CHEM-IS-TRY

.

.

.

Summary : Shikamaru Nara adalah si pemalas yang selalu mendapat nilai bagus dalam pelajaran sains. Kendati demikian, dia tak mampu merumuskan reaksi kimia yang terjadi didalam tubuhnya tatkala ia bertatap mata dengan Temari, murid baru yang berasal dari Sunagakure. Bad at summary. AU. [For : ShikaTema Day Event : Voice For You] Enjoy reading :)

Disclaimer : All characters belongs to Masashi Kishimoto. I own nothing except the plot :)

Warning : Alur cepet, gaje, OOC, romance gagal, ngasal, abal dan masih banyak kekurangan disana-sini. Kalimat Italic merupakan kata hati/pikiran para tokohnya. Enjoy reading aja minna-san :)


.

.

.

"Hoaaammm!" Shikamaru membuka rahangnya dengan lebar, menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Pemuda itu bermaksud mendinginkan temperatur otaknya yang serasa makin memanas karena sudah hampir satu jam berkutat dengan puluhan soal fisika.

Temari melotot kearahnya. "Tutup mulutmu ketika sedang menguap! Bisa menular tahu!" Benar saja. Sesaat kemudian, gadis itu pun menguap. Dia pun melemparkan tatapan apa-kubilang-kan pada si pemuda berkuncir nanas.

"Jangan terlalu mendramatisir. Dasar wanita." Dia bergumam malas. Shikamaru memalingkan wajahnya dari Temari yang menatapnya seolah dia baru saja menularkan virus influenza pada gadis itu.

"Aku tidak melebih-lebihkan!" Temari terdengar kesal. "Sudah ada penelitian yang membuktikan hal tersebut. Itulah mengapa kita disarankan menutup mulut ketika menguap."

"Penularan dapat terjadi karena respon empatetik. Kalau kau tidak memiliki empati terhadap diriku, semestinya kau tidak tertular." Shikamaru menyahut santai. Temari terkesiap, begitu juga dengan Shikamaru.

Keduanya saling bertatapan. Rona kemerahan tampak bersemu di pipi mereka. Mengetahui hal itu, Temari langsung menundukkan kepalanya. Pandangannya kini menghadap buku tugas fisika yang terkuak diatas meja.

Shikamaru memainkan pulpennya, mengetuk-ngetukkannya ke meja agar suasana disekitar mereka tidak terlalu hening. Setelah Shikamaru mengatakan hal tadi, atmosfer yang menyelimuti keduanya menjadi sedikit berbeda.

Mereka saling tak bicara selama beberapa menit. Shikamaru melirik gadis cantik dihadapannya. Dia berterima kasih pada mata sipitnya karena terkadang orang-orang tak menyadari kalau dirinya tengah memperhatikan mereka. Termasuk Temari.

Shikamaru mengamati gadis itu diam-diam. "Pipinya sedikit lebih tembam dari yang ku impikan semalam. Tapi, terlihat lebih manis kok. Bentuk hidungnya bagus. Dagunya ranum dan…" Shikamaru menahan napas sejenak ketika tatapannya terpaku pada leher jenjang Temari.

Dia sudah setengah membayangkan bibirnya menyusuri leher indah itu. "Ada goresan kecil di kulit lehernya!"

Pemuda itu merasa takjub dengan kemampuan penglihatannya yang dapat menemukan seberkas luka tipis yang hampir tersamarkan dengan warna kulit Temari yang bagaikan mutiara. Dia mengalihkan pandangannya ke tangan Temari. "Pantas saja."

Temari menggaruk leher dengan ujung kukunya. Kebiasaannya di kala merasa tegang atau gelisah. Raut wajah Temari tampak datar, padahal gadis itu tengah berjuang melawan jantungnya sendiri agar tidak berdegup terlalu kencang.

Dia ingin mengatur napas agar sirkulasi udara dalam jantungnya bisa normal kembali, tapi itu sama saja dengan memberitahu pemuda Nara dihadapannya, kalau apa yang dikatakannya barusan berpengaruh besar pada dirinya.

"Shikamaru!"

"Temari!"

Mereka kembali terperangah untuk kedua kalinya, menyadari kekompakan mereka saling memanggil nama. Keduanya lantas tertawa untuk mencairkan suasana. Temari berdeham sedikit, mencoba menenangkan hatinya yang masih berdebar-debar.

