WARNING : Lemon Inside
Yang masih di bawah umur/kurang nyaman dengan konten tersebut, dipersilahkan meninggalkan ruangan(?)
Chapter 2
Sasuke dan Ino sudah sampai di mansion mewah Uchiha. Para pelayan membungkuk hormat ketika Sasuke dan Ino memasuki mansion. Mikoto dan Fugaku menunggu mereka di ruang makan.
"Sasuke, Ino kalian sudah datang?" Sambut Mikoto, memeluk Ino dan menggandeng tangan Ino menuju kursi di sebelahnya. Sasuke hanya berdeham dan Ino tersenyum manis menanggapi perlakuan sayang dari ibu mertuanya.
"Niisan kemana?" tanya Sasuke kemudian setelah dilihatnya Itachi tidak ada di rumah.
"Mungkin sedang di apartemennya, semalam dia juga tak pulang." jawab Mikoto.
"Akhir-akhir ini sepetinya dia sibuk mengurus anak perusahaan baru yang masih butuh perhatian ekstra." timpal Fugaku menambahkan.
"Sampai tak bisa datang ke penikahanku? Pria dewasa itu belum menikah akibat sikap gila kerjanya." balas Sasuke sambil mengiris steaknya.
"Ino, Sasuke, nanti malam kalian menginap saja di sini. Ibu ingin Ino menemani ibu berbelanja." ungkap Mikoto senang. Ino mengangguk mengiyakan. Sasuke menghela nafas pasrah, menurut pada perintah ibunya. Ino merasa bahagia bisa menjadi bagian dalam keluarga Uchiha. Ia merasakan kembali memiliki keluarga setelah ayah dan ibunya meninggal akibat kecelakaan pesawat dalam perjalanan bisnis. Dan mulai saat itu adik ayahnya, Yamanaka Shion datang dan mengambil semua harta yang ditinggalkan oleh orang tuanya, membuat Ino harus keluar dari rumahnya sendiri dan berjuang untuk bertahan hidup dan mencari uang untuk membiayai studinya.
xxxx
Ino dan Mikoto pergi ke salah satu mall mewah di Tokyo. Ekspresi bahagia tak hentinya terpancar dari wajah Mikoto yang masih sangat cantik di usianya yang sudah menginjak kepala lima itu. Mereka memutuskan untuk sejenak bersantai di salah satu kafe langganan keluarga Uchiha.
"Ne, Ino-chan tempat ini adalah tempat favorit keluarga kami. Pemiliknya dulu adalah sahabat Fugaku, namun sekarang sudah diurus oleh anaknya. Ibu ingat betul saat Itachi dan Sasuke masih kecil, kami hampir setiap hari bertandang ke sini. Tapi sekarang, sungguh sulit membuat kami berkumpul lagi. Ya walaupun Itachi dan Sasuke mempunyai kesibukan masing-masing dan terlihat jarang bersama, mereka kakak adik yang akur lho. Apalagi Itachi, dia sangat menyayangi Sasuke. Ah, aku jadi cerita panjang lebar kepadamu Ino-chan." Mikoto kembali menyeruput americano lattenya.
"Sungguh, mungkin aku orang yang paling bahagia di dunia ini karena bisa menjadi bagian dari keluarga Uchiha. Bisa kembali merasakan bagaimana kasih sayang ayah dan ibu, merasakan memiliki kakak yang sebelumnya tak dapat kurasakan dan tentunya suami yang baik dan selalu melindungiku." Ino mengelus punggung tangan Mikoto pelan.
"Kapanpun Ibu merasa kesepian, aku akan dengan senang hati datang." Kerutan halus di ujung mata Mikoto semakin tegas tatkala ia tersenyum. Ia berharap akan terus merasakan kebahagiaan ini bersama keluarganya.
Skip..
Mobil Itachi memasuki mansion Uchiha. Dilihatnya mobil Sasuke ada di garasi. 'mereka disini?' batin Itachi.
Itachi melangkah masuk. Sasuke dan Fugaku yang sedang bermain catur pun menoleh pada sulung Uchiha yang baru datang.
"Hai kak. Dari mana saja? Dasar sok sibuk sampai berani-beraninya tak datang ke pernikahanku?" cecar Sasuke kemudian. Itachi tak menjawab dan menilik sekeliling. Mencari Ino. Tak mendapat jawaban dari Itachi, Sasuke merasa tak puas, ia mendekatinya dan mencoba menyeret tangan sang kakak untuk bergabung dengannya dan sang ayah. Namun Itachi menampik tangan Sasuke.
