IGNITE

.

Eustass Kid x Jewelry Bonney

.

One Piece Eichiro Oda's.

Fiction Story by Chococinno Brown Sugar

.

Beware Oocness, typos.

Dan gak usah dimasukin hati, ini AU

.

.

.

Dara itu menghela nafas, helai surainya yang sewarna permen dipermainkan udara, pula seluruh tubuhnya.

Dress putih sebetis ikut menari searah helainya berkibar.

Tapak kakinya tak beralas, sedikit berjinjit pada dinding rendah pembatas tepi atap.

Likuid sebening kristal meleleh, menyusuri pipi hingga menetes ke tanah yang jaraknya puluhan meter.

Bunuh diri, adalah frasa yang tabu namun pasti pernah hadir dalam benak setiap manusia, tidak peduli apapun alasannya dan motivasinya.

Dan gadis muda itu sudah siap melakukannya.

Ia merentangkan tangannya, merasakan udara yang menabrak tubuh sintalnya, hela-hela nafas panjang menjadi saksi terakhir sebelum ia benar-benar terbang, sebelum ia benar-benar-

"Cut!"

Jewelry Bonney menoleh, berdecih sebelum berbalik dan menghampiri Eustass Kid dibawah payung pantai di atap apartemennya.

"Tolol. Tolol sekali" ia menyerapah, mendudukan diri di kursi di hadapan Kid yang sibuk dengan komputer portbelnya, di hadapannya terhidang berkotak-kotak pizza.

"Diamlah, inspirasi tidak mudah datang"

Bonney mencomot sepotong pizza dan melahapnya sekaligus.

Eustass Kid, menyuruh Bonney untuk meragakan aksi bunuh diri, alasannya supaya Kid mudah membayangkan adegan yng sedang ia tulis di dalam ceritanya, dan rela menyogok Bonney dengan berkotak-kotak pizza.

Awalnya Kid minta Bonney meragakan sampai melompat, tapi Bonney jelas menolak.

"Apa kau selalu menyuruh orang meragakan adegan dalam ceritamu itu, Kids?"

Kid tidak menjawab, masih sibuk dengan ketak- ketiknya, dan Bonney masih memakan pizzanya.

"Hey bodoh, kalau aku sampai jatuh betulan kau akan masuk penjara tahu."

"Ya, ya, untung saja kau tidak jatuh"

"Dasar sinting"

"Tapi Jewelry, aku tidak menyangka aktingmu sebagus itu." Kid tertawa tanpa mengalihkan pandangannya.

"Aku selalu hebat dalam melakukan apapun"

"Kau juga sampai menangis"

Kali ini Bonney diam, Kid melirik, melepaskan atensinya dari laptopnya.

"Kau baik-baik saja? Apa kau takut?"

"Ah... Tidak, tidak. Hey, kawan besar, jangan salahkan aku kalau kau bangkrut dengan membelikanku ini semua" ia mengalihkan pembicaraan, menghindari konversasi yang bersifat pribadi.

"Hah... Aku ini kaya, yang begitu tidak ada artinya."

Bonney mengangguk acuh.

Dua jam berlalu dalam hening, mereka memutuskan untuk tidak saling berbicara.

Semilir angin di atap apartemen berhembus laun, perut penuh pula menjadi alasan kepala permen gadis Jewelry semakin condong hingga jatuh tepat di bahu pria besar Eustass, ia terlelap tanpa beban.

.

.

.

Derit ranjang kayu serta aroma maskulin yang kuat dan asing membangunkan Bonney dari tidurnya. Si gadis mengerjap pelan sebelum netranya sempurna terbuka dan merefleksikan sosok besar berbaring memunggunginya.

Pencahayaan yang ada hanyalah cahaya bulan yang masuk lewat jendela tanpa tabir.

Kepala Bonney berpendar-pendar, ia memijit pelipisnya beberapa sekon sampai otaknya mampu merangkai penjelasan, dan lengking jerit sopran mengudara.

"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?"

