Title: El Dorado
By: Aitalee
Disclaimer: This story is mine. Cast hanya milik Tuhan YME.
Genre: Adventure, Fantasy, Supernatural.
Rated: T
Main Cast: All EXO members (ot12)
Other Cast: Another K-artis, OC
Warning: AU, mungkin beberapa kalimat yang kurang bisa dimengerti, banyak kata-kata yang merupakan imajinasi author sendiri.
"Telah terjadi gempa dengan kekuatan 5,5 skala richter di distrik dua Dyo. Gempa itu menyebabkan beberapa rumah penduduk rusak karena pusat yang berada tepat di pemukiman penduduk. Akhir-akhir ini sering terjadi gempa dengan titik pusat yang sama-"
'Klik'
"Ambilkan ponselku, cepat.".
Seorang pria dewasa dengan umur kisaran tiga puluh, memijit dahinya pelan dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya bertumpu pada lengan sofa yang empuk. Pelayan yang ia suruh tadi sudah menghilang di balik pintu cokelat tua nan kokoh yang menempel pada dinding kuat dengan ukiran-ukiran unik di permukaannya.
"Kejadian-kejadian ini membuat kepalaku pening." Bisiknya pelan.
Pelayan yang tadi ditugaskan mengambil ponsel akhirnya kembali. Ia menunduk sebelum memberi ponsel itu. "Ini tuan," ucapnya lalu beranjak keluar dari ruangan ini.
Laki-laki yang masih menatap layar ponselnya itu mengumpat kesal sambil medial nomor telepon.
"Halo."
Terdengar suara wanita di seberang sana, laki-laki itu segera membenarkan posisi duduknya.
"Kau lihat berita?"
"Ya."
"Apakah serangkaian peristiwa ini tidak aneh?"
"Kau mulai waspada seandainya mereka muncul huh?" Suara di seberang sana bicara dengan nada sarkastik.
"Tidak ada salahnya, kan?"
"Baiklah, terserah kau saja."
"Kau tahu sendiri Jessi. Seminggu yang lalu, tiba-tiba sebuah toko roti membeku di distrik dua di Trion dalam satu hari, sekarang pun juga di Dyo— gempa itu sudah terjadi beberapa kali dengan titik pusat yang sama."
"Oh, jangan lupakan taman kota distrik lima di Tessaron beberapa hari lalu yang terbakar padahal jelas-jelas hari itu hujan."
"Aku ingat itu, Jessica. Tidak perlu di ingatkan."
"Kita harus bertindak cepat."
"Kau juga percaya ramalan itu?"
"Tidak ada salahnya kan? Seharusnya kau hubungi petinggi Dyo, bukan aku. Sekali lagi kutekankan. Kita. Harus. Bertindak. Cepat."
Lelaki berambut cokelat terang itu tersenyum simpul sebelum memutuskan mengakhiri pembicaraan itu.
Dia adalah Ikarus Sezer, seorang pemimpin di negeri Trion walaupun usianya baru bekisar tiga puluhan. Sedangkan yang tadi berbicara dengannya adalah Jessica Jung, seorang wanita cantik yang memimpin Tessaron.
.
Seorang remaja sedang duduk di bangku taman di bawah sebuah pohon Elm yang lebat daunnya. Sesekali dia terkikik bersama seorang anak kecil di pangkuannya.
"Hyung, apa itu laut?" anak kecil itu mengemut sebuah permen lolipop, membuat sebelah pipinya menggembung lucu.
"Kau tahu dari mana kata laut itu?" yang lebih tua mengerutkan dahinya, tidak suka dengan pertanyaan anak kecil di pangkuannya.
"Kemarin Lizzie bercerita kepada teman-teman kalau di luar dinding ada laut yang luas sekali! Lalu, lalu dia bilang kalau di luar sana itu indah dan ada peri!" anak kecil bernama Minsoo itu bercerita dengan semangat yang menggebu-gebu, ia menggoyangkan kaki-kaki kecilnya yang menggantung tak menyentuh rumput hijau di bawah bangku.
"Minsoo, jangan mudah percaya dengan orang lain oke?"
