Junmyeon terjaga dari tidurnya dan terkejut melihat sekelilingnya. Dengan mata menyipit, ia memaksakan diri untuk menatap ke segala penjuru ruangan. "Rumah sakit…. Jadi aku tidak bermimpi mendonorkan darahku ya."gumamnya sembari mengusap kepalanya yang masih terasa nyeri.
"Kim Junmyeon."suara itu membangunkan lamunan Junmyeon. Dengan gerakan lamban, lelaki bertubuh pendek itu menolehkan kepalanya, dan sesegera mungkin memelolokkan matanya setelah melihat pria tertampan di kantornya, sedang menungguinya yang tertidur di ranjang rumah sakit.
"Kau?"tunjuk Junmyeon.
"Ya, ini aku, Oh Sehun."
"Hmm, kayaknya aku belum bangun dari tidurku."Junmyeon menyubit pipi kirinya sendiri sebelum akhirnya mengaduh. "Astaga….. Ini nyata… Astaga…. Bagaimana bisa Cool Hun berada di tempat tidurku pagi ini. Astagaaaaa!"dengan panik ia menyisir rambutnya dengan tangan, dan tanpa sengaja ia melirik jam tangan miliknya –yang menunjukkan pukul sembilan pagi. "Astaga! Aku telat masuk!"sekali lagi Junmyeon dengan paniknya merapikan diri, dan pada akhirnya, brak –terjatuh dari kasur rumah sakit yang tinggi itu.
Sehun berdecak sebelum akhirnya menertawai Junmyeon dan membopong tubuh mungilnya kembali ke tempat tidur. "Tenanglah, Kris gak akan setega itu membiarkan orang yang telah menyelamatkan nyawa adiknya, pergi bekerja beberapa jam setelah mendonorkan darah. Apalagi dengan darah pandamu itu."
"Ja…jadi aku diijinkan membolos hari ini?"Junmyeon mengerjab-ngerjabkan matanya yang disambut dengan anggukan oleh Sehun.
"Berterima kasihlah kepada Kris atas hal itu."
"Hmm…. Jadi semalam aku mendonorkan darahku untuk adik sajangnim?"
Sehun mengangguk sekali lagi.
"Bagaimana keadaannya?"
"Jessica baru saja bangun dari tidurnya setelah operasi. Saat ini dia sudah dipindah ke ruangan di samping kamarmu ini."
Junmyeon mengedarkan pandangannya lagi, dan baru saja menyadari bahwa ia berada di dalam kamar kelas VIP, "Ohmy, kamar ini pasti mahal banget."
"Cckkk, ini bagian dari fasilitas yang kau dapatkan atas jasamu terhadap keluarga Woo."
"Hmm, kalo begitu, bisakah aku bertemu dengan sajangnim sekarang? Aku ingin mengucapkan terima kasihku kepadanya."
Sehun berpikir sejenak. "Kayaknya Kris baru aja balik ke kantor, tapi kau bisa menemui Changmin hyung di ruangan Jessica."
"Hmm, bisakah anda menemaniku ke sana? Hmm, saya…"
"Takut untuk menemui Changmin hyung sendirian."
Junmyeon mengangguk.
"Kka." Sehun mengulurkan tangannya. "Kau pasti masih pusing karena kehilangan banyak darah. Biar aku yang menggandengmu."
Junmyeon kembali mengangguk dan menyambut uluran tangan Sehun. Dengan hati-hati ia turun dari ranjangnya.
"Ah, dan jangan seformal itu padaku. Di kantor memang aku atasanmu, tapi kedudukan kita di luar kantor, kan sama."ujar Sehun sambil menggandeng Junmyeon menuju kamar adik dari bossnya itu. "Panggil aja aku Sehun."
"Nde Sehun ssi."
Sehun mengetuk kamar berpintu biru pucat itu sebelum akhirnya Changmin membukanya. "Oh! Kau rupanya Sehun-ah."ia melebarkan bukaannya dan terkejut melihat Junmyeon yang berada di gandengan Sehun. "Ah, ada Junmyeon ssi juga rupanya. Ayo masuk! Sica baru aja tidur lagi setelah dokter Jang menyuntiknya."
Sehun segera menggiring Junmyeon duduk di sofa yang berada di samping ranjang Jessica. "Dari tatapan matamu, sepertinya kau tak mengenal Changmin hyung, eh Junmyeon-ah?"
"Eung.."
"Dia General Manager Shim, adik ipar –yang sebenarnya lebih tua dari Kris Woo, sajangnim kita."
"Astaga, aku berada di antara para petinggi WooNam!"rutuk Junmyeon dalam hati. Ia meringis, memandang Sehun dan Changmin bergantian. "Errr… Selamat untuk kelahiran…."
