Disclaimer : Seal Online is belong to Grigon Entertainment and YNK
A/N : ini adalah ep. 2 dari fanfic saya. semoga teman-teman menikmatinya yah.
selamat berfantasy.
dan jangan lupa, bila ada unek-unek, saran ataupun kritik, jangan segan2, karena saya juga bukan manusia yang sempurna ^_^
Episode 2 : Licensi Warrior, Misi pertama
Satu minggu berlalu dari awal pertemuan Dio dan Luthio. Kini mereka sudah menjadi teman yang cukup dekat. Setelah melewati hari demi hari latihan mereka bersama, mulai dari hanya berlatih dengan boneka jerami hingga melawan Worm 'O, sejenis monster berbentuk seperti ikan, memiliki sirip di samping bagian tubuhnya, namun bukan untuk berenang di air melainkan di tanah, didukung dengan mulutnya yang besar menyerupai huruf O dengan gigi-gigi yang sangat banyak untuk membantunya melubangi tanah.
"hei, Dio" panggil Luthio pada Dio yang sedang duduk dekat dengan jembatan di Selatan Lime.
"apa?"
"ingat waktu pertama kita bertemu?" tanya Luthio sambil berdiri di pinggir jembatan, bersandar di seutas tali yang sangat tebal yang biasa digunakan untuk berpegangan saat menyeberangi jembatan layang tersebut.
"aah, ingat sekali, kenapa memang?"
"sudah kau bayar hutangmu pada ibu itu?"
Glek "eh, iya juga ya" jawab Dio sambil memegang kepalanya
"kau sudah ada duit kan?"
"sudah"
"masih ingin membayar atau tidak?, kalau diitung-itung hanya 200 cegel aja kan."
"aaah, kau jangan menghasutku yang tidak-tidak, aku harus bayar lah..!" jawabnya kesal.
"iya. . . iya. . ." Luthio berjalan mendekati Dio, lalu menyodorkan tangannya untuk berjabat. "kalau begitu ayo kembali ke kota, sudah hampir larut."
"ehm" Dio mengangguk sambil menjabatkan tangannya dengan Luthio, Luthio pun menarik tubuh Dio untuk membantunya berdiri.
"kakiku rasanya lemas sekali" keluh Dio.
"hahaha, jelas saja lemas, suruh siapa juga mengusik si Moo Moo yang besar itu"
(Moo Moo the Great , monster dari hasil evolusi sayuran lobak, hanya saja berukuran lebih besar)
"aaah bawel, aku kan menguji kekuatanku"
Matahari kian menyingsing ke barat. Secercak cahaya keemasan menghujani seluruh kota Lime. Burung-burung diangkasa nampak kembali ke sarang mereka masing-masing, begitu juga Luthio yang berjalan sambil membopong Dio masuk melalui gerbang Selatan Lime.
"baik, sudah sampai" ujar Luthio pada Dio. "mau kemana kau sekarang?"
"aku akan membayar hutangku dulu selagi ingat, kita ketemu lagi besok" Dio melambaikan tangannya sambil berlalu.
"jangan lupa besok adalah hari pembukaan licensi Warrior" teriak Luthio pada Dio yang sudah menjauh
"O.K.!" balas Teriak Dio.
Luthio pun bergerak kembali menuju rumahnya. Rumahnya tidak begitu jauh dari gerbang selatan kota Lime, tepatnya berdekatan dengan perkumpulan Warrior, Militia. Terang saja, ayahnya yang seorang Komandan mendapatkan hak khusus untuk berada dalam kawasan lindungan asosiasi itu.
Rumah itu tidak terlalu bagus, rumah yang cukup kecil. Rumah dengan ukuran 10 x 5 meter itu dibangun dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi di dalamnya. Seluruh perabot rumahnya penuh dengan barang milik ayahnya, mulai dari lencana, jubah, baju perang dan beberapa pedang beserta perisai berjajaran di dinding rumahnya.
