Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?

SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'

DISCLAIMER : TITE KUBO.

WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)

RATE : M (for safe)

ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.

.

.

.

Setelah meninggalkan Rukia sendirian, pria berambut merah itu langsung menyusul pria yang bernama Ichigo itu. Rukia sendiri masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi selama ini. Kenapa kakaknya tidak pernah bercerita sedikitpun tentang masalah ini? Terlebih lagi ada orang yang begini mirip dengannya. Pantas saja waktu Rukia bertanya tentang calon kakak ipar, kakaknya tidak mau membahas masalah ini. Ada yang aneh. Jelas ada yang aneh.

.

.

*KIN*

.

.

"Ya Nii-sama. Aku pulang duluan. Sepertinya aku tidak enak badan. Biasalah. Habis penerbangan jauh." Jelas Rukia. Saat ini dia sedang berhubungan dengan ponsel. Kakaknya tiba-tiba menelpon begitu tak lagi melihat Rukia di ruangannya.

"Tidak enak badan? Kau sakit?" tanya Byakuya khawatir.

"Hah? Tidak... aku baik-baik saja. Nii-sama tenang saja. Jangan seperti kebakaran jenggot begitu. Oh ya, aku pinjam sesuatu dari ruangan Nii-sama. Tidak apa-apa ya..." pinta Rukia.

"Sesuatu? Apa yang kau pinjam?" tanya Byakuya curiga.

"Karena itu... yang ingin kutanyakan. Sudah ya... bye-bye Nii-sama." Rukia menutup teleponnya dan menghembuskan nafas perlahan. Dipangkuannya ada majalah yang diam-diam dia ambil dari lemari kakaknya. Dia begitu penasaran dengan apa yang terjadi ini. Apakah kepergiannya selama 8 tahun ini begitu banyak menyimpan cerita misterius? Huh!

"Anu... Nona... apa sebaiknya kita pulang? Nona... kelihatan tidak baik..." sela Kira yang melihat Rukia dari kaca spion dalam mobilnya. Rukia berbalik memandang Kira dan tersenyum tipis.

"Jangan pulang dulu. Aku masih ingin―Ahh! Berhenti! Kira berhenti!" teriak Rukia heboh begitu melihat sebuah butik di pinggir jalan yang nampak ramai. Bukan butiknya yang membuat Rukia heboh.

Kira sampai berhenti dengan rem mendadak dan nyaris membuat Nona-nya terpelanting. Untungnya Rukia sudah antisipasi dengan memegang sandaran kursi didepannya. Rukia menurunkan kaca mobilnya dan melongo keluar dari mobilnya sambil memperhatikan papan nama butik itu besar-besar. Sudah lama sekali Rukia tidak melihat nama ini. Dia benar-benar rindu sekali!

"Nona... ada apa? Kenapa Anda tiba-tiba mau berhenti?" tanya Kira bingung. Namun Rukia hanya tersenyum lebar dan langsung melompat dari mobilnya dan bersiap masuk ke butik itu.

"Nona mau kemana?" teriak Kira setelah ikut keluar dari dalam mobil dan membuntuti Rukia.

"Hei! Berhenti! Kenapa kau patuh sekali pada peraturan? Tunggulah di mobil. Aku janji tidak akan kabur. Cuma mau masuk ke butik ini kok..." ujar Rukia menghadang Kira mengikutinya dan menunjuk butik di belakangnya. Kira mengangguk patuh dengan wajah khawatir. Mengiyakan apapun perintah Nona-nya adalah keputusan sulit. Nona-nya ini bukan orang yang mudah memegang kata-katanya. Kalau katanya tidak kabur, belum tentu dia tidak akan kabur. Itulah Rukia. Tipikal wanita yang sulit dimengerti dan dipahami. Tapi kalau dia sudah bersungguh-sungguh dia akan menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Tidak peduli apapun yang terjadi. Dan kini, Kira sudah melihat Nona-nya sungguh tidak akan kabur. Dia sangat takut kalau sampai Tuan-nya tahu dia kehilangan Nona lincah ini. Belum sehari betul dia ada di Tokyo, tapi Kira nyaris kehilangan jantungnya karena mengkhawatirkan Nona-nya yang selalu bertindak seenaknya ini.

Bagaimana kalau akhirnya Nona-nya selamanya ada di Tokyo? Kira benar-benar akan terkena serangan jantung dadakan! Dan sampai sekarang Kira tak habis pikir bagaimana bisa Tuan-nya mempercayakan Nona yang begini amburadul untuk tinggal di negeri orang selama 8 tahun? Sulit dipercaya.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia melongo kedalam butik itu dan memperhatikan seisi butik itu. Desain bajunya memang sedikit aneh dan tidak umum. Tapi menarik banyak minat kaum hawa yang selalu ingin tampil beda. Bahkan desain ini sudah diakui oleh Eropa. Sudah pasti semua wanita di Jepang ini berlomba-lomba ingin memiliki satu dari semua baju aneh ini'kan? Rukia mengenal baik pemilik butik ini. Dia punya sense yang sangat hebat. Dia selalu tertarik mengamati semua hal yang berbau 'cantik'. Makanya semua karyanya dikhususkan untuk orang yang cantik. Meski... rasanya pada kenyataan yang ada, tidak semua orang kaya itu cantik. Merekalah yang ingin merasa tampil cantik.

Setelah puas mengamati semua desain pakaiannya, Rukia langsung naik ke lantai 2. Di sana hiruk pikuk model sedang bergaya manis di depan kamera dan berpose mengikuti arahan sang kameramen. Rupanya begini di lantai 2. Benar-benar orang yang sibuk. Setelah sukses di negara orang, dia mencoba peruntungan di negara sendiri. Dan rupanya sukses total. Rukia tahu memang orang ini cinta mati pada negaranya. Dia sangat mencintai apapun yang berhubungan dengan Jepang. Tidak heran kalau sepertinya dia berniat untuk meneruskan semuanya di sini.