"Tapi Chanyeol-hyung, kata Lizzie, peri itu punya sayap dan bisa terbang. Minsoo juga ingin punya sayap dan bisa terbang tanpa naik pesawat tanpa jendela lagi, hyung!"
Minsoo mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya, membuat Chanyeol mau tak mau memundurkan kepalanya sedikit agar tak terkena tangan mungil anak kecil di pangkuannya.
"Minsoo-ah, ayo pulang."
Seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri mereka, kedua tangannya penuh dengan jinjingan plastik.
"Ah, Ibu sudah kembali. Chanyeol-hyung, lain kali main lagi ya!" Minsoo melompat kegirangan, mendaratkan kakinya ke rumput lalu berlari kecil menghampiri ibunya.
"Terima kasih sudah menjaga Minsoo, Chanyeol!"
"Tak apa-apa bibi." Balas Chanyeol sambil melambaikan tangannya, senyuman lebar ia pamerkan bersama deretan gigi-gigi putih yang rapi.
Setelah melihat sepasang ibu dan anak itu pergi, Chanyeol menurunkan tangannya. Kepalanya menengadah ke atas mendapati dedaunan hijau pohon Elm yang subur. Ia menghela nafas kasar. Diliriknya jam tangan digital yang bertengger di pergelangan tangannya dengan tidak bersemangat.
Hampir malam dan ia malas pulang.
Hari ini Chanyeol lulus SMA dan ia akan berangkat ke Dyo—negeri tetangga- seminggu lagi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sana adalah tempat yang sangat bagus untuk pendidikan. Setidaknya itulah kata orang tuanya.
Dirinya enggan meninggalkan keluarganya untuk tinggal di negeri lain, apalagi hanya pulang setiap enam bulan sekali. Tetapi, itulah yang di inginkan kedua orang tuanya. Pendidikan yang bagus seperti kakaknya, Yura, yang kini bekerja menjadi seorang presenter berita dengan nama yang berkibar sekaligus menjadi direktur di salah satu stasiun tv ternama di negerinya, Ena.
Huah.
Chanyeol menatap lurus, pada pepohonan yang tumbuh rapat-rapat. Yang mulai gelap karena hari yang kian sore. Dan karena itu, matanya membulat ketika menangkap cahaya seperti kabut yang melayang. Dengan bentuk seperti hewan, juga beberapa bentuk abstrak lainnya. Melayang lalu menghilang saat keluar dari pepohonan. Juga, telinganya mendengar sayup-sayup suara orang yang berteriak kegirangan.
Dirinya bergidik ngeri. Namun saat otaknya berpikir ulang, dia yakin kalau itu adalah ulah manusia. Dan, karena didorong oleh rasa penasaran, kaki-kaki panjangnya refleks berjalan ke dalam hutan. Chanyeol tidak dapat mencegahnya karena ia sendiri pun penasaran.
Akhirnya setelah berjalan sekitar tiga menit ke dalam hutan yang mulai gelap itu, dituntun oleh cahaya-cahaya yang melayang dari satu sumber, Chanyeol berhenti saat mendapati seseorang yang sedang berjongkok di bawah pohon membelakangi dirinya, cahaya terang memantul di wajah orang itu. Menyadari kehadiran Chanyeol, orang itu refleks berdiri. Hendak kabur.
Untuk apa dia di sini?
Dia sepertinya seorang remaja laki-laki. Chanyeol yakin orang itu memakai seragam SMA, dan itu merupakan seragam SMA terkenal di Ena. Namun, sebelum Chanyeol melontarkan sebuah pertanyaan, orang itu kabur dan Chanyeol dengan refleks mengejarnya.
Jarak yang tidak terlalu jauh untuk melihat dengan jelas dari tangan pemuda itu, memancar cahaya yang berusaha ditutup-tutupi. Dan cahaya itu seperti melayang ke arahnya, dengan bentuk abstrak mengelilinginya untuk beberapa detik sebelum akhirnya menghilang. Bagaimana pun hal itu tidak cukup untuk menghentikan dirinya, tidak juga dengan hutan yang kian gelap, dia malah semakin penasaran.
'Apa yang ia bawa?'
