Death Note © by Tsugumi Ohba & Takeshi Obata
Death Note: Reincarnation © by Satoru Sakaguchi
Yosh, update chapter kedua. Douzo…
Warning: OOC, mistypo, gaje, genre yang meleset, dsb.
Summary: Light, untuk pertama kalinya mencoba menawarkan pertukaran mata dengan Sayu. Sementara Near, kembali dengan tim SPK-nya mencoba mencari tahu dimana keberadaan Kira. Namun sayangnya, teori Near yang mengatakan bahwa Kira ada di Jepang selalu berhasil dipatahkan. Dimana Kira sebenarnya?
"Masukkan user id dan password anda."
"Stephen… Loud."
"User id dan password diterima."
Pintu besi dihadapan pria itu terbuka, menampakkan sebuah lorong panjang yang akan mengantarnya pada seseorang yang telah memanggilnya.
Gevanni, begitu ia bisa dipanggil, berjalan dengan langkah yang stabil menyusuri lorong itu, sementara pintu besi dibelakangnya tertutup kembali secara otomatis. Gevanni menghela satu nafas yang amat panjang, seolah ingin menghirup seluruh oksigen di sekitarnya. Ia sedang bersemangat. Tak pernah begitu bersemangat seperti ini, malah. Jantungnya berdegup dalam ritme yang cepat, walaupun tak begitu kencang. Sedikit demi sedikit ujung lorong itu terlihat, sampai akhirnya ia tiba di tempat tujuannya.
Markas SPK, Special Provision for Kira.
"Selamat datang kembali, Gevanni."
Suara itu. Suara yang begitu familiar bagi Gevanni. Pimpinannya yang dulu masih terlihat seperti seorang anak kecil, sekarang telah tumbuh dewasa. Walau kebiasaan duduknya masih tetap sama, cara berpakaiannya juga tak berubah, dan ia juga masih senang berkutat dengan mainan-mainannya, tetapi anak laki-laki dihadapannya itu benar-benar terlihat berbeda.
"Near!" ucap Gevanni serasaya tersenyum.
"Jangan lupa, ada Lidner dan Lester juga disini." Seiring dengan perkataan anak itu, dua orang rekannya yang tadi ia sebutkan muncul.
Halle Lidner dan Anthony Lester.
"Sepertinya kita kembali dipersatukan oleh Kira, bukan begitu?"
"Hei, jangan bicara begitu, Lidner."
"Lidner benar," kata Near tiba-tiba. "Kita dipersatukan lagi oleh Kira. Karena itulah, kita akan memberikan balasan yang tidak akan terlupakan olehnya."
Anak laki-laki itu mengeluarkan beberapa boneka jari dari sakunya. Salah satu dari boneka-boneka itu ia pasangkan di jari telunjuknya. Boneka itu tidak lain adalah boneka jari yang di perutnya telah ia tulisi 'KIRA'.
"Kau yakin ini kasus yang sama dengan yang dulu, Near?" tanya Lidner.
"Positif," jawab Near datar sembari memasangkan boneka jarinya yang lain. "Tapi, Kira yang ini tidak seperti Kira yang dulu kita hadapi."
"Maksudmu?"
"Dia terlalu… 'baik', tidak sebrutal Kira yang dulu. Dan jika kuperhatikan lagi, semua pembunuhan yang ia lakukan terkesan hanya seperti sebuah gertakan." Near memperhatikan dengan seksama dua boneka jari yang kini terpasang di jari telunjuk dan jari tengahnya. Satu boneka Kira dan satu lagi boneka dirinya sendiri.
"Gertakan…" gumam Gevanni pelan.
"Gevanni, Lester, Lidner, cek semua peralatan kalian. Kita akan memburu permbunuh berantai ini… lagi."
"Aku pulang…"
Sayu segera membereskan sepatunya begitu ia sampai di rumah. Mantelnya segera ia gantung di tempat yang seharusnya, begitu juga dengan tas kerjanya. Rumahnya nampak sepi, sepertinya ibunya sedang pergi keluar. Setelah membereskan barang-barangnya, Sayu bergegas pergi ke dapur, lalu membuka lemari makan. Ada sesuatu yang sangat disukai Light disana.
"Keripik kentang!" Light berteriak girang, mendapati makanan manusia favoritnya tersedia dalam jumlah yang banyak.
"Kau memang sangat mirip dengan kakakku."
"Entahlah. Sejak pertama kau memberi makanan itu padaku, aku jadi sangat menyukainya," ujar Light dengan mulut masih penuh dengan keripik kentang. Sementara Sayu hanya diam. Ia duduk bersandar di kursi sambil memejamkan mata, melepas lelah.
