Judul: KyPD/Kewarasan yang Patut Dipertanyakan.
Pairing: Itasaku/Sasusaku/Narusaku/Sasosaku
Karmin0088 : HHaha.. makasih reviwe panjang y. sukaa bgt! Akhir2 ini manusia dan orang gila ga da beda y. walopun masih sehat dan otaknya berfungsi tapi kadang kelakuan dan pikiran y g beda jauh ma org gila. kriminalitas banyak, hobi membunuh dll pdahal mereka sehat2 ja. Azure dpet ide dari situ, jadi Azure mau nyatuin orang waras yang punya kelakuan kaya orang sakit jiwa dan orang sakit jiwa beneran tapi punya hati(g mau lukain orang) gitu. eheh~
SaphireOnyx Namiuchimaki: sakura cuma punya 6, keribadian 'sakura' itu kepribadian yg asli dari sakura haruno. cuma siksaan dan trauma yg buat dia punya 6 kepribadian.
amiko sanada: Nih, dah lanjut. moga suka chap ini.
Ahn Ryuuki : eehee! berdebar-debar, kya jatuh cinta ja. ahaha.
uchiha ahza kazama: Chapter 2 datang! ;D
Chapter 2: Siapa yang mau membunuh siapa?
Pria berkatana itu membelalakkan matanya sekejap, sebelum pandangan matanya kembali datar. Dia yang biasanya tenang sedikit terguncang karena penemuannya diruangan bawah tanah. Memang, ia seharusnya sudah mengira ini akan terjadi, itulah kegunaan sel dibawah tanah, untuk menyembunyikan manusia yang tidak boleh diketahui kalayak umum, penyiksaan ataupun untuk pemuas nafsu dalam permainan BDSM. Mata hitam sang pria melirik penemuannya, gadis remaja berambut merah muda dan mata hijau yang sekejap terbuka tadi dan kata-katanya sebelum pingsan yang mengatakan ayah dan ibu.
Penasaran, ia tarik rambut gadis digenggamannya dan menyeretnya kasar keluar dari gunungan buku-buku dan kertas. Ia akhirnya bisa melihat jelas rupa dan kondisisigadis, sang gadis memakai gaun tidur berwarna putih, compang-camping, lusuh dan kotor seperti jarang dicuci. Tubuhnya penuh darah dan luka, gaun yang tanpa lengan dan pendek memperlihatkan kedua kaki jenjang dan tangan dari pundak kejari-jari, memperjelas luka-lukanya.
"….." tanpa kata adalah respon dari penemu sigadis. Pikirannya terlalu sibuk akan pertanyaan yang melanda. Ia mengecek denyut nadi sigadis, penasaran, bukan kasihan, apakah ia masih hidup walaupun ia mengetahui sekejap gadis ini siuman. Tapi luka-luka gadis ini yang terlihat parah membuatnya tidak yakin bahwa kondisi gadis ini dekat dengan kata 'baik'.
Tanpa perasaan ia jatuhkan beban ditangan kanannya, beban itu jatuh dengan keras membentur semen.
Aku tidak peduli tentang gadis ini, misi kali ada kaitannya dengan membantai habis keluarga Haruno. Dari warna rambut yang khas Haruno sepertinya gadis ini salah satu dari mereka. Batinnya.
Tangannya menggenggam katana dipinggang kiri dan mengeluarkan kusanagi miliknya dari sarung pedang. Tangan kanan yang memegang pedang ia angkat keatas, bersiap menebas.
Berarti aku harus membunuhnya juga. Dua mati dan gadis didepanku ini, berarti Haruno tinggal seorang lagi. Wanita yang sekarang berada di Suna.
Pria yang mengacungkan katana keatas itu menggeratkan genggamannya, ia menyeringai penuh nafsu akan membunuh, bersemangat akan tindakan yang akan ia lakukan kini. Tiba-tiba mata onik miliknya menatap wajah sang gadis, entah karena terbentur atau apa, mata gadis yang tadi pingsan terbuka.
Ia siuman? tanya sang pembunuh tidak yakin. Walaupun ia melihat mata jambrut terbuka tapi pemilik mata itu hanya terdiam menatap dirinya yang mengacungkan pedang.
