Ff ini adalah remake dari sebuah film yang berjudul sama 'Wedding Dress' screenplay by You Young-ah. Saya hanya akan mengubah beberapa alur dan memberi penambahan atau pengurangan seperlunya, sesuai kebutuhan. Namun tidak mengubah plot serta konsep aslinya.
Wedding Dress
Main cast : Lee Sungmin dan Leeteuk
Anothe cast : Kalian akan menemukannya, setelah membaca
Genre : Family, humor (little), and sad
\(w)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
oooOOOooo
"memangnya enak makan daging anjing?" tanya Heechul saat melihat daging itu sedang dimasak di tunggku yang berada di depannya. Saat ini Heechul, Leeteuk, dan Ryeowook sedang berada di sebuah restoran melepas penat. Di jam istirahat mereka.
"kanapa memangnya?" tanya Leeteuk sambil mengambil sumpit.
"apa kau suka?"
"kau punya masalah dengan makananku?"
"pesan ayam saja." bujuk Heechul.
"kau makan untuk menikmati. Aku makan untuk sehat. Sama-sama beralasan."
"bisakah, kita makan?" tanya Ryeowook saat mengetahui pertikaan ini akan panjang jika tidak di hentikan.
"ku coba ya?" tanya Leeteuk yang sudah bersiap untuk menyumpit daging panas itu. Dia memasukkan perlahan makanan itu kedalam mulutnya, mengunyah. Ryeowook dan Heechul memperhatikannya. Lalu Leeteuk menelannya.
"enak! Ternyata memang enak. Ayo makan."
Mereka-Ryeowook dan Heechul- ikut memakannya meski mereka awalnya ragu. Tapi apa boleh buat, sudah dipesan dan mereka harus memakannnya.
"ini bukan pertama kalikan?" tanya Heechul saat mereka sudah selesai makan. Dan berpindah di teras restoran. "kau makan lebih banyak daripada aku"
"anni, aku tidak makan banyak" sangkal Leeteuk.
Drrrttt... Drrrttt...
Leeteuk yang manyadari getaran ponselnya, ia langsung mengambilnya dari tas putihnya, dan mengecek layar ponselnya terlebih dahulu sebelum menaruhnya di telinganya.
"yeoboseo?" sapa Leeteuk saat menaruh ponselnya di telinga kanannya.
"ini kopinya" Ryeowook yang telah kembali dengan membawa tiga kopi. Dia menyerahkan satu kepada Heechul.
"Bagaimana perkembangannya?"
"..."
"kau menemukannya? Arraseo, beritahu alamatnya." kini wajah Leeteuk berseri seakan memenang lottre.
"nde, jika kau membeli gaun akan ku beri diskon 10%. gomawo, Yoona-ah."
plip.
"ya! Apa maksudmu diskon 10%?" tanya Heechul sambil menyeruput kopinya. "memangnya kau menjalankan bisnis seorang diri?"
"kau tidak akan bisa lari lagi!"ucap Leeteuk menggebu-gebu sambil mengepalkan tangannya. "ini, hari terakhirmu." Leeteuk bangkit dari tempat duduknya.
"kopi?" Ryeowook menyodorkan kopi kepada Leeteuk.
"eonni, aku ada urusan mendadak. Aku pamit duluan. Bye" Leeteuk melenggang pergi meninggalkan keduanya yang bingung dengan perubahan sikap Leeteuk.
"Ya! odie kayo? Bukannya kau yang mau membayar makanan ini?" teriak Heechul.
"aish, anak itu. Ryeowook kau punya uang berapa?"
"nde?"
"kita patungan." jelas Heechul mengetahui kebingungan Ryeowook.
"ah, nde."
"bagaimana?" Sungmin mengayunkan kakinya yang menggantung saat dia duduk di bangku.
"kenapa aku harus membuat perjanjian denganmu?" tanya Donghae sambil menggerakkan kakinya kedepan, kekiri, dan kekanan de depan cermin besar. Seakan membuat tarian. "kau kan masih bocah."
"pernah mendengar 'hubungan saling menguntungkan'?" Sungmin turun dari bangku yang dia duduki, melangkah mendekati Donghae.
"ya!" Donghae menengok kekanan tempat dimana Sungmin berada. Namun, ternyata dia tak ada di situ, melainkan ada di belakangnya.
"ya! Dengan siapa kau berbicara." Donghae melanjutkan gerakannya yang sempat tertunda. Sungmin mencoba mengikuti langkah-langkah Donghae.
"aku tak sebodoh apa yang kau pikirkan. Aku mengerti tentang 'hubungan saling menguntungkan'"
"jadi, ajusshi setuju."
"kalau begitu bayar les di sini."
"makanya dia meninggalkan ajusshi demi pria kaya."
"diam kau!" bentak Donghae kesal. "sebaiknya kau kembali ke kelas ballet saja."
"kalau setenga jam?"
"kenapa aku harus memperbolehkanmu?"
"dasar pelit!" hardik Sungmin.
"ka..." belum sempat Donghae menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba.
Drrttt... Drrttt...
Sungmin mengambil ponselnya dari dalam saku roknya.
"eomma?"
"..."
"ya, aku sedang di kelas ballet" bohong Sungmin.
"kecil-kecil sudah pandai berbohong" cibir Donghae. Dan mendapat tatapan tajam dari Sungmin.
"arraseo, nanti kita ketemu di sana."
plip.
"aku harus pergi, kita lanjutkan besok" Sungmin melangkahkan kakinya menuju pintu.
"lanjutkan apa?"
"sampai ketemu besok" Sungmin hanya menganggat tangan kanannya seakan enggan membalikkan badannya.
"Ya! Kau, bocah!"
Ting tong... Ting tong...
"ya... Sia..." seoarang yeoja paruh baya membukan pintu. Dia terkejut dengan siapa yang datang, hingga dia tak menyelesaikan kalimatnya.
"annyeong, Hyeohyun..." Leeteuk langsung masuk ke dalam sebelum yang empunya mempersilakan.