"Aku pulang" ujar Luthio seraya membuka pintu rumahnya.
"jadi, apa yang kau dapatkan?" tanya ayahnya tiba2 yang sudah menunggunya di dalam.
"huaa.!" Luthio terkejut "tu..tumben ayah sudah pulang jam segini?"
"Besok adalah pembukaan Licensi Warrior, aku tidak mau luput dari perkembangan anakku" dahinya mengernyit dan menatap tajam ke arah Luthio.
"mungkin aku sudah bisa menebas bahu ayah sekarang" jawab Luthio santai.
"a...ah.. ah, tapi tunggu dulu ayah" Luthio dengan cepat menghentikan langkah ayahnya yang hendak mengujinya saat itu juga. "aku lelah dan besok adalah hari pertamaku mengambil licensi itu, boleh aku beristirahat dulu?"
"hah, dasar lelaki yang banyak mengeluh..!"
Saat Luthio hendak berjalan menuju kamar, ia melihat secarik kertas berwarna keemasan berada di dekat rak biasa ayahnya menaruh pedangnya.
"hah? Surat panggilan?" tanya Luthio heran pada ayahnya sambil menggenggam kertas tersebut.
Ayahnya hanya mendengus ringan.
"bukankah ayah dibebas tugaskan selama 1 bulan ini?"
"sepertinya ada sesuatu yang mendesak hingga aku dipanggil lagi" jawab Hogart sambil mendekati Luthio dan mengambil kertas tersebut, ia lipat, lalu dimasukkan ke dalam saku celananya.
"ayah menyanggupi?"
Hogart hanya berlalu melewati Luthio dan masuk ke kamarnya. Luthio hanya mendesah ringan, lalu ia pun masuk ke kamarnya sendiri juga.
-=OOOOO=-
Mentari masih malu-malu memberikan sinarnya saat itu di kota Lime. Hawa dingin yang masih menusuk tengkuk di daerah bebukitan itu masih sangat terasa. Namun rupanya Luthio sudah bangkit dari tidurnya. Ia tengah menyiapkan seluruh bekal yang perlu ia bawa. Hogart rupanya sudah bangun lebih awal dari Luthio. Hanya saja saat itu Luthio dan Hogart tidak saling berbicara sedikit pun selama menyiapkan barang, walau ayahnya juga membantunya.
Luthio telah siap dengan bekal yang ia kemas dalam satu tas punggung penuh, lengkap dengan pedang kecilnya yang telah disarungkan dan diikatkan di pinggang kirinya. Hogart pun demikian, ia telah siap dengan jubah dan baju zirahnya, lengkap dengan pedang dan perisai di punggungnya.
"Jadi.. " Luthio mencoba membuka pembicaraan diantara mereka berdua "kau mengantarku?"
"Jadi laki-laki jangan manja" jawab Hogart ketus.
"yang berarti tidak" sahut Luthio tak kalah ketusnya.
Untuk sesaat, mereka berdua berhenti dari langkah mereka masing-masing. Hogart yang berada di depan Luthio, memunggunginya. Luthio memicingkan matanya, sedang Hogart memejamkan matanya. Seketika saja Hogart menghunus pedang sungguhannya, Luthio yang sudah membaca gerakan ayahnya menangkisnya dengan pedang asli miliknya.
CTANG..! suara kedua pedang mereka yang berbenturan.
"salam perpisahan, hah?" ledek Luthio pada ayahnya.
Hogart menebaskan pedangnya dari arah kiri Luthio dengan tangan kanannya, Luthio merunduk dan mencoba untuk menjegal Hogart, Hogart yang cekatan langsung melompat mundur. Dengan cepat Luthio melompat dan menebaskan kembali pedangnya, Hogart mengangkat pedangnya dan menangkisnya, tak ingin kalah cepat, Hogart melambungkan hantaman tangan kirinya ke arah Luthio. Luthio yang tak sanggup menangkisnya terhempas menuju dekat pintu keluar rumahnya dengan bunyi debam yang cukup keras, terlebih ia masih menyanggul tasnya yang penuh dengan isi bekalnya.
