Layang-Layang by D.S

Editor by HiNa SaSa

Disclaimer : Naruto Uzumaki by Masashi Kishimoto

Pair : Itachi U x Hinata H

Genre : Angst, Hurt/Comfort, Romance

Warning : Cerita ini bukan karya saya, saya hanya mengupdate cerita orang atas permintaan orang yang bersangkutan. Typo, OOC, OC, AU, dll.

Rate : cari aman M

Summary : Cinta adalah sesuatu hal yang rumit. Tidak akan ada yang tahu bagaimana nasib cinta kita seperti apa kedepannya. Tapi satu hal yang melintas dipikiranku tentang cinta, yaitu cinta ibarat layang-layang. Kadang aku berpikir kalau cintaku ini seperti layang-layang yang terbang dilangit biru. Kadang perlu diulur dan kadang perlu ditarik lagi. Tarik-ulur, tarik-ulur dan sewaktu-waktu bisa putus kapan saja saat ada benang yang mengikatnya terputus dan pergi entah kemana. Pergi mengikuti tiupan angin sampai ada seseorang yang sudi mengambil layangan bekas orang dan menjadikannya sebagai milik orang itu. Dan seperti yang aku katakan, cintaku ibarat layang-layang yang terbang dilangit biru.

Tarik dan ulur.

.

.

.

.

Flashback.

Setelah selesai menghadiri rapat direksi walaupun sedikit terlambat Itachi langsung dihadapkan dengan setumpuk berkas-berkas penting yang harus dia periksa dan ditandatangani, saking sibuknya Itachi sampai melupakan makan siangnya, hingga sebuah bunyi telpon berdering. Dengan segera Itachi pun menghentikan aktivitas membacanya dan meletakkan bulpoinnya kemudian diambilnya ponsel yang berdering itu.

"Hallo?"

"Itachi-sama..." terdengarlah suara orang panik dari sebrang sana. "Nyonya..."

"Kenapa dengannya?"

"Nyonya... pingsan."

"APA! BAGAIMANA KEADAANNYA SEKARANG?"

"Nyonya masih belum sadar da-" belum sempat sang penelpon melanjutkan kata-katanya Itachi sudah memutuskan sambungan telpon itu.

Flasback end.

.

Dalam perjalanan Itachi mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, tidak peduli lalu lintas yang begitu padat yang ada dalam pikirannya hanya satu yaitu 'orang itu'.

'Bagaimana keadaanmu? Maaf selama satu tahun belakangan ini aku sedikit kurang perhatian padamu. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri, tapi aku justru membuatmu sengsara.' Batin Itachi.

Sesampainya di rumah sakit Itachi langsung menuju ruangan dimana 'orang itu' dirawat. Dan saat Itachi sudah memasuki ruangan yang ditujunya dapat Itachi lihat 'orang itu' terbaring dengan wajah pucat dan masih tidak sadarkan diri, dengan selang infus di sebelah tangan kanannya.

Itachi menarik kursi yang terdapat di sebelah ranjang lalu duduk mendekati 'orang itu' dan dipegangnya tangan 'orang itu' kemudian mengecup jemarinya penuh sayang, dibelainya rambut itu.

"Kau pasti pingsan karna terlalu lelah menunggunya sadar dari koma kan? Tanpa kau memikirkan keadaanmu sendiri." Bisik lirih Itachi. "Kau benar-benar bodoh... Konan."

.

Dan ditempat lain atau lebih tepatnya di dalam sebuah cafe yang dekat dengan United School kini Hinata duduk menunggu kedatangan Itachi yang telah berjanji akan menjemputnya sore ini, namun hingga setengah jam lebih menunggu kedatangan pemuda itu, Itachi tidak kunjung datang bahkan memberi kabar pun tidak.

