut, "Jangan-jangan nanti Ivan sama Yao-hyung bakal berpikir kalau kita memang ada hubungan spesial da ze."

Natalya paham akan hal tersebut.

Keduanya melangkah bersama keluar dari ruang bawah tanah tersebut, di selingi oleh obrolan yang ngalor-kidul nggak karuan. Tak ada yang aneh—hubungan mereka berjalan seperti biasa, awan bergelut dengan warna gelapnya. Sementara halilintar mulai berkecamuk membelah kegelapan, angin bertiup kencang, berdansa dengan dedaunan kering yang mengetuk jendela bening. Hawa dingin menyusup melalui celah di dalam kesuraman kastil. Lampu obor mulai menyala secara otomatis menciptakan penerangan di lorong-lorong rumit yang gelap.

"Ngomong-ngomong…"

Yong Soo menatap Natalya dengan pandangan bingung, tidak biasa orang ini akan memulai berbicara padanya, "Ya, da ze?"'

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Eh?"

"….Kau seharusnya punya suatu tugas dari Kakak…tapi sejak kau tinggal di sini…"

"a….."

"…"

"…"

" tidak seperti aku mengkhawatirkanmu atau apa!"Natalya meralat dengan cepat serta bernada ketus, "Jawab saja pertanyaanku!"

..

Yong Soo memandang Natalya agak lama, ia bisa melihat pantulannya sendiri di iris violet itu. Pantulannya yang berwujud mengerikan, buru-buru ia menggosok matanya—tampaknya ada yang salah dengan penglihatannya.

Natalya menatap aneh rekannya yang mendadak bertingkah aneh tersebut, menatapnya dengan sorot tajam dan dingin seperti biasa. Menanti pemuda tersebut mengeluarkan sehelai kata.

Yong Soo jadi ragu apakah ia harus memberitahukannya atau tidak, rasanya bingung di hadapkan pada pertanyaan ini. Ada rasa takut jika ia mengatakannya—perasaan yang aneh dan tidak nyaman…tapi…kenapa?

Oh, ya…mungkin ia sedang mengkhayalkan bahwa Natalya akan mengamuk kalau ia bilang begitu. Bukan apa-apa, hanya saja karena ia belum menyelesaikan masalah kolam waktu itu—barangnya masih di tangan pihak reparasi. Bisa-bisa belati menancap kepalanya dengan buas, hiii—seram banget kan?

Memang tampaknya banyak masalah ya di sekitarnya ini? Ckckckck…lagian kenapa juga Natalya waktu itu bawa kamera produk luar? Maksudnya…bukan produk Korea yang luar biasa? Aduuuhh…

Selama beberapa menit ia berpikir, menimbang di antara dua pilihan. Yaah, tapi kenapa ia harus takut?

"A…."

Ping-ping-ping

Sebuah pesan yang berdering di choker warna hitam Yong Soo merusak suasana yang telah di bangun, Natalya hanya menghela nafas singkat. Buru-buru sang pemilik choker, menyalakan tombol penjawab, dan kelopak mata itu menutup rapat—menghembuskan nafasnya perlahan—hasil teknologi canggih saat ini di mana alat komunikasinya menggunakan kata-kata hati dan pikiran. Yong Soo adalah orang pertama yang memakainya selama dalam kekuasaan King of Heart.

Panggilan dari Kakak, eh?

..

..

['Ada apa ze?']

[Apa yang kau lakukan, daa?]

[Apa itu penting sekali da ze?]

[…..]

[…]

[Kau harus cepat kemari daa]

[Eh?]

[Ini penting, semua orang sudah—]

Kata-kata itu muncul, menyesak hatinya. Pikirannya serasa di hantam sesuatu yang dingin ketika orang itu mengatakannya. Peluh menetes di pelipisnya, pijakannya terasa kosong dan segalanya terasa berbeda. Ia tidak pernah menyangka bahwa orang itu akan mengatakannya…

[Kau mengerti, daa?]

"Yong?"Natalya menatap dengan ragu, ada yang salah dengan pemuda itu. Bahkan senyum riangnya pun segera hilang ketika mendapat panggilan tersebut. Apa Kakaknya mengatakan sesuatu yang mengerikan?

"….."

Ini bukan berarti ia mendadak perhatian dan ikut campur urusan orang. Masalahnya….

"Natalya?"

"?"

"Yao-hyung dan Ivan pergi ke taman, da ze."

"…"

"Kau masih simpan kameranya da ze?"Yong Soo tersenyum riang dan menarik tangannya seperti biasa, "Kau tahu da ze? Katanya ada sesuatu yang harus di sampaikan da ze~~semuanya sudah ke sana katanya da ze."

"Benarkah?"

"Tentu da ze! Kaya'nya ada acara spesial gitu, da ze."Yong Soo meyakinkan dan keduanya akhirnya tiba di atap menara. Pemuda itu merogoh sesuatu dari balik baju besinya dan melemparkan sebuah gulungan pada Natalya. Dengan cepat gadis itu menangkapnya—ia tahu apa maksudnya ini, dengan cepat ia sentuh sebuah tombol di sana. Benda ini pernah di tunjukan oleh Yong Soo sebelumnya, sebuah layar otomatis muncul—dengan sederet angka numerik, jarinya bergerak lincah memberikan perintah. Ketika ia selesai mensetting, gulungan tersebut menghilang dengan cepat bagaikan angin—dan sebuah lintasan elektris berwarna biru muda membentang di angkasa. Natalya memandangi sepatunya di mana perlahan muncul garis biru tipis. Garis lintasan lain berwarna hijau juga muncul beberapa detik kemudian setelah Yong Soo selesai menyetting gulungan elektrisnya sendiri. Keduanya meluncur di lintasan masing-masing yang berdekatan—seperti bermain sepatu roda di angkasa! Angkasa yang kini menggelap pertanda kan turun hujan.