"Aku lelah." Itachi meninggalkan Sasuke menuju kamarnya. Sasuke hanya terdiam melihat punggung Itachi menjauh. Itachi hanya perlu menenangkan diri. Bagaimana dia bisa merelakan Ino bersama adiknya? Jika orang yang ingin dia jauhi dan lupakan adalah bagian dari keluarganya sendiri? 'Sial. Dasar brengsek.'
Tak lama kemudian, Ino dan Mikoto sampai di Mansion. Sasuke dan Fugaku masih meneruskan permainan mereka.
"Mobil Itachi di luar, dia sudah pulang?" ujar Mikoto setelah mendudukkan diri di samping suaminya.
"Hn" ujar Fugaku dan Sasuke kompak yang sedang fokus bermain catur. Mikoto hanya bisa menggerutu tak puas dengan jawaban yang dilontarkan suami dan anaknya tersebut.
Tok . Tok ..
Sasuke mengetuk pintu kamar Itachi dan kemudian masuk ke kamar kakaknya. Dilihatnya Itachi nampak fokus dengan tab yang ada di tangannya. Itachi menatap Sasuke yang mendudukkan diri di kursi santainya.
"Ada apa?" tanya Itachi singkat, lalu menatap kembali layat tabnya dengan serius.
"Apa kau ada masalah, kak? Kuharap aku bisa membantu."
"Tidak ada." elak Itachi
"Kau berbohong." cecar Sasuke tak puas. Itachi mencopot kaca matanya dan melihat adiknya yang masih meminta penjelasan tersebut.
Sasuke mendudukkan diri di samping Ino yang tertidur pulas. Wajah ayunya nampak sangat damai. Sasuke menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Tak heran banyak laki-laki yang terpesona akan kesempurnaan yang dimiliki oleh wanita ini. Termasuk kakaknya. Sasuke sudah mengetahui semuanya.
FLASHBACK.
"Apakah kau benar-benar ingin tahu, ne Sasuke?" Sasuke mengangguk mengiyakan.
"Apa yang akan kamu lakukan, jika aku menginginkan istrimu?" Mata Sasuke membulat. Tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Seolah sadar dengan keterkejutan sang adik, Itachi menambahkan.
"Aku menginginkan wanita yang saat ini menjadi istrimu. Aku sungguh iri kepadamu Sasuke. Mungkin selama ini aku selalu mengalah pada semua barangku yang kau minta. Tapi.. merelakan gadis itu sangat berat. Aku tak pernah menginginkan sesuatu sampai seperti ini." jelas Itachi. Sasuke mengepalkan tangannya, menahan emosi yang ingin meledak.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?" ujar Sasuke pada akhirnya. Dia cukup terpukul dengan kenyataan ini, sampai-sampai sulit untuk meloloskan satu kalimat pun. Bagaimana bisa ini terjadi padanya. Pada kakaknya. Situasi seperti ini.
"Aku akan percaya padamu kak. Kau tidak mungkin mengambil Ino dariku." Sasuke berdiri meninggalkan kamar Itachi. Itachi terdiam.
"Jangan percaya padaku, brengsek! Jangan memberikan kepercayaanmu padaku!" teriak Itachi frustasi. "Jangan percaya padaku." cicit Itachi sembari menangkup wajahnya.
FLASHBACK END
Ino mengerjapkan matanya, merasa terusik. Sasuke menghentikan kegiatannya membelai kepala Ino. Ino mendudukkan diri.
"Kau belum tidur Sasuke?" ucap Ino dengan mata yang sedikit menutup.
"Maaf aku membangunkanmu, Ino. Tidurlah lagi." Sasuke merebahkan Ino sembari ikut berbaring. Memeluk Ino erat. Sasuke tidak akan melepaskan Ino. Tidak akan pernah.
xxxx
Waktu mendekati jam makan siang. Dari semenjak pagi Itachi tak bisa fokus bekerja. Bayang-bayang Ino terus berputar dalam pikirannya. Tanpa pikir panjang, Itachi mengambil hanphonenya dan menghubungi seseorang. "Bisa bertemu sebentar?"
Itachi dan Hotaru bertemu di salah satu cafe di dekat anak perusahaan Uchiha Corp. Hotaru nampak manggut-manggut sambil menyeruput minumannya setelah mendengarkan cerita Itachi.
"Perjuangkan cintamu, Itachi." ujar Hotaru kemudian. Itachi nampak bingung. Hal itu sama saja dia harus melawan adiknya sendiri. Mengetahui ekspresi bingung Itachi, Hotaru menambahkan.