"Putra pertama"sahut Changmin.
"Ah iya, putra pertama anda, General Manager Shim."
"Terima kasih banyak, Junmyeon ssi. Jika tak ada kau, entah bagaimana nasib Sica semalam."
"Jangan sungkan padaku, General Manager-nim."Junmyeon berulang kali membungkukkan badannya. "Mendonorkan darah untuk orang yang membutuhkan bukan masalah besar bagi saya. Oh saya harus memberikan hadiah untuk nona Jessica."Junmyeon lalu berlari terburu keluar ruangan tersebut dan kembali dengan menenteng tasnya. Kemudian ia melepaskan sebuah gantungan yang terbuat dari kain –nampaknya buatan tangan. "Jimat ini buatan ibuku, di luarnya terdapat tulisan tangannya. Dan di sini juga terdapat nomer teleponku. Kelak, jika Nona Jessica membutuhkan darahku, hubungi saja nomor yang ada di rajutan jimat ini. Aracchi?"
Melongo, hanya itu yang bisa dilakukan Changmin.
"Errr… Mungkin sudah saatnya aku mengantar Junmyeon ssi pulang, bukan begitu, Junmyeon ssi?" Sehun dengan setengah kikuk akhirnya memecahkan kebisuan itu. Junmyeon hanya bisa mengangguk dan nurut saja ketika si Cool Hun itu menarik tangannya hingga ke parkiran dan memasuki mobil built up-nya.
Wooooooooooosh-
Tanpa ada pembicaraan apapun di dalam mobil, mereka akhirnya sampai juga di depan apartement Junmyeon. Hell yeah, Junmyeon berkali-kali merutuk mengapa ia freezing dan menurut begitu saja saat Sehun merebut ponselnya dan menyimpankan nomer telpon si Tuan Keren itu.
"Bila kau ada masalah, hubungi saja aku. Kita ini rekan kerja, jadi sudah sepantasnya saling membantu." Yah, kira-kira begitulah alasan Sehun.
"Nde."balas Junmyeon dengan muka garing.
"Kapan-kapan kalau senggang, kita minum bareng bersama yang lain, okay?"
Junmyeon bersumpah melihat Sehun mengerling padanya. Ok sekali lagi, MENGERLING. Dan baru saja Junmyeon mengetahui bagaimana semua orang di kantornya begitu mengagumi si Cool Hun satu ini. Dia baik –baik banget, mengantarnya pulang tanpa memandang statusnya yang hmmmm –pegawai rendahan, berlanjut pula dengan ajakan minum bareng.
"Nde. Trims sudah mengantarkanku pulang."ujar lelaki pendek itu.
Sehun tertawa lepas. "Its okay, not a big problem. Hmm, aku balik dulu. Tidurlah cukup karena hari esok masih menunggumu di kantor. Bye~"
Hari itu berakhir dengan indah. Dan siapa yang tahu kalau Junmyeon memimpikan si Cool Hun di malam harinya. Duh! Dasar Kim Junmyeon!
.
.
.
Okay, marilah kita mengenal lebih dalam tokoh utama kita ini.
Ehem!
Hana…
Dul…
Set…
"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"bukan… ini bukan suaraku.
"Ommaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" iya….. ini suara Junmyeon.
Anggaplah kali ini berputar ke masa lampau. Di depan kita, seorang Kim Junmyeon dengan laptop bututnya, juga dengan mulut yang tak bisa berhenti mengunyah pocky choco banana, tengah histeris karena melihat email yang ia lihat bagaikan sebutir emas.
"OMMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! AKU MASUK WOONAAAAAMMM!"
UHUK –dan dengan tidak elitenya ia tersedak. Salahkan saja si pocky choco banana itu.
Singkat ceritanya sih, email itu berisi panggilan kerja ke Woonam Enterprise. Itu loh, perusahaan IT yang beken banget di Korea. Junmyeon jelas kegirangan, pasalnya sebagai anak kampung –yang tinggal di Daegu, diterima kerja di Seoul itu bagaikan penambang menemukan sebutir besar emas.
Dan parahnya, Junmyeon menjadi orang pertama di desanya yang berhasil diterima kerja di perusahaan besar macam Woonam ini. Err, jadi ya gitu deh, Junmyeon dilepas dengan lebay oleh tetangga-tetangga dan keluarganya.
Tapi Junmyeon sendiri ga keberatan tuh, dia bangga banget malah. Buktinya tuh lihat sendiri, ia melompat-lompat dan menari-nari kegirangan dengan adik wanitanya. Semoga saja dia kembali waras saat tiba di Seoul. Ckk!