"wah... Apartemennya sangat bagus. Kapan kalian pindah?" tanya Leeteuk saat berada di ruang tamu. Ia terlihat mengelilingi isi apartemen ini.
"ada apa denganmu?" tanya Heohyun sambil mengikuti arah Leetuk dan Sungmin berjalan.
"wah, ini kamarnya?" tanya Leeteuk saat membuka pintu yang memperlihatkan kasur king size. Leeteuk melangkahkan kaki menuju Kasur itu dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"kasur yang nyaman." Leeteuk tengah memandangi foto pernikahan yang berada di meja nakas. Dia mengambilnya. "kau sudah menikah? Beli dimana gaunnya?" lalu menaruh foto itu di tempat semula.
"tidak beli, aku meminjamnya dari teman eommaku."
"eoh, Sungmin ayo berbaring di sini." Leeteuk menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.
"tinggalkan nomer rekeningmu. Aku akan mengirim uangnya secepatnya." jelas Hyeohyun mengetahui maksud kedatangannya kemari.
"kau pernah mengatakan itu sebelumnya, saat pertemuan terakhir kita."
Saat itu Leeteuk meminjamkan uang yang tidak sedikit ke pada Hyeohyun untuk kepentingannya. Namun, seharusnya dia mengembalikannya setahun yang lalu. Tapi Hyeohyun menghilang entah kemana.
"terserah, aku akan tinggal disini sebentar. Sini Sungmin, kita tidur. Ayolah apa yang kau lakukan?" Leeteuk menarik Sungmin agar dia naik ke kasur.
"baiklah, aku akan membayarnya sekarang."
"bagus. cepat lakukan aku akan menunggumu."
"arraseo." hyeohyun mengambil ponselnya. Dia seperti mengetik sesuatu di ponselnya.
Drrrttt... Drrrttt...
Leeteuk mengambil ponselnya yang berada di tasnya. Dia membuka pesannya.
"sudah sampai?" tanya Hyeohyun.
"nde. Baiklah, Sungmin ayo kita pergi. Urusan kita sudah selesai."
Uap yang keluar dari tempat pembakaran kalbi itu sudah tidak terlihat lagi. Leeteuk mengambil penjepit daging itu dan menurunkan semua daging itu ke piring.
"wah, sepertinya enak."
"eomma, sedang banyak uang?" tanya Sungmin, saat eommanya meletakkan piring yang berisi kalbi itu di depan Sungmin.
"uang eommakan banyak." Leeteuk kembali memasukkan kalbi ke dalam mulutnya.
"bilang saja apa yang kau inginkan."
"apapun?"
"hmmm..."
"aku ingin video game terbaru."
"baiklah."
"banyak sekali gamenya. Aku mau yang..." Sungmin berfikir sambil sesekali menggoyang-goyangkan sumpitnya. "yang..."
"beli semuanya."
"jinjja?"
"nde. Beli semuanya. Nah ayo makan, kau belum makan kan?"
"nde."
Blip... Plip... Tring...
"menyenangkan bukan?"
"nde."
Saat ini, Leeteuk dan Sungmin sedang berada di apartemen mungilnya bermain video game yang baru saja mereka beli.
"siapa yang membelikan ini?"
"eomma-ga."
"anak siapa kamu?"
"eomma-ga."
"lebih sayang eomma atau video game?"
"video game."
"wah. Kau terlalu jujur." sindir Leeteuk.
"eomma..." panggil Sungmin, matanya masih menatap layar televisi.
"mengapa, televisinya jelek ya?"
"mwo?" Leeteuk langsung menetap sang anak dengan tatapan tak percaya. "jelek?"
"nde." Sungmin masih menetap layar Televisi.
Leeteuk bangkit dari tempat duduknya menuju meja telfon yang tak jauh dari tempatnya tadi. Ia sepertinya serius dengan pembicaraan itu. Sungmin sesekali melirik perilaku mematikan telfon dia beralih ke ponselnya menekan-nekan. Lalu tersenyum sesaat. Iapun duduk berjalan menuju arah televisi.
"eomma! Apa yang eomma lakukan?" teriak Sungmin saat tahu televisinya mati. Karena di cabut oleh sang eomma.
Bukannya menjawab pertanyaan Sungmin, Leeteuk ngangkat televisi yang tidak cukup besar ke dalam kamarnya.
"eomma!"
Beberapa saat kemudian. Setelah teriakan-teriakan cempereng dari sang anak, dan hanya kebisuan yang dilayangkan oleh Leeteuk.
Ting tong... Ting tong...
Leeteuk keluar dari kamarnya menuju pintu.
"silakan masuk." jelas Leeteuk saat mengetahui siapa yang datang "terimakasih."
Sungmin hanya bisa menatap apa yang di lihatnya kali ini. Eommanya yang sekarang menjadi senang? Bukan itu tapi apa yang di bawa oleh dua orang ajusshi. Sebuah kotak besar.
"taruh disini saja." perintah Leeteuk begitu isinya di buka. Televisi keluaran terbaru?
Sungmin hanya bisa mematung. Tak bisa berkata apa-apa. Sementara Leeteuk seakan mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya di depan wajah Sungmin.
"terimaksaih banyak." ucap Leeteuk setelah televisi itu di taruh.
Leeteuk menyilangkan tangannya di dadanya dan memberikan tatapan mengerikan kepada Sungmin. Sementara Sungmin hanya menyeksikan tingkah eommanya yang aneh ini. Tidak biasanya eommanya akan memberikan apa yang dia katakan. Biasanya eommanya akan menghiraukan kata-kata Sungmin. Apa karena eommanya sedang mempunyai banyak uang? Ah entahlah, Sungmin tak mau memikirkan perubahan sikap sang eomma.
Malam semakin larut. Sungminpun sudah berada di kamar yang bernuansa pink itu. Leeteuk membuka pintu kamarnya dia diam-diam membuka hendel pintu kamar Sungmin dan menutupnya kembali. Ia memeluk sebuah bantal berwarna putihnya, menuju kasur milik Sungmin. Dia membaringkan tubuhnya di samping Sungmin. Sungmin yang belum sepenuhnya tidur merasakan keberadaan eommanya, ia menggeser tubuhnya. Leeteuk yang menyadari itu langsung tersenyum.
