Yo, Kuro-desu! Kali ini saya yg akan ngasih sepatah dua patah kata sebelum kalian baca chapter 2 (mau di skip jg boleh kok :D ). Sebenernya saya pengen Sachii Alsace jg ikutan ngucapin sesuatu, tapi berhubung dia nggak ngirim2 apa yg mau dia ucapin n chapter 2 ini akhirnya tersendat utk update padahal udah selesai beberapa minggu yang lalu (maaf Chii, saya gg lagi nyalahin kamu kok :D )
Oke2, saya mau balas review dulu:
himawari wia:
Kuro: Makasih udah bilang fic kami keren, hehe. Dukung terus author ya dg review (maunyaaaa). Ah! Chii! Ada yang tanya lemon! Fic ini mungkin bakal ada lemon asal Sachii mau nulisnya #ketawa nista. Habis sejauh ini, saya yg diminta buat nulis adegan2 kissu de-es-be. Padahal saya, kan, polos #siapkan kantung muntah.
Icha Clalu Bhgia:
Kuro: Gara2 Icha bilang SasuNaru jangan mati, malah jadi kepikiran ngebuat mereka mati deh #eh? Becanda kok XD
autumn aoki:
Kuro: Jangan-jangan…. Saya yang nginjek? OWO
Akira Veronica Lianis:
Kuro: Wah, hebat! Belum dibaca udah dibilang 'kayak'nya menarik #plok2 #tepuk tangan XD. Iya gpp, meski belum baca tapi udah review. Well, sankyu~
Yamaguchi Akane:
Kuro: Iya, kalo gg disilang nanti authornya kerepotan bikin lemon mulu XD, nggak disilang aja ItaKyuu tetep panas #eh? Apa nih? Si Kyuu satu jurusan plus seangkatan sama Itachi.
Kyuu: Heh, Kuro-baka, ada yang tanya ttg Red Devil Story tuh!
Kuro: Ah, iya, saya udah tulis kelanjutannya tapi belum selesai. Gomen saya lelet XD
Naru: Minta maafnya jangan sambil ketawa dong!
Thanks untuk kalian yang sudah baca dan me-review, nge-fave, nge-follow fic ini. Bagi kami semua itu merupakan dukungan untuk ngelanjutin fic ini.
Well, enjoy this chap~
Tidak seperti biasanya, pagi ini Naruto sudah bangun meskipun burung-burung belum bercicit. Biasanya di hari libur seperti ini dia baru akan meregangkan tubuhnya saat matahari sudah tinggi, atau kalau perutnya sudah berbunyi. Naruto berbekal jaket tebal menyusuri area di sekitar villa Uchiha. Naruto menghela nafas panjang. "Dimana jamku?"
Judul
Not Only Acacia but also White Lily
Chapter 2
In the Middle of Rain
Rate:
M
Main Pair:
Sasuke x Naruto
Itachi x Kurama
Disclaimer:
Naruto bukan punya kami, meski kami maunya gitu #dihajar Masashi Kishimoto
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning:
AU, OOC, gaje, typo, YAOI of course :D , galau setelah UTS #curcol :D
Fic collab saya dengan Sachii Alsace
Don't like don't read!
Sasuke membalikkan badannya dan meraba-raba tempat di depannya, mencari sesuatu yang empuk. Perut Naruto tentu saja, apalagi? Sasuke mengernyitkan alisnya saat tidak mendapatkan apa yang dia cari. Sasuke membuka matanya perlahan, rasa kantuk akibat mencari jam Naruto benar-benar membuat kelopak matanya terasa berat.
"Naru?"
Sasuke menghela nafas. Dia tahu kalau Naruto pasti keluar dari tenda pagi-pagi karena ingin mencari jam tangannya yang hilang. Sasuke menggelengkan kepalanya saat membayangkan reaksi Naruto kalau tahu jamnya sudah hancur seperti ini. Sasuke bangun dari posisinya tanpa memedulikan kalau langsung berdiri setelah bangun tidur bisa membuat tekanan darahnya turun.
"Mau kemana Anak Ayam itu?" gumam Kurama yang melihat Sasuke keluar dari tenda.
"Mungkin mencari Naruto," jawab Itachi yang masih memejamkan matanya.
