Harry berlari… dan berlari.


Pactum Serva

.::.

Fantasy AU

TMRHP/LVHP, Creature!Harry

I don't own Harry Potter series.

.::.

.

.


Chapter 1: Resistance


Harry tak tahu sudah berapa lama, berapa jam dia lari. Satu hal yang dia tahu adalah, ketika dirinya terbangun, matahari mulai menyembul malu-malu dari ufuk timur. Larik-larik sinarnya mencari celah di antara kanopi pepohonan untuk menjatuhkan titik-titik terang di tanah, di batang pohon, dan kulit Harry yang meremang kedinginan.

Harry meregang sebentar, lalu memeluk satu-satunya benda yang sempat dibawanya—pedang yang kebetulan adalah peninggalan James.

Sepasang sayap hitamnya bergerak melebar, mengelilingi Harry dalam sebuah rengkuhan hangat. Pada dasar punggungnya, di mana pangkal sayap itu berada, kedutan-kedutan nyeri masih terasa. Barangkali, darahnya juga belum mengering di sana. Hasil dari kulitnya yang terobek saat sayapnya muncul.

Ah, benar. Sayap.

Potongan demi potongan menyakitkan dari kejadian beberapa jam silam berkelebat tanpa ampun. Sebuah tamparan bagi Harry, yang mengatakan bahwa semua itu memang terjadi. Bahwa dia benar-benar telah berubah menjadi… Creature yang tak dia ketahui namanya, dan telah melukai teman-temannya.

Rahang Harry sontak mengencang. Dia, melukai teman-temannya? Harry tak terlalu merasa bersalah. Mereka dulu yang mencoba melukainya, bukan?

Mereka dulu yang menyakitinya.

Harry tersentak, menatap tangannya sendiri.

Tunggu. Kenapa dia… jadi begini? Kenapa dia dengan begitu mudahnya menggampangkan fakta bahwa dia melukai orang lain?

Apakah dia benar-benar berubah jadi Dark Creature yang kejam dan dingin?

Harry menggigil, kali ini bukan karena udara dingin. Dengan satu isakan tertahan, dia membenamkan wajah dalam kedua tangannya.

Kenapa semua ini bisa terjadi?

Yang jelas, Harry tak bisa kembali lagi ke istana. Reaksi teman-temannya telah menjadi cukup indikasi. Jika mereka yang telah lama mengenal Harry saja bisa menuduhnya dan membencinya dengan mudah… lantas bagaimana dengan orang lain? Rakyatnya? Mentor-mentornya di istana?

Ginny. Bagaimana dengan adik perempuan Ron yang akhir-akhir ini kian dekat dengan Harry? Kalau Ginny mendengar apa yang terjadi…

Harry memejamkan matanya, membayangkan kelebat kemerahan dari rambut panjang Ginny.

Ginny mungkin akan membencinya. Belum tentu karena Harry telah berubah menjadi Creature, tetapi karena dia melukai teman-temannya dan karena dia pergi tanpa memberi penjelasan apapun kepada Ron.

Ron.

Harry lalu mengingat Ron dan semua upaya sia-sia yang pemuda itu kerahkan untuk membela Harry semalam. Sungguh, Harry mendadak merasa tidak pantas mendapatkan loyalitas Ron. Tidak setelah dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.

Hermione pasti juga akan sangat khawatir. Mengingat sifatnya, dia akan membujuk orang-orang dewasa di dekatnya untuk melakukan sesuatu—Profesor McGonagall, Profesor Flitwick, Profesor Dumbledore…

Benar. Dumbledore.

Sekarang setelah kejadian ini membuat segalanya berantakan, apa yang akan dilakukan Dumbledore? Harry berharap kalau Dumbledore bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya, tetapi kemudian dia tepis jauh-jauh pemikiran konyol itu. Dumbledore adalah orang sibuk. Dia sedang sibuk mempertahankan negeri ini, dan dia jelas tak punya waktu untuk mengkhawatirkan Harry.

Dan lagi, kira-kira apa yang telah dilaporkan teman-teman setimnya tadi malam?