.
.
.
Habis dari Kim Junmyeon, yuk menengok pemeran utama kita yang satu lagi. Ehem, kenalin aja nih namanya Kris Woo. Bapaknya orang China, ibunya orang Kanada keturunan Korea. Jadi kenapa dia bisa nyasar ke Korea, ya karena ada pengaruh ibunya ini. Duh!
Cowok tinggi ini tinggal sendirian di apartementnya yang terletak di Gangnam.
Iya, Gangnam. Kalian ga salah baca kok.
Sebutlah cowok setengah bule ini kaya banget. Kurang apa coba, udah kaya, ganteng, tinggi pula! Mungkin bakal lebih sempurna lagi kalo dia punya pacar.
Kalian ga salah baca lagi kok. Kris emang jomblo. Jomblo aja loh ya, ga pake ngenes!
Yakali cowok seganteng itu dibilang jones.
"Sehun-ah!" yang ini suara Kris nih. Berat banget, seksi abis gitu lah kalo didengerin.
Sehun yang di seberang line telepon cuma bisa menggerutu. Abisnya, sahabat sekaligus bosnya ini ga punya aturan banget sih nelpon di pagi buta.
"Hmm? Kurang kerjaan banget nelpon pagi buta gini sih!"gerutu Sehun.
"Sorry then."
"Nops."
"Sehun-ah, I needs your help."
"What for?"
"Selidiki Naver Ent, I'm gonna buy that company today."
"WHAT?!"
Gila? Jelas! Kris Woo ini ambisius banget. Saking ambisiusnya sih sampe bikin Sehun ngumpat-ngumpat dalam berbagai bahasa. Tapi siapa bisa mengalahkan si bos sih?
Jawabannya…adalah…. Jessica Woo!
Dia itu adik ceweknya Kris yang suuuuuuuuuuuuuuupeeeeeeeeeeeer manis. Suuuuuuuuuuuuuuupeeeeeeeeeer manja! Tapi emang Kris suka kok manjain dia.
"Oppa! Jangan bawa-bawa Changminnie dalam perjanjianmu dengan Naver siang ini! Aku tak mau ditinggalkannya sendiri di rumah sakit." nah kalau Jessica sudah bersabda kayak gini sih, Kris susah untuk meng-tidak-kan.
"But…"
"No but!"
"Aishh."
.
.
.
Jadi akibat sikap ambisius Kris, orang-orang satu kantor benar-benar kelabakan bukan main. Bagaimana tidak, Kris saja menyuruh mereka menyelidiki segala tetek bengek perusahaan gede itu selama empat jam. Ulangi yah, EMPAT JAM! Kalo begini sih, rasanya seluruh karyawan WooNam cuma bisa berdoa agar gaji mereka dinaikin empat kali lipat. Itung-itung fee tambahan akibat stress berlebihan.
Kalo menyebut semua karyawan ya, kita ga bisa lupa gitu aja sama Junmyeon.
Iya Kim Junmyeon.
Kim Junmyeon yang pendek, bantet dan suka makan itu.
Dia kan karyawan di WooNam juga.
"AAAARRRRRRRGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHH!" tuh ia baru saja berteriak.
"Gimana nih gimana nihhhhhh!"itu Junmyeon lagi tuh. Sebenernya agak lucu sih liat ia berlari ke sana kemari dengan setumpuk dokumen, apalagi dengan tubuh bantetnya.
"Kim Junmyeon! Astaga, bisakah kau berlari lebih kencang lagi?"kalo yang ini Cho Kyuhyun. Itu atasan Junmyeon. Kepala seksi Finance yang –menurut Junmyeon paling kejam.
Kurang apa coba penderitaan Junmyeon di kantor. Seksi Finance kan bagian paling banyak kerja –bahkan mereka juga menghitung berapa tissue toilet yang dipakai di kantor ini, berapa kopi dan gula yang tersedia di pantry, yang mungkin menurut kebanyakan orang itu ga penting. Ditambah Cho Kyuhyun yang dijuluki setan besar dan, ada juga Minah, yang –
"Setengah jam yang sia-sia untuk memphotocopy semua dokumen itu, Kim Junmyeon."baru saja aku akan mengatakan ia bermulut pedas, tapi bibirnya lebih dulu mengeluarkan ocehan pedasnya.
Tapi bukan salah Junmyeon juga kok, dia kan karyawan baru, wajar saja ia semacam diospek gitu lah oleh orang-orang kantornya. Bukan salah Junmyeon juga yang pada akhirnya menurut saja saat ia diminta memphotocopy bagian karyawan lain.