Hn, mungkin gadis ini shock akan keadaan saat ini. Tubuhnya membeku kaku karena ketakutan akan apa yang akan aku lakukan.
Sang pembunuh mengganti posisi, ia menjatuhkan pedang dan menempelkannya menuju bagian leher calon korbannya. Ekpresinya sangar dan kejam.
Calon korbannya masih terdiam, matanya menatap datar keatas, kepada sang pembunuh.
"Kau.. mau… membunuhku?" suara kecil terdengar dari mulut sang korban, sangat kecil tapi karena keheningan diruangan ini membuat suara itu terdengar jelas. Suaranya datar seperti tatapan mata sikorban, tanpa emosi, tanpa maksud tertentu, tanpa keingintahuan apakah pertanyaannya akan dijawab atau tidak. Seakan ia berkata kepada diri sendiri.
"Ya." Jawaban singkat diberikan oleh sang pembunuh. Ia menekankan ujung pedangnya yang menyentuh leher korban, menusuk kulitnya sedikit dan membuat darah mengalir turun dari leher kelantai.
"Aku akan… mati?" tanya sang korban lagi. masih sama, nada suaranya tidak berubah dengan saat pertama ia bertanya.
"Ya." Sang pembunuh menarik kembali katana miliknya dan mengacungkannya keatas, keposisi semula, bersiap untuk melakukan kesenangannya pada setiap korban miliknya, memutilasi. Sang pembunuh menyeringai senang, ia akan melakukan kesenangannya, hobinya saat ini. membunuh adalah kesenangannya, apalagi dibarengi dengan reaksi dari korban miliknnya. Ya, teriakan histeris, pandangan mata yang ketakutan, tubuh yang gemetar, jeritan memelas minta ampun, sosok menyedihkan setiap manusia disaat ajal menjempul mereka.
Ia melirik korbannya yang terlihat tenang, membeku kaku. Ia agak tidak berminat juga melihat ia tidak mendapatkan reaksi yang diinginkannya, tapi ia tidak perlu memikirkan hal itu. Lambat laut reaksi itu pasti datang saat ia menyiksanya, sama seperti korban-korban sebelumnya, manusia semuanya sama.
"Begi..tu…" korbannya menjawab, nadanya berbeda dengan perkataan pertama dan kedua. Ada sedikit emosi disuaranya.
Sang pembunuh menyeringai kala apa yang diasumsikannya benar. Memang, manusia kala dihadapi kematian pasti akan mengeluarkan sifat asli mereka. Tubuh mereka reflek bergerak tanpa terkendali. Seperti sang korbannya saat ini, yang sejak tadi tenang dan tanpa emosi bagai mayat menjadi gemetar.
Gadis ini ketakutan. Seringaiannya melebar, nafsu membunuhnya memuncak, matanya entah kenapa berubah menjadi merah dengan tiga lambang tomoe mengelilinginya. Dan sebentar lagi.. ia senang, ia akan kembali merasakan kegemarannya menyiksa korban. Menikmati jeritan dan teriakan minta tolong, lalu..
Tapi, tanpa sang pembunuh kira. Semua amumsinya salah. Justru sang korban malah bertindak sebaliknya dari yang pembunuh itu inginkan.
Sang korban justru tersenyum, senyuman senang dan lega. Matanya yang datar melembut, walaupun pandangannya tetap kosong tapi ada segercah cahaya kebahagiaan di bola mata jambrudnya. Sang korban mengepalkan satu tangannya yang tidak tertindih tubuhnya akibat posisinya yang terbaring menyamping. Tubuhnya yang gemetar tadi… bukan karena ketakutan.
Saat ini sang pembunuh terkejut bukan main, melihat penampilan korbannya, gadis yang terbaring dilantai ini…
Bersemangat.
Tidak sabaran.
Lega.
Bahagia.
Satu kata memecahkan semua teka-teki dikepala sang pembunuh melihat penampilan korbannya. Satu kata dari sang korban dengan nada riang.
"Senangnya.."
Sang korban justru menginginkan akan kematian!
Tertegun, sang pembunuh terdiam sebentar.
DUAK!
Dengan reflek ia menendang perut korbannya dengan keras dan tanpa ampun, membuatnya terpental kebelakang, tubuhnya membentur dinding kemudian jatuh kembali kelantai. Darah kembali menodai tubuh sikorban yang sudah babak belur, darah dari bagian belakang kepala yang membentur keras.