Tanpa sadar, kaki-kaki mereka membawa keduanya pada sebuah tanah lapang dengan ilalang yang tumbuh tinggi-tinggi. Keluar dari hutan. Dan, satu kilometer dari mereka, berdiri kokoh dinding besar dengan tinggi menjulang menembus udara.
"Kenapa—haah kau mengikutiku?" pemuda itu berbicara dengan nafas terputus-putus, tangannya di sembunyikan di balik punggung. Dengan dirinya yang membelakangi matahari, karena itu Chanyeol tidak dapat melihat wajah pemuda itu.
"Entahlah." Jawabnya asal, karena dia pun tidak tahu mengapa tubuhnya bergerak sendiri tanpa keinginannya. Chanyeol merutuk dalam hati karena kebodohannya mengikuti orang ini hingga perbatasan. Tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"A-aku—" Chanyeol melemparkan pandangannya pada rumput-rumput di bawah kakinya, matanya melirik sesuatu yang menarik. "Oh hei, bunga apa ini. Cantik sekali," refleks, ia berjongkok menatap bunga di depannya. Sangat mudah teralihkan.
"Bunga itu, jangan mende—"
Puff
"—kat."
Telat. Sebuah debu berwarna Jingga keluar dari bunga yang lalu menguncup. Seolah debu itu di tiupkan dari dalam sana. Chanyeol menutup matanya lalu bersin, dan pingsan. Atau mungkin tertidur.
"Aish, merepotkan..." orang itu menggaruk kepalanya, matanya menatap Chanyeol bingung. Pikirannya terus berargumen untuk membawa orang ini kembali ke kota atau tidak.
Dan karena dirinya terlalu baik—menurutnya. Dia harus bersusah-susah membopong pria yang lebih tinggi darinya, walau sepertinya mereka seumuran, sama-sama memakai seragam SMA. Dengan matahari yang mulai mengantuk, hanya cahaya Jingga pekat menemaninya. Tidak saat dirinya sampai di hutan, dia mengeluarkan cahaya dari jari telunjuknya dan cahaya putih terang benderang menemaninya, dengan radius pandang tiga meter.
Namun, saat dirinya sampai di tengah hutan. Sebuah cahaya kuning mendekatinya, dia pun tersenyum saat cahaya itu hinggap di pundaknya dan mendekat pada telinganya. Membisikkan sesuatu.
"Dia juga?"
"Hm, benarkah? Tidak ada tanda apapun seperti yang kau bilang."
"Ah, benar juga. Tidak muncul berbarengan ya."
"Jadi, apa yang harus ku lakukan?"
.
Di bawah cahaya terik matahari yang terhalang dedaunan, seorang pria berjalan tergesa-gesa dengan tangan yang terbungkus sarung tangan. Titik-titik peluh mengalir dari dahinya. Sudah beberapa hari sejak Xiumin kembali ke Dyo, dan kini ia akan mengambil mata kuliah selanjutnya di gedung lain.
Sebelumnya adalah libur semester, dua Minggu Xiumin pulang ke negeri asalnya, Trion, bukanlah apa-apa, bahkan ia masih rindu kepada kedua orang tuanya yang ia , mengingat insiden toko roti yang beku karenanya beberapa hari lalu karena ulahnya, di distrik dua, membuatnya mau tak mau segera pergi negeri itu demi keselamatannya dari pertanyaan-pertanyaan memojokkan.
Malam itu ia sedang kesal kepada seorang penjaga kasir toko roti karena saat ia mengeluh tentang kembalian yang kurang, ia malah di maki-maki oleh penjaga kasir yang menuduhnya berbohong. Tak terima dituduh begitu, Xiumin naik pitam dan menggebrak meja kasir, tapi yang terjadi selanjutnya terjadi membuat Xiumin tercengang.
Karena sepersekian detik setelah telapak tangannya menyentuh meja, meja itu membeku, seluruh permukaannya dilapisi es tipis. Dan dirinya mulai takut saat es itu perlahan merambat ke lantai, dinding, hingga seluruh ruangan, membuat keseluruhan toko itu dilapisi es.
Jadi, ia langsung berlari meninggalkan toko—tak peduli dengan penjaga kasir yang terus-terusan berteriak padanya.