"Kau ngelindur, Chi?" Kurama melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Itachi. Tidak mendapatkan respon apapun, Kurama menyimpulkan kalau Itachi memang mengigau. Kurama yang iseng pun menyentuh wajah Itachi dan meraba-rabanya. "Lihat keriputmu ini!" Kurama terkikik saat menyentuh sesuatu yang biasa disebut Kurama sebagai keriput Itachi.
"Eh?" Secara tiba-tiba Itachi melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Kurama dan menariknya ke pelukannya. Kurama terjatuh di atas tubuh Itachi. Menindihnya.
"Kau ini bangun atau ngelindur, sih, Keriput?!" berontak Kurama, berusaha lepas dari dekapan Itachi.
"Hn." Itachi masih memejamkan matanya dan melesakkan kepalanya ke dada bidang Kurama.
"Kau bangun! Kau pasti sudah bangun! Lepas!"
Itachi mengangkat wajahnya dan menatap Kurama. "Pagi, Kyuu." Itachi melemparkan senyuman selamat paginya.
"Ck! Lepas, ah!"
"Hn." Itachi menggeleng dan menenggelamkan wajahnya ke dada Kurama lagi, menarik Kurama semakin merapat padanya.
.
.
Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi. "ASTAGA! DIMANA JAMKU?!" Teriakan Naruto membuat hewan-hewan yang ada di sekitarnya terkejut dan langsung berlarian menjauhi sumber suara. Naruto membalikkan badannya dan terus berjalan di dalam hutan buatan milik keluarga Uchiha. Naruto yang sudah lelah berjalan mendudukkan diri di atas batu besar berwarna hitam di bawah sebuah pohon gingko yang sepertinya sudah cukup tua.
Naruto memejamkan matanya, merasakan hembusan angin pagi yang menerpa wajahnya. Terasa damai sekali. Sesaat Naruto bisa melupakan rasa lelah karena berkeliling sejak tadi hanya untuk mencari jam tangan yang sangat penting baginya. Ya, hanya sesaat. Karena setelahnya dia langsung membelalakkan matanya karena mengingat suatu hal yang sangat penting.
"Etto…." Naruto melihat ke sekeliling. Rasanya kemarin dia tidak lewat jalan ini. "Sepertinya… aku tersesat," gumam Naruto sambil berdiri dan kembali melihat sekelilingnya.
Naruto akhirnya memutuskan untuk kembali ke tenda karena merasa sudah waktunya perutnya untuk diisi dengan makanan. Naruto pun berjalan ke arah utara meninggalkan batu besar itu.
"Err.., sepertinya ini tempat yang tadi," Naruto menggaruk belakang kepalanya saat melihat batu besar di hadapannya. Naruto menengadahkan kepalanya dan mendapati helaian merah muda gingko berguguran karena terpaan angin. "Ini memang tempat yang tadi." Naruto kemudian memutuskan untuk mengambil arah barat kali ini karena dia barusan muncul dari arah timur.
Naruto berjalan dengan sedikit rasa was-was kali ini. Bagaimana tidak? Kalau dia kali ini muncul di tempat itu dari arah selatan, maka sudah bisa dipastikan bahwa dia benar-benar tersesat. Naruto terus berjalan dan menandai jalan yang sudah dilewatinya kali ini.
"AARGH!" Naruto berteriak frustasi saat dia melihat pemandangan di hadapannya. Sebuah batu besar dan pohon gingko. Naruto benar-benar tersesat sesuai dugaannya barusan. Kali ini dia muncul dari arah selatan batu besar tadi.
SRAK! SRAK!
Naruto membalikkan badannya saat mendengar gemerisik dari arah semak-semak di belakangnya. "Siapa?" tanya Naruto memastikan siapa yang menimbulkan bunyi barusan.
Karena tidak mendengar suara lagi, Naruto menyimpulkan kalau itu barusan mungkin suara semak-semak yang terkena hembusan angin. Naruto berniat membalikkan badannya lagi saat tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari arah semak-semak lagi. Naruto melihat siluet yang cukup besar dari ujung matanya.