"Sayu."
"Hmm?"
"Dari cerita yang kudengar di kalangan shinigami, katanya manusia yang menemukan Death Note pada umumnya akan menjadi terobsesi dan begitu bersemangat menulis di Death Note…"
"Langsung saja ke intinya, Light."
"Maksudku, kau nampak tidak bersemangat dengan Death Note itu," kata Light enggan. "Ada yang salah?"
Sayu membuka matanya perlahan. "Sudah kukatakan padamu, 'kan? Aku tidak ingin menjadi seperti Kira. Lagipula bagaimana jika suatu hari nanti muncul lagi detektif seperti L? Aku tidak sepintar kakakku, karena itulah aku lebih memilih untuk menjalaninya seperti ini."
"Kalau begitu semuanya akan jadi membosankan."
"Tidak juga. Buktinya seluruh dunia sudah mulai gempar."
Light mencermati perkataan Sayu sembari menghabiskan keripik kentangnya. Benar juga perkataan Sayu, pikirnya. Baru satu bulan sejak kasus lima orang buronan itu, tapi perhatian dunia sudah hampir seluruhnya terpusat pada Kira.
"Hei, Sayu."
"Apa lagi?"
"Apa kau tahu perbedaan antara manusia dengan shinigami?"
"Maksudmu?"
"Biar kujelaskan. Perbedaannya ada dua," kata Light sembari menunjukkan angka dua dengan jari-tengkoraknya. "Yang pertama, jika shinigami menulis nama seseorang di Death Note, maka sisa umur manusia itu akan ditambahkan kedalam sisa umur shinigami tersebut. Hal ini berlaku untuk shinigami, tapi tidak untuk manusia."
"Ya, kurasa hal itu tercantum dalam peraturan Death Note."
"Yang kedua," lanjut Light. "Shinigami bisa mengetahui nama dan sisa waktu hidup setiap manusia hanya dengan melihat wajah mereka."
"Kurasa cukup masuk akal."
"Begitulah. Dan kau perlu tahu, manusia bisa saja memiliki mata shinigami, asalkan mereka melakukan kontrak."
"Maksudmu, semacam pertukaran?"
Light mengangguk. "Harga dari sepasang mata shinigami adalah setengah dari sisa waktu hidup orang itu. Kalau kau mau melakukan pertukaran itu, kau bisa melakukannya kapan saja."
"Entahlah, Light. Lagipula aku tidak ingin begitu serius dalam urusan Death Note ini. Mungkin… nanti kalau aku benar-benar dalam keadaan terdesak," ujar Sayu ringan.
Terlihat jelas ekspresi wajah Light yang berubah. Sepertinya ia agak kecewa. "Yah, padahal aku ingin tahu rasanya bertukar mata dengan manusia."
13 Februari 2013
"Near, aku mendapat informasi baru."
"Jelaskan, Lester."
"Lima hari belakangan ini, seluruh korban Kira terpusat di Amerika dan negara-negara di wilayah Eropa. Sementara itu tingkat kematian di Jepang hanya mencapai dua persen."
Seperti biasa, Near bermain dengan tumpukan kartunya. Ratusan kartu itu ia susun menjadi bentuk sebuah menara dengan ukuran yang besar. Tidak hanya itu, ratusan dadu berukuran kecil juga telah disusunnya dengan rapi. Tumpukan dadu-dadu itu mengelilinginya seperti sebuah dinding. Saking tingginya sampai Lidner dan Gevanni tidak bisa melihat Near dibalik dinding dadu itu.
"Amerika?" tanya Lidner. "Apa itu artinya Kira adalah—"
"Tidak," ucap Near tiba-tiba. "Sudah kukatakan pada kalian, Kira yang ini berbeda dengan Kira yang sebelumnya. Dia mencoba mengecoh kita."
"Apa maksudmu, Near?"
"Aku sudah menyuruh Gevanni untuk bekerja di tempat yang berbeda denganmu dan Lester. Itu karena aku memberikan tugas khusus untuknya. Dari sejak kasus ini dimulai, Gevanni sudah melihat semua tayangan yang membicarakan Kira dari berbagai penjuru dunia, dan coba tebak…"
Lidner mengangkat bahunya tanpa menjawab apa-apa.
"Korban pertama Kira adalah orang Jepang."
"Orang Jepang? Itu artinya kau ingin mengatakan kalau Kira adalah orang Jepang."