Oh, jangan lupa dengan simbol aneh yang muncul di pergelangan tangannya saat itu juga. Dan sejak saat itu, apapun yang di sentuhnya, membeku. Xiumin hampir gila karena hal itu, lalu ia membungkus tangannya dengan sarung tangan. Dan, hal aneh itu berhenti kecuali saat ia melepaskan sarung tangan miliknya.
Banyak sekali wajah-wajah baru dijumpainya di gedung ini. Xiumin yakin mereka adalah mahasiswa-mahasiswi baru.
Saat sudah berada di depan pintu kelas selanjutnya, Xiumin menghela nafas sejenak sebelum memasuki kelas itu. Kehadirannya disambut sapaan-sapaan beberapa temannya, ia mengangguk dan tersenyum, membalas sapaan untuknya.
"Hei, lama tak bertemu."
Seorang pria menyapanya saat ia mendudukkan diri di bangku. Xiumin menoleh ke sumber suara, itu Luhan, teman baiknya.
"Hai Lu!" Xiumin tersenyum lebar sebelum dirinya meninju pelan bahu Luhan.
"Tanganmu kenapa?"
"Tidak apa."
"Lepaslah kalau kau tidak ingin di cap aneh."
"Diamlah, aku akan melepasnya." Xiumin melepas sarung tangannya dengan hati-hati dan gugup, ditaruhnya sepasang sarung tangan itu di meja.
Luhan tersenyum.
"Aku kira tanganmu terluka," Luhan menghela nafas dan menyandarkan dirinya pada bangku. "Dan hey, kau tahu, aku punya simbol keren di sini. Lihat, ini muncul begitu saja beberapa hari yang lalu." Luhan membalik tangan kirinya, memperlihatkan sebuah simbol aneh di pergelangan tangannya.
"Aku juga—ah tidak."
"Juga apa?"
"Tidak, maksudku itu keren huh." Xiumin menggelengkan kepalanya pelan. Simbol itu tidak sama dengan miliknya. Ia menarik lengan kemejanya untuk menutupi simbol yang juga tergambar di pergelangan tangan kirinya, tidak ingin Luhan mengetahuinya.
Xiumin bingung, otaknya masih terus memikirkan hal yang sama. Kenapa dan bagaimana. Jarinya meraih sebuah pensil miliknya yang tadi ia taruh di atas meja, memainkan pensil itu dengan jemarinya sebelum ia memekik pelan dan membuangnya. Membuat Luhan menoleh dan menatapnya bingung, begitu juga dengan beberapa orang lainnya.
Xiumin yakin pensil di tangannya itu membeku, jadi ia membuangnya. Namun kini ia merasakan hal yang lebih buruk, saat ia menaruh telapak tangannya di atas meja, dia bisa merasakan dingin yang merambat.
Sial.
Keseluruhan meja panjang itu tertutupi lapisan es, membuat beberapa mahasiswa maupun siswi refleks mengangkat tangan dan barang-barang mereka dari atas meja.
Sial.
Ruangan itu riuh. Xiumin segera mengambil langkah seribu untuk keluar dari kelas ini. Bahkan dia tidak menyadari Luhan yang mengekor di belakangnya, melangkah dengan rasa penasaran dan bingung.
Xiumin memakai sarung tangan itu lagi, sebuah kesalahan melepasnya dari tangan. Kakinya menuntun dirinya ke toilet, dan setelah sampai di depan toilet, terbukalah pintu itu dan sesaat dirinya di telan pintu.
Tangannya mengusap sensor merah di atas wastafel, lalu mengucurlah air dari lubang yang berbentuk guci tersebut. Xiumin membuka sarung tangan kirinya, nafasnya memburu, jari telunjuknya ia arahkan pada air yang mengalir. Dengan sangat hati-hati dan dengan perasaan takut.
Air itu membeku dan pintu toilet terbuka.
"Xiumin, kau kenapa?" itu Luhan, menghampiri Xiumin dengan tatapan curiga. "Aku yakin ada yang salah denganmu,"
Xiumin lantas berbalik, menggeleng cepat pada Luhan. "Mungkin aku hanya sakit."
"Sakit tidak menjelaskan apa yang terjadi barusan, aku tahu ada yang salah denganmu." Luhan menghampiri Xiumin dengan langkah besar, membuat Xiumin mundur namun dirinya tertahan dinding wastafel.