Gadis itu pun kembali berkutat dengan bukunya. Temari mengerutkan dahinya, tampak sedang berpikir keras ketika tatapannya tertambat pada sebuah soal yang rumit. "Aku belum pernah mempelajari tentang ini! Gawat!"

Temari memutar bola matanya, melirik ke arah Shikamaru yang terlihat tak menemui kendala yang berarti ketika mengerjakan soal bagiannya. "Apa aku harus bertanya padanya?"

Sebelumnya, Temari tak pernah bertanya pada Shikamaru mengenai tugas sekolah karena sikapnya yang terkesan meremehkan pelajaran, tampak sombong di mata Temari.

Tapi akhirnya, gadis itu mengesampingkan gengsinya sejenak untuk bertanya pada Shikamaru. "Aku tidak begitu mengerti dengan soal yang ini."

Temari mendekatkan bukunya ke arah Shikamaru. Pensilnya menunjuk ke soal nomor sembilan puluh dua. Shikamaru menarik tubuhnya, hingga dada bidangnya menyentuh pinggir meja.

Temari memutar bukunya sedikit agar memudahkan Shikamaru. Mereka seharusnya mengerjakan soal fisika itu secara berkelompok. Tapi karena ego keduanya yang seperti gunung es, mereka sepakat membagi tugas untuk dikerjakan masing-masing. Dari seratus soal, Temari mengerjakan lima puluh soal, begitu pula dengan Shikamaru.

"Sebelumnya, mari kita rangkum terlebih dahulu," ujar Shikamaru setelah selesai membaca soal esai yang disodorkan Temari.

Dia meraih pulpennya dan menuliskan sesuatu dalam buku Temari. "Diketahui : r1 = 4 m, r2 = 40 m, TI1 = 110 dB dan n = 1000 dan yang ditanyakan adalah TI2."

"Rumusnya adalah TI2 = TI - 20 log r2/r1. Berarti, 110 - 20 log 40/4 atau sama saja dengan 110 – 20.1, maka didapat hasil 90 dB." Shikamaru menjelaskannya secara terperinci.

Temari bukannya memperhatikan penyelesaian yang dilakukan Shikamaru. Gadis itu malah menatap Shikamaru dengan takjub. "Dia terlihat lebih tampan dari Shiranui-sensei kalau seperti ini."

"Apa kau selalu pamer seperti ini dengan otak encermu?" Temari menyeringai, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang teratur.

Shikamaru membalas dengan seringai yang sama. "Hanya pada orang-orang tertentu, Nona." Keduanya pun tersenyum.

Mereka kembali mengerjakan soal fisika bersama-sama. Tugas sekolah malah semakin menumpuk menjelang ujian akhir semester yang akan dilaksanakan minggu depan. Hampir semua guru memberikan banyak PR dan tugas yang harus dirampungkan sebelum ujian.

Salah satunya, Genma Shiranui, guru fisika yang mengajar di kelas Shikamaru. Jangan tertipu dengan tampangnya yang bak seorang pangeran dan sifatnya yang ramah. Dalam hal tugas sekolah, Genma jauh lebih mengerikan daripada Ibiki, guru matematika yang terkenal killer.

Pria yang hobi mengemut lollipop itu tak segan-segan untuk menyuruh muridnya mengerjakan puluhan soal fisika dalam bentuk esai. Shikamaru sedikit merasa lega karena setidaknya tugas itu dikerjakan secara berkelompok walaupun hanya terdiri dari dua orang.

.

.

"Sudah kubilang kan kalau Shikamaru menyukai Temari! Lihat saja sikapnya tadi!" Kiba menyeletuk agak keras.

"Tapi, apa Temari juga menyukainya?" Shino menimpali dengan suara yang tidak kalah keras.

Kedua pemuda itu mengamati Shikamaru dan Temari dari celah rak buku. Tadinya mereka juga sedang mengerjakan tugas fisika di perpustakaan. Tapi, ketika melihat dua teman mereka yang terlibat dalam situasi yang aneh, Shino dan Kiba memilih untuk mencari tahu.