"Tentu saja keputusan ada di tanganmu tuan Uchiha. Kau harus memikirkannya betul-betul siapa yang lebih kau dahulukan. Tentunya wanita itu dan adikmu tidak mungkin punya porsi yang sama."
"Situasi ini begitu rumit. Aku belum pernah menemui masalah yang begitu rumit seperti ini. Wanita selalu menjadi masalah. Itulah sebabnya aku lebih menikmati kesendirianku dan memutuskan mengencani beberapa lalu meninggalkan mereka." Mendengar penjelasan Itachi, Hotaru mengernyit meremehkan.
"Kau saja yang sebenarnya terlalu gila kerja. Aku penasaran seperti apa wanita yang berhasil membuat kedua pewaris keluarga Uchiha tergila-gila." Entah sejak kapan Itachi memutuskan berteman dengan wanita yang mulanya hanya wanita jalang yang dia sewa untuk memuaskan nafsunya itu. Selama ini Itachi tidak mempunyai teman wanita selain Konan yang tentu saja sekarang dia sudah bahagia dengan Pein serta ketiga anaknya yang tak mungkin bisa berkumpul seperti dulu. Hanya dirinya, Nagato, Suigetsu dan Hugo yang tersisa. Dan ketiga temannya tersebut, tentu tidak akan membantu banyak dalam masalahnya ini.
xxxx
Itachi terus memutar-mutar kursi kerjanya sembari terus menggigiti ujung penanya. Berpikir. Hotaru ada benarnya. Selama ini, dia sudah cukup menjadi kakak yang baik untuk Sasuke. Sudah saatnya dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan bukan suatu hal yang banyak atau rumit, mengingat jasanya untuk keluarganya. Mengelola dan mengembangkan perusahaan besar ini bukanlah perkara yang mudah. Apa yang tidak dimiliki oleh Uchiha Itachi? Wajah tampan, fisik sempurna, harta yang tak akan ada habisnya, popularitas. Gadis blonde itu tak bisa disamakan dengan banyaknya wanita yang selama ini mengejarnya atau dikencaninya. Hiperbolis memang. Dia tak peduli jika harus mengambilnya paksa dari adiknya. Anggaplah sebagai imbalan atas kebaikannya selama ini kepada Sasuke. Di dunia ini tidak ada yang gratis, bukan?
Ino meletakkan teh di hadapan Sasuke yang tengah sibuk dengan laptopnya. Hanya selang 2 hari, pekerjaannya sudah menumpuk.
"Terima kasih sayang." Sasuke menyesap teh yang diberikan Ino, terasa sedikit meringankan beban pekerjaannya.
Setelah sampai di rumah mereka, Sasuke sudah disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk setelah 2 hari berlibur. Ino memijit bahu Sasuke mencoba meringankan pegal-pegal akibat Sasuke berkutat dengan pekerjaannya selama sekitar 4 jam.
"Akhirnya selesai." ucap Sasuke lega.
"Sasuke coba rebahan. Kupijit supaya merilekskan otot-ototmu." Ino mencoba melepaskan kacamata yang bertengger indah di hidung mancung suaminya. Sasuke manahan tangan Ino. Menatap Ino intens. Yang ditatap, hanya merona menahan malu.
"J-jangan menatapku seperti itu." Ino memukul pelan pundak Sasuke. Sasuke hanya tertawa lalu menanggalkan kacamatanya dan menuju ke ranjangnya. Diikuti Ino yang mengekor dibelakangnya. Ino mulai memberikan pijatan pada punggung kokoh suaminya. Dirasakan otot-otot Sasuke di sana.
"Ino?"
"Ya Sasuke?" Sasuke mendudukkan diri di samping Ino. Meraih paper bag di laci meja sebelah ranjang. Ino membuka papper bag yang diberikan Sasuke. Ino bingung melihat isi di dalamnya. Sepasang seragam SMA.
"Bagian dari salah satu imajinasiku, Ino." ujar Sasuke menjawab rasa penasaran Ino. Seketika Ino paham maksud Sasuke. Melihat wajah Ino yang merona malu, Sasuke menimpali.
"Jika kau tak mau, tak apa. Aku tak akan memaksa. Teruskan saja pijatannya." Sasuke kembali ke posisi tengkurap. Ino beranjak meninggalkan Sasuke. Pria itu menyunggingkan senyum tatkala Ino membawa paper bag tadi menuju kamar mandi. Sasuke mendudukkan diri. Menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, memejam-mejamkan matanya sebentar. Lalu dirasakannya, seseorang menduduki pangkuannya.