"balik kesini..." bisik Leeteuk di kuping Sungmin. "ayolah, anak manis" mohonnya.
"hmmh" Sungmin membuang napasnya, dan membalikkana badannya menghadap sang eomma.
"anak manis." Leeteuk mengecup dahi Sungmin dan membelai surai rambut sang anak.
oooOOOooo
"ahhh..." teriakan Sungmin kini terdengar lagi di pagi hari, saat sang eomma menyisir rambut pendek Sungmin.
"Kau terlalu melebih-lebihkan."
"itu, tadi sakit."
"kau harus bisa belajar menyisir sendiri." jelas Sang eomma. "ommo... Kusut semuanya." canda Leeteuk.
"cepatlah, bisa-bisa aku terlambat sekolah."
"baiklah, tuan putri." Kini Leeteuk mengambil jepit rambut berbentuk pita tak jauh dari tempatnya berada. Dan mensematkannya di beberapa surai rambut sang anak.
"selesai. Kajja." Leeteuk bangkit berdiri dan mengambil tasnya. Lalu berjalan keluar pintu di ikuti sang anak.
"annyeong." sapa Nari saat membukakan pintu.
"annyeonghaseo, bibi."
"halo, Sungmin."
"apa eonni punya alat musik triangle?" tanya Leeteuk saat mencopot high heelsnya.
"sepertinya Hyun-woo punya."
"bagus, tolong carikan ya?" Leeteuk menaruh tasnya di kursi makan. Memang biasanya dia akan duduk di situ. Ia langsung bergegas ke kamar mandi setelah meletakkan tasnya.
"hai, oppa" sapa Leeteuk saat dirinya berpapasan dengan sang kakak. Shindong.
"selalu saja kamu langsung menuju kamar mandi." Shindong berjalan menuju kamarnya untuk mengambil jas.
"jangan khawatir, bibi akan mencarikannya."
"seharusnya eomma yang mencarikannya." ucap Sungmin saat dirinya sudah duduk.
"apa yang kamu inginkan di hari ulang tahunmu?" tanya Nari sambil menyendokkan beberapa lauk ke piring Sungmin.
"sarapan sudah siap? Ayo makan." Shindong yang baru keluar dari kamarnya dengan pakaian kebanggananya.
"ayo."
"sudah mengerjakan PR-mu belum?" tanya Shindong kepada anak pertamanya. Hyun-woo.
"nde."
Sooji, anak kedua dari Shindong dan Nari tampak diam memakan makanan paginya. Ia belum sekolah.
"jangan lupa mengerjakan PR-mu lagi."
"nde." jawabnya sambil menyumpit kimchi.
"jangan terlalu memanjakan dia eonni." jelas Leeteuk saat dia datang. "nanti kebiasaan."
"bibi bilang ini lebih baik daripada aku tidak makan." Sungmin menjulurkan lidahnya ke arah Leeteuk.
"eomma bahkan tidah pernah memasak untukku. "
Semua mata tertuju kepada Leeteuk.
"ck... Anak ini."
"kasih perhatian lebih untuk anakmu." Shindong menasehati.
Beginilah suasana di setiap pagi. Leeteuk dan Sungmin akan sarapan pagi dengan keluarga Shindong. Semanjak Kangin suami Leeteuk pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Leeteuk kini sedang berdiri di depan gedung kantor, seperti menunggu seseorang. Tak lama dia menoleh kan pandangannya kearah pintu lobby. Nampaklah dua orang namja.
"oppa!" pekiknya melihat sang kakak datang. Ia langsung memeluk tangan sang kakak.
"aku sedang ada di kantor."
"biarkan saja. Kajja."
"wahhh... liahat atapnya terbuka. lihat!" Pekik Leeteuk saat atap mobil terbuka dan memperlihatkan langit-lagit shoroom mobil. (bener nggak tuh tulisannya?)
"apakah oppa sudah mempunyai yang ini?" tanya Leeteuk sambil mengeluarkan tangannya di atap mobil ini.
"ommo... lihat dashbordnya seperti kulit asli."
"Ada apa dengan mu?" tanya Shindong to the point.
"aku dengar oppa di promosikan. Sajangnim seharusnya mengendarai mobil seperti ini. ini hadiah dari ku. Jangan berkata tidak."
"mobil lamaku masih bagus."
"sudah berapa lama mobilmu?"
"sudah cukup!"
"akan ku buat eonni menandatanganinya kalau kau tidak mau. Lalu kalian berdua akan dapat menikmati kepemilikan mobil ini."
Shindong-pun keluar dari mobil yang dia coba. Ia berjalan menuju pintu keluar."
"terimakasih. Annyeong gyeseyo." Shindong berpamitan pada pelayan toko tersebut dan pergi keluar.
"oppa..." teriak Leeteuk mengejar Shindong. "jwesonghamnida." Leeteukpun membungkuk kepada pelayan itu dan pergi mengejar Shindong yang sudah meninggalkannya.
oooOOOooo
"agashi, bagaimana dengan yang ini?" tanya Heechul saat memperlihatkan gaun pengantin yang cukup bagus dengan belahan dada, model dan designnya juga bagus. Kepada dua pasangan.
"yepputa..." ucap sang gadis. "eolmayeyo?"
"4000 won." Heechul melihat perubahan air wajah sang gadis. "tapi, jika kau menginginkannya akan ku beri diskon spesial."
"ada yang lebih murah?"
"yang lebih murah? Eoh, ada di lantai dua."
Mereka bertigapun pergi kelantai dua. Heechul sibuk mengaduk-aduk lemari menemukan gaun yang pas. "terkadang, seseorang yang sangat terburu-buru tidak memiliki uang yang cukup... ah, pakai ini saja" Heechul menemukan gaun yang dia cari.
"jika kau mencucinya akan terlihat lebih bagus." Jelas Heechul.