"Entahlah. Sepertinya dia juga menyukai Shikamaru. Bagaimana menurutmu?" Kiba balik bertanya. Keduanya sengaja mengeraskan suara mereka untuk meledek Shikamaru dan Temari. Kalau tentang menjahili orang lain, Shino dan Kiba memang partner yang kompak.

Tenten yang terkenal paling galak saja bisa menangis sesegukan lantaran menjadi korban keisengan Kiba dan Shino yang menguncinya di gudang belakang sekolah saat perayaan Halloween tahun lalu.

"Jangan membicarakan orang lain di belakang!" Shikamaru mulai gerah mendengar ocehan teman sekelasnya.

Seketika suasana berubah menjadi canggung antara dia dan Temari karena gadis itu menundukkan kepalanya cukup lama untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu sekaligus kesal.

"Kami tidak membicarakanmu di belakang kok!" Kiba dan Shino kemudian muncul dari balik rak buku yang berada didepan Shikamaru.

Kiba mengembangkan tawa liciknya. Gigi taring kecil menyembul dari ujung mulutnya. Shino tampak membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot.

"Terserahlah! Merepotkan saja!" Shikamaru menggerutu sambil membuang muka. Dia kesal karena waktu berduaannya dengan Temari terusik oleh kehadiran kedua temannya."Jarang-jarang aku mendapatkan kesempatan seperti ini. Mengganggu saja!"

Temari juga berpikiran sama. "Kenapa mereka datang kesini sih?! Mengganggu saja!" Temari mulai menikmati kebersamaannya dengan Shikamaru kendati awalnya dia masih merasa sungkan dan sering salah tingkah acapkali pandangan mereka saling bertemu.

"Mungkin Gaara dan Kankuro akan menertawakanku seandainya mereka melihat diriku seperti ini." Temari merasa hopeless dengan sikapnya sendiri. Shikamaru Nara memang berbeda dari pemuda lain yang pernah mampir dalam kehidupannya.

Shikamaru telah mampu menarik perhatiannya bahkan sejak pertama kali mereka bertemu. Sikap acuh tak acuhnya yang kerap kali mengundang amarah orang-orang di sekitarnya, tak menyurutkan antusiasme Temari terhadap pemuda itu.

Temari tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Dia pun tak ingin gegabah menyimpulkan bahwa segenap kegundahan dan getaran-getaran aneh yang dirasakannya setiap kali wajah mengantuk Shikamaru melintas di benaknya adalah indikasi adanya benih-benih cinta yang bersemayam dalam hatinya.

Menjadi satu-satunya wanita dalam keluarga semenjak ibunya meninggal dunia, Temari sudah terbiasa berpikir secara rasional dan mendahulukan akalnya daripada perasaannya.

Jadi, ketika pipinya memanas hanya karena tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan kekar Shikamaru, nalar logisnya malah sibuk mencari istilah-istilah ilmiah yang tepat untuk mengungkapkan maknanya.

Namun, setiap wanita memiliki dua sisi. Itulah kehebatan sekaligus kelemahan wanita. Sekuat apapun Temari membendung perasaannya terhadap Shikamaru, gadis itu tak mau memungkiri kenyataan kalau dia merasa nyaman dan bahagia ketika berdekatan dengan Shikamaru.

Temari menegakkan kepalanya perlahan, memandang pemuda keren dihadapannya dengan berani. Iris jadenya menyorot tajam. Namun seandainya Shikamaru cukup peka, barangkali dia dapat mengetahui sebuah makna yang tersirat dalam keindahan mata itu.

Sebuah harapan. "Apa Shikamaru memiliki perasaan yang sama denganku?"

Mulut Shikamaru sedikit terbuka ketika Temari memandangnya dengan tatapan yang begitu mendalam.

Bola mata hijau terang itu selalu mampu membuatnya terhipnotis dan bagai dimantrai, seandainya Temari memintanya untuk menusuk jantungnya sendiri, Shikamaru akan mengabulkan permohonannya tanpa ragu.

Ada daya magis yang terselubung didalam manik emerald yang tertuju persis kearahnya. Bagaikan energi mikroskopis yang tak dapat dilihat atau didengar. Akan tetapi, efek-efek yang diciptakannya mampu diindrai dengan rasional meskipun otak genius Shikamaru belum mampu menelaahnya dengan benar.