"Nona... mencari siapa? Orang umum dilarang masuk kemari." Jelas salah satu kru yang menangani acara di lantai 2 ini. Sepertinya Rukia memang masuk seenaknya tadi. Dia lihat tangga dan langsung main naik saja.

"Oh, maafkan aku. Aku tidak tahu. Aku kemari ingin bertemu dengan pemilik butik. Apa dia ada?" tanya Rukia.

"Pemilik butik sedang sibuk saat ini. Sebaiknya Nona buat janji lain hari saja." Jelas pegawainya itu. Wajah Rukia langsung merengut. Dia ingin bertemu dengan orang itu! Rukia juga sudah rindu. Masa tidak boleh bertemu sih?

"Sebentar saja. Bilang Kuchiki Rukia ingin bertemu! Dia pasti mengerti," rengek Rukia.

"Tidak bisa Nona. Bos kami sedang sangat sibuk." Balas pegawai itu. Tapi bukan Rukia namanya kalau dia tidak bisa membujuk pegawai itu.

"Hei! Apa-apaan kau di sana malah mengobrol! Tidak lihat kita―astaga! Itu kau Kuchiki?" tunjuk seorang pria dengan penampilan nyentrik dari atas kebawah. Hari ini pria berambut model bob dengan bulu mata luar biasa itu menepuk kipas yang ada ditangannya sambil berlarian kecil menuju tempat Rukia.

"Maafkan saya Bos. Tapi... Nona ini―" pegawai itu menunduk mohon maaf.

"Dasar bodoh! Kau tidak tahu siapa dia? Ahh~ tidak penting kau tahu atau tidak itu bukan urusanmu! Sudah sana pergi! Masih banyak yang harus dikerjakan. Kau mau menyuruh wajahku cepat keriput karena marah-marah terus? Wajah keriput itu tidak cantik tahu!" cerocos yang akhirnya Rukia ketahui sebagai pemilik butik ini. Pegawai itu langsung terdiam dan berlari untuk mencari pekerjaan selanjutnya. Rukia tersenyum menang. Kesalahan besar untuk tidak memenuhi permintaan Kuchiki Rukia!

"Astaga Kuchiki! Kau semakin cantik saja! Coba kuhitung... hoh! Sudah 4 tahun tidak bertemu. Kau baru pulang dari Paris atau Itali? Kapan kau tiba?" tanya pemilik butik itu sambil menggandeng lengan Rukia untuk mencari tempat duduk supaya mereka bisa nyaman bercerita.

"Aku dari Paris. Baru kemarin sampai. Hari ini sebetulnya aku main ke kantor Nii-sama. Tapi kemudian aku bosan. Tidak sengaja bertemu butikmu di sini. Ternyata kau benar-benar membuka butik di sini ya?"

"Oh tentu saja! Kembali ke negara asal adalah mimpiku. Di Eropa itu Cuma ingin dapat pengakuan dan gelar. Lagipula... tidak enak terus-terusan tinggal di sana. Jadi... bagaimana denganmu? Kudengar kau pasti akan menikah kalau sudah kembali dari Eropa? Sudah dapat calon?"

"Hmm... aku masih bingung. Aku'kan baru―"

"Tunggu dulu! Jangan lanjutkan. Aku akan segera kembali. Ok! Oh ya kau mau minum apa? Hmm! Aku ingat... pasti green tea dingin'kan?" tebak pemilik bulu mata luar biasa itu. Dan Rukia hanya tersenyum lebar mengiyakan tawarannya.

Rukia ditinggal sendiri di sebuah ruangan yang dibatasi oleh dinding kecil ini. Seperti ruang bertemu klien. Atau tepatnya ruangan pribadi pemilik butik ini. Rukia duduk di sofa kecil itu. Tapi karena bosan, dia akhirnya berkeliling melihat-lihat isi lemari yang ada di sisi dekat meja kerjanya. Semuanya hanya berisi kain saja.

Ayasegawa Yumichika adalah kakak tingkatnya sewaktu sekolah di sekolah desain dulu. Mereka punya taste yang sama. Tapi Rukia tidak seekstrem Yumichika yang berani bermain model yang aneh dan warna yang cerah. Yumichika memang seseorang yang berani bereksperimen. Lain halnya Rukia yang lebih suka warna gelap yang anggun dan model-model anggun yang biasa digunakan oleh kaum bangsawan. Rukia akui, berteman dengan Yumichika memang sangat menyenangkan. Mungkin karena dia agak 'berbeda' itu, jadi wawasannya dan pandangannya akan segala sesuatu tidak dilihat dengan sebelah pandangan saja. Rukia banyak bertukar pikiran dengannya. Solusi yang biasa Yumichika berikan memang agak aneh. Tapi percayalah... apa yang dia katakan adalah benar. Dan ditambah kenyataan bahwa Yumichika adalah orang yang blak-blakan. Suka to the point saja.

Setelah 4 tahun berteman, akhirnya Yumichika menyelesaikan sekolahnya dan sudah mendapat pengakuan dari desain ternama di Eropa. Bahkan pernah sekali merancang gaun untuk red carpet. Tahu sendiri'kan bagaimana mewahnya sebuah gaun untuk red carpet sendiri? Dan sejujurnya, Rukia belum mencapai apa yang dicapai oleh Yumichika ini. Karena tujuan utama Rukia bukanlah menjadi desainer berbakat dan terkenal di seluruh dunia. Baginya itu hanyalah hobi.