"Kau lambat."

"Aku benci menyettingnya dengan perintah angka numerik da ze."

"Kalau begitu kau harus mengubahnya nanti."Natalya berseru di tengah deru angin kecepatan, "Kau kan yang membuatnya!"

"Eh?"

Pemuda itu tampak tak mendengar benar apa yang di katakan Natalya, "Apa….?"

Natalya mengurungkan niatnya—ia tidak ingin terlihat tahu—maksudnya, ia tidak bisa mengatakan bahwa ia tahu banyak hal soal pemuda itu di hadapannya. Bahwa ia browsing di jaringan Hetaloween mengenai Yong Soo—si manusia hiperaktif mutasi dimensi; bahwa orang itu sebenarnya adalah seorang ilmuwan di bidang teknologi di dimensi sebelumnya; se-profesi dengan Kiku Honda. Ia juga mendengarnya dari Kiku bahwa saudaranya adalah seorang ahli teknologi di dimensi lain—dimensi futuristik yang identik dengan angka.

Tapi itu dulu—dulu sekali. Itu tak perlu di bahas lebih jauh. Ia juga tak mau membahas bahwa pemuda itu berbohong—berpura-pura seolah bukan dia yang membuat gadget-gadget ini. Sosoknya itu masih tanda tanya besar dalam diri Natalya—ada banyak tanda tanya mengenainya.

Bahwa dia pindah dimensi—alasan kenapa ia menutup-nutupi identitasnya, penemuannya—dan kenapa ia begitu terobsesi pada Yao—seperti dirinya pada Ivan Branginski….Banyak yang belum ia mengeti soal orang ini…

Natalya memandang ke belakangnya, lintasan yang sudah ia lalui perlahan menghilang bagaikan debu. Seolah perjalanan ini tak ingin menyisakan jejak.

"Nat…"

Suara Yong Soo hanya bagaikan suara kecil yang gamblang; tak jelas di angkasa luas ini. Pandangan Natalya menerawang jauh ke belakang.

DRAK

DRAK

Sontak bunyi-bunyian itu membuat Natalya tersentak, ia terperanjat ketika keseimbangannya mulai goyah. Percik-percik listrik mulai terlihat di lintasannya dan sederet angka numerik yang tak di mengertinya membentuk layar hologram elektris berwarna merah—Yong Soo tak pernah menjelaskan ini padanya…

"NATALYA!"

Suara Yong Soo terdengar begitu jelas dan ketika ia menoleh, salah satu kakinya sudah terperosok di tengah jalur lintasan. Menciptakan goresan tajam dan tubuhnya seperti tersengat listrik, pupilnya mengecil sementara tubuhnya masih mengikuti jalannya lintasan; ia terseret—

Lintasan tipis itu perlahan mulai mengoyak dagingnya, rasa sakit mulai merasuki dirinya—jika ini di biarkan—

Pling-pling-pling-pling

Sepasang iris violet itu bisa melihat dengan samar pemuda berahoge mencolok itu memegang salah satu tangannya dengan tangan kiri. Pemuda itu tampak sibuk dengan deretan layar angka numerik, jari kanannya bergerak bagaikan kesetanan. Darah menetes keluar dengan deras, terjun di permukaan cakrawala.

"SIAAALL!"

Yong Soo meninju panel-panel itu dengan amarah—menciptakan keretakan di sana. Jari-jemarinya meneteskan darah. Natalya tak tahu harus mengatakan apa….

"Tahan sedikit,da ze!"

Gadis itu memandang bingung pemuda di dekatnya tersebut, dalam situasi panik seperti ini—iris cokelat itu tak terbaca. Ketika sepasang tangan Yong Soo bergerak mencoba menghancurkan garis lintasan Natalya, ia terperanjat.

"Apa yang kau lakukan?!"

Darah semakin menetes keluar dan Natalya bisa melihat bahwa orang itu menahan sengatan listrik dengan ngotot, perlahan garis itu mulai bengkok—kakinya bebas.

Garis lintasan itu panas—berbau darah dan menciptakan percikan listrik yang membahayakan…

ZRAAAKK!

Natalya jatuh. Dalam keterkejutan itu, yang ia lihat adalah senyum pahit Yong Soo. Wajah penuh penyesalan tanpa setitik kebohongan.

"Maaf…"

DUAAARRRR!

..

Garis lintasannya—garis lintasan Yong Soo meledak seketika.

"Yong…."

Percikan-percikan elektris benda itu perlahan hangus, tubuh Natalya terasa kosong di tarik oleh gravitasi. Ledakan itu tepat terjadi di hadapannya…

"YONG SOOOO!"

….

..

Apakah ini artinya…

ZRUAK

ZRUAK

..

BRAGH!

Sebuah benda berhantaman dengan tubuhnya. Natalya bisa mencium bau gosong tepat ketika tubuhnya tertarik dalam dekapan tubuh itu.

Nyatanya, bahwa punggung tangan Yong Soo menguarkan bau daging terbakar membuatnya muak. Ya Ampun…

…..

"Ngh…"

Perempatan sudah mulai muncul di pelipisnya, tepat ketika pemuda tersebut mulai tersadar. Ada yang punya pentungan? Oh—tidak perlu, Natalya punya pisau lipat andalannya sekarang.

Iris cokelat tersebut mulai membuka perlahan dari kelopaknya, bertemu dengan sepasang violet jernih dari Natalya. Oh, apa ini aku sudah di surga da ze?

"Tapi kenapa muka bidadarinya jelek kaya' Natalya, ya da ze?"

BLETAK

….