Sekelebat bayangan yang ditangkap mata Naruto bergerak cepat mendekat ke arahnya. Mendengarkan instingnya yang mengatakan kalau sosok di belakangnya berbahaya, Naruto segera berlari menjauhi tempat itu. Naruto terus berlari karena merasa sosok tadi mengejarnya. Gemerisik suara semak-semak semakin berisik. Tidak salah lagi, sosok itu pasti mengejarnya di antara semak belukar di sisi jalan yang dilewatinya. Kalau Naruto memotong area semak belukar itu, maka sosok itu pasti akan menangkapnya.
Lari. Lari. Lari.
Tenaga Naruto mulai terkuras karena terus berlari dari sosok yang belum jelas wujudnya itu. Sebenarnya, dia sudah kelelahan sejak tadi karena terus berkeliling hutan mencari jam tangannya. Kaki Naruto terasa sangat berat dan dia mulai merasakan kalau betisnya mulai kaku sedangkan persendian lututnya terasa lumer. Naruto menghentikan derap langkahnya saat merasa dia benar-benar kehabisan tenaga dan nafasnya sudah tidak beraturan sama sekali.
"Siapa di sana?! Keluar!" seru Naruto dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
SRAAAK! Naruto memejamkan matanya erat-erat saat merasa sosok yang mengejarnya melompat keluar dari persembunyiannya. Tidak merasakan adanya ancaman dari pengejarnya yang hanya bergeming, Naruto memberanikan diri untuk membuka matanya.
"Ru-rusa?!" Naruto terkejut saat melihat si Pengejar yang ternyata adalah hewan berkaki empat dan bertanduk.
"Haah…! Kupikir kau manusia. Atau setidaknya harimau," ujar Naruto penuh nada kelegaan. "Sepertinya aku makin masuk ke dalam hutan," Naruto mengusap keringat di dahinya. "Bagaimana caraku untuk kelu.. ." Naruto menghentikan ucapannya saat merasakan sebuah tangan yang dingin menutupi matanya.
Suara Naruto tercekat. Dia terkejut setengah mati. "S-Si…." Lidahnya kelu hingga dia tidak sanggup berbicara atau pun berteriak.
Entah mendapatkan tenaga dari mana, tiba-tiba secara refleks, tubuh Naruto bergerak memutar, sikunya melayang untuk menghajar sosok yang sekarang berdiri rapat di belakangnya.
"OUCH!" Siku Naruto berhasil mengenai ulu hati dari sosok yang ada di belakangnya. Secara refleks juga, sosok itu melepaskan tangannya yang barusan menutup mata Naruto untuk memegang bagian yang terkena siku Naruto.
"SUKE!" teriak Naruto begitu melihat Sasuke yang ternyata adalah sosok di belakangnya dan langsung menghambur ke pelukan Sasuke. "Kau mau membuatku mati karena serangan jantung, ya, Teme!" protes Naruto karena bercandanya Sasuke benar-benar keterlaluan dan membuat dia ketakutan hingga hampir menangis.
"Kau sendiri memukulku sekeras ini, Dobe." Sasuke meringis menahan ngilu di ulu hatinya, belum lagi Naruto yang memeluknya erat.
"Habisnya…." Naruto melepas pelukannya, "Maaf, Suke."
"Hn. Kau benar-benar ketakutan sampai berkeringat sebanyak ini?" tanya Sasuke yang memperhatikan Naruto, penuh keringat dan berantakan.
"Kupikir aku tersesat dan tadi ada yang mengejarku."
"Mengejar?"
"Iya, tapi ternyata hanya seekor rusa. Hehe."
Sasuke terdiam dan melihat ke sekililing seolah memastikan bahwa saat ini di tempat ini hanya ada dia dan Naruto. Kemudian dia beralih melihat Naruto lagi.
"Suke, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naruto yang baru sadar, sepertinya mereka sudah berada sangat jauh dari lokasi camping. Dia pikir, dia tidak akan bisa kembali ke tenda, tapi beruntung dia bertemu dengan Sasuke.
"Mencarimu, tentu saja," jawab Sasuke sambil memukul kepala Naruto pelan. "Kau, kan, mudah tersesat. Dobe, kau masih mencari jam itu, kan?"
"Eh, iya! Apa kau sudah menemukannya, Suke?"
"Sudahlah, jam seperti itu akan kubelikan kalau kau benar-benar menginginkannya."
"Tidak mau!"