"Tanganmu,"
"Tidak, jangan sentuh."
Luhan bersikeras menarik tangan Xiumin, namun dirinya tidak terlalu lincah untuk hal ini.
"JANGAN SENTUH AKU." Xiumin berteriak, membuat Luhan terhenyak dan menghentikan tangannya. Namun mata rusanya tertuju pada Xiumin yang menyingkir dari wastafel, menampakkan air yang beku.
"Kalau kau menyentuhku, kau akan bernasib seperti air ini." Ucap Xiumin, membuat Luhan membulatkan matanya.
"Berarti kau—tidak, tunggu dulu. Aku harus menunjukkan ini juga padamu, tapi sebelumnya kau harus membekukan satu barang lagi agar aku percaya." Luhan mengambil pena yang bertengger di saku kemejanya.
Mengerti, Xiumin menyentuh ujung pena yang melayang. Dan es itu merambat. Sebelum es merambat, Luhan menjatuhkan pena itu pada wastafel dengan air yang membeku. Dia bertepuk tangan masih dengan mulut yang menganga.
"Kalau begitu, lihat pulpen itu baik-baik." Ujar Luhan.
Xiumin menurut, memperhatikan pulpen yang diam. Dan satu detik kemudian, pulpen itu melayang. Membuat matanya membulat, menatap Luhan tidak percaya.
"Luhan kau juga?"
Saat itu, pintu terbuka dan pulpen yang melayang kini terjatuh. Kedua pasang mata itu menatap mahasiswa yang datang, dengan perasaan was-was.
Orang itu membalik tangannya, dan cahaya terang memancar dari telapak tangannya. "Nah, aku yakin di sini tidak ada si—" mahasiswa itu menatap mereka perlahan dengan mata yang perlahan membulat,
Luhan dan Xiumin terhenyak akan apa yang ada di lengan mahasiswa tersebut.
Lima detik mereka mematung dengan mulut yang menganga. Sebelum akhirnya orang itu berbalik dan keluar dari toilet. Membuat Luhan dan Xiumin mengejarnya. Mereka bersama-sama menoleh ke arah kiri, seseorang berlari.
Menyusuri koridor, melewati beberapa kelas yang sedang sibuk, keluar gedung, hingga akhirnya mereka bertiga sudah berada di belakang gedung yang berbatasan langsung dengan dinding tinggi nan kokoh tersebut.
Nafas mereka terengah-engah.
"Astaga kenapa aku selalu dikejar. Kenapa kalian mengejarku?" laki-laki itu menumpukan kedua tangannya di lutut, terengah-engah karena lelah dikejar.
"Kau cahaya. Maksudku itu, apa kau juga seperti itu- ah maksudku." Luhan berkata gugup.
"Apa yang kau bicarakan?" orang itu berkacak pinggang sambil memandang Luhan dan Xiumin dari atas sampai bawah.
"Kau mahasiswa baru bukan? Tunjukkan kesopananmu dan jangan menyembunyikan hal aneh itu dari kami, karena kami melihat semuanya." Itu Xiumin, berkata dengan nada tidak menyenangkan.
Luhan masih terengah, tanpa berkata lagi, ia menggulung lengan kemejanya hingga setengah. Memperlihatkan sebuah simbol di pergelangan tangannya sementara Xiumin mengambil sebuah batu di samping kakinya, ia memegang batu itu dengan tangan kanannya yang telanjang dan sepersekian detik kemudian batu itu membeku.
"Sepertinya kita berada di situasi yang sama," Xiumin menjatuhkan batu kecil itu.
Orang itu bertepuk tangan, dan hanya ditanggapi dengan tatapan bingung Luhan dan Xiumin.
"Kau beruntung memperlihatkannya padaku, jika tidak kau pasti sudah berakhir di depan meja para petinggi sekarang, hahahahaha." Orang itu berjalan menghampiri Xiumin, menepuk pundaknya lalu menatap Luhan bergantian.
"Maksudmu?" alis Luhan bertaut.
"Aku Byun Baekhyun," ujarnya sambil menunjukkan simbol di pergelangan tangannya.