Mereka mungkin menggambarkan Harry sebagai Creature haus darah yang berusaha membunuh mereka. Pasti. Dan setelah mendengar semua itu, Council tak akan tinggal diam. Harry tahu betul kebencian mereka terhadap Creature, dan jika mereka tahu kalau calon raja mereka adalah salah satu dari kelompok makhluk yang mereka benci, maka mereka akan segera bergerak.

Auror akan mengejar Harry. Namun, entah untuk menangkap atau membunuhnya, Harry tak tahu. Semua tergantung pada seberapa besar dirinya berharga bagi Council saat ini.

Fudge dan orang-orangnya pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Harry menggertakkan gigi. Orang-orang brengsek, korup, dan pembohong itu…

Jika Harry tak mau menyerahkan diri begitu saja kepada Auror, dia harus bergerak lebih cepat dari mereka.

Entah bagaimana, Harry akan bertahan.

Dengan badan letih dan tungkai lemas, Harry memaksa dirinya untuk berdiri dan berjalan lebih jauh.

XOXO

Pada saat Harry sampai di pinggiran sebuah perkotaan, matahari telah bergerak semakin tinggi di atas kepalanya.

Dua orang petugas keamanan kota berbaring tak sadarkan diri. Mereka kebetulan berpatroli cukup dekat dengan pinggiran hutan tempat Harry mengawasi. Sasaran empuk bagi Harry, yang tak membuang-buang waktu. Dia segera menyergap mereka untuk mengambili barang-barang yang sekiranya berguna. Segepok uang, obat-obatan, dan yang terpenting—jubah. Harry cepat-cepat menyelubungkan jubah itu di sekitar tubuhnya untuk menutupi kedua sayap dan wajah.

Pintu masuk kota, anehnya, tak dijaga siapapun. Meski begitu, Harry memasuki kota dengan kewaspadaan tinggi, memperhatikan kalau-kalau ada wajah familier yang harus dihindarinya.

Gemuruh dari perut kosong mendorong Harry untuk membelanjakan uang curiannya di pasar. Tak jauh dari tempatnya membeli roti isi, dia melihat sebuah parade kecil-kecilan yang memaksa pejalan kaki lain bergerak minggir.

Seorang pria sedang berbelanja di tengah-tengah perkotaan dengan baju mulus dan sepatu mengilap, dan di belakangnya…

Harry menelan ludah. Ini adalah pemandangan yang pernah dilihatnya ketika kecil dulu—rerantai di pergelangan dan sebuah pakaian kumuh dari serbet kotor. Makhluk-makhluk yang dipaksa bekerja dan dicambuk.

Perbudakan Creature.

Seisi tubuh Harry memanas. Rasanya seolah semua pembuluh darahnya disusupi perasaan malu tiada tara. Ini adalah situasi yang sangat membuat Lily terganggu ketika dia masih hidup dulu. Perbudakan ini adalah sesuatu yang paling dibenci Lily.

Dan Harry, dengan kepolosan seorang anak-anak pada saat itu telah berjanji, bukan? Untuk menolong Creature tidak bersalah yang diperbudak. Tetapi lihat apa yang dilakukan Harry selama ini.

Dia justru terlalu sibuk membalaskan dendamnya kepada Voldemort.

Council memang telah menetapkan aturan tentang Creature sejak bertahun-tahun yang lalu, tetapi saat Fudge menjabat, rasanya penderitaan Creature semakin bertambah intens. Creature memang dipandang remeh sekaligus berbahaya di kubu cahaya. Mereka dianggap kurang manusiawi dan lebih bernaluri hewaniah—rakus, liar, dan haus darah.

Namun, tidak semua Creature seperti itu, bukan? Seperti teman-teman ibunya dulu. Unicorn yang cantik, ular bersayap yang ramah, singa berbulu api yang gagah…

Dan tetap saja, Council membuat aturan yang sama sekali tidak adil. Creature yang dianggap sangat berbahaya akan ditangkap, lalu dieksekusi. Seperti manusia serigala. Harry jadi teringat pertemuannya dengan Scrimgeour kemarin.

Creature sisanya, yang tak dirasa terlalu berbahaya, tidak dijatuhi hukuman mati. Mereka dibiarkan hidup… dalam penderitaan. Sebagai budak. Dalih Council adalah untuk "Mengedukasi dan mengembangkan kepribadian para kriminal."

