Kapan aku mulai merasakan perut mulas, jantung berdebar kencang, dan badan panas dingin secara bersamaan? Bagi seorang dokter, aku mengalami gejala maag atau tipus, tapi segala rasa itu seringkali kualami setiap aku dekat dengan seorang gadis.
Dan dia adalah saudari tiriku, namanya Wu Luhan.
Gadis itu luar biasa cantik. Sisi paling menarik darinya adalah mata rusanya, bibir merah delima alami, pipi bersemu merah setiap bersentuhan dengan lawan jenisnya, dan aroma tubuhnya begitu wangi. Segala miliknya adalah keindahan. Aku tak tahu lagi bagaimana mendefinisikannya lebih detail.
Hari ini adalah hari paling bersejarah. Taman inipun juga jadi tempat paling bersejarah dalam hidupku!
Hari bilamana aku mengucapkan kejujuranku padanya. Jujur mengenai perasaan terlarang, disertai kemungkinan perubahan sikap darinya. Tapi biarlah! Itu urusan nanti.
Kutepis status kami sebagai saudara tiri, kesamaan marga keluarga, dan namanya sebagai anak angkat orang tuaku di mata hukum. Bagiku, Wu Luhan adalah gadisku dan dia harus menjadi milikku!
Tak banyak yang kuberi untuknya. Hanya sebatang coklat murahan. Luhan hanya diam menatapku, tanpa ekspresi, bahkan senyum cerianya hilang dari bibir. Aku murung. Memaksakan senyum. Berharap sedikit saja dia merespon. Tapi yang terjadi adalah, dia memalingkan badan seraya berkata, "aku masih dua belas tahun. Tunggu sampai aku lebih matang lagi, baru kita jadi kekasih."
Setelah itu, pandanganku tentangnya berbeda.
Beberapa kali aku melihatnya tersenyum penuh makna padaku, curi-curi pandang disaat dia bersosialisasi dengan orang lain, atau jahil mengelus daguku jika ada kesempatan. Ini aneh, tindakannya terlampau menggoda, hanya saja diriku versi remaja terlalu naif untuk menerka.
Usiaku empat belas tahun saat dia tersenyum lebar dan berkata, "Sehun-oppa... Aku mau menjadi kekasihmu."
Percaya diri.
Gadis itu terlalu percaya diri atasku. Tapi memang benar, selama apapun dia menggantungkanku, aku tetap berharap dan berharap pada cintanya.
Di bawah rindangnya pohon, sinar matahari menyeruak membentuk bayang-bayang dedaunan di wajah cantik Luhan. Cahaya matahari bahkan membias di mata rusa gadis itu. Sungguh Tuhan, gadis di depanku terlalu cantik untuk dianggurkan. Jadilah aku meraih pinggang mungilnya, memeluknya, meresapi aroma tengkuknya. Luhan mengalungkan lengan rampingnya pada bahuku. Gadis itu tak segan berbisik di telingaku,
"Bisakah Sehun-oppa menunggu, sampai Luhan cukup besar untuk memuaskan Sehun-oppa?"
Perlu ditekankan, usiaku waktu itu empat belas tahun. Terlalu sulit mengerti apa maksud Luhan.
Jadi aku menurut saja, mengangguk, "ya, Lulu."
"Hm, terima kasih, Sehun-oppa... Saranghae..."
"Nado, Luhannie..."
Seharusnya aku tidak jatuh cinta pada saudara tiriku.
Seharusnya aku tidak terbuai atas 'kejahilannya'.
Seharusnya aku sadar...
...bahwa Wu Luhan hanyalah gadis culas berkedok polos.
.
.
.
.
.
Lima belas tahun aku hidup, ajaran mama selalu sama, "tidak boleh telanjang di depan orang lain kecuali dirimu sendiri. Karena itu tindakan tidak sopan."