Hogart berlari menuju Luthio dengan pedangnya yang mengacung ke depan, dengan sigap Luthio menepisnya dengan pedangnya, merasa serangannya telah ditepis, Hogart mendorong Luthio dengan tangan kirinya dan membentur pintu depan rumah mereka hingga jebol.
BRUAAAK...! bunyi pintu kayu yang hancur.
"huaaaah..!" teriak seorang bocah yang semula hendak mengetuk rumah Luthio sangat terkejut, Dio.
Luthio tersungkur di tanah dengan Hogart masih menggenggam kerah lehernya dengan tangan kirinya di atasnya. Luthio yang terkejut melihat Dio ternganga merasa sedikit koyah, Hogart mengangkat Luthio dengan tangan kirinya hingga tak ada satu kaki Luthio pun yang menyentuh tanah.
Dio yang tercengang melihat kawannya sendiri sedang terdesak, kini ia menghunuskan pedangnya juga, mencoba menyerang lelaki bertubuh kekar tersebut. Tanpa pikir panjang Luthio menghantam pergelangan siku Hogart, membuat tangan Hogart tertekuk, memberi kesempatan Luthio untuk berputar di atas tangannya dan menendang wajah ayahnya tersebut, di saat yang hampir bersamaah Dio mencoba menebas pedangnya pada Hogart, namun itu digagalkan oleh tangkisan Hogart hanya dengan lengan kanannya yang tertutupi armor baja.
"tu.. tunggu, Dio" Cegah Luthio.
"Siapa orang ini?" tanya Dio sedikit panik.
Hogart hanya memandang terheran-heran pada bocah yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
"dia... " Luthio mengacungkan jari tulunjuknya pada Hogart "ayahku"
Dio hanya tercengang untuk sementara, memandangi wajah mereka berdua, Luthio dan Hogart. Tampak tidak mirip sedikitpun wajah diantara mereka berdua. Dio berganti-ganti pandang dari Luthio dan Geral.
"tidak mirip" ucap Dio lantang.
"Mau mengajak berkelahi?" sahut Hogart menggertak.
"boleh"
"bagus, dua orang yang keras kepala bersatu" keluh Luthio lirih. "cukup..!" teriak Luthio pada Hogart dan Dio yang hendak saling menyerang.
"hari sudah makin siang, kita harus berangkat Dio" ajak Luthio "bukankah ayah demikian" sesaat Luthio menatap wajah ayahnya.
"aku hanya memastikan kalian dapat bertahan hidup atau tidak"
"sampai ketemu lagi lain waktu, ayah" ucap Luthio berlalu sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
Sedikit demi sedikit langkah-langkah kecil yang diambil oleh Luthio dan Dio membuat Hogart nampak mengecil di kejauhan, hingga pada akhirnya mereka tak mampu melihat raut wajah Hogart yang ditelan kejauhan. Kini mereka tiba di lapangan pelatihan warrior.
"Bagus..!" Luthio bergirang. "kita yang pertama datang"
"Bagus..!" Dio menyahuti Luthio, "pintunya masih tertutup"
Luthio hanya membalas dengan tawa kecilnya, "setidaknya kita tidak perlu mengantri"
Benar saja, tak lama setelah itu banyak pemuda-pemuda yang sebaya dengan mereka berdatangan. Ada yang bersama orang tuanya, dan ada pula yang seperti mereka, sendirian. Disusul 20 menit kemudian setelah mereka menanti, pintu lapangan pelatihan pun terbuka.
"baiklah" suara seseorang yang membuka gerbang "pendaftaran licensi hari pertama akan kami buka" lanjut lelaki yang mengenakan seraham dari Militia tersebut. Seluruh warna bajunya didominasi oleh warna cokelat muda, tak luput slayer berwarna merah yang terdapat lambang militia diikatkan di bahu kanannya.