Hinata kembali mengaduk-aduk mocacino itu tanpa berniat untuk meminumnya. Hinata mengambil ponselnya lalu dibuka dan mengetik sesuatu di ponsel miliknya. Ketika selesai mengetik dan hendak memencet tombol send tangan Hinata berhenti, hingga akhirnya ia urung niatnya untuk mengirim pesan itu pada Itachi.

'Mungkin Itachi-kun sedang sibuk sekali dengan pekerjaannya hingga dia tidak sempat mengirimku pesan.' Batin Hinata mencoba berfikir positif dan kembali meletakkan ponsel itu ke meja.

Hinata kembali mengaduk-aduk mocacino lalu berhenti lagi kemudian pandangannya beralih pada ponselnya, dengan sedikit kesal Hinata mencari nomor kontak Itachi, namun lagi-lagi ketika hendak memencet Hinata mengurungkan lagi niatnya.

'Mungkin ia terjebak macet.' Gumah Hinata seraya menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi lalu memandang keluar kaca etalase. Dari balik kaca Hinata dapat melihat gerimis yang mulai turun dari langit yang mulai mendung. Dan saat melihat jalanan yang berada diseberang sana mata Hinata pun tertuju pada seorang pria yang berjalan bersama seorang gadis di bawah satu payung sambil menggenggam erat tangan gadis itu. Melihatnya Hinata tersenyum sambil membayangkan sesuatu, yaitu pertemuannya dengan Itachi Uchiha.

Flashback.

Sepulang mengajar seperti biasa Hinata pun pulang dengan berjalan menyusuri jalan yang sedang dilanda gerimis dengan sedikit berlari. Seharusnya hari ini Hinata bisa pulang tanpa basah sedikit pun bila saja 'dia'tidak ada urusan mendadak mengenai perusahaan yang dikelola oleh lelaki itu. Ya, berhubung 'dia' sedang ada rapat mendadak jadi Hinata mau tidak mau harus pulang sendirian.

Karena waktu itu sedang gerimis Hinata berjalan sedikit cepat tapi karena jalanan yang dipijaknya sedikit licin serta sepatu hak tinggi yang dipakainya terlalu tinggi malah membuat kaki kanannya keseleo dan menyebabkan Hinata hampir terjatuh. Tapi sebelum Hinata terjatuh sebuah lengan kekar melingkar dipinggangnya untuk menahan tubuh Hinata agar tidak jatuh dan bersamaan dengan itulah dua mata berbeda warna saling beradu pandang.

Warna hitam yang tajam telah membuatnya terhipnotis dan membuat Hinata terpesona pada mata gelap itu dan memandanginya tanpa berkedip. "Kau tidak apa-apa nona?" tanya pemilik mata hitam tersebut.

"Eh? Ya, te-terima ka-kasih tuan." Jawab Hinata gugup dengan raut muka yang sedikit memerah karena pria itu masih memeluknya.

"Hati-hatilah saat jalanan sedang licin seperti ini." Ucap pria itu lalu menatap kaki Hinata. "Kakimu keseleo apa kau masih bisa berjalan?"

Hinata mencoba untuk berjalan namun saat kaki kanannya baru diberi beban sedikit Hinata justru oleng lagi. "Ouch-"

"Sepertinya sakit. Kalau begitu ijinkan aku mengantarmu." kata sang pria sambil tersenyum. Hinata yang melihat pria itu tersenyum hanya mampu berkata dalam hati 'Ohh, Kami-sama kenapa dia tampan sekali dan... dan kenapa jantungku berdetak secepat ini.' Muka Hinata pun kembali memerah.

"Nona...nona... apa kau mendengarkanku?" Tanya sang pria sambil mengibaskan tanganya di depan wajah Hinata, Hinata spontan kaget dan menjawab "Ya, ya tuan."