Berbeda dengan kakak kembarku, aku tergolong kaku dan sangat menjunjung tinggi moralitas. Jadi sedikit saja aku melihat teman laki-laki sekelasku menggoda para gadis, langsung kulaporkan pada guru dan dari situlah aku dicap anak payah, idiot, dan pengecut.
Terlebih kakakku tampak membenci sikapku. Lebih tepatnya, jijik.
Apa mau dikata, aku suka diriku sendiri jadi tak kupedulikan omongan banyak orang.
"Sehun-oppa... Mau menyentuhnya?"
Dan untuk pertama kalinya, aku melanggar nasehat mama.
Penilaianku tentang Luhan jatuh. Gadis itu lebih 'berani' dari yang kubayangkan. Dia menepis moralitas yang selama ini kujunjung, berganti pada menyuruh tanganku menjunjung buah dadanya, menyuruhku meremasnya, dan pipinya bersemu merah seperti delima.
Luhan telanjang di atasku, akibat kami kehujanan sepulang sekolah sehingga berteduh di bawah pohon. Setidaknya semak-semak dan deras hujan menyamarkan aksi terlarang kami.
Aku menelan ludah kelu. Menggeram tertahan saat merasakan pantat Luhan bergoyang pelan di atas pangkuanku, seperti dia tengah menari perut. Aku mengigit bibir. Mendesis. Selangkanganku tiba-tiba sesak, tubuhku menghangat, dan tanpa sadar tanganku semakin liar meremas-remas payudaranya.
Luhan menyeringai, aku tersenyum manis untuknya.
Kami berciuman. Sampai aku sedikit terkejut saat merasakan lidah Luhan masuk ke dalam rongga mulutku, membimbing lidahku agar masuk ke dalamnya.
Air liur kami saling berbaur di rongga mulut Luhan. Lidah saling melilit. Kuluman bagai permen empuk kulakukan di bibir bawahnya.
Kami terhanyut.
Hingga tanpa sadar, itu adalah asal mula dosa kami.
.
.
.
.
.
Luhan itu misterius.
Dia tak pernah menunjukkan seringai sambil mengigit bibir, kerlingan mata menggoda, seakan mengajakku secara halus untuk kembali berbuat 'nakal'. Padahal, di luar hubungan kami, Luhan selalu tersenyum kekanakan dan sesekali bertingkah polos. Sepanjang kami melakukan persetubuhan pun, lebih banyak dengan gaya misionaris, dia tak pernah absen mendesah di dekat telingaku dan memacu adrenalin remajaku. Dia menyuruhku terus menghujamnya, terus menyemprotinya cairanku, terus menenggelamkan milikku dan vaginanya meremasku intens.
Sungguh, Luhan adalah dosa penuh kenikmatan.
Keesokan paginya, aku temui suasana disekitar pohon masih sepi.
Luhan masih tertidur di pangkuanku, sementara aku menahan pusing karena baru bangun dari tidurku. Ketika aku menunduk, aku cukup terkejut namun tidak memekik.
Darah yang agak mengering terlihat oleh mataku. Tepatnya di selangkangan kami yang masih bertautan. Bisa kurasakan liang hangat Luhan dengan jahatnya meremas-remas milikku, hingga milikku kembali tegang. Ya Tuhan... Pemikiran polosku berkata untuk terus menenggelamkannya saja.
"Ngh...? Sehun-oppa?"
"Lulu sudah bangun?"
Luhan mengangguk imut. Tanpa segan mencium kilat bibirku.
"Oppa keren, saranghae!"
"Hm... Saranghae..."
Kami pulang setelah membersihkan diri di toilet umum. Kami berjalan kaki, walau sebenarnya aku yang menggendong Luhan. Dia bilang lelah karena semalam suntuk hanya mengangkang untukku. Jadi dia tak sanggup jalan kaki. Aku yang versi remaja naif hanya manggut-manggut, sedikit merasa bersalah karena belum puas memainkan milikku di dalamnya.