"Maafkan aku. Maafkan aku."kali ini Junmyeon membungkukkan badannya. Sungguh kasian kalau kita melihat langsung.
Tapi untungnya Junmyeon tidak merasa hari ini adalah hari penghabisannya, pasalnya saat ia akan menuju kantor Executive Chief di lantai 23, ia malah disapa oleh –ehem Oh Sehun. Benar-benar Oh Sehun, yang punya panggilan Cool Hun itu. Yang kemarin baru saja mengantarnya pulang itu. Bohong bila Junmyeon bilang ia tidak terpesona oleh senyuman Sehun. Siapa juga sih, yang bisa mengabaikan senyuman manis dan ganteng itu?
"Kim Junmyeon!"Sehun benar-benar berteriak setelah memberikan senyum lima jarinya kepada Junmyeon. Ia sendiri dikerubuti oleh para wanita yang sibuk memberinya sesuatu –karena ia sendiri terlihat memegang tas berisi kopi, sandwich, bahkan coklat mahal.
"Cool Hun!"Junmyeon balas berteriak. Bodohnya, ia tak sadar kalau seluruh wanita yang mengerubuti Sehun di lift itu, sedang menatapnya tajam.
"Kau mau kemana dengan setumpuk dokumen itu?"
Ingatkan Junmyeon untuk tidak tersenyum bodoh lagi di depan Sehun.
"Eeh, aku akan memberikan ini kepada Executive Chief Kim."
Kali ini Sehun merebut dokumen di tangan Junmyeon. "Kebetulan sekali, aku memang akan ke ruangannya. Dokumen ini, biar aku saja yang bawa. Tetapi sebagai gantinya –"ia kemudian memindahkan tas di tangannya ke jangan Junmyeon. "Tolong bawakan ini ke meja sekretarisku."
Matilah kau, Kim Junmyeon. Kau benar-benar terjebak dengan pesona Oh Sehun.
.
.
.
Sayangnya kebahagiaan Junmyeon tak bertahan lama, karena setelah ia mengantar tas berisi pemberian para fans Cool Oh ke meja sekretarisnya, ia segera saja disambut dengan lolongan tajam Cho Kyuhyun di ruangannya.
"Siapa yang mengerjakan laporan akhir Naver ini? Bagaimana bisa ada selisih sebesar satu koma seperti ini?!"
Keempat teman Junmyeon yang lainnya –Kyungsoo, Jinri, Soojung, dan Minseok langsung menatap iba pada pria malang itu. Sedangkan satu wanita paling menyebalkan di sana –Minah, tentu saja, langsung menatap nyalang ke arahnya.
"Kim Junmyeon."desis wanita itu.
"Kau lagi?! Aku heran, selama dua minggu kau bekerja di sini, sudah banyak sekali kesalahan yang kau lakukan. Bagaimana bisa bagian HRD memilihmu ketika banyak calon yang kuajukan gagal semua?!"oh rasanya siapapun ingin menyumpal mulut besar Kyuhyun bila mendengarnya langsung.
Celakanya, setelah membentak Junmyeon habis-habisan, lelaki berumur itu segera melemparkan dokumen yang salah itu ke muka Junmyeon. Rasanya ingin sekali Junmyeon menenggelamkan dirinya sendiri ke kubangan lumpur.
"Junmyeon-ahh."Kyungsoo menepuk iba rekan kerjanya yang menunduk menahan sedih di mejanya.
"Ah!"kali ini Jinri yang berteriak. "Bukankah kau mengenal Cool Hun?"Junmyeon sendiri heran mengapa gosip ia mengenal Sehun sudah tersebar begitu cepatnya.
"Minta tolong padanya saja."sahut Minseok.
Soojung-pun menganggukan kepalanya sembari memberikan semangat pada Junmyeon.
Junmyeon memandang keempat temannya itu bergantian. "Aku akan mencoba menghubunginya."ia kemudian mengeluarkan ponsel lawasnya dan menekan kontak Sehun. Setelah beberapa waktu yang begitu mendebarkan, toh Junmyeon lemas juga. Sehun sama sekali tidak mengangkat telponnya. "Tidak diangkat. Ohmy—"
"Cari saja di ruangannya. Kurasa masih ada waktu."usul Kyungsoo.
Tanpa basa basi, keempat orang itu segera mendorong tubuh Junmyeon keluar ruangan. Tentu saja Junmyeon akhirnya berlari kelimpungan kearah lift –yang ternyata tak datang juga. Ia lalu berlari menaiki tangga darurat, dengan kaki mungilnya itu ia terengah-terengah dan apesnya, setelah ia tiba di lantai 20 –dimana kantor Sehun berada, ia dihadang oleh security. Sehun dan sekretarisnya tak ada di tempat, kata security itu.