"Ck!" sang pembunuh kesal dan kecewa, ia berharap mendengar jeritan kesakitan atau apapun atas tindakannya. Tapi korbannya hanya terdiam dan.. senyumannya semakin lebar.
"Kumohon.." sang korban mulai memohon, ya itu memang yang diinginkan si pembunuh tapi bukan dengan maksud yang lain. "Lakukan lagi.." Bukan permohonan yang membuat korbannya bahagia, seharusnya permohonan minta ampun untuk berhenti melukai sang korban. Lalu ia tidak akan mengabulkannya karena ia senang akan menyiksa. Tapi korban saat ini justru…
"Kumohon.. ini sangat menyenangkan. Siksa aku lagi. Kemudian.. bunuh aku."
..menikmatinya.
Perkataannya melenceng dari yang perbunuh inginkan. Ia kesal. Kakinya melangkah mendekati korban, ia kembali melayangkan tendangannya. Lebih keras dari yang tadi.
Duak!
Lebih kuat.
Buk!
Lebih bertenaga.
Duak! Duak! Duak! Duak!
Lebih bertubi-tubi.
Bruak!
Sangat, sangat keras!
Sipembunuh menendangnya kearah samping, membuat korban kembali terpental. Kali ini tubuhnya membentur jeruji besi. Jatuh merosot kelantai. Tapi.. dengan serangan yang dasyat seperti itupun sang korban masih saja terlihat baik-baik saja. Tubuhnya sangat babak belur tapi ia bahkan masih bisa menggerakannya, seakan ia tidak merasakan apa-apa, seakan kulitnya tidak berfungsi lagi untuk memberikan rasa sakit, seakan ia sudah kebal akan hal itu. Ia bangun dan mengganti posisinya menjadi duduk. Tubuhnya menyender pada jeruji besi dan kepalanya menunduk.
Bukan ini.. bukan ini yang kumau. Sang pembunuh mendecak kesal. Korbannya kali ini sangat aneh. Yang dia mau adalah jeritan dan kesakitan, bukan… kikikan senang dan tawa yang membahana.
"Hihihi… hahaHAHAHHAAAA!" dari kecil menjadi besar, sang korban tertawa-tawa nikmat seperti orang gila. Atau.. ia memang enar-benar gila?
Sang pembunuh mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah ia masuk keruangan. Ia melihat kedua rekannya telah menyusulnya setelah masing-masing masuk keruangan yang berbeda tadi. Suara tawa gadis didepannya pasti telah menarik perhatian mereka.
"WOW! Ruangan apa ini? Penjara bawah tanah, keren!" pria bernama samaran Fox merasa takjub dengan isi ruangan yang ia masuki. Kepalanya celingukan untuk memperhatikan sekeliling. Pria lain, sang Cyborg mencoba meneliti ruangan ini dengan sensor X-ray dimata mesinnya yang kini bersinar biru muda. Perhatian Fox teralih ketika ia melihat rekannya, ia berjalan mendekati rekan yang ia ledek dengan kata 'Teme'.
"Hei, Teme! Ruangan apa i-" Fox hendak meminta informasi kepada temannya tentang ruangan yang ia pijak sekarang. tapi perkataannya terhenti kala ia melihat suatu objek yang menarik perhatian. Objek itu adalah seorang gadis yang babak belur dan terbaring dilantai.
"Wah! Ternyata masih ada seseorang dimansion ini. " ia buru-buru berlari mendekat dan masuk ke-sel penjara. "Hei, Teme! Karena tadi kau mencuri mangsaku jadi gadis ini milikku!" Ia mengeluarkan pistolnya dari saku celana dan mengarahkannya pada sigadis.
Tapi.. pria satu inipun tertegun akan reaksi aneh sang gadis. Melihat ekpresinya saja sudah membuatnya kaget, ia mengacungkan pistol untuk membunuh tapi sigadis justru terlihat sangat senang.