"Temari… Jika aku bisa menjadi bagian dari dirimu, maka aku ingin menjadi air matamu, yang selalu tersimpan dalam hatimu, lahir dari matamu, hidup di pipimu dan mati di bibirmu." Namun, Shikamaru tak berani mengungkapkan isi hatinya. Dia memilih pergi, menahan rasa sakitnya seorang diri.

.

.

.

Shikamaru dan Temari tak saling bicara sejak kejadian di perpustakaan beberapa hari yang lalu. Keduanya memilih menghindar dalam berbagai kesempatan. Tidak ada pula yang menanyakan hal itu karena sebenarnya hubungan mereka tidak seperti Neji dan Tenten yang merupakan sepasang kekasih.

Shikamaru berusaha untuk tidak mengindahkan hal tersebut, walaupun dirinya dihinggapi rasa bersalah karena Temari menjadi sedikit berubah setelah hari itu. Temari biasanya tak pernah melewatkan kesempatan untuk menyindirnya atau sekedar menyeringai kearahnya.

Tapi akhir-akhir ini, Temari bahkan enggan menatap wajahnya dan kerap kali menunduk atau memalingkan muka ketika tanpa sengaja tatapan mereka bertemu.

"Ada ada dengannya yaa?! Sikapnya jadi aneh seperti itu." Bukannya memikirkan ujian yang akan berlangsung besok, Shikamaru malah membayangkan gadis pirang berkuncir empat yang selalu hadir dalam mimpinya.

Shikamaru berguling ke kanan, menghadap dinding polos berwarna krem yang tampak baru dicat. Dia menatap malas tabel unsur kimia beserta penjelasannya dalam buku yang tengah ia pegang.

Tak satu pun dari susunan unsur itu yang mampir ke otaknya karena Temari sudah menginvasi pikirannya lebih dulu.

Dia memutar tubuhnya kembali, kini menghadap Neji yang sedang duduk bersandar pada rak buku besar yang terbuat dari kayu. Pemuda itu terlihat sedang membaca sesuatu.

Shikamaru berusaha memusatkan konsentrasinya pada materi ujian ditangannya. Tapi, mata kecilnya malah memandang bukunya dan Neji secara bergantian.

"Merepotkan!" Shikamaru akhirnya menyerah. Dia pun melemparkan bukunya ke lantai hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring hingga menarik perhatian Neji dari aktifitas membacanya. Pemuda tampan itu melirik Shikamaru sekilas sebelum kembali tenggelam dalam dunianya.

Mereka sedang berada di rumah Chouji untuk mendiskusikan materi ujian dari beberapa mata pelajaran, khususnya sains, yang merupakan spesialis Neji dan Shikamaru.

Rumah Chouji selalu menjadi pilihan Shikamaru dan kawan-kawan untuk berkumpul untuk belajar kelompok atau sekedar bersantai lantaran rumahnya yang besar dan sejuk serta sambutan dari orangtua Chouji yang selalu ramah pada mereka.

Hari itu adalah hari Minggu dan mereka sudah berkumpul di rumah Chouji sejak pukul sepuluh pagi.

Dua jam setelah makan siang, Chouji dan Sai memutuskan untuk membeli cemilan karena stok kudapan Chouji sudah habis karena diluar dugaan, Sai yang kurus itu ternyata doyan ngemil seperti Chouji.

Setelah beberapa saat, Shikamaru akhirnya mulai merasa bosan. Dia pun beralih kepada satu-satunya orang yang ada di kamar Chouji bersamanya. "Neji," panggilnya. Neji hanya menyahut dengan gumaman pelan.

"Apa yang kau rasakan pada Tenten? Apa kau mencintainya?" Neji terkesiap seraya melihat ke arah Shikamaru dengan tatapan nanar.

Neji kemudian membersihkan telinga kanannya dengan jari kelingking, memastikan kalau pendengarannya tidak bermasalah karena baru saja dia mendengar kata cinta terlontar dari mulut si biang pemalas.

"Apa maksudmu?! Tentu saja aku mencintai Tenten." Neji menjawab. Dia agak heran Shikamaru yang biasanya tak memedulikan hal-hal yang bukan urusannya, tiba-tiba menanyakan perasaannya terhadap Tenten. "Ah! Jangan-jangan?!" Neji langsung teringat sesuatu.