Mendengar jawaban dari gadis yang ditolongnya sang pria pun memapah Hinata menuju mobil miliknya. Membukakan pintu mobil dan membantu Hinata untuk duduk di dalam mobil lalu setelahnya pria itu menutup pintu mobilnya kembali dan berjalan memutar lalu membuka pintu mobil yang sebelahnya dan duduk di bangku kemudi serta memasang seatbelt. Setelah terpasang pria itu kembali melirik kearah Hinata.

Hinata yang merasa diperhatikan hanya bisa menunduk malu hingga sang pria tiba-tiba mendekatinya dan masangkan seatbelt untuknya juga. Hinata kaget dan saat itu juga kedua mata mereka saling berpandangan lagi. Seakan-akan ada dua buah magnet yang berbeda kutub sedang tarik-menarik.

"Terima kasih." Ucap Hinata.

"Ya." Jawab sang pria dengan susah payah sambil mengendalikan hatinya yang tiba-tiba merasa tidak karuan. Di detik selajutnya pria itu pun mengulurkan tangannya. "Boleh tahu siapa nama mu?"

"Hinata Hyuuga."

"Aku Itachi Uchiha." Setelah berkenalan pegangan tangan mereka terlepas dan hanya meninggalkan kesunyian yang menerpa mereka disaat mobil sudah melaju melintasi keramaian kota Tokyo.

Dalam perjalanan mereka, mereka pun mulai berbincang-bincang untuk mencairkan suasana yang bagi mereka aneh bila mereka terus menerus terdiam tanpa bicara. Setelah cukup banyak berbincang Hinata dapat menyimpulkan bahwa Itachi adalah pria tampan, yang ramah walau pun di luar terlihat angkuh dan dingin.

Keakraban mereka pun berlanjut hingga kini. Awal berhubungan mereka hanya saling menganggap sebagai teman yang saling melengkapi satu sama lain, selalu bersama, serta merasa nyaman saat mereka sedang berdua dan mungkin itulah yang membuat mereka saling jatuh cinta.

Flashback end.

"Kring... kring... kring..." dering telpon berbunyi dan itu sukses membuyarkan lamunan Hinata. Diambilnya ponsel tersebut dan saat melihat nama yang tertera Hinata tersenyum dan langsung mengangkat panggilan masuk tersebut dengan senang.

"Hall-"

"Hey, tenanglah oke." Suara tersebut membuat Hinata menghentikan ucapannya namun itu tidak mengurangi senyuman yang terukir diwajah ayunya. "Hari ini aku akan kembali ke Jepang, bisakah kau menjemputku di bandara?"

"Kau pulang hari ini? Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu."

"Ini namanya kejutan Nata-chan."

"Payah."

"Jadi bagaimana? Kau bisa menjemputku kan?"

"Ya tentu saja."

"Baiklah, aku menunggumu Nata-chan"

Hinata tersenyum saat mengingat seseorang yang baru saja menelponnya. Setelah memasukan ponselnya ke dalam tas Hinata pun beranjak dari kursi dan menaruh selembar uang untuk membayar mocacino miliknya dan setelah itu Hinata pun melenggang pergi meninggalkan kafe tersebut menuju bandara.

.

Malam mulai tiba, namun rintikan air yang membasahi bumi belum mereda. Perjalanan yang sedikit macet mengharuskan Hinata sampai di bandara dengan kondisi hari yang sudah sedikit gelap karana malam mulai menjelang. Sesampainya di bandara Hinata duduk untuk menunggu kepulangan seseorang yang selalu ia nantikan. Selang beberapa puluh menit Hinata melihat rombongan penumpang yang mulai terhuyung-huyung keluar sambil menarik kopernya. Melihat itu Hinata segera berdiri, matanya sibuk mencari seseorang diantara kerumunan orang yang berlalu lalang.

Malam makin terasa dingin dan entah mengapa saat mata Hinata mencari sosok orang itu dirinya malah menginginkan sebuah pelukan yang hangat yang datang dari sosok yang ditunggunya. Dan entah mengapa keinginan Hinata seakan menjadi kenyataan. Hinata merasakan gejolak hatinya mulai membara saat merasakan pelukan yang tiba-tiba dirasakanya dari belakang, dan bisikan dari seseorang yang sangat dirindukannya.