Aku ketagihan karenanya.
Luhan adalah candu.
Sesampainya di rumah, kedua orang tua kami terus memarahiku dan memeluk Luhan. Berkata bahwa aku, sebagai kakaknya, gagal menjaganya sehingga dia pulang terlambat. Padahal... Hei! Aku kan juga pulang bersamanya?
Sementara itu, Shixun-hyung menyambut dingin kami.
Tapi sesekali dia mencuri pandang pada Luhan, kemudian lanjut bermain game online di ponselnya dan pergi.
Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang kebersamaan kami. Karena nyatanya, setiap mengingat memori -memori itu, aku serasa dirundung beban akan dosa. Luhan adalah sumber dosa paling indah yang pernah kucecap. Dia lebih berbahaya dari sekedar narkoba dan mematikan dari racun.
Di usia ketujuh belas tahunku, Luhan memelukku sangat erat sembari berbisik dan menyerahkan sesuatu padaku. Itu semacam tespack. Menunjukkan garis merah dua buah. Aku memelototinya. Hingga tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Dia pun sama. Bedanya, dia semakin manja padaku dan berkata untuk jujur pada kedua orang tua kami.
Saat aku ingin jujur, menggandeng tangan Luhan dan membawanya pada orang tua kami...
...aku melihat Shixun-hyung tersenyum licik ke arahku, tepat di hadapan orang tua kami.
"Luhan," tegur mama pada Luhan. Kekasihku hanya bisa mengeratkan genggaman kami, memohon padaku lewat tatapan untuk tidak mendekat ke arah Shixun-hyung. Aku mengernyit bingung. Ini aneh. Ada apa dengan Luhan?
Luhan duduk di antara diriku dan Shixun-hyung. Sementara kedua orang tua kami berada di seberang. Ruang keluarga mendadak hening mencekam. Sampai akhirnya aku bersuara, "ma, aku ingin bilang—"
"Diamlah, Sehun. Kami tengah membicarakan kakakmu. Urusanmu bisa dibahas nanti."
Aku tersenyum miris. Hal biasa jika aku dinomorduakan dan Shixun-hyung diutamakan. Rasa-rasanya aku ingin berteriak, bahwa anak mereka tak hanya Shixun-hyung.
"Nak..."
"Iya ma?" respon Luhan sedikit lemah. Membuatku khawatir dan berinisiatif menggenggam tangan kanannya. Tapi kali ini, dia tak membalas. Namun hanya melontarkan senyum ke arahku.
Anehnya, aku benci senyum itu.
Di sisi kiri, tangan Luhan digenggam oleh Shixun-hyung. Aku terkesiap ketika keduanya secara terang-terangan saling tersenyum. Mata rusa Luhan berbinar untuknya, padahal baru beberapa menit lalu dia seakan memohon padaku untuk tidak mendekati Shixun-hyung.
Aku bingung, tidak...
...aku berusaha mengelak apa yang terjadi di balik punggungku.
"Kami akan segera mencabut statusmu sebagai anak angkat kami. Karena kami ingin kau menikah dengan Shixun."
"Hah?" Responku syok, terkejut. "Tapi Luhan—"
"Iya, papa."
Mataku terbelalak. Perih.
Tanpa sadar genggaman tangan kami terlepas begitu saja. Rasanya hampa. Ditambah sesak di dada saat tepat di hadapanku, Luhan hanya tersenyum tipis saat pelipisnya diciumi Shixun-hyung.
Aku menggeleng lemah, "ma... Pa... Luhan tengah hamil anakku! Bagaimana bisa kalian menginginkannya menikah dengan Shixun—"
"Apa maksudmu, Sehun?! Berhenti mengaku apa yang bukan milikmu! Jelas-jelas dia hamil dua Minggu dan selama dua Minggu ke belakang, bukankah kau ada tur sekolah?"
