Savior

Genre : Drama, Romance

Main character : Rivaille and Mikasa Ackerman

Disclaimer : Hajime Isayama

WARNING: OOC, semi-canon, alur gak jelas, dan lain-lain


Pada malam harinya, Mikasa hanya mencoba bergelut di atas ranjang. Tidak setetes kelelahan pun menyengat kelopak matanya yang sampai kini belum menunjukkan tanda-tanda akan tidur. Padahal hari ini dia merasa lelah luar biasa, nyaris seperti linglung akan apa yang diinginkannya sendiri, dan hanya berpikir untuk segera melempar tubuhnya ke atas alas yang empuk.

Mikasa yang sudah menyerah segera berdiri dari ranjangnya tanpa pikir panjang dan mengambil mantel dari gantungan di pintunya. Berjalan keluar kamar, Mikasa sekarang mendapati dirinya berada di luar asrama tentara dalam pengawasan langit malam yang memiliki ribuan bintang. Bersyukur dia telah mengambil mantel yang cukup tebal karena tanpa aba-aba udara dingin langsung menusuk-nusuk pipinya yang putih—dan semakin mendekati keperakan akibat siraman dari cahaya rembulan. Mikasa kemudian menemukan sebuah tangga yang akan membawanya turun berjumpa dengan lapangan untuk berlatih para prajurit—alih-alih dia duduk di tepinya.

Hanya dengan memandangi lapangan tandus itu telah membuatnya lebih tenang. Karena para Titan tidak akan aktif di malam hari, maka ini adalah kesempatan baiknya untuk mengambil setengah hari yang sangat damai sebelum besok dia harus mengayunkan pedang lagi. Bendera di puncak gedung tentara dengan lambang sayap putih-hitam itu masih berkibar menggelegar tak henti dibawa angin.

Sebentar, hanya sebentar saja mata hitam itu melirik ke jendela paling atas tempat Eren berada. Dia pasti tengah tertidur pulas, jendelanya tertutup rapat, tidak ada gorden yang melambai-lambai seakan ingin terbang pergi. Dari kejauhan, mendadak Mikasa melihat seseorang dengan ember kayu di tangannya. Orang itu masuk ke sebuah istal yang berdiri di sebelah timur gedung. Mikasa menyempitkan pandangannya untuk melihat siapa gerangan.

Karena dilanda penasaran, gadis bersurai hitam itu berjalan menghampiri. Baru tiba di depan pintunya, Rivaille keluar dari dalam istal, membuat Mikasa terlonjak di atas kaki-kakinya.

Rivaille sendiri sudah melotot dan di depannya gadis itu mendadak kehilangan kemampuan berbicara. Corporal itu sembuh lebih dulu. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"

Dengan tingkah terkejut tanpa persiapan, Mikasa memberi hormat dengan posisi lengan yang saling tertukar. Tangan kiri yang terkepal itu mana mungkin dapat merasakan degup jantungnya yang sudah melonjak-lonjak. "Eh... s-selamat malam, Corporal. Maaf, eh, maksudku..."

Mikasa cepat-cepat membebaskan kedua lengannya dari memberi salam yang terlalu berbelit itu lalu mencoba mendapatkan kembali kemampuan bicaranya. "Aku hanya... mencoba untuk berpikir lebih jernih karena ada beberapa gangguan," ujarnya dengan cermat.

Tampaknya hampir dapat menipu corporal dengan kaus polosnya itu, alih-alih dia malah menekuk alis. "Kau yakin tidak perlu melihat dokter?"

Mikasa mengembuskan napas dengan tenang dan menggeleng. "Bagaimana denganmu sendiri?"

"Aku bisa merasakan kakiku, tetapi masih dibebastugaskan selama beberapa hari lagi."

"Aku mengerti." Mikasa membisu sambil memerhatikan sisi lain dari pandangan matanya. "Maaf, karena aku..."

Gadis itu menunggu kalimatnya disela. Tetapi, Rivaille hanya mengangguk kalem sembari berjalan untuk meletakkan ember tersebut di balik dinding, dekat sebuah sumur. Ditilik dari kelakuannya, barangkali Rivaille baru memberi makan kuda-kuda di dalam istal.

"Itu tidak masalah," ujarnya sedetik kemudian. Melihat Mikasa yang hanya berdiri mematung menghalangi jalan di depannya membuatnya agak risih. Kemungkinannya besar kalau gadis ini sudah tidak punya apa-apa untuk dibahas selain terus meminta maaf. "Apa lagi yang kau tunggu?"

Seperti isyarat, Mikasa segera merundukkan setengah wajahnya. "Oh, maaf. Sebenarnya, aku barusan melihatmu masuk ke dalam istal dari seberang sini. Sulit membayangkan kalau kau akan keluar di malam-malam hari."

"Yah, aku bukannya mengalami "gangguan" atau apa, tetapi ada beberapa hal yang membuatku tidak dapat memejamkan mata."

Sebenarnya aku juga sama, ingin rasanya Mikasa berkata keras-keras tentang itu, alih-alih dia hanya mengangguk untuk menandakan bahwa dia mengerti betul apa yang dikatakan corporal-nya.

