.
.
.
'Manusia itu makhluk yang egois, yang hanya bisa menyiksa golongan yang lemah'
.
.
'Bukankah begitu?'
.
.
.
*Duaaak!*
Suara pukulan tangan itu mengalun merdu layaknya lagu pembawa tidur, ekspresi wajah yang terus berganti layaknya topeng, serta rasa sakit yang menyerang seakan menjadi makanan yang harus ia menjadi sarapan paginya – Sial! Ini sungguh sakit!
Pukulan kuat itu memaksa wajahnya untuk menoleh kearah samping sembari mengeluarkan liur dimulutnya, rambut pirangnya yang awalnya disisir rapi kini sudah acak-acakan, kacamata yang ia kenakan pun telah jatuh ketanah dengan lensa yang pecah
"Kau jangan hanya menerimanya saja Bangsat!"
*Buugh!*
Sekali lagi! Pukulan itu mengenai perutnya dengan telak, membuat matanya membulat sempurna dengan mulut yang terbuka mencoba meredam rasa sakit yang menjalar diperutnya – walau kenyataannya itu tak merubah apapun
"Ittee..."
Si penyiksa – Remaja berambut hitam itu menyeringai, entah kenapa ia terlihat sangat senang bisa menghajar pemuda pirang yang kini tengah dalam nasib sial itu
"Ayo! Lawan aku Anjing Liar!"
Uzumaki Naruto – remaja yang menjadi bahan siksaan itu tak kuasa untuk terus menahan rasa sakit yang menjalar disekujur tubuhnya, pukulan remaja berambut hitam itu kembali menghantam perutnya, wajahnya, pipinya berkali-kali hingga membuatnya tak tahan dengan takdir hidupnya yang kejam
Sial! Ini sungguh sakit sekali!
*Duaaag!*
Dan sebagai penghujung, remaja berambut hitam itu melakukan pukulan Uppercut yang mengenai dagu Naruto, hal itu membuat kepala remaja pirang yang malang itu langsung mengadah keatas secara paksa dengan tubuh yang terdorong kebelakang lalu jatuh terbaring dilantai
*Bruuk!*
"Mau kuhajar lagi sebelum aku pergi~?"
Ucapan remaja berambut hitam itu seakan menjadi kalimat Persuasif di telinga Naruto, sebuah pertanyaan bodoh yang tak mungkin orang akan menerimanya. Meskipun begitu, Naruto hanya tetap diam tak bergeming dan lebih memilih meringis merasakan sakit
Tangannya yang sedikit memar mencoba menghapus sedikit darah dari sudut bibirnya. Walau agak pedih, namun ia tetap menghapusnya secara paksa saat jemarinya tak sengaja mengenai luka lecet pada sudut bibirnya
"Tak ada jawaban Heh?"
Bunyi gemelutuk terdengar agak keras saat kedua tangan itu saling terkait, seringai diwajahnya yang agak Psycho pun mulai melebar, kaki kanannya melangkah kedepan dengan agak berat saat Naruto kini mencoba berdiri dari keadaannya yang sekarang
Yabai~! Ini keadaan yang buruk!
"Rasakan ini Bangsat!"
.
.
'Jadi, inikah takdir hidupku?
.
.
*Duaaakkk!*
Kedua mata birunya yang indah kini membulat sempurna dengan ekspresi yang mungkin sulit untuk digambarkan dengan sepatah kata. Meski kedua kakinya agak bergetar, ia tetap saja tak bisa bergerak saat melihat kejadian didepan matanya secara langsung
Terkejut Eh? Mungkin saja...
Pasalnya, remaja berambut hitam yang awalnya ingin menghajarnya dengan tangannya itu kini malah berbalik terpental kebelakang saat seseorang muncul secara tiba-tiba didepanya dengan tangan yang menghantam wajah remaja berambut hitam itu dengan kuatnya
"Kau tak apa Gaki?"
"Se-Sensei?"
Sang penanya memang tak memalingkan wajahnya kearah Naruto, namun yang pasti, Naruto sangat mengenal suara itu akhir-akhir ini. Suara yang sedikit mengandung rasa kekhawatiran disana dan entah kenapa itu membuat hati kosongnya menjadi sedikit lebih menghangat dari yang sebelumnya
"Cih!"
"Uchiha-sensei! Kenapa kau menggangguku Hah?!"
Si remaja berambut hitam itu mulai berdiri saat terjatuh akibat pukulan dari Madara yang mengenainya dengan telak tadi, ekspresinya mengeras saat guru baru itu mencoba menghalanginya dari Naruto – mungkin dia mencoba menyelamatkan Naruto?
"Hentikan ini Uzumaki Menma-kun, sekalipun kau menghajar pelajar yang dibelakangku ini, itu tak akan mengubah apapun!"
Ucapan Madara kini sedikit meninggi dengan nada yang tegas walau ekspresinya yang tetap saja datar, sedangkan Uzumaki Menma – remaja berambut hitam yang kini berdiri didepan Madara hanya bisa menggeram kesal
"Cih!"
"Jangan ikut campur urusanku Bangsat!"
.
.
'Lihatlah aku! Beginilah caranya bertarung!'
.
.
*Swuuush~!*
Pukulan kuat itu melayang kearah kepala Madara layaknya roket, namun tetap saja Madara diam tak bergeming dan lebih memilih menyunggingkan senyum simpul diwajahnya seolah tak gentar dengan apa yang kini mengincar wajahnya
Ini menarik! Bocah yang mudah emosi memang sangat menarik!
Dan saat sepersekian detik lagi kepalan tangan itu mengenai Madara, dengan cepat Madara memiringkan kepalanya – menghindari serangan Menma dan menangkap pergelangan tangan Menma dengan tangannya sendiri
"Kau tahu? Memukul seorang guru itu merupakan kesalahan besar~!"
Agak terkejut dengan wajah yang sedikit agak takut saat melihat seringai mengerikan Madara, tubuh Menma terangkat bebas ke udara saat Madara mengangkat lengannya keatas. Bahkan Naruto yang masih berdiri disana hanya bisa terdiam tanpa suara – terkejut dengan apa yang ditangkap dengan mata birunya saat ini
Ini diluar perkiraannya! Ia bahkan tak habis pikir bagaimana bisa pria paruh baya yang ia panggil Sensei itu bisa mengangkat tubuh Menma dengan mudah meski hanya memegang pergelangan tangannya saja?
.
.
'Ini Sensei kan?!
.
.
*Braaak!*
Kelopak matanya secara perlahan menutupi mata birunya yang indah, membiarkan penglihatannya gelap untuk sementara waktu saat suara bantingan itu terdengar jelas melalui gendang telinganya
Ia ingin melihatnya! Tapi entah kenapa ia tak bisa!
Pasalnya, saat ini Madara membanting tubuh Menma ke lantai dengan kuatnya hingga menghasilkan suara bantingan yang agak kuat, hal itupun membuat Menma mengerang kesakitan sambil memegang punggungnya yang amat sakit karena menjadi alasnya untuk menghantam lantai –
- Dan tentunya ia tak tega melihat hal itu terjadi, karena bagaimanapun Uzumaki Menma – remaja yang telah lama memBully-nya itu adalah adik kandungnya sendiri!
Kelopak matanya terbuka, menampikkan iris mata Blue-Saphire yangindah nan menawan bak sebuah berlian, sesaat setelah pandangannya tak lagi mengabur, matanya membulat saat kini Menma tengah terbaring telentang tak berdaya dilantai dengan Madara yang berdiri tegak disampingnya
Sekilas ada rasa senang saat melihat adiknya mendapat ganjaran atas apa yang ia perbuat. Rasakan itu! Mungkin dua patah kata itulah yang kini ada dikepalanya, senyum pun perlahan mengembang diwajahnya
"U-Uchiha-sensei!"