"SAAKIIITT DA ZE! Kau itu nggak kenal situasi sama sekali ya?!"Yong Soo meringis kesakitan menatap Natalya dengan linangan air mata kelebayan. "Ya Tuhan…"

"Ck…."

"Tapi kau baik-baik saja da ze?"Yong Soo mendadak mengalihkan topik pembicaraan, memandangi tubuh Natalya dengan intens, "Ah! Ya! Kakimu—!"

"Urus saja urusanmu, Yong Soo."Natalya memotong sebal, "Aku tidak perlu perhatianmu."

Tapi pemuda tersebut seakan tak mendengarkan perkataan Natalya, "Aku ada nyimpen obat deh da ze! Kau harus—"

"Tidak perlu!"

Jawabannya cukup ketus, membuat keduanya terdiam mendadak dalam kesunyian kata. Angin menerpa tubuh mereka—menusuk dengan hawa dingin menggelitik kulit, membuat surai rambut itu berombak di cakrawala. Sementara darah masih menetes dari kaki mulus tersebut—tenggelam dalam deru angin kencang yang bergemuruh.

"Tapi…"

?!

Mulut itu bergerak, lidah yang bergerak lincah menguntai kata itu membuat gadis bersurai rambut platinum blonde tersebut terkejut mendengarnya. Rasa tak percaya mulai menghampiri dirinya mendengar suara pemuda tersebut…


"Nih."

Gadis tersebut menyodorkan botol dingin dari mesin minuman otomatis tak jauh dari mereka. Yong Soo mendongak dan menerima sodoran tersebut dengan senyum tipis, pandangannya kembali tertuju pada batang panjang yang memancarkan cahaya redup, sepertinya gantole elektris otomatisnya perlu di charger nanti. Natalya duduk tak jauh darinya, meneguk minumannya sendiri dengan tenang di taman itu. Tak ada percakapan sejak mereka mendarat—rasanya ada yang aneh…

"Kau yakin bisa berjalan, da ze?"

"Memangnya kau pikir aku selemah apa?"

Yong Soo tersenyum kecut mendapatkan jawaban sakrastik semacam itu, "Tidak bisakah kau sedikit melunak padaku da ze? seperti saat kau melunak pada Ivan da ze."Ujar Yong Soo dengan nada memelas, sejenak ia curi pandang pada punggung tangannya yang di tempeli lembaran penyembuh praktis. "Jahat banget…"

"Terserahlah."Natalya menyahut dengan dingin dan bangkit dari tempat duduknya,"Kau tidak perlu bersikap sok perhatian padaku."

"…."

"Lagian Yaketerina pasti punya beberapa obat-obatan sebagai siap siaganya—"Cerocos gadis itu dengan ketus, melemparkan pandangan bekunya pada Yong Soo."Ingat itu."

"Hiiiihh!"Yong Soo bergidik ngeri, "Sumpah deh, akhir-akhir ini kamu kaya' gadis PMS da ze! Sejak aku tinggal sekastil mukanya cemberut da ze."

"Anggap saja sebagai hukuman untuk tindakan bodohmu di meja makan."

"Eh?"Yong Soo menatap bingung, "Meja makan da ze?"

"Untuk sikapmu yang seenaknya saja bersikap seperti itu di depan Kakak."

Yong Soo bangkit dan merenggangkan otot, melenyapkan sampah botolnya dengan pembakar otomatis, "Bhuuu~~ayolah, apa sih salahnya peduli da ze?"

"Cukup."Natalya menyudahi obrolan tak penting ini, "Kita harus mencari Kakak dan yang lainnya…"

"Yup!"Sahut Yong Soo sembari melempar kedipan, memandang sekeliling dengan seksama, "Ikut aku, da ze."

Natalya tak sempat berkata apa-apa ketika ia tiba-tiba di tarik mendadak oleh pemuda tersebut ke jalanan setapak. Keduanya berlari-lari kecil di lokasi yang cukup sunyi itu, "Ini jalan pintas, da ze."

Gadis itu tak tahu bahwa di tempat duduk mereka sebelumnya berdiri seorang pemuda dengan rambut agak panjang—iris biru itu menatap bingung sekitarnya, pandangannya menyapu sekeliling sebelum akhirnya terperanjat ketika menemukan sehelai pita rambut berwarna hitam di permukaan jalan.

"Eh?"

Tanpa terasa tetes hujan menghujani permukaan dimensi tersebut. Cairan berwarna hijau, rintik hujan itu semakin lama menjadi deras.


Haah

Hah

….

"Apa maksudmu sih?!"Natalya menggerutu kesal di dalam bianglala berbentuk Jack O'Latern tersebut, "Ngapain coba naik beginian?"

Yong Soo tertawa riang menatap wajah cemberut yang terlihat lucu itu, "Kan spotnya bagus da ze. Kau bisa melihat—"

"Iya-iya, melihat langit kan?"Potong Natalya dengan cepat, "Yong Soo, ini penting—kau terlalu—"

"Bukan—bukan—"

GUITS

Pandangannya teralih pada jendela bening transparan yang memperlihatkan lanskap taman yang bergaya gothic. Natalya menatap Yong Soo yang masih memegang lengannya, mengirim seribu tanya akan maksud hal ini.

"Kita bisa dengan mudah cari si Ivan kan da ze?"

"Bodoh, memangnya kau pikir gampang apa mencari seseorang di tengah hujan di dalam benda ini? Tingginya hampir 50 meter."

"Heh, masa' da ze?"

"…."

"Ee—sebentar-sebentar…"

"?"

"Pitamu mana?"

?!

Natalya mengambil langkah menjauh, meraba kepalanya—pita itu memang hilang. "Sigh, pasti jatuh tadi…"

Yong Soo terdiam menatapnya dengan intens, ia bisa merasakan ada sesuatu yang ingin di katakan oleh Yong Soo—orang itu tampak berpkir keras.