Walaupun ia tak yakin, tapi ia memutuskan melakukan pencariannya ke lantai paling atas, tempat sang CEO berada. Entah bagaimana Junmyeon memiliki keyakinan bahwa Oh Sehun, atasan gantengnya itu sedang berada di kantor Kris Woo.
"Maafkan aku, tapi Kris sajangnim sedang ada rapat di lantai 16."kira-kira begitulah jawab Sooyoung, sekretaris Kris.
Shit.
You'll screw, Kim Junmyeon!
.
.
.
Tegang, itulah yang dapat menggambarkan suasana di ruang rapat yang telah kosong itu. Betapa Junmyeon ingin mati aja, sedang Kris di depannya malah menyuekinya, dan merapikan berkas-berkasnya dengan sangat tenang.
"Sajangnim."
Oh ingatkan Junmyeon untuk mandi setelah ini, karena tubuhnya bermandikan keringat dingin sekarang.
Kris sekali lagi, hanya menganggap keberadaan Junmyeon adalah fana.
"I..ini data yang benar. Ada kesalahan pengetikan pada dokumen yang tadi aku serahkan ke Kyuhyun-nim."Junmyeon terus menunduk tanpa menyadari Kris telah berdiri di hadapannya tanpa banyak kata. Lelaki bertubuh tinggi menjulang itu, tiba-tiba saja menarik dagu Junmyeon, dan membuat Junmyeon gugup setengah mati.
"Astaga, ia mau mencekikku!"batin Junmyeon.
"Lihat aku jika kau memang niat berbicara denganku."
GLEK!
Mampus kau, Kim Junmyeon!
"N….ne….Sajangnim…"Junmyeon mengangguk dengan gamang.
"Bagus."
Beruntung Kris segera melepaskan cekalannya dari dagu Junmyeon, dan meninggalkannya dengan keadaan yang….hmmm –bisa dikatakan sangat sangat shock. Dan mungkin saja Junmyeon benar-benar akan memotong nadinya apabila Oh Sehun, tidak menemukannya yan sedang termenung di ruangan kosong itu.
"Kim Junmyeon?"
"Aku telah mengacaukan semuanya."ujar Junmyeon dengan pandangan menerawang.
"Hah?"
Sehun mengambil dokumen yang berada di tangan Junmyeon dan memeriknya.
"Oh ini. Tak perlu khawatir lah. Kris sudah membereskannya sebelum rapat dimulai."
One..
Two..
Three..
"SUNGGUH?"Junmyeon melompat dengan muka sumringah. –benar benar melompat dan hampir saja memeluk leher Oh Sehun apabila ia tak menahan diri. "Aku tak akan dipecat kan? Sungguh?"
Sehun mengangguk lagi.
Dan, tolong berikan nafas buatan ke Junmyeon karena ia hampir saja gagal nafas saat melihat senyum menawan lelaki di depannya itu
.
.
.
"Aku pulang."
Baekhyun melongokkan kepalanya kearah Junmyeon –sebelumnya ia fokus pada laptop berlogo apel di hadapannya.
"Kenapa sih kau? Seperti mayat aja mukamu."
"Aku..capek….."
CKK!
Lihat bagaimana Junmyeon tergeletak tak berdaya di sofa fluffy itu.
"Masalah di kantormu lagi, pasti."
"Heung."
"Kali ini apalagi, hmm? Si kepala seksi bermulut pedas?"
Junmyeon menggeleng.
"Sekteraris sok kecantikan?"
Lagi-lagi gelengan.
"Aku nyaris dipecat."
"WHAT?!"
Belum juga Junmyeon menjawabnya dengan kata-kata, tapi… suara perut si tukang makan itu berbunyi.
"Babo."Baekhyun menoyor teman seapartementnya itu.
Junmyeon sendiri dengan senyum bodohnya malah menimpali, "Lapar."
Baekhyun benar-benar ingin memasukkan racun tikus ke dalam mulut Junmyeon sekarang.
.
.
.
"Ga asik banget deh kalo mengajakmu berbelanja."
"Aku memang ga pengen belanja, bodoh! Gaji pertamaku aja belum keluar."
Baekhyun menyipitkan mata kucingnya itu. "Siapa yang kau sebut bodoh, Kim Junmyeon?!"
GLEK!
Junmyeon benar-benar melupakan kebaikan Baekhyun hari ini yang telah menraktirnya dengan berbagai pasta juga, oh, jangan lupakan kudapan manis yang sangat ia sukai itu.
Intinya sih, Junmyeon itu benar-benar bodoh.