Sasuke tampak takjub ketika membuka mata. Di hadapannya, Ino nampak seksi dengan seragam SMA yang memperlihatkan bentuk tubuh Ino yang menggoda. Rambut panjang yang tergerai indah, memberikan kesan dewasa. Oh jangan lupakan, payudara Ino yang besar dan sintal yang menyita perhatian Sasuke. Seakan-akan kancing-kancing seragam itu akan terlepas dari tempatnya. Seketika Ino mencium Sasuke. Menjilat bibir Sasuke dan menggoda Sasuke untuk mrmbuka mulutnya. Lidah mereka saling beradu dalam mulut Sasuke. Sungguh, Ino yang saat ini menjadi sangat agresif.
Ino semakin merapatkan tubuhnya. Alhasil, penis Sasuke yang setengah menengang bergesekan dengan Vagina Ino yang masih tertutup celana dalam dan terhalang celana Sasuke. Ciuman panas itu terus berlanjut. Sasuke mengusap seduktif panggung ino dengan gerakan yang sensual. Gesekan bagian intim keduanya membuat api dalam tubuh mereka semakin meletup-letup.
"Errgh..." Erang Ino, saat Sasuke menjilati leher jenjangnya.
"I-ino.. argh.' desah Sasuke, ketika dirasanya Ino dengan sengaja menekan dengan keras penis Sasuke dengan vaginanya. Ino pun tak kuasa menahan desahannya. Sasuke yang tak sabar, merobek paksa seragam yang dikenakan Ino dan dengan sekali gerakan, mengubah posisi Ino menjadi dibawah kungkungannya. Dengan buru-buru mencari kait bra Ino dan membuangnya asal setelah berhasil membukanya. Sasuke bagaikan bayi yang kehausan. Mulutnya sibuk mengulum dada kiri Ino sedangkan tangan kiri sasuke memilin-milin dada kanan Ino. Sementara tangan sasuke yang masih terbebas, bergerak menuju bagian bawah Ino yang sudah basah. Mengelus-elus bagian celana dalam Ino yang sudah basah akibat kegiatan sebelumnya. Ino hanya mampu mendesahkan nama Sasuke. Sentuhan pria itu ditubuhnya seakan menjadi candu. Ino tak peduli jika akan dicap sebagai wanita yang haus sex selama hanya melakukannya dengan Sasuke.
Dengan tergesa, Sasuke melepas kain yang menempel pada tubuhnya. Gairah Sasuke tidak dapat dibendung lagi. Terbukti dari bagian bawah Sasuke yang sudah 'siap'. Entah kekuatan dari mana, Ino mendorong Sasuke berbaring. Dengan hati-hati Ino mencengkram kejantanan Sasuke yang sudah tegak.
"Erm... ino.." Sasuke tak dapat menahan erangannya. Penisnya terasa akan meledak ketika Ino mengulumnya dengan bibir seksinya yang membengkak akibat ciuman panasnya dengan Sasuke sebelumnya. Ino menjilat kejantanan Sasuke layaknya anak kecil sedang memakan permen lolipopnya. Tangan Ino tak tinggal diam, dengan berani memainkan twinsball Sasuke, membuat sang empu tidak dapat menahan erangannya. Ino semakin mempercepat gerakan mulutnya pada penis Sasuke. Dan bergantian mengocok benda itu, dan mengigit twinsball Sasuke.
Sasuke kepayahan menghadapi 'serangan' dadakan yang diberikan istrinya tersebut. Penis Sasuke berkedut, menumpahkan spermanya di wajah Ino. Ino yang terkejut, menghentikan kegiatannya. 'Ck. Sial.' umpat Sasuke dalam hati.
Sasuke membalikkan posisi, menjadi Ino di bawahnya. Dengan tak sabaran, Sasuke membuka celana dalam dan rok Ino yang tersisa. Tanpa kata apapun, Sasuke menerobos masuk Vagina Ino. Ino meringis kesakitan, namun Sasuke bak menulikan pendengarannya, tak dipedulikan rintihan Ino, Sasuke dengan kasar memaju mundurkan penisnya dalam kewanitaan Ino. Tak lama, rintihan kesakitan Ino berubah menjadi desahan nikmat.