Xiumin sesekali menoleh pada orang yang baru dikenal ini di sebelahnya. Seorang mahasiswa baru, dua tahun di bawahnya. Dengan rambut cokelat terang agak bergelombang, 7:3 poninya disampingkan ke kiri, mata sipitnya dipoles eyeliner sehingga membuat garis mata itu tegas.
Mereka bertiga tidak lagi peduli dengan kelas yang seharusnya mereka ambil saat ini. Duduk di atas akar pohon Oak yang keluar dari tanah, daun yang rindang, saling bertanya satu sama lain.
"Jadi apa yang kau tahu tentang simbol-simbol ini?" ucap Xiumin membuka percakapan.
"Well, itu berarti kita adalah orang yang diramalkan." Baekhyun menjawab dengan santai, di silangkan kedua tangannya di belakang kepala, lalu ia berbaring di rumput.
"Maksudmu?" Luhan menatap Baekhyun yang sedang menatap dedaunan rindang. Ia bisa melihat kelipan di manik mata cokelat yang terbingkai kelopak sipit itu, seperti ada hamparan bintang di dalamnya.
"Entahlah aku kurang mengerti apa kata- OH YA! Kau tahu peri? Astaga mereka benar-benar ada! Mereka yang menceritakan ramalan itu padaku!" tiba-tiba Baekhyun bangkit, jika saja Xiumin tidak menghindar, pasti dahi mereka saling mencium satu sama lain.
"Peri- tidak, Elf, ukuran tubuh mereka sangat mini." Baekhyun membuat pose dengan ibu jari dan telunjuknya, matanya menyipit saat mengatakan 'mini'.
Luhan dan Xiumin tidak merespons, masih melemparkan tatapan bingung, tidak mengerti apa yang diucapkan Baekhyun.
"Mereka bilang akan ada dua belas orang—astaga apa benar sebanyak itu. Dua belas orang yang akan menyatukan manusia dengan kaum Mythsis," Baekhyun menarik nafas sejenak, "tidakkah kau penasaran apa yang ada di balik dinding tinggi itu?" telunjuknya menunjuk dinding tinggi menjulang yang berdiri kokoh sekitar dua kilometer dari mereka.
"Uhm, dunia yang hancur dan monster?" balas Luhan.
"Bukan. Semua itu hanya akal-akalan para petinggi agar kita tidak coba-coba keluar dari sini. Kau tahu, di luar itu sebenarnya sangatlah indah, bahkan lebih indah dari taman-taman ataupun hutan buatan di Trion."
"Aku ragu." Ucap Xiumin. Sungguh kepalanya sangat pening memikirkan hal-hal di luar nalar.
"Oh ayolah, apa kalian tidak penasaran akan apa yang ada di luar dinding itu? Apa kalian tidak tertarik untuk membuktikan dengan mata kepala kalian sendiri apa dunia luar sangatlah mengerikan seperti apa yang dikatakan orang tua atau kakek nenek kalian?"
Mereka berdua terdiam selama beberapa saat. Merenungi perkataan Baekhyun.
"Salah satu yang punya kemampuan teleportasi sedang mencari kita."
"Apa itu teleportasi?" tanya Luhan.
"Yea, kemampuan seperti berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu yang singkat. Hanya sepersekian detik."
"Woah, keren..." Xiumin mengangguk-ngangguk mengerti, mulutnya membulat sempurna.
"Kita harus menemuinya sebelum orang lain, atau dia harus menemui kita sebelum orang lain. Ayo cepat bangun." Baekhyun berdiri, menepuk-nepuk bokongnya yang tadi duduk di rumput. Dibantunya Luhan dan Xiumin untuk berdiri dengan mengulurkan kedua tangannya.
"Aku masih ragu dengan ucapanmu, Baekhyun. Tapi, tidak ada salahnya sedikit berpetualang bukan?" Xiumin menatap Luhan, dibalas dengan anggukan mantap.
Baekhyun mengangguk, setuju dengan ucapan Xiumin. Dan, mulai saat ini petualangan mereka dimulai. Daripada menunggu orang yang memiliki kemampuan teleportasi menemui mereka, ada baiknya mereka mencari orang yang sama seperti mereka sebelum terlambat.
