Complicated Relationship
Author:CrowCakes
Warning: AU, OOC, Typo, YAOI, INCEST, dan hal absurd lainnya.
Rating: M for Mature
Pairing: Yunjae, YunKyu, WonJae
Note: ff ini bukan ff karya saya, dan saya sudah minta izin sama empunya buat repost dan ganti cast nya hhhehe. Enjoy minna~
.
Jaejoong selalu tahu bahwa sinar mentari pagi selalu merusak mata hitamnya. Cahaya itu terlalu menusuk ke jaringan retinanya ketika Yunho dengan seenaknya membuka tirai jendela yang memisahkan matahari dengan kelopak matanya yang masih tertutup.
Junsu juga merasakan hal sama ketika sinar menyilaukan itu memaksanya untuk mengerang tidak suka. "Yun—kau terlalu cepat bangun." Ucapnya malas dengan suara parau. Tubuhnya masih mengulet malas di atas futonnya.
"Bangunlah Su—" Yunho bergerak pelan menuju sahabatnya itu, "—dan selamat pagi." Kecupan singkat diberikan Yunho tepat di bibir Junsu. Pemuda penyuka bola itu tidak menolak dan menganggapnya sebagai sapaan biasa dari seorang pemuda bodoh seperti Yunho. Tetapi berbeda dengan Jaejoong yang kontan terbelalak kaget melihat romantisme yang membuat perutnya bergejolak mual.
"Hentikan sapaan pagi kalian. Itu sangat menjijikan." Gerutu Jaejoong yang mencoba bangun dari futonnya sekarang. Yunho meliriknya sekilas kemudian beralih menuju pemuda blonde yang sedang berusah bangkit dari tidurnya itu.
"Selamat pagi—" Yunho mencondongkan wajahnya ke wajah Jaejoong yang terkesiap kaget. Sekali lagi doe eyes beradu pandang dengan onyx yang hitam pekat. Tiba-tiba Yunho menghentikan pergerakan tubuhnya dan enggan untuk menyentuhkan bibirnya ke pemuda itu. "Bangunlah—Jae." Ucap Yunho lagi yang malah menjauh menuju keluar kamar.
Jaejoong hanya terdiam kaget ketika menyadari bahwa Yunho sama sekali tidak mencium bibirnya. Apa-apaan ini?! Apa Yunho menganggap dirinya tidak pantas untuk dicium? Apa mulutnya sebau itu? Bahkan kalau harus jujur, Junsu lebih bau dari dirinya. Menyebalkan, rutuk Jaejoong dalam hati.
"Jae—" Junsu memanggil, "—kau yang mandi duluan atau aku?"
Jaejoong berdecak kesal, "Aku dulan." Jawabnya tegas yang mendapat tanggapan Junsu dengan mengangkat kedua bahunya, terserah.
Pemuda blonde itu langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dengan kesal dia melepaskan bajunya dan melemparnya ke bak cucian. Entah kenapa perlakuan Yunho tadi membuat harga diri seorang Choi tercoreng. Jaejoong yakin, mulutnya tidak sebau itu untuk dicium. Yang benar saja—mulutnya sangat wangi. Harum malah kalau dia boleh jujur.
Jaejoong menjulurkan tangannya untuk membuka tirai kamar mandi yang memisahkan bak mandi yang hangat dengan dirinya sekarang. Dia menyibakkan tirai malang itu dengan cepat, tetapi tangannya langsung terhenti dan tubuhnya mematung kaku ketika dihadapannya, berdiri Yunho yang menatapnya kaget.
Doe eyes Jaejoong terpesona selama beberapa detik saat melihat lekuk tubuh telanjang pemuda didepannya ini. Badan atletis dengan kulit tan menggoda, surai hitam yang jatuh basah di keningnya, juga mata kelamnya yang menatap ke arahnya dengan pandangan terkejut. Untuk sesaat Jaejoong merasa dirinya ditarik dari dunia dan dihempaskan ke surga yang penuh dengan malaikat tampan.
"Joong—"
.
"Jaejoong—!" Panggil Yunho setengah berteriak menyadarkan pemuda itu, "—kau mau mandi juga?" ia bertanya sambil menyisir rambutnya yang basah dengan sela jarinya. Jangan tanya betapa tampan nya orang didepan Jaejoong saat ini, karena pemuda blonde itu sudah hampir pingsan melihat segala kesempurnaan didepan matanya.
Jaejoong yang sadar langsung mundur secara perlahan dengan wajah yang memerah, "Astaga, astaga, astaga—" Ucapnya panik, "aku—aku permisi dulu! Maaf!" Sambungnya lagi sambil berlari tergesa-gesa keluar dari kamar mandi.
Pemuda blonde itu berjongkok panik di balik pintu kamar mandi. Dia memegangi dadanya dengan kedua tangannya. Jaejoong yakin bahwa saat ini wajahnya menghangat dan merah sempurna layaknya tomat matang. Oh—Tuhan, maafkan hambamu ini, masuk seenaknya ke kamar mandi dan melihat tubuh malaikat ciptaan-Mu. Aku benar-benar tidak tahu malu, rutuk Jaejoong menyumpah serapahi dirinya sendiri.
"Jae, sedang apa kau?" Tanya Junsu yang melihat Jaejoong berjongkok dengan aneh di depan kamar mandi. "Tidak jadi mandi?" ia kembali bertanya yang dijawab Jaejoong dengan gelengan kepala.
"Yunho masih di dalam." Sahut Jaejoong.
"Ya sudah, ayo mandi bareng saja di dalam." Junsu mulai melepaskan baju dan celananya satu persatu.
.
