Disclaimer: kalo Mikan punya Vocaloid, nilai US Mikan bakal 100 semua!
Wei, harusnya Mikan belajar untuk ujian sekolah malam ini tapi Mikan malah bikin beginian QwQ
Mikan gak tau mau ngelanjutin fic yang mana dulu setelah ini, ada saran? Silahkan review atau PM Mikan ya!
- Yami no Sekai
- Miku's Love
- to Protect Our Love
- Sudah Berakhirkah?
- Cinderella and the Beast
- A-Z
- Against the World
Chapter 2
Di ruangan gelap, lembab dan sempit ini yang terdengar hanyalah suara hembusan nafas dari seorang gadis. Rambut blondnya terlihat berantakan dan kotor. Dia duduk di sebuah kursi kayu ditengah ruangan dengan tubuh terikat kencang dikursi. Gadis itu mengerang beberapa kali sebelum membuka mata perlahan-lahan. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, tapi yang ditemukannya hanyalah kegelapan. Dia mencoba menggerakkan tangannya. Tapi tidak bisa.
'Kami-sama, kenapa kamu membiarkan semua ini terjadi padaku? Aku sudah bersikap baik tahun ini. Aku menuruti apa yang orang tuaku perintahkan padaku, aku menjaga teman-temanku, aku-'
"Akhirnya kau bangun juga,"
Gadis itu melihat ke kiri. Cahaya masuk dari celah-celah pintu dan tubuh seorang pria. Suaranya terdengar dingin dan menusuk. Matanya yang berwarna amber itu menatap tajam sang gadis dan dia bersumpah melihat sepasang permata itu bersinar keemasan saat bertemu dengan matanya. Dia baru hendak membuka mulut untuk meminta ampunan, tapi seorang wanita yang juga memiliki mata amber keemasan juga datang dan melihatnya lurus. Dia berdiri di samping sang pria, tangannya terlipat dan dia mendecak.
"Neru-san,"
Gadis itu merasa hidupnya tidak akan bertahan lebih lama.
"Neru-san," sang wanita muda memanggil namanya lagi. Dengan anggun dia bertahan mengitari Neru, suara ketukan dari lantai dengan high heels yang dipakainya dengan lantai terdengar jelas di ruangan itu. Dia memegang kedua bahu Neru dengan pelan dan berkata dengan suara manis di telinganya.
"Kau tahu, aku tidak melihat imouto ku seharian ini. Kulihat Orenji dan beberapa pakaiannya juga menghilang. Apa kau tahu dia ada dimana,"
Neru menggigit bibirnya. Haruskah dia menjawab pertanyaan itu? Dia sudah berjanji pada sahabatnya untuk tidak memberitahukan pada siapapun, tapi jika dia tidak akan selamat jika dia tidak menjawab mereka.
Sang wanita bertanya lagi dan lagi. Tapi Neru tetap bungkam.
"Cepat katakan. Aku tau kau mengetahui dimana Rin berada." sang pria berkata dengan aura pembunuh.
Neru menunduk. "Aku sudah berjanji tidak akan memberitahukan keberadaannya pada siapapun." ucapnya lirih.
"Tapi ini demi keselamatannya, Neru-san. Bagaimana jika dia terluka dan tidak ada seorang pun yang menolongnya?" ujar si wanita dengan wajah sedih.
Neru ingin menolak lagi tapi pria bermata amber itu mengatakan hal yang membuat seluruh darah di tubuhnya membeku. "Jika kau tidak memberi tahukan keberadaannya aku akan menjadikanmu umpan untuk Kero."
"Tidak! Aku tidak mau!" Neru berteriak ketakutan.
"Kalau begitu cepat katakan!"
"Tapi aku-"
"Kalau begitu tidak ada pilihan lain."
Pria itu tiba-tiba saja berada di hadapan Neru. Dia tersenyum. Senyum yang mengerikan. Di tangannya terdapat kartu yang berwarna hitam. Suara teriakan terdengar saat orang itu akan melemparkan kartu itu pada Neru.
"TIDAK!"
"REI!"
"RIN ADA DI DUNIA MANUSIA!"
XXX
Rin mengerutkan dahi. Dimana dia sekarang? Jawabannya sebenarnya sudah ada di depan matanya. Dia berada dikamar orang asing. Dan dia sedang duduk di kasurnya. Rin melihat kamar itu. Gelap, hanya cahaya matahari pagi yang mengintip dari balik gorden yang menerangi sebagian kamar itu. Barang-barang yang ada di kamar ini aneh-aneh, menurut Rin. Ada benda berbentuk jamur besar disamping kasur, tapi itu bukan jamur. Permukaannya keras dan licin, tidak seperti jamur yang biasa Rin lihat. Disana juga ada kotak aneh yang bisa menampilkan manusia dalam ukuran mini. Rin hampir mengira itu adalah alat komunikasi mereka sebelum akhirnya dia sadar orang itu tidak bisa bicara padanya. Rin juga menemukan sebuah kotak kecil yang memiliki pintu. Di dalamnya terasa dingin dan ada es krim di sana. Ada juga berbagai benda aneh berbentuk kotak yang Rin tidak ketahui fungsinya. Rin menaikkan alis, kenapa manusia sangat menyukai kotak?