Ucapan Menma agak terbata, wajahnya yang meringis karena rasa sakit yang menjalar di punggungnya seolah ada sebuah tulang yang copot disana, mata birunya yang senada dengan milik Naruto menatap tajam wajah Madara yang kini berada diatasnya
"Apa? Apa kau masih mau menantangku?"
"..."
"Aku akan melaporkan kepada kepala sekolah atas apa yang telah kau lakukan padaku!"
Apa ini? Seorang Pembully bahkan mengadu kepada orang lain? Apa Bocah berambut hitam itu tidak malu dengan seorang remaja pirang yang kini menatapnya itu yang notabenenya adalah korban Bullying-nya sendiri?
Ayolah! Jangan membuat hal ini seperti sebuah lelucon!
Dasar! Remaja bernama Uzumaki Menma itu bodoh sekali! Apa mulutnya tak malu dengan tangannya yang terlalu sering memukul itu? Atau mungkin ia memang tak punya malu sehingga ia berani mempertaruhkan harga dirinya sendiri didepan korban Bullying-nya yang bahkan tak pernah memanggil Kepala Sekolah saat ia hajar habis-habisan?
Fuzakeru na!
Uchiha Madara – sosok guru baru yang berdiri disamping Menma hanya bisa tertawa lepas mendengar ancaman yang bahkan tidak terdengar seperti sebuah ancaman. Kelakuan bocah berambut hitam yang ia banting dengan tangannya sendiri ini terlalu labil!
Mengancam dengan membawa nama Kepala Sekolah katanya?Ia bahkan bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus mencampuri Kepala Sekolah kedalam masalah ini!
Lain Madara, lain juga dengan Naruto. Remaja berambut pirang itu hanya bisa berdiri terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Raut wajahnya pun menjadi datar – bingung mau berekspresi seperti apa saat melihat Madara yang tertawa dan Menma yang bahkan mengancam gurunya sendiri
Keadaan bodoh macam apa ini?
Madara lalu berjongkok disamping Menma, mata hitamnya menatap raut wajah Menma yang mengeras, senyum mengejekpun terpampang diwajah Madara saat jarinya menyentuh dahi Menma
"Kepala sekolah Huh? Jangan bercanda Bocah!"
*Plaaak!*
Iris mata Blue-Saphire miliknya yang senada dengan milik Naruto membulat sempurna saat Madara menampar pipi kanannya dengan sangat keras hingga memaksa kepalanya untuk menoleh kearah kiri. Menatap Madara dari ekor matanya, wajah Menma menjadi sangat terkejut saat iris mata hitam kelam milik Madara berganti dengan warna merah dengan tiga buah tomoe didalamnya
"Se-Sensei?!"
"Inoryoku :: Sharingan!"
Mata Menma membulat sempurna dengan iris mata yang tak lagi mendapatkan seberkas cahaya saat matanya berhadapan dengan iris mata Madara yang kini bersinar merah dengan tiga Tomoe yang terus berputar tanpa henti
Sementara Naruto yang sebelumnya berjalan kearah Madara terpaksa berhenti saat penglihatannya menangkap sosok Menma yang seperti dihipnotis oleh Madara – itu terbukti dengan mata Menma yang terus saja membulat sempurna sambil menatap mata Madara
Apa yang tengah Madara lakukan? Apa ia ahli Hipnotis?
.
.
.
'Ini Sensei kan? Ini benar-benar Sensei kan?!
.
.
.
'Tentu saja! Dia adalah Sensei! Guru Matematika-ku!'
.
.
.
::
::
::
::
::
::
::
::
::
:: [Stray Dogs!] ::
::
::
::
::
::
::
::
::
::
"Hei lihat~ bukankah dia si Pecundang itu?"
"Hee~? Apa yang terjadi padanya? Apa dia dihajar habis-habisan lagi?"
"Menyedihkan sekali~!"
"Dia tak pantas untuk berada disini!"
Ucapan pedas itu terlantun dengan cukup panas dari para siswa maupun siswi disana, sebuah kalimat pendek yang cukup membuat hati kosongnya seolah tertusuk jarum dengan sangat dalam, raut wajahnya menjadi datar dan pandangannya pun terus menatap ke lantai tak mampu untuk melihat para siswa maupun siswi yang kini tengah memperhatikannya dengan hina
Keadaan ini sungguh membuatnya kesal! Namun meskipun begitu ia tak bisa melakukan apapun!
Langkah kakinya yang berat terus saja berjalan tanpa henti. Mengabaikan hinaan yang terus diberikan padanya, terus mengabaikan para siswa maupun siswi yang kini menertawainya dengan hina –
- juga, mengabaikan rasa sakit disekujur tubuhnya tentunya!
Jika dia boleh jujur, ini semua masih terasa sedikit agak nyeri. Luka pada pipinya yang kini agak lebam, luka lecet pada dahinya yang memaksanya untuk memakai plester, tangan kirinya yang kini sedikit agak kaku dari biasanya, serta perutnya yang menjadi sasaran Menma tadi kini lumayan sakit
Dia benci hal seperti ini! Dia bukan seorang Masochist yang senang mendapatkan hal semacam ini!
"Lihat si Pecundang itu, Menyedihkan sekali~"
"Hahaha~"
Suara tawa yang lancang itu sangat menyakitkan dan memaksanya untuk menggoreskan luka baru pada hatinya yang kosong, kedua tangannya yang masuk kedalam saku celananya pun terkepal erat, meskipun begitu, matanya masih ragu untuk menatap lurus kedepan dan tetap senantiasa untuk memperhatikan lantai dibawahnya
"Hahaha~"
Senyumnya terlihat miring saat semua siswa maupun siswi yang kini ia lewati tertawa – menertawainya dengan hina, langkah kakinya yang melambat kini dipercepat, semua yang telah ia rasakan sungguh tak bisa ditahan lebih lama lagi
Dia benci semuanya! Siswa maupun siswi sama saja!
Dan lebih dari itu, Mereka semuanya adalah Bangsat dimata birunya!
.
.
.
'Biarkan saja mereka...'
.
.
.
Seuntai kata pengingat itu kembali berputar dikepala Naruto, ucapan Uchiha Madara yang ditujukan padanya kembali teringat saat guru baru itu merawatnya di ruang kesehatan sehabis dihajar secara habis-habisan oleh Menma dibelakang sekolah tadi
Benar! Apa yang dikatakan Sensei-nya adalah benar!
Dia hanya perlu melakukan sesuatu agar ia tak peduli dengan sekitarnya – tidak peduli dengan para Bangsat yang kini tengah menertawainya!
Terus melangkah tanpa henti dengan tempo yang sedikit dipercepat, mencoba mengabaikan serta mengacuhkan tawaan serta hinaan yang ditujukan padanya, hingga akhirnya ia sampai pada tangga menuju atap sekolah
Kakinya mulai melangkah menaiki tangga itu, satu persatu melangkahi anak tangga itu dengan pasti, pandangannya pun kini mulai menatap kedepan – kearah cahaya yang memantul dari pintu menuju atap sekolah itu, tangan kanannya pun mencoba menggapai knop pintu yang kini berada didepannya
*Ckleeek...*
"..."
"Aku sudah menunggumu, Gaki"
Matanya menyipit – mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk terlalu banyak kedalam matanya, membuat iris matanya yang biru indah kini terlihat menawan dengan pantulan cahaya yang indah. Dari pandangan matanya, ia menangkap sesosok pria paruh baya dalam balutan seragam khas guru sekolah yang berdiri di pinggir dinding pembatas
"Sensei..."