"Ta—Tapi Yunho di dalam!" Bentak Jaejoong lagi.
"Iya aku tahu—toh tidak ada salahnya mandi bareng, aku sering melakukannya saat masih anak-anak dengan Yunho." Jawab Junsu tidak peduli sambil melenggang masuk ke kamar mandi.
"Yoo Yun—" Sapa Junsu yang melihat Yunho membersihkan tubuhnya dengan sabun. Pemuda brunette itu melirik sekilas kemudian mengangguk mempersilahkan Junsu ikut mandi.
"Jae? Kau tidak ikut masuk?" Tanya Junsu yang masih menatap pemuda itu berjongkok aneh di depan pintu kamar mandi. "Sebentar lagi jam 8, kita bisa terlambat." Sambung Junsu yang memaksa Jaejoong ikut masuk juga ke kamar mandi.
Yunho mendelik sekilas ke arah Jaejoong yang terlihat enggan untuk mandi bersama. Pemuda blonde itu berusaha menutup bagian tubuhnya dengan kedua tangan. Samar-samar Yunho bisa melihat rona merah di wajah pucat itu.
"Peralatan mandi ada disebelah sana." Ucap Yunho menunjuk sebuah ember yang berisi berbagai sabun dan pelatan sikat gigi. Jaejoong mengikuti arah tunjukan Yunho dan mengangguk paham.
"Hn—" Jawabnya singkat. Berharap Yunho tidak melihat gerak gelisah ditubuhnya.
.
.
.
_Shinki Gakuen, Pukul 08.00 Pagi_
Telat merupakan kata terlarang dalam kamus Jaejoong. Tetapi hari ini, kata itu terpaksa membuat dirinya berdiri diluar kelas dengan dua orang bodoh yang menemaninya. Siapa lagi kalau bukan Yunho dan Junsu, ini gara-gara mereka terlalu bersemangat bermain busa saat mandi. Dan lihat akibatnya, dia harus terlambat untuk masuk sekolah dan parahnya ikut dihukum didepan kelas. Menyebalkan!
"Bosan—" Rutuk Junsu sambil berjongkok dan melamun.
"Aku juga." Kali ini Yunho menimpalinya dengan nada jenuh yang kentara sekali.
"Ah—Bagaimana kalau kita kabur ke kantin?" Ide Junsu membuat Jaejoong hampir mencongkel matanya karena kesal.
"Jangan ngaco! Kau ingin kita mendapat hukuman lagi?" Sela pemuda blonde itu sambil mendeliknya tajam. Bibir Junsu mengerucut sebal.
Yunho menyenderkan tubuhnya di dinding sambil mengelus tengkuk lehernya, "Lalu kita harus bagaimana? Aku juga bosan."
Jaejoong mengerang sambil memutar bola matanya dengan capek, benar-benar malas untuk meladeni mereka berdua. Doe eyesnya memilih menatap koridor kelas yang saat itu memang sepi.
.
"Jaejoong?" Panggilan seseorang membuat Jaejoong menoleh. Changmin berdiri di ujung koridor dengan lembaran kertas ditangannya.
"Di hukum?" Tanyanya lagi dengan pandangan normal, seakan-akan kata 'dihukum' adalah hal biasa bagi pemuda berambut hitam itu.
"Ya—" Jawab Jaejoong singkat.
"Kalau begitu kebetulan, lebih baik kau bantu aku membawa kertas-kertas ini ke kantor guru." tawar Changmin yang membuat Jaejoong mendelik malas.
"Aku tidak tertarik, Changmin hyung." Sahut pemuda itu.
"Bagaimana kalau aku saja?" Kali ini Yunho yang membuka suara, membuat Jaejoong menoleh kearahnya dengan cepat.
"Kau—apa?" Tanya Jaejoong tidak yakin.
"Aku akan membantu Changmin sunbae." Tunjuk Yunho pada pemuda tinggi yang ada dihadapannya ini.
"Kalau begitu, aku juga." Tawar Junsu yang langsung berdiri membersihkan celananya.
"Kalian berdua membantu orang ini? Yang benar saja, kita bisa dihukum lebih berat kalau sampai ketahuan."
"Oh ayolah Jae—kau terlalu kaku, santailah sedikit." Kata Junsu sambil merangkul pundak Jaejoong yang langsung ditepis pemuda itu dengan kasar.
"Aku tidak mau." Jawab Jaejoong sambil membuang muka.
"Terserah kau—lagipula aku sudah bosan berdiri terus." Ucap Yunho yang langsung berjalan mengikuti Changmin yang terlebih dahulu pergi.
Junsu melirik Jaejoong kemudian menarik lengan pemuda itu dengan tergesa-gesa, "Ayolah Jae, toh tidak ada salahnya." Dan perkataan Junsu hanya membuat Jaejoong mengerang kesal dan membiarkan tubuhnya diseret oleh pemuda bodoh itu.
.
.
Kantor guru terlihat sepi karena beberapa pegawainya sibuk mengajar dikelas. Changmin memilih masuk dan menaruh lembaran kertasnya di meja salah satu guru, diikuti dengan Yunho dan juga Junsu.
"Akhirnya selesai juga." Kata Changmin sambil merenggangkan otot bahunya yang sejak tadi kaku karena mengangkat lembaran kertas yang setebal buku ajar fisika kuantum itu.
"Sudah selesai kan? Kalau begitu kami pamit kembali ke kelas dulu, Sunbae." Ucap Junsu sambil membungkuk hormat. Mereka sudah ingin kembali ketika Changmin langsung menepuk keningnya karena mengingat sesuatu.