Aku menoleh pada Shixun-hyung, "apa kau bilang?"
Seringai saudara kembarku semakin menjatuhkanku.
"Hari itu memang salahku, memaksa Luhan tidur denganku. Tapi aku tak menyangka..." Shixun-hyung mencium tangan Luhan. Sementara kekasihku itu hanya melirikku tanpa ekspresi. "...dia hamil anak kami. Bukankah ini anugerah, Sehun? Seharusnya kau memberiku selamat karena sebentar lagi, aku akan jadi ayah dan kau akan mendapat keponakan lucu! Benar kan, Xiao Lu?"
Xiao Lu?
Xiao Lu?! Dia bilang?!
Luhan mengalihkan mata dariku, "ya, gege."
Mataku memerah. Aku sungguh mencintainya tapi dia mengkhianatiku?! Apa maksud dari pelukan dan kebahagiaannya tadi kalau dia mengaku hamil anak saudara kembarku? Aku pun berdiri, membuat sebuah pengakuan, hanya agar aku bisa memperjuangkan Luhan.
"Ma.. pa... Aku dan Luhan sudah menjalin hubungan kekasih sejak usiaku empat belas tahun. Tepatnya tiga tahun lalu! Lalu, bagaimana bisa Luhan mengandung anak Shixun-hyung?!"
"Akhirnya kau mengaku kalau kau sudah mengancam Luhan selama tiga tahun agar menidurinya sepuasmu, heh?"
"Apa?"
Aku dan Shixun-hyung saling beradu tatap sengit. Jika dia menyungging seringai, aku berdecih menahan umpatan.
Dia berdiri pongah sembari menyembunyikan tangannya di saku celana, sementara aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku.
Ekspresi Shixun-hyung berubah begitu cepatnya. Mata tajam penuh kelicikan itu menjadi sendu. "Kau sudah menyetubuhi Luhan sejak dia berusia tiga belas tahun... Jelaskan pada hyung mengapa kau sebejat itu pada gadis yang sampai saat ini masih berstatus sebagai adikmu?!"
Shixun-hyung tengah memainkan drama.
Dia memutar balikkan fakta.
Sebenarnya, apa tujuan Shixun-hyung melakukan ini padaku?
Aku menggeleng lemah, "tidak ma... Pa... Sehun—"
"Ya Tuhan... Teganya kau pada adikmu?!" Geram mama. "Bagaimana bisa kau menjadikannya kekasih sedang dia adik angkatmu?!" Amarah mama hanya direspon rangkulan oleh papa.
Aku menggeleng lemah, panik, menjelaskan pada kedua orang tuaku bahwa ini hanya salah paham.
Tapi tunggu, kenapa mereka tidak marah saat Shixun-hyung berujar 'dia memaksa Luhan tidur'? Yang dalam hal ini...
...memperkosanya?
Ada apa dengan kedua orang tuaku? Kenapa mereka pilih kasih begitu jelasnya?!
"Tidak ma... Aku tidak—"
"Mama dan papa ingat tidak, saat dia pernah pulang terlambat bersama Luhan? Tepat tiga tahun lalu?"
"Berhenti bicara, Shixun-hyung!" Desisku. Tapi Shixun-hyung tetap menyeringai keji. Mengejekku.
"Luhan bilang padaku bahwa Sehun menyetubuhinya secara paksa di bawah pohon. Beradu dengan cacing-cacing dan... Siapapun yang membayangkannya akan muntah! Aku tidak menyangka diusia muda Sehun bisa berpikiran sekotor itu..." Shixun-hyung dan dramanya beraksi. Memojokkanku dan Luhan sebagai tokoh utama hanya diam.
Ada apa ini sebenarnya?
Kenapa mereka semua melihatku seakan aku penuh dosa dan mereka suci tak terjamah?