Senyum diwajahnya mengembang saat melihat sosok yang ia panggil dengan sebutan Sensei itu seolah lupa pada hal yang baru saja terjadi. Langkah kakinya mulai melaju mendekati sosok pria paruh baya yang kini berdiri dipinggir dinding pembatas itu
Hatinya yang kosong serasa diisi dengan sebuah bagian yang kecil, Apa Ini? Apa dia merindukan hal semacam ini?
Tentu! Karena pada dasarnya, Dia adalah seekor Anjing Liar yang bahkan dibuang oleh Keluarganya sendiri!
Menyedihkan Bukan?
.
.
.
'Terkadang aku berpikir...'
.
.
.
'Apa aku boleh hidup lebih lama didunia ini? Banyak yang tidak suka padaku. Jadi jika mungkin aku mati nanti, banyak orang yang tertawa senang dengan kepergianku'
.
.
.
'Aku tahu itu terlalu hina, tapi kupikir selama orang lain senang karena aku pergi. Aku mungkin memilih pergi'
.
.
.
"Jangan berpikir begitu, Gaki!"
Dengan cepat kepalanya menoleh kearah sebelah kirinya, matanya masih setia menatap sosok Madara yang kini berada disebelahnya, tak peduli dengan angin yang berdesir kencang memainkan surai pirangnya
Entah kenapa kini Naruto sedikit penasaran dengan Madara yang berdiri disebelahnya, iris mata hitamnya yang menatap kedepan dengan sangat dalam, rambut panjang berwarna hitam yang bergoyang saat sang angin memainkannya, tubuhnya yang tegak serta berisi. Semua itu membuat Naruto berpikir dengan cukup keras
Ini semua terasa tidak adil, pikirnya...
Kebanyakan orang diberi nasib dengan sangat bagus. Masa remaja yang menyenangkan dan bebas berteman dengan siapa saja, hidup yang bergelimangan harta dengan banyak orang yang mengelilinginya, serta kasih sayang keluarga dan kedua orang tua yang tak ada habisnya seolah sudah menjadi asupan nutrisi setiap hari
Tapi itu sungguh sangat berbanding terbalik dengan Uzumaki Naruto – seorang remaja yang berdiri dipinggir pagar pembatas diatap bersama Uchiha Madara itu. Nasibnya bisa dibilang buruk – sangat buruk
Masa remajanya saja sudah bisa dibilang rusak dengan menjadi korban Bullying yang terjadi padanya serta hinaan kejam yang selalu dihantarkan pada dirinya, dia yakin kebanyakan remaja sepantarannya tak pernah merasakan hal sepertinya -
- Dia sangat yakin akan hal itu!
Hidup bergelimangan harta? Ayolah! Itu sangat mustahil baginya, dia saja kini tinggal disebuah apartemen yang bisa dibilang kecil. Ia sudah dipaksa untuk menjadi sosok yang mandiri diumurnya yang belum sepantasnya untuk tinggal sendirian
Dan...
Kasih sayang Keluarga?
Yang benar saja! Dia saja diusir oleh Keluarganya sendiri!
Kalimat semacam itu tak pantas untuk dirinya yang seorang Anjing Liar!
*Pluuk!*
Matanya tertutup sebelah saat tangan besar Madara menggapai pucuk kepalanya. Mengacak pelan surai pirang tajam miliknya, Madara lalu tersenyum simpul padanya seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan untuknya
Ini terasa nyaman untuknya. Karena sejak dulu, ia tak pernah diperlakukan seperti ini...
"Gaki, mungkin kau tak akan percaya padaku, tapi dengarkan aku-"
"-Berhentilah berpikir hal yang menyedihkan, itu tidak akan menyelesaikan apapun"
"..."
"Sekarang, diluar sana akan banyak Makhluk yang mengincarmu. Mereka bukan menginginkan apa yang ada disekitarmu, tapi mereka menginginkan apa yang ada pada dirimu"
"Se-Sensei?"
Sungguh, dia benar-benar bingung apa yang ingin disampaikan Madara padanya. Semua kalimat yang terucap dimulutnya serasa membuat kepalanya pusing, ia benar-benar tak mengerti apa yang dikatakan Madara. Meskipun begitu, ia tetap senantiasa menunggu Madar kembali bersuara
"Mereka lebih kejam daripada yang terjadi padamu disekolah ini jika kau ingin tahu-"
"-Jadi maksudku, berhentilah menerima takdir dengan berdiam diri seolah hidupmu tak berguna sama sekali, Cobalah untuk Melawan!"
Kalimat itu kembali terucap, mengingatkannya akan hal kemarin yang terjadi padanya. Sebuah Tragedi yang memaksanya untuk melawan dengan semua kekuatannya, dan hasilnya? Mungkin ia membuat lawannya sekarat dengan apa yang ada pada dirinya
Kalimat itu kembali berputar dikepala Naruto layaknya kaset rusak, sepotong kalimat yang membuatnya berani bangun dari nasib yang memaksanya untuk berada dibawah, sebuah Kata penyemangat yang membuat semua luka lama dalam hatinya seolah terobati
"Lawanlah dengan kekuatanmu, Naruto!"
"Kau tidak akan pernah berubah jika kau sendiri tak mau berubah dengan apa yang ada di dalam dirimu, Naruto!"
Senyum Madara membuat mata birunya yang indah – dengan pantulan sinar matahari yang masuk kedalamnya menjadi bulat sempurna, bibirnya bergetar dengan mata yang sedikit terlihat berkaca-kaca
Apa ini?
Apa ia menangis?
.
.
.
'Sensei...'
.
.
.
'Aku beruntung bertemu dengan orang sepertimu!'
.
.
.
"Arigatou, Sensei..."
Ucapan terima kasih itu keluar dari bibir Naruto yang bergetar dengan nada yang agak sedikit parau, tangannya mencoba menghapus air matanya yang turun dari ekor matanya, kepalanya menunduk seolah tak ingin guru nya itu mengetahui bahwa ia kini sedang menangis
"Douitta, sebaiknya kau menuju ke kelas sana, aku hanya tak ingin berurusan dengan Fukuhara-sensei yang mengajar dikelasmu nanti hanya karena aku membawamu ke atap sekolah dan menjadi teman ngobrolku, kudengar dia itu sangat galak~"
Naruto hanya mengangguk lemah saat gurunya itu menyuruhnya untuk pergi undur diri pada Madara, langkah kakinya yang kini terasa ringan mulai berjalan meninggalkan sosok Madara yang sendirian disana diterpa angin yang berdesir lumayan kencang
"..."
Menatap Naruto yang kini mulai menjauh dan menghilang dalam pandangannya, membuat Madara tersenyum senang. Matanya yang sempat melirik kearah Naruto sebelum pergi kini kembali menatap kedepan – jauh entah apa yang saat ini ia pandang
.
.
.
'Sungguh menarik! Aku jadi penasaran bagaimana kedepannya!'
::
::
::
::
Matahari kini mulai condong kearah barat, menghasilkan langit berwarna oranye yang indah dan sedikit mengandung unsur Romansa yang manis. Awan-awan yang bergerak pelan seakan menjadi Background dari indahnya dunia ini
Dunia itu indah kan?
Iya Kan?
Jauh di sebuah gang sana, terlihat seorang remaja culun berambut pirang dengan kacamata yang bertengger di batang hidungnya yang kini tengah berjalan santai dengan tangan yang menenteng sebuah tas sekolah, pandangan matanya pun tak lepas pada jalan yang kini ia langkahi dengan pelan
*Drap... Drap...*
Suara pantulan langkah kaki berbalut sepatu itu terdengar memantul disana seolah tak ada seorang pun selain dirinya, hatinya yang sebelumnya agak mengeras saat sepulang sekolah tadi kini mulai mencair, kepalan tangannya pun mulai melemas dan memilih mencoba menenangkan diri
.
