Hai minna-san! Akhirnya muncul juga ide buat capter 2 ini \(^o^)/
Dan saya juga baru nyadar, kalau capter 1 lupa diberi judul! Buat para readers, mohon maaf soal yang satu ini ya! Saya emang orangnya nggak teli..
Dan kalau boleh ngaku, sebenarnya ini fanfic pertama saya (Fic pertama langsung bikin rated M), jadi mohon maaf jika masih banyak kekurangan, dan ingat, kritik, saran, flame akan selalu saya terima dengan senang hati!
Oke, dari pada bertele-tele, langsung saja, here we go!
Vocaloid Fanfiction
Happy Birthday, Marry me Maybe?
Capter 2 : "Time Passed Too Fast"
Pair : Kagamine Len x Rin (Not incest)
Genre : Romance/Family
Rated : M (For Lemon and Mature content)
Warning : Alur kaga jelas, typo bertebaran (ane emang kaga pernah teliti ama yang satu ini), OOC (maybe) dll
Summary : Semua orang tentu menantikan hari-hari ulang tahun mereka tak terkecuali Rin dan Len,mereka berdua bersahabat sejak SMP, yang kebetulan lahir di hari yang sama. Namun di hari ulang tahun mereka, kedua mahasiswa ini justru tengah disibukkan oleh ujian ahir dan tugas-tugas kuliah. Meski Len sudah sejak dulu bersama dengan Rin, hubungan diantara keduanya hanyalah sebatas teman. Benarkah begitu? Multiple capter
26 December ,
04.30 a.m
Rin's POV
Terdengar suara derap kaki yang cukup berisik dari luar kamar. Kedua mataku masih terasa berat untuk di buka, namun suara berisik dari luar cukup untuk mengembalikan seluruh kesadaranku. Kulirik jam dinding kamar, masih terlalu pagi untuk beraktifitas.
Namun rasa ingin tahu mendominasiku, dan mendorongku untuk melihat langsung keluar, mencari tahu apa gerangan yang sedang terjadi di luar kamar. Apa ada perampok masuk? Atau Len Mabuk lagi?
"Ah, kau sudah bangun, Rin?"
Kulihat Rinto nii-san tampak tergesa-gesa dengan penampilannya yang masih amburadul. Berulang kali ia bolak balik keliling rumah mengambil beberapa lembar kertas yang sudah dapat kutebak apa itu.
"Dapat tugas lagi nii-san?"
"Iya, 10 menit lalu aku dihubungi Gakupo-san, katanya mendadak aku dipanggil untuk menghadiri event penting di luar kota. Aku harus menyerahkan hasil pengamatanku selama 3 bulan ini, dan mempresentasikannya hari ini"
"Pengamatan..?"
"Ya… ya itu! Oke, aku berangkat dulu, ya! Untuk sarapan kau dan Len makan saja cake yang kemarin kutemukan dalam tasmu, itu kusimpan di lemari es, yosh, itekimasu!"
"itedashai…"
Kue? Ah, kue yang kemarin Len kasih? Oh iya, itu masih ada dalam tasku. Tunggu, apa nii-san sendiri sudah sarapan? Dasar, nii-san memang selalu memperhatikan orang-orang yang di sekitarnya, tapi suka lupa dengan kebutuhannya sendiri.
Perlahan kulangkahkan kakiku menuju dapur, yang terletak di sebelah ruang Tv. Oh ya, bagaimana dengan Len?
"GROOOK… ZZZ GROOOK…."
Dia pasti tidur pulas, toh suara dengkurannya sekeras itu. Perlahan aku berjalan pelan mendekati kursi sofa, berusaha agar tak menimbulkan suara sedikitpun. Rasanya nggak enak kalau menggganggu orang lain yang sedang istirahat. Apalagi kemarin banyak yang terjadi…
Ah! Sudahlah! Yang lalu biarlah berlalu, hadapi saja apa adanya sekarang. Kulihat tak ada sedikitpun penerangan dalam ruang tamu itu. Ck, lampu, you no nyala pas orang lagi butuh? Aku yang memang takut menabrak perabotan atau badan Len yang sedang istirahat, perlahan merangkak di lantai guna mencari lampu pijar kecil di atas meja ruangan yang seingatku tak jauh dari…
JDUK!