"Kau mau membunuhku juga? Benarkah? Benarkah?" matanya yang tadi datar kini mulai berkilauan gembira."Ini benar-benar menyenangkan! Menyenangkan! Dua orang yang akan benar-benar membunuhku, melakukan apa yang aku mau! Mereka benar-benar akan melakukannya! Kematian! Ya, ini yang aku mau! Senangnya… senangnya.. senangnya!"
Fox semakin tertegun melihat reaksi senang sang korban. Apa lagi kata-kata yang diucapkannya. Ia melirik rekan disebelahnya, meminta pengertian atas keanehan ini menggunakan isyarat mata. Rekannya hanya mengangkat dan menjatuhkan kedua pundaknya, itu artinya ia juga tidak mengerti.
Keduanya kembali memfokuskan perhatiannya kepada korban ketika sang korban mulai semakin aneh, korban itu menggumankan sesuatu.
"Kenapa? Tapi kenapa mereka malah diam? Aku tidak tahu, kenapa? Tidak tahu? Aku juga tidak tahu. Kenapa juga mereka tidak cepat-cepat membunuh kita? Apa mereka tidak mau kita mati? Tidak, aku tidak suka itu! Mati! Mati! Mati! Aku ingin kematian! Mereka terus terdiam, mereka tidak jadi membunuh kita? Tidak, mereka beruda akan membunuhku! Mereka pasti membunuhku, lihat mereka membawa senjata! Ya, dia akan memutuskan leherku dari badan dengan pedang dan menembakku! Menyiksakupun tak mengapa, lalu aku akan kehabisan darah dan mati! Akan lebih baik jika langsung menusuk dijantung, kan? Benar juga, dengan begitu aku akan langsung mati! Bagaimana dengan tembakan dibagian kepala? Ya, aku setuju! Apapun metodenya tidak masalah, hasilnya akan sama. Kematian! Kedengarannya menyenangkan. Kau selalu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan nyawa. Tapi kenapa bisa begitu, Sakura-san? Kenapa? Aku tidak tahu. Tapi aku suka. Ya, ini menyenangkan."
Dua pembunuh terkejut bukan main, korbannya berbicara dengan riang dan semangat bagaikan anak kecil yang akan pergi ketaman bermain. Pembunuh pertama merasa sifat korbannya kini mirip dengan rekan disebelahnya tapi tidak dengan caranya yang berbicara sendiri, bertanya dan menjawabnya sendiri. Seperti orang gila. Sang korban berbicara sendiri, suaranya terdengar sama tapi dengan nada yang berbeda. Yang bertanya terdengar lembut dan kalem sedangkan yang menjawab terdengar riang.
Dia berbicara sendiri.. ada apa dengan gadis ini? Gilakah? Batin nama samaran Fox atau pembunuh kedua.
'Sakura-san'?Tadi gadis ini menyebut nama Sakura-san. Apa Sakura nama gadis ini? Pembunuh pertama mencoba menebak teka-teki didepannya. 'Aku'?' kita'? Dia seperti berbicara dengan seseorang tapi siapa? Pembunuh itu memeriksa sekeliling dengan matanya, mencari-cari keberadaan orang lain selain tiga manusia dan satu manusia setengah mesin, alias Cyborg. Tapi nihil, ia tidak menemukan apapun. Dan sejak tadi sang korban yang menyebut dirinya dengan nama 'Sakura-san' masih terus menatap lantai, sedangkan lantai yang ditatap tidak ada apa-apa selain semen abu-abu dan bercak-bercak darah yang jatuh dari tubuhnya sendiri.
Sakura-san masih terus menggumam sendiri. Seakan mengobrol dengan orang lain tapi tidak terlihat. "Kau sangat senang, Sakura-san. Ya, aku senang! Senang! Senang! Aku bahagia jika kau bahagia. Sekarang kita akan mati. 'Mereka bertiga' pasti senang, mereka pasti bahagia juga. Kasihan, mereka membuang-buang waktu dan tenaga untukku mati tapi tidak pernah terkabul. Kasihan. Kita benar-benar merepotkan mereka bertiga. Selalu menjadi 'beban' bahkan eksistensi kita sendiri. Lebih baik 'kita semua' mati, untuk apa kita dilahirkan? Mereka bertigapun 'sering' berkata begitu. Kasihannya. Tidak berguna! Tidak berguna! Kita semua lebih baik mati!"