Luthio dan Dio yang sudah berada di depan merasa sangat senang mendapat giliran pertama.
"Namaku adalah Guile" jelas lelaki yang membuka gerbang tadi "pertama, kalian harus mendaftarkan nama kalian kepadaku, langsung saja sebutkan nama dan umur kalian, lalu kalian masuk ke dalam dan daftar ulang pada rekanku yang bernama Squall, dari dialah misi kalian akan dibagikan."
Tanpa perintah, seluruh peserta yang hendak mendaftar berbaris rapi. Luthio dan Dio yang berada di depan mendekatkan diri pada lelaki bernama Guile tersebut.
"Luthio Aurelius, 11 tahun" ujar Luthio yang kemudian dibarengi oleh Guile yang mencatat namanya di buku kecil berwarna hitam dengan pita merah kecil di lipatannya.
"Dio Ravegard, 11 tahun" (Baca : Dio Ravegard, dengan ejaan Indonesia, bukan Daio Refgaerd, ejaan Inggris)
Setelah mendaftarkan nama mereka, mereka masuk melewati pintu gerbang tersebut, memasuki lorong yang tidak begitu panjang. Terlihat tak jauh di depan mereka lapangan yang telah dipagari oleh kayu-kayu yang tinggi dan kokoh, tak jauh dari lapangan tersebut terdapat sebuah meja dan dua orang lelaki, yang satu sedang duduk di meja, dan yang satu lagi berdiri menanti kedatangan peserta.
"isikan seluruh kotak yang kosong pada form tersebut" ucap seorang lelaki sambil menunjuk sebuah kertas form pendaftaran.
Tertera di dalamnya seperti kolom nama, tanggal lahir, umur dan sebagainya, termasuk tanggal mendaftar misi dan kode misi yang hendak diberikan pada kami, hanya saja bagi terakhir diisi oleh orang-orang Militia. Luthio dan Dio pun dengan cepat dan hati-hati mengisi form tersebut, peserta yang lain pun datang menyusul untuk mengisi form tersebut silih bergantian.
"baik, namaku ada Squall" jelas lelaki yang tadi berdiri. "Misi pertama sebelum mengambil misi lanjutan adalah mengalahkan Wooden Golem yang berada pada lapangan ini, Wooden Golem ini dikendalikan oleh kekuatan magis dari seorang Magician berlicensi, jadi tidak perlu takut. Namun, jika kalian gagal, jangan pernah mencoba untuk berlatih dengan mengalahkan Wooden Golem yang asli, dan kalian harus mengikuti pelatihan ulang selama 1 bulan ke depan, dan baru boleh mendaftar kembali"
"baiklah" lanjut Squall, "10 orang pertama masuk dalam lapangan"
Dio dan Luthio beserta ke – 8 peserta lainnya mengambil posisi mereka masing – masing. Menanti di hadapan Wooden Golem yang masih tak bergerak.
"Aturannya adalah . . . Kalahkan Wooden Golem" teriaknya sambil mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan seluruh peserta untuk bersiap siaga. Luthio, Dio dan ke – 8 peserta lainnya tengah memasang kuda-kuda mereka kuat – kuat, menggenggam erat pedang kecil mereka, dan menegangkan seluruh otot tangan mereka. "Mulai..!" teriak Squall sambil mengibaskan tangannya.
Sesaat mata Golem tersebut berpendar berwarna merah, lalu menyala redup menandakan Golem baru saja dihidupkan. Seketika, suara gencatan senjata melebur jadi satu udara.
Luthio tengah melompat ke arah kanan ketika Golem lawannya menghantam tanah di kirinya. Lapangan tersebut cukup luas untuk membuat ke 10 peserta bergerak bebas dalam melawan masing-masing Wooden Golemnya.