Rukia berhenti di meja kerja Yumichika. Meja itu berantakan dengan kertas-kertas berisi desain baju yang sedang dia buat. Sepertinya desain gaun pernikahan. Yah... setiap akhir tahun memang ada edisi untuk pernikahan. Dan Rukia jadi semakin ingin menikah. Kira-kira... apa dia bisa menemukan seorang pria yang mau menikah dengannya dan mewujudkan impiannya punya keluarga yang bahagia?

Tanpa sengaja Rukia mengambil satu desain kertas yang dia anggap menarik di ujung meja kerja Yumichika. Gaunnya cantik. Meski agak sedikit heboh. Dengan single shoulder, berbentuk gown selutut dan pita besar di sisi pinggangnya. Tampaknya Rukia tak nyaman mengenakan gaun pengantin yang begini berani. Baru saja akan mengembalikan ke tempatnya, mata Rukia terpaku pada sebuah majalah yang bertumpuk di ujung mejanya. Tapi majalah itu sendiri yang seakan menonjol keluar. Rukia penasaran dan menarik majalah itu. Betapa kagetnya Rukia melihat majalah itu. Majalah yang sama dengan majalah yang diambilnya dari lemari kaca kakaknya. Rukia mengenal Yumichika bukan orang yang suka membeli majalah kalau isinya bukan rancangannya. Jadi... satu-satunya alasan kenapa Yumichika punya majalah ini...

"Maaf aku agak lama! Kau tahu sendiri'kan kalau menyuruh orang yang lambat berpikir selalu terlambat. Nah ini green tea dinginmu. Rukia? Kau lihat apa?" tanya Yumichika setelah meletakkan segelas green tea dingin di atas meja sofanya. Rukia masih terpaku dengan memegang majalah itu di tangannya. Yumichika melongo melihat apa yang dilihat Rukia. Lalu menutup mulutnya sendiri.

"Rukia?" panggil Yumichika, takut gadis itu tidak sadarkan diri.

"Kau tahu... pagi ini... aku menemukan majalah yang sama di dalam lemari kaca kakakku. Aku tidak mengerti situasi ini. Bisakah kau jelaskan?" pinta Rukia sambil menunjukkan majalah itu pada Yumichika. Yumichika mengambil majalah itu dan tampak sedikit bimbang pada pilihannya.

"Yah... karena kau minta begitu... sebenarnya ini rancanganku 3 tahun yang lalu. Waktu itu aku tidak mendapat model prianya. Jadi... kukontak temanku waktu SMA dulu yang kebetulan masih ada di Tokyo. Dia bersedia datang. Setelah dia datang, rupanya dia membawa seorang wanita. Kalau tidak salah... namanya Ashiya Yukia. Yah itu namanya. Dia memang mirip denganmu. Tapi saat itu aku tidak banyak berpikir karena jadwal deadline yang mematikan itu. Karena model wanitanya sulit dihubungi, terpaksa, aku menggunakan wanita itu. Agak aneh memang karena dia begitu mirip denganmu." Jelas Yumichika.

"Jadi... apa hubungan pria ini dengan... wanita ini?" tanya Rukia. Bagaimanapun dia penasaran. Dan ditambah fakta baru bahwa Yumichika adalah teman SMA-nya.

"Mereka... sepasang kekasih. Sejujurnya begitu melihat foto ini aku merasa mereka begitu serasi dan memang ditakdirkan untuk bersama. Apalagi... yang kudengar bahwa mereka berakhir tragis. Aku sampai tidak kuat membayangkan cerita mereka."

"Kenapa?"

"Wanita ini... mengalami kecelakaan parah dan meninggal. Saat itu, Ichigo tak ada disampingnya. Aku sedih dengan kisah mereka. Karena yang kudengar dari pegawaiku, sesaat setelah pemotretan ini, Ichigo melamar si wanita dengan pakaian pengantin ini. Karena kisah ini... aku jadi tidak berani memajang pakaian pengantin mereka. Jadi kusimpan saja."

"Apa? Kau tidak memajangnya? Jadi... setelah majalah ini dirilis... gaunnya tidak kau pajang?" tanya Rukia lagi.

"Tentu saja! Siapa yang mau membeli gaun yang punya cerita tragis begitu! Aku saja tidak mau melihatnya. Daripada itu... kenapa kakakmu bisa punya majalah ini? Ini'kan majalah wanita."

"Itu yang sedang kucari tahu."

.

.

*KIN*

.

.

Setelah bicara panjang lebar dengan Yumichika, akhirnya Rukia memutuskan kembali ke rumah. Ternyata seperti itu. Sepertinya pria bernama Ichigo itu sangat mencintai wanita itu. Bahkan sampai melamarnya dengan pakaian pengantin seperti itu. Hal romantis yang tak pernah Rukia bayangkan. Seandainya... Rukia bisa seperti itu. Lalu bagaimana dengan... dirinya? Apa yang sebenarnya Ichigo rasakan waktu melihat wajah Rukia yang begitu mirip dengan wajah wanita yang dia cintai itu? Apa yang Ichigo rasakan ketika memanggil nama wanitanya dengan wajah orang lain? Rukia banyak menyaksikan hal ini di fiksi mana saja. Tapi tidak menyangka malah terjadi padanya.

Rukia masih duduk diatas kasurnya sambil memandangi majalahnya.

"Hei... jadi... namamu Ashiya Yukia ya? Nama yang bagus. Namaku Kuchiki Rukia. Aku tak menyangka wajahku bisa begitu mirip denganmu." Gumam Rukia sambil menatap wajah wanita yang mirip dengannya itu didalam majalah itu. Lalu bergerak melihat wajah pria berambut orange itu. Sungguh semua orang pasti akan mengira bahwa model pria di dalam majalah ini dan dengan aslinya adalah orang berbeda. Apakah kalian bisa bayangkan, bagaimana berubahnya seseorang selama 3 tahun?