Pembunuh pertama mengambil beberapa hints dari percakapan korban gilanya. Kata-kata seperti: mereka bertiga, kita semua, beban, dan keinginan akan kematian. Ia bisa merangkum sesuatu, mungkin gadis ini tidak bisa melakukan apa yang diharapkan beberapa orang yang ia sebut sebagai 'mereka bertiga' dan lebih memilih mati karena perasaan bersalah. Tebaknya. Tapi siapa itu kita semua? Apa maksudnya dengan menyebut diri sendiri yang hanya seorang dengan kalimat untuk sesuatu yang lebih dari satu? Arghhh! Gadis ini benar-benar membingungkan! Ia mengacak rambutnya frustasi. Kesal akan teka-teki yang berhasil terpecahkan tapi selalu mendatangkan teka-teki baru.
Ditengah pemikiran dan keheranan kedua pembunuh, sang korban kembali berceloteh tanpa gangguan.
"Kita tidak lebih dari sampah. Lebih baik dibersihkan! Lebih baik dimusnahkan! Sampahpun masih lebih baik, bisa menjadi manfaat. Kita lebih rendah, hanya debu. Hilangkan! Hilangkan! Lenyapkan! Kita tidak berarti, tidak bermanfaat, beban didunia. Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! BUNUH! BUNUH!"
"Kita 'semua'..LEBIH BAIK MATI!" Sakura-san dan seseorang diimajinasinya mengatakan kalimat yang sama, bukan berbarengan. Suara yang lembut tadi terdengar sedikit lantang dan bertenaga sedangkan yang riang terdengar sangat keras dan senang bukan kepalang. Ia mengangkat kepalanya dan menatap langsung pada wajah kedua pembunuh disaat mengatakan perkataan ini.
Sakura-san kembali terkikik setelahnya, wajahnya kembali menunduk tapi pandangan matanya tetap terfokus pada pembunuh pertama dan kedua.
Sang pembunuh pertama menggertakan giginya keras. Korban didepannya benar-benar aneh, lain dari korban yang selama ini ia bunuh. Ia merasa ia pasti tidak akan mendapatkan kesenangannya dari korban satu ini. Ini tidak menyenangkan. Reaksi ini membuat nafsu membunuhnya luntur seketika.
Gadis ini… gila atau apa? Masokis, kah?Reaksinya membuatku bingung. Menyebalkan, gadis ini menyebalkan!
Mengingat nafsu membunuhnya luntur, pembunuh pertama menjadi bosan seketika. Ia tidak mau lagi melanjutkan niatnya. Jadi ia memasukan pedangnya kembali dan berbalik menuju pintu penjara. Meninggalkan mantan korban dan rekan disebelahnya.
Sang korban, Sakura-san melihat pembunuh pertama membalikan badan, ia tidak terima. Ia tahu apa maksudnya, nyawanya diampuni. Tapi justru itu hal yang tidak ia inginkan.
"TIDAAAKKK! JANGAN PERGI!" Sakura-san berteriak histeris.
Dengan tergesa-gesa ia berlari mengejar. Jarak yang masih dekat membuatnya dengan cepat menyusul sang pembunuh. Ia berada didepan pembunuh dan membalikan tubuhnya untuk saling tatap-menatap. Tangannya direntangkan dan tubuhnya menghalangi pintu keluar. Sakura-san mencegah sang pembunuh untuk pergi.
"KENAPA? Kenapa kau malah pergi? BUKANKAH KAU INGIN MEMBUNUHKU BEBERAPA MENIT LALU?!"
"Responmu membosankan, aku kehilangan minat untuk membunuhmu."
"Re-respon? Seperti apa? Apa yang kau inginkan? Aku akan melakukan apa saja asalkan kau mau membunuhku!" Sakura-san memohon-mohon dengan sikap emnyedihkan. Respon seperti inilah yang diinginkan sang pembunuh pertama, tapi dengan maksud yang berbeda.
"Tidak." Sang pembunuh menolak. Ia menatap datar mantan korbannya dan melangkah maju menuju pintu.
"Kenapa? KENAPA?!" Kecewa, bingung dan tidak terima. Sakura-san berteriak dengan suara yang lebih tinggi.
"Respon yang kumau adalah respon yang asli. Reflek dalam alam bawah sadar. Aku tidak berminat dengan kepura-puraan."