"Hai, apa kau sudah lama menunggu ku? Badanmu sampai dingin seperti ini." Mendengar perkataan itu Hinata langsung berbalik dan menatap orang yang memeluknya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Kaname-kun?" Sebut Hinata seakan tidak percaya bahwa sosok di depannya ini adalah orang yang selama ini dirindukannya.

"Hey Nata-chan. Lama tidak berjumpa ya?"

Setelah yakin dengan apa yang dilihatnya Hinata pun meneteskan air matanya dan langsung memeluk sosok bernama Kaname. "Aku... aku merindukanmu Kaname-kun."isak Hinata senang.

Melihat gadis yang dicintainya menangis senang atas kepulangannya, Kaname hanya bisa tersenyum senang sambil mengusap helaian indigo milik Hinata dan berkata "Aku juga merindukanmu. Sangat... sangat... sangat merindukanmu."

Setelah beberapa menit melepas rindu dengan berpelukan akhirnya Hinata dan Kaname pun melepaskan pelukan mereka berdua.

"Kita pulang yuk." Ajak Kaname sambil menggandeng tangan Hinata.

.

Sementara itu di sebuah rumah sakit Itachi yang sedang tertidur pulas sambil menggenggam tangan wanita berambut ungu dengan posisi terduduk dan kepala yang bersandar di ranjang kini mulai terbangun karena samar-samar dirinya mendengar suara Konan yang mulai siuman.

"Kau sudah sadar? Akan aku panggilkan dokter." Ucap Itachi lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan, disisi lain Konan hanya diam memandangi punggung Itachi yang semakin menjauh.

'Maafkan aku karena membuatmu cemas Itachi. Tapi kau juga harus tahu kalau untuk saat ini aku belum bisa memberikan hatiku untukmu. Walaupun kau sudah mendapatkan tubuhku tapi hatiku masih tetap untuknya...' batin Konan lalu memejamkan kedua matanya.

Disela-sela matanya yang tertutup ada setetes butiran bening yang meluncur menuruni pipinya 'Pain... Pain.' Konan terisak memanggil nama seseorang. 'Aku akan selalu menunggumu dan maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan bayi kita Pain hiks... hiks...'

Tidak berapa lama akhirnya dokter pun datang bersama dengan Itachi yang mengikutinya dari belakang. Dengan cepat Konan segera mengusap air matanya agar Itachi tidak melihat air matanya. Tapi sia-sia saja karena Itachi masih dapat melihat bekas tetesan air mata itu. Melihat Konan yang habis menangis membuat pandangan Itachi terlihat sedih.

.

Setelah dokter memeriksa keadaanya Konan pun diperbolehkan pulang. Dokter hanya memberi beberapa obat dan menyarankan untuk tidak terlalu banyak pikiran dan memperhatikan pola makannya. Dan kini baik Itachi atau pun Konan, mereka sedang berada di dalam sebuah kamar yang mewah dan elegant. Sepulang dari rumah sakit Konan langsung tertidur dengan Itachi yang memeluknya sambil membelai rambutnya.

Hari berganti dan kini suasana sudah bertambah larut malam membuat semua manusia larut dalam mimpi indah, namun tidak untuk Itachi yang tiba tiba terbangun di tengah malam. Itachi duduk di atas ranjang, sedikit menggeser tubuhnya dan duduk bersandar pada kepala ranjang.

Diliriknya Konan, seorang wanita yang berstatus sebagai istri sahnya saat ini. Cukup lama memandangi wajah sang istri Itachi pun beranjak menuju balkon kamarnya. Dalam gelapnya malam Itachi hanya bisa terdiam sambil menerawang jauh. Membuatnya memikirkan seseorang wanita lain diluar sana. Itachi memejamkan matanya kedua matanya sambil berkata dalam hati 'Sedang apa kau saat ini... maafkan aku Hime.'