Dingin kembali menyela di antara mereka. Lagi-lagi Mikasa diam, hanya menunggu lawan bicaranya untuk mengeluarkan suara duluan lalu dia yang akan melanjutkan sisanya. Rivaille tidak dapat menahan diri lagi. "Sebenarnya aku harus pergi sekarang, jika kau tidak keberatan...," katanya dengan nada formal. Matanya yang sejernih es melirik wajah Mikasa.

"Ya—ya, tentu saja. Maaf sudah menahanmu di sini, Corporal." Gadis itu mundur beberapa langkah, memberi sedikit ruang untuk Rivaille berjalan pulang ke kamar asramanya. Dia menatap punggung bidang itu, kendati masih kelihatan pincang, Rivaille dapat mengontrol cara berjalannya dengan baik.

Tampak seperti yang dikatakan, sifatnya dingin seperti air mukanya. Kendati demikian, banyak orang yang memercayainya, bertaruh apa pun hanya untuk Corporal Rivaille. Kemenangan mutlak dapat diraih jika berada di bawah pimpinannya. Tidak heran orang itu nyaris sanggup membunuh Female-type Titan jika bukan karena harus mengeluarkan Eren dari mulutnya.

Keinginan Mikasa untuk kembali melamun di malam hari begini mendadak sirna. Sekarang, dia hanya menginginkan tempat tidur yang empuk dan selimut tebal yang dapat membungkus tubuhnya. Serta, istirahat yang cukup untuk menyambut esok hari.

(*)(*)(*)

"Setelah membaca laporan ini, aku akan mengatakan pendapatku..."

Suasana dalam gedung para petinggi masih sanggup dijaga ketenangannya. Beberapa prajurit berada di sana, termasuk Eren, Mikasa, dan Armin. Irvin berada di tempat paling depan mengahadap mimbar para petinggi, berdiri tegap mengepalkan kedua tangan di belakang punggungnya seperti ciri khas seorang profesor.

Hari ini laporan sedang dibacakan dan akan mendapat penilaian dari orang-orang tua itu. Atas apa yang seharusnya dilakukan dan yang tidak. Tertampak Rivaille juga menghadiri sidang itu, berdiri bersandar pada tembok di antara orang-orang yang lebih tinggi darinya. Sekarang kaus putih polosnya dipadukan dengan baju hitam berlengan panjang dan berkerah. Pemuda itu masih mengenakan roman wajah yang sama, tetapi sekarang ditambah garis-garis hitam di bawah lingkar matanya.

"Bahwa, apabila ada misi menyerang Titan di luar tembok, siapa pun tidak mempunyai hak untuk membawa Eren Jaeger ikut bersamanya," seorang petinggi telah bersabda.

Hal itu membuat Eren, yang mendengar dengan telinganya sendiri, melotot terkejut. Mikasa melirik saudaranya yang baru terperanjat.

"Melindungi Eren Jaeger yang memiliki kemampuan untuk menjadi raksasa memanglah prioritas utama. Namun, di sisi lain, kita kehilangan prajurit-prajurit berbakat dalam satu hari. Dan, buah dari ekspedisi gagal ini bahkan tidak berisi apa-apa."

Selain melindungi Eren, ekspedisi ke Shiganshina ini bertujuan untuk mencari rahasia di bawah tanah rumahnya yang telah hancur ditimpa bebatuan. Kunci untuk membuka pintu yang telah tertutup rapat itu masih melingkar setia di lehernya.

Beberapa nama prajurit yang telah gugur disebutkan di dalam ruang sidang tersebut. Ketika nama Gunter dikumandangkan, Eren teringat bagaimana luka menganga di lehernya menumpahkan darah, dan tubuhnya tergantung dengan posisi terbalik di atas pohon. Pada saat ini pun Eren masih merasa bersalah.

Rivaille masih sanggup bergeming saat nama Petra Ral melintasi telinganya.

"Beberapa pasukan, khususnya pasukan Special Operations Squad di bawah pimpinan Lance Corporal Rivaille, semestinya tidak perlu gugur dalam misi..."

Mikasa menoleh dengan cepat ke arah Eren. Pemuda itu sadar tengah diperhatikan, dia pun mengangkat kepalanya yang tertunduk.

"Eren... jadi..."

Anggukan kepala penuh duka dari Eren telah menjawab pertanyaan Mikasa yang memenuhi kepalanya tempo hari. Barangkali hal itu yang menyebabkan Rivaille tampak lebih kusut dari biasanya.

"Aku berencana untuk membantu mereka," bisik Eren pahit. "Tetapi, Petra-san bilang aku harus pergi karena aku telah memercayai mereka sebagai rekan satu tim yang baru. Mereka bilang mereka dapat mengalahkannya bahkan sebelum Corporal Rivaille kembali. Aku sudah tahu kalau seharusnya aku mengikuti keegoisanku sendiri."

Bukan salah Eren yang telah mengakibatkan rekan-rekannya pergi begitu cepat. Sementara sang pembicara masih terus memberikan penilaian, Mikasa secara diam-diam melirik pemuda berpangkat corporal itu di tengah-tengah kerumunan orang. Tetapi, tanda-tanda keberadaannya bahkan tidak kelihatan dari sini.