"A! A…aa.." Sakura-san hendak kembali berbicara tapi ia mengetahui bahwa ia tidak akan bisa menjadi apa yang diharapkan pembunuh pertama. Pembunuh itu ingin ia ketakutan tapi ia justru kesenangan. Ia suka dengan kematian tapi pembunuh menginginkan seseorang yang mencintai hidupnya sehingga akan memohon belas kasihan untuk dibiarkan hidup. Mengerti akan hal itu, Sakura-san kehilangan kata-kata dan terdiam.
Pembunuh pertama akhirnya berjalan melewatinya.
"Ho-hoi, teme! Kau benar-benar akan pergi meninggalkan gadis ini?"
Heran, biasanya kami selalu berebut mangsa untuk dibunuh. Membunuhkan kesenangan utamanya. Memang, sih. Gadis ini lain dari tipe korban yang di idamkannya, tapi..
Dengan tenang rekannya menjawab. "Ya, buatmu saja. Aku tidak tertarik dengan tipe masokis seperti itu. Membuatku bosan." Ia berbicara masih dengan punggung membelakangi lawan bicaranya. "Aku sudah memeriksa ruangan ini, tidak ada apa-apa selain gadis ini dan tumpukan buku pelajaran yang tidak penting bagi misi ini. Kita kembali kemarkas." Pria kemudian itu keluar dari sel.
Pembunuh kedua mengalihkan pandangannya dari pembunuh pertama dan kembali memperhatikan gadis disebelahnya. Gadis yang ditatap merasakan tatapan pembunuh kedua dan ekpresinya berubah menjadi sedikit senang, kala ia masih mempunyai kesempatan untuk mati dengan adanya seorang pembunuh yang masih tinggal.
Ia menghambur pembunuh kedua dan menggenggam kedua punggungnya kasar. "Kau masih tinggal disini! Kau yang akan membunuhku, kan? Kau tidak akan membiarkanku hidup, kan?" gadis itu berkata dengan nada girang dan bersemangat. Ia mengguncang-guncangkan tubuh pria didepannya dengan kelewat girang. Mata jambrut memperhatikan tangan kanan sang pembunuh yang tadi terangkat, disimpan disamping saku celana. Pistolnya masih tergenggam. Ia meraih tangan berisi pistol itu dan mengacungkannya ke dahinya yang terlihat lebar akibat gaya rambut belah tengah. "Kau akan menggunakan pistiol ini untuk membunuhku, kan? KAU AKAN MEMBUNUHKU, KAN?!" gadis itu berteriak, tapi bukan karena amarah, melainkan karena perasaan kegembiraan yang tiada tara. Seakan ia menemukan gunungan emas yang tak terhingga. Seakan ia menemuka candu yang tidak ia konsumsi selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Pembunuh merespon ekpresi gadis itu dengan pandangan negatif. Hanya satu yang ia tangkap dikepalanya.
Gadis ini….. benar-benar terobsesi akan kematian.
Pembunuh itu menghela nafas, ia merasakan perasaan yang sama dengan rekannya tadi.
"Kau benar, Teme."
Ia melepaskan genggaman sang gadis pada tangannya, ditendangnya dengan keras gadis itu dibagian perut sehingga terpental menjauhinya. Ia memasukan pistolnya kembali kesaku celana.
"Gadis ini benar-benar membosankan." Pembunuh pertama mengikuti apa yang dilakukan pembunuh kedua beberapa menit lalu, berbalik, kemudian keluar dari sel.
Ia berjalan menyusul kedua temannya yang telah berdiri didekat pintu keluar, pembunuh pertala berjalan cuek meninggalkan kedua rekannya sementara sang cyborg menunggunya. Pembunuh kedua akhirnya menyusul sang cyborg dan sedikit bertanya-tanya tentang keadaan ruangan ini. Cyborg hanya membalasnya dengan gelengan tapi itu cukup untuk membuatnya mengerti, tidak ada sesuatu yang penting diruangan ini. Seorang pembunuh dan Cyborg itupun akhirnya keluar dari ruangan, menyusul rekannya yang duluan pergi.
Meninggalkan sang gadis penggila akan kematian.
BERSAMBUNG...