Itachi pov.

Hinata Hyuuga seorang gadis manis yang telah membuat hatiku jadi seperti diterjang badai yang sukses memporak porandakan hatiku yang tadinya hanya untuk Konan, istriku seorang. Entahlah aku tidak tahu apa yang terjadi dengan hatiku ini. Pertemuanku dengan Hinata saat itu membuat hatiku lebih berwarna dari sebelumnya. Membuatku merasa sangat bahagia saat bersamanya.

Hingga suatu hari setelah lelah berjalan jalan aku mengantarnya pulang ke apartemen miliknya. Duduk berdua diruang tamu hingga tanpa sadar dan entah mendapatkan keberanian darimana aku malah mencium keningnya. Saat kucium keningnya dia tidak menolak dan bahkan memejamkan kedua matanya sebagai tanda dia menyukai perilaku diriku padanya. Dan sejak saat itu aku dan Hinata jadi semakin sering bertemu. Sikapku pun jadi seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, saat jauh darinya aku selalu merindukan sosoknya hingga tanpa aku sadari rasa cintaku pada Konan perlahan mulai menguap entah kemana.

Sebenarnya ada satu hal yang aku rahasiakan dari Hinata. Aku ini sebenarnya sangat takut untuk mengakuinya kalau aku mencintainya, mengingat aku ini adalah seorang pria yang sudah beristri sedangkan Hinata adalah seorang wanita yang belum menikah dan sampai saat ini Hinata bahkan belum tahu akan statusku.

Dalam hubunganku dengan Hinata awalnya hanya biasa saja tetapi saat genap 3 bulan kebersamaanku dengan Hinata aku malah mengambil kegadisan miliknya,walau dengan tidak terpaksa.

Flashback Itachi Pov.

Waktu itu seperti biasa aku selalu memberikan kabar pada asisten di mansionku bahwa aku tidak bisa pulang dengan alasan aku akan pergi ke luar kota karena ada urusan kantor yang sebenarnya itu hanya sebuah alibi ku saja untuk bisa menghabiskan waktu bersama Hinata.

Malam itu hujan turun dengan sangat derasnya saat aku mengantarkan Hinata pulang ke apartemennya. Sesampainya di apartemen seperti biasa aku menghabiskan waktu disana untuk sekedar minum teh hangat atau untuk makan malam bersama dengannya hingga larut malam. Saat tengah malam aku melihat jendela yang masih menampilkan guyuran air hujan yang sangat deras.

"Bolehkah aku menginap disini?" Tanyaku masih dengan fokus mata yang menatap jendela.

"Eh? Y-ya boleh... tta-tapi..."

"Tenang, aku akan tidur di sofa." Jawabku sambil melepas jas dan meletakannya di atas meja lalu duduk disofa sambil melipat lengan kemejaku sampai ke sikut.

"Emm... ya, baiklah. Kalau begitu aku akan mengambilkan selimut untukmu dulu." Ujar Hinata bergegas menuju kamarnya. Selesai mengambil selimut Hinata pun memberikan selimut itu padaku.

Setelah menerima selimut itu tiba-tiba tenggorokanku kering, aku merasa haus lagi. Aku pun meminta tolong pada Hinata untuk mengambilkanku minuman dan dia mengangguk. Sambil menunggu kedatangan Hinata aku pun merebahkan tubuhku pada sofa, namun tidak lama aku mendengar suara pecahan gelas dari arah dapur berbarengan dengan bunyi petir. Mendengar suara tersebut aku pun yang tadinya sedang tiduran jadi terbangun lalu segera beranjak ke dapur untuk memastikan apa yang terjadi.