"Mikasa, mulai sekarang Eren tidak lagi diberikan izin untuk bertugas di luar tembok. Bukankah ini sama saja dengan tugas awal kita di Trainee Squad?" Armin bertanya dengan suara sekecil mungkin yang dapat dilakukannya. Mikasa menoleh lagi.

"Aku tahu. Tidak apa-apa, ini jalan yang paling baik untuk menjaga keselamatan Eren. Aku... tidak mau melihatnya terluka parah lagi.

"Yah, barangkali memang paling aman untukmu. Tetapi, bagaimana dengan Eren sendiri? Kau 'kan tahu dia begitu keras kepala, menentang keinginannya sama saja dengan mencari pertengkaran mulut dengannya."

"Kau benar," tanggap Mikasa setengah hati. "Kalau begitu, kau mau aku melakukan apa?"

"Batalkan jawabanmu yang semula dari tawaran Kapten Irvin..."

"Batalkan jawaban?"

"Bukankah dari awal kau memang tidak ingin Eren ikut andil di dalamnya? Hanya itu satu-satunya cara atau Eren akan ditangkap karena dianggap melanggar perintah tetua."

Armin memang selalu bertindak kritis dalam setiap kondisi, dan pendapat yang dilontarkannya selalu memberikan jalan keluar.

"Kalian membicarakan apa?" Eren ikut berbisik. Ternyata pidato penilaian itu berhasil melumpuhkan perhatiannya sehingga dia ingin mencoba bergabung dengan pembicaraan yang dilakukan Mikasa dan Armin. Mata hijaunya melebar penuh keingintahuan yang dalam.

"Begini, karena kondisi telah ditetapkan seperti apa kata petinggi, bukankah lebih baik kau tidak terlalu bersemangat lagi untuk ikut dengan kelompok Kapten Irvin? Apa pun yang kau lakukan percuma karena kewenangan mereka lebih tinggi dibanding yang kita miliki. Perintah para petinggi adalah absolut."

Eren bungkam mencerna kalimat Armin. Digali berapa kali pun dia tetap tidak menemukan jawaban yang bagus. "Kalau memang begitu, aku akan coba—"

Palu yang diketuk keras ke atas alas kayu membuat petinggi mendapat perhatian para hadirin kembali. Pembahasan ekspedisi yang kemarin telah usai. Beberapa orang mencoba untuk segera keluar, suasana menjadi ribut dalam sekejap mata.

Eren membebaskan diri dari kerumunan orang banyak untuk segera mengejar Irvin dan memulai kompensasinya.

"Mikasa, Eren pasti ingin memaksa Kapten Irvin. Cepat kejar dia dan katakan yang sebenarnya," Armin memperingatkan terburu-buru. Mikasa sempat ragu dengan keputusan tersebut. Kakinya tidak tahu harus berjalan ke arah yang mana seperti orang mabuk.

"Ayo!" Pemuda bersurai pirang itu mendorong punggung Mikasa dan dengan cekatan gadis itu mendapatkan akal sehatnya kembali. Segera dia mengambil tempat di samping Eren.

"Maafkan saya menyela perbincangan ini, Kapten," kata Mikasa sembari membungkuk, napasnya memburu. " Tentang sidang yang barusan, saya berpikir untuk membatalkan Eren masuk ke divisi Anda. Saya tidak mau mengambil risiko yang akan membahayakan posisinya."

Pandangan Irvin dan Eren tertuju kepada Mikasa seorang. Kapten bertubuh jangkung itu segera mengangguk tanpa pikir panjang. "Aku memang sudah mencabut penawaran Eren untuk bergabung sesaat setelah mendengar penilaian dari para petinggi," tukasnya melirik kepada pemuda itu lalu kembali kepada Mikasa.

Eren menyenggol lengan Mikasa dengan lengannya. "Makanya dengarkan sebelum berbicara. Aku kemari hanya untuk memberikan penawaran yang lain kepada Kapten Irvin, barangkali ini akan sangat membantunya. Bagaimana jika saya merekomendasikan prajurit bernama Armin Arlert dan saudara saya—"pada bagian ini Eren menekankan nada bicaranya"—Mikasa Ackerman untuk bergabung ke dalam divisi Anda?"

Ketika namanya dilafalkan oleh Eren, gadis itu malah menatapnya bingung dan terkejut. Bibirnya tergagap untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak kunjung keluar dari tenggorokannya. Irvin tampak mempertimbangkan baik-baik.

"Kalau begitu, di mana seorang yang bernama Armin Arlert?"

Eren menengok ke belakang, mencari sosok temannya yang berambut pirang seperti milik Kapten Irvin, jadi mungkin tidak akan sulit untuk menemukannya. Ah, dia tepat di ujung sana. Masih berdiri menunggu kedua sahabatnya tanpa berani untuk memunculkan diri. Eren mengisyaratkan untuk bergabung ke sini dengan pembicaraan mereka. Armin tidak bertanya balik melainkan mengikuti perintahnya dengan patuh. Tetapi, dapat dipastikan dari wajahnya dia pun bertanya-tanya.