Yah, baru juga dipikirin, ternyata dugaanku benar adanya. Kuraba-raba bagian kap lampu yang berada beberapa inci dari wajahku. Menelusuri bagian tiang pilar, hingga tiba di kap dasar, tempat beradanya tombol on yang sudah lama kucari-cari.
Klik! Lampu menyala, namun tak terlalu terang. Memang aku sengaja hanya menyalakan lampu kecil ini, dan bukan lampu ruangan, takut nanti mengganggu tidur Len.
Lho, aku tak ingat membiarkan bagian pinggang Len ke bawah tak tertutup selimut, apa Rinto nii-san yang menyikapnya? Dasar usil.
Kuraih ujung selimut berisi kapuk tebal itu, dan menutupi seluruh tubuh Len hingga pundak. Pandanganku terpaku pada wajah Len yang berhias peluh, apa dia kepanasan tadi malam?
"Dasar Len, bisa-bisanya kepanasan di malam musim salju…"
Kuambil selembar kertas tissue dari tissue box yang tergeletak di atas meja. Berhubung aku tak tega melihatnya tidur berteman peluh basah, kusekar cucuran keringat yang membasahi wajahnya.
Kuusap setiap sudut wajahnya yang terlihat basah hingga tetesan keringat itu berpindah ke kertas tissue yang kugenggam. Entah reflek atau apa, aku yang awalnya hanya menyeka keringat di wajahnya, mulai turun hingga leher jenjang Len, mengingat bagian sini juga tak kalah basahnya.
Sudah lama nggak sedekat ini dengan Len. Darah serasa mengalir ke wajahku. Degup jantungku berpacu keras mengikuti tiap tetes peluh yang mengalir di tubuh Len. Yang jadi pertanyaanku, kenapa keringatnya justru bertambah setelah kuusap? Dan, akupun tersadar…
Oh, betapa bodohnya aku, kenapa aku menyelimuti Len padahal ia kepanasan? Astaga, pantas Len tak kunjung berhenti berkeringat.
Kutarik selimut itu hingga membiarkan seluruh permukaan kulit Len bernafas lega. Kulipat kembali selimut itu, dan meletakkannya di sudut lain sofa . Kulihat Len nampak lebih nyaman sekarang. Kuperhatikan, wajah Len saat sedang tidur kelihatan polos seperti anak kecil.
Perlahan kembali kudekati si sleeping shota. Tak terasa seulas senyum merekah di wajahku. Lho? Kenapa aku jadi senyum-senyum sendiri? Tapi, rasanya sudah lama sejak terakhir aku sedekat ini dengan Len.
Kami memang jarang bisa mangadakan 'private time' seperti dulu saat SMP dan SMA. Waktu berjalan cepat ya? Padahal rasanaya baru kemarin buku Biology kita tak sengaja tertukar, dan kejadian itu justru mengawali perkenalan kita saat SMP.
Dulu, rasanya ada banyak waktu yang kuhabiskan bersama Len. Bukan sebagai seorang laki-laki atau teman tapi mesra, atau yah, istilah-istilah gaul lainnya yang justru menurutku norak itu. Len adalah Sahabatku, dan sungguh naïf dan egoisnya aku jika hanya agar 'lebih dekat' dengan Len, aku ingin menajdikannya pacar. Bagiku pacaran yang hanya berbuntut pada kata 'putus' yang sudah pasti akan merusak hubungan pertemanan, adalah hal yang paling tak ingin kualami dengan Len. Karena, aku dulu sudah berjanji….
"Rin?"
Len nampak mengerjapkan matanya berulang kali sambil berusaha duduk. Kulihat kedua alisnya berkedut, dan gerakannya berhenti saat ia hendak bangkit dari posisi terlentangnya.
"Jangan paksakan dirimu dulu…" Ujarku seraya berpindah tempat duduk di dekat Len, dan membantunya bersandar pada kursi sofa. Kedua matanya masih tertutup rapat, sambil sesekali ia memijat pelipisnya.