Tidak mungkin aku bilang kalau Luhan yang menyerahkan dirinya padaku. Kedua orang tuaku terlanjur sayang pada Luhan. Mereka pasti semakin marah, dan menganggapku tidak waras karena berani menghina anak angkat kesayangan mereka.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak lagi menatap lembut pada kekasihku.
Aku menatapnya tajam, disaat dia menengadah tanpa ekspresi.
"Kami kecewa padamu, Sehun."
Papa berucap sembari berdiri. Aku tahu akan berakhir seperti apa jika sudah seperti ini.
"Kami tidak sudi memiliki anak bermoral bobrok sepertimu!"
Aku memandang datar kakakku yang sibuk merangkul Luhan.
"Kau adalah borok di keluarga ini!"
Aku saja tidak tahu bagaimana bisa aku terlahir BERSAMA SAUDARA SEBUSUK WU SHIXUN!
"Pergi dari sini...! Kau bukan lagi anak kami!"
"Dengan senang hati," ucapku yang dibalas pelototan papa.
Dan, tangisan mama.
Heh... Aku pergi barulah kalian merasa kehilanganku?
Sejak aku kecil, kalian ke mana saja?
Oh ya, anak kalian kan hanya Shixun.
Cih! Aku takkan sudi memanggilnya Hyung!
Aku pergi tanpa membawa apapun, kecuali barang-barang yang kubeli menggunakan uang hasil kerja paruh waktuku. Yaitu sekoper kecil pakaian, ponsel murahan, dan dompet berisi kartu-kartu serta buku catatanku.
Kedua orang tua—tidak, kedua manusia itu hanya diam tanpa menatap kepergianku. Luhan dan Shixun semakin mesranya, terbukti dari eratnya pelukan mereka.
Dan aku?
Pergi.
Menjauh untuk bahagia.
Aku Sehun,
Mulai malam ini, segala dari diriku akan berubah termasuk margaku.
'Oh Sehun'?
Sepertinya itu nama yang cocok untukku.
'Oh' adalah marga nenek dari pihak ibuku. Beliau asli korea, dan sempat mengatakan padaku sebelum beliau meninggal...
..."hanya Sehun, cucu kesayangan halmeoni, yang boleh menggunakan marga 'Oh'. Tidak kedua orang tuamu atau kembaranmu."
Ah...
Sepertinya aku paham, penyebab semua keluargaku membenciku.
.
.
.
.
.
HUNHAN (GS) feat Chanbaek
WARNING:
RATE-M, INCEST FOR CHANBAEK, typo(s)
Note:
Selamat membaca. Semoga nyaman dengan diksinya yang agak baku. (Karena pembawaan Sehun emang kaku!)
Happy reading!
.
.
.
.
.
01 : Sehun
"Kau tidak lebih dari pelacur, Wu Luhan!"
.
.
.
.
.
Delapan tahun kemudian...
Usiaku, 25 tahun.
.
.
.
.
.
Aku suka memasak, lebih dari sekedar nyawaku. Kesukaan ini membawaku pada keinginan kuat, untuk bertahan bekerja di perusahaan kakak kembarku. Aku ingin mendirikan restoran, sementara modal tidak ada. Tak satupun bank yang mau meminjam modal padaku, bahkan perusahaan kecil menolak lamaranku, minimal sebagai office boy. Itu semua karena aku belum lulus SHS dan di blacklist oleh Wu Corp.
Ya, itu perusahaan bercabang banyak, turun temurun, dan kini dikendalikan oleh Wu Shixun.
Aku sudah biasa makan hati, bersembunyi dari istri sang Presdir, menikmati perlakuan tidak baik dari pekerja di sini, hanya agar bisa membiayai hidupku. Aku tahu mereka membully-ku karena iming-iming tambahan gaji, tapi biarlah... Anggap saja ini cara Tuhan meninggikanku.
"Aku tak menyangka kau ada di sini, Sehun-oppa."
Tubuhku menegang.