Omong kosong, kalau Harry boleh berpendapat. Mereka yang disebut-sebut sebagai kriminal belum tentu jahat, belum tentu bersalah, tetapi penyihir-penyihir cahaya yang… tak tahu diri ini tidak repot-repot memahami.

Selagi Harry memandangi bagaimana tuan kaya itu memparadekan budak-budak Creature-nya, wajah pedih ibunya kembali membayang dalam benak. Saat itu, Harry belum terlalu mengerti kenapa ibunya terlihat selalu enggan untuk berada di kota. Sekarang, dia tahu betul.

Jadi, inilah yang dirasakan Lily ketika dia menyaksikan makhluk-makhluk yang malang ini. Pedih, marah, geram, tetapi tak bisa melakukan apapun.

Apakah Harry akan dijadikan budak juga, seperti mereka? Diarak keliling kota untuk menunjukkan kepada semua rakyat bahwa pangeran mereka selama ini adalah makhluk yang mereka benci, yang biasanya mereka perbudak atau bunuh?

Apapun yang akan Council lakukan, Harry tidak akan membiarkannya. Tidak. Dia akan bertahan dari manusia-manusia besar kepala itu, dan dia selamanya tak akan sudi untuk membiarkan dirinya direndahkan sebagai Creature.

Dengan kepala yang bertambah ringan dan pandangan yang menjernih, Harry memfokuskan dirinya untuk memanuver langkah di antara lautan manusia. Tujuannya hanya satu—tempat yang memuat informasi. Tempat paling ramai di dalam kota, tetapi juga lebih kondusif dari pasar.

Kedai.

XOXO

Seperti dugaan Harry, Council bergerak dengan cukup gesit—terlampau bersemangat—setelah kejadian tak terduga semalam.

Koran Daily Prophet, yang selalu Harry yakini sebagai alat Council untuk mengontrol publik, telah merilis apa yang mereka sebut sebagai berita utama spesial yang memenuhi hampir satu halaman. Gambar yang tertera di sana adalah Harry, yang sedang tersenyum dan melambai kepada rakyatnya. Di atasnya, terpampang judul yang dicetak besar-besar:

Boy Who Li(v)ed: Calon Raja Terungkap sebagai Dark Creature!

Ah. Rita Skeeter. Jurnalis yang satu itu memang telah menjadi serangga menyebalkan sejak James masih memerintah. Selalu berusaha mengolok James, Lily, Harry, dan Dumbledore dalam semua tulisannya. Sayang sekali, Council selalu berusaha melindunginya, sebab dia adalah aset terbesar mereka dalam Daily Prophet. Apapun kebusukan yang dikatakan Council dapat dipelintir Rita Skeeter menjadi sebuah kebohongan manis.

Dan sekarang, dia menggunakan kesempatan ini untuk menghujat Harry habis-habisan. Berbagai julukan dan 'makian halus' diselipkan di sana sini setiap kali nama Harry disinggung. Tetapi bukan itu yang membuat Harry terkejut.

Interogasi disebut-sebut di dalam berita.

Saat ini, mereka yang dianggap dekat dengan Harry sedang diinterogasi. Ron Weasley. Hermione Granger. Albus Dumbledore. Sirius Black—godfather Harry. Remus Lupin. Dan banyak juga penghuni istana lain yang terlibat.

Harry menahan umpatannya. Harapan kecilnya untuk mencoba mengontak salah satu dari mereka kandas total. Setiap pergerakan mereka pasti sedang diawasi ketat oleh Council. Begitu juga segala macam alat komunikasi. Jika Council dapat membuktikan bahwa mereka masih memihak Harry… entah apa yang akan menimpa mereka.

Tidak boleh, Harry tidak boleh melibatkan mereka lebih jauh. Kali ini, dia harus berjuang sendirian.

Apa yang harus dia lakukan sekarang? Yang jelas, Harry harus tahu mengapa kejadian semalam terjadi, mengapa dia mendadak berubah menjadi makhluk bersayap ini.

Dan… sihir yang keluar bersamaan dengan teriakannya… apakah itu normal? Apakah itu kekuatan baru yang didapat setelah transformasinya?