"Kapten," Armin memberikan salam sembari setengah merunduk. Mikasa masih mematung di tengah-tengah kedua lelaki itu.

Tanpa panjang lebar Eren segera berkata kepadanya, "Armin, aku ingin merekomendasikanmu dan Mikasa untuk bergabung dalam divisi Kapten Irvin. Bagaimana menurutmu? Kau mau, 'kan?"

Respons yang diberikan Armin tidak berbeda jauh dengan Mikasa. Pemuda itu cukup kaget mendengarnya. Dia belum siap jika harus memberikan jawaban mendadak itu hari ini juga. Beruntung Armin tidak perlu berpikir jauh-jauh, karena Mikasa—yang sudah pulih—segera menyuarakan jawabannya.

"Saya akan ikut. Tetapi hanya sendiri. Saya meminta Armin untuk tetap pada posisinya agar Eren—maksud saya—Armin benar-benar mencintai tugasnya di divisi yang sekarang, jadi barangkali agak sulit untuknya dipindahtugaskan," terang Mikasa dengan brilian. Eren dan Armin sama-sama memusatkan perhatiannya kepada gadis berotak tajam itu.

Irvin bahkan tidak perlu repot-repot untuk berpikir, melainkan mengangguk mengerti dan meminta Mikasa untuk segera memindahkan barang-barangnya ke gedung yang lain. Masih satu pasukan Recon Corps, tetapi hanya berbeda ruangan dan gedungnya. Setelah semuanya diperjelas dan Mikasa pun paham persis, dia segera mengundurkan diri.

"Kenapa kau yang berbicara dan bukannya Armin? Dia juga punya hak untuk menolak, Mikasa," pungkas pemuda beriris hijau tua itu setelah tidak ada siapa-siapa di antara mereka bertiga. Armin hanya duduk tak jauh dari kedua saudara itu yang barangkali akan memulai percekcokan mereka. Mikasa balas menatap.

"Kalau kami berdua ikut, siapa yang akan mengawasimu di kelompok yang sekarang?" Kemudian gadis itu beralih kepada Armin di belakang punggungnya. "Maafkan aku, Armin, aku hanya terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Aku harap kau tidak keberatan."

Eren menghela napas. Mulai lagi, batin Armin yang tengah menyaksikan sambil mengangkat kedua alis seolah berkata tidak apa-apa untuk menanggapi alasan Mikasa. Kali ini dia memutuskan untuk tidak ikut campur. Kemudian, saat lelaki itu menarik napas barunya kembali, ada campuran jengkel dan gemas di dalamnya. "Mikasa—demi Tuhan—dengar, aku tidak tahu apakah kau benar-benar mencerna kalimatku setiap kau mulai mengeluarkan perihalmu yang sangat over-protective itu. Aku akan baik-baik saja, mengerti?" Eren membuka mulutnya lebar-lebar, seperti mengajarkan bocah berumur lima tahun untuk menghapal alfabet. Nyatanya, Mikasa membuang wajah sambil mendengus.

"Ada Connie, Jean, Sasha dan yang lainnya. Mengapa kau harus khawatir? Lagi pula, aku tidak akan ditugaskan keluar tembok lagi, ingat?" kata Eren, mencoba untuk santai sambil mengedikkan bahunya.

Di belakang, Armin mengangguk sampai bisa dilihat Mikasa, mendukung pernyataan sahabatnya. Orang-orang yang berada di sekitar gedung parlemen itu perlahan mulai berhamburan pergi. Sepasang iris hijau tua itu menatapnya penuh harap.

Mikasa menarik napas pelan namun tegang. "Baiklah," lirihnya, "aku akan mengikuti saranmu, Eren. Di saat itu, kalian harus dapat menjaga diri baik-baik," lanjutnya menatap kedua pemuda itu. Armin bangkit dari posisi duduknya dan berdiri di samping Eren. Pemuda bersurai cokelat itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mantap. Hal yang sama dilakukan Armin.

"Kalau begitu, ayo bantu Mikasa memindahkan barang-barangnya."

(*)(*)(*)

Di dalam asrama tentara yang berlorong-lorong dan memiliki tangga yang menjulang tinggi, Mikasa pelan-pelan mencari Kapten Irvin. Karena merasa seperti murid baru di sini, gadis bersurai hitam segelap malam itu tidak berani menatap lurus ke depan melainkan mencoba untuk menatap lantai-lantai keramik yang dipijaknya. Tetapi, tidak seorang prajurit pun memenuhi kriteria yang dicarinya. Barangkali sang kapten ada di lapangan berlatih. Barangkali di suatu ruang yang hanya diketahui olehnya. Dia bisa ada di mana saja di gedung yang luas ini!

"Ke mana lagi?" Mikasa bertanya putus asa kepada dirinya sendiri. Bagian istal pun sudah diperiksanya. Walaupun orang itu berbeda dari yang lain, tetap saja sulit untuk menemukannya.

Mendadak, di tengah kebingungan ini, seseorang memanggil Mikasa dengan nada kepalang gembira. Gadis itu menoleh cepat dan mendapati wanita tinggi bersurai ungu gelap dan Corporal Rivaille di sampingnya.