"Kyuubi juga sudah bilang dia tidak masalah meski kau menghilangkannya, kan?" Sasuke tidak mengerti dengan kekeras-kepalaan Naruto. Hanya karena sebuah jam tangan biasa dan dia mau berkeliling hutan dengan susah payahnya.
"Itu berharga buatku."
"Ck! Kalau itu hadiah dariku, apa kau akan mencarinya sampai seperti ini juga, Naruto?"
"Tentu saja! Kenapa kau mesti tanya begitu?"
Sasuke mendesah, "Ayo kita kembali." Kata Sasuke sambil menarik tangan Naruto.
"Lepas! Aku masih mau mencari jam itu!"
Sasuke tidak melepas genggamannya dari tangan Naruto seperti yang diinginkan pemuda itu dan masih menarik Naruto untuk kembali ke tenda.
"Suke!"
"Kau bukan mencarinya! Kau hanya membuat dirimu tersesat!"
Naruto terdiam, wajahnya tertunduk dalam-dalam. Sasuke berhenti menariknya dan berbalik untuk menghadap ke Naruto. "Kurama-nii itu jarang memberiku hadiah… dan jam itu… aku ingin menyimpannya baik-baik. Aku…."
Sasuke memeluk Naruto. "Aku mengerti," kata Sasuke sambil membelai rambut pirang Naruto. "Tapi kalau kau bertidak ceroboh seperti ini, aku tidak bisa berhenti khawatir."
Naruto terbelalak, dia terkejut dengan apa yang diucapkan Sasuke. Benar. Dia harusnya tidak bersikap kekanakkan seperti ini. Lagipula Kurama sudah bilang tidak masalah. Jam itu penting, tapi ada hal-hal lain yang juga penting. Seperti…. Sasuke?
Naruto melepaskan dirinya dari pelukan Sasuke dan mendekatkan wajahnya ke wajah Uchiha bungsu. Mendaratkan sebuah ciuman manis di bibir sang Uchiha.
"Maaf, Suke."
Sasuke tersenyum, senyuman hangat yang hanya ditujukan untuk Naruto.
"Hn."
Mereka kembali berjalan menuju tenda dengan saling menautkan jemari mereka.
.
.
"Oh, kalian sudah kembali?" tanya Itachi yang sedang berusaha menghidupkan api di atas tumpukan kayu bakar yang dikumpulkannya. Keinginan Kurama yang tidak terduga-duga memang sering membuatnya harus kerja keras dan ekstra sabar, seperti berusaha membuat sarapan di atas kayu bakar, sedang di villanya sudah ada pelayan yang datang dan akan menyiapkan sarapan yang enak. Itachi sudah menghubungi para pelayannya kalau dia dan tamu-tamunya mengadakan camping di sekitar villa.
"Hn." Sasuke langsung duduk begitu sampai di lokasi camping. Capek. Dia tidak menyangka kalau Naruto bisa tersesat sampai sejauh itu dari tenda.
"Hutan buatan ini benar-benar luas, ya. Bahkan ada rusanya juga." Naruto ikutan duduk di samping Sasuke sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke.
"Chi, aku lapar." Kata Kurama yang baru keluar dari tenda. "Makanannya belum jadi?"
"Ini akan lama. Apa kau mau kembali ke villa saja?" tawar Itachi, dia berhenti dengan kegiatannya menusuk-nusukkan daging yang dibawa Kurama dan melihat ke arah kekasihnya.
"Sayang sekali kalau harus kembali ke villa. Kita, kan, lagi camping." Kurama mendekat ke Itachi dan memeluknya dari belakang. "Hey, kalian berdua darimana saja?" tanya Kurama sambil menatap tajam pada dua orang yang duduk berseberangan dengannya dan Itachi.
"Hanya berjalan-jalan, kok." Jawab Naruto bohong. Kalau dia bicara yang sebenarnya tentang mencari jam tangan, Kurama sepertinya akan berteriak marah padanya.
"Hm? Tidak berguna. Cepat bantu Keriput bikin sarapan, aku lapar." Kata Kurama bossy, lalu berbalik mau meninggalkan mereka.
"Kau sendiri mau kemana?"
"Mandi." Jawab Kurama singkat dan berjalan ke arah danau buatan kecil yang tidak jauh dari tempat mereka mendirikan tenda. "Makanan harus sudah jadi saat aku kembali nanti, oke?"