Setidak-tidaknya, Harry masih memegang senjata. Dia bisa melawan andai sesuatu terjadi.

Bila memungkinkan, dia ingin mencari tempat teraman untuk bersembunyi, menghilang dari muka dunia sampai semua kekacauan ini mereda. Mungkin dia akan pergi ke kerajaan lain. Atau, jika dia nekat, dia bisa pergi ke Dark Area—daerah tak bertuan tempat orang-orang kubu kegelapan berdiam yang terletak di ujung timur dunia. Tempat itu memang bukan yang terbaik dan ternyaman. Desas-desus mengatakan bahwa daerah itu sangat rusak karena terpapar sihir kegelapan tinggi. Namun, probabilitas survivalnya bisa jadi lebih besar di sana, asal mereka tak tahu identitas aslinya.

Dengan satu tujuan baru, Harry meletakkan koran itu kembali di atas konter kedai. Tak ada berita lain yang dirasa penting. Di atas konter, terdapat tumpukan koran lain—satu diterbitkan kerajaan lain, dan dua adalah koran khusus Muggle yang tak terlalu menarik.

Harry mencoba mengamat-amati sekeliling. Berjarak dua kursi di sebelah kanannya adalah seorang pria dengan wajah memerah mabuk. Dia berada dalam perbincangan seru dengan temannya.

"—tapi tak disangka-sangka, dunia ini lucu sekali, ya? Ternyata calon raja kita sendiri adalah Creature!"

Kedua bahu Harry menegang. Napas tertahan, dia mendengarkan secara atentif.

"Dan sekarang, berita itu pasti sudah menyebar ke mana-mana, kan?" sahut temannya. "Ah, memalukan sekali… Mau ditaruh mana wajah Hogwarts? Bisa-bisanya darah Creature berada di tengah-tengah penerus kerajaan. Kalau dia jadi raja, mana sudi aku diperintah dia!"

…Begitukah yang dipikirkan penyihir cahaya di kerajaannya? Bahwa mereka lebih baik daripada Creature?

Harry mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Menahan geram, menahan kemarahan yang menjilat-jilat.

"Untung saja orang-orang kita cukup pintar untuk tidak membiarkan mereka bebas berkeliaran," decak si pemabuk. "Bunuh yang bahaya, perbudak sisanya. Dengan begitu, makhluk-makhluk itu akan tahu posisi mereka."

Derai tawa memuakkan dari kedua pria itu dikalahkan oleh bunyi pintu kedai yang dibuka kuat-kuat. Gebrakan itu mengundang banyak kepala mendongak dengan mata membelalak. Pria muda yang bertanggung jawab di balik semua itu terengah di pintu, membisikkan, "Auror."

Harry mematung.

"Auror datang untuk mengamankan kota ini. Dalam lima belas menit, semua warga harus kembali ke rumah masing-masing… Begitu kata mereka."

Alasannya jelas. Mereka ingin menyisir setiap sudut kota untuk mencari keberadaan Harry. Tentu saja mereka bergerak secepat ini. Sudah Harry duga tadi, bukan? Fudge dan kawan-kawannya tak akan menyia-nyiakan kesempatan.

Untuk menangkapnya, atau membunuhnya, atau entah hal mengerikan apa yang akan mereka lakukan kepada Harry.

Harry meleburkan diri dengan hati-hati bersama kerumunan yang mengarah menuju jalanan. Karena mukanya tertutup tudung jubah, seseorang yang menyadari penampilannya pasti akan curiga. Harry harus menghindari itu apapun yang terjadi. Perlahan namun pasti, dia membiarkan kedua kakinya melangkah seirama dengan warga lain. Begitu sampai di dekat perbatasan, Harry akan berusaha menyingkirkan Auror yang berjaga di sana sediam mungkin, lalu pergi dari sana cepat-cepat.

Sebuah tangisan panjang yang parau menghentikan Harry.

Apa itu… barusan?

Selagi manusia-manusia di sekitarnya terus berjalan, Harry menajamkan pendengarannya untuk mencari sumber suara. Asalnya dari jalanan sempit di sela-sela dua gedung. Semakin dekat dia dengan sumber, semakin terdengar jelas pula tangisan itu, kali ini diiringi bunyi pukulan dan tendangan.