"Hai, kau pasti Mikasa Ackerman. Apa yang kau lakukan di sini? Berpikir untuk bergabung bersama kami?"

Mikasa membuka mulutnya, tetapi menutupnya kembali. Dia tahu namanya, bahkan melafalkannya dengan lengkap dan baik. Barangkali desas-desus tentangnya yang pernah meraih peringkat satu di angkatan ke-104 dalam pasukan Trainee sudah merambat ke telinga orang-orang kuat ini. "Y-ya?" tanyanya balik dengan skeptis, "Maksudku, ya, tentu—tentu saja. Aku sedang mencari Kapten Irvin untuk—barangkali ada pengurusan surat-surat dan semacamnya untuk penerimaan prajurit dalam sebuah kelompok baru. Eren, seperti yang sudah dikatakan di gedung parlemen, tidak diberi kesempatan lagi untuk keluar tembok, jadi aku berencana untuk bergabung dengan kelompok kalian sendirian."

"Kau tidak sendirian, Mikasa. Pada awalnya memang sulit untuk berbicara dengan teman-teman barumu. Tetapi, cepat atau lambat kau akan segera beradaptasi dengan lingkungan dan atmosfer di tempat ini," ujar Hanji, seolah-olah sedang menghibur anak yang tersesat. Mikasa hanya tersenyum hambar.

"Bukan begitu, maksudku tidak ada satu orang pun di antara teman-temanku yang ikut ke dalam divisi kalian," ucap gadis itu, berusaha meluruskan pernyataannya barusan.

"Ah, aku paham. Tolong jangan berkecil hati." Lagi, wanita itu menghibur perasaan Mikasa yang sebetulnya baik-baik saja. Rivaille mendesis dan sudah tidak tahan dengan obrolan tanpa tujuan ini.

Segera dia memotong omong kosong itu. "Ackerman, sebetulnya tidak ada pengurusan surat dan semacamnya. Apa Irvin tidak mengatakan soal ini kepadamu?"

Mikasa menggeleng polos. Barangkali dia tidak mendengarnya dengan baik karena keterkejutan yang berlebihan masih menyumbat gendang telinganya. "Baiklah. Kau dapat melapor kepada kami untuk penerimaan calon kandidat baru. Tapi, tampaknya hal itu tidak diperlukan lagi karena kebetulan kau berada di tempat yang dapat kami lihat."

"Sangat beruntung kami dapat menemukanmu di sini," sambung wanita itu ramah.

Mikasa mengiyakan. Siapa yang akan menyangka gadis bersurai hitam itu bisa roboh karena mencari satu orang sampai mengelilingi gedung. Bersyukur ada dua orang ini di saat dia nyaris putus asa.

"Jadi, Mikasa Ackerman, selamat bergabung. Kami mohon bantuannya."

"Ya, terima kasih." Mikasa membungkuk di hadapan kedua orang itu. "Mohon bantuannya kembali."

Gadis dengan syal merah itu berbalik pergi untuk segera mengistirahatkan tubuhnya. Setelah sosoknya hilang ditelan jarak, Hanji berucap kepada lelaki di sampingnya. "Anggap Eren sudah tidak dihitung lagi, tetapi siapa yang akan menyangka gadis itu mendaftar sendirian? Catatan tidaklah selalu benar kalau mereka harus bertiga setiap saat."

Rivaille menatap lurus ke depan. Hal ini dapat dijadikan sebagai tesisnya. "Entahlah," dia menjawab enteng.

(*)(*)(*)

Suasana makan malam di dalam gedung asrama tentara Recon Corps diisi dengan suara dentingan benda-benda perak dengan piring porselen. Semua prajurit menikmati makanannya masing-masing dengan tenang, tidak seperti waktu Eren berkelahi dengan Jean—yang masih dapat diingat baik oleh Mikasa—saat mereka berada di Trainee Squad.

Mikasa, yang telah memiliki kelompok barunya, mencari meja makan yang tidak terlalu mencolok dan cukup membiarkannya untuk sendirian. Dia tidak merasa aman dan nyaman apabila beberapa orang di meja akan mulai membicarakan posisi barunya. Dia tidak mau dikatakan sombong atau apalah. Armin dan Eren tidak tampak di mana pun.

"Hei, Mikasa," sapa Jean, kebetulan berada di sana juga, bersama Connie dan Sasha. "Kenapa menyendiri? Ayolah, masih tersedia banyak tempat di sini."

Sasha menahan senyum sementara tawa nyaris lepas dari mulut Connie. Mikasa cuma tersenyum simpul tanpa tahu apa maksud mereka.

Connie, pemuda yang kepalanya nyaris botak plontos itu berdeham kepada Sasha di sampingnya. "Wah, aku rasa tempat di sini tidak akan cukup untuk menampung empat orang sekaligus. Mari lekas mencari meja makan yang lain," katanya sembari mengedipkan sebelah mata. Sasha yang sudah sangat mengerti langsung mengangguk penuh antusias. "Lihat, ada meja yang lebih luas, dan di sana Christa sudah menunggu kita."