"Apa ini ada hubungannya dengan Temari?" Neji bertanya pada Shikamaru. Melihat reaksi temannya yang berubah gugup ketika ia menyebutkan nama Temari, Neji akhirnya meyakini perkataan Tenten dan sepupunya tentang Shikamaru dan Temari.

Beberapa waktu lalu, Hinata dan teman-temannya, termasuk Tenten, tengah memperbincangkan Shikamaru dan Temari yang kabarnya saling menyukai tapi saling menjaga gengsi karena ego masing-masing yang terlalu besar.

Tidak seperti Rock Lee yang selalu tertarik dengan urusan orang lain, Neji memilih untuk tak menanggapinya. Meski dia sedikit penasaran juga dengan kebenaran kabar tersebut, karena menyangkut Shikamaru yang super cuek, yang akhirnya tertarik pada sesuatu atau seseorang yang bukan kasur ataupun awan.

"Katakan saja padaku. Mumpung yang lain belum pulang." Neji menyarankan. Kendati selalu bersaing perihal nilai akademis, Shikamaru dan Neji sebenarnya adalah sahabat baik. Keduanya merupakan yang paling berkepala dingin diantara teman-teman sebaya mereka.

Shikamaru pastinya akan memilih Neji apabila ia ingin mendiskusikan hal yang serius atau menuturkan dirty little secretsnya. Shikamaru kemudian bangkit dari tempat tidur Chouji dan duduk bersimpuh di dekat Neji. "Mungkin aku akan merasa lebih baik setelah bercerita pada Neji," pikirnya.

Neji mempelajari mimik wajah temannya sejenak. "Kelihatannya pikiran Shikamaru sedang kalut," batinnya ketika mendapati rona kehitaman dibawah mata pemuda bersurai hitam itu yang mengisyaratkan kalau dia kurang tidur. "Hah? Shikamaru kurang tidur? Apa kata dunia?!"

Melihat ekspresi Shikamaru yang tampak payah, nyatanya tak mengurungkan niat Neji untuk menyindirnya. "Apakah otak pintarmu itu tak mampu menjelaskan perasaan yang kau alami ketika melihat Temari?" Shikamaru langsung mendelik tajam kearahnya. "Diam kau!" Sungutnya.

"Hahaha!" Neji tertawa lepas. Shikamaru pasti akan jadi sasaran empuk untuk diledek kalau teman-teman mereka yang lain tahu mengenai hal ini. "Atau mungkin sebenarnya mereka sudah tahu?" Neji sedikit tak yakin.

Neji menaruh buku yang telah selesai dibacanya ke rak. Pemuda itu kemudian mengambil tasnya yang tergeletak tak jauh dari tempat duduknya dan mengeluarkan sebuah buku tulis bersampul coklat yang bertuliskan namanya. "Itu namanya chemistry," katanya pada Shikamaru.

"Eh? Chemistry? Kimia?"

"Bukan. Sedikit berhubungan dengan kimia sih. Tapi bukan itu yang ku maksud." Neji tampak membolak-balik halaman bukunya kemudian menatap Shikamaru dengan penasaran.

"Apa kau merasa canggung ketika berada didekatnya? Contohnya seperti…" Neji memikirkan perumpamaan yang pas. "Kau mengetuk-ngetukkan pensil ke meja." Gestur dan cara bicara Neji layaknya seorang psikolog.

Shikamaru menggaruk belakang kepalanya dan mau tak mau mengiyakan pertanyaan Neji karena dia memang pernah melakukan hal itu. "Lalu apa hubungannya?"

"Ketika kau memiliki chemistry yang serius pada lawan jenis, tubuhmu akan meningkatkan produksi norepinephrine. Sehingga membuatmu canggung dan kesulitan mengkoordinasikan otak dengan gerakan tangan," tutur Neji. Shikamaru hanya membentuk mulutnya menyerupai huruf O.

"Apa kau pernah merasa tidak lapar atau tidak mengantuk setiap kali memikirkannya?" Neji melanjutkan wawancaranya.

Dia berusaha membuat Shikamaru nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya agar Shikamaru bisa merasa lebih rileks dan menceritakan masalahnya dengan santai.