"Kau kurang enak badan?" Tanyaku
"Cuma pusing… Kemarin apa yang terjadi?"
Astaga. Kenapa langsung Tanya soal itu?
"Kau mabuk, itu saja"
Kau pikir aku mau menceritakan semua kejadian memalukan itu?!
"Tak ada yang lain?"
Geez Len, kenapa kau harus meragukanku? Eh, kurasa wajar kalau kau ragu, yang kukatakan'kan Cuma bohong.
"Ya.." Jawabku singkat. Sudah kuduga akan begini jadinya. Tapi yah, syukurlah ia tak ingat dengan kejadian kemarin.
Len yang masih nampak linglung dan loyo, bersikeras untuk berusaha berdiri walah akhirnya ia nyaris jatuh.
"Hei, kubilang jangan paksakan dirimu dulu!"
Kutarik bahu Len agar kembali duduk di atas sofa. Dari dulu dia memang selalu keras kepala. Kali ini saja, tolong dengarkan aku tuan Kagamine!
Menasehati Len sama saja dengan bicara dengan batu. Ia takkan mungkin mendengarkanmu. Len kini nampak sudah siap untuk mencoba berdiri. Namun kali ini lagi-lagi tubuhnya tertarik arah gravitasi ke bawah. Reflek kuulurkan tangan agar tubuhnya tak mendarat dengan keras di lantai. Sial betul, aku lupa kalau Len lebih berat dariku, dan aku justru ikut jatuh.
GDEBUK
Kami berdua sukses mendarat di lantai. Namun aku tak terlalu merasakan sakit, karena Len yang terlebih dahulu jatuh.
Di saat yang bersamaan, kudengar derap kaki dari pintu depan. Jangan bilang kalau….
"Rin, aku pu-…lang….?"
GA-WA-AT!
Flashback 5 menit yang lalu
Rinto's POV
Segera kuputar arah kemudi mobilku kembali ke rumah begitu kubaca sebuah pesan singkat dari Gakupo
From : Gakupo Kamui
To : Rinto Kagane
Message
Pertemuan hari ini dibatalkan. Diundur 2 hari lagi
Sial! Mana tadi udah buru-buru ampe nggak sempet sarapan, malah acaranya dibatalin! Apes nian! Tapi yah, ambil sisi positifnya aja, deh. Pagi ini aku bisa sarapan bareng Rin dan Len setelah 3 bulan terakhir aku jarang di rumah karena sibuk dengan urusanku sendiri. Kuharap hari ini Rin masak sarapan enak. Eh, tapi tadi, kan aku suruh dia sarapan kue, nggak mungkin dia masak! Aduh!
Jam berapa sekarang? Kulihat layar ponselku menunjukkan digit pukul 04.40 . Len sudah bangun belum,ya? Dan, Apa Rin tidur lagi setelah tadi bangun?
Aku masih kepikiran dengan kejadian kemarin, Sepertinya yang kemarin Meito ucapkan ada benarnya. Dan mungkin aku sudah ketularan mesumnya hingga entah kenapa tadi malam aku sengaja pergi ke supermarket 24 jam untuk membeli alat kontrasepsi. Astaga…
Aku bahkan tak pernah pacaran walau 5 tahun lagi aku sudah jadi om-m berumur 30 tahun, dan selama itu pula aku tak pernah menjalin hubungan asmara dengan siapapun. Huh, kurasa anak-anak jaman sekarang puber kecepatan. Bahkan Len dan Rin yang selisih 4 tahun dariku, dan mereka sudah pernah mersasakan yang begituan ya? Ckckck…
Tak terasa rumah yang menjadi tujuan akhirku sampai juga. Kulihat lampu kamar Rin sudah dimatikan. Apa ia tak tidur lagi setelah tadi bangun?
Kuambil kunci rumah yang memang hanya dimiliki olehku dan Rin. Bukan berarti aku belum bisa mempercayakan rumah pada Len, males aja kalau harus bikin duplikatnya.
GDUBRAK!
Suara ribut apa itu? Apa Rin terpeleset lagi di dapur seperti minggu lalu? Ah, sudahlah, yang pasti aku ingin membuat kejutan untuk adik kecilku yang manis itu. Kulihat ada seberkas cahaya tipis dari ruang tv. Apa yang sedang Rin lakukan di sana?