"….."

Tik.

Tik

"Yong Soo."

…?

..

"Apa yang kau sembunyikan?"


Ruangan di lantai bawah gelap gulita oleh reruntuhan bangunan, Natalya bergerak lewat celah-celah, menutup hidung akibat debu-debu yang berterbangan di sekitar—pastinya akan membuat siapapun bersin. Kotak pemutar itu mulai tersendat memutar isi kasetnya, suara ledakan dan jerit darah terdengar di sana menyakitkan telinga—dan suaranya juga tidak jelas.

Pikirannya melayang kemana-mana—memutar segenggam keping memori dalam pikirannya. Hatinya terasa panas—ia harus segera menemukan Kakak dan keluar dari sini.

Langkahnya terseok-seok, memandang segalanya dalam keremangan. Ia melirik sejenak penampilannya di puing cermin dinding—tercekat ketika melihat sesuatu lain di cermin tersebut—bayangan mengerikan.

PRANG!

Ia menghancurkan cermin usang itu dengan penuh emosi, mengalihkan pandangan dan memandang sejenak kakinya—di mana sebuah luka pernah tertoreh di sana.

'….Pembunuh….'

Kata itu terngiang dalam pikirannya, seketika ia merasa seperti di hantam sesuatu yang kuat—kata itu membuatnya cukup terguncang..

CUKUPP!

Priingg—priiingg

DEG

Jantungnya mencelos ketika mendengar bebunyian itu, segera ia tahan suaranya dan bersembunyi di balik dinding reruntuhan, terduduk di sudut gelap. Peluh kembali menetes dari pelipisnya, ia bisa mendengar suara besi berderak tengah melangkah tak jauh darinya.

[0001111100010101010101010101 0101010101111100000]

Telinganya bisa menangkap suara itu—suara angka numerik—suara yang pernah di dengarnya.

'[000110010101010…]'

…..

..

Tentara musuh mulai memasuki reruntuhan kastil.


DRAP

DRAP

DRAP

"Hoi, Yong Soo jawab aku!"

Pemuda itu tak menjawab dan menuntun gadis bersurai platinum menuruni undakan tangga bianglala. Langkahnya beradu dengan waktu di tengah curah hujan. Natalya semakin menatap jengkel sosok Im Yong Soo—ia sebal.

"Hoi—!"

"Kita belok sini da ze."

BATS

"Aku nggak mau belok sebelum kau jelaskan situasi ini sekarang."

Yong Soo terpengarah menatap Natalya—kedua tangan telah usai berpaut, menciptakan jarak secara nyata di antara pemiliknya. Pikirannya kalut dan carut-marut dalam pengulangan sebuah kalimat dalam pikirannya.

"Ini penting da ze…."

"Ini lebih penting daripada situasi yang kau maksud."

Natalya sudah hampir melanjutkan kalimatnya kalau saja dua orang tidak menyela adegan tersebut—Kiku dan Toris tampak terengah-engah seakan habis berlari marathon. Dua orang stalker terperanjat mendapati bahwa ada dua orang yang tiba-tiba datang pada mereka.

….

..

"Natalya-san…"


Langit biru membentang cerah sementara sinar matahari menyelip di antara bangunan-bangunan futuristik tinggi. Berbagai macam layar elektris terbentang di beberapa sudut kota, biasanya menyajikan informasi terbaru dan pengetahuan. Seolah tak ingin seekor makhluk hidup pun untuk ketinggalan berita.

Seorang pemuda dengan wajah belia menaiki undakan tangga bangunan berbatu dengan jumper-ball-nya. Sementara headphone otomatis terpasang di telinganya, beberapa panel bergantian muncul di sekelilingnya dengan sederet angka numerik. Beberapa di antaranya adalah panel untuk siaran berita di seluruh dimensi di jagat raya. Jubah ilmuwan berwarna putih melapisi kostum besinya, pemuda tersebut tampak asik melakukan pekerjaan hariannya tersebut. Tinggal sedikit lagi satu game dan dua program akan ia selesaikan—setidaknya bisa launching nanti sore pake android dan deadlinenya selesai. Bagus, besok hari minggu dan ia pastikan akan mematikan semua peralatan komunikasi dan terjun ke dunia mimpi. Sudah 4 hari ia tidak tidur.

"Yoo! Yong Soo!"

Semua panel mendadak melenyap dan Yong Soo bisa melihat sosok kekar Sadiq Adnan dengan kostum Halloween berlapis jubah putih sepertinya. Sepertinya ia perlu menyarankan pria Turki ini untuk mengganti kostum Aladin noraknya itu—tidak cocok sama sekali dengan atribut kehormatan sebagai anggota Persekutuan Ilmuwan yang ternama ini.

Di dekat Sadiq ada si Mathias Køhler, makhluk hidup asal Denmark ini nggak kalah absurd penampilannya dengan Sadiq—meski harus di akui kostum bajak lautnya cukup keren tapi tetap saja terlihat mencolok dan meriah sekali (Apalagi sifat orangnya yang hiperaktif).

Yaah, kostumnya sih juga nggak kalah absurd dan nggak cocoknya. Tapi tetep keren kan? Im Yong Soo yang make pasti selalu keren, bener nggak, pembaca?

"Kau masuk koran lagi, hahahahahaha! Traktir kita-kita ya!"Sadiq berkata riang dan menepuknya dengan keras, "Gila kau bisa kerja sama dengan orang-orang Cosmic—hebat deh."

"Huohohoho, memang akan selalu sukses dan bersinar kalau ada Yong Soo dan produk Korea, da ze!"Yong Soo nyengir membalas perkataan Sadiq dengan akrab, "Tapi—eh? Traktir? Kau pikir kau ini siapa da ze?"