.
'Pecundang~'
.
'Menyedihkan sekali~!'
.
.
Sial! Dia benar-benar kesal saat kembali teringat ejekan para siswi saat ia pulang dari sekolah tadi, itu terasa agak menyakitkan dan membuatnya hina dimata orang lain
Ayolah! Apa mereka tidak puas hanya dengan mengejeknya saja?!
Atau mungkin Naruto harus mengakui dirinya sebagai pecundang agar mereka puas?!
Oke! Aku seorang pecundang dan aku sangat menyedihkan! Mungkin itulah isi batin Naruto saat langkah kakinya terus berjalan dengan mata yang masih setia dengan jalan dibawahnya
"Ta-Tasukete!"
Secara tiba-tiba kepalanya mendongak kedepan dengan ekspresi terkejut saat telinganya samar-samar mendengar suara seorang gadis yang tengah meminta tolong. Awalnya Naruto agak bingung apa yang didengarnya ini sungguhan atau bukan, namun...
"Dareka! Tasukete!"
Tak peduli lagi dengan otaknya yang berpikir asli atau bukan, langkah kaki Naruto mulai melebar – berlari menuju asal suara dengan harapan ia bisa menolong seorang gadis yang sedari tadi meminta pertolongan itu
Sesampainya di tempat suara itu berasal, matanya membulat sempurna...
Yah, bagaimana tidak? Saat ini didepan matanya terlihat seorang gadis berambut coklat dengan seragam sekolah yang sama dengan milik Naruto tengah dikelilingi dua orang laki-laki dewasa – menarik-narik baju gadis itu seolah mereka ingin memperkosanya
Keadaan apa ini? Apa ia harus menolongnya? Atau melenggang pergi seolah tak terjadi apa-apa?
Persetan dengan pikirannya! Dia harus menolong gadis berambut coklat itu!
.
.
.
'Aku ini lemah...'
.
.
'Namun jika aku memang tidak berusaha...'
.
.
'Aku tidak akan pernah berubah!'
.
.
.
*Duaaaagg!*
Salah satu laki-laki dewasa itu tumbang dengan terpaksa terjerembab kelantai sambil memegang kepalanya yang kesakitan sesaat setelah Naruto menghantamnya dengan balok kayu yang sebelumnya ia ambil di sudut gang
Tunggu dulu?! Bukankah itu sama saja pengecut jika ia menyerangnya dari belakang?!
Siapa peduli! Yang saat ini Naruto pedulikan hanyalah keselamatan gadis itu!
"Hei!"
Laki-laki dewasa yang satunya lagi langsung menoleh kebelakang saat temannya terjatuh kelantai tanpa alasan yang jelas, matanya menajam saat menangkap seorang remaja culun yang kini tengah memegang balok kayu
"K-Kisama!"
.
.
'Sudah kuduga bertarung dengan memakai senjata itu tidak seru!'
.
.
Sebuah kepingan ingatan tentang ucapan seorang preman yang kemarin menyiksanya disebuah gang kembali masuk kedalam pikirannya. Senyum simpul terpajang indah diwajahnya yang memaksanya untuk melepaskan genggamannya pada balok kayu itu
Tatapannya menyipit saat laki-laki dewasa itu kini berlari kearahnya dengan amarah yang tak terkendali, tangannya yang mengepal erat sudah ia siapkan untuk dihantamkan ke kepala Naruto
.
.
'Aku akan menyelamatkannya!'
.
.
'Apapun yang terjadi!'
.
.
"Inoryoku :: Rashoumon!"
*Swuuuush!*
Berteriak dengan lantang, aura disekitar Naruto langsung menguar dengan hebatnya saat bayangan hitam mulai mengelilingnya, hal itu membuat laki-laki tadi berhenti dengan mata yang menatap Naruto terkejut
*Sriiiiing!*
Dari bayangan yang masih berbentuk abstrak itu, terbentuklah sebuah jarum hitam yang tajam dan mengarah ke laki-laki dewasa tadi – yang kini berkeringat dingin dengan ekspresi yang ketakutan saat jarum hitam itu kini tinggal lima inchi dari kepalanya
"Tinggalkan tempat ini dan lepaskan gadis itu!"
Ucapan Naruto yang terdengar sedikit agak berat terdengar seperti sebuah perintah bagi laki-laki dewasa itu, hal itu langsung membuatnya menganggukkan kepalanya dan berlari kearah temannya yang terbaring tak sadarkan diri dan membawanya pergi
Apa ini? Dua orang laki-laki mesum yang tidak jadi memperkosa korbannya?
Menjijikkan sekali!
Jarum hitam itu pecah dan menjadi bayangan hitam dan seluruh bayangan hitam itu kembali ke tubuh Naruto, tatapannya beralih kearah gadis yang ia selamatkan tadi, namun saat ia melihatnya, gadis itu sudah tak lagi ada
Apa dia sudah pergi?
*Swuuuuuush!*
Belum sempa untuk menghirup udara segar setelah berhasil menyelamatkan seorang gadis yang hampir menjadi korban pemerkosaan, Naruto kembali dikejutkan dengan langit yang awalnya berwarna oranye khas langit sore kini berganti menjadi Ungu yang terlihat sangat aneh dimata birunya, dan lebih dari itu...
'Sriiiing!'
Sesosok Manusia bersayap hitam muncul dari sebuah lingkaran dengan simbol-simbol yang aneh didalamnya, hal itu membuat Naruto terkejut sekaligus bingung
Yang tadi itu apa? Apa itu lingkaran sihir?
"Tak kusangka aku akan bertemu dengan sesuatu yang berharga disini!"
Datenshi – sesosok Manusia bersayap yang dipikirkan Naruto itu mulai bersuara lantang dengan ekspresi wajah yang terlihat misterius. Masih melayang diudara dengan pakaiannya yang tidak terlalu mencolok. Satu set pakaian yang seperti seorang detektif serta topi pandora-nya yang unik
"Siapa kau?"
Naruto yang sedari tadi terdiam memperhatikan Datenshi itu kini mulai mengeluarkan suaranya – memberikan pertanyaan pada Datenshi itu. Meski ia agak takut saat melihat makhluk yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, namun itu tak membuatnya gentar sedikitpun
Datenshi itu tertawa pelan saat Naruto dengan lancangnya menanyakan siapa dirinya tanpa memberi tahu dulu siapa dirinya sendiri. Kedua tangannya merentang bebas dengan sedikit konsentrasi, seringai wajahnya terlihat dibalik topi yang menutupi wajahnya saat di kedua tangannya muncul tombak suci berwarna putih terang
"Kau tidak perlu tahu, karena aku akan menangkapmu disini-"
"-Manusia Spesial!"
::
::
::
"Jadi? Mereka tertarik dengan Naruto ya?"
Terlihat seorang pria paruh baya yang kini duduk bersembunyi ditempat yang aman, mata hitamnya masih setia menatap sosok Datenshi dan Naruto disana, seringainya muncul diwajahnya saat sebuah ide masuk kedalam otaknya
Ide? Atau mungkin sebuah Rencana?
*Kraup!*
Menggigit kecil apel merah yang berada ditanganya, pria itu lalu membuangnya sembarang arah seolah ia tak membutuhkannya lagi, ia pun berdiri tegak namun masih bersembunyi ditempatnya
"Heh~ dasar Bocah yang merepotkan-"
"-Meskipun begitu, aku akan membantunya sedikit..."
.
.
.
'Akan kutunjukkan pada mereka...'
.
.
'Bahwa mereka tak bisa mengambilnya tanpa seizinku!'
.
.
'Dan takkan kubiarkan mereka mengambilnya dariku!'