"Astaga—masih ada beberapa buku yang ketinggalan di perpustakaan." Kata Changmin dengan erangan kesal.
"Biar aku bantu." Yunho menawarkan diri yang membuat Jaejoong kembali mendeliknya bosan.
"Tapi kita bisa dimarahi guru kalau tidak segera kembali ke kelas." Desak Jaejoong.
"Kau kembali lah dengan Junsu, lagipula cuma sebentar saja." Jawab Yunho yang segera bergegas pergi bersama Changmin.
Jaejoong mengerang marah untuk kesekian kalinya, membuat Junsu yang berada disebelahnya melirik bingung.
"Kau kenapa sih? Seperti melihat pacar sendiri direbut orang. Marah-marah tidak jelas begitu." Kata Junsu yang langsung mendapat death glare mematikan dari Jaejoong.
"Berani bicara sekali lagi, ku bunuh kau." Satu kalimat dari Jaejoong sukses membuat Junsu bergidik ngeri.
.
.
Di perpustakaan yang sama kosongnya dengan ruang guru itu, terlihat Yunho sibuk membongkar beberapa rak lemari untuk mencari buku yang dihilangkan Changmin.
"Buku apa sih?" Tanya Yunho yang terus mencari disela-sela lemari.
"Buku ajar milik Gary-sam. Matematika. Sial! Aku lupa menaruhnya dimana." Jelas Changmin yang terlihat mengobrak-abrik bagian bawah meja dan kursi.
"Kau yakin ketinggalan disini?" Tanya Yunho.
"Ya—yakin sekali." Kali ini Changmin ikut mencari di rak buku yang sama dengan Yunho. Tangannya berusaha menggapai kardus yang ada di atas lemari. Beberapa kotak itu bergoyang tidak stabil ketika jari Changmin menyentuhnya tanpa sengaja. Yunho melirik waspada. Tepat ketika Changmin sudah mendapatkan bukunya, beberapa kardus berat itu mulai berjatuhan mengenai kepalanya.
"AWAS!" Yunho mendorong tubuh Changmin dan berguling kesamping sambil memeluk pemuda tinggi itu. Seluruh kardus berdebam jatuh dilantai dengan suara -BRUK!- keras, menghasilkan sejumlah debu yang sanggup membuat Yunho terbatuk.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Yunho pada Changmin yang tertelungkup di bawah tubuhnya. Pemuda itu mengangguk perlahan. Bibirnya mengucapkan 'terima kasih' dengan suara pelan. Yunho mulai melepaskan tindihannya dari badan pemuda itu.
"Hampir saja—" Kata Changmin yang duduk dilantai sambil menatap beberapa kardus yang berisi piala penghargaan, "—kalau benda itu sampai mengenai kepalaku, tamatlah riwayatku." Lanjutnya lagi.
Yunho hanya mendengus kecil, menyembunyikan kekeh tawanya, "Ya—dan kau harus berterima kasih pada pahlawanmu ini." Tunjuk Yunho pada dirinya sendiri. Changmin tergelak sambil menyikut perut pemuda brunette itu.
"Well—terima kasih." Kata Changmin yang membantu Yunho untuk berdiri. Pemuda brunette dihadapannya hanya tersenyum dengan ujung bibirnya. Setelah berdiri, mereka berdua membersihkan beberapa debu yang berada di pundak dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Yunho bersender di meja sambil mengacak-acak rambutnya yang penuh debu dan beberapa kotoran kertas dari kardus. Changmin ikut membantu Yunho menyisir rambut brunette itu. Dari jarak sedekat ini, Changmin dapat melihat mereka berdua memiliki tinggi yang sama, juga bentuk tubuh yang sama. Changmin menyentuh perlahan perut Yunho, membuat pemuda brunette itu menatapnya bingung.
"Ada apa?" Yunho bertanya pada Changmin dengan wajah heran. Changmin menyeringai, memperlihatkan senyum jahilnya.
"Aku tidak menyangka kau memiliki perut yang atletis juga." Kata Changmin yang disambut gelak tawa Yunho.
"Tentu saja—aku rajin olahraga."
"Bagus—aku juga sama." Kali ini Changmin membuka kemejanya dan memperlihatkan bentuk tubuhnya yang tak kalah keren dari Yunho. Mereka berdua tertawa dan terkekeh, tetapi detik selanjutnya langsung terdiam dengan suasana yang benar-benar—canggung. Kalau tidak mau disebut salah tingkah.
Yunho memasukkan tangan kanannya ke kantong celana dan tangan kirinya menggaruk tengkuk lehernya, sikap yang menunjukkan suasana awkward, sedangkan Changmin memilih memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana sambil sesekali menyeringai aneh.
"Well—kalau begitu aku harus mengembalikkan buku ini ke ruang guru." Kata Changmin sambil menepuk-nepuk buku tadi di bahunya. Yunho hanya mengangguk paham. Sebelum pemuda brunette itu berbalik, nada Hp nya berbunyi dengan nama 'Kyuhyun' yang tertera dilayarnya.
"Hallo—Ayah?" Sapa Yunho. Changmin tidak bergerak dan memilih menunggu pemuda pirang itu menyelesaikan perbincangannya dengan orang yang sedang diteleponnya.
"Yun—ayah hari ini mungkin akan pulang telat."
"Kenapa? Sibuk bekerja sebagai editor lagi? Kali ini siapa yang dikejar?"
"Ya—atasan ayah, meminta ayah untuk segera mengumpul naskah dari penulis Siwon-sshi. Penulis novel yang sekarang sedang menjadi perbincangan di media koran." Kata Kyuhyun dengan nada suara yang berdebar-debar. Yunho hanya memutar bola matanya malas. Dia sudah tahu bahwa ayahnya itu benar-benar pemuja segala sesuatu yang berhubungan dengan karya tulis seperti Novel, majalah dan sejenisnya.