Mereka tahu Jean menyukai Mikasa sejak satu tim di pasukan Trainee. Setiap berada di dekatnya, wajah Jean pasti akan langsung memerah seperti baru maraton keliling lapangan. Namun, itu hal yang sudah lama. Sekarang Jean dapat mempertahankan kelakuannya seperti lelaki normal yang tidak banyak menebarkan rasa canggungnya. Mikasa tampaknya tidak peka akan hal itu.

"Jadi, bagaimana hari-harimu di divisi yang baru?" tanya Jean, mulai membuka pertanyaan yang ringan-ringan.

"Semuanya berjalan seperti biasa," jawab Mikasa terhadap pertanyaan Jean dengan enteng seraya menyantap makan malamnya. Jean, yang duduk berhadapan dengan gadis itu, belum berpikir untuk menyentuh piring berisi makanan di depannya. Setelah selesai mengunyah, giliran gadis itu yang membuka pertanyaan baru.

"Apa Eren baik-baik saja?"

Salah orang kalau Mikasa bertanya kepadanya. Jean tidak begitu mengakrabkan diri dengan Eren, dia pun tidak mau tahu kondisi putra Dokter Jaeger itu.

Namun, karena tidak ingin mengabaikan gadis berkharisma tinggi yang sedang bertatap wajah dengannya ini, Jean berkata menghibur seperti kebanyakan orang lakukan. "Dia baik-baik saja, sampai masih bisa memanjat pohon."

Mikasa menekuk sebelah alis. Dia menghentikan acara makan malam dan meletakkan sendoknya. "Aku tidak ingat kapan Eren mulai belajar untuk memanjat pohon."

Jean tergelak, berhasil membuat beberapa orang menengok ke meja mereka. Dia menggelengkan kepala. "Tidak, bukan begitu. Kau mengira hal itu benar-benar terjadi. Dalam kasus ini, Eren masih sangat baik-baik saja," ujarnya, mencoba untuk tidak berkelakar terlalu banyak. Gadis ini sulit untuk menerima gurauan dengan begitu baik. Responsnya tidak lebih dari anak umur lima tahun.

Air mukanya kini kembali lega—aneh bagi Jean karena itu hal yang sangat normal kalau seorang anak adam dapat memanjat pohon. Mikasa selalu berprasangka khawatir dengan Eren. Entah Eren seharusnya begini atau Eren dan itu. Beberapa orang mungkin menikmati perlakuan sentimentil dari gadis yang paling dikagumi satu angkatan, tetapi ditilik dari sikap Eren yang seperti tidak mau dirantai, perlakuan itu justru akan sangat mengganggunya. Mikasa benar-benar tidak sadar kalau setiap anak laki-laki akan tumbuh dewasa dengan sendirinya. Membantu perkembangan tersebut malah akan meninggalkan cacat.

"Mikasa, eh, aku rasa kau tidak perlu memikirkan Eren sampai sejauh itu. Kau tahu, Eren bukan anak kecil. Aku mewakili perasaannya sebagai seorang lelaki. Pada saat tertentu kami memang membutuhkan perhatian dari perempuan yang cukup mau untuk menghibur. Tetapi, tidak setiap saat," terang Jean sesaat setelah memikirkan betapa tingginya rasa kepedulian Mikasa terhadap saudara yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya. Obrolan-obrolan dari meja yang berbeda kini semakin memelan.

"Sudah saatnya membiarkan Eren berkembang dengan kemampuannya sendiri. Dan, kau juga di tempatmu seharusnya berada. Kami, khususnya prajurit laki-laki, lebih mementingkan harga diri daripada nyawa, kau tahu?" Jean menepuk bahu kiri dengan kepalan tangan kanannya. Mikasa menyaksikan dengan seksama ketika pemuda itu mengambil pisau dari atas meja makan dan memulai gerakan tubuhnya. "Dan, jika harga diri seorang laki-laki hancur, lebih baik berhenti menjadi prajurit," sambungnya sembari membuat tanda silang di depan dadanya dengan benda tajam itu. Mikasa mengerjapkan mata berkali-kali.

"Oh, aku baru mengetahui hal seperti itu."

Jean tertawa renyah dan melempar kembali pisau itu ke atas meja, menimbulkan bunyi dentingan yang memekakkan telinga di antara mereka. "Kalau kau sudah paham, kenapa tidak berikan saja kesempatan untuknya? Dan, kita bisa melihat bagaimana perkembangan itu akan membuatnya menjadi lelaki berguna."

"Berguna?"

"Yah, sebut saja seperti Kapten Irvin, Kapten Pixis, dan Corporal Rivaille—omong-omong usia prajurit itu hanya terpaut empat tahun di atas kita, tetapi, nyalinya sudah seperti milik orang dewasa. Dan, di usianya yang masih belia itu, dia sudah diangkat menjadi pria berpangkat corporal. Kau tahu kalau itu sangat luar biasa, 'kan?" Jean berkata dengan antusiasme yang tinggi, yang saat itu juga dapat menghipnotis Mikasa.