.
.
.
::
::
::
::
*Syuuut!*
Remaja pirang itu melompat dari tempat ia berdiri sebelumnya saat Holy Spear itu melesat dan mengarah kearahnya, mata birunya masih menatap tajam sosok yang kini tengah melayang diudara dengan tangan yang menggenggam Holy Spear
"Ayolah Manusia! Jangan terus menghindar saja!"
Ucap Datenshi itu yang kini mulai bosan, pandangannya masih menatap Naruto yang melompat-lompat menghindari lemparan Holy Spear miliknya
Beralih ke Naruto, saat ini ia tengah melompat keatas udara saat lemparan Holy Spear itu mengarah kearahnya. Melihat celah yang menggiurkan, membuat Datenshi itu menyeringai dengan Holy Spear yang telah muncul digenggamannya
"Rasakan ini Manusia!"
Naruto terkejut saat Holy Spear itu melesat cepat kearahnya. Tak ingin mati dengan cepat, Naruto mencoba mengeluarkan kembali kekuatan yang sebelumnya masuk kedalam dirinya
*Syuuut!*
Datenshi itu mendadak kaget saat muncul bayangan hitam dari belakang Naruto yang membentuk sebuah garis panjang dan melilit Holy Spear yang melesat kearah Naruto, lilitan pada Holy Spear itu semakin kuat hingga membuat tombak suci itu pecah menjadi unsur cahaya
Melihat serangannya gagal total, membuat Datenshi itu menggeretakkan giginya – kesal karena serangannya sendiri. Mencoba merentangkan kedua tangannya dan berkonsentrasi, muncul masing-masing dua Holy Spear di kedua sisi tangan Datenshi itu yang siap ia luncurkan kearah Naruto
"Sekarang saatnya aku mengalahkanmu!"
Mata birunya membulat sempurna saat keempat Holy Spear itu menyatu dan menjadi besar lalu melesat kearahnya, kekuatannya yang masih belum bisa ia kendalikan serta pergerakannya yang terbatas mengingat ia masih berada diudara membuatnya agak putus asa, matanya pun terpejam seolah tak ada harapan lagi bagi dirinya
Jadi, seekor Anjing Liar akan mati seperti ini kah?
.
.
.
'Inoryoku :: Ningen Shikkaku!'
.
.
.
"Yosh! Semuanya berakhir Datenshi-san~!"
Lagi - atau mungkin untuk yang kesekian kalinya Naruto mendengar suara yang sangat ia kenal, yaitu suara si guru Matematika-nya, Uchiha Madara yang bercita-cita untuk bisa bunuh diri
Kadang Naruto berpikir...
Kenapa Gurunya ini bisa datang disaat yang tepat?
Ah! Dia belum bisa bertanya hal seperti itu sekarang!
Perlahan membuka kelopak matanya, Naruto mendadak terkejut saat tangan Madara yang terjulur kedepan menyentuh Holy Spear milik sang Datenshi. Namun yang membuatnya terkejut bukanlah apa yang dilakukan Madara terhadapnya, namun apa yang terjadi pada Holy Spear yang menyentuh telapak tangan Madara!
*Pyaaar!*
Wajah Datenshi itu mengeras melihat serangannya – Holy Spear miliknya pecah menjadi serpihan cahaya yang tak berguna sesaat setelah menyentuh tangan Madara. hal itu membuatnya berpikir dengan keras
Siapa dia?
Atau mungkin...
Dia semacam dengan orang yang menjadi Targetnya?!
.
.
"Kau lengah Datenshi-san!"
"Ti-Tidak mungkin?!"
Wajah Datenshi itu mendadak berkeringat dingin dengan ekspresi kaget saat Madara secara tiba-tiba sudah berada didepannya dengan tangan yang menggenggam sebuah pisau kecil yang siap dihunuskan kearahnya
Meskipun nyawanya kini berada diujung tanduk, Datenshi itu masih sempat berpikir bagaimana Manusia didepannya ini melesat cepat kearahnya?
*Braak!*
Beberapa detik sebelum pisau tajam Madara menancap di dada kiri – tepat dibagian jantungnya, Datenshi itu menoleh kearah suara hantaman tadi, matanya agak melebar saat menangkap sosok Naruto yang menghantam jalan dengan kuatnya
'Jadi, dia membuat Bocah Spesial itu untuk menjadi pijakannya heh? Dasar Manusia!' Batin Datenshi itu sebelum pisau Madara benar-benar menusuk dada kirinya
"Inilah yang terjadi jika kau mencoba mengambilnya dariku!, dan-"
"-Sampaikan salamku pada Shinigami-sama disana, Datenshi!"
*Jleeeb!*
::
::
::
::
"Uhuk!"
Terduduk di pinggir gang, ia terbatuk pelan dengan tangan yang menutupi mulutnya. Punggungnya yang menjadi hantaman jalan masihlah terasa sakit namun meskipun begitu ia tetap menyandarkan punggungnya pada dinding gang itu
Suasana kembali hening, langit yang berwarna ungu pun tergantikan dengan Oranye yang indah, sang angin pun berdesir seperti biasanya...
"Ayolah Gaki, apa kau sebegitu lemahnya hanya karena menghantam jalan?"
Matanya menajam saat sosok guru matematikanya – Uchiha Madara yang kini tengah berjongkok didepannya berbicara padanya. Entah kenapa ekspresi Madara yang seolah tak bersalah membuatnya sedikit agak kesal
Ayolah! Dia tadi dipaksa menjadi pijakan kaki Madara hingga membuatnya menghantam lantai dengan kuat karena tekanan kaki Madara sendiri!
Ini sih namanya penyiksaan terhadap siswa!
"Lemah katamu?! Ini semua salahmu Sensei!"
"Hah?! Kenapa aku yang disalahkan?!"
Naruto mencoba meredam kekesalannya pada guru sableng didepannya ini, meskipun tetap saja perempatan muncul dipelipisnya yang mulai berkerut saat Madara masih saja menyangkal bahwa dirinya tak bersalah
Suasana kembali hening – Naruto yang sibuk memikirkan bagaimana keadaan gadis yang ia selamatkan tadi, sedangkan Madara hanya mendongakkan kepalanya keatas menatap langit oranye yang indah
"Ne Sensei, ngomong-ngomong yang tadi itu apa?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku yang manusia bersayap hitam tadi"
Tersenyum simpul saat memandang raut wajah penasaran Naruto, membuat Madara kini bergerak sedikit menuju sisi Naruto dan bersandar di dinding gang itu, kepalanya mengadah keatas sambil menatap langit
"..."
"Kau tahu Gaki? Hidup di dunia ini tak seindah yang dipikirkan banyak orang..."
"Ano Sensei? Aku tak mengerti"
Memejamkan matanya, Madara lalu menoleh kearah Naruto, tangan besarnya mencoba menggapai pucuk kepala Naruto sembari mengelusnya pelan
"Yang tadi adalah Datenshi"
"Da-Datenshi?!"
"Ya, Datenshi, selain itu ada juga yang lain seperti Akuma, Tenshi, Youkai dan yang lainnya"
Naruto awalnya tidak percaya apa dikatakan Madara, namun saat melihat sorot matanya, entah kenapa ia merasa percaya apa yang dikatakan guru matematikanya itu
"Mulai sekarang hidupmu akan terasa agak sulit dari yang sebelumnya Gaki..."
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud Sensei"
"..."
"Kau tidak akan mengerti apa yang kumaksud, tapi ingatlah! Cobalah untuk merubah hidupmu Gaki, Dan Ubah Takdir yang mengikatmu"
*Swuuuush!*
Angin berdesir cukup kuat saat Madara mengakhiri kalimatnya yangmembuat Naruto terkejut hingga membulatkan matanya lebar, melepaskan tangannya dari pucuk kepala Naruto, Madara lalu berdiri tegak dan mengajak Naruto untuk pulang – pergi dari tempat ini
"A-Arigatou, Sensei"
"Hn..."