"Rukia? Kau di dalam?" sapa seseorang dari luar pintu kamarnya.

"Ya Nii-sama! Masuk saja. Tidak dikunci kok!" jerit Rukia pula.

Byakuya masuk kekamarnya dan menemukan adik kesayangannya tengah duduk ditengah kasurnya sambil tersenyum lebar. Byakuya menuju tempat tidur adiknya lalu menarik satu kursi didepan meja riasnya dan meletakkannya di sebelah kasur adiknya.

"Majalah apa yang kau baca?" tanya Byakuya lembut pada adiknya.

"Majalah yang ada di dalam lemari kaca Nii-sama." Jawab Rukia santai.

"Di lemari kaca? Lemari kaca mana?"

"Kantor. Ini..." Rukia menunjukkan cover depan majalah itu di depan Byakuya. Sesaat kemudian, ekspresi Byakuya langsung berubah total. Dia jadi terdiam dengan ekspresi kaget yang luar biasa. Rukia sudah bisa memprediksi ekspresi itu.

"Karena aku berada di luar negeri selama 8 tahun, Nii-sama jadi tidak mau menceritakan kisah hidup Nii-sama padaku? Aku terluka. Aku'kan juga ingin tahu seperti apa wanita ini. Wanita yang mirip denganku." Ujar Rukia sambil mengelus permukaan majalah itu dengan jari mungilnya. Tepatnya dia mengelus gambar wanita yang mirip dengannya itu.

"Kau mau tahu siapa dia?" tanya Byakuya akhirnya.

Rukia mengangguk semangat lalu duduk bersila didepan kakaknya dan mendengarkan dengan patuh.

"Aku... mulai darimana ya?" tanya Byakuya.

"Mulai darimana Nii-sama mengenalnya!"

"Ahh ya. Kau pasti kaget bagaimana aku mengenalnya. 5 tahun yang lalu, aku sedang melobi seorang investor penting untuk proyek perusahaanku. Tapi... syaratnya aku harus menemuinya di sebuah klub malam. Kau tahu sendiri'kan aku tidak pernah ke klub malam manapun?" dan dibagian itu Rukia tertawa geli. Bisa Rukia bayangkan bagaimana kakunya kakaknya ini. Dan tiba-tiba disuruh ke klub malam?

"Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya. Tapi baru sampai didepan klub itu, mendadak aku bingung. Dan ragu. Akhirnya aku masuk juga kesana. Dan suasananya sudah bisa aku tebak sebelumnya. Setelah bertemu dengan investor itu, ternyata dia sedang bermain bersama beberapa... wanita. Dan dia mengajakku untuk ikut bergabung."

"Dan sudah pasti Nii-sama menolakkan? Nii-sama mana mungkin berani ikut." Potong Rukia.

"Yah. Aku memang tidak berani. Setelah menolaknya, aku bermaksud untuk segera pergi. Tapi... kau tahu'kan... beberapa hmm... kupu-kupu malam itu berusaha menggodaku untuk menemani mereka. Bagaimanapun aku berusaha menolak mereka tetap tidak mau mengerti."

"Lalu bagaimana caranya Nii-sama keluar dari sana?" tanya Rukia antusias.

"Karena dia. Dia yang menolongku keluar dari sana. Ketika semua kupu-kupu malam itu pergi, kubilang padanya... apa kau juga ingin tidur denganku seperti yang diinginkan semua gadis itu?"

"Dia jawab apa?" buru Rukia.

"Dia bilang... mungkin kau tidak percaya Tuan tapi aku tidak minta kau percaya, tapi aku belum pernah tidur dengan pria manapun. Walaupun aku pelacur, tapi aku masih seorang perawan."

Beberapa saat Rukia terdiam.

"Nii-sama yakin dia bilang begitu? Dia bilang dia pelacur. Mana ada pelacur yang masih perawan." Kata Rukia tak percaya.

"Yah. Awalnya aku juga tak percaya. Tapi... begitu aku bertemu sekali lagi dengan wanita itu di tempat lain, di rumah sakit. Saat merawat Kakek, dia tampak tidak seperti seorang pelacur. Dia tampak seperti... wanita baik-baik pada umumnya. Sama sekali tidak terlihat seperti pelacur. Dia bilang padaku, bahwa yang aku temui saat ini adalah wanita bernama Ashiya Yukia, bukan Yuki si primadona klub malam."

"Bagaimana dia bisa jadi primadona kalau tidak pernah tidur dengan pria manapun. Cerita yang aneh." Gumam Rukia.

"Yah... memang aneh. Tapi kalau kau melihatnya secara nyata, kau pasti bilang dia bisa jadi primadona yang hebat. Aku diam-diam mulai mengagumi sosoknya itu. Dia kelihatan kuat dari luar. Tapi tetap seorang wanita yang lemah. Dia tidak peduli orang memandangnya apa. Tapi dia menghargai orang memandangnya bagaimana. Dan aku selalu suka melihatnya tersenyum tanpa beban dan mengucapkan terima kasih padaku. Aku tidak pernah lupa itu."

"Kelihatannya... dia benar-benar wanita yang hebat. Lalu... apa Nii-sama tahu hubungannya dengan Ichigo?" lanjut Rukia sambil menunjuk pria berambut orange itu.

"Kurosaki? Dia... teman Yukia dari SMP. Aku tidak tahu bagaimana awal mereka bertemu. Tapi yang kutahu, Yukia sempat tidak mau mengakui Kurosaki sebagai teman masa lalunya. Mungkin... Yukia menganggap dirinya tak pantas dikenal Kurosaki. Sampai... masalah itu tiba."