Kuro_Chii
Naruto melempar ranting kecil ke dalam api unggun yang ada di hadapannya. Sekarang mereka berempat duduk melingkari api unggun. Sasuke, Naruto, Kurama dan Itachi. Sasuke bermain-main dengan senar gitar yang dipegangnya, tadi mereka sudah bernyanyi-nyanyi diiringi suara gitar dari Sasuke.
Setelah seharian berjalan-jalan mengelilingi hutan—dengan dipandu Itachi—dan selesai dengan beberapa perlombaan kecil yang mereka buat sendiri, mereka duduk-duduk santai sambil menghangatkan tubuh di dekat api unggun.
"Eh? Hujan?" Naruto merasakan setetes air jatuh ke pipinya. Dia menengadah ke atas dan melihat sekumpulan awan hitam sudah menutupi langit malam yang tadinya cerah berbintang.
"Hujan. Cepat kembali ke tenda." Kata Itachi sambil membereskan barang-barang yang ada di luar dan menutupinya seadanya agar tidak kebasahan oleh hujan.
"Padahal tadi cuacanya cerah," Naruto mengusap-usap pakaiannya yang sedikit basah.
"Cuaca di sini memang sering berubah-ubah."
"Gelap. Dimana senternya?" tanya Kurama yang mencari penerangan karena mau mengambil pakaian ganti di tasnya.
"Ini, nih." Naruto menyodorkan senter yang berada di dekatnya, "Eh, kok nggak nyala?"
"Mungkin baterainya habis." Itachi menyalakan korek yang dibawa di sakunya, lalu mengambil lilin yang sudah disiapkannya.
"Kau juga sebaiknya ganti baju, Naru. Bajumu basah."
Setelah berganti pakaian, mereka duduk melingkar lagi. Tidak seperti tadi yang mengelilingi api unggun, kali ini mereka mengelilingi api kecil dari lilin yang dinyalakan Itachi. Tenda yang mereka dirikan cukup besar untuk menampung mereka berempat sekaligus.
"Ano… sepertinya hujannya deras." Naruto melihat tenda yang mereka dirikan bergerak-gerak seperti akan rubuh. Hujan yang turun memang lebat dan berangin.
"Tenang saja, tenda ini kuat, kok." Kata Itachi menenangkan. Itachi melirik ke pemuda merah yang duduk tepat di sebelahnya. Wajah Kurama pucat pasi.
"Kyuu? Kau baik-baik saja?"
"…." Baru saja Kurama mau menjawab pertanyaan Itachi, suaranya teredam dengan suara petir yang mengiringi turunnya hujan kali ini. Wajahnya semakin pucat saja.
"Hn? Apa siluman rubah ini takut petir?" Sasuke tersenyum mengejek sambil menatap Kurama yang berusaha terlihat galak karena sindiran Sasuke.
"Diam kau, Anak Ayam!"
"Ah, iya, Kyuu-nii, kau takut petir, kan?" Naruto ingat kalau sejak kecil, Kurama memang takut dengan petir dan akan selalu diam-diam menyelinap ke tempat tidur Naruto di malam hujan deras.
Itachi tersenyum, dia merasa Kurama yang kelihatan rapuh saat ini benar-benar manis. Tangannya bergerak meraih tangan Kurama dan menggenggamnya.
"Bagaimana kalau kita tes keberanian saja?" ajak Itachi tiba-tiba.
"Boleh juga!" Kata Kurama yang semangatnya juga tiba-tiba kembali. Sepertinya Itachi memahami bagaimana cara membuat kekasihnya itu lupa dengan rasa takutnya.
"Hn."
"Eh? Ng-nggak mau!" tolak Naruto tegas. Kalau tes keberanian yang dimaksud adalah tantangan untuk mendengarkan cerita horror, hell no! Naruto tidak mau, tidak akan pernah mau. Saat ini mereka sedang di tengah hutan—meski hutan buatan—dan di tengah-tengah hujan lebat dengan petir saling sahut-menyahut. Bukankah itu sudah cukup untuk mengetes keberanian?
"Kenapa, Naru?" Kurama merangkul bahu Naruto sambil menampilkan cengiran lebarnya. "Kau takut…." Suara petir yang menginterupsinya, membuat wajahnya yang semangat menjadi pucat lagi. Baru saja dia mau menakut-nakuti adiknya.