"Ya—hati-hati dan semoga sukses." Ucap Yunho lagi sebelum menutup teleponnya.
Changmin yang melihat bahwa Yunho sudah selesai mengobrol dengan orang diseberang telepon langsung menyikut perut pemuda itu dengan pelan.
"Siapa? Ayahmu?"
"Ya—dia sedang mengejar penulis novel yang naskahnya harus diserahkan hari ini juga."
"Memangnya pekerjaan ayahmu itu editor?"
"Begitulah—" Ucap Yunho sambil menggaruk rambutnya. Changmin hanya mengangguk paham kemudian melirik Yunho lagi. Yang dilirik hanya mengernyit bingung.
"Ada apa lagi?" Tanya Yunho yang heran melihat senyum aneh sunbae-nya itu.
"Yun—kau sudah pernah ciuman?"
"Hah?—kenapa malah bertanya soal itu?" Yunho memilih duduk di salah satu kursi dengan malas. Didepannya Changmin duduk diatas meja sambil terkekeh geli.
"Oh ayolah—ceritakan padaku bagaimana rasanya ciuman." Desak pemuda berambut hitam itu sambil meninju bahu Yunho pelan. Yang tentu saja—ditanggapi Yunho dengan dengusan malas.
.
.
.
Di tempat lain, Jaejoong bergerak gelisah didepan kelas, sedangkan Junsu yang berada disebelahnya hanya menghela napas bosan. Ini sudah kesepuluh kalinya Jaejoong bolak-balik didepan matanya. Pemuda blonde itu berdecak bahkan menghentak-hentakkan kakinya karena marah beberapa kali.
"Sial!—Yunho lama sekali. Aku yakin dia bolos." Tebak Jaejoong yang ditanggapi Junsu dengan gumaman tidak jelas. "Atau dia malah enak-enakan makan dikantin?" Gerutu Jaejoong lagi.
Junsu mendesah untuk kesekian kalinya kemudian menoleh ke arah Jaejoong, "kalau kau begitu khawatir pada Yunho, kenapa tidak ikut menyusulnya saja ke perpustakaan?"
"Aku?—khawatir? Heh!—yang benar saja!" Bentak Jaejoong lagi.
"Kalau begitu tenanglah dan diam. Kau membuat kepalaku pusing." Kesal Junsu yang lebih memilih menatap para siswi daripada melihat Jaejoong yang sibuk menggerutu sendiri.
"Baiklah—" ucap Jaejoong, "—aku akan menyusul Yunho ke perpustakaan. Kau mau ikut atau tidak?" Tanya Jaejoong yang ditanggapi pemuda penyuka bola itu dengan masa bodoh.
"Kau pergi saja duluan. Nanti aku menyusul." Jelas Junsu sambil mengibas-ngibaskan tangannya tidak peduli.
.
.
.
"Jangan-jangan kau belum pernah ciuman ya?" Suara Changmin menggema di perpustakaan kosong itu bersama dengan suara kekeh kecilnya. Yunho yang berada di depannya hanya memutar bola mata bosan.
"Bukankah sudah kukatakan kalau aku pernah ciuman?"
"Oh ya?—aku tidak percaya." Kali ini Changmin kembali mengulum kekehnya ketika melihat Yunho memelototkan matanya ke arah pemuda berambut hitam itu.
"Terserah kau saja." Kata Yunho yang memilih untuk pergi tetapi keburu ditahan oleh tangan Changmin.
"Baiklah—baiklah—aku percaya. Tapi aku penasaran dengan siapa kau pernah ciuman."
Yunho menggaruk tengkuk lehernya, "Kalau soal itu—" Ia agak ragu, "—dengan Tiffany. Mantanku." Lanjut Yunho yang enggan mengatakan bahwa dengan ayahnya juga dan dengan semua temannya, tentunya.
Changmin terlihat berpikir, kemudian senyumnya membentuk seringai kecil, "Apa kau mau mencobanya denganku juga?"
Kalau Yunho sedang minum air mungkin dia sekarang sudah tersedak saking kagetnya, "Mencoba—apa?" Tanya pemuda pirang itu tidak yakin. Changmin tertawa sebentar kemudian meninju pelan bahu Yunho.
"Oh ayolah—tidak ada salahnya kan ciuman dengan teman sendiri." Goda pemuda berambut hitam itu lagi. Yunho mendesah pelan kemudian menyenderkan punggungnya di senderan kursi.
"Well—bagiku sih tidak masalah." Ucap Yunho lagi—toh aku sering berciuman dengan temanku juga, pikirnya dalam hati.
"Bagus—" Kata Changmin yang mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Yunho. Kedua tangannya berpegangan pada sisi meja, sedangkan Yunho memilih diam duduk di kursi dengan wajah menengadah sedikit.
"Cuma sebentar." Ucap Yunho lagi yang disambut anggukan paham Changmin.
"Ya—cuma sebentar." Changmin mulai memposisikan wajahnya dan mencondongkan tubuhnya lagi. Helaan napas Yunho dapat terasa di wajahnya. Hangat dan nyaman. Kening mereka menyentuh satu sama lain disambung dengan kecupan bibir.
Yunho memejamkan matanya, begitu juga Changmin yang memilih menutup onyx nya. Mereka saling merasakan sentuhan lembut di bibir masing-masing. Menekan dan menggigit. Sesekali Changmin menggoda mulut Yunho dengan lidahnya, yang ditanggapi dengusan kecil oleh pemuda itu.
