"Yeah, I wish..."
This is my first fanfict and originally mine. I hope you all like it and I'm sorry if the story is a bit odd hehehe...
Happy reading!
This magic story is Mum JK'S but the plot is mine.
Big thanks for the reviews33
Ochan-malfoy: Makasih yaaa, iya aku author baru hehe. Maunya juga cepet sih hehe, Cuma 2 minggu lagi ulum nih jadi kayaknya chapter 3 dst. Bakal agak lama hehe. Makasih semangatnyaaa 3 Yuina- Noe Chan: Okok :D Brilliant Hermione: Hehehe, maaf ya agak gaje. Ceritanya, Draco lagi penasaran makanya baik hehe. LalaNurrafa GemasangkalaOke: Makasihh. Iyanih, author nilai jelek hehe. Apalagi gurunya wkwkwk.
Chapter 2
Hermione, Harry dan Ron seperti biasa turun untuk sarapan di Aula Besar. Namun, dari koridor menuju Aula Besar terdengar keributan yang cukup heboh. Pasti Slytherin, gumam Hermione.
Mereka bergegas untuk mengetahui apa yang terjadi. Mulut Hermione terbuka lebar, yang langsung ditutup dengan tangannya. Dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Alex, sepupunya sedang dikerjai oleh anak-anak Slytherin yang dipimpin oleh... Tunggu! Draco Malfoy?! Untuk apa dia mengerjai Alex? Awas saja dia!, batin Hermione. Hermione berlari menuju Alex yang sedang digantung terbalik di depan pintu Aula. "Apa-apaan ini? Minggir, minggir!", teriak Hermione sambil terengah-engah menembus kerumunan warga Slytherin yang tertawa puas. "Hei, Mudblood! Tampaknya mummy mencarimu! Turunkan dia, Crabbe!", teriak Draco dengan senyum separuhnya yang membuat setengah perempuan penghuni Hogwarts tergila-gila padanya, termasuk si Moaning Mrytle. "What are you doing with my cousin Draco?! You think that was funny huh?", maki Hermione tepat di depan Draco. "Santai, Granger. Aku hanya ingin berkenalan dengan anakmu, tapi dia menolak dan mengatakan bahwa kau melarangnya untuk berteman denganku. Benarkah itu Granger?", tanya Draco. Oh, Draco tidak mungkin benar-benar ingin berkenalan dengan Alex, alasan saja. Dasar Ferret, batin Hermione. "Tentu saja aku melarangnya! Untuk apa dia berteman denganmu, Ferret? Untuk menjadi budakmu, hah? You wish!", jawab Hermione dengan suara tinggi. "Tunggu! Berkenalan dengan anakmu? Anak siapa?", teriak Hermione. "Tentu saja anakmu, Granger. Alex itu anakmu, kan? Mengaku sajalah! Aku tidak bisa dibodohi seperti Dumbledore!", jawab Draco. Hermione terdiam beberapa saat.
Dan tiba-tiba...
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!", tawa Hermione, Harry dan Ron pecah seketika. Mereka bertiga tertawa seperti orang gila. Bahkan, Ron sudah berguling-guling di lantai karena perutnya sakit. Draco menaikkan sebelah alisnya bertanya-tanya. " . .", ucap Hermione yang masih terengah-enagh karena terlalu banyak tertawa. "Alex bukanlah anakku oke. Dia sepupuku.", ucap Hermione dengan penekanan pada kata terakhir. Draco melongo. Semburat kemerahan muncul di pipi pucatnya karena malu. Ia dan antek-antek Slytherin-nya segera meninggalkan Aula Besar. Kemudian, Alex memecah keheningan. "Emm, trims, Mione. Kau telah menyelamatkanku.", ucap Alex ragu-ragu. Hermione membalas ucapan Alex dengan senyuman. Mereka kemudian berpisah. Hermione, Harry dan Ron menuju Menara Astronomi, sedangkan Alex berjalan ke Kelas Ramuan.
Di Menara Astronomi...
"Ferret piramg itu benar-benar bodoh! Jangan-jangan dia habis meminum segalon Wiski Api?", maki Hermione. "Sudahlah, Mione. Yang penting segalanya sudah jelas. Ingat, lho. Dia Prefek.", ucap Ron . "Tanpa kau ucapkan, aku sudah tahu, Ron", ucap Hermione sarkastik. "Memangnya kenapa kalau si Ferret itu Prefek? Justru dia telah menyalahgunakan jabatannya. Masa malah mengerjai murid? Dia memang bodoh.", ucap Harry. Hmm...benar juga yang dikatakan Harry. Jika aku seorang Prefek, aku bisa mencegah Draco mengerjai Alex, batin Hermione. Tanpa sadar, Hermione berteriak , "Harusnya aku dulu menerima tawaran Professor McGonaggall! Bodoh sekali aku! Seandainya aku Prefek juga atau Ketua Murid sekalian deh, pasti Draco tidak berani macam-macam dengan Alex!" Saking frustasinya, Hermione tidak menyadari kalau Harry dan Ron meninggalkannya. Hhhhhhhh, Hermione menghela napas panjang.
Peeves yang selalu mengunjungi Menara Astronomi di waktu sarapan untuk memergoki murid tahun pertama yang sedang berduaan, mendengar teriakan frustasi seorang murid perempuan. Peeves tersenyum jahil dan mendekat ke sumber suara tersebut. Dilihatnya Hermione sedang duduk sambil terisak di pojok Menara Astronomi. Wah, wah. Jarang sekali aku melihat Miss Granger menangis. Dan, apa tadi Ia bilang? Ia ingin menjadi Prefek? Berita baik itu akan kusampaikan secepat kilat!, ucap Peeves dalam hati. Sedetik kemudian Ia pergi menuju Kantor Professor Dumbledore.
Di Kantor Professor Dumbledore...
"Toffee apel.", ucap Peeves. Kemudian, Peeves melayang naik. "Masuklah.", ucap Proffesor Dumbledore setelah mendengar ketukan di pintunya. "Kau rupanya, Peeves. Ada apa?" tanya Professor. "Professor, aku baru saja diberitahu oleh Miss Granger bahwa Ia ingin menjadi Prefek. Oh, kalau menurutku sih, lebih baik Ia dijadikan Ketua Murid saja!", jawab Peeves bersemangat. "Miss Granger, ingin menjadi Prefek? Padahal tawaran McGonaggall waktu itu ditolaknya. Baiklah, Peeves. Usulmu kuterima dan akan kupikirkan terlebih dahulu. Terima kasih.", ucap Proffesor Dumbledore. "Sama-sama, Prof.", ucap Peeves riang. Kemudian, Ia langsung ngacir entah kemana.
Miss Granger, mungkin sudah waktunya Ia menjabat. Namun, dengan siapa Ia menjalankan tugasnya?, tanya Professor Dumbledore dalam hati. Ia membetulkan letak kacamata separuh-bulannya yang melorot. Tanpa sadar, Ia melihat ke arah sebuah foto Tim Quidditch. Dan Professor Dumbledore pun telah menemukan pasangan untuk Hermione...