Harry berderap dengan langkah ringan menuju tempat itu dan melongok hati-hati, lalu—

Napasnya tersentak keluar begitu saja.

Di sana, pada tempat tersembunyi dari semua orang, tampak segerombol penyihir berseragam merah. Auror. Mereka mengelilingi seseorang—sesuatu—yang sedang gemetar kesakitan.

Peri rumah laki-laki.

Tentu saja dia menangis. Tentu saja dia kesakitan. Auror-Auror brengsek itu menendanginya dan menginjak-injak tubuhnya!

Kemudian, seperti dikuasai impuls, amarah, dan beban emosional yang berkecamuk seperti badai, Harry keluar dari tempat persembunyiannya dengan raungan keras.

Seperti malam sebelumnya, ketika insiden besar itu terjadi, suara Harry kembali membawa serta sihir yang sangat kuat. Cukup kuat untuk mengempaskan kelima Auror dan mencabik kulit mereka. Harry buru-buru berlutut di sebelah si peri rumah dan memeriksa keadaannya.

Dia masih hidup, tetapi.. tampak luar biasa kesakitan. Mungkin beberapa tulangnya patah.

Gigi Harry saling bergemeretak kuat. Kalau dia punya lebih banyak waktu, dia pasti sudah membalaskan setiap tendangan yang diterima makhluk malang ini kepada Auror tadi. Harry merogoh obat-obatan yang dia ambil dari petugas keamanan, bersiap meminumkannya pada si peri rumah—

"Wah, wah. Lihat siapa pahlawan kecil ini."

Suara itu.

"Scrimgeour," bisik Harry.

Di belakangnya adalah pria berambut seperti singa yang tak lain adalah Rufus Scrimgeour sendiri. Lebih banyak Auror bersiaga di belakang sang kepala divisi, mengangkat senjata mereka dalam ancaman non verbal.

Sebagai sosok yang dapat memerintah para Auror sesuka hati, Scrimgeour ternyata repot-repot turun tangan demi Harry.

Harry menyadari, dengan penuh kegetiran, bahwa dirinya terjebak sekarang.

"Senang bertemu dengan Anda, Pangeran." Kedua mata Scrimgeour berkilat dengan kepuasan diri, tetapi juga kebencian dan rasa jijik. Mulutnya membentuk garis tipis yang tampak seperti seutas tali kencang. Ekspresi yang sama itu muncul kemarin, ketika Harry dan Scrimgeour berbeda pendapat mengenai manusia serigala. "Atau… mungkin aku harus berhenti memanggil pengkhianat sepertimu dengan sebutan itu."

"Aku tak bisa berkata kalau aku juga merasa senang bertemu denganmu, Scrimgeour." Dengan berhati-hati, Harry membalikkan tubuh menghadap Scrimgeour. Barisan Auror di belakangnya sontak waspada, bersiap kalau-kalau Harry melesat tiba-tiba. "Sayang sekali. Padahal aku berharap kalau aku tidak akan melihat wajahmu lagi."

"Kau terlalu mudah ditebak. Semua orang di kerajaan ini tahu betapa… heroiknya dirimu. Tak pernah melewatkan satu kesempatan saja untuk menolong orang." Scrimgeour memamerkan senyuman lebarnya yang mengjengkelkan. "Beginilah jadinya kalau kau terlalu naif, Harry James Potter."

Harry tersentak. Pandangannya bergulir sebentar kepada peri rumah tadi, lalu kembali kepada Scrimgeour dengan penuh murka. "Kau… melukai peri rumah ini untuk memancingku? Untuk menjebakku di sini?"

"Butuh berapa lama agar kau menyadari rencanaku?" cemooh Scrimgeour.

"Well, apa yang akan kau lakukan sekarang, Scrimgeour?" Harry memancing, mengulur waktu sambil memikirkan semua tindakan yang bisa diambilnya untuk melarikan diri. "Apa kau akan bertarung satu lawan satu seperti seorang Kepala Divisi Penegakan Hukum yang pantas, atau memerintahkan anak buahmu melakukan semua pekerjaanmu?"