Eustass Kid menoleh kaget seketika, Bonney beringsut mundur dengan membawa bantal kedalam pelukan, bentuk proteksi diri.

"Jangan berteriak, sialan!" Kid keki karena teriakan si dara bisa saja mengundang tetangga untuk menggedor pintu. "Apa yang kulakukan? Aku tidur... Memangnya kenapa?" Kid balik bertanya, tidak mendapat resolusi dari pertanyaan ketakutan Bonney.

"Kau melakukan hal buruk kepadaku?" Bonney membentak nyalang, dengan kepala yang masih pusing hebat karena bangun sekaligus, ia menopang diri dengan bersandar pada lemari besar dibelakangnya.

"Melakukan hal buruk?" Kid mengulangi pertanyaan, ia tidak mengerti sama sekali.

"Kau tidur disampingku, satu ranjang denganku, kau pasti berpikir macam-macam."

"Ini kan ranjangku, mengapa aku tidak boleh tidur disini?" Demi apapun, Kid mendadak tolol.

"Kau tidur disamping seorang gadis. Kau..." Bonney kehabisan kata-kata,

"Kalau begitu tidur saja diluar, aku tidak mau berbaik hati dengan membiarkanmu tidur disini sedangkan aku tidur diluar-"

Pria merah ia memilih abai, ia merentangkan tangan dengan otot bersekatnya, menguap lebar kemudian membaringkan diri kembali di ranjangnya dan memunggungi si gadis, ia sudah terlalu lelah hari ini.

"-kecuali kau mau berbagi ranjang denganku."

Bonney menatap penuh kebencian pada punggung Kid, dengan tergesa ia membawa serta bantal dipelukan keluar kamar.

Pintu dibanting tidak sabaran.

Hampir seluruh ruangan gelap, namun semua jendela tidak diberi gorden sehingga cahaya bulan leluasa untuk menginvasi ruang.

Bonney bingung memilih dimana ia akan melanjutkan tidurnya. Seluruh ruangan dipenuhi sampah, bau busuk menguar.

Maniknya lelah menggilir objek pandang, hingga ia memilih tidur di sofa coklat.

Bonney menyingkirkan benda-benda yang mengubur sofa Eustass Kid, dan berbaring di atasnya tanpa peduli dengan aroma busuk yang menyumbat hidung.

Setengah jam berlalu dan Bonney sama sekali tidak bisa terlelap, matanya terpejam paksa.

Masih terbayang aroma tubuh si pemuda yang sebelumnya benar-benar dekat dengannya, masih pula dirasakan denyut jantungnya yang berdebar hebat sampai kini.

Terlalu banyak yang terjadi hari ini, membuat tubuhnya sangat letih, ah andai ia mandi dulu.

Denyut jam dinding menjadi satu-satunya timbre yang memenuhi indra dengar, menemani Jewelry muda yang masih terjaga.

Hingga sebuah benda halus menyelubungi tubuhnya, Bonney membuka mata.

Sosok Eustass Kid memunggunginya, berjalan menjauh menuju meja kerjanya.

"Kau..."

"Diluar dingin, aku kebetulan membawa selimut, aku kebetulan juga keluar untuk melanjutkan pekerjaanku"

Bonney mengangguk, kenyataannya udara memang sangat dingin, dan mungkin itu satu alasan mengapa si gadis tak lantas terlarut dalam mimpi.

Aroma tubuh si pemuda lekat di kain yang membungkus Bonney, begitu maskulin dan memabukkan. Bonney menariknya hingga sebatas hidung, menghirup aroma yang menjadi favoritnya.

"Omong-omong, kau yang memindahkanku saat aku tidur diluar?"

"Kau sudah tahu jawabannya."

.

.

.

Kid menatap takjub pada rumah ajaibnya yang telah disulap menjadi layak dihuni manusia.

"Wow"

Jewelry Bonney tersenyum penuh kebanggan, dan penghinaan karena Kid tidak bisa berbuat seperti dirinya.