"Luthio, Hati-hati" teriak Dio menegur Luthio.
"Kau seharusnya memperhatikan lawanmu sendiri, Dio" Balas Luthio berteriak juga.
Saat itu Luthio terlihat tegang melawan Wooden Golem, dan ini bukan kejadian yang pertama kalinya. Beberapa kali saat bertarung melawan monster, Luthio terkadang gugup. Dio memerhatikan gerakan Luthio sembari menghindari seluruh serangan dari Wooden Golem lawannya.
"Luthio, kenapa kau selalu gugup kalau 1 lawan 1?" teriak Dio
"aah, bawel" sahut Luthio ketus. Wooden golem miliknya melontarkan serangannya kembali, hendak menghantamkan kepalan tangannya yang besar. Luthio yang melihat kesempatan langsung melompat mundur. Bertepatan dengan dihantamnya tanah oleh tangan golem tersebut, ditusuknya tangan golem tersebut kuat-kuat oleh Luthio dengan pedangnya. Bertumpu pada gagang pedang, Luthio memutar tubuhnya dan menendang wajah Goleh tersebut dengan kakinya dari arah samping.
Golem yang terpelanting membuat Luthio terjatuh pula ke tanah akibat pedang tersebut ikut bersama tangan golem tersebut.
"Bodoh..!, gunakan pedangmu untuk menyerang, bukan bertahan..!" Dio kini memutuskan berlari menuju arah Luthio.
Melihat Golem milik Dio mengejar Dio dibelakangnya hendak menyerang, Luthio bersiaga pada langkahnya. Disaat yang bersamaan Golem milik Luthio bangkit dari jatuhnya hendak menyerang kembali, Dio dengan cepat menebas tangan kiri golem yang hendak menghantamnya.
Luthio berguling menghindari serangan dari Golem milik Dio yang sebenarnya tertuju ke arah Dio, namun belum sempat serangan tersebut mengenai Dio, ditendangnya tubuh golem tersebut kuat-kuat hingga terpelanting. Dio yang melihat kesempatan langsung menebas kepala Golem milik Luthio dan mengakhiri pertempurannya dengan Golem saat ini. Dio dengan cepat mengambil pedang milik Luthio dan melemparkannya pada Luthio "Luthio..!" Seru Dio
Luthio yang tengah berdiri di atas tubuh golem milik Dio tersebut menangkap lemparan pedangnya dari Dio, dan cepat-cepat ia menghujamkan pedangnya pada kepala golem tersebut dan mengakhiri pertarungannya.
Merasa lega, Luthio menjatuhkan dirinya di atas tanah, terduduk. Begitu juga Dio, ia meringkup di kedua lututnya. Namun saat itu mereka baru tersadar, bahwa mereka bukan membunuh golem mereka masing-masing. Secara bersamaan mereka saling adu pandang, lalu melihat ke arah Squall dengan cemas.
"kalian lulus..!" Teriak Squall seraya memanggil mereka berdua.
"Hah..!?" Luthio dan Dio terlihat kebingungan
Sepertinya peserta lain tak sempat melihat kejadian ini karena sibuk dengan lawan tandingnya masing-masing.
"ke. . kenapa kami bisa lulus?" tanya Luthio dan Dio kebingungan ketika berada dekat dengan Squall.
"aku tidak ingat bila menyebutkan peraturan untuk tidak bekerja sama" jawab Squall sambil tersenyum simpul. "kau boleh mengambil misi kedua dari lelaki di meja tersebut"
"emmmmmh" suara Luthio dan Dio menahan rasa senangnya sembari saling melihat satu sama lain penug kegirangan "yeaaaaaaaah..!"
"baik, misi ke dua kalian adalah . . ." ujar seorang laki-laki yang berada di meja pendaftaran. "ambil jari Golem dari Wooden Golem yang sesungguhnya di barat Elim"
Episode 2 : End.