"Aihh, maafkan aku lah."Junmyeon menarik-narik lengan coat Baekhyun dan mengimut-imutkan suaranya.
Malu-maluin banget, sungguh.
KRING –
Itu bunyi ponsel Junmyeon.
Enggak kok, kalian ga salah denger. Emang ponselnya aja yang udah usang. Plus Junmyeon yang gaptek berat sih.
"Apa ma?"
"Junmyeon-ahh!"
Oh, itu suara yang benar-benar paling Junmyeon ingin hindari seumur hidupnya.
"Oh, bibi Chul! Apa kabar?"
Oh lihat betapa merahnya muka Baekhyun karena menahan tawanya.
"Kau ada dimana sekarang, anak nakal?! Jaejoong sudah menunggumu daritadi di depan pintu apartementmu!"
Baekhyun yang sedari tadi menguping di sela-sela ponsel aja, mengira ia tuli.
Junmyeon? Jangan ditanya deh. Dengan matanya yang membesar sebola pingpong, ia masih aja mikir dan mencerna perkataan bibinya itu.
Satu..
Dua..
"MWO?!"
"Pokoknya jaga Jaejoong baik-baik di sana. Seoul kan kota besar, jangan sampe deh anakku yang polos tapi pinter banget itu salah pergaulan dan–" bla bla bla bla bla.
Junmyeon sih masa bodoh dengan perkataan lanjutannya. Yang ada di otaknya sekarang adalah, kakak sepupunya, ada di Seoul. TUHAN! SEOUL! Gimana bisa sih?!
"Jaejoong hyung ada di Seoul."kata Junmyeon yang lemas seketika setelah menutup telpon interlokal dari bibinya yang cerewetnya super itu.
"Aku sudah mendengarnya, bodoh!"
Aww, lagi-lagi kepala kosong Junmyeon jadi korban toyoran tangan Baekhyun.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Baekhyun hanya bisa melongo ketika teman seapartement bodohnya itu berlari terburu-buru hingga meninggalkan belanjaannya yang terjatuh.
.
.
.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Kau dengar suara itu?"bukan, ini bukan suara Junmyeon.
"Hmm."ini juga bukan suara Baekhyun.
Dilogika aja sih, mana mungkin Junmyeon dan Baekhyun rela mengorbankan waktu mereka untuk bermain basket? Badan pendek gitu, ga mungkin banget rasanya mereka bisa memainkannya. Bisa mendribble bola aja udah syukur.
Jadi siapakah yang berbicara?
Aduh, kepo banget deh!
Ehehehe, bercanda lah.
Yap, betul! Mereka tidak lain tidak bukan adalah, Kris Woo dan Oh Sehun!
Ga usah melongo gitu, Kris dan Sehun cuma main basket kok. Kebetulan aja sih lapangannya deketan sama apartement dua cowok pendek itu.
"Apa yang dilakukan si bantet itu di sini?"
Ouch! Perkataan yang menyakitkan, duhai Tuan Woo!
"Dia kan emang tinggal di deket sini."Sehun sih masih santai aja tuh mendribble bola oranyenya.
"Kau bercanda." Kris kali ini merebut bola itu dari tangan Sehun.
"Bagian mananya aku bercanda?"Sehun berhenti depan di depan sahabatnya itu. "Aku aja nemuin lapangan ini pas nganterin dia pulang kemarin."
Kris langsung aja menatap tajam sahabatnya yang lebih muda empat tahun darinya itu.
"Cari lapangan lain besok."dan dengan entengnya dia terduduk di tepi lapangan.
"Hmm, maaf Tuan Woo, tapi rasa-rasanya anda sudah gila."
Sehun menatap Kris.
Kris-pun balas menatap Sehun.
Jadi perang death glare gitu deh.
"Cari saja sendiri sana!"Sehun melemparkan bola oranye itu tepat kearah dada bidang Kris.
Ouch, hampir saja! Untung Kris menangkapnya dengan sigap.
"Aku ga mau si pendek itu tau aku berpakaian seperti ini, magnae!"
"Ya! Ini di luar kantor! Jaim banget kau jadi orang."
"Pokoknya aku ga mau, bertemu dengan siapapun di luar kantor dengan gaya seperti ini."
Ckk!
"Pokoknya aku juga ga mau mencarikan lapangan baru untukmu!"balas Sehun. "Ayolah, aku sudah capek untuk mengurusi hobimu bergonta-ganti lapangan ini, Kris!"
Anggap saja Kris mengiyakan, karena setelah perkataan Sehun, ia sama sekali tidak mengeluarkan suara bass rendahnya itu. Dan alangkah senangnya Oh Sehun saat sahabatnya yang keras kepala itu untuk pertama kalinya kalah dengannya.