"Kemungkinan 73 persen," ucap Near seraya meletakkan kartu terakhir di bagian paling atas menara kartunya. Sementara itu tangannya yang lain mengambil selembar kertas yang ternyata adalah sebuah peta dunia. "Kira yang satu ini tidak gegabah, ia justru sangat berhati-hati. Dia pasti sudah belajar dari kasus Kira yang sebelumnya. Dia tidak membunuh orang-orang di negaranya karena dia telah waspada akan keberadaan orang-orang seperti kita yang pasti akan langsung mengetahui kalau dia adalah orang Jepang—mengingat lima orang buronan itu hanya diberitakan dalam berita lokal di Jepang," jelas Near. Salah satu boneka jarinya ia gerakkan diatas wilayah Jepang dalam petanya. "Aku menduga Kira yang satu ini baru mengetahui keberadaan Death Note, dan dia melakukan uji coba-nya terhadap lima buronan itu."
"Tapi Near, walaupun teorimu itu memungkinkan, kita masih belum bisa benar-benar yakin kalau Kira benar-benar ada di Jepang."
"Aku yakin, benar-benar yakin kalau Kira ada di Jepang."
Lidner menelan ludah. Tak pernah ia melihat Near keras kepala begitu.
"Lester, berapa angka kematian rata-rata di Jepang dalam seminggu terakhir?"
"Kalau untuk kasus Kira, kurang lebih sekitar sebelas orang per-minggu," jawab Lester dari balik monitor.
"Sudah kuduga. Kemungkinan 92 persen Kira ada di Jepang."
Entah mengapa Gevanni jadi ikut merasa kalau Near jadi keras kepala akhir-akhir ini. "Lalu, apa tidak lebih baik kalau kita mencari bukti yang lebih meyakinkan?" tanyanya dengan nada yang mengisyaratkan kelelahan.
"Itu sudah kupikirkan dari jauh-jauh hari, Gevanni," ujar Near, masih bermain dengan teman-teman boneka jarinya. Ia dapat melihat ekspresi kaget-sesaat di wajah Lidner dan Gevanni yang ditujukan padanya ketika kalimat itu terlontar dari mulut mungilnya. "Memangnya kenapa?" tanya Near lugu, melihat kedua rekannya itu menatapnya dengan sorot mata penasaran.
"Lalu… dengan cara apa?"
"Aku akan menggunakan metode yang pernah L gunakan dulu. Metode yang ia gunakan untuk mengetahui kalau Kira benar-benar ada di Jepang," kata Near. Ekspresi wajahnya nampak enggan—enggan menyebut nama L yang pastipada akhirnya mengingatkannya kembali pada peristiwa kematian detektif itu.
Sayu sedang menonton televisi, lagi. Agak membosankan juga, melihat sekerumunan orang mengklaim diri mereka sebagai 'Utusan Kira'—dan sebutan konyol lainnya, dengan bangganya tampil di layar kaca seolah-olah Kira benar-benar mengutus mereka. Memangnya apa yang lebih bodoh dibanding sekumpulan orang-orang berjubah putih yang mengadakan kontes kepemujaan Kira di televisi? Acara itu membuat mood-nya turun, jadi Sayu memutuskan untuk mengganti dengan channel yang lain.
Namun tiba-tiba semua acara digantikan oleh sebuah breaking news yang memenuhi semua channel di televisi.
Seorang laki-laki berpakaian jas biru gelap dengan dasi bergaris putih dan sedikit sekali polesan make-up yang kontras, muncul begitu saja seolah dia adalah seorang presiden yang ingin menyampaikan pidatonya.
Namun bedanya pria ini justru duduk diam dengan tenang didepan sebuah meja kecokelatan yang menyangga tangannya. Diatas meja itu ada papan nama dengan nama berawalan huruf N yang jika nama itu dibaca, terkesan seperti seorang berkebangsaan Amerika—setidaknya begitulah menurut Sayu.
"Kira," kata pria itu akhirnya. "Mungkin kau memang sudah kembali. Tapi kemunculanmu kali ini akan menjadi awal dari akhir hidupmu lagi, seperti dulu!"
Sayu terkejut. Matanya membelalak.
"Karena kau adalah kriminal!"
Sedikit A/N: Aish, saya merasa Light-nya jadi kayak Ryuk. =3= Gomenne, mungkin jadi agak OOC, tapi nanti kuusahain seterusnya in-chara. :3
Oiya, untuk membuat fic ini lebih berasa 'reinkarnasi'-nya, aku bikin peristiwa-peristiwa awal di kisah Death Note itu sedikit terulang, jadi jangan heran ya kalo ada scene yang familiar. xD Yosh, karena udah baca, MINTA *PLAK* ripiunya ya! XD
Sankyuu!