"Tidakkah kau jahat padaku? Tiba-tiba pergi meninggalkanku bersama Shixun-ge dan kedua orang tua kalian?"
Tunggu, apa maksudnya?
Kenapa dia pandai memutar balikkan fakta, persis suaminya?
Aku yang sedari tadi membersihkan kaca gedung, memalingkan muka. Mataku melebar saat aku melihat senyum itu. Senyum culas seksi disertai gigitan di bibir bawahnya. Senyum menggoda. Senyum yang—
Aku menggelengkan kepala ribut. Jangan sampai aku terjerat pada pesona iblis itu.
Luhan hari ini terlalu cantik, glamor, seksi, dan aku berani bertaruh tak ada pria yang menduga bahwa dia ibu beranak dua. Apalagi ketika manik rusanya melirik sekitar, kemudian kepalanya mengangguk, dan tangan halusnya terentang menggoda pipiku.
"Sehun-oppa mau menyentuhnya?"
Dia berusaha menjebakku lagi.
Aku undur dari jangkauannya. Baru tersadar tanganku sempat meraba payudara di balik kemeja merahnya. Aku terkesiap. Memandang tanganku gugup lalu mengepal tak terima.
Benar-benar iblis!
"Sehun-oppa... Lulu sangat merindukan oppa..."
"Nyonya Wu, Saya permisi."
Dia mencegat lenganku agar aku tak berbalik. Seakan tanpa pertahanan dariku, pelan tapi pasti Luhan masuk ke dalam pelukanku.
"Aku merindukan ini. Sangat. Sangat merindukan ini," aku mendongak. Sesak menaungi dadaku saat payudara berisinya terus menekanku. "Sehun-oppa rajin nge-gym?" Tangannya meraba dadaku lalu turun hingga ke perut yang masih dilapisi seragam biru office boy. Kemudian dia menengadah padaku, mencium daguku singkat.
Oh Sehun! Bisakah kau melepaskan diri sekarang juga?
"Dadamu dan packmu... Seksi sekali... Lulu suka."
Sial! Dia berkata sembari mendesah.
"Nyonya Wu—"
"Panggil aku Lulu, Sehun-oppa."
Dia, istri dari seorang Presdir, menarik tanganku yang hanya seorang office boy. Kami memasuki lift, menuju ke lantai satu. Aku tak menolak. Terus saja menurutinya. Otakku dilanda penasaran apa yang diinginkannya dariku.
Tepatnya di ruang office boy, di mana perusahaan ini menyediakan dapur dan kamar istirahat untuk para office boy mereka, Luhan membawaku. Aku mengangkat tanganku, membaca jam, baru menyadari kalau ini waktu jam makan siang dan ruang office boy tak ada penghuninya.
Jadi Luhan sudah merancang semua ini? Aku yakin ini bukan kebetulan.
Di salah satu kamar, Luhan mengurungku bersama dirinya sendiri. Dia pun memiliki kuncinya. Setelah suara klik kunci terdengar, aku duduk di tepi ranjang dan dengan lancang dia duduk di pangkuanku.
"Oppa ingat? Di bawah pohon, itu adalah percintaan pertama kita. Aku berada di pangkuan oppa yang hangat. Lulu suka sekali..."
"Lu, berhentilah menggodaku dan katakan apa maumu," ujarku dingin. Bukannya menjauh, Luhan membuka kancing kemejaku. Aku diam. Hanya menyaksikan senyum miringnya dan sesekali tanganku bergerak sendiri menyampirkan rambutnya.
Di kancing ketiga, dia berhenti. Bibirnya mencium singkat tulang selangkaku. Aku tak bereaksi kecuali degup jantung begitu cepatnya.
Aku masih mencintai wanita ini. Aku benci kenyataan itu.
"Aku bosan, Sehun-oppa."
"Bosan pada suamimu?"
"Tidak. Aku bosan karena tidak berhubungan dengan kalian berdua."