"Tidak perlu kaget begitu, rumah manusia memang selayaknya seperti ini"

Tumpahan oatmeal serta genangan cola di lantai sudah musnah, pula kemasan pembungkus makanan ringan. Koleksi senjatanya tersusun rapi dalam peti, pengharum ruangan yang sebelumnya kalah eksis dengan bau busuk sampah kini mendominasi indra cium.

Pagi ini menjadi pagi yang segar, jendela terbuka lebar-lebar.

Ruang apartemen itu luas, namun karena penataan yang acak jadi terasa pengap, kini semakin terasa luas dan tertata.

"Jewelry, kau bekerja sangat baik sekali."

Pria merah besar itu bersender pada meja, memandangi apartemennya yang terasa asing.

"Puji aku lebih banyak, kids"

"Sekarang pergilah. Kau sudah aku ijinkan menginap dan kau juga sudah membereskan rumahku" Ucap Kid ringan, seolah perkataannya adalah hal biasa.

Mendadak Bonney memegangi perutnya.

"Aaaaahh tunggu, kawan besar. Perutku kesakitan minta makan, kalau bisa aku ingin makan pizza"

Kid memutar bola mata jengah.

"Baiklah-baiklah"

.

Sepasang lelaki besar dan gadis muda berjalan beriringan seperti kontes cosplay. Penampilan mereka begitu eksentrik dan -konyol.

Si dara memegangi jubah merah milik pemudanya yang berjalan cepat.

"Kau berjalan terlalu cepat, bung" Jewelry memajukan bibirnya tanda merajuk, lupa kalau pemudanya tak bisa melihat.

"Jangan tarik jubahku, bodoh. Jalanlah lebih cepat"

Pagi itu dunia terasa lebih sibuk. Orang-orang berlalu lalang di trotoar jalan, hingga mau tak mau Bonney mengerahkan tenaga ekstra untuk menghalau orang agar tak bertabrakan serta untuk mensejajari langkah Eustass.

Mereka memasuki salah satu restoran keluarga. Duduk berhadapan di sudut ruangan -tempat yang selalu menjadi kesukaan Kid.

Bonney masih terengah di tempatnya, memandang sebal pada si pemuda.

"Dasar lemah," Kid memandang mengejek, membuat si dara permen makin naik pitam.

"Kau... Tunggu..." Pandangan tajam serta tudingannya beralih atensi ketika mendapati eksistensi lain yang begitu familiar di pintu masuk.

Refleks Bonney menyembunyikan wajahnya dibalik buku menu,

"Kenapa?" Kid ikut mengarahkan pandangannya pada pintu masuk yang ia punggungi.

Kedua alis Eustass Kid bertaut bingung, tak ada yang salah, hanya seorang pria paruh abad berwajah arif tengah memilih tempat duduk.

Benar-benar tak ada yang salah, ini kan restoran keluarga, wajar saja jika pria tua bertandang.

Tak ada yang salah, -kecuali...

"Kau mengenalnya?"

Bonney menggeleng cepat, wajahnya masih tersembunyi penuh.

"Tidak, aku tidak kenal" namun soprannya terdistraksi getar ketakutan, jejari yang menggenggam papirus pula gemetar.

Kid menatap lagi pria dewasa yang duduk tak jauh dari tempat mereka, mengenakan seragam sipil lengkap, tak menyadari kalau ia diperhatikan.

Pria arif itu memandangi buku menu dengan serius, sekali lagi tak ada yang salah.

"Pegawai sipil?"

"Tidak tahu." jawab Bonney tertekan, buku menu melorot ke meja seiring tenaga di lengannya melemah gemetar.

Eustass Kid memandangi Bonney dengan curiga,

"Kau..." Kid menuding kening Bonney "...seorang kriminal?"

.

Tbc

.

.

.

Yeahh...

Sudahkan chap ini lebih rapi dari chap sebelumnya? Masih ngetik di Hp sih, semoga aja lebih rapi. Cuma edit sekali karena... Yah lagi (sok) sibuk saya /gananya.

Salam penuh cinta,

Sugar~