"Makhluk ganteng yang tahan hidup bersama Professor gila nan berisik."

"Bhuu—muka sok ganteng dari mana? Kau ini mah perjaka tua, da ze."Elak Yong Soo dengan nada mengejek, "Dan siapa pula itu professor gila nan berisik? Mathias ya da ze?"

"Enak aja!"Mathias menyela dengan penuh emosi, "Itu kan kamu, Yong Soo. Gue tahu gue baru naik pangkat tapi nggak usah ngomong gitu."

"Eh, udah—nggak selesai ngomong sama kalian da ze."Yong Soo menyela dengan ekspresi merengut, "Ngomong-ngomong udah dengar berita semenit lalu nggak di chanel 0101?"

"Udah dong~~!"Sembur Mathias dengan antusias, menunjuk benda bulat pipih yang menempel di telinga kirinya, tersenyum bangga akan produk yang ia kenakan tersebut, "Selalu update dan terpercaya."

Yong Soo memutar bola mata malas melihat pemuda di dekatnya itu dengan bangga memamerkan perangkat elektronik yang di rakit pacar si Mathias—"Bencana nasional dimensi satu—terlibat konflik dengan dimensi tiga untuk perebutan sebuah tanah subur, kebakaran dan kelaparan marak terjadi, dan dua pemerintah yang tak pernah akur bagai kucing dan anjing. Apa kalian berpikiran sama denganku bahwa kita di panggil untuk hal ini da ze?"

"Mungkin kita di suruh untuk membantu—meluncurkan beberapa perangkat yang bisa membantu dimensi satu. Mungkin untuk mengurangi kekeringan, atau apalah itu—kalian tahu sendiri bagaimana hubungan pemerintah kita dengan pemerintah mereka."

"Akur sangat—mungkin inilah yang di incar dengan mengawinkan pemuda India itu dengan putri dimensi satu~~"

….


Aula besar itu mulai di tinggalkan orang-orang, suara percakapan bergemuruh di dalamnya. Sedikit mengoyangkan langit dan lampu gantung kristal bergaya gothic di sana. Semua terlihat gugup—para bangsawan dan pemimpin di berbagai daerah terlihat khawatir dengan situasi saat ini. Ivan memandang sekeliling sebelum akhirnya memutuskan untuk bangkit, menaiki undakan menuju sebuah pintu besar berukir kayu. Menarik senyum pada semua orang—yang entah mengapa terlihat takut melihatnya, langkahnya terhenti ketika berpas-pasan dengan seorang pemuda beralis tebal dengan kostum detektif kotak-kotak. Keduanya berpandangan sejenak dalam diam di tengah keramaian.

"Kurasa ini semakin rumit, daa."

Arthur Kirkland tahu bahwa sang King of Heart tengah mencoba menyudutkannya—buru-buru ia mendongak, menatap tajam wajah beriris violet tersebut, "Aku tak pernah menyangka bahwa kelompok pengacau akan bekerja sama dengan dimensi satu dan dua untuk menghancurkan kita semua."

Logat Inggrisnya terasa dalam tiap kata—kedengarannya pemuda itu tersinggung dengan ucapan Ivan. Hawa-hawa hitam mulai saling beradu di antara keduanya, "Hei—bukankah Tetua dimensi ini juga ingin berbicara padamu di belakang altar?"

"Apa itu termasuk urusanmu, daa?"

"Bloody hell! Aku hanya mencoba mengingatkan."Arthur berkata dengan dongkol, "Dimensi satu berhasil mempengaruhi dimensi dua untuk memerangi kita—dasar licik."

Ivan menanggapinya dengan senyum riang dan pergi berlalu melewati Arthur, "Aku perlu ke toilet—katakan itu pada tetua dimensi, daa."

Ruangan itu gelap, tak ada siapapun saat King of Heart membuka pintu kayu berat tersebut. Penerangan dari lilin tengkorak berwarna biru pudar dan hanya menerpa sepertiga ruang. Mungkin ia harus kritik akan fasilitas menyedihkan ini. Menutup pintu, ia memasuki lebih dalam ruangan tersebut—suara sepatunya terdengar membahana seisi toilet.

Dan ia terdiam sejenak ketika menyadari ada langkah lain di sana.

"…"


"Daerah sang permaisuri itu berbatasan dengan wilayah kekuasaan Arthur, daa."Terang Ivan pada Yong Soo yang mengambil pulpen dan menorehkan tanda tanganya, "Jadi pernikahan politik ini termasuk penting—untuk memperkuatnya dan menjaga daerah lain dari serangan kelompok pengacau ini daa."

Yong Soo tak menjawab dan berkutat pada kertas tersebut, enggan merespon apalagi menatapnya. Hatinya terasa teriris harus menyetujui ini—di sudutkan seperti ini…

Yong Soo terhenyak sejenak, ia masih berdiri di ruangan penuh kabel-kabel itu. Menatap tak percaya pada orang yang duduk di kursi besar tersebut. Bingung harus mengatakan apa sebagai respon atas permintaan itu.

"…Maaf."Yong Soo mencoba menguatkan diri mengatakannya, "Kurasa aku tidak bisa melakukan permintaan itu da ze."

"Karena orang-orang Cosmic itu, ana?"

Cosmic adalah perusahaan besar di bidang teknologi—perusahaan yang baru-baru ini meminjam tenaga Yong Soo dalam rentetan proyek.

"Aku sudah memutuskan kontrak dengan perusahaan lain untuk Cosmic da ze! Dan tak lama lagi aku akan mutasi dimensi da ze!"Yong Soo menjelaskannya dengan berapi-api, bagaimanapun juga ia sudah berkorban cukup banyak untuk hal ini—perusahaan Cosmic membayar jasanya dengan mutasi dimensi sesuai keinginannya, "Aku ingin kembali pada keluargaku! Semua orang yang dekat denganku berada di sana da ze! Aku hanya ingin kembali hidup normal sebagai Im Yong Soo—bukan hidup sebagai Professor atau Guru Besar da ze!"