.
.
.
"Ne Sensei, ngomong-ngomong kau dapat pisau tadi darimana?"
"Oh itu! Aku membelinya di toko serba 100 yen! Murah bukan?"
"Apa peduliku?"
::
::
::
::
:: [Stray Dogs!] ::
::
::
::
::
- [Another Place]
"Jadi, kabar apa yang kau bawa kali ini? Jarang sekali kau mengunjungiku"
Pria paruh baya itu menoleh kebelakang saat merasakan kehadiran sosok lain dibelakangnya, matanya tertuju pada remaja yang kini muncul dibalik lingkaran sihir yang berada dibawah telapak kakinya
"Yah, aku hanya ingin mengatakan bahwa Dia telah kembali muncul, dan kulihat ia menyelamatkan seorang Bocah yang diserang oleh bawahanmu"
Pria itu tersenyum simpul saat mendapatkan kabar yang bagus dari remaja yang ada dibelakangnya. Mencoba berdiri dari posisinya yang sekarang, pria berpakaian yukata hitam itu lalu melenggang pergi meninggalkan remaja itu yang kini hanya menatapinya dengan tatapan datar
"Arigatou ne, kau memberikan info yang bagus!"
"Benarkah? Kupikir awalnya kau tidak tertarik..."
"Awalnya, tapi pada akhirnya aku tertarik juga. Aku hanya ingin mengetahui lebih dalam tentang Manusia Anti-Sihir itu"
"Begitukah? Baiklah, aku pergi dulu"
Tepat setelah menyelesaikan ucapannya, remaja itu lalu pergi – terbang menggunakan sepasang sayap biru dipunggungnnya
.
.
.
'Anti-Sihir Huh?'
.
'Sepertinya menarik!'
::
::
::
::
- [Next Day]
Hari kembali berganti menjadi pagi yang indah – seperti biasanya, terlihat banyak orang yang berlalu lalang di trotoar jalan dengan tujuan tertentu, serta semangat pagi yang terlihat disemua wajah siswa dan siswi yang ada di Kuoh Academy ini
Kuoh Academy, Nama yang cukup simpel untuk sekolah tingkat atas. Dahulu merupakan sekolah yang hanya dikhususkan untuk kaum perempuan saja atau dengan kata lain yaitu sekolah khusus perempuan, namun entah kenapa beberapa tahun terakhir sekolah ini berubah menjadi sekolah umum – yang berarti memperbolekan remaja laki-laki untuk mendaftar dan masuk sebagai siswa didalamnya
Yah, bisa dibilang populasi siswa laki-laki disini masih minim, jadi mereka – laki-laki yang mendaftar dan masuk kedalam sekolah ini bisa diterima dengan mudah, dan tentunya akan membuat mereka bahagia karena bisa dikelilingi para siswi yang lebih mendominasi
Kau tahu kan istilah Harem? Kau mungkin bisa membuatnya disekolah bernama Kuoh Academy ini!
Meskipun begitu, itu hanya berlaku bagi mereka siswa yang populer karena kepintarannya, atau ketampanannya, atau mungkin karena pintar bersosialisasi?
Dan semua itu berbanding terbalik untuk pecundang disekolah ini, mereka hanya akan dipandang hina entah itu dari tatapan mata siswa maupun siswi
Yang artinya, siswa dan siswi sama saja!
Begitu juga dengan seorang remaja berambut pirang yang tengah berjalan masuk kedalam lingkungan sekolah bernama Kuoh Academy ini. Rambutnya yang disisir rapi serta kacamata yang bertengger dibatang hidungnya serta penampilannya yang culun menjadi tatapan sinis bagi para siswa dan siswi disana
"Hei! bukankah itu si pecundang tak berguna itu?"
"Kudengar kemarin ia dihajar habis-habisan oleh anak kelas lain"
"Hee? Serius?!"
"Entah kenapa setiap hari aku selalu melihatnya, itu membuatku jijik!"
Uzumaki Naruto – nama pemuda yang kini tengah dihina habis-habisan itu. Langkah kakinya yang agak berat terus saja berjalan dengan wajah yang menunduk seolah tak berani memandang para siswa maupu siswi yang berada disekitarnya, tangannya pun mengerat pada tas yang ia bawa
"Si pecundang itu! Mataku menjadi sakit melihatnya!"
"ara ara, tidakkah kau terlalu kasar? Dia memang culun dan terlihat seperti pecundang sih, tapi kupikir kau cocok dengannya!"
"Apa katamu?! Aku tak sudi berpasangan dengan siswa hina sepertinya!"
"ara ara, kupikir kau akan menerimanya, dengan begitu kau bisa menyiksanya bukan?"
"Haha~ kau berlebihan!"
Ini benar-benar sakit sekali! Ucapan para siswi bangsat itu membuat hatinya serasa disiram air panas yang baru saja mendidih
Meski wajahnya menunduk, sekilas Naruto melirikkan matanya pada para siswa yang tengah mengejeknya dengan hina tadi. Meski agak terkejut, Naruto kembali menatap kebawah dan terus saja berjalan mengabaikan siswi yang ia tatap tadi
Rias Gremory kah? Dia memang populer sih. Dengan kecantikan yang luar biasa serta tubuh indah dengan dada yang mungkin berukuran D-Cup membuatnya cukup terkenal dengan julukan yang diberikan para siswa maupun siswi kepadanya yaitu Great Onee-sama
Dia juga terkenal dengan sifatnya yang lembut pada semua siswa maupun siswi, karena itulah para siswa mengaguminya bukan hanya karena dadanya saja yang besar
Tapi apakah memang begitu?
Bagi Naruto itu hanya omong kosong belaka
Sifat lembut katanya? Ayolah! Bahkan tadi dirinya tengah dihina sebegitu rendahnya oleh gadis yang mendapatkan julukan Great Onee-sama itu. Menyadari hal itu saja membuat rasa kagum serta rasa hormat Naruto pada gadis itu hilang begitu saja
Begitu juga dengan gadis manis berambut raven yang diikat ponytail tepat disebelah Rias Gremory yang Naruto ketahui namanya adalah Himejima Akeno. Meski Naruto tak terlalu mengenal dirinya, tapi tetap saja ejekannya membuat telinga Naruto panas mendengarnya!
*Deg!*
Mendengar ejekan para siswa dan siswi membuat Naruto mati-matian memendam rasa kesalnya, wajahnya terus menunduk dengan tangan terkepal erat, hingga secara tak sengaja ia mengeluarkan kekuatannya berupa bayangan hitam yang muncul dari bayangan dirinya sendiri – yah, meski itu terlihat kecil dan terlihat samar
*Pluk!*
Bayangan hitam itu perlahan menghilang sesaat setelah bahu Naruto dipegang oleh seesorang, hal itu memaksanya untuk memutar kepalanya kesamping – menatap siapa yang memegang bahunya saat ini. Hatinya yang dipenuhi rasa kesal perlahan mencair seraya senyum yang terukir diwajahnya saat pandangan matanya mendapati sosok Senseinya yang ia kagumi
"Sensei..."
Uchiha Madara – sesosok guru yang dikagumi oleh Naruto itu mulai mencoba mengukir senyum lembut pada muridnya itu. Tangannya yang memegang bahunya pun berpindah ke kepala Naruto seraya mengelus lembut
"Kau kesal bukan?"
"Ha'i Sensei, kedo..."
"Kalau begitu sabarlah, aku mengerti perasaanmu itu..."