.
.
.
Satu kerjaban..
Dua kerjaban..
Tiga kerjaban..
Empat kerjaban..
Ouch! Sampai kapan kalian mau mengerjabkan mata seperti itu, Kim Junmyeon dan Byun Baekhyun?!
"Jaejoong hyung?"
Demi Tuhan, kalian harus melihat betapa pucatnya muka Kim Jaejoong.
"Maafkan aku."
Segera saja Junmyeon menarik tangan sepupunya itu masuk ke dalam kamarnya. Baekhyun sih ga mau ikut campur urusan keluarga mereka, tapi rasa keponya tetap aja ada. Jadi, si pendek bereyeliner tebal itu mau-ga-mau mengintip dari balik pintu.
"Kenapa tidak mengabariku di hari sebelumnya kalau hyung akan datang?"cerca Junmyeon.
"Maaf. Aku sebenarnya ga mau kemari, tapi masalahnya besok aku sudah harus bekerja. Jadi aku akan menumpang beberapa malam di sini, sebelum aku menemukan tempat tinggalku sendiri."
"Aigoo. Aku tak masalah kau tinggal di sini, hyung. Tapi bisa saja kau nyasar kan. Kalau saja kau memberitahuku, aku akan menjemputmu ke stasiun."
Jaejoong menghela nafas leganya kali ini. "Syukurlah, kupikir Myeonnie akan marah padaku."
"Sama sekali tidak."Junmyeon menepuk-nepuk bahu Jaejoong. "Jadi, bisa menceritakan bagaimana caranya kau kemari, hyung?"
"Ehem! Aigoo Jaejoong-ahh, kau ini bagaimana bisa kalah dengan Junmyeon? Orang-orang di sekitar sini selalu mengelu-elukan kepintaranmu, kau juga tak kalah tampang dari Junmyeon pendek itu. Tapi bagaimana bisa sampai sekarang kau masih saja menetap di tempat kecil ini? Sampai kapan kau mau terbelakang terus seperti ini? Ehem, jadi singkat ceritanya sih, aku dipaksa omma untuk mencari kerja di Seoul. Beruntung aku segera menemukan perusahaan berkembang yang sedang membutuhkan karyawan."
"Hahahahahahaha!"jangan takut, itu cuma suara ketawanya Kim Junmyeon bodoh ini kok, bukan, bukan sadako. "Hyung, aku bahkan bisa mendengar jelas suara bibi Chul saat mengomelimu!"
"Ish!"Jaejoong menyentil dahi adik sepupunya itu. "Kau juga sih! Meninggalkanku seenaknya di Daegu. Aku kan ga pernah jauh darimu, Kim Junmyeon!"
"Oh, bahagia sekali rasanya mendengar kata-kata itu, hyung!"goda Junmyeon.
"Sebenarnya, aku sudah lama ingin meninggalkan Daegu. Aku bosan sekali didikte oleh omma. Aku ini juga manusia, bukan boneka."
Junmyeon mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya sih hyung, aku juga pasti ga akan tahan kalau ommaku seperti bibi Chul."
"Intinya, mulai sekarang aku berusaha seorang diri di sini, tanpa campur tangan dari omma sama sekali."
"Heum!"
"Hwaiting!"
Ooops!
Duo Kim itu segera melirik kearah pintu kamar.
"Ehehehehe."
Ingatkan Baekhyun kapan-kapan agar mengunci bibirnya saat akan menguping pembicaraan orang.
.
.
.
"Jadi si Junmyeon bodoh dari seksimu itu belum juga dipecat?"
Junmyeon langsung saja menghentikkan langkahnya ketika ia mendengar namanya disebut. Kyungsoo yang di belakangnya, hampir berkicau bila ia tak membekap mulut teman satu seksinya itu.
"Yah begitulah."itu Minah! "Padahal kemarin ia melakukan kesalahan fatal. Aku sendiri heran, bagaimana perusahan sebesar WooNam Enterprise bisa mempertahankan karyawan dari Universitas rendahan seperti dia."
"Kudengar ia akrab dengan Cool Hun."
"Ya begitulah. Mungkin saja ia punya backingan orang dalam, makanya bagian HRD tak berani memecatnya, Yura-ah."
"Konyol sekali. Bukannya dia bukan orang asli Seoul?"
"Entahlah. Yang pasti, dia seperti parasit di seksi Finance."
Kyungsoo bersumpah, ia akan menjahit bibir Minah kalau saja ia bisa.
Dan celakanya –
"Kyungsoo yah!"suara itu mengalihkan pandangan Kyungsoo, Junmyeon, bahkan kedua wanita yang sedang bergosip di depan itu.