Neji tak ingin pikiran Shikamaru terbebani oleh Temari padahal besok mereka akan menghadapi ujian. "Menang tanpa bertarung tidak akan ada artinya!" Neji rupanya tak ingin memenangkan 'pertarungan' nilai tanpa perlawanan dari Shikamaru. Makanya dia tak ingin Temari jadi penghalang dalam pertempuran mereka.

"Apa itu juga berkaitan?" Ekspresi Shikamaru jelas menandakan kalau dia juga mengalami hal itu. Neji tersenyum seraya mengganguk pelan.

"Saat kau tertarik pada seseorang, kadar dopamine dalam tubuhmu akan bertambah dan memicu perasaan menginginkan. Kadar dopamine yang tinggi dapat meningkatkan energi dan merasakan suatu kesenangan yang menggiurkan sehingga membuatmu lupa pada aktifitas sehari-hari, seperti makan dan tidur."

Shikamaru mengerjapkan mata sipitnya. Dia dapat memahami penjelasan Neji tentang chemistry, apalagi istilah norepinephrine dan dopamine bukan hal baru baginya. Shikamaru sangat hapal peranan kedua senyawa kimia itu didalam tubuh manusia.

Namun, ia tak pernah menyangka kalau hal itu berkaitan dengan sensasi mendebarkan dan efek kupu-kupu dalam perut yang menyerang sistem tubuhnya kapanpun Temari berada didekatnya.

"Selain kedua hormon tadi, masih banyak hormon lain yang memegang andil tak sedikit dalam sebuah chemistry yang tengah berkembang diantara dua manusia yang berlainan jenis. Seperti pheromone, oksitosin dan testosteron." Neji menutup sesi konsultasinya dengan menarik kesimpulan bahwa Shikamaru telah jatuh cinta dengan Temari.

"Aku? Jatuh cinta pada Temari? Tidak mungkin!" Shikamaru menyangkalnya. Tapi Neji menatapnya seolah ia baru saja mengatakan lelucon terlucu abad ini.

"Sungguh! Cinta tak datang tiba-tiba. Kau juga tahu itu kan?! Kau juga begitu kan?!" Shikamaru bersikeras, namun Neji tetap tak bergeming.

Neji mengutip karya salah satu penyair fenomenal. "Jangan anggap cinta datang dari persahabatan dan hubungan akrab yang lama. Cinta adalah anak keturunan kecocokan jiwa. Dan jika kecocokan itu tidak ada, maka cinta tidak akan pernah tumbuh dalam hitungan tahun, bahkan generasi."

Shikamaru menggertakkan giginya perlahan. "Tsk! Kau tidak usah bersikap seperti pujangga!" Neji mengangkat bahunya. "Tapi dengan itu, aku bisa meluluhkan hati wanita, bukan?!" Neji membanggakan diri. Shikamaru hanya merengut.

"Terimalah kenyataan, Shikamaru. Kau sudah terpikat dengan Temari. Kau sudah jatuh cinta padanya, bahkan sebelum kau menyadarinya kalau kau mencintainya."

Shikamaru merenungkan kata-kata Neji. "Benarkah aku jatuh cinta pada Temari?" Dia masih tak yakin. Namun, dirinya juga belum mampu menguraikan hipotesa yang cukup masuk akal atas apa yang tengah melanda dirinya sejak bertemu dengan Temari dan berada didekatnya.

"Inikah yang namanya cinta?" Suara Shikamaru hampir tersamarkan oleh angin yang berdesir lembut memasuki kamar Chouji melalui celah-celah jendela. Neji lagi-lagi hanya mengukir senyum meneduhkan di wajah tampannya.

"Kalau kau berusaha mencari jawabannya dengan otakmu, sampai rambutmu memutih pun, kau tak akan pernah mendapatkannya." Neji menepuk kepala nanas Shikamaru dengan bukunya. Shikamaru pura-pura meringis sambil memegangi kepalanya.

Dia tak membantah ucapan Neji karena memang benar adanya. Selama ini dia terus memutar otak, memeras keringat untuk mendefinisikan sensasi aneh yang menggerogoti tubuh dan pikirannya setiap kali bertatapan dengan Temari.