"Cih! Bergaya mau menakut-nakuti," ledek Sasuke.
"Kuso…."
"Sasuke, kau duluan."
"Naru, kalau kau takut, kau bisa memelukku."
"Teme, kau mesum!" Naruto menutup kedua telinganya rapat-rapat.
"Kalian pernah dengar tentang makhluk yang menyerang saat," JLEGAR! Suara petir menginterupsi cerita Sasuke yang baru dimulai. "Makhluk itu…" lagi-lagi petir menyela. "Dia…" petir menyela lagi. "Korbannya biasanya takut petir." JLEGAR! Petir mengakhiri cerita Sasuke.
"Teme? Cerita apa itu?" Naruto sudah tidak menutup telinganya. Baginya, cerita Sasuke yang diinterupsi petir berulang kali itu lebih mirip dengan cerita humor.
"K-Kau sengaja, ya, Anak Ayam?!" Kurama benar-benar merapat ke Itachi. Memeluk Uchiha sulung.
"Hn? Sengaja bagaimana?" tanya Sasuke tidak mengerti sambil bertatap mata dengan Itachi, penuh makna.
"Baiklah! Selanjutnya aku!" Naruto mengangkat tangannya.
"Kau tidak takut lagi?"
"Hah? Aku tidak takut, kok. Kalian, lah, yang akan kubuat ketakutan. Bersiaplah. Haha." Kata Naruto mulai sombong. "Dua hari yang lalu, saat angkatanku sedang dilantik sebagai mahasiswa baru di jurusan Kedokteran Hewan, terjadi hal yang… mengerikan!" Naruto memulai cerita dengan suara yang diperdalam, mendramatisasi.
Beberapa menit kemudian.
"…. Kami terus berlari-berlari sampai kelelahan. Lalu ada satu mahasiswa yang berada tepat di sebelah toilet, bahunya dipegang oleh tangan dingin yang muncul dari dalam bilik toilet. GYAAAAAAAA!" satu-satunya teriakan yang terdengar hanya suara teriakan Naruto.
"Jadi? Itu tangan seniormu?" tanya Kurama, tampak bosan.
"Apa tangan itu menyentuhmu juga?" tanya Sasuke yang langsung meraba tubuh Naruto, memastikan Naruto baik-baik saja.
"Oh," kata Itachi yang bingung harus berkata apa atas cerita Naruto.
"Eh? Eh? Kalian tidak takut? Itu menyeramkan! Menakutkan!" protes Naruto karena tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang memasang wajah ketakutan.
"Kau sudah berusaha, Dobe," puji Sasuke tulus.
Kali ini giliran Kurama. Hujan masih lebat saat Kurama memulai ceritanya.
"…."
"Aku ingin muntah…." Naruto memegangi perutnya yang mual karena mendengar cerita horror versi Kurama. Sasuke juga tidak beda jauh dengan Naruto, mukanya sudah membiru menahan mual di perutnya.
"Lalu ususnya ditarik keluar…."
"Hentikan! Hentikan! Kumohon hentikan dia, Itachi-san!" teriak Naruto memotong cerita Kurama dan berharap Itachi menghentikannya. Sejak tadi dia dan Sasuke sudah meminta Kurama untuk tidak melanjutkan ceritanya tapi Kurama tidak mau dengar.
Cup!
"GYA! Apa yang kau lakukan, Keriput!" Kurama mengusap-usap bibirnya yang dikecup Itachi tiba-tiba.
"Menghentikanmu sesuai dengan keinginan mereka," jawab Itachi sambil senyum.
"Cih! Padahal lagi dibagian yang paling seru," gerutu Kurama.
"Sekarang giliranku." Itachi memulai.
"Orang-orang sudah membicarakan ini dari mulut ke mulut, hampir semua orang tahu dan percaya tentang kisah sepasang kekasih yang meninggal sebulan yang lalu." Itachi menjeda ceritanya, menunggu petir yang menggelegar di luar tenda, sedang Kurama langsung meringkuk menutupi telinganya.
"Hari itu mereka memutuskan untuk menghabiskan liburan mereka dengan ber-camping di salah satu hutan di kaki gunung. Sebenarnya tidak hanya mereka berdua yang saat itu pergi camping, banyak orang yang memutuskan untuk camping di lokasi yang sama seperti mereka. Tapi, saat malam tiba, malam itu hujan lebat dengan petir sahut-menyahut, mereka terjebak di dalam tenda mereka sendiri…."