"Selamat datang kawanku, mulai saat ini mari bekerja sama demi keselamatan masing-masing. Aku, Byun Baekhyun, salah satu anggota yang mempunyai kekuatan Lunarkinesis, atau cahaya. Kau, Xiumin, anggota dengan kekuatan Cryrokinesis, kemampuan untuk membekukan apa pun yang kau sentuh. Dan Luhan, Telekinesis, kemampuan pikiran untuk melihat masa depan juga mengendalikan barang."
"Terkadang ada kejadian di luar nalar yang tidak bisa dijelaskan dengan teori fisika dan lainnya. Percayalah pada keajaiban itu sendiri." Baekhyun menyunggingkan senyumannya.
.
"Apanya yang membeku?" seorang wanita yang merupakan petinggi negeri Dyo itu menaikkan sebelah alis, Aluna Yaz namanya, berambut abu-abu terang yang menjuntai indah hingga punggung. Ia duduk sambil menyilangkan kaki, menatap lawan bicara yang sedang duduk di hadapannya.
"Sebuah meja di Universitas Glousee membeku. Yaz, kau harus mengambil tindakan." Wanita itu mengulang perkataannya sambil menghela nafas.
"Siapa yang melakukannya? Apa salah satu anak ramalan itu?" tanya Yaz.
"Kemungkinan besar iya," wanita cantik dengan name tag Tiffany itu menyesap teh hitam di cangkirnya dengan tenang. "Dan ada gempa bumi juga di Dyo, juga angin yang tak wajar, oh jangan lupa perubahan yang sangat aneh tiga hari ini."
"Wow, apa mereka semua berkumpul di Dyo?" Yaz membulatkan matanya kaget, ia lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah jendela besar di ruangan itu.
"Menurutku iya, karena ini merupakan tahun ajaran baru."
"Mereka semua bocah ya. Apa kekuatan mereka bangkit di waktu yang sama?"
"Kau harus mengambil tindakkan." Tiffany menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap punggung Yaz sinis.
"Mereka punya tanda di tubuh mereka bukan? Tinggal periksa satu-satu." Yaz tersenyum saat ide itu membentang di otaknya, saat rencana yang selama ini ia rundingkan dengan empat kepala negara lainnya perlahan terwujud.
"Tidak sesimpel itu, mereka akan curiga." Tiffany menatap Yaz dengan mata yang menyipit, heran kenapa wanita berumur tiga puluh empat di hadapannya ini tersenyum.
"Buat alasan kelas renang, pemeriksaan kesehatan rutin apalah itu di seluruh sekolah di Dyo, terutama di SMA dan Universitas. Tandai yang memiliki tato aneh, suruh para pemeriksa mengirimkan gambar tato itu padaku, juga data diri mereka." Yaz menatap gedung-gedung modern di balik kaca besarnya itu, dia mengulas senyuman di bibirnya.
"Baik." Tiffany berdiri, membungkuk lalu pergi dari ruangan Yaz.
"Sampaikan pada petinggi lainnya, besok jam delapan pagi, kita adakan pertemuan."
.
Kai sedang menyesap minuman kalengnya ketika pengumuman itu tiba-tiba menggema di kafetaria.
"Sekali lagi, mohon seluruh anak laki-laki ke ruang kesehatan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Dimulai dari kelas sepuluh A."
TBC
-Chapter 1, End-
A/N: saya baru nyadar kalau chapter 1 yang belum diedit, bahasanya amburadul, susah dimengerti.-. dan, ini sudah saya rombak habis2an dan ada beberapa alur yang diubah.
Dan juga, kalau ada kata2 yang ambigu/susah dimengerti, hubungi saya ya. Biar langsung di edit. Terima kasih sudah membaca. Diharapkan jangan jadi sider :v dan silahkan klik kotak review serta tumpahkan pendapat kalian.
Yang mau request cast juga bisa hehe.
Terima kasih untuk; ariee evilcuteelf 9, Kyuminjoong, yesaya. Mei, jisun kim, siscaMinstalove, luexolu xoxo, kaisoodotcom, HyuieYunnie, Shineexo, pooarie3, Crystalized Harmony, neli amelia, yang udah review sebelum cerita ini di rombak:
Mind to Review?
Thanks^^