"Masalah?"

"Ingat investor yang mengajakku ke klub itu? Dia memang investor kaya. Yang gila wanita. Dia tahu Yukia masih perawan dan menolak tidur dengan pria manapun. Kesempatan ini dia pakai untuk menekan Yukia. Investor itu sempat hampir memperkosa Yukia. Tapi gagal, karena Kurosaki muncul. Karena hal itu, investor itu menekan Yukia. Dia mengadukan Kurosaki pada polisi dengan tuduhan penganiayaan. Mengancam akan mencabut investasi untuk Kuchiki Corp. Sungguh itu adalah cobaan terberat untuk Yukia."

Rukia menutup mulutnya tidak percaya. Tiba-tiba saja, mata Rukia basah. Pertama kalinya dalam hidupnya... dia mendengar cerita mengerikan ini. Cerita yang benar-benar nyata.

"Awalnya... tidak seorangpun yang diijinkan Kurosaki untuk memberitahukan ini pada Yukia. Dan sejak itu aku mulai merasa, Kurosaki punya perasaan pada wanita itu. Meski... statusnya saat itu adalah kekasih Senna."

Senna? Rukia terdiam untuk kesekian kalinya. Bukankah... Senna adalah sepupu yang diangkat sebagai Kuchiki oleh kakaknya setelah kepergian Rukia ke Eropa? Dan yang Rukia dengar, selama 3 tahun lalu, wanita itu pergi ke Australia untuk meneruskan kuliah S2-nya. Jadi... Kurosaki Ichigo juga mengenal Senna. Sejak kedatangan Senna ke Kuchiki, Rukia tidak menyukainya. Tapi Rukia berpikir, toh dia juga ada di Eropa. Jadi tidak mungkin bertemu muka.

"Aku, Kurosaki, dan bawahanku Abarai Renji yang juga adalah sahabat sejak SMA Kurosaki itu, tidak tahu bagaimana caranya Kurosaki bisa dibebaskan dan investor itu kembali menanamkan sahamnya di Kuchiki Corp. Tapi mendadak setelah kejadian yang bahkan belum berlalu 24 jam itu, Ashiya Yukia menghilang dari Tokyo. Tidak seorangpun yang tahu keberadaannya selama 2 tahun. Dan jujur saja. Aku juga merindukannya selama 2 tahun itu."

"Mendadak, setelah 2 tahun itu, aku bertemu kembali dengan Yukia tanpa sengaja di Tokyo. Sepertinya dia sudah melupakan kejadian 2 tahun yang lalu. Karena ingin bertemu langsung, aku mencari alamat bibi yang pernah merawatnya selama ini. Bibi itu tidak memberikan alamat apapun tapi memberikan sebuah fakta mengejutkan. Bahwa... Yukia tahu kejadian 2 tahun yang lalu itu. Karena dia, masalah yang timbul jadi beban untuknya. Untuk menghilangkan beban itu, dia menyerahkan satu-satunya harta berharga miliknya pada pria sebrengsek investor itu." Lanjut Byakuya dengan mimik yang serius.

"Jangan bilang kalau Yukia itu..." Rukia tak sanggup membayangkannya.

"Yah. Dia memberikan mahkota yang selama ini dia jaga untuk pria brengsek seperti itu. Demi aku dan Kurosaki."

Rukia langsung menangis mendengar kenyataan yang tidak ingin dia dengarkan. Betapa berat hidup wanita itu.

"Kau pasti bertambah kaget jika tahu siapa yang memberitahu hal ini pada Yukia."

"Siapa?"

"Senna. Karena dia begitu mencintai Kurosaki sampai mati. Dia tidak mau melepaskan Kurosaki. Aku tahu tindakannya salah. Makanya aku katakan ini padanya untuk berhenti. Akhirnya, Kurosaki mendengar pembicaraan kami tentang Yukia, dan langsung memutuskan Senna. Aku serba salah menghadapi ini. Tapi... apa yang dialami wanita itu jauh lebih menyakitkan daripada apa yang dialami Senna. Kurasa... itu sudah cukup adil."

"Apa yang dilakukan Ichigo setelah itu?" Rukia tampak penasaran dengan apa yang dilakukan pria itu. Rukia bisa menangkap dari cerita kakaknya bahwa Ichigo tampak begitu peduli pada wanita itu.

"Ichigo mencarinya. Dan akhirnya bertemu. Aku tidak tahu cerita setelah dia bertemu dengan Yukia. Tak lama kemudian dia kembali muncul setelah bolos kerja berhari-hari. Setelah dia kembali, aku memanggilnya dan bertanya padanya... mana yang lebih penting. Jabatannya atau... pelacur itu."

"Kurasa aku tahu jawabannya Nii-sama." Jawab Rukia.

"Aku juga sudah tahu jawabannya. Hanya ingin memastikan saja. Begitu dia bilang begitu, dia bahkan bilang dia tidak keberatan mengundurkan diri kalau itu masalahnya. Pertama kali aku menemukan pria setangguh Kurosaki. Yang tidak kenal takut dan memegang teguh pada pendiriannya. Aku sangat menyukai sikap laki-lakinya itu. Akhirnya, kuputuskan memberinya waktu bersama wanita itu dan memberi kembali jabatannya."

"Nii-sama baik hati." Timpal Rukia.

"Kupikir, setelah ini hidup mereka pasti akan baik-baik saja. Bahkan untuk terakhir kalinya aku melihat wanita itu begitu bahagia dan begitu hidup. Wajahnya jauh lebih berwarna dari selama aku mengenalnya sampai hari terakhirnya. Ternyata... dia benar-benar mencintai Kurosaki. Dan sebaliknya pula. Mereka tidak bisa dipisahkan lagi. Bahkan... mereka rela saling menukar hidup untuk pasangan hati mereka."