Sedangkan si pemanggil Kyungsoo –pria tinggi bersenyum bodoh itu tetap saja melambaikan tangannya…
.
.
.
Balkon di puncak gedung utama WooNam Enterprise adalah salah satu bagian terfavorit Junmyeon untuk menghabiskan waktunya. Suasana hatinya sedang kacau saat ini. Lihat saja, di cuaca sedingin ini, ia hanya memakai pakaian kantornya –tanpa coat! Padahal saat ini adalah awal musim dingin, dimana seharusnya salju sudah mulai turun.
"Hai, namaku Chanyeol, dan aku bermarga Park!"jadi itulah nama pria tinggi bersenyum bodoh itu.
"Kim Junmyeon."jawab Junmyeon singkat. "Err, kalian teman lama ya?"ia kemudian menunjuk Kyungsoo dan Chanyeol bergantian.
"Mana mungkin! Aku orang Busan asli! Sedangkan si mata donat di depanku ini."Chanyeol menunjuk Kyungsoo dengan dagunya. "Kan orang Seoul."
"Oh."
"Tapi kami duduk berdampingan saat training kemarin."sela Kyungsoo. "Oh! Kita kan masuk bersamaan, Junmyeon-ahh. Kau training di lantai berapa?"
"Jadi para pegawai baru di sini harus melewati training dulu sebelum akhirnya diangkat jadi pegawai tetap."gumam Junmyeon. "Tolol, bagaimana bisa aku melewatkan masa training itu."Junmyeon kali ini memukul-mukulkan tangannya pada fondasi balkon itu.
Apa gara-gara golongan darah?
Greb!
Junmyeon tiba-tiba saja merinding karena merasakan hangatnya mantel bulu di kedua bahunya. Tidak mungkin ada setan kan di siang bolong seperti ini?
"Sebodoh ini rupanya kau, hingga melewatkan istirahat makan siang dan melamun di tengah cuaca seperti ini tanpa memakai coat sama sekali?"
Junmyeon menoleh. Mata itu! Junmyeon merasa mata itu begitu meneduhkannya.
"Sajangnim.."
"Bagaimana bisa kau masuk kemari?"
"Ehh?"
"Kau tidak diajari saat trainingmu? Balkon di puncak gedung, adalah bagian terlarang. Hanya aku dan orang-orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya."
Junmyeon segera menunduk lagi.
"Aku tak pernah melewati waktu training, sajangnim."gumam lelaki bantet itu. "Sajangnim.."ia menatap mata teduh dari petinggi WooNam itu. "Bagaimana aku bisa diterima di perusahaan sebesar ini?"
Kris mendengus. "Kenapa kau tidak bertanya pada bagian HRD saja tentang itu?"
Kris kemudian berbalik meninggalkan Junmyeon, meninggalkan mantel bulu mahalnya di bahu lelaki pendek itu.
"Golongan darah, pasti karena itu kan?"teriak Junmyeon kali ini.
Kris berhenti sejenak, sebelum akhirnya meneruskan langkahnya, meninggalkan Junmyeon yang terus bertanya-tanya dalam hati.
TBC
YOSH! Seneng banget rasanya ada 8 orang reviewer di fanfic ini! Padahal baru ngepost prolognya aja
Semoga di chapter selanjutnya banyak juga ya yang ngereview, soalnya di fanficku yang Not a Flower, Nor a Mist, dikit banget yang ngereview T^T padahal yang ngefollow ada 6, tapi yg ngereview cuma 3 orang aja T^T
Anyway, panggil aku gigi aja ehehehe ~ jangan panggil thor, soalnya ambigu/?
junjun : menarik ya? Ehehehe makasih ya ~ ini udah update kok. Baca terus ya! Thanks a lot! /smooch/
PikaaChuu : iya ini udah lanjut kok xD Baca terus ya ~ /smoochjuga/
.5011 : ini udah lanjut /toel/ semoga suka ya xD oh iya banget! pipinya mamah myeon emang cubit-able banget kkkekekekeke xD
Guest : sudah continue dong ~ reviewnya continue jg yawww /bow/
Krisuho : udah dilanjut dong xD iya ih bener! aku juga kangen banget sama moment mereka Krisho jjang!
zahra : udah lanjut loh ~ review selanjutnya aku tunggu jg ya? xD
tinaYJS : wah ada YJS yang komen! Seneng banget deh xD ini udah continue kokkkk /smooch/
honeykkamjong : iya ini udah lanjut kok dek/? Setujuuuuuu banget! Krisho emang lagi langka mungkin gara2 mereka udah ga ada moment yah hiks ~
So, continue lagi ato delete nih? xD
