Lost Angel's
.
.
'SemeTae'
.
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
.
.
Wewangian yang menari didalam benak Jungkook terasa memabukkan, penuh peringatan. Kecaman dengan berbagai varian rasa kenikmatan yang sering para jalang rasakan diluar sana. Sayangnya, Jungkook merasakan kegilaan yang bahkan melebihi ekspetasi yang sering kawanan jalangnya pernah jabarkan kepadanya. Cerita seks Namjoon dan Seokjin tidak berarti apa-apa baginya dibandingkan sentuhan penuh minat selembut kapas yang menjelajahi tiap inci kulitnya.
Jungkook menyukainya. Berharap permainan jahanam ini tidak pernah berakhir menyiksa tubuh dan menyentak kewarasannya sampai pada titik terendah.
Hanya mata sekelam malam yang menyapa pandangan berkabutnya. Tenggorokkan Jungkook tercekat. Terbakar oleh rasa panas yang menerjang tubuhnya tanpa peringatan kenikmatan yang berlimpah dari sesosok malaikat tanpa sayap,
-Kim Taehyung.
.
잃어버린천사
.
Chapter.1 (Superiority)
.
Bibit bunga sakura yang Jungkook tanam beberapa bulan lalu ditaman umum dekat apartemennya telah tumbuh perlahan mengakar pada bulir tanah asing yang bukan tempat sewajarnya. Kuncupnya mengkerut layu belum sempat mekar seindah harapan Jungkook.
Pemuda itu terus menghela napas kecewa sembari memperhatikan tanaman menyedihkan karena keinginan egoisnya untuk melihat bunga favoritnya bisa mekar secantik ditempat asalnya.
"Naifnya.." -Jungkook menengok lemas pada Jimin. Gelengan prihatin Jimin membuat Jungkook ingin menampar wajah si sialan itu. Terlihat tidak tulus sama sekali.
"Kau bangsat. Pagi-pagi sudah berkunjung ke apartemen ku. Ingin mengemis sarapan?"
"Ish.. Ish.. Kasar sekali. Aku kan hanya ingin mengunjungimu."
Jimin menjerit sakit kala sepatu kets nya yang tipis diinjak sambil lalu oleh Jungkook. "Bocah sial!" Makian Jimin abai ditelinga Jungkook. Jari tengahnya terjulur keatas berusaha memancing Jimin untuk mengikuti langkahnya.
Jungkook sangat tahu perihal kesibukannya pagi ini tidak akan banyak membantu mengusir kebosanan. Jimin sudah pergi dua jam yang lalu sehabis merampok isi lemari pendinginnya dengan tidak tahu malu, meninggalkannya seorang diri saat sedang mandi tanpa berpamitan sama sekali.
Lembaran sketsa separuh jadi banyak tersebar ditiap bagian lantai kamar tidurnya. Jungkook pusing dan terlalu malas untuk merapikannya.
Hari ini tampak berbeda dari yang biasanya. Tubuhnya lesu tak bertenaga. Nyawanya tersedot habis oleh hal yang tak kasat mata. Jungkook tidak tahu pasti apa penyebabnya. Hanya saja, mimpi semalam sudah jelas ikut mengacaukan harinya.
"Sayang sekali. Padahal, cuaca diluar sedang bagus."
Matanya tidak sengaja mendapati lembar essay tentang tugas bahasa yang belum dikerjakannya tergeletak begitu saja diatas meja belajar. Belum ada isian sama sekali selain nama lengkapnya yang tertulis rapi.
"-haruskah? Tapi aku tidak punya ide untuk mengisinya kali ini."
Pada akhirnya, ia tergesa mengganti pakaian rumahan yang dikenakannya dengan jumper army dan sepotong celana kain yang menggantung enggan dipinggang rampingnya. Cara berpakaian yang sembrono dan tidak modis. Masa bodoh. Toh, Jungkook hanya akan pergi mencari udara segar sembari menyempatkan diri menyelesaikan essay nya yang belum rampung.
Segalanya terasa lebih baik untuk sekarang.
Suara percikan air, bising kendaraan, serta kucing bermata biru yang biasanya Jungkook lihat diujung jalan menuju apartemennya membuat dirinya merasa tenang. Rutinitas harian yang akan selalu ia temui selama ia masih berniat menapakkan langkahnya pada jalur yang sama. Juga sepasang sepatu putih menggantung aneh pada salah satu dahan pohon. Semuanya terekam jelas layaknya hembusan napas.
Jungkook mampu menggambarkan representasi yang sempurna dari setiap sudut jalan yang pernah dilaluinya. Detail, tak bercela. Seratus persen akurat.
Seluruh ingatannya selalu tampak baru.
"Ingin pesan apa, Sir?"
Pria bule tersebut tersenyum ramah kala melihat kedatangan Jungkook. Keduanya saling berjabat tangan sebelum akhirnya Jungkook dipersilahkan duduk terlebih dahulu.
"Maafkan aku. Kau pasti bosan karena hampir setiap hari melihatku di café mu."