"S-Seperti kita, ya?" komentar Naruto, kedua tangannya sudah melingkar erat di pinggang Sasuke.
"Yah, bisa dibilang begitu. Saat itu, salah satu dari mereka melihat sebuah tangan bergerak masuk dari pintu tenda. Tangan itu bergerak tanpa tubuh dan mencengkeram kaki si wanita. Tentu saja si wanita itu berteriak, lalu mereka berdua lari keluar dari tenda. Saat di luar, mereka tidak melihat satu pun tenda-tenda lain. Bahkan orang-orang yang sempat mereka temui sesaat sebelum hujan badai pun menghilang tanpa jejak. Karena merasa diintai dan dikejar oleh sekelebat bayangan, kedua pasangan itu pun lari dari lokasi camping lalu terjatuh ke dalam danau dan meninggal. Kabar yang beredar, arwah dua orang itu suka mengganggu orang-orang yang sedang camping dan menarik mereka masuk ke dalam danau." Itachi mengakhiri ceritanya.
"B-Bukankah ada danau di dekat sini? Yang tadi buat mandi Kyuu-nii…"
"Ah! Cerita begitu nggak bisa dipercaya!" Kurama melipat lengannya di depan dada. "Kau nggak bisa menakut-nakutiku, Keriput."
"Hn?"
"Aniki, cerita itu tidaklah terjadi di hutan di kaki gunung, bukan?" tanya Sasuke setelah lama terdiam menikmati pelukan erat dari Naruto.
"Benarkah?" Itachi mengingat-ingat cerita yang baru diceritakannya.
"Bukankah itu cerita tentang sepasang kekasih yang menyelinap ke villamu lalu ditemukan tewas di danau?"
"EH?" pertanyaan atau pernyataan Sasuke barusan sukses membuat Naruto berteriak. "Mak-Maksudmu, kejadian itu terjadi di sini, Suke?" Naruto terbelalak.
"Bodoh! Cerita itu hanya karangan Keriput ini!"
SRET!
Sekelebat bayangan muncul dari luar tenda mereka.
"S-Suke… kau melihatnya?" Naruto gemetar ketakutan, dia menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Sasuke, sedang telunjuknya yang jelas-jelas bergetar hebat menunjuk ke arah bayangan yang seolah sedang mengintai mereka yang ada di dalam tenda.
"Sstt…." Sasuke melingkarkan tangannya ke tubuh Naruto, protekif. Dia menatap bayangan di luar lalu ke Itachi secara bergantian. Itachi balas menatap Sasuke. Dia tidak merencanakan kejutan apa pun seperti ini.
"Chi…." Kurama sebenarnya tidak mau terlihat takut dengan keadaan ini kalau saja petir-petir itu berhenti sahut-sahutan. Mau tidak mau, karena tidak bisa melawan rasa takutnya terhadap petir dan kemunculan bayangan yang tiba-tiba itu memperburuk paranoidnya, Kurama memeluk Itachi erat seperti Naruto yang meminta dilindungi Sasuke.
"Siapa di luar?" tanya Itachi sengaja memperkeras suaranya agar terdengar diantara derasnya hujan.
"Tuan Muda, Anda baik-baik saja?" terdengar jawaban dari luar. Pelayan keluarga Uchiha.
"Hahh…." Mereka bernapas lega mendengar jawaban dari pelayan keluarga Uchiha itu.
"Iya, kami baik-baik saja." Itachi meminta Kurama untuk melepaskan pelukannya terlebih dahulu sebelum berdiri untuk membukakan pintu tenda, menemui pelayannya.
"Sebaiknya Anda semua kembali ke villa. Sepertinya hujan tidak akan berhenti sampai tengah malam." Kata pelayan yang berpakaian layaknya butler itu kepada Itachi.
"Hn." Itachi mengangguk lalu menerima dua buah payung yang dibawa oleh sang butler.
"Maaf, saya hanya membawa dua payung untuk Anda."
"Tidak apa."
Itachi menoleh kepada tiga orang lain yang berada di dalam tenda. "Sebaiknya kita kembali ke villa."
TBC
R n R, onegai~
See u