Tangan Changmin menyentuh bahu pemuda brunette dihadapannya, menariknya sedikit agar lebih mendekat. Yunho juga merangkulkan tangannya di pinggang pemuda yang lebih tua setahun darinya itu. Menengadahkan sedikit kepalanya agar Changmin bisa melumat mulutnya lebih nyaman. Dengusan dan helaan napas membuat ciuman mereka yang tadinya sepakat hanya sebentar saja, kini merambah menjadi beberapa detik.
Lidah Changmin makin menggoda mulut Yunho dengan jilatannya, membuat pemuda brunette itu membuka bibirnya dan saling bergulat lidah. Dorongan dan tekanan. Hisapan dan lumatan. Bahkan benang saliva pun turut andil dalam pertarungan sengit itu.
.
"APA-APAAN INI?!" Teriakan seseorang membuat pagutan mereka berakhir dengan cepat. Yunho segera berdiri dari kursi dan berbalik dengan panik, sedangkan Changmin memilih menjauh sambil menyeka beberapa tetes air liurnya dengan sikap canggung.
Dihadapan mereka berdiri Jaejoong dengan mata nyalang menatap kedua pemuda yang terlihat salah tingkah itu. Changmin memilih memungut bukunya yang jatuh di lantai dengan kikuk. Bibirnya berusaha tersenyum tetapi malah mengeluarkan cengiran yang bagi Jaejoong terlihat menjijikan.
Sedangkan Yunho menggaruk tengkuk lehernya, salah tingkah. "Ah—Jaejoong, aku pikir kau sudah kembali ke kelas bersama Junsu." Kata Yunho dengan suara senormal mungkin, walaupun masih ada nada serak dalam perkataannya.
"Memang. Dan aku kembali untuk melihat apa yang kalian lakukan." Sergah Jaejoong sambil melototkan mata ke arah kakaknya dengan tatapan tidak percaya.
Changmin berdehem sedikit untuk mengatur agar suaranya tidak terdengar parau, "Kami—hanya mencari buku milik Gary-sam." Ucapnya sambil menunjukkan sebuah buku di tangan kanannya.
"Oh ya?—Dengan berciuman? Hebat sekali." Balas Jaejoong sarkastik.
"Sudahlah Jae—" Yunho mengerang tidak suka, "—kau seperti yeoja yang sedang cemburu saja."
"Cemburu?!" Jaejoong beralih melotot pada Yunho, "Hell No! Yang benar saja, aku hanya tidak percaya kalau kau juga mencium kakakku seperti itu!"
"Kitty, dengar—aku sudah terbiasa berciuman dengan semua orang dan—"
"Dan itu membuatmu terlihat dewasa, begitu?—Dengar Yun, aku tidak peduli kau mau berciuman dengan siapa pun, dimana pun dan kapan pun, terserah! Asal jangan menyentuh kakakku!"
"Ah—Jadi kau brother complex, begitu? Oh ayolah, Kitty—itu cuma ciuman persahabatan."
"Ciuman persahabatan tidak menggunakan lidah, Yun!"
"Terserah kau sajalah—aku malas meladenimu." Erang Yunho kesal sambil berjalan melewati Jaejoong di ambang pintu.
"Tunggu dulu, Yun! Kau tidak bisa pergi begitu saja!" Jaejoong menarik lengan Yunho, membuat pemuda pirang itu berbalik dengan sikap enggan.
"Kau mau apa lagi?" Desak Yunho yang sudah terlihat bosan dengan drama ala sinetron begini.
Jaejoong membuka mulutnya untuk berbicara lagi, tetapi seruan Junsu membuat mereka berdua langsung menoleh secara bersamaan.
"Hai—! Sedang apa kalian disini?" Tanya pemuda penyuka bola itu sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena berlarian. Yunho memutar bola matanya malas dan Jaejoong berdiri dengan sikap canggung. Membuat Junsu heran dengan keduanya.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Junsu lagi. Mata cokelat pemuda itu melirik Jaejoong, tetapi hanya dibalas dengan membuang muka. Junsu beralih menatap Yunho, lagi-lagi dia diacuhkan oleh pemuda brunette itu.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa suasananya aneh begini?" keluh Junsu sambil menggaruk rambutnya. Yunho mendengus pelan kemudian menarik Junsu untuk menjauh, meninggalkan Jaejoong yang hanya bisa diam.
"Eh?—Tunggu Yun. Ma—mau kemana kita? Bagaimana dengan Jaejoong?"
"Sudahlah—kita pergi saja." Tarik Yunho lagi tanpa membiarkan pemuda bodoh itu untuk protes lebih jauh lagi.
Jaejoong mendesah panjang sambil menyenderkan tubuhnya ke sisi dinding. Doe eyesnya melirik sedikit ke arah Yunho dan Junsu yang sudah berbelok di tikungan koridor.
"Kau tidak menyusul mereka?" Suara Changmin membuat Jaejoong mendeliknya dengan tajam.
"Bukan urusanmu!" Jawab Jaejoong kasar. Changmin hanya menyeringai kecil sambil menjilat ujung bibirnya.
"Ah—tentu saja bukan urusanku—" Ucap Changmin lagi sambil menyenderkan kepalanya ke tembok dengan tatapan jahil, "—urusanku hanya dengan pemuda yang hebat dalam berciuman itu."
Jaejoong menggeram tidak suka. Ia ingin menyemprot kakaknya itu dengan sumpah serapah tetapi langsung menghentikan niatnya ketika Hp nya berbunyi nyaring. Sebuah nama di layar kotak kecil itu membuat Jaejoong terdiam kaku. Tanpa terlihat Changmin, sebuah senyuman tipis terlihat di bibir Jaejoong ketika mengangkat telepon dan meletakkanya di daun telinga.