"Maksudmu, bosan karena tak bisa mempermainkan kami secara bersamaan?" Sinisku.
"Bisakah Oppa memanggilku Lulu?"
Aku melirik ke arah lain.
Dia menghela nafas, "aku merindukanmu dan kau tak peduli? Baiklah. Tapi bagaimana kalau ini?"
Dia turun dari pangkuanku. Aku kembali fokus ke arahnya.
Sayangnya, aku menyesal.
Dia menelanjangi dirinya sendiri, gerakannya sensual. Tangannya melepas kemeja merahnya, memperlihatkan bahu mulus dan tulang selangkanya. Dia memakai bra berenda merah muda, payudaranya seakan tumpah dan sesak di baliknya. Setelah kemeja itu tergeletak mengenaskan di lantai, berganti pada rok span Luhan. Dia melepasnya tanpa beban, memperlihatkan celana dalam pink yang dipakainya.
"Bisakah kita bernostalgia, oppa?"
"Hanya dalam mimpimu, Nyonya Wu."
"Oppa!"
"Minggir!"
Aku mendorongnya pelan, lalu berjalan cepat ke arah pintu. Memutar kenopnya, lupa kalau kuncinya digenggam Luhan. Tiba-tiba kurasakan sebuah pelukan hangat dari belakang, dan remasan di penisku yang masih terbungkus celana.
Luhan tengah menggodaku. Bibirnya menjilati cuping telingaku dan berbisik.
"Oppa... Sekali saja... Setelah itu aku takkan menganggu."
Perkataan itu perlahan membunuhku.
Perlahan, aku berbalik, mendorongnya ke ranjang, hingga dia telentang di bawahku. Ranjang sempit tak jadi soal. Kami akan segera menyatu dan itu tak membutuhkan tempat luas. Aku mulai semua dosa ini kembali dari ciuman bibir.
Aku meremas payudaranya yang masih terbungkus bra. Elusan turun sampai ke perutnya, dan berakhir pada selangkangannya. Aku memasukkan tanganku ke dalamnya, memainkannya di dalamnya, merabanya, menghunuskan jari telunjukku ke liang hangatnya.
Kutumpu tubuhku dengan kedua lutut dan tangan kiri. Sementara tangan kananku aktif di vaginanya. Nafas kami memberat. Kami memisahkan bibir. Seringai seksi Luhan muncul diiringi remasan vaginanya di jariku.
Fuck! Aku tak tahan lagi.
Celanakupun sesak.
Kaki Luhan semakin mengangkang, dan kedua tanganku semakin tergesa melepas celanaku.
"Oppa... Aku mencintaimu."
Dan detik ini aku tersadar.
Wanita di bawahku kembali mengendalikanku.
Aku menegakkan badan.
Memperbaiki pakaianku dan berkata, "mian... Nyonya Wu. Saya tidak bisa."
Mata Luhan melebar syok.
"Kenapa...?"
"Serahkan kuncinya pada saya. Saya mohon."
Setelah tampilan kami rapi, aku terlebih dahulu keluar dari kamar itu dan mendapat tatapan aneh dari rekan kerja sesama OB. Aku tahu, selain dibully, gosip murahan tentangku yang menggoda istri Presdir merebak ruah ke permukaan. Mereka semakin membenciku. Aku juga semakin membenci diriku sendiri.
"Sehun-oppa..."
Aku masih tahan atas segala tudingan yang disematkan di kepalaku. Mereka boleh menganggapku serendah pekerja seks. Toh, apa yang diharapkan pria miskin sepertiku?
Luhan adalah awal dari segala kesialanku.
Dia terus mengejarku. Lancang menarik lenganku.
Lancang mencium dan mengulum bibirku di depan umum.
