Chapter 2 – Let Me Know
Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick*
I can't hide these expressions
Everything about me was discovered
What should i do if i somehow like it ?
SNSD TTS – Love Sick
Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick*
Jungkook mendengar suara keributan di lantai bawah rumahnya pagi ini. Suara tawa ibunya begitu keras terdengar hingga lantai atas dan membangunkan Jungkook yang masih asyik bermimpi. Sungguh ia ingin mengumpati siapapun penyebab keributan di bawah sana. Dengan mata setengah terbuka, Jungkook menuruni tangga sambil mengumpat pelan.
Deg. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat malaikat itu tertawa pelan sambil memperlihatkan eyesmilenya. Boleh ia menelan lagi keinginannya untuk mengumpat ? Oh sial. Dia belum mencuci wajahnya dan menggosok giginya. Ia kini bertingkah konyol pasti.
" Jungkook, kau sudah bangun ? " tanya ibu Jungkook dengan lembut.
Malaikatnya berhenti tertawa. Taehyung benar-benar berhenti tertawa saat melihatnya. Ok, Jungkook tak suka itu. Taehyung mengalihkan pandangannya darinya.
" Kau belum mencuci wajahmu ? Lihat kotoran di sela matamu itu ", celetuk Junhyun.
Jungkook terkejut. Tangannya otomatis meraba area matanya. Sial benda kecil berwarna putih itu menempel di matanya dan membuat seluruh keluarganya tertawa pelan. Ia memutuskan kembali ke lantai atas dan membersihkan dirinya.
Perlu setidaknya setengah jam hingga Jungkook kembali ke meja makan. Ia melihat Junhyun berinteraksi dengan nyaman dengan Taehyungnya. Taehyungnya ? Ia tak suka Taehyung menaruh telur gulung di atas mangkok Junhyun. Sungguh tidak suka.
" Kapan hyung datang ? " tanya Jungkook.
Jungkook sungguh gemas dengan wajah Taehyung yang mendadak blank. Ia bisa melihat Taehyung meneguk ludahnya.
" Aku datang kemarin malam tapi aku menginap di rumah Jimin. Aku baru datang tadi pagi ", jawab Taehyung setelah meneguk segelas air.
" Oh, di rumah Jimin ".
" Kau akan menginap kan, Tae ? " tanya ibu Jungkook penuh harap.
" Ah itu, maafkan aku, ahjumma. Aku sudah berjanji pada Hobi-hyung untuk membantu persiapan mixtapenya minggu depan. Aku akan pulang ke Seoul lusa dan aku belum sempat mengunjungi orang tua Jimin ".
Wajah wanita paruh baya itu terlihat kecewa namun ia meminta Taehyung menemaninya seharian. Sungguh Jungkook sama sekali tak menyangka keluarganya akan selengket itu dengan Taehyung.
Sarapan pagi itu membuat ayah dan kakak Jungkook berseri-seri saat berangkat kerja. Jungkook sedikit menggerutu saat sang ibu mengajak Taehyung dan Jungkook merapikan kebun sayuran di belakang rumah.
Sungguh Jungkook rindu pada pelukan hyungnya yang makin menggemaskan itu. Entah mengapa Taehyung menjadi makin imut dan cantik meski rambutnya sudah kembali menjadi hitam. Bolehkah Jungkook memeluknya sekarang ?
Taehyung dengan mudahnya tertawa riang saat ibu Jungkook menggoda Taehyung. Tawa yang dua bulan ini jarang Jungkook lihat. Taehyung terlalu berubah jadi dewasa beberapa bulan ini. Dan ini juga adalah salahnya. Ibu Jungkook beralih ke dalam rumah dengan dalih membuat camilan untuk Taehyung dan Jungkook.
Taehyung fokus dengan menggali lubang untuk bibit sawi yang ditanam di tanah. Tangannya tanpa sengaja bersenggolan dengan bisep Jungkook. Deg. Jantung Taehyung seakan berhenti berdetak. Aniyo, Tae, kau tidak boleh seperti ini, batin Taehyung.
" Maaf ", bisik Taehyung.
" Untuk apa ? " tanya Jungkook tanpa memperhatikan Taehyung.
" Tadi aku tidak sengaja menyenggolmu ".
Jungkook terkekeh.
" Kukira apa hyung. Hyung ? "
" Ya ? " tanya Taehyung sambil menolehkan kepalanya.
Crap. Jarak mereka terlalu dekat. Hanya beberapa milimeter lagi hidung keduanya bersentuhan.
" Kenapa kau mengunjungi keluargaku ? Bukankah kita sudah tak ada apa-apa ? Apa hyung sadar, karena hyung, Eunha ditolak di keluargaku ? " tanya Jungkook dengan nada dingin yang tak pernah Taehyung suka.
Taehyung mengalihkan pandangannya. Jujur alasan utamanya karena ia rindu Jungkook selain ia memang rutin mengunjungi keluarga anggota BTS tiap bulannya.
" Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu ", ujar Taehyung sambil menatap daun sawi yang mulai tumbuh dengan indah.
" Hyung bisakan menghentikan kegiatan hyung ini ? Bagaimana pun Eunha adalah kekasihku sekarang. Aku tidak ingin dia kecewa ".
Taehyung menahan air matanya yang seakan hampir jatuh itu. Ia mengalihkan pandangannya pada Jungkook.
" Apa aku tidak boleh mengunjungi keluarga memberku yang sudah menjadi keluargaku juga ? Apa aku tidak boleh dekat dengan keluarga memberku ? Apa aku tidak boleh mengunjungi rumah memberku yang sudah menguatkanku ? Apa tidak boleh ? Beritahu aku dan aku akan berhenti ".