"lebih baik cari yang baru. Kita menikah hanya sekali." Jelas sang namja sambil memeluk pinggang sang yeojanya.
"yakin?" tanya sang yeoja.
"pria yang hebat!" seru Heechul. "dia sangat romantis." Heechul kembali meletakkan gaunnya lagi ketempat semula.
"mari lihat sebelah sini saja."
"wahhh..." sang yeoja terpesona saat matanya menangkap sebuah gambar. Dia mengambil buku sketsa itu untuk melihatnya lebih jelas. "designnya sangat indah."
"ya, benar. Ini sangat cocok untukmu. Gaun ini tidak terlalu terbuka." Sang namja membenarkan ucapan sang yeoja.
"design ini masih baru." Ucap Heechul saat mengetahui arah pembicaraannya.
"jadi akan butuh waktu untuk membuatnya."
"kami membutuhkannya untuk musim dingin nanti. Apakah bisa selesai tepat waktu?" jelas sang namja.
"tentu saja bisa. Jika kalian memberikan uang muka, kami akan langsung melakukannya."
"kalian sangat cocok."
"mianhamnida..." Leeteuk yang beru datang, mengetahui buku sketsanya berada di tangan sang yeoja langsung mengambilnya secara sopan.
"gaun ini sudah ada pelanggan yang memesan jadi..." Leeteuk mengambil jeda. "jwesonghamnida..." Leeteuk langsung pergi meninggalkan mereka bertiga dengan tatapan bingung.
"permisi sebentar." pamit Heechul mengejar Leeteuk yang masuk kedalam gudang.
"apa yang kau lakukan?" tanya Heechul saat dirinya telah bersama Leeteuk.
"mereka mau bayar untuk gaun ini."
"gaun ini tidak di jual." sergah Leeteuk sambil memeluk buku sketsanya.
"kenapa kau mendesaingnnya, jika tak mau di jual? apa kau ingin menjualnya di tempat lain?"
"ini untuk ku." jawab Leeteuk seakan menjawab semua pertanyaan Heechul.
"hah, kau bercanda?" Heechul tak percaya apa yang dikatakan Sahabatnya ini. "kau bahkan belum bertemu pengganti suamimu. Jadi tidak mungkin kau akan menikah lagi."
"ini untuk Sungmin. Arraseo?" Leeteuk keluar dari gudang.
"sekarang kau menggunakan anakmu untuk menjualnya di toko lain?" seakan Heechul bertanya pada dirinya sendiri.
Leeteuk sedang memotong-motong buah melon menjadi kecil. Setelah itu menaruhnya di piring, ia meletakkannya di atas meja makan yang sudah ada penunggunya-Sungmin-.
"sayur dan buah sangat penting untuk kesehatan."Leeteuk mengambil satu potong melon dengan garpu dan memberikannya kepada Sungmin.
"kenapa pulang lebih awal?" Sungmin mengambil garpu yang sudah berada di hadapannya.
"untuk bertemu Sungmin, anak manis." lalu mencubit pipi cubby milik Sungmin.
"ya! Bagaimana kalau kita pergi nonton besok?"
"besok, aku piknik."
"piknik?" Leeteuk mengulang ucapan Sungmin. "kenapa baru mengatakannya sekarang?"
"sebentar lagi aku akan membeli kimbab, snack, dan minuman di toko."
"seperti dulu?"
"mau bahgaimana lagi?" Sungmin kembali menggigit buah melonnya.
"arraseo, tapi..." Leetuk memberi jeda pada kata-katanya. "eomma bisa buat kimbab yang enak tahu?"
Sunyi.
"molla?"
"jinja molla?" Leeteuk seperti sudah diledek oleh Sungmin. "kau tahu. Kemarin itu eomma sedang sibuk. Sekarang eomma bisa membuatnya." Leeteuk tak mau kalah.
"sudah..." Sungmin menggantungkan kata-katanya. "beli saja. Eomma." Sungmin langsung melahap melon yang masih tersisa di garpunya.
Malam itu, Leeteuk mencoba untuk membuat Kimbab. Semua bahan-bahan sudah berada di depannya. Ia duduk di lantai. Ia meletakkan rumput laut di atas alat penggulung yang terbuat dari kayu(saya nggak tau namanya), menyendok nasi dan di tarunya di atas rumput laut, lalu meletakkan beberapa sayuran di atasnya, dan menggulungnya.
"ternyata susah." keluhnya saat hasil gulungannya berantakan.
Leeteuk mencobanya lagi dari awal.
"susah sekali." kali ini Ia mengeluh saat dia memotong kimbab yang sudah di gulungnya. Potongannya hancur berantakan.
Leeteuk mencobanya lagi sampai ia bisa menjadi kimbab yang bagus. Sesekali ia memukul pundaknya yang pegal. Sudah beberapa kali ia mencobanya, tapi berangsur-angsur membaik.
oooOOOooo
"Hujan." keluh Leeteuk yang tengah memandangi luar jendela. Tetasan hujan yang semakin deras.
"kerena hujan, tidak jadi piknik." timpal Sungmin yang berada di samping Leeteuk, yang juga memandangi derasnya hujan.
"bisa semalaman di rumah." ucap Leeteuk sambil memandangi beberapa kotak kimbab yang sudah ia siapkan di atas meja makannya. Sungmin juga memandang dengan kasihan. Susah payah eommanya membuatnya, hingga larut malam.
"huft..." mereka kembali memandangi air hujan yang tak kunjung reda.
"kajja." ucapan Leeteuk mengagetkan Sungmin. Ia bangkit berdiri meraih tangan Sungmin untuk bangkit.
"wae?"
"ganti bajumu." titah Leeteuk saat mereka berada di depan kamar Sungmin.
"mwo?"
"ayo cepat." suruh Leeteuk sambil berjalan ke kamarnya yang terletak di depan kamar Sungmin.
"kita tidak bisa membuang hasil jerih payah eomma."