"Rin, aku pu-… lang…."
1 detik..
2 detik…
3 detik..
5 detik…
10 detik…
20 detik…
"Rinto… nii-san?" ucap Rin polos yang sekarang sedang berada di bawah tubuh Len. Di bawah!
Astaga! Demi ubur-ubur! Pemandangan apa ini?! Tunggu.. ini bukan ilusi yang muncul gara-gara aku kebanyakan nonton film porno,kan? (ngaku juga)
Oke, biar kuperjelas apa yang kulihat sekarang. Rin, ada di atas Len, sedangkan Len nampak keringatan dengan beberapa kancing bajunya terbuka, Rin memang bukan tipe perempuan yang suka memakai pakai ketat, namun entah kenapa betuk tubuhnya bisa terlihat sangat jelas, karena kedua lengan kekar Len melingar tubuhnya erat.
Secara reflek aku memucat di tempat, dan hanya sanggup menunjuk ke arah laci meja sambil berkata
"Kalau kau butuh kondom, itu ada di dalam laci meja, kemarin kubelikan… ya… sudah… selamat besenang…senang…."
Tak ingin mengganggu mereka berdua, segera kuambil langkah seribu dari sana, dan mengistirahatkan kepalaku yang serasa mengalami low bat setelah melihat pemandangan barusan.
End of flashback
Rin's POV
Mataku membulat seketika mendapati Nii-san melihatku dalam keadaan 'mencurigakan' , ditambah ia mengatakan 'itu', seolah aku dan Len sedang berbuat mesum. Rinto Nii-san! Sejak kapan pikiranmu jadi mesum begini? Ditambah lagi ngapain juga pake acara beli kondom!
"Len… kelihatannya Nii-san salah paham…" Ujarku sambil berusaha membantu Len berdiri. Kelihatannya ia memang sedang kelelahan.
"Hm… nanti jelaskan saja baik-baik. Bisa gawat kalau ia menyebarkan cerita yang aneh-aneh di kampus"
"Kau pikir Nii-san tukang gossip? Hell no!"
"Kan hanya untuk jaga-jaga Rin-hime"
Deg!
Tiba-tiba pikiranku serasa membeku saat untuk yang kedua kalinya Len memanggilku dengan embel-embel hime. Kepalaku kini kembali teringat secara rinci kejadian kemarin setelah Len memanggilku hime.
Kulihat Len juga membatu di tempat. Pikirannya nampak kalang kabut sendiri. Jangan bilang dia jadi ingat kejadian semalam! Oh Good Damn!
"Rin…"
Panggilan Len serasa seperti sambaran listrik yang mengguncang segala nalar akal pikriku. Tolong Len, jangan bilang kau ingat kejadian kemarin!
"Sebenarnya… kau yakin tak ada yang terjadi?" Tanya Len
Pertanyaan yang sulit untuk dijawab jujur.
"Rin?"
Sebaiknya kujawab apa?!
"Ah itu… sebenarnya memang ada yang terjadi, tapi yah, sudahlah, toh kemarin kau mabuk gara-gara minum sake milik Meito-sensei kata Nii-san"
"Oh.. jadi teh yang kemarin kuminum itu sake? Pantas saja rasanya aneh… Dan e… aku tak melakukan hal-hal yang aneh, kan?"
Len, kau sudah melakukannya!
"…."
"Rin, aku menunggu jawaban..."
"…. Kurasa tidak…"
"Apa mangsud mu dengan kurasa?"
"Bukan apa-apa. Sebaiknya kau istirahat saja. Nanti kubangunkan jam 7. Kelas nanti dimulai jam 8 , kan? Pagi ini aku saja yang bersih-bersih dan masak"
Akhirnya aku punya alasan untuk segera pergi dari sini! Huft, maaf Len! Aku tak bermangsud bohong, tapi, berbohong demi kebaikan kupikir tak apa. Justru masalah akan bertambah jika Len tahu, kalau kemarin dia… melakukan anu dan anu. Geez…
Kunyalan lampu dapur rumah yang berisi lemari es, meja, kompor, westafel, dll. Hari ini aku ingin masak kare untuk Rinto Nii-san, berharap hatinya melunak dan ia mau mendengarkan penjelasanku. Kuambil beberapa sayuran dan meletakkannya di atas tatakan.