Smith tertawa renyah menanggapi gerutuan Jungkook yang ia tujukan untuk dirinya sendiri. Terlihat kekanakkan dan lucu. "Big no! Kau salah satu pelanggan yang kuharapkan untuk tidak pernah bosan datang ke café ku. Tolong, jangan berpikiran seperti itu."
"Smith. Kau terlalu ramah untuk ukuran orang Amerika."
"Pujian?"
Jungkook mengangkat bahunya acuh. "Mungkin. -Kau mengganti vas bunga didekat meja kerjamu?"
Smith ikut melongokan kepalanya pada jajaran vas bunga mini berwarna pastel yang tertata rapi diatas meja kerjanya.
"Yeah. Itu pemberian dari ibu mertuaku. Istriku memaksa agar vas nya diletakkan disana. Kau tau sendiri, Betrice benci dengan hal-hal berbau bunga." Jungkook mengangguk setuju, sesekali menanggapi ocehan Smith dengan segala titik bengek perkara rumah tangganya.
"Kau kesini pasti untuk menggambar, kan? Atau mungkin menulis diary?" Jungkook memicing sebal mendengar gelak tawa pemuda berambut ikal tersebut setelah berhasil mengucapkan kalimat tanya keduanya.
"Aku tidak pernah menulis diary. Itu catatan rutinitas harianku!"
"Baiklah. Apapun itu, santai saja selama yang kau mau disini. Pesananmu sudah datang. Seperti biasanya secangkir Americano, alright? Dan aku harus menyapa pelangganku yang lain."
Smith menunjuk secangkir Americano pesanan Jungkook yang dibawakan oleh salah satu pelayan wanita di café nya. Keduanya beradu kepal sebelum Smith benar-benar meninggalkan Jungkook sendirian untuk tenggelam dalam dunianya.
Jungkook menatapi langit cerah dari balik etalase café setelah Smith pergi untuk kembali melayani pelanggannya yang lain. Bias cahaya terlihat cantik terpantul pada tiap lempengan besi jalan yang saling berhadap-hadapan menghantarkan seberkas cahaya yang sama silih berganti tanpa terputus.
Buku kecil dengan sampul transparan Jungkook keluarkan dari saku celana kainnya dan sebuah pulpen yang tintanya hampir habis. Kebiasaan yang selalu Jungkook lakukan kapanpun, dan dimanapun ia berada. Catatan lengkap tentang segala aktivitas harian maupun ingatan yang sering terlintas dikepalanya. Otaknya terbiasa merangkai kata maupun menyatukan ribuan garis seindah lukis. Jungkook terbiasa.
Namun, kali ini berbeda. Sosok familiar yang sejak semalam mengganggu tidurnya seolah memaksa Jungkook untuk merealisasikannya dalam bentuk tulisan tangan. Menjelaskan dengan rinci bagaimana rupa yang membayangi tidurnya semalam. Keningnya berlipat bingung.
Tulisan tangannya berjalan lancar sebelumnya. Jungkook bahkan hampir selesai pada seluruh ciri wajah yang ingin segera ia gambarkan diatas kanvas. Goresan tintanya terhenti pada saat ia hendak menuliskan warna rambut yang dimiliki pemuda rupawan dalam mimpinya.
"Aku melupakan warna rambutnya?"
Seakan ada yang melarang dirinya untuk mengingat kembali rupa tersebut.
"Tunggu sebentar. Apa matanya berwarna abu-abu?" Jungkook menarik dagunya sebal. Takjub mendapati dirinya melupakan suatu hal yang seharusnya sangat mudah untuk ia ingat. Namun, lagi-lagi kabut samar dengan sengaja memburamkan daya ingat Jungkook.
Pipinya menggembung jengkel mengetahui kemampuan mengingatnya seakan hanya berupa bualan yang tidak bisa ia percayai sekarang.
"Sial. Aku jadi kepikiran hanya karna ini."
Jungkook menjatuhkan pulpen ditangannya, tersentak mendengar intro music dari Kenny G yang cukup keras dimainkan dengan saxophone. Terdengar tegas dan mendayu. Tergambar jelas kelihaian sosok yang memainkannya dalam tiap alunan nada semanis madu yang diperdengarkan.
Matanya berpendar bingung mencari sosok yang memainkan saxophone dengan seindah itu.
Remember the time we spent together.
Remember the days I dreamt forever.
Pikirannya seperti terbang keawang-awang. Ingatan Jungkook yang sebelumnya samar untuk beberapa saat kini kembali jernih.
"Hazel?"
Disudut jalan yang ramai. Seorang pemuda bersetelan serba hitam memainkan saxophone dengan mouthpiece berbahan ebonit kelam. Punggung kokohnya menghadap Jungkook. Rambut berwarna cokelat gelapnya tertiup angin sepoi.
.
.
TBC
Haii... Akhirnya aku sempat juga buat ngepost chapter 1 nya, hhehee
aku harap kalian suka dan bersedia buat ninggalin jejak dikolom review T_T
mungkin terkesan ngemis banget buat minta di review padahal ff amatiran kek gini T-T
Seriously, aku gk bisa bohong kalau review dari kalian itu penting banget buat nyemangatin aku nulis ff ini..
huuffpp..
Sampai bertemu di chapter selanjutnya :3
.
.
'SemeTae'
[11 September 2018]