"Tidak perlu terburu-buru seperti itu. Malahan, tidak akan ada pertarungan sama sekali…" bisik Scrimgeour penuh arti, "…jika kau mau ikut bersama kami dengan tenang."

"Untuk kemudian diapakan? Dipenjara? Diarak keliling kota dan dipermalukan?" Harry meludah dengan berang. "Atau untuk dijadikan kelinci percobaan?"

"Kami memberimu kesempatan yang tak akan pernah kami berikan kepada Creature lain… Pangeran." Scrimgeour menelengkan kepalanya, dan Harry membenci bagaimana kedua matanya bergerak-gerak penuh kalkulasi. Tak peduli seberapa arogan pribadi seorang Rufus Scrimgeour, dia bukanlah orang bodoh. "Bahkan, kau akan memiliki kemungkinan untuk menjadi raja. Perintah penangkapanmu akan segera dicabut, nama baikmu akan dikembalikan…Dan kau bisa hidup dengan damai di istanamu lagi."

Untuk menjadi raja boneka di bawah ancaman Council, kemungkinan besar. Raja yang tunduk terhadap semua keinginan Council.

"Dan kenapa kau tidak memberi kesempatan ini kepada Creature lain?" Harry membalikkan kalimat Scrimgeour dengan sebuah tawa kasar. "Karena menurut kalian, aku akan jadi raja yang bisa diancam dan dikendalikan? Karena kalian ingin menggunakan aku untuk memburu—tidak, untuk melindungi diri lemah kalian dari Pangeran Kegelapan lain?"

"Jangan mengatakan sesuatu yang omong kosong." Senyuman palsu Scrimgeour menyurut. Air mukanya berubah masam. "Pilihlah sekarang. Menyerahlah dan ikut bersama kami… atau melarikan diri, hanya untuk dieksekusi di kemudian hari."

"Maaf sekali," dengus Harry, "tapi kau harus belajar lebih keras untuk menawarkan pilihan yang lebih menarik."

"Itu adalah pilihan terbaik yang bisa kami tawarkan untuk seorang pengkhianat," tegas Scrimgeour. Bagus. Ketenangannya yang dibuat-buat mulai terkikis. "Kau tidak sedang berada dalam posisi untuk meminta lebih. Putuskan. Pilih di antara kedua tawaran itu."

Inilah mengapa Harry tak pernah menyukai pertemuannya dengan kebanyakan petinggi Council. Sok penting, sok bermartabat, dan merendahkan orang lain—termasuk Harry yang saat itu masih menjadi pangeran. Di setiap perbincangan yang Harry lalui dengan mereka, butuh usaha penuh untuk menahan emosi.

Saat ini, lain lagi ceritanya. Harry bukan lagi pangeran. Dia pengkhianat. Dan dia bisa melakukan apapun yang dia suka.

"Kalau kau mau tahu keputusan akhirku, Scrimgeour… ini dia."

Dengan satu tarikan napas yang dalam, Harry mengeluarkan sebuah teriakan panjang. Dan seperti yang telah terjadi sebelumnya, sihirnya turut meledak bersama suaranya, mengirimkan Scrimgeour dan kawan-kawannya terbang beberapa meter ke udara.

"Selamat tinggal, dan semoga aku benar-benar tak akan melihatmu lagi."

Menuruti instingnya untuk bertahan hidup, Harry menjejak ke udara, membiarkan kedua sayapnya terentang, lalu melesat terbang dengan ketinggian penuh menjauhi kota itu.

XOXO

Sayap Harry mulai mengejang kaku tiga puluh menit kemudian, pertanda meminta diistirahatkan. Dengan sedikit terpaksa, Harry turun ke pinggiran hutan entah di daerah mana, lantas memutuskan untuk berjalan kaki dari sana. Apparition memang lebih mudah dan efektif, tetapi sihir itu bisa dilacak oleh Pengendus—orang-orang dengan sensitivitas sihir tinggi.

Harry terus berjalan selama berjam-jam lamanya, kadang berhenti untuk istirahat atau minum, dan berjalan lagi. Semakin lama dia berhenti di satu titik, semakin cepat pula Auror itu menemukannya.