"Hallo—Ayah? Ada apa?" Nada suara Jaejoong melembut ketika berbicara dengan kepala keluarga Choi itu.
"Ah—Jaejoongie, kau melihat lembaran kertas yang berserakan di lantai kemaren malam? Ayah membutuhkannya sekarang."
"Oh—kertas-kertas ayah sudah aku bereskan di laci meja. Periksa saja." Jawab putra bungsu Uchiha itu. Dari arah telepon terdengar suara gaduh ketika Siwon mencari di beberapa laci meja kerjanya.
"Ah iya—sudah ketemu. Terima kasih, Jaejoongie."
Jaejoong tersenyum lagi, "Baguslah—" Ucapnya pelan, "Oh ya—ayah, jangan lupa untuk makan siang. Nanti maag mu kambuh."
"Aku mengerti, bye Jaejoongie." Kata Siwon lagi yang bersiap untuk mematikan sambungan teleponnya.
Ada jeda sebentar sebelum Jaejoong mulai menjawab perkataan Siwon.
"Bye, ayah—aku mencintaimu." Ucapnya lagi. Terdengar sahutan pelan Siwon dari seberang telepon, lalu bunyi -klik- kecil menandakan sambungan telepon terputus ketika Jaejoong menekan tombol off.
Changmin yang berada disebelahnya terlihat penasaran dengan senyum aneh Jaejoong, "Kau—terlihat senang sekali. Memangnya ayah mengatakan apa?" Tanya Changmin yang mendapat death glare dari Jaejoong.
"Bukan urusanmu, bodoh!" Bentak Jaejoong yang memilih menjauh, meninggalkan Changmin yang bingung dengan sikap adik semata wayangnya itu.
.
Aku juga mencintaimu, Jaejoong
.
Mengingat jawaban ayahnya di telepon tadi membuat Jaejoong melupakan kemarahannya pada Yunho dan memilih meredam pekik girangnya ketika berjalan di sepanjang koridor kelas. Sesekali dia tersenyum aneh sambil mendekap Hp nya di dada, membuat beberapa siswa yang berada disekitar Jaejoong harus menjauh karena heran.
.
.
.
_Kediaman Choi, pukul 01.00 Siang_
Siwon mengerang kesal setelah menutup teleponnya dengan Jaejoong. Pria itu bersender malas di kursinya yang empuk. Sesekali mengusap wajahnya dan mendesah panjang.
"Kenapa aku harus mengatakan hal itu." Ucapnya lirih, "seharusnya hal lain seperti 'sampai jumpa, Jaejoong' atau 'baik-baik di sekolah', tetapi yang keluar dari mulutku malah 'aku juga mencintaimu, Jaejoong'. Kalau begini aku bisa dikutuk oleh Jaekyung." Erang pria Choi itu lagi.
.
TING—TONG—Bel pintu depan berbunyi keras. Membuat Siwon terlonjak sebentar dari kursi empuknya kemudian melirik jam dinding.
"Ah iya—editor dari HxH kan mau datang kesini untuk mengambil naskah." Kata Siwon sambil berjalan menuju pintu depan.
TING—TONG—bel ditekan lagi. Siwon sedikit terseret ketika berjalan melewati tangga. Kakinya beberapa kali tarantuk meja bahkan kursi. "Sebentar—" Seru pria itu dari dalam.
-Cklek—Pintu depan terbuka perlahan. Siwon terdiam ketika seorang pria dengan rambut hitam tersenyum padanya.
"Hallo—Namaku Jung Kyuhyun. Editor baru HxH. Mohon bantuannya." Ucap pria itu sambil membungkuk hormat. Siwon kembali tercengang untuk sesaat. Otaknya berusaha merespon pria yang ada didepannya ini. Wajah manis, rambut hitam, senyum polos, dan agak pendek dari dirinya.
Satu kesimpulan yang dibuat oleh Siwon. Pria ini—imut luar biasa!
Siwon berusaha menahan dirinya untuk tidak langsung menerjang pria manis dihadapannya ini, dia bersender di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada, "Well—Kyuhyun-sshi, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Ucapnya dengan senyum tipis yang disamarkan oleh wajah stoic-nya.
.
.
.
_Shinki Gakuen, Pukul 01.00 Siang_
"YUNHOO!—" Teriakan Junsu membuat pemuda brunette yang lagi duduk santai di kursi kelas menoleh sebentar.
Junsu mendekat dengan wajah horror, tangannya bergerak liar sambil menunjuk Jaejoong yang terlihat baru saja memasuki kelas.
"Jaejoong—wajahnya mengerikan! Lihat! Lihat!—dia tersenyum! Bayangkan! Dia TERSENYUM!" Teriak Junsu histeris seakan-akan Jaejoong baru saja melecehkan Myungsoo-sam di toilet.
"Kau itu kerasukan setan ya?—Jaejoong tersenyum kan wajar." Decak Yunho kesal. Junsu hampir menjambak rambutnya sendiri karena kesal melihat kebodohan Yunho.
"Kalau orang lain yang tersenyum itu wajar. Tapi yang kita bicarakan disini adalah Jaejoong!—JAE—JOONG!" Semprot Junsu lagi tepat di depan wajah Yunho. Pemuda brunette itu harus mendorong dengan keras agar wajah sahabatnya itu tidak menyentuh bibirnya yang 'polos'.
"Baiklah—baiklah—lalu memangnya kenapa kalau Jaejoong tersenyum?"