"Kau sudah sadar rupanya."
Rin segera berbalik melihat sumber suara. Seorang pria muda tersenyum tipis dan masuk dengan sepiring makanan dan segelas air. Rin tidak menjawab maupun bergerak. Dia melihat orang itu dengan mata menyipit. Entah kenapa, tapi Rin merasa dia tidak bisa mempercayai orang itu.
Orang itu berjalan mendekat, tapi Rin segera bersembunyi di balik kasur. "Dimana kamu sekarang?" Rin bertanya dengan nada marah.
Rin, kurasa pertanyaanmu salah...
Orang itu melihat Rin dengan bingung. "Di rumahku," jawabnya pelan.
Rin tersipu menyadari kesalahannya. Dia baru ingin bertanya lagi, tapi suara seseorang memotongnya.
"Kaito! Letakkan saja makanan itu di meja dan segera ganti pakaianmu. Permata itu-" orang itu berhenti mengoceh saat dia masuk ke kamar dan melihat Rin.
Tak lama, orang itu tersenyum lebar dan itu membuat Rin sangat takut. Jangan-jangan orang itu ingin memperkosanya?!
"Ternyata kau sudah bangun!" orang itu berseru dan berjalan cepat menuju Rin tapi Rin segera berteriak.
"Jangan mendekat, pedofil!"
orang itu segera berhenti, dan melihatnya dengan mata melebar. Dia menoleh pada temannya. "Apa aku kelihatan tua?"
Orang bernama Kaito itu mengangkat bahu.
Pemuda itu menggelengkan kepala, membuat rambut blondnya yang berantakan semakin kelihatan hancur. Dia mencoba berjalan mendekati Rin lagi, tapi yang membuatnya terkejut kakinya tidak mau menuruti perintahnya.
"Kuperingatkan, aku bisa membunuhmu dalam sekali gerakan." ancam Rin dengan nada serius. "Jika aku bisa menemukan tongkatku," gumamnya sambil mencari-cari tasnya di atas kasur.
Pemuda blond itu tetap diam ditempat. Dia menyeringai dan mata violetnya terlihat bersinar. Rin berani bersumpah di pernah melihat orang itu disuatu tempat. Orang itu mengeluarkan sebuah tongkat dari sakunya, tongkat itu berwarna kuning muda dengan simbol-simbol berwarna emas di permukaanya. Rin menganga melihat tongkat itu.
"Maksudmu tongkat ini?" tanyanya.
"Cepat kembalikan, itu benda yang sangat berbahaya!" perintah Rin. Orang itu menggeleng.
"Kalau bisa kukatakan," Orang itu melempar tongkat itu ke lantai. Tongkat itu bergelinding dan berhenti di samping meja. "Alat itu tidak berguna." lanjutnya dengan santai.
Rin mengglarenya. Orang ini jelas tidak tahu apapun tentang sihir.
"Kau tidak mengerti. Tongkat itu bisa mencabut nyawamu hanya dengan sekali hentakan." Rin berkata dengan nada dingin.
"Sebenarnya,"
Orang itu berjalan santai setelah kakinya bisa digerakkan lagi. Dia berhenti dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Rin. Senyum tipis terulum di wajahnya, kontras dengan Rin yang berwajah masam.
"Tongkat, cincin dan kartu bukan hal yang penting dalam sihir. Benda-benda itu hanya digunakan untuk memfokuskan kekuatan sihir yang mengalir dalam tubuh. Saat kau sudah bisa memfokuskan kekuatanmu kau tidak memerlukan itu lagi. Seharusnya kau tahu itu, karena itu adalah pelajaran dasar di sekolah sihir, Kagene Rin." Orang itu menjelaskan.
Rin terpaku, kaget, malu dan berbagai perasaan lain bercampur dalam dirinya. Orang itu menatapnya dengan mata violetnya yang tajam dan mereka tidak berkata ataupun bergerak sedikitpun.
"Well, aku akan membawa permata itu ke polisi. Kau jaga anak itu, oke?" Kaito yang sedari tadi diam menonton mereka akhirnya bicara. Dia menaruh makanan yang dibawanya ke atas meja dan tanpa menunggu jawaban dia berjalan keluar meninggalkan mereka berdua saja.
Rin berkedip. Dia membuka mulut dan bertanya saat dia menemukan suaranya kembali.
"Siapa kau?"
"Aku Kagamine Len."