"Tapi... semuanya tidak berakhir mulus." Lirih Rukia.

"Yah. Akupun tidak menyangka. Takdir mempermainkan mereka begitu kejam."

Rukia terdiam mendengar kisah itu. Jelas Yukia adalah wanita paling hebat yang pernah dia dengar ceritanya. Rukia sendiri belum tentu sanggup menjadi setangguh Yukia. Apa yang menimpa wanita itu sungguh tidak sebanding. Wajar kalau kakaknya sampai jatuh hati pada wanita itu. Rukia tak menyalahkannya. Rukia adalah orang yang berpikiran terbuka. Karena lama di Eropa, pola pikirnya jadi mirip orang Eropa. Tidak semua orang harus menilai dari cover-nya saja. Siapa tahu ada hati semulia berlian didalamnya.

.

.

*KIN*

.

.

Setelah mendengar kisah mengharukan itu dari kakaknya, pagi ini Rukia datang mencari seorang pria berambut merah itu. Rukia ingat namanya Abarai Renji. Rukia lama menunggu di lobi kantor kakaknya. Sebenarnya kedatangannya kemari adalah diam-diam. Dia ingin tahu lebih banyak lagi tentang laki-laki itu.

"Wah! Ternyata aku dapat durian runtuh pagi ini. Ada malaikat cantik mendatangiku." Puji Renji begitu bertemu Rukia yang duduk di lobi kantor.

"Maksudmu aku sudah meninggal?" balas Rukia.

"Astaga. Memangnya semua malaikat pernah hidup? Yah setidaknya hidup sebagai manusia. Ahh~ sudahlah. Aku yakin kau kemari bukan mau bertanya soal malaikat'kan?" tebak Renji.

"Seberapa parah Kurosaki Ichigo selama 3 tahun ini?" tembak Rukia langsung.

"Hah? Kau... sudah tahu tentang Ichigo 3 tahun yang lalu?" ujar Renji tak percaya.

"Hmm well, sebenarnya aku dapat info dari Nii-sama dan Yumichika."

"Yumichika? Makhluk gaib itu?" ulang Renji kembali tidak percaya.

"Apa maksudmu makhluk gaib! Dia itu sahabatku tahu! Aku bisa marah kalau kau menghinanya seperti itu!" balas Rukia mengamuk.

"Ahh! Aku tahu. Dia juga temanku waktu SMA. Jangan marah-marah. Meskipun wajah kalian sama, kepribadian kalian benar-benar berbanding terbalik." Rutuk Renji.

"Maksudmu... Ashiya Yukia?" tebak Rukia.

"Lalu... kau mau apa sama Ichigo? Kuberitahu ya... orang yang sudah bosan hidup seperti Ichigo itu, tidak lagi tertarik pada wanita manapun. Bahkan kalau kau menggodanya juga dia tidak akan tertarik. Bagi Ichigo... Yukia itu satu-satunya wanita terakhir. Dan dia sudah berjanji pada Yukia tidak akan menyentuh wanita lain. Sudahlah. Kau mau berusaha bagaimana pun tidak akan―"

"Kau mau bertaruh denganku?" potong Rukia.

"Hah? Astaga! Kenapa semua Kuchiki itu begini sombongnya?"

"Ichigo tidak bisa selamanya berjanji pada orang mati 'kan? Dia tidak bisa mati seperti kekasihnya yang sudah mati karena dia masih hidup. Terpuruk selama 3 tahun sudah cukup untuknya. Kalau kau mau membantu menyadarkan Ichigo bahwa hidupnya tidak boleh berakhir seperti ini, aku akan sangat berterima kasih."

"Kenapa kau begitu pada orang yang bahkan tidak pernah kau kenal? Kau tidak mungkin 'kan berpikir hanya karena wajahmu sama dengan mantan kekasihnya itu kau jadi berpikir, Ichigo mungkin juga bisa mencintaimu sebesar dia mencintai Yukia."

"Tidak. Aku tidak berpikir seperti itu. Tidak masalah dia mau mencintai Yukia lebih besar daripada aku. Karena aku tidak berhak untuk menghapus Yukia dari hidupnya. Aku hanya... ingin supaya Ichigo melepaskan bayangan Yukia sebentar saja. Melepaskan bayangan orang yang sudah mati selama hidupnya. Aku tidak keberatan kalau akhirnya ketika kami semua sudah mati nanti dan kami bertiga bertemu di akhirat Ichigo tetap memilih Yukia. Karena aku tahu... sesulit apa perjuangan cinta mereka."

Renji mendengus geli mendengar pernyataan wanita muda ini. Dia masih muda, tapi pemikirannya sungguh besar. Dia bahkan rela hati melihat Ichigo nantinya tetap tidak memilih dia.

"Kenapa kau mau melakukan ini?" tanya Renji.

"Karena aku menyukai Ichigo."

"Apa? Kenapa jawabannya sesederhana itu?"

"Lalu aku harus jawab apalagi? Memang itulah yang kurasakan. Aku tahu dia mungkin sulit menerima wanita lain. Tapi aku ingin dia sadar bahwa hidupnya tak boleh sia-sia seperti itu. Tapi pelan-pelan... dia pasti bisa mencintaiku juga 'kan?"

"Nona Kuchiki. Sulit untuk itu. Aku sudah mencobanya 3 tahun ini. Aku yang sahabatnya saja tidak dia dengarkan, apalagi kau yang baru saja mengenalnya. Aku ragu dia mau menurut. Lebih baik, hentikan saja niatmu sebelum kau sakit hati. Kukatakan saja, sekarang ini dia sangat dingin terhadap wanita. Dan keras kepala."