"tapi, kenapa kita pergi kepantai?" tanya Sungmin polos, sambil menatap sang ibu yang tengah menyetir.
"pantai tidak hujan. Eomma sudah lihat berita perkiraan cuaca." jawabnya, matanya tak lepas dari pandangan jalan raya yang masih di guyur hujan.
"lalu, aku harus bilang apa ke seongsaenim?"
"bilang saja nenekmu ulangtahun yang ke 60. Jangan khawatir."
"aku sudah pernah bilang, kalau nenek sudah meninggal."
"kalau begitu, nenek dari ayah."
"aku sudah bilang kalau kedua nenekku sudah meninggal."
"aish, baiklah. Biar ibu yang bilang ke gurumu." Begitu ke simpulan Leeteuk. Sungmin hanya bisa mengagguk dan kini menatap ke arah jalan raya.
Leeteuk kini menyalakan sebuah radio.
~ ulin, su nyeon jeon-e cheoeum manna
cheos nun-e salang-e ppajyeobeolyeossgo
Baby, naega eodil gadeun machi
geulimjacheoleom nae gyeot-e seo issgo
salanghandaneun ge ttaelon
jeungmyeonghal ge neomu neomu manh-a
apeul ttaeedo naega muneojil ttaedo
geunyeoman-i naege nam-a issneungeol ~
"wah, ini lagu favorit eomma."
"lagu ini?"
"hmmm... Ayahmu sering manyanyikan lagu ini, suaranya lebih indah dari pada penyanyi aslinya." cerita Leeteuk, mengenang masa lalunya.
"jinjja?"
"sebenarnya appa menyanyikannya sewaktu melamar ibu. Romantiskan?"
"nde. Appa sangat romantis."
"sttt... Biar eomma mendengarkannya dulu."
"kan eomma yang berbicara terus."
~ neolang na dul-i
joh-eun geosman gat-i bogo gat-i meoggo gat-i jeulgyeo deudgo ulgo usgo aleumdabgiman haessdeon naldeul
naega muneojiji anhge mid-eojugo gyeot-eul jikyeojwoseo gomabda jeongmal gomawo
Baby baby baby baby baby
uli jeoldae heeojiji malja
Oh my lady lady lady lady lady
naega jeongmal neoleul salanghanda
Shawty shawty shawty shawty shawty
ojig neoya naleul seontaeghan geon
naui nunmulkkajido, jag-eun misokkajido..
ani? neolobuteo oneungeoya
neul gomapgo, saranghanda… ~
"wah... Itu lautnya!" pekik mereka berdua saat melihat hamparan laut biru dengan coklatnya pasir yang terbentang luas.
"benarkan disini tidak hujan?"
Mereka menikmati hamparan pantai. Berlarian mengejar ombak. Sungmin menikmatinya, terlihat dari wajahnya yang beseri. Rambut hitamnya berkibar terkena angin pantai. Setelah puas bermain-berkejar-kejaran-dengan ombak. Mereka menggelar tikar untuk menyantap makanan yang mereka bawa.
"ini, eomma bikin khusus untukmu." jelas Leeteuk sambil menyuapi Sungmin dengan kimbab buatan eommanya.
"masshitta."
"geure?" Sungmin mengangguk.
Setelah mereka bersantap ria. Sungmin berlari kearah pantai lagi. Leeteuk hanya bisa tersenyum gembira melihat anak satu-satunya gembira. Sungmin kini berjongkok menghadap ombak. Tangan kecilnya sepertinya menulis sesuatu di pasir pantai.
"ya! Apa yang kau tulis?" tanya Leeteuk saat berjalan kearah Sungmin.
Sungmin yang menyadari eommanya mendekat, dia buru-buru mnghapusnya dengan mengacak-acak pasir.
"anniyo."
"sudah selesai." ucap Leeteuk saat mematikan shower. ya, mereka sedang berada di bathap berdua. Mandi bersama.
"bilas yang bersih. Rambutku masih ada sabunnya."
"eodi? eomma tak lihat."
"bilas lagi."
"geure, tutup matamu."
Sungmin menutup matanya. "hana, dul..."
"kenapa berhenti?" tanya Sungmin saat tak ada pergerakan dari eommanya, ia masih setia menunggu dengan menutup matanya.
Chu.
"apa itu?" tanya Sungmin saat ia rasa eommanya mempermainkannya dengan menciumnya bibirnya.
"ini salahmu." Leeteuk mencubit pipi cubby Sungmin dengan gemas. "kamu manis sekali." tambah Leeteuk.
"tidak lucu." Sungmin menggelembungkan pipinya, yang membuat dirinya semakin imut.
"ayo ketawa..." Leeteuk menggelitik badan Sungmin. Hingga Sungmin tertawa.
"sudah... Hahaha..."
"hahaha..." Dan merekapun tertawa bersama.
"kelihatannya dia sedang sibuk." tanya Nari sambil sibuk menyiapkan makanan, untuk sembayang-menghormati kematian nenek-.
"kapan dia tidak sibuk?" jawab Kibum sambil membalik makanan yang sedang di goreng.
"tapi, aku bangga padanya." Nari beralih mengambil piring. "aku dan kamu belum tentu sanggup seperti dia."
"dia selalu membuat kita khawatir."
Shindong sibuk memindahkan meja dan kursi.
"dulu dia bersikukuh untuk menikah dengan pria yang kita benci..." Kibum mengambil jeda pada kalimatnya. "mungkin itu penyebab nenek meninggal."
"jangan berprasangka buruk!"
"aku kasihan padanya, itu saja. jangan selalu membela dia."
"sepertinya Leeteuk akan terlambat, kita mulai tanpa dia." ucap Leeteuk menghampiri Nari dan Kibum di dapur.
"ayo kita siap-siap."
"di taruh dimana ini?" tanya Kibum saat masakannya sudah matang.
"akan ku ambilkan piringnya."
"gomawo, Kibum." ucap Shindong.
"makanlah yang banyak" ucap Nari kepada anak-anak.
"mashita..."
Ting tong... Ting tong...
"mungkin itu dia."