Berinsiatif memotong sayur-sayuran itu, kubuka laci lemari dapur, namun tak kutemkan alat potong kerabat dekatnya silet itu. Apa aku lupa di mana meletakkannya?
"Biar aku saja yang memotong sayuran"
Len?
"Eh?"
"Tadi salahku juga,kan Rinto-san jadi salah paham?"
Seperrtinya rencanaku terbaca Len.
"Terserah kau saja…"
~(skip time)~
07.30
Still Rin's POV
Kulihat Rinto nii-san yang baru bangun, melangkah dengan tersaut-saut menuju meja makan tempat aku dan Len sudah menanti. Wajahnay nampak kusut.
"Ohayou Rin-chan, Len-Shota…"
"Rinto-san, aku bukan Shota!" Protes Len
"Tapi wajahmu itu Shota…"
"Itu tak ada hubungannya dengan wajah!"
"Uhm… oh iya, apa tadi pagi sudah puas?"
Nii-san! Segitu inginkah Nii-san agar aku dan Len melakukan yang begituan?!
"Rinto-san, tadi itu kau salah paham. Aku dan Rin nggak melakukan yang aneh-aneh!" Tutur Len. Huft, syukurlah ia yang mau menjelaskan.
"Yah, sekalipun nggak, Kemarin'kan udah….."
"SSST!" Kuacungkan jari telunjuk di depan bibir memebri isyarat agar Nii-san bungkam. Bisa gawat kalau Len tahu semua kejadian kemarin. Lho? Ngomong-ngomong Nii-san tahu dari mana kalau kemarin ada 'suatu hal'?
"Ada apa, sih?" Tanya Len penasaran
"Bukan apa-apa!" Jawabku. Saat Rinto nii-san mengambil tempat duduk di sebelahku, kudekatkan bibirku ke telinga nii-san, dan berbisik pelan, takut Len mendengarnya.
"Nii-san tahu dari mana kalau kemarin ada suatu hal? Apa nii-san melihatku dan Len saat di jalan?" Kulihat Nii-san melontarkan senyum licik.
"Ohh, jadi si shota itu berbuat yang aneh-aneh di jalan? Tenang saja, aku nggak melihat langsung, tapi tahu sendiri. Sudah kuduga kemarin kau bohong Rin-chan, adik kecilku sudah berani main yang begituan ya?
"Ap-apa?! Hei! Jangan berfikir yang enggak-enggak! Dan dari mana Nii-san tahu?!"
"Beneran mau tahu?"
"iya!"
Melihat reaksiku yang penasaran, Nii-san nampak semakin merapatkan bisikannya dengan menutupi bibirnya yang sedang berbisik dekat telingaku. Apa segitu rahasianya?
"Kulihat 'adik kecil' nya si shota itu masih berdiri saat tidur kemarin malam. Logisnya, nggak mungkin benda 'itu' bisa berdiri tanpa sebab ,kan? Dan kulihat, hanya Rin-chan yang punya potensi untuk menyebabkan si shota itu terangsang. Dan kau tahu, punyanya lumayan juga untuk bocah seusia kalian~"
What The Hell?! Kini kurasakan wajahku memanas dan perasaan janggal yang kemarin kurasakan kembali menyelimutiku. Serasa ada kupu-kupu yang menggelitkki perutku. Cobaan apa lagi ini?
"Nii-san, sebaiknya jangan beritahu Len atas kejadian kemarin. Toh dia,kan sedang dalam keadaan mabuk…"
"Oke, apapun untuk imouto ku…"
"Kalian lagi bisik-bisik apa,sih?" Tanya Len yang sedari tadi kami kacangin
"Oh Len, gini, kalau tadi belum, Rin bilang kapan-kapan dia mau!"
Rinto Nii-san?! Sejak kapan aku pernah bilang begitu?!