"Se-Sensei..."
.
.
.
'Dahulu aku berpikir bahwa tak ada seorangpun yang mengerti perasaanku'
.
'Tapi saat Sensei berkata seperti itu...'
.
'Entah kenapa aku sedikit lebih bahagia sekarang!'
::
::
Sesaat setelah Naruto dan Madara melenggang pergi serta para siswa maupun siswi yang menghina Naruto mulai bubar, tinggal menyisakan dua sosok gadis yang masih berdiri tegak disana dengan ekspresi yang cukup terkejut – mereka berdua adalah Rias Gremory dan Himejima Akeno
"A-Akeno, kau merasakannya tadi kan?!"
"Ha'i Buchou, aku merasakannya tadi, meski agak samar tapi itu terasa mengerikan.."
Ucap Akeno dengan ekpresi yang agak terkejut. Begitu juga dengan Rias yang masih terkejut dengan pandangan mata yang mengarah ke Naruto dan Madara yang telah pergi masuk kedalam gedung sekolah
"Akeno, sebaiknya kau selidiki dia, aku mempunyai rencana!"
"Ha'i Buchou!"
.
.
.
'Siapa dia sebenarnya?'
.
.
.
::
::
::
::
- [Skip Time]
Semilir angin sejuk menerpa kulit – terasa begitu sejuk seolah mengajak untuk pergi kedalam mimpi yang tak berarti, cahaya yang masuk melalui jendela kaca terlihat sangat cerah dan agak sedikit hangat
*Swuush...*
Desiran Angin menerpa rambut pirangnya yang tajam hingga bergoyang pelan, mata birunya menatap fokus buku yang kini ia baca, jemari tangan kanannya mencoba membuka lembaran buku itu ke lembaran yang baru
Meski suara bising dari seluruh siswa yang ada dikelasnya sedikit agak mengganggu konsentrasinya, matanya tetap saja tertuju pada lembaran buku itu dan terus membaca tiap kalimat disana seolah tak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya –
– Yah, dia memang tidak peduli, karena orang-orang pun tak ada yang peduli dengannya...
"Hei! Lihat!"
"Eh? Bukankah dia adiknya Hinata-sama?!"
"Maji? Apa benar dia adalah adiknya?"
"Lihatlah! Dia kesini!"
Bisikan heboh teman – ralat, siswa sekelasnya yang tengah mengamati lorong sekolah melalui jendela membuat konsentrasinya agak buyar. Ada niatan untuk melihat apa yang tengah dibicarakan oleh para siswa itu, namun ia membatalkan niatnya saat Light Novel yang ia baca kini tengah memasuki adegan yang menarik
*Sraaak!*
Pintu kelas itu terbuka lebar, menampilkan seorang gadis remaja berambut Dark-Brown panjang yang dibiarkan tergerai bebas, kulit putihnya yang bersih dalam balutan seragam sekolah Kuoh membuat aura kecantikannya menguar dan menarik perhatian seluruh siswa dikelas itu, iris matanya kini terpaku pada seorang remaja pirang duduk dipojok belakang – tengah asik membaca Light Novel digenggaman tangannya
*Tap... Tap...*
Langkah kakinya terdengar keras dalam keheningan disana membuat keadaannya sedikit agak kaku dari yang sebelumnya. Dan lebih dari semua itu, seluruh siswa dikelas itu terkejut saat gadis itu kini berjalan dan berdiri didepan seorang pelajar yang biasa mereka sebut sebagai Pecundang tak berguna
"Anoo..."
Uzumaki Naruto – seorang siswa berambut pirang yang biasa disebut Pecundang itu mendongakkan kepalanya mengalihkan perhatiannya dari Light Novel yang sedari tadi dibacanya. Agak sedikit terkejut saat didepannya kini seorang gadis menatapnya dengan tatapan lembut
"K-Kau Hyuuga Hanabi-san kan? A-ada perlu apa denganku?"
Ucap Naruto dengan sedikit agak gugup, pasalnya gadis yang berdiri didepannya ini adalah seorang gadis yang lumayan terkenal disekolahnya meski dia masih ditahun pertama, gadis yang bernama Hyuuga Hanabi
Siapa yang tidak kenal dengannya? Dia seorang putri dari keluarga besar macam Hyuuga yang memiliki perusahaan besar bernama Hyuuga Corp, ia juga dikenal sebagai model oleh para siswi sekolah karena fotonya yang banyak terpajang didalam majalah remaja. Serta kakaknya – Hyuuga Hinata adalah seorang penyanyi terkenal yang merupakan idol bagi para Wota meski diusianya yang masih sekolah ditahun kedua
Seorang Putri dari keluarga besar kini berdiri didepan seorang pecundang yang tak memiliki apa-apa? Entah kenapa memikirkan hal itu membuat Naruto merasa terhina!
*Swuuush...*
Desiran angin mulai masuk melalui jendela bersamaan dengan Hanabi yang membungkukkan badannya sekitar sembilan puluh derajat didepan Naruto, hal itu membuat para siswa dikelas itupun kaget – begitupun dengan Naruto yang menjadi kebingungan
"Arigatou karena telah menyelamatkanku kemarin..."
"A-Apa yang kau katakan Hyuuga-san, kau tidak seharusnya membungkuk didepanku!"
Ucap Naruto terbata dengan sedikit agak takut saat seluruh siswa dikelasnya menatapnya dengan tajam, entah kenapa ia merasa terancam sekarang
*Grep!*
"Ikutlah sebentar denganku!"
"Hyu-Hyuuga-san?!"
Dan, semua itu berakhir ketika Hanabi menarik lengan Naruto dan berlari keluar kelas meninggalkan seluruh siswa disana yang tadi menatap tajam Naruto yang notabenenya tidak mengerti apapun keadaannya
.
.
.
.
"Arigatou telah menyelamatkanku kemarin!"
Suara halus nan lembut keluar begitu saja dari bibir Hanabi dan terdengar di gendang telinga Naruto, membuat Naruto yang kini berdiri didepannya sedikit agak terkejut
Menyelamatkanku katanya? Jadi gadis yang dia selamatkan kemarin adalah seorang putri dari keluarga yang berada?
Ah~ entah kenapa ini terasa seperti dongeng-dongeng yang sering diceritakan para ibu kepada anaknya sebagai pengantar tidur, meski cerita di dalam dongeng itu hanyalah kebohongan yang tak berarti
"Ka-Kau tak perlu sebegitunya padaku Hyuuga-san! Menyelamatkanmu saja sudah membuatku merasa senang!"
Ucap Naruto agak gugup, pasalnya kini dia dan Hanabi berada di tangga sekolah yang nyatanya tengah sepi – tidak ada seorangpun yang lewat
Sedikit semburat merah mulai muncul di kedua pipi Hanabi, matanya mencoba masuk kedalam iris mata Blue-Saphire yang indah itu, masuk lebih dalam seolah memasuki sebuah lautan luas yang entah dimana ujungnya
"Jika aku boleh tau, siapa namamu Senpai?"
Tanya Hanabi dengan nada lembut. Ia tahu kalau Naruto adalah Senpainya karena kelas yang tadi ia masuki adalah kelas 2-B
"Ah gomen, aku lupa memberitahu namaku –"
"– Namaku Uzumaki Naruto, sa-salam kenal Hyuuga-san"
Ucap Naruto memperkenalkan diri dengan mencoba tersenyum pada gadis didepannya itu, hal itu dibalas juga dengan senyuman oleh Hanabi
*Grep!*
Kedua tangannyayang digenggam oleh Hanabi membuat Naruto agak kaget, pandangan matanya terpaku saat Hanabi kini mencoba tersenyum padanya – tak terasa kedua pipinya mengeluarkan semburat merah
"Hyuuga-san?!"