"Sash.. uke.. ah." Erangan Ino semakin menjadi-jadi saat Sasuke melambatkan gerakannya dan menekan dalam penisnya, memundurkan penisnya secara perlahan lalu mendorongnya pelan dan menekannya kembali. Sensasi yang luar biasa dirasakan mereka berdua.
"Aaaah..." Ino merasakan hangatnya benih Sasuke meluncur ke dalam rahimnya. Sasuke menggigit bibirnya menahan desah nikmatnya. Sasuke mencium bibir Ino dalam. Sebagai ucapan terima kasih. Ino membalas ciuman Sasuke sama mesranya.
"Ohh.." desah Ino ketika Sasuke mengeluarkan penisnya yang masih besar dan tegang itu. Sasuke membalik posisi Ino membelakanginya, dan menarik pinggul Ino ke atas. Dan mulai melakukan penetrasi ke dalam vagina Ino. Posisi ini cukup intens dan semakin intim. Dengan kasar, Sasuke memaju mundurkan penisnya. Payudara Ino bergoyang hebat akibat hentakan yang dilakukan Sasuke. Tangan kirinya meremas-remas gemas dada besar Ino yang bergelantungan. Ino tak hentinya mendesah nikmat. Sadar akan sesuatu yang segera keluar, Sasuke menekan penisnya dalam, kembali membuahi sel telur Ino. Sang wanita menggit bantal yang ada di bawahnya untuk meredam desahannya sendiri. Sasuke merasa sangat puas. Ino memang yang terbaik. Direbahkan Ino di sampingnya. Ino nampak kelelahan. Sasuke tersenyum bahagia. Wanita ini adalah miliknya. Seutuhnya. Tidak ada yang bisa mengambil Ino dari sisinya. Sasuke memeluk Ino erat. Salahkan Ino yang terlihat sangat menggoda dengan baju seragam itu. Nafsunya tak terkendali. Ereksinya masih bertahan sampai sekarang. Namun melihat Ino yang sudah tak berdaya membuatnya tak tega. Ino yang merasa terganggu dengan benda keras yang menyentuh perutnya ini, menatap Sasuke. Dia tahu Sasuke masih ingin melakukannya. Tiba-tiba Ino mencium sekilas bibir Sasuke, membuatnya membuka mata. Sasuke memanglah belum tidur, hanya memejamkan mata mengalihkan ereksinya.
"Ah..." Desahan Sasuke lepas, ketika dirasakannya tangan Ino memyentuh penisnya.
"Tak apa Sasuke. Aku tahu kau masih menginginkannya. Aku tak ingin kau tersiksa. Pasti sakit menahannya. Berikan semuanya kepadaku Sasuke. Amhil semua yang kamu butuhkan. " Ino menatap Sasuke intens. Sasuke yang merasa diberi undangan pun, merangkak naik di atas tubuh Ino. Mencumbu gadis itu lagi dan lagi. Saling mengambil apa yang mereka butuhkan.
xxxx
Ino nampak bersenandung kecil sambil menenteng barang belanjaannya. Hari ini dia ingin menyiapkan makan malam spesial untuk Sasuke. Ino memilih berjalan kaki dari rumahnya menuju market karena jaraknya yang tidak terlalu jauh. Lagi pula, dia begitu bosan di rumah saat Sasuke pergi bekerja. Untuk lebih memudahkan, Ino melalui jalanan kecil yang merupakan jalan alternatif yang bisa dilalui dari rumah menuju market dan sebaliknya. Namun, dalam perjalanan pulang, saat Ino melewati salah satu gang sempit yang memang sepi, Ino merasa seperti diikuti oleh seseorang. Ino memutuskan untuk berlari, sedikit lagi hingga ia sampai di rumah, namun penguntit tersebut dengan cepat membungkam mulut Ino dengan obat bius. Barang belanjaan Ino pun berceceran.
To be continue...
Hiki Kanata: Oh my, Senpaiii... Terima kasih untuk ilmunya.. T.T sangat membantu sekali.. Chapter 2 ini, ku benahi berdasarkan saran dari Hiki-san. Terima kasih banyak. Arigatou. Aku akan banyak-banyak belajar sampai bisa seperti Hiki-san '-'
Amayy : Hai Hai Amayy-sannn... Terima kasih atas reviewnya... Terus dukung author biar semangat nulisnya ya Apalagi mau bulan puasa niiiyy... Rencananya, aku mau gas dulu beberapa chapter, abis itu libur selama puasa. Hihi
Us793 : Arigatou sudah mampir dan membaca cerita gaje ini. Dukung author terus ya.
Lophyouall. {}