Shikamaru belum pernah mengalami hal ini karena dulu ia menganggap bahwa semua wanita merepotkan. Makanya, dia selalu menjaga jarak dari mahluk Tuhan yang katanya paling indah itu. Terkecuali dari ibunya, mungkin juga beberapa guru wanitanya, serta Ino dan kadang Tenten.

Jadi, ketika Temari yang dengan wajah rupawan dan senyuman menawan tahu-tahu datang menerobos kehidupannya yang aman dan tenteram bersama awan, Shikamaru sempat kalang kabut seperti halnya Kiba yang kehilangan Akamaru atau mungkin lebih dari itu.

Apalagi dengan sikap Temari yang kadang memperlakukan Shikamaru seakan dia adalah pemuda yang lemah. "Tak tahukah dia kalau aku ini pemegang sabuk hitam karate? Tak tahukah dia kalau aku mempunyai IQ mencapai dua ratus?"

Shikamaru malah semakin penasaran dengan gadis Suna yang tampaknya tidak terpukau dengan kedua hal tadi dan malah menjadikannya guyonan belaka.

Temari pun kerap kali menyambangi Shikamaru dalam mimpinya, yang mengakibatkan pemuda yang baru saja merayakan sweet seventeennya pada tanggal dua puluh dua September lalu, harus bergegas ke kamar mandi lantaran dirinya selalu terbangun dengan bermandikan peluh.

Tidak banyak wanita yang berkenan mampir di kehidupan membosankan Shikamaru. Anehnya, dia malah menikmati kesendiriannya bersama iring-iringan awan atau taburan bintang-bintang. Namun, Temari berbeda. Dia telah mengacaukan hubungan mesranya dengan alam mimpi.

Bahkan gadis itu telah berhasil menjungkirbalikkan dunia Shikamaru hanya dengan tatapannya. Ketika pandangan mereka saling bertemu untuk pertama kali, Shikamaru hampir memucat lantaran jantungnya terus berdetak hebat.

Seribu satu macam perasaan menjalari urat-urat syarafnya. Takut, cemas, gelisah, sedih, bahagia, marah, kecewa, semuanya datang mengeroyok hatinya silih berganti. "Bagaimana bisa hanya dengan satu tatapan, dia sudah meluluh-lantakkan benteng pertahananku dan menyerang secara bertubi-tubi?"

Kala itu, Shikamaru tahu bahwa dia sedang bertatapan dengan seseorang yang memiliki kepribadian yang mengagumkan sehingga jika dia tetap berada disana menatapnya, seluruh eksistensinya, seluruh jiwanya dan bahkan mungkin kecerdasannya, akan tersedot ke dalamnya.

"Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, dimana cinta dapat berkembang." Shikamaru akhirnya mempercayai perkataan ayahnya yang beberapa waktu lalu hanya dianggapnya angin lalu. "Aku sudah mengalaminya, Ayah. Aku telah jatuh cinta."

Shikamaru melipat kedua lengannya di dada, menatap Neji yang sedang mengutak-ngatik smartphonenya, tengah mengetik sesuatu.

"Tapi sepertinya…" Shikamaru sedikit mengeraskan suaranya. Neji mengangkat kepalanya sekilas, hingga iris mutiaranya beradu dengan manik kecil di mata Shikamaru. "Dia tak memiliki perasaan yang sama denganku." Shikamaru terdengar sedih.

Dia telah menyakiti Temari karena meninggalkannya sendirian ketika mereka terjebak dalam situasi yang sangat tak kondusif. "Kau adalah seorang pengecut, Shikamaru!" Dia merutuk dirinya sendiri.

Neji mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di bukunya kemudian memperlihatkannya pada Shikamaru. "CHEM-IS-TRY!" Ditulis dengan huruf kapital yang tebal. "Apa kau lupa dengan ini?" Neji yakin Shikamaru tak akan pernah melupakan slogan dari Kakashi-sensei, guru kimia mereka.

"Semua penemuan besar, diawali dengan usaha yang tak pernah mengenal kata lelah dan menyerah. Kalau semua ilmuwan bersikap sepertimu, maka kita akan seterusnya hidup di jaman batu. Jadi, berusahalah untuk mendapatkan cinta Temari mulai sekarang!" Neji menyemangati sahabatnya. Sebentuk senyum penuh asa terukir di wajah Shikamaru.

.

.

.

To be continued…


Feel free to critic and review. Thanks anyway :)