"Tidak masalah. Aku tidak berharap dia akan begitu hangat pada wanita. Dan aku jauh lebih keras kepala. Aku hanya akan membuatnya mengerti. Menjalani hidup normal, bukan berarti menghapus semua masa lalu."

Renji melipat tangan didepan dadanya. Kelihatannya wanita ini serius. Meskipun kelihatannya dia masih muda dan sedikit labil, tapi Renji yakin wanita ini sungguh-sungguh. Renji tak tahu apakah yang diharapkan wanita ini bisa berjalan mulus tapi... Renji juga sudah tak tahan lagi menghadapi makhluk menyebalkan itu.

"Baiklah. Kalau kau siap menanggung segala resikonya, aku akan mendukungmu. Tapi dengan syarat. Kalau kau sudah tak sanggup lagi, kumohon tinggalkan dia. Jangan pernah muncul lagi didepannya dan jangan lagi memberinya beban apapun. Baik itu perasaanmu ataupun cintamu. Bagaimana?"

.

.

*KIN*

.

.

"Pak GM. Ada tamu untuk Anda." Ujar Matsumoto.

"Tamu?"

"Aku tamunya..."

Rukia menerobos masuk dan berdiri di depan pintu ruangan Ichigo. Ichigo terpaku melihat wanita itu masuk. Dia sudah berusaha untuk menjauh dari wanita itu.

"Aku tak mau melihatmu. Pergilah." Kata Ichigo singkat dan dingin.

"Apa karena aku mirip kekasihmu yang sudah mati itu?" jawab Rukia dingin pula.

Ichigo menatap wanita itu dengan kesan yang tidak suka. Tidak ada yang boleh menghina wanita-nya seperti itu.

"Pergilah selagi aku masih baik. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan padamu kalau kau tetap bersikeras di sini!"

"Menikahlah denganku."

Dan seketika Ichigo diam membatu mendengar pernyataan aneh wanita itu.

"Apa?" tanya Ichigo mencoba meyakinkan.

"Aku sudah tahu tentangmu dari berbagai orang. Tentangmu yang jatuh terpuruk setelah kematian kekasihmu. Tentangmu yang tak mau lagi berurusan dengan wanita manapun. Dan tentangmu yang menolak untuk 'hidup' kembali. Aku bisa membuatmu normal kembali. Asal kau... mau menikah denganku."

"Apa alasanmu?"

"Karena kau menyukaimu."

"Kau pikir suka saja cukup?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Sebenarnya... sekembalinya aku kemari, aku memutuskan untuk segera mungkin menikah. Aku ingin menikah setidaknya sebelum umurku 30 tahun. Dan 4 tahun lagi umurku sudah 30 tahun. Sampai saat ini aku belum menemukan orang yang cocok jadi calon suamiku." Jelas Rukia.

"Lalu apa yang membuatmu berpikir aku pantas jadi suamimu?"

"Yah... bisa dibilang ini percobaan. Selama ini aku begitu mendambakan sebuah pernikahan. Bagaimana kalau kita bertaruh. Kita menikah selama 3 bulan, kalau aku bisa membuatmu berhenti memikirkan Yukia dan kembali normal, kita bisa lanjutkan pernikahan kita atau tidak itu tergantung nanti. Tapi... kalau ternyata aku tidak bisa mengubahmu. Kita bisa batalkan pernikahan ini. Dan aku... tidak memaksamu mencintaiku sebanyak kau mencintai Yukia. Asalkan kau... mau berhenti memikirkan Yukia sesaat saja."

"Kau tidak takut menjanda setelah 3 bulan menikah?"

"Kelihatannya kau yakin sekali hubungan kita tidak sampai 3 bulan?"

"Aku keras kepala." Kata Ichigo singkat.

"Jadi... kita bertaruh siapa yang paling keras kepala." Tantang Rukia.

"Apa yang akan kau lakukan kalau ini tidak berhasil? Aku sudah mencoba 3 tahun untuk melupakannya. Dan kau bilang... akan mencoba 3 bulan untuk membuatku berhenti memikirkannya?"

"Yah... mungkin aku akan pergi lagi dari Jepang dan menetap di suatu negara sampai sakit hatiku sembuh. Tapi... jika keputusan itu yang terjadi... aku memutuskan tidak akan menemuimu lagi apapun yang terjadi."

Ichigo diam menatap wanita itu. Wanita itu nampak serius dengan kata-katanya. Entah cerita apa yang sudah dia dengar dan darimana dia dengar. Sebenarnya ini keputusan baik. Dia tidak perlu meladenin wanita-wanita yang disodorkan Renji padanya. Dia juga bisa melihat Yukia dalam hidup orang lain. Entahlah. Ini terdengar konyol dan tidak masuk akal. Maksudnya... hello... apakah jaman sekarang masih ada wanita yang mau menikah dengan orang yang tidak pernah mencintainya? Lalu menikah hanya untuk bertaruh saja? Tapi Ichigo tertarik dengan kata-kata terakhir dari wanita ini. Kalau percobaan ini gagal, wanita ini memutuskan tidak akan menemuinya lagi. Kesempatan bagus. Orang-orang hanya ingin melihatnya normal saja?

"Baiklah. 3 bulan. Kalau selama itu kau tidak bisa membuatku melupakan Yukia. Kau harus mundur."

"Aku tidak bisa sendirian. Kau juga harus berusaha. Aku sudah banyak meringankanmu bukan? Kali ini dengarkan syaratku."

"Syarat?"

"Kalau berhasil kau harus mencintaiku lebih banyak dari Yukia. kau hanya boleh memikirkan aku saja. Dan selama percobaan ini, kau tidak boleh berhubungan dengan wanita lain!"