" Hyung ", ujar Jungkook tercekat.
Air mata itu ada di sana. Di mata Taehyung, ia sudah menyakiti Taehyung lagi.
" Aku tahu, Jungkook-ah. Aku tahu kau tak suka aku ada di sini. Maafkan aku untuk itu. Kalau kau lupa, aku adalah hyungmu di BTS terlepas dari aku pernah menjadi kekasihmu atau tidak. Aku hyung yang mendukungmu bukan kekasih yang sudah menyakitimu. Maafkan aku ".
Taehyung menegakkan badannya. Ia hampir tak bisa menahan air matanya. Ia melangkah menjauhi Jungkook yang berusaha menahan tangannya. Ia berpapasan dengan ibu Jungkook dan sekilas berpamitan. Jungkook benci ketika Taehyung menelpon Jimin dan bagaimana Taehyung duduk di samping kemudi yang dikendalikan Jimin.
Mobil putih milik Jimin sudah menghilang dari pandangannya. Terlalu cepat. Jungkook menarik rambutnya dengan kesal. Ia menyakiti Taehyung lagi.
Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick*
" Kau tak apa ? " tanya seorang pemuda bernama Park Jimin pada rekannya yang sedang melihat ponselnya sambil mengulurkan segelas susu cokelat pada rekannya itu.
" Tak apa, Chim ".
" Tak apa tapi wajahmu seperti itu, Tae ".
Orang yang dipanggil Tae itu menghembuskan napasnya kasar. Ia sesekali mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
" Chim, kenapa susu lagi ? Aku bosan. Aku mau cola ".
Jimin mendelikkan matanya yang sipit. Jika bukan sahabatnya, sudah dibuang dari kemarin-kemarin si Taehyung ini.
" Tidak boleh. Bulan lalu kau hampir masuk ke rumah sakit karena muntah-muntah karena cola kesukaanmu itu ".
" Jimin jahat. Appa Chim, ayolah. Mana colanya ? "
" Aku tak mau cucuku kelebihan cola. Kuadukan pada Yoongi-nuna baru tahu rasa kau, anak nakal ", ujar Jimin sambil menjitak kepala Taehyung.
Dengan mulut yang manyun, Taehyung meminum susu cokelat hangat itu. Ia sedikit menyeritkan alisnya ketika mendapati rasa pisang di susu cokelatnya.
" Apa ? " tanya Jimin yang melihat ekspresi aneh Taehyung.
" Kenapa ada rasa pisang di susuku ? "
" Kau tak tahu tren baru susu cokelat pisang di susu ibu hamil ? "
" Sialan kau, Chim ", ujar Taehyung sebelum berlari ke arah kamar mandi.
Suara orang memuntahkan makanannya terdengar.
" Dasar ibu hamil sensitif. Semoga nanti Yoongi-nuna tidak seperti Taehyung jika hamil nanti ", gerutu Jimin sebelum menyusul Taehyung ke kamar mandi.
Siang itu, Taehyung hampir mengamuk pada Jimin yang hampir membelikannya crepes pisang. Entah kenapa Taehyung selalu menolak buah berwarna kuning itu masuk ke dalam perutnya. Selebihnya keduanya menikmati waktu sore hari di pantai sambil memandangi sunset. Tak lupa kejadian Taehyung menggendong anak kecil yang mendekati gadis itu.
Jimin tersenyum sambil merekam semua aktivitas Taehyung dengan kamera ponselnya.
" Jadi bagaimana kabar Taehyung ? " tanya seorang gadis berambut pendek dari yang sepertinya sibuk di studionya.
" Dia baik-baik saja selain waktu dia muntah-muntah karena susu coklat pisang yang kuberikan padanya. Nuna sendiri di sana bagaimana ? "
" Aku baik ".
" Hanya itu ? " tanya Jimin sambil menatap teduh ke arah gadis itu.
Gadis itu memutar matanya bosan.
" Eomma, appa merindukan eomma jadi dia ingin eomma mengatakan kalau eomma merindukan appa juga ", seru Taehyung yang tiba-tiba muncul dari belakang Jimin.
Jimin hampir saja mengumpat pada teman satu linenya itu jika saja ia tak menangkap pipi putih Yoongi berubah menjadi kemerahan. Taehyung tertawa keras hingga beberapa pengunjung melihat ke arahnya.
" Sudah, aku sibuk. Aku telpon lagi nanti ", ujar Yoongi buru-buru memutus video callnya dengan Jimin.
Jimin tersenyum dan menatap ke arah Taehyung. Ia merangkul bahu Taehyung yang tentu lebih tinggi dari dirinya.
" Cha, kau mau makan apa ? "
" Hotpot ".
" Let's go ! " teriak Jimin penuh semangat.
Tanpa mereka tahu, seorang pemuda mengepalkan tangannya.
" Jadi Jimin yang lebih kau pilih ? Kenapa kau harus ke rumah jika kau lebih bahagia dengan Jimin, hyung ? " ujar pemuda itu sambil menatap sendu ke arah Jimin dan Taehyung yang meninggalkan area pantai.
Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick* Lovesick*
Hai, hai... Aku balik lagi.. Chapter ini kemarin crash jadi aku update ulang...
Makasih banyak yang sudah follow, favorite, dan read
Aku butuh banget dukungan kalian buat lanjutin cerita ini...
Kritik dan saran aku terima dengan senang hati
Special thanks for Kudell-ssi yang sudah favorite ff ini, dyahanjar331-ssi dan jakonjan27-ssi yang sudah follow..
Love yourself, Love myself, Peace
See you again in next chapter