"ya, kelihatannya." Nari bangkit dari duduknya menghampiri pintu.
"makan mienya itu makanan kesukaan nenek." kata Shindong kepada Hendry-anak Kibum-.
"mau makanan yang lain?" tanya Kibum.
"ayo masuk." Nari mempersilakan Leeteuk masuk.
"mianhae" ucap Leeteuk
"Sungmin tidur?" tanya Shindong sambil mengambil Sungmin yang berada di gendongan Leeteuk.
"hati-hati..."ucap Leeteuk saat Shindong menaruhnya di sofa.
"Tadi terjebak macet. Salahkan dinas perhubungan jangan aku" ucap Leeteuk saat dia bergabung di meja makan.
"kenapa tidak beritahu dari tadi?" tanya Kibum.
"aku kira macetnya tidak lama"
"belum makan kan?" tanya Nari saat dia kembali dan membawa dua mangkuk yang berisi nasi dan soup.
"nde."
"kamu harusnya datang lebih awal, kakak ipar kecapean." sindir Kibum.
"untuk itulah kenapa kau harus datang."
"kenapa harus aku?"
"sudahlah, makanlah." Nari menghentikan pertengkaran antara Kibum dan Leeteuk.
-Leeteuk POV-
Kami duduk melingkar. Seperti biasa Shindong oppa yang memimpin doa, untuk mengenang dan menghormati arwah nenek.
"terimakasih Tuhan sudah menyatukan kami kembali, untuk mengenang nenek kami" Shindong oppa telah memulai berdoa. Kami menutup mata untuk menghayati apa yang di katakan oleh Shindong oppa.
Perutku terasa sakit. Oh tidak jangan kali ini. Aku memegang perutku yang terasa seperti di pelintir. Rasanya sakit sekali. Keringat telah membasahi dahiku.
"kami kira kami masih seperti dulu ketika... Nenek masih hidup." aku masih bisa mendengar sayup-sayup kata-kata Shindong oppa. Aku buka mataku untuk melihat mereka. Namun, aku tak bisa melihat dengan jelas. Samar. Wajah mereka tak terlihat dengan jelas dimataku. Aku terus memegang perutku yang terasa semakin sakit.
"aku menyesal kami tidak dapat berbagi kasih dengan lebih baik."
Pandangan mataku perlahan-lahan meredup. Tubuhku lamas seolah tidak mampu lagi menahan berat badanku.
Brukkk...
Samar-samar aku melihat eonni menghampiriku dengan tatapan panik. Aku mencoba tersenyum di tengah rasa sakit yang ku rasa.
Kemudian semua tersa gelap.
-Leeteuk POV end-
Perlahan kelopak mata Leeteuk terbuka. Ia berusaha memfokuskan pandangannya. Kepalanya menengok ke arah kanan dan kirinya.
"dimana ini?" tanyanya dalam hati, sambil bangkit untuk duduk. Dia tersenyum melihat Shindong oppa yang berada tak jauh darinya. Ia sedang berbicara dengan seorang resepsionis dengan istrinya. Nari.
"datang lagi besok dan bicarakan dengan dokter."
Shindong dan Nari langsung memandangi Leeteuk yang masih dengan keadaan lemas di atas kasur rumah sakut, sedang tersenyum dengan sedikit memaksakan.
Sunyi.
Hanya ada suara gesekan ban mobil dengan aspal. Jalanan Kota Seoul dimalam hari memang agak senggang. Di dalam mobil yang di tumpangi Shindong, Nari dan Leeteuk pun sunyi tak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Sejak mereka pulang dari rumah sakit. Shindong fokus dengan mengendarai mobilnya. Nari hanya memandangi depan jalan raya, dia juga tak berniat untuk memulai pembicaraan. Sementara Leeteuk hanya dapat memandangi gedung-gedung kota Seoul yang masih berlampukan cahaya warna-warni.
"mianhae, oppa."Leeteuk memulai pembicaraannya. Setitik air bening jatuh di pipi Leeteuk.
Shindong tidak berkata apa-apa, hanya dapat menghembuskan napas lelahnya.
"aku selalu merepotkan." kini air mata telah membanjiri pipi. "Sungmin, mollayo."
Shindong menepikan mobilnya. Dia langsung keluar dari mobil, dan berangsur merosot dari senderannya di pintu mobil.
"hiks..." Shindong tidak dapat menahan air matanya yang akan turun. ya, dia menangis. Bukan karena malu jika ia memamerkan air matanya di hadapan Nari dan Leeteuk. Dia amat menyesal. Menyesal tak bisa menjaga adiknya.
oooOOOooo
Pagi itu tidak seperti biasa ada seorang namja sedang membagikan sebuah brosur kepada murid-murid di sekolah tersebut, tepatnya di depan gerbang sekolah.
"hai, manis mau belajar taekyeon?" sapa seorang namja sambil memberikan brosur pada salah satu murid sekolah tersebut.
"bilang sama ibumu ya." jelasnya lagi. Namja itu tak lain dan tak bukan adalah Donghae.
"selamat pagi." Donghae membungkukkan badan pada seorang guru yang baru melintasinya.
"masuk kelas taekyeonku ya."
"ajak kakakmu juga."
"punya saudarakan? Ajak juga ya." ya seperti itulah cara mempromosikan kelas taekyeonnya kepada anak-anak kecil.
"hai, manis..." ucapan Donghae terhenti ketika melihat seorang yeoja kecil yang dia kenal.
"seharusnya sekalian bawa permen." Sungmin yeoja kecil itu.
"kamu? Sekolah disini?" tanya Donghae dengan wajah berseri, seakan mendapatkan pencerahan.
"bagus, ini..." Donghae menyerahkan beberapa lembar brosur yang ada di tangannya kepada Sungmin. "untuk teman-temanmu." Jelasnya.
"seharusnya bagiakan sewaktu pulang sekolah." Bukannya menerimanya Sungmin malah menasehatinya. Lebih tepatnya memerintah.
"semoga harimu menyenangkan" Sungmin langsung berjalan memasuki area sekolahnya meninggalkan Donghae.