Dia lanjut berkata lagi, "Dikatakan konon dia adalah seorang berandalan tanpa tujuan sebelum bergabung dengan Recon Corps. Setelah itu, perilakunya berubah 180 derajat dan dia menjadi corporal yang dihormati ratusan anak buahnya. Kau bisa membayangkan kalau hal itu terjadi pada Eren juga."

Gadis bermata hitam itu terperangah dengan latar belakang milik corporal pendek yang sering dijumpainya itu. Kemampuannya dalam bertarung melawan para raksasa memang tidak diragukan lagi.

"Kau benar. Ibu kami juga pasti akan senang," kenang Mikasa sambil menatap pantulan wajahnya yang tak beraturan di atas piring porselen yang sudah bersih tanpa sisa makanan sedikit pun.

"Tentu saja," kata Jean, mengiyakan. Secara tidak langsung pun menghantarkan sedikit hiburan terhadap kesenduan yang terpantul dari air muka Mikasa. Gadis itu dengan cekatan membenahi piring dan gelasnya sendiri. Jean berlagak sudah kenyang. Namun, demi menjaga harga dirinya tetap seperti itu di mata Mikasa, dia mengabaikan kupu-kupu di perutnya yang mulai memberontak.

Sebelumnya, Mikasa tidak pernah berbagi meja untuk makan dengan Jean, dengan orang lain—pengecualian Armin dan Eren—berdua pula. Apalagi berbicara panjang lebar begitu. Rasanya seperti melakukan aktivitas yang bukan miliknya.

Mereka berdua berjalan keluar dari gedung makan kemiliteran. Jean memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Jadi, eh, apa kau punya waktu besok? Barangkali untuk mengobrol lebih banyak?" tanya pemuda itu dengan nada cukup gugup. Pertama kalinya dia mengajak seorang perempuan untuk keluar. Dan, perempuan itu adalah Mikasa Ackerman—gadis yang notabene mendapat peringkat satu di Trainee Squad dulu.

Mikasa berpikir seperti selamanya."Entahlah. Dengan posisi baru ini, aku…"

"Baiklah, aku mengerti. Sangat mengerti. Biarkan saja aku tahu kalau kau punya waktu senggang besok."

Satu-satunya waktu senggang yang terlintas di kepala Mikasa adalah bagaimana dia harus menghabiskan waktu dengan Eren dan Armin. Tetapi, menolak permintaan Jean mungkin akan meninggalkan bekas terhadap "harga diri"-nya yang sudah dikatakan panjang lebar barusan.

"Akan kuingat," jawab Mikasa, tidak terlalu menjanjikan. Jean tersenyum—bibirnya mendadak jadi kaku pada posisi tersebut. Terlalu berharap dengan jawaban Mikasa membuatnya tidak bisa berpikir jernih lagi.

"Baiklah, kalau begitu apa aku perlu menyampaikan salammu kepada Eren dan Armin?" tanya pemuda bersurai cokelat muda itu, memutuskan ini sebagai pertanyaan terakhirnya.

"Ya, tolong," jawab gadis itu bersamaan dengan nada formalnya.

Setelah Jean mengangguk mengerti, pembicaraan disudahi ketika mereka harus berjalan di persimpangan yang berbeda. Walaupun sudah memiliki teman ngobrol satu meja, Mikasa masih belum merasa tenang dan damai apabila Eren tidak tertangkap oleh kedua permata hitamnya. Alih-alih menemukan saudaranya, dia mendapati secarik kertas di atas meja nakasnya sesaat setelah dia memutuskan untuk kembali ke ruangannya sendiri. Huruf-huruf di atas kertas itu terlalu berpegangan tangan sehingga cukup sukar untuk dibaca oleh Mikasa sendiri.

"Berkumpul di aula di belakang gedung tentara pukul lima pagi untuk beberapa pemberitahuan." Mikasa mendengar dirinya berkata. Dan, yang ditangkap lagi oleh permata hitamnya, masih ada catatan yang lebih kecil di bawahnya. "Barangkali akan ada perebutan kembali wilayah Trost."

Trost adalah distrik seperti Shiganshina yang berada di wilayah bagian dalam Tembok Rose. Tetapi, akibat dari gerbangnya yang telah dibobol, para Titan dapat dengan mudahnya masuk dan menghabiskan sebagian besar penduduk sipil. Kendati gerbang telah dihambat kembali dengan bantuan Titan Eren, masih ada beberapa raksasa yang berkeliaran di seputar tempat itu. Corporal Rivaille pasti telah lebih dulu makan malam dan segera meletakkan surat pemberitahuan di sini. Mikasa melipat secarik kertas itu jadi bagian-bagian kecil yang sama rata kemudian menyelipkannya di antara buku-buku tebal yang tampak tidak akan pernah dijamah lagi.

Dilepasnya syal merah yang selalu melingkari lehernya seperti kalung keramat, lalu setelah memastikan setiap sudut kamarnya baik-baik saja, Mikasa segera pergi untuk istirahat.

Dan kali ini, tidak ada keraguan yang akan membangunkannya di tengah malam.