"Aku hanya penasaran. Dan, apa kau tidak merasa aneh, kenapa pemuda stoic sepertinya tersenyum menjijikan seperti itu?" potong Junsu sambil menunjuk secara diam-diam Jaejoong yang duduk dibangkunya.
Yunho hanya melirik sekilas sambil bertopang dagu, "Sedikit." Jawabnya lagi.
"Nah kan?—aku juga. Kalau begitu, coba kau tanya langsung sama orangnya."
"Kenapa harus aku?" kali ini Yunho beralih mendelik Junsu galak.
"Oh ayolah—" Junsu mendorong Yunho untuk segera menuju bangku Jaejoong, "—tidak ada salahnya kan?" desak Junsu lagi.
Sebelum Yunho menuju ke bangku Jaejoong, dia sempat melemparkan death glare 'aku-akan-membunuhmu-nanti-Junsu-awas-saja-kau' yang ditanggapi Junsu dengan kikik geli.
"Jae—" panggil Yunho sambil menggaruk tengkuk lehernya salah tingkah. Yang dipanggil hanya melirik sebentar kemudian mendengus kesal.
"Mau apa?" tanya Jaejoong ketus.
"Bukan apa-apa sih," Yunho bersender di meja pemuda itu, "Junsu hanya ingin bertanya kenapa kau tersenyum seperti itu." Jelas Yunho lagi sambil menunjuk Junsu yang melambai girang ke arah mereka berdua.
Jaejoong hanya menghela napas, "tidak terjadi apa-apa, aku hanya senang." Ucapnya lagi singkat. Yunho mengangguk paham sambil terus melirik Hp yang digenggam Jaejoong. Walaupun samar-samar, Yunho bisa melihat wallpaper di layar Hp pemuda itu terpasang gambar dia dengan seorang pria yang diduga Yunho adalah ayahnya sendiri.
Yunho sudah menebak, pasti Jaejoong girang karena hal yang berkaitan dengan ayahnya. Entah itu telepon maupun pesan singkat, atau bisa jadi email. Sejujurnya—Yunho tidak terlalu peduli dengan perasaan senang Jaejoong. Pikirannya lebih terganjal soal kejadian perpustakaan beberapa menit yang lalu.
"Jaejoong—" panggil Yunho lagi, "—soal di perpustakaan itu, aku tidak bermaksud untuk berciuman."
Jaejoong melirik ke arah pemuda itu sebentar, "Bukan urusanku." Sergah pemuda blonde itu lagi yang memilih untuk bangkit dari kursi dan beranjak keluar kelas.
"Tunggu sebentar—" Yunho menarik lengan Jaejoong, membuat tubuh pemuda stoic itu terhenti dan memandang Yunho dengan delikan tajam.
"Apalagi?—aku sudah bilang bukan urusanku. Mau kau ciuman dengan siapa pun aku tidak peduli." Tepis Jaejoong dengan nada dingin.
"Tapi kau tidak perlu marah seperti itu!" Kali ini suara Yunho meninggi satu oktaf karena kesal.
"Aku tidak marah!" Ucap Jaejoong yang tak kalah kesalnya.
"Lalu kenapa nada suaramu begitu?!"
"Dengar!—" Jaejoong mendesis ngeri, "—terserah nada suaraku seperti apa, itu bukan urusan mu. Dan kenapa kamu mesti capek-capek menjelaskan padaku soal perpustakaan itu? Kita tidak ada hubungan apapun, mengerti?"
Yunho mengerang jengkel, "Fine!—" Ucapnya, "Do what ever you want! I don't care anymore, you bastard!"
Jaejoong ingin sekali membalas perkataan Yunho dengan nada yang tak kalah sebalnya, tetapi suara Changmin menginterupsi pembicaraan mereka. Pemuda betinggi itu tersenyum tipis pada Yunho di depan pintu kelas.
"Yunho—bisa bicara sebentar?" Tanya nya sambil menunjuk ke arah luar dengan dagunya. Sedangkan kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana.
Yunho melirik ke arah Jaejoong yang mendengus tidak suka, kemudian matanya beralih pada Changmin dan mengangguk mengiyakan.
"Aku keluar sebentar, Jae." Kata Yunho, mencoba bersikap tenang.
"Sudah kubilang terserah kau! Bukan urusanku!" Sahut Jaejoong ketus. Yunho memutar bola matanya bosan lalu berjalan menuju Changmin.
Changmin merangkul bahu Yunho sambil tertawa senang lalu menariknya untuk berbicara hal pribadi di balik koridor. Jaejoong melirik mereka sekilas kemudian memilih duduk kembali ke kelas daripada mengikuti mereka layaknya stalker. Toh, bukan urusannya juga, terserah mereka mau berbuat apa, kata Jaejoong dalam hati.
Tetapi setelah dipikir-pikir, Jaejoong memang penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Apa aku mengikuti mereka saja ya? Tanya Jaejoong dalam hati sambil menimbang-nimbang dengan kancing kemejanya. ikut—tidak—ikut—tidak—ikut—?
.
.
"Jadi—" Yunho menggaruk rambutnya, malas, "—ada perlu apa, Changmin-sunbae?" Ucapnya yang memilih bersender di balik tembok koridor. Lorong kelas saat itu sepi dan hanya ada mereka berdua. Changmin yang berada dihadapannya hanya terkekeh pelan.
"Tidak perlu formal begitu—" Kata Changmin, "aku hanya ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" mata Yunho terjatuh pada sosok Changmin yang beralih untuk bersender di sebelahnya. Kedua tangan Changmin masih bergerak gelisah di dalam kantong celana. Entah karena salah tingkah atau memang dia sedang kedinginan. Tapi menurut sepengetahuan Yunho, ini bukan musim dingin, dan lagi, sekarang cuaca sedang cerah-cerahnya diluar.