"permen? Pulang sekolah?" Donghae langsung berlari meninggalakan sekolah itu dengan wajah gembiranya.
Sungmin diam-diam tersenyum senang.
Seperti biasa saat jam istrihat murid-murid akan dibagikan makanan yang telah di sedikan olah pihak sekolah untuk mereka makan. Sungmin memegang baki berisi makanan lengkap dengan susu. Ia berjalan kearah kursinya. Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, Sungmin lebih memilih untuk makan sendiri dibandingkan bergabung dengan teman-taman lain.
"kenapa dia tidak masuk kelas ballet?" tanya Sooyoung kepada dua sahabatnya.
"bagaimana dengan pertunjukkan kita?" timpal Taeyeon.
Sunkyu-pun bangkit dari tempat duduknya menghampiri orang yang sedang di bicarakannya.
"kenapa tidak masuk kelas ballet?" tanya Sunkyu kepada Sungmin saat dia berhadapan dengan. "bagaimana dengan pertunjukan kita? Apa kau takut dengan ku?"
"aku tidak menyukai ballet" jawab asal Sungmin.
"hmmm... aku tahu ?" Sunkyu terlihat meremehkan. Ia tersenyum licik dan bangkit dari duduknya sambil mengambil kotak susu yang berada di atas meja Sungmin, dan meminumnya.
"ah, mianhae. Aku sangat suka susu rasa strawberry." Sunkyu menaruh kotak tersebut ditempat semula. "tapi aku bagi setengah untuk mu. Minumlah." Sunkyu langsung berlalu meninggalkan Sungmin menuju mejanya dengan teman-temannya.
"kamu terlalu baik padanya." Jelas Sooyoong saat Sunkyu telah menjatuhkan tubuhnya di kursinya sendiri.
"tidak, dia sudah takut."
"kelihatannya tidak." Taeyoon menyangkal kalimat mereka berdua. "lihatlah, dia datang."
Sungmin kini berada di antara tiga sekawan dengan membawa kotak susu yang Sunkyu minum. Ia menuangkan sisa susu tersebut ke makanan Sunkyu hingga susu itu habis.
"ihhh..."
"apa yang kau lakukan?" teriak Sunkyu.
"bukankah katamu, kamu suka susu ini?" Sungmin mencoba mengulang kalimat yang tadi ia dengar. "sekarang habiskan."
"Ya!" Sunkyu memukul meja.
Sementara Sungmin hanya bisa menatapnya tajam.
Seperti biasa Leeteuk sedang membuat desain baju. Tapi kali ini dia sedang mensematkan jarum pentul untuk merapikan bagian-bagian yang kurang bagus, untuk menjahitnya.
"eonni." Panggil Leeteuk.
"kau mengagetkanku." Heechul yang sedang sibuk memandangi jalanan kota Seoul melalui kca bening yang menghisai toko ini, sambil memegang gelas. Harus menoleh kearah Leeteuk.
"setelah ini, aku ingin ambil cuti."
"kamu Cuma ingin dikasihani kan?"
"akir-akhir ini aku sedang tidak enak badan."
"aku juga tidak bisa tidur."
"aku harus minum soju. Baru bisa tidur"
"aku ada urusan yang harus aku selesaikan."
"aku juga. Kepalaku selalu sakit!" Heechul menengguk kopi yang berada di gelasnya. "jika mau pulang, katakan saja."
Leeteuk hanya bisa tersenyum getir. Terlihat dia menyembunyikan penyakitnya dari Heechul yang telah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Heechul kembali ke pekerjaan awal, memandangi jalanan kota Seoul.
Drrrttt... Drrrttt...
"yeoboseo? Oh, seongsaenim."
"dulu pada saat jam makan siang tidak pernah ada masalah... kecuali hari ini" Kim songsaenim memuai pembicaraannya. Mengenai kajadian tadi siang.
"maafkan saya."
"anniyeo. Ini bukan hanya kesalahan Sungmin. Sunkyu seharusnya bisa menjadi teman baik Sungmin."
"Sunkyu pernah di permalukan Sungmin dulu."
-flashback-
Setelah selesai pelajaran olahraga. Semua murid kelas 1-2 masuk kedalam kelas untuk sekedar beristirahat ataupun berganti baju. Sungmin langsung menuju ke mejanya dan mengambil botol air minumnya di dalam tas berwarna pinknya. Ia membuka tutup botol itu, tapi kerena terlalu keras tempat pensilnya terjatuh dan berserakan di lantai.
Sungmin engurungkan niatnya untuk memeinumnya, dan langsung memungut barang-barangnya yang terjatuh.
"ah, aku haus." Sunkyu datang dan ia langsung meminum minuman yang tergeletak begitu saja di meja Sungmin tanpa sepengetahuan Sungmin.
"kenapa meminum minumanku?" ucap Sungmin saat mengetahui minumannya di minum oleh Sunkyu. Ia langsung merampas botol air minumnya dari Sunkyu dengan paksa.
"dasar pengemis." Bentak Sungmin.
Dan itu membuat seisi kelas menertawai Sunkyu.
-flashback end-
"sejak saat itu Sungmin dan Sunkyu tidak pernah terlihat bersama." Jelas Kim songsaenim mengakhiri ceritanya.
"apakah Sungmin punya teman lain?" tanya Leeteuk untuk memastikan.
Kim songsaenim bingung untuk mengatakannya. Leeteuk tahu dengan jawaban seongsaenim, itu membuat Leeteuk bersedih.
Eunhyuk terlihat sedang menari dengan sangat anggung iringan musik menambah kanggunannya. Putar kiri, purat kanan , sesekali melimpat.
"ahh..." Donghae terlihat sedang memperhatikan tarian Eunhyuk. Dia tersenyum dan kembali ke ruang kelasnnya dengan mengikuti beberapa tarian yang dia lihat.