Tatkala Harry memutuskan beristirahat untuk yang kesekian kalinya, matahari telah tenggelam. Jangkrik-jangkrik mulai memamerkan bunyinya dengan berani. Mungkin dia akan bermalam di hutan lagi, makan seadanya lagi. Yang jelas, tak aman untuk memasuki kota manapun, sekalipun kasur-kasur penginapan jauh lebih nyaman dari hutan berisi hewan-hewan lapar.

Sembari membiarkan tubuhnya merosot di sebuah pohon berbonggol-bonggol, Harry membiarkan kedua matanya memejam pelan. Dia lelah sekali. Setidaknya, dia merasa telah pergi cukup jauh dari tempat Scrimgeour menemukannya. Semoga memang tak ada Auror manapun yang—

"Itu dia, aku menemukannya! Tangkap dia!"

Astaga.

Harry mengerang frustrasi. Kenapa orang-orang ini tak tahu kapan harus menyerah?

Baiklah. Dia akan mengakhiri ini dengan cepat, dan pergi sebelum lebih banyak Auror datang.

Hanya saja, ketika Harry bersiap untuk menggunakan kemampuan barunya dengan menjerit lagi, sesuatu meledak di hadapannya. Sebuah asap tebal keabu-abuan yang membuat mata dan hidungnya perih. Sebelum dia sempat memahami apa yang terjadi, Harry merasa dirinya ditarik ke belakang untuk dijatuhkan ke dalam semak-semak.

Siapa? Siapa yang menangkapnya?

Harry meronta sekuat tenaga, mengepak-ngepakkan sayap seperti burung kecil meminta lepas dari cengkeraman manusia. Akan tetapi, tangan di atas mulutnya insisten memeganginya, dan Harry semakin bertambah panikpanikdanpanik

"Tenanglah—"

Harry menendang kuat, tetapi tak mengenai apapun.

"Kumohon, aku tidak ingin menyakitimu!"

Kalimat itu mendekam lambat-lambat, dan baru setelah itu, Harry memberanikan diri untuk mendongak demi melihat siapapun yang saat ini tengah memeganginya.

Wanita di belakang Harry merekahkan senyuman tentatif yang lebar. Dia berambut cokelat muda halus dengan kedua mata lebar yang memancarkan kebaikan.

Harry termangu, sebab dia tak tahu apa yang harus dia pikirkan. Haruskah dia mencurigai wanita itu?

"Aku bersumpah atas sihirku, bahwa aku tidak akan melukai Harry James Potter," ucapnya pelan. Tubuhnya disinari cahaya selama beberapa saat, menandakan bahwa sumpah itu telah terikat.

"Kenapa?" tanya Harry, hampir tak bisa berkata-kata. Kenapa dia menolongnya?

"Sebab aku dan kau berada dalam posisi yang sama, Pangeran," Wanita itu membalas dengan nada determinatif yang mengingatkannya kepada Hermione. "Dan aku tidak akan membiarkan Council bertindak lebih jauh. Setidaknya, aku ingin membantumu dengan caraku sendiri."

Apa katanya?

Kalaupun wanita ini memang betulan ingin membantunya, dia tak seharusnya terlibat. Harry buru-buru menggeleng. "Dengar, kau seharusnya pergi sebelum mereka melihatmu bersamaku—"

"Aku sudah membuat kabut asap tadi, kan? Para Auror itu tidak akan bisa melihat selama beberapa menit." Wanita itu membujuk dengan gigih. "Jadi, daripada kita menghabiskan waktu di sini selagi asap itu menipis, bukankah sebaiknya kita lekas berpindah tempat?" Dia menunjuk sebuah pondok tiga lantai yang dibangun di dekat danau. "Tempat tinggalku tak jauh. Untuk malam ini, kau bisa bersembunyi di sana."

"Sungguh, kau tidak perlu—aku bisa bertahan sendiri, dan akan berbahaya kalau kau ketahuan membantu, Miss—"

"Panggil aku Dromeda saja," sela wanita itu. Binar dalam kedua matanya lembut, tetapi ditegaskan oleh tekad kuat. "Nah, mari, Pangeran."