Sesampainya di dapur aku melihat Hinata yang sedang berjongkok meringis sakit karna kakinya sedikit luka terkena pecahan gelas. Aku menghampirinya lalu berjongkok tepat dihadapan Hinata "Astaga Hinata kenapa bisa begini?" Tanyaku sambil membopongnya menuju ke kamar lalu membaringkannya diranjang.

"Ma-maaf merepotkanmu Itachi-kun. Aku tadi kaget karna mendengar suara petir jadi tanpa sengaja gelas yang kupejang malah jatuh." Jawabnya lirih seraya bangkit untuk duduk sedangkan aku hanya mendengarkannya sambil mengambil obat antiseptik lalu membersihkan kaki hinata dengan alkohol dan mengolesi kakinya dengan obat. Setelah selesai aku pun duduk di samping Hinata sambil mengelus puncak kepala Hinata.

"Lain kali hati-hati." Ucapku memandang lekat wajah cantiknya. Menelusuri setiap inci dari wajah tesebut hingga penglihatanku jatuh pada bibir tipis miliknya.

"Terima kasih Itachi-kun." Jawab Hinata dengan bibir tipisnya sehingga tanpa sadar aku malah mencium bibir tipis itu.

Dalam sentuhan bibir yang aku rasakan seakan mampu membuatku melayang. Sungguh ini terlalu memabuk bagiku sehingga tanpa aku kehendaki perlahan jemariku menyusup dengan perlahan ke dalam gaun tidur miliknya yang sedikit terbuka. Ku jalankan tanganku menuju bukit kembarnya dan dia tidak menolakku, aku pun mulai menggoda lalu meremas pelan dada penuh milik Hinata dan memainkan nipplenya. Dan karena hal itu lah sukses membuat Hinata melenguh nikmat.

Aku yang memang sudah berpengalaman dangan kegiatan seperti ini mulai memberikan rangsangan padanya dan membuat Hinata mendesah. Mendengar desahan Hinata malah membuat diriku menyeringai, kemudian aku pun menjilat telinga dan berbisik padanya...

"Aku menginginkanmu Hime."

Tidak ada penolakan dari Hinata membuatku merasa senang hingga akhirnya aku hanyut dalam sebuah kegiatan malam yang panas bersama dengannya berdua. Aku tidak menampik kenyataan bahwa bersetubuh dengan Hinata adalah hal yang sangat menyenangkan, dan aku bangga karena akhirnya aku berhasil menyatukan diriku dan menjadi yang pertama bagi Hinata. Dan ini sungguh sangat luar biasa, bersetubuh dengannya bagai candu yang sulit untukku tolak.

Dan itu adalah pertama kalinya aku bercinta dengan seorang wanita lain bernama Hinata Hyuuga selain istriku sendiri, Konan.

Flashback end. Itachi pov end.

.

.

.

.

.

Tbc...

Thank to :

Cahya Uchiha : udah taukan siapa laki-laki misteriusnya.

Guest : yang ngirim buka fans Hinata XD. Yang dimaksud Itachi ada dichap ini kok.

Sally dwi : oke. Semoga cepat kelar deh "IaS"nya.

Hiru nesaan : berteman denganku dong di fb makanya jadi tar bisa liat aku terus XD. Orang ketiga ya dalam hubungan ItaHina hanya laki-laki misterius itu doang. PS: hehehe...

Kayyashima : kok bisa mikirnya Sasuke? Dari ciri-cirinya ya? Tapi sepertinya Sasuke gak tampil tuh.

Virgo24 : outhor? Author sayang. Ditunggu aja ya "IaS"nya, soalnya mau langsung dirapihin jadi kemungkinan bakal panjang chap terakhir.

Nn : nih udah dilanjut.

Cika : oke.

Stellarloussierl : aku juga lupa pass akun ffn, jadi kalo mau masuk harus lewat fb dulu. Nih udah dilanjut.

Oke sebagai penutup saya ucapkan terimakasih banyak. Sampai jumpa chapter selanjutnya.

Reviews?