"Aku tidak melarangmu untuk mutasi dimensi, ana."Jelas pemuda di hadapannya dengan tenang, "Kau hanya perlu melakukan hal ini untukku…"

"….."

"Yong Soo, kau terikat sumpah sebagai ilmuwan dalam persekutuan ini, ana."

…..

"Ini bukan hal yang rumit kan, ana?"Ujar pemuda tersebut dengan halus sembari membetulkan kacamatanya, "Kau hanya perlu melakukannya—sebentar, ana."

"…"

"Hanya melakukan hal itu saja, ana"


Langit oranye itu membentang luas sepanjang mata melihat, Yong Soo terpana melihat lanskap dimensi yang berbeda. Tak ada cuaca cerah atau bangunan futuristik yang biasa ia lihat itu. Segalanya terasa berbeda, bahkan rasanya menyenangkan menghirup udara dengan sedikit aroma anyir akan darah. Ini seperti dunia malam yang abadi! Langit oranye gelap!

Ia memandangi sebuah monitor tipis berwarna hitam yang menggambarkan rute-rute di hetaloween. Saat ini ia mencoba melacak tempat tinggal keluarganya itu. Ia kangen sekali—sudah lama sejak Kiku menelponnya, hubungan mereka terputus begitu saja. Memang sulit saling berkomunikasi dengan jaringan biasa antar dimensi. Ia pun juga masih mencari cara untuk membuat perangkat canggih sebagai via komunikasi antar dimensi—karena inilah yang kadang bikin kesalahpahaman antar petinggi dimensi kalau sedang berkomunikasi, siaran jelek dan suaranya yang tak jelas bikin sebal.

Kata-kata pemuda Thailand itu terngiang-ngiang dalam pikirannya—menghantui mimpi buruknya.

"Apa itu?"Seorang gadis cantik dengan rambut oranye memandang penuh ingin tahu di dekatnya, kereta umum ini begitu penuh sesak oleh orang-orang berkostum Halloween, Yong Soo tak tahu ia harus menjawab apa…

Hal seperti ini jarang terjadi di dimensi dua. Semua orang sibuk sendiri—di kereta, mereka semua diam, membaca Koran, memprogram, main game, ataupun membaca buku. Tak ada yang ingin tahu urusanmu sekalipun kau sedang main game porno di depan hidung mereka. Paling banter di kereta membicarakan mengenai ilmu pengetahuan, entah itu membahas senyawa kimia dengan kecepatan berbicara tinggi atau kalkulus. Atau memperdebatkan teori para ilmuwan.

"Wuiih, keren banget yo!"Tambah seorang bocah laki-laki dengan antusias, bocah itu mengenakan kostum beruang warna pink, alisnya tebal dan iris biru itu penuh antusias menatap layar yang ada di pangkuan Yong Soo, "Ini benda apa?!"

Benda-benda di dimensi ini lebih sederhana dan banyak bertemakan tentang Halloween dan sihir—simpul Yong Soo memandang sekitarnya, lebih tradisional dan bergaya klasik.

"Atau kau ini datang dari dimensi lain?" Tampaknya ia mulai di kerubungi pertanyaan-pertanyaan serius dari dua bocah ini. Ah, kangennya…di sana jarang ada anak yang seantusias ini dan punya keingintahuan seperti ini.

Tapi apa mereka akan mengerti jika ia ceritakan tentang benda ini?


Suasana haru tergambar jelas dalam ruangan tersebut, pemuda berambut panjang itu memeluk dirinya ketika pintu terbuka. Semua tampak terkejut dengan kehadiran Yong Soo yang mendadak tersebut, "Ya Tuhan—kau sungguh sudah tumbuh besar aru!"

Rentetan pertanyaan keluar dari semuanya—semua itu bisa di jawab Yong Soo dengan lancar—dan agak cepat. Maklumlah bawaan dimensi dua yang susah hilang.

"Semua makhluk hidup sana keterlaluan pinternya da ze."Terang Yong Soo sembari melempar diri pada sofa empuk berwarna labu, "Dan rumit—belum lagi keributan antar dimensi yang berpengaruh da ze."

Mei-Mei memberikannya minuman dingin dalam sebuah gelas besar, keduanya berpandangan sejenak. "Hehehe, ngomong-ngomong Mei makin cantik ya da ze."puji Yong Soo dengan nada menggoda, yang di puji berkedut kesal namun bersemburat merah lantaran malu, mencoba bersikap cuek dan mengalihkan pandangan, "Dan kau tidak berubah kemesumannya."Balas sang gadis.

Mei bersembunyi di balik tubuh Kiku, dan Yong Soo makin lucu melihat tingkah saudaranya tersebut. Yang di jadikan tameng hanya tersenyum kecut, tampak gugup di hadapkan hal seperti ini. Yong Soo teringat akan sesuatu dan bertanya pada Kiku, "Kiku—kau punya buku dan informasi mengenai dimensi ini kan da ze?"

Kiku mengangguk dan tersenyum hangat, "Tentu, kurasa kau ingin meminjamnya, bukan begitu?"

Yong bangkit dari sofa dan merangkul pemuda dengan rambut hitam legam itu. Mengabaikan gadis Taiwan yang memandang shock adegan di hadapan matanya, "Aku perlu banyak belajar soal tempat ini da ze!"

"Kau…tidak mencari tahu lebih dulu?"

"Hahahaha, pertanyaan bagus, da ze! Semenjak konflik Hetaloween dengan dimensi satu perpustakaan dimensi dua penuh oleh pengunjung—semua tampak panas dan ingin mencari solusi dan pencegahan dini da ze!"