"Itu'kan kalau berhasil."

"Pasti berhasil. Kurosaki Ichigo.

.

.

*KIN*

.

.

TBC...

.

.

saya sangat mengerti banyak senpai yang gak jelas sama cerita ini. judulnya sekuel ehh gak ada kuel-kuelnya sama sekali. wkwkwkwkw.

saya sebenarnya pengen membuat cerita tentang Ichigo yang begitu mencintai kekasihnya yang sudah meninggal dan Rukia yang berjuang untuk menyadarkan Ichigo. seperti itu deh... hohohoho

tapi ternyata banyak senpai tidak mengerti cerita saya T_T

sebenernya... ini gak tepat di sebut sekuel juga ya. soalnya pemeran utamanya malah diganti... ckckck.

mungkin untuk pemeran pembantu layaknya... Renji, Yumichika, Byakuya, dan lain-lain itu gak bakal diganti posisinya. senpai jangan terpengaruh kisah lama dong. kan emang niat awal Prickly Rose itu sama sekali nggak ada sekuel. ini fic mendadak yang tiba-tiba ada. maka jadilah ini.

Senna masih muncul dan tetap jadi adik Byakuya, walau sudah muncul adiknya yang asli. jadi statusnya Senna disini dia tetap jadi adiknya Byakuya tapi sebagai adik angkat. jadi Byakuya punya 2 adek deh... dan tentunya hubungan Senna dan Rukia tak mungkin baik'kan? saya tetap akan membuat Senna sebagai pemeran antagonis disini. habiss saya gak tahu siapa lagi yang cucok... hohoho

dan untuk yang perasaan Byakuya kok gak kaget, jelas dong... kan emang awalnya di Prickly Rose, Byakuya cuma punya adek 1. nah ini malah nongol lagi 1. kan jadi aneh. jadi... untuk ini... mending kita liatnya dari fic ini aja yaa... hohoho

pokoknya intinya kalo ada yang aneh dikit, jangan langsung dihubungkan sama Prickly Rose. sebab... gak mungkin nyambung. jadi anggep aja ini cerita baru dengan latar belakang Prickly Rose. kira-kira gitu. bingung gak? bingungkan! saya aja bingung. wkwkkw

ok deh. balas review.

Ame Kuroyuki : makasih udah review... heheh iya nih. soalnya kan nih cerita dadakan. jadi... yah agak aneh kali ya...

bintang : makasih udah review... iya nih heheeh namanya aja spontan. jadi... kira-kira gitu. Senna tetep ada. jadi tunggu aja kapan dia balik ya...

d3rin : makasih udah review... iya nih udah update. hohohoho namanya aja dadakan senpai. kan emang dibuat beda. kalo sama yah gak ada menariknya kan? iya deh... semoga sama yang ini gak sakit hati lagi yaaa

nenk rukiakate : makasih udah review.. *pelukpeluk* hehehe senengnya ada yang dukung begini. tapi jangan lama-lama ya? soalnya

Chadeschan : makasih udah review.. ternyata emang kasihan sama Ichigo. hohohoh jangan dong. Saya butuh si antagonis. kan gak seru gak ada antagonisnya. hohoho hmm soal reaksi Byakuya ya? kita kesampingkan aja itu. hahahah umur Ichigo kan 30 senpai. waktu Rukia lama mati, umurnya 27, jadi 3 tahun kemudian, 30 dong...

Zanpaku nee : makasih udah review... setuju senpai! cakep ya... saya sampe ngiler sendiri tuh bayangin ada gak yaa cowok secakep itu di dunia nyata. gak papa senpai. sayapun gak ngerti cerita apa ini. yang bisa saya katakan bahwa... cerita ini spontan. jadi sepertinya senpai bener. ini cerita baru dengan latar belakang Prickly Rose. gitu doang. kok... hohohoh

Voidy : makasih udah review.. wowhohohohoho senpai! saya juga gak ngerti. kayaknya bener deh ini cerita baru dengan latar belakang Prickly Rose. jadi jangan dikaitkan sama Prickly Rose-nya secara detail begitu. kan emang gak nyambung gitu... hohoho *seenaknya* saya tetap berharap fic ini masih mendapat perhatian dari senpai. *ngarep*

Purple and Blue muales login : makasih udah review.. iya emang aneh. saya juga gak banyak berharap sama fic ini. asal ada yang suka aja saya bersyukur. habisnya emang gak memuaskan dan serba memusingkan. jadi anggap aja nih fic baru. jadi gak salah kan? hohohoh

Dewi Anggara Manis : makasih udah review.. hehehe iya ya? saya emang author kejam. untungnya belum dijuluki gitu. hohohoh semoga yang ini bisa memulihkan shock anda yaa...

ichigo4rukia : makasih udah review.. iya hehehe. saya ganti image dulu. biasanya di fic saya Rukia-nya terkesan dingin. nah disini saya mau dia ceria. jadi bisa mencairkan suasana. kan Ichigonya saya buat dingin *batues*

Yukio Hisa : makasih udah review.. ok deh nih tak update.

mikan hyuuga : makasih udah review.. iya jadinya Byakuya punya 2 adek deh... ohohohoh

Farenheit July : makasih udah review.. hmmm. dari semua review yang di atas. juga dari penjelesan cerita, juga tambahan saya... apakah masih ada yang membingungkan. kalau ada. bisa pm saya atau review lagi... heheheh

ok deh masih ada yang nggak ngerti? kayaknya kali ini saya ceroboh banget bikin fic ya? hhehehehe

kalo yang masih bingung review aja. ntar pasti saya jelasin.

ok deh. saya butuh review senpai untuk cerita hancur ini. mohon bantuannya...

Jaa Nee!