"Nii-san! Jangan begitu!" Ujarku sambil menggebrak meja.
"Hei-hei, Nii-san kan Cuma bercanda. Wah, ada kare ya? Kayanya enak ,nih! Ittadakimas!"
Aku dan Len Menghela nafas lega. Dengan adanya Rinto nii-san yang sudah asyik dengan kare kesukaannya, kami tak perlu lagi mengadakan debat konyol seperti tadi. Ya tuhan, siapa sangka kakak kesayanganku itu akan jadi semesum ini?
~(skip time)~
08.30
Rinto's POV
Damainya hari ini. Tak ada tugas, tak ada scrip, tak ada acara presentasi di depan kelas, yang ada hanyalah 'waktu bagi Rinto Kagane untuk beristirahat'. Ditemani tayangan 'Spongebob Squarepants' dan secangkir the hijau dengan kepulan asap di atas cangkirnya, kubaringkan tubuh di atas sofa kasur yang sudah lama kurindukan.
"Oh ya, Rin dan Len sudah berangkat ,ya?" Tanyaku pada diri sendiri begitu melihat jam berapa sekarang.
"Nii-san, bisa tolong belikan pulsa modem untukku?" Tanya Rin yang tiba-tiba muncul di depanku.
"Oh, tentu…."
Eh?
Tunggu dulu…
"Rin! Kamu masih di rumah?! Kuliahnya giamana?"
"Barusan aku dikabari Miku kalau dosen hari ini nggak hadir karena sakit…"
"Kalau si-Len?"
"Aku di sini! Rinto-san, tolong aku juga titip print dokumen dong!"
Glek! Kenpa kedua adik ku ini butuh bantuan di satu-satunya kesempatan bagiku untuk istirahat?
"Nii-san, tolong please! 2 hari lagi kami akan ujian akhir, jadi semua tugas harus selesai besok. Tenang saja, setelah lulus Rinto nii-san nggak perlu repot-repot mengurus kami,kan?"
Ah benar juga! Tapi, jika Len dan Rin sudah lulus, aku akan tinggal sendiri lagi di rumah. Dan itu sama sekali nggak menyenangkan. Ada perasaan senang mengingat kedua adik ku akan lulus, tapi di sisi lain aku juga tak ingin kelihangan mereka.
"Rinto-san, ada apa?" Tanya Len sambil mengayun-ayunkan telapak tangannya di depan wajahku.
"Ah, tak apa-apa, ya sudah, mana file yang mau kau print Len? Rin, nomor kartu modemmu sudah pernah kau simpan di handphone ku, kan?"
"Eh i-iya Nii-san…"
"Rinto-san… Ini flashdisk nya.. tolong print 2 kali untuk semua dokumen ms world di file 'materi kuliah' Nanti uangnya kuganti,kok!"
"Woke!" Ujarku seraya melangkah keluar rumah. Waktu berjalan cepat ya?
Len's pov
Kulihat Rinto-san sudah kelau rumah. Dengan begini, rencanaku akan berajalan lancar.
"Len, aku kembali ke kamar dulu…"
Eits, siapa bilang kau boleh pergi begitu saja? Kuraih lengan kanannya, dan dengan sedikit keras, kutarik hingga tubuh mungil Rin bergetar dan nayaris jatuh.
"Sakit Len.. kau kenapa?"
"Rin.. apa nggak bosen ngerjain tugas mulu?"
"Yah.. sebenarnya bosen,sih… Tapi mau gimana lagi, besok semua,kan harus dikumpulin…"
"Temani aku main bentar,yuk! Nanti kubantu mengerjakan deh!"
"Hm…. Boleh saja, asal kau punya game baru"
Kena kau Rin!
Oke guys! Sampai di sini dulu capter 2 nya! Maaf di capter ini sama sekali nggak ada lemonnya. Bagi yang sudah nafsu (?) silahkan baca capter 3 yang memang author bikin update kilat, langsung update bareng sama capter 2 ini!
Sebenarnya saat penggarapan naskah, Capter 2 dan 3 itu 1 capter. Tapi karena dirasa terlalu panjang, author putuskan untuk dibuat jadi 2 capter
Cekidot baca next capter!