"Benarkah?"

"Yup, dan tampaknya keributan ini juga berpengaruh ya…sinyal makin jelek jadinya da ze."Tutur Yong Soo dengan antusias, "Bukunya ada dalam kamarmu, da ze? Mana kamarmu?"


Natalya terhenyak di ruangan besar itu, tak tahu harus mengatakan apa. Seorang gadis lain bertudung merah sudah berdiri di dekat Ivan—bersama beberapa orang lain yang tampak asing di mata Natalya. Rekan stalkernya sendiri juga tampak membeku saat mereka di berdua di giring ke ruangan ini.

"Jadi inikah wajah asli Pyong Soo?"Tanya pemuda berkostum pemburu dengan senyum cerah, menatap Yong Soo dengan penuh rasa ingin tahu, "Kami sudah menunggumu sejak lama di sini lho."

Apa maksudnya?

"Yong Soo…."

"Kau juga tidak merespon panggilanku kemarin~~jadi—"

Natalya memandang penuh ingin tahu pada Yong Soo, meminta penjelasan semua ini—ia tidak pernah di beritahu apapun mengenai tugas Yong Soo secara spesifik.

….

Guits

..

?!


.Aku harus menikahi putri wilayah dongeng tersebut—gadis bertudung merah dengan iris emerald yang jernih….

Aku membohongimu da ze…bahwa Ivan tidak pernah menyuruhku untuk ke taman da ze…

.

..

Bahwa aku hanya mencoba mengihindari…

.

.

..

..Mian he…


Semua terasa menyenangkan, langit oranye gelap tak banyak di hiasi awan ungu—rasi bintang amat terlihat jelas dan nyata. Keseimbangannya sedikit goyah saat menaiki sapu terbang tersebut, Yong Soo memandang sekitar di mana beberapa orang sibuk menghias dan melukis untuk malam ini. Terpana bagaimana suasana ceria tergambarkan, semua tampak menikmati bagaimana mendandani malam. Dengan cokelat, manisan, dan berbagai lukisan. Karena langit dimensi ini akan selalu berwarna oranye yang membosankan, akhirnya di buat inisiatif untuk menghiasi langitnya dengan sesuatu yang menarik.

Mei-Mei dan Hong menunjukan beberapa tempat yang menarik, termasuk mengenalkan beberapa pelukis langit senior seperti Feliciano dan gadis cilik bernama Lily. Mereka mengatakan bahwa melukis langit itu tidak gampang dan perlu pendidikan khusus. Bahkan bahannya pun di buat spesial. Mendadak Yong Soo terpikir sebuah ide menarik dan akhirnya merakit sesuatu dari sisa kabel elektris yang di bawanya dari dimensi dua. Ia tidak tahu apa ini bekerja atau tidak, Ia hanya terpkir dari sesuatu yang kecil seperti itu…

PATS

Semua mata terpana ketika akhirnya Yong Soo menekan tombol, di mana kabel elektris itu membentuk garis tipis di langit—menggantung beberapa manisan dan bintang membentuk pola semacam bola. Gantungan itu tampak melayang dan bergerak perlahan dengan indah.

….

..

Dan meski tubuhnya kedinginan serta bersin berkali-kali ketika ia pulang, toh, Yong Soo tak menyesalinya. Ia senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan hal yang menarik seperti itu. Pintu kamarnya terbuka dan setelah menguncinya, ia merebahkan diri ke atas kasur. Mencoba membuang lelah yang menggerayangi dirinya.

Kembali benda tipis berbentuk persegi panjang berdering di dekat dirinya. Alisnya bertautan dalam. Panggilan itu datang lagi—menusuk hatinya. Meremas dengan pedih. Panggilan yang sedari tadi ia tolak, tak ia angkat, apalagi saat dirinya tengah menikmati waktu bersama dengan keluarganya…

[…Apa yang kau lakukan?!]

Suara yang nyaring itu membuat telinganya berdenging sejenak—pria di seberang sana tampaknya marah dari pada panik. Ia bahkan belum mengucapkan sepatah kata apapun dan mendadak harus mendapat panggilan mengerikan ini, Ya Tuhan….orang itu tidak kenal istirahat, ya?

[Hei—aku lelah, da ze. Aku ingin tidur da ze. Berhentilah….]

[Kau pikir aku akan terima begitu saja dengan hal ini?! Semua orang memakimu sekarang! Apa yang kau pikirkan dengan melakukan hal ini hah?!]

Suara seorang Mathias serasa menghantam Yong Soo. Untuk sejenak Yong Soo membiarkan si kambing itu berceloteh panjang lebar mengenai dimensi dua—termasuk berita-berita elektris yang sudah ia lewatkan.

[…Tapi maaf…kurasa aku tidak bisa….]

..

[Ap—]

..

..

[…Aku….]


Mathias terpengarah ketika komunikasi mereka terputus secara sepihak. Peluh menetes dari pelipisnya dan ia bisa merasakan tatapan intens penuh keingintahuan dari kumpulan orang berjubah putih lainnya yang tengah berdiri di belakang punggung. Semua orang saling berbisik dan membahas sesuatu. Sadiq mulai berfirasat ada masalah yang datang—dari ekspresi panik Mathias, ia bisa tahu…

"Hei!"Sapanya menepuk punggung pemuda Denmark itu dengan cukup keras, "Kau baik-baik saja?"

Ia mulai memikirkan untuk memesan minuman penenang lewat android yang tengah menunggunya di bawah ballroom. Mathias tampak pucat sekali—Apa yang di katakan Yong Soo memangnya? Sesuatu yang menyeramkan?