(*)(*)(*)

Mikasa menyibak selimutnya dan segera berlari dengan hanya mengambil jaket Recon Corps-nya tanpa persiapan lain. Jam di dinding telah menunjukkan pukul 05.15 dan tidak ada sesuar pun alarm yang membangunkannya. Lewat jendela, para prajurit ternyata sudah berbaris berkumpul di lapangan dengan tangan yang saling tergenggam di belakang punggung mereka.

Beberapa meter lagi, Mikasa akan dapat berjumpa di lapangan tersebut bersama yang lain.

"Untuk dapat mencapai hal..."

Irvin memelankan suaranya ketika melihat seorang gadis mencoba meringsut ke dalam kelompok. Rivaille yang tampaknya ikut melihat segera memanggil nama lengkap Mikasa tanpa tedeng aling-aling.

"Mikasa Ackerman. Apa yang menghambatmu?"

Gadis itu terlonjak di tempatnya. Dia mendesakkan dirinya untuk keluar lagi dari kerumunan prajurit. Tiap helaian rambutnya seolah membentuk jaring laba-laba yang kusut di atas kepalanya. Baju yang berantakan, serta tampang yang seperti belum mengisi perut. "Maaf, Corporal, saya... bangun terlambat."

Beberapa tawa-bisikan yang mencemooh mulai mengarungi udara yang kian bertambah berat bagi Mikasa untuk dihirupnya. Kapten Irvin tetap memasang air mukanya agar tidak tergelincir. Sementara Rivaille, yang berdiri di samping sang kapten, memantulkan raut wajah yang seolah bertanya apa-ini-termasuk-salah-satu-lelucon-bodohmu?

Kemudian, setelah pemuda bertubuh pendek itu menggerakkan kepalanya seperti cambuk, Mikasa kembali ke posisi dengan wajah tertunduk. Hari ini, kelompok yang dipimpin Irvin akan dibagi menjadi berdua-dua untuk melenyapkan Titan yang masih tampak berkeliaran di wilayah Trost. Sebagian lagi akan dikirim untuk membantu para warga sipil yang barangkali masih terjebak entah di pelosok mana.

Mikasa sendiri dipasangkan dengan pemuda yang sedikit lebih pendek darinya. Mereka akan bertugas di atas atap-atap rumah untuk melihat apakah ada reaksi yang cukup berbahaya dari para raksasa tanpa intelejensi itu.

"Segera tembakkan peluru dengan asap merah apabila Titan mulai bertindak tidak wajar atau kalian kalah jumlah. Usahakan untuk tidak memaksakan diri atau jumlah prajurit kita akan semakin berkurang. Apa aku sudah cukup jelas?" tanya Irvin dengan suara lantang. Mereka menghentakkan kepalan tangan dan menjawab serentak. Saat lengan Irvin dikebaskan ke udara, para prajurit itu segera mengangkat kaki-kaki mereka dan mulai berpencar sesuai rute yang telah ditentukan.

Mikasa sempat menoleh ke belakang, bertanya-tanya apa mungkin corporal yang baru cedera tempo hari itu akan bertugas hari ini. Rivaille tengah duduk di sebuah batu besar bewarna abu-abu pekat dengan kertas-kertas di jemarinya. Matanya yang tajam sedang menilik setiap tulisan di kertas itu tanpa terganggu sedikit pun. Dilihat dari t-shirt putih yang dikenakannya tanpa perlengkapan 3DMG apa pun, kemungkinannya besar kalau dia masih dibebastugaskan.

"Ayo, Ackerman. Pedang-pedang ini tidak akan menebas dengan sendirinya."

Ditarik dari lamunan rekannya, Mikasa pun memastikan bahwa perlengkapan untuknya terbang di udara sudah terpasang sempurna. Mereka segera bergegas.

To Be Continued


Reply Review:

Lightmaycry :Ah, ya sebenernya itu summary juga karena kepepet waktu, saya gak punya ide lagi, huehehe. Oh iya, saya juga seneng sama RivaMika XDD Maap kalo update-nya lama, hihi. Terima kasih Reviewnya! :D

Kumada Chiyu : Yeey, seneng banget ngeliat ada yg antusias sama RivaMika XDD Oke, ini udah dilanjut, maap telat sekali ._. Terima kasih Review-nya! :D

Black Tofu : Aduh, ini juga kayaknya OOC banget :v Yaah, di sini juga belum keliatan, huehehe -_- saya usahakan di chapter berikutnya adaa! Oke, terima kasih Review-nya! :D

Schnee-Neige : Yeeey, aku juga senaaang! *peluk2* Salam kenal juga Yuki, huehehe, maaf telat banget update-nya ._. Oke, terima kasih Review-nya! :D

Halo, ketemu lagi di chapter dua. Ehm, di sini masih belum keliatan ya momen RivaMika-nya, yang keliatan malah Jean Mikasa, huehehehe *dor* Pertama maaf sekali buat update yang super lelet, pulsa modem saya belum dibayar sampe tengah bulan ini, muehehe, jadi yah mudah-mudahan chapter 2 ini bisa agak memuaskan Readers :D

Dan, saya janji di chapter berikutnya bakal ada momen RivaMika buat yg udah nunggu2 XD

Terima kasih sekali lagi buat yg udah baca dan Review :D Sampai jumpa~!