"Yun—" Nada suara Changmin berubah serius, mata hitam pekatnya memandang mata Yunho tajam. Membuat pemuda brunette itu merasakan firasat aneh.
"Ya—? Ada apa?"
"Jadilah pacarku."
Yunho menoleh dengan cepat, mata kelamnya terbelalak lebar, "A—Apa?"
Changmin menggaruk tengkuk lehernya, wajahnya memerah dan memilih merunduk sambil memainkan kerah kemejanya, "Aku bilang—jadilah pacarku."
Untuk sepersekian detik Yunho berharap bahwa Changmin hanya bercanda lalu tertawa sambil meninju-ninju dinding dan mengatakan 'April mop!', tapi kenyataannya ini bukan bulan April, dan Yunho sadar bahwa pemuda didepannya ini serius.
"Jadi—" Changmin melirik Yunho, "—Apa jawabanmu?"
Yunho terdiam kaku, tubuhnya menegang antara bingung dan aneh. Kemudian ia mengerang sambil menyender di tembok, "Yang benar saja—kau pasti bercanda."
Changmin terkekeh dengan tawa pelan, "Aku serius—" Ucapnya lagi.
"Sikapmu tidak mencerminkan orang yang serius." Kata Yunho lagi.
"Well—kalau begini, bagaimana?" Changmin menyentuh leher Yunho kemudian menariknya pelan. Lagi-lagi wajah mereka beradu, membuat sentuhan bibir tidak bisa dielakan. Tekanan lembut mulut Changmin membuat Yunho hanya terdiam. Hanya sebuah kecupan tanpa nafsu. Kali ini Changmin tidak berniat menggoda Yunho dengan lidahnya. Dan membiarkan perasaannya tersalurkan pada pemuda brunette dihadapannya ini.
Yunho mendorong bahu Changmin pelan, "Baiklah—aku mengerti." Katanya sambil menyeka bibirnya dari sentuhan bibir Changmin.
"Lalu jawabanmu?" Tuntut pemuda berambut hitam itu.
Yunho menggaruk rambut pirangnya malas kemudian mengangguk pelan, "Baiklah—aku setuju."
Changmin lagi-lagi hanya tertawa kecil sebagai jawaban dari Yunho. Ia meninju pelan bahu pemuda pirang itu, "Hei Yunho, ayo ciuman lagi."
Yunho memutar bola matanya, malas. Pemuda itu menyender pada dinding dan merosot turun, membuatnya berjongkok dengan tubuh Changmin yang didepannya, "Ciuman?—lagi?"
"Oh ayolah—tidak ada ruginya." Goda Changmin sambil menundukkan tubuhnya sedikit karena badan Yunho yang sedang jongkok.
"Baiklah—terserah kau saja." Sahut Yunho yang mendongakan kepalanya untuk bertatapan muka dengan Changmin. Surai hitam Changmin terjatuh di keningnya ketika tubuhnya semakin menunduk untuk memagut bibir Yunho.
Sekali lagi, bibir mereka bertemu untuk membuat decakan panas. Bahkan Yunho membuka bibirnya agar air liur Changmin bisa menyentuh rongga mulutnya. Dengus napas Changmin membuat suasana disekitar mereka memanas.
Tangan Yunho terulur perlahan, jarinya menangkap beberapa surai rambut Changmin dan menariknya semakin kebawah. Membuat Changmin harus mempertahankan tubuhnya agar tidak jatuh dengan mencengkram dinding yang memiliki bidang datar.
Pagutan mereka terhenti ketika keduanya berusaha menyuplai oksigen sebanyak-banyaknya untuk paru-paru mereka. Changmin menyeka pinggiran bibirnya yang penuh saliva sambil terkekeh pelan.
"Kau—hebat Yun." Puji Changmin pada Yunho yang juga terlihat membersihkan air liur di bibirnya.
"Ya—dan sebaiknya kita kembali ke kelas. Kalau tidak, kita bisa ketahuan oleh guru." Ucap Yunho yang mendapat anggukan setuju dari Changmin. Mereka pergi dengan lambaian tangan biasa, bukan senyum manis atau kata-kata riang. Hanya lambaian khas seorang sahabat. Sejujurnya—Yunho menerima Changmin sebagai pacaranya hanyalah keisengan semata dan bukan karena rasa cinta. Lagipula tidak ada salahnya pacaran dengan pemuda, hitung-hitung menambah pengalaman, pikir Yunho dalam hati.
Pemuda brunette itu berjalan kembali ke kelas tanpa tahu bahwa di seberang koridor yang tertutup anak tangga, berdiri Jaejoong dengan tubuh yang mematung kaku. Matanya terbelalak kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi di depan kepalanya.
Kakaknya berciuman dengan Yunho—lagi? Dan lebih parahnya mereka sudah—pacaran? Sebenarnya—ADA APA INI?! Jerit Jaejoong dalam hati.
Kaki Jaejoong seakan-akan mati rasa, dia berusaha keras bersender di anak tangga agar tidak jatuh lemas di lantai.
.
Ini pasti mimpi—
.
—iya kan?
.
.
TBC
terima kasih buat yang udah review dan favorit juga follow :* shakyu, Cherry YunJae, Akise Mizuno, Zen Ikkika, missjelek, BlacknightSkyeye Yue- Hime, yuufujoshi, yuezz4, iloyalty1, Lady Ze, jae sekundes, heeli, , ky0k0
sorry for typo thx for reading ^^