Bahu itu melemas, dan perlahan pemuda hiperaktif memandang sosok Sadiq Adnan di dekatnya dengan pandangan kosong. Sekarang Sadiq jadi makin khawatir—ia perlu meminta bantuan—

"Yong Soo…."

….

.

"Ia melanggarnya…."


"Jadi begitu…"

Yong Soo mengangguk dan memandang Natalya yang berdiri di atap mereka dengan ragu, "Begitulah, da ze. Aku akan menikahi si putri bertudung merah tersebut da ze."

"Sigh, lalu kalau begitu kenapa kau harus berbohong?"Tanya Natalya dengan sebal, "Untuk apa kau repot-repot membawaku ke taman dan kabur hanya untuk menghindari acara tersebut?"

….

..

"Dengar ya. Kalau kau pikir aku akan sakit hati mendengarnya kau salah."Sambung Natalya dengan penuh emosi, "Aku tidak peduli kau mau menikah dengan siapa—karena aku masih mencintai Kakak lebih dari apapun."

Gadis itu berbalik, meninggalkan Yong Soo yang membatu di penuhi oleh pemikirannya sendiri. Serabut awan ungu menaungi keduanya dan angin berhembus cukup kencang di puncak menara tersebut, ia bisa melihat bendera berwarna merah yang berkibar—sepertinya akhir-akhir ini menara ini menjadi tempat bicara mereka.

"Sebaiknya kau cepat menemui kembali si calon istrimu itu."Pesan gadis Belarus tersebut dengan dingin, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya membuka pintu.

"Tunggu da ze!"Yong Soo berseru memanggil dan mencegatnya di pintu, "Pada hari pernikahan itu—Yao-hyung dan Ivan akan berangkat bersama da ze!"

Sepasang iris violet itu memandang penuh selidik sebelum akhirnya menggerakan tangannya, menyingkirkan Yong Soo sesaat. Melewatinya dengan cepat. "Aku bisa mengurusnya sendiri."

"…"


Asap mengepul dari botol panjang tersebut—rentetan cairan di campur. Membentuk variasi warna yang signifikan. Keheningan menyelimuti tempat itu, sang peramu tampak berkonsentrasi membuatnya. Meraciknya sebagai minuman spesial.

Minuman untuk sebuah pesta pernikahan—Untuk sebuah momen….

…..

..


Ada banyak yang tidak di mengerti Natalya mengenai rekan stalkernya itu, simpulnya, gadis itu melangkah menyusuri koridor di kastil berbatu tersebut. Pemuda itu menyisakan misteri baginya—misteri yang mengusik hatinya. Ia ingin tahu lebih banyak—yah, mungkin bisa di atakana bahwa ia sedikit tertarik.

Ia hanya tahu bahwa Yong Soo itu ilmuwan di dimensi lain—Kiku juga bilang begitu, tapi ada satu pertanyaan yang sejak dulu, saat Yong Soo menceritakan sedikit mengenai latar belakangnya. Ada sesuatu yang lain di mata beriris cokelat gelap itu.

TAP.

Dan langkahnya terhenti di tempat itu, menatap bingung pemuda yang tengah berkomunikasi dengan benda asing. Sosok itu terlihat asing di matanya—seperti bukan Yong Soo yang biasa ia kenal.

Sosok itu tampak serius—dingin dan agak terlihat arogan; baginya. Mata itu sayu tanpa jiwa sementara itu mulut tersebut bergerak mengucap serangkai kalimat yang tidak di mengerti Natalya.

'[000110010101010…]'

..

Pemuda itu tampak asik berbicara sesuatu, dengan bahasa yang sama sekali tidak di mengerti Natalya.

…..

..

"Yong….Soo?"

..

Ada rahasia yang di pendam pemuda tersebut

….

"Kau…bicara apa?"


Under the Pumpkin Sky Chapter 2 : To be Continue


Mini dictionary [From chapter 01]

Jan-inhan : Kejam.

Mannaseo banggapseumnida : Salam kenal.

Yongseo : Ampun

Geulib : Nona

Mian he : Maaf

Eo, geuraeyo : Eh, benarkah?

Ganshamnida : Terima kasih

Annyeong : Halo

-Refrensi—

(#)Buku percakapan lima bahasa + Kamus mini bahasa Korea


[Reich Akira private corner]

Play : Miliyah Kato – Sayonara Baby

.

Yosh, annyeong, kembali dengan saya . Tak terasa sekarang sudah mencapai chapter dua—dan Alhamdulillah bisa selesai di tengah kepadetan sekolah#sujud. Sungguh berupa suatu perjuangan bagi daku untuk ngetik beginian ;w;

Bagaimana? Aneh, ya? Ngaco? Bikin bingung? Iya, iya, saya juga bingung waktu nulisnya soalnya saya langsung tanpa ketik plot di notepad kaya' biasanya. Dan di sini timeline-nya amburadul ya, iya, alurnya jumpalitan kedepan-kebelakang kaya' di Willow…dan saya udah usaha supaya nggak jebol-jebol amat#ngumpet.

Eh, suer, saya ini nggak pengalaman baik dari RL maupun maya kalau soal romance. Dan gomen kalau rada OOC—hiks, hiks, emang daku ini perlu banyak belajar, ya ;w;

Nggak bisa banyak yang bisa saya katakan di sini. Monggo, kalau ada kritik dan saran, atau pertanyaan soal fict ini—barangkali ada yang kurang jelas, atau ada kata asing yang lupa saya kasih terjemahannya. Saya tunggu responsive Anda~~

And the last, thanks buat semua pihak yang udah bantu-bantu and support saya buat publish beginian. Ini pertama kalinya saya ikut challenge, lho ;w; spesial buat kak Chii, makasih banyak, maaf dedekmu ini merepotkan banget…==

Sore ja, mata ashita!