Berbagai alasan untuk menolak telah sampai di ujung lidah. Seakan tahu apa yang akan Harry katakan, wanita itu bergeming dengan sorot mata menajam.

Oh, baiklah.

Pada akhirnya, Harry melemaskan bahu, menundukkan kepala, dan mengalah.

Lagipula, wanita ini—Dromeda—sudah bersumpah, jadi seharusnya Harry bisa mempercayainya.

Hanya untuk malam ini, tekad Harry. Dia tak seharusnya melibatkan warga biasa, tetapi hanya untuk malam ini, dia bisa sedikit memaafkan dirinya sendiri.

XOXO

Penjara Azkaban adalah salah satu tempat paling menakutkan yang pernah dibangun dalam Hogwarts. Penjaganya bukan manusia biasa, tetapi Creature mengerikan bernama Dementor, yang dikatakan hidup dengan cara mengisap kebahagiaan dari makhluk di sekitarnya. Kriminal yang telah terbebas dari tempat itu tak akan pernah berani melakukan apapun yang akan membuat mereka kembali ke tempat itu lagi—kecuali mungkin bagi mereka yang terlanjur tidak waras.

Di puncak tertinggi Azkaban adalah sebuah sel khusus. Lebih bersih, lebih berisi, lebih terawat. Namun juga dijaga dengan lebih banyak Dementor.

Sesosok pria dengan jubah kerja koyak melangkah dengan entakan-entakan yang sengaja untuk diperdengarkannya, mendekati pintu dari sel khusus itu.

Tujuan keberadaannya di tempat tak mengenakkan itu hanyalah satu hal. Satu manusia.

Manusia yang sama sedang terduduk di atas lantai dengan punggung menyandar dinding. Di tengah-tengah keadaannya yang terbelenggu, dia masih sempat menunjukkan senyuman miring meremehkan.

"Ah. Rufus Scrimgeour," sapanya dengan nada rendah dan halus. "Apa yang membuatmu begitu emosional?"

Scrimgeour tak repot-repot menanggapi. Dia tak ingin berlama-lama di dalam tempat itu, di tengah-tengah banyak Dementor. Terlebih, kegagalannya untuk menangkap Potter pada percobaan pertama membuat semua darah di dalam tubuhnya mendidih.

"Berdasarkan banyak pertimbangan, kami membuat keputusan baru sebagai respon atas… keadaan darurat yang saat ini mengguncang kerajaan," ucap Scrimgeour tegas.

"Keadaan darurat?" Pria di dalam sel mengulangi.

Scimgeour tak mengindahkannya. "Kau akan dieksekusi, Lord Voldemort. Kami beri waktu satu hari untuk menyiapkan diri."

Wajah Voldemort bergeming seperti batu.

"Kenapa—jika aku boleh bertanya—keputusan ini datang dengan sangat mendadak?" Voldemort mengeluarkan tawa pelan yang menggema hampa. "Rufus. Aku tak memerlukan Daily Prophet untuk tahu kalau sesuatu yang besar terjadi. Sesuatu yang membuat kalian kewalahan."

"Dalam waktu dekat, tidak lagi," tandas Scrimgeour. Dan tanpa perpisahan apapun, dia membalikkan tubuh, membawa pergi pula beberapa Auror yang berjaga di sekitarnya.

Sementara itu, di dalam sel yang baru saja ditinggalkan Scrimgeour, Lord Voldemort menunduk dalam-dalam. Tanpa suara, tanpa teriakan, dia membenturkan kepalanya kepada dinding sel. Begitu keras, hingga pandangannya memburam, hingga rasa perih mencakar-cakar kulitnya.

Dalam diam, Lord Voldemort marah—terhadap keadaan yang ada. Terhadap dirinya sendiri yang tak berdaya.


To be continued


AN: Dromeda hanya nama panggilan, tapi nama panjangnya bisa ditebak karena dia karakter canon. :)


Penjelasan bagi yang membutuhkan ^_^

Dark Area: daerah tak bertuan tempat orang-orang kubu kegelapan berdiam. Letaknya di ujung timur dunia. Dikatakan bahwa daerah itu tak bertuan karena sudah sangat rusak akibat paparan sihir kegelapan yang tinggi.