"Aku akan menunggumu setelah sepulang sekolah nanti, jadi temui aku nanti ya Senpai!"
Melepaskan tangan Naruto didalam genggamannya, Hanabi lalu melenggang pergi meninggalkan Naruto yang masih berdiri menatapnya yang pergi menjauh
.
.
.
'A-apa ini?!'
.
'Aku bermimpi apa semalam?!'
.
::
::
::
"Jadi, dia akan jalan dengan Hyuuga Hanabi sepulang sekolah nanti? Menarik!"
Ucap seorang gadis berambut merah yang kini tengah bersembunyi dan menatap Naruto dari kejauhan. Tersenyum simpul, gadis itu lalu berjalan pergi dari tempat persembunyiannya
"Menarik, kurasa aku perlu mengamatinya lebih lanjut!"
.
.
.
'Siapa dirimu sebenarnya...'
.
'Uzumaki Naruto?'
.
.
.
::
::
::
:: [Page #02] ::
- Difference -
.
.
.
.
:: [Stray Dogs!] ::
::
:: [Disclaimer] ::
Not Own Anything!
::
:: [Genre] ::
Adventure, Supernatural, Angst[?]
::
:: [Rating] ::
M for Some Reason
::
:: [Warning] ::
OOC[?], Typo, Miss-Typo, Mainstream[?], Humor!Fail, Slight!BSD, Bahasa tidak baku, and More...
::
::
::
::
:: [To Be Continued..?] ::
:: [A/N] :: Oke! Sebelumnya jangan marah-marah kepada saya karena terlalu lama updatenya -_-
Sebenarnya Chapter ini hampir selesai tepat beberapa hari setelah Lebaran. Tapi mengingat saya butuh libur juga, yah beginilah jadinya – Updatenya agak lama
Yah, kemarin-kemarin juga saya mendadak kaya sih gegara THR :v jadi lupa begitu aja mau lanjutinnya :v
Untuk membahas Chapter ini, akan saya beritahu dahulu sebelumnya bahwa Inoryoku milik Naruto adalah Rashoumon.dan Inoryoku milik Madara ada dua yaitu Sharingan [Karangan saya] dan Ningen Shikkaku. Untuk penjelasan tentang Inoryoku akan ada dibawah nantinya
Dan disini enggak Cuma Naruto dan Madara saja yang mempunyai Inoryoku, kedepannya akan ada beberapa Chara yang muncul dan memiliki Inoryoku-nya sendiri
Soal Naruto, saat ini dia belum sepenuhnya berubah dan hubungannya dengan Menma belum sepenuhnya dijelasin. dan motif Madara serta Rias dkk masih belum diketahui, jadi tunggu aja Chapter selanjutnya ya!
Soal Pairing, mungkin masih terlalu dini untuk membahasnya, Cuma untuk sekarang tuh si Hyuuga Hanabi bisa jadi kandidat buat jadi Pairing Naruto, Tapi bukan berarti Hanabi beneran jadi Pairing Naruto, karena kedepannya gak Cuma Hanabi aja yang muncul sebagai Chara Cewek buat jadi kandidatnya :v
Oh ya! Penampilan Hanabi disini saya ambil dari versi Naruto : The Last. Alasan? Saya Cuma suka Hanabi di Naruto : The Last, ada manis-manis gimana gitu ngeliatnya :v
Dan soal yang lain, kalian bisa tanyakan langsung lewat Review ya!
- Uzumaki Naruto –
:: - Inoryoku : Rashoumon - :: merupakan sebuah kekuatan dimana pengguna bisa mengendalikan sebuah bayangan hitam yang bisa dibentuk menjadi binatang ataupun hal lain dan dapat dijadikan sebagai alat pertahanan maupun serangan [Versi saya dengan beberapa bagian yang saya ambil dari Wikipedia]
- Uchiha Madara –
:: - Inoryoku : Ningen Shikkaku - :: sebuah kekuatan yang membuat penggunanya bisa meniadakan kemampuan apapun melalui sentuhan, dengan kata lain pengguna menjadi tak mempan dengan kekuatan apapun yang mengenainya. Namun bukan berarti pengguna tak bisa diserang, pengguna hanya bisa diserang melalui serangan fisik [Dalam hal ini sihir ataupun semacamnya dapat dikatakan termasuk]
:: - Inoryoku : Sharingan - :: Kekuatan yang bisa memanipulasi pikiran dan ingatan korban hanya melalui kontak mata, dan bahkan bisa membuat korban masuk kedalam ilusi yang dibuat oleh si pengguna, namun kekuatan ini mempunyai dampak negatif terhadap penggunanya sendiri mengingat kekuatannya yang lumayan sulit untuk dikendalikan [Ini Cuma Versi saya]
Selanjutnya Balasan Review!
:: Sylvathein :: Ah~ Typo memang kelemahan Ane, btw Makasih banget loh dah bisa nemuin Typo-nya :3
Kekuatan Naruto sama kayak punya si Akutagawa Ryuunosuke, dan kekuatan Madara sama dengan punya si Dazai Osamu. Sebenarnya sih motif madara bukan untuk memanfaatkan Naruto, ada motif lain dari Madara yang selalu menyelamatkan Naruto saat kena sialnya
Humor kah? Memang enggak kerasa sih soalnya agak susah nyelipin Humor disaat Scene yang gak mendukung. Kalo soal Humor sih rekomendasi baca Fic My Ordinary Life aja :v
:: Aldy Hiraishin :: Oke deh! Sankyuu atas pujian dan dukungannya!
:: Nesia Dirgantara :: Arigatou! and Happy Reading!
:: Yami Dragon Slayer :: Pret :v ente malah nyuruh ane buat Lemon, mungkin lain kali sih, karena niatnya saya mau buat sekuel Fic Aggresive! [Cuma Niatan doang]
:: Guest :: Yup! yang sekarang sampe 7k! [Termasuk kedalam A/N dan balasan Review sih, bersihnya 6,4k]
:: Naomi Yuichi :: Madara memang saya buat agak beda, dan Sankyuu atas reviewnya!
Godlike? Saya gak buat Naruto jadi begitu kok! Malah menurut saya akan jadi bosen kalo gak ada lawan yang sepadan dengan Naruto jika Naruto beneran Godlike
Kenapa saya mengambil Unsur BSD? Kalo boleh jujur itu adalah Anime Favorit saya dan lumayan suka sama si Akutagawa Ryuunosuke si pemilik Rashoumon, dan soal Devil dan Makhluk lainnya bakalan ada kok! Tuh Datenshi aja dah muncul diatas
:: aaa :: Maaf deh kalo saya buat kamu kesel :v btw selamat membaca untuk Chapter ini!
:: Namesadat :: ada kok! Cuma belum saatnya saya kasih tau :v
:: adam muhammad 980 :: Yup! saya mencoba berbeda dengan yang lain, dan selamat membaca untuk Chapter yang kedua ini!
:: Yamamaru Taiki :: tenang, dia udah dipermaluin sama si Madara tuh diatas :3
:: Wigato-kun :: Yup! kau benar tapi kau tidak mendapat hadiah apapu dari saya~!
:: Kevin adita :: Oke! Sankyuu atas pujiannya!
:: Linux9 :: Yup! sesuai permintaanmu! Fic ini sudah Update dan silahkan dibaca~! Semoga menghibur dan tidak terlalu mengecewakan!
Dan saya mohon maaf untuk beberapa Review yang tidak sempat untuk dibalas, sekali lagi saya mohon maaf!
Dan sebagai ucapan terakhir, salam dan sampai jumpa di Chapter berikutnya~!
.
Bye Bee~
.
- Sign :: Kurosaki Kitahara