"kalian! Kenapa malah seperti ini?" omel Donghae saat ia masuk kedalam kelasnya, melihat kedua muridnya sedang bermain dengan benda yang seharusnya dipakai untuk latihan. Kedua anak murid itu langsung melempar benda itu dan langsung berlatih di sudut semestinya.
"ayo kembali berlatih!" perintah Donghae saat akan melepas sepatunya. Donghae yang menyadari ruang kerjanya di huni seseorang langsung melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
"kapan kau masuk" tanya Donghae kepada yeoja yang ia ketahui beberapa hari ini.
"permen..." Sungmin yang sedang menempeli permen di brosur. "siapa suruh kau melakukan ini?" tanya Donghae yang masih berada di ambang pintu.
"apa yang terjadi jika seongsangnim memanggil eomma ke sekolah?" bukannya menjawab pertanyaan yang di berikan, Sungmin malah memberikan pertanyaan.
"seongsangnim?" ulang Donghae, ia duduk di hadapan Sungmin.
"tamat sudah." canda Donghae. "pastikan kamu sudah menyembunyika parabotan, eomma-mu bisa marah-marah sambil melempar."
"belum waktunya pulangkan?" tanya Donghae saat Sungmin bangkit dari tempat duduknya dan meraih tasnya.
"aku harus menyembunyikan perabotan."
Sesampainya di rumah Sungmin membuka pintu dengan pelan dan menutupnya juga sangat pelan. Ia berjalan juga sangat pelan takut ketahuan sang eomma.
Hukkk... Eohukkk...
Hukkk... Eohukkk...
Terdengar suara aneh dari dalam kamar mandi yang di perkirakan pasti sang eomma. Sungmin berjalan mendekati pintu kamar mandi.
"eomma..." panggil Sungmin memastikan.
Kruuusss...
Suara keran mengakhiri suara aneh tersebut. Cklek.
"kau pulang cepat?" tanya Leeteuk sambil mengelap mulutnya dengan handuk.
"eomma kenapa?"
"eomma terlalu banyak makan." Bohong Leeteuk.
"eomma... apa eomma marah?"tanya Sungmin hati-hati.
Leeteuk yang sedang mencuci piring, mematikan air kerannya."anni."
Sungmin membuang napasnya lega. Ia kembali pada kegiatannya. Mengerjakan PR. Dan Leeteuk kembali menyelesaikan cuciannya yang hampir selesai.
"Sungmin..." panggil Leeteuk menghampiri Sungmin yang duduk di meja makan.
"hmmm" Sungmin tak mengalihkan pandangannya ke buku-buku yang ada di hadapannya..
"kepana tidak pernah makan bersama teman-teman?" tanya Leeteuk saat dirinya duduk berhadapan dengan Sungmin.
"bukankah sangat asik, jika bisa berbagi makanan dan mengobrol bareng teman-teman?"
"jorok."
"kenapa jorok?" tanyanya bingung.
"bukankah kau ingin berciuman ketika kau dewasa? bagaimana kau bisa berciuman kalau begitu?"
"aku ingin hidup sendiri."
Leeteuk tersentak kaget dengan jawaban Sungmin."apa maksudmu?"
"ketika kau dewasa, kau akan berpacaran dan menikah."
"kau akan berbagi makanan juga kepadanya, eomma tidak bisa menemanimu terus sampai kau dewasa."
"aku bisa hidup tanpa bantuan ibu."
"apa kau tau rasanya hidup sendirian?" tanya Leeteuk sambil menahan air matanya yang akan segera keluar.
"tentu saja." jawab Sungmin tegas. Kini ia menatap mata sang eomma.
"aku mengerjakan PR sendiri, makan sendiri, menunggu eomma sendiri, dan tidur sendiri. Aku bisa hidup sendiri."
"itu... karna eomma sangat sibuk."
"kalau begitu teruslah sibuk. Aku bisa hidup sendiri. Jangan khawatir."
Leeteuk kembali mengatur napasnya."bagaimana tidak khawatir? Jika terjadi sesua..."
"biar bibi yang mengurusku. Bibi lebih perhatian daripada ibu."
"mwo?"
"kenapa tidak sekalian marahi aku, kerena aku bertengkar dengan teman sekelasku?"
"kalau begitu pergi dan tinggal dengan bibimu!" bentak Leeteuk dan pergi menuju kamarnya. Dan menutup pintu kamarnya.
"hiks..." Leeteuk menyenderkan tubuhnya di pintu. Ia memegang mulutnya dengan kedua tangannya. Entah untuk meredamkan tangisnya atau dia sedang mencerna kata-kata yang baru dia katakan.
"hisk... aku harus..." ucapnya di sela isakannya. "... selalu menemaninya."
Leeteuk menghapus airmatanya dengan punggung tangannya.
cleck.
"mianhae, eomma." kata Sungmin saat eommanya keluar dari kamarnya.
"aku ingin selelu dekat dengan ibu sampai dewasa." jelas Sungmin.
Leeteuk terdiam. Menatap punggung sang anak dengan tatapan lembut. Ia tersenyum dan menghampiri sang anak yang masih fokus dengan PR-nya.
Leeteuk maraih bahu Sungmin dan membalikkan tubuhnya agar menghadapnya, lalu memeluknya. Memeluk sangat erat. Sungmin pelan-pelan mengangkat tangannya untuk membalas pelukan sang eomma.
Hening. Sangat hening.
Hanya terdengar suara isakan yang keluar dari mulut Leeteuk. Bukan hanya satu-dua tetes air mata yang keluar, tetapi wajahnya kini benar-benar di penuhi air mata. Bahkan baju Sungmin sudah membentuk tetesan-tetesan.
oooOOOooo
TBC
Annyeong... *lambai-lambai.
Aku senang sekali bila kalian sampai membaca di chapter dua ini. Masih banyak sekali ilmu yang harus ku pelajari dalam dunia tulis menulis ini. Jujur aku mulai tertarik untuk mempublish lebih banyak.
Big Thanks pada kalian readers yang telah mereview.
Review... please. (^/\^)
Karena itu dapat membantu saya agar tulisan selanjutnya lebih baik.
Gomawo.