Aku membalasnya kasar. Tak peduli orang-orang melihat kami. Luhan mulai kehabisan nafas. Aku tak peduli. Buat saja dia terkulai lemah hanya karena lumatanku. Kueratkan rangkulanku di pinggangnya, menabrakkan selangkangan kami, sekali lagi menebalkan telinga atas hinaan mereka padaku.
Aku mengigit bibir bawah Luhan. Hingga berdarah. Membengkak. Tapi aku hanya memandangnya acuh. Tak lagi menghamba seperti dulu.
Aku berbisik tepat di depan bibirnya, namun mataku berkilat seakan menertawakan seseorang.
Dia adalah Wu Shixun, kembaranku, yang kini memandang kami dengan raut sekaratnya.
"Kau tidak lebih dari pelacur, Wu Luhan!" Desisku.
"Kau bilang apa... Oppa?" tanyanya getir. Matanya berkaca-kaca.
Tapi bibirku hanya tersenyum sinis untuknya.
Setelah itu aku berbalik pergi. Keluar gedung dan menembus hujan.
Mungkin orang lain menganggapku lemah dan pengecut. Seharusnya aku lebih memperjuangkan Luhan. Bukannya kabur tanpa penjelasan lebih lanjut atau menuntut. Tapi percuma. Aku terlanjur kecewa. Sikapnya pada Shixun seakan melemparku ke kenyataan, bahwa Luhan hanya menginginkan tantangan dan kenikmatan jika bersamaku. Luhan tidak mencintaiku. Dia memperalatku.
Lebih jelasnya... Dia menjadikanku semacam tantangan, membuatnya berdebar lewat menegangnya hubungan terlarang.
Kini aku mengerti.
Aku hanyalah pria bodoh dalam mencintai.
"Luhan..."
Aku menengadah pada langit. Menikmati tetes hujan.
Sore hari yang dingin menyadarkanku satu hal,
Mencintai Luhan adalah sumber rasa sakitku.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, berjalan biasa saja. Aku memasak. Sarapan bersama anakku. Secara mandiri aku menyiapkan diriku dan anakku untuk melakukan keseharian kami. Lalu mengantarkan anakku ke sekolah meski hanya berjalan kaki bersama. Tak lupa memberinya bekal sambil berbohong, "appa sudah buat bekal sendiri kok." Padahal aku hanya makan beberapa sendok nasi tanpa lauk.
Ini untuk menghemat pengeluaran.
Untung saja, kembaranku tak mempersoalkan tingkah murahan istrinya. Jadi dia tak memecatku atau menemuiku. Aku yakin, Shixun sama seperti istrinya, memperalatku demi sensasi tantangan dan dosa.
"Ini makanan untukmu!"
Aku berhenti dari acara 'mari mengepel lantai lima', sembari memandang bento di mana nasinya dibentuk ala minion, sosis digoreng membentuk cumi-cumi, sayuran diberi dua mata, dan telur dadar.
Aku menyimpul senyum pada Bae Irene, wanita lugu yang bekerja di bagian keuangan.
Aku menerima kebaikannya sembari tanganku yang lain merangkul gagang pel. "Terima kasih, Irene. Tapi sebaiknya kau pergi, kalau ketahuan bisa-bisa—"
Aku terkesiap saat tanganku disentak.
Sekotak bento pun berceceran di atas lantai. Aku menunduk, mataku nanar melihatnya, lalu bersinar nyalang pada pelaku dari semua ini.
Wu Luhan.
"Nyo...nyonya Wu..." Bungkuk hormat Irene. Sementara aku, meski hanya office boy, takkan sudi merendahkan kepalaku di hadapan wanita iblis ini.
Luhan memandangku hina, "sekarang kau mengemis makanan, eoh?" Lalu melirik Irene, "kau! Dipecat!"
"Apa? Tidak...jangan Nyonya Wu. Saya mohon..." Irene ingin meraih tangan Luhan, seakan bila diperlukan, dia rela menciumi tangan dan kaki wanita itu agar tidak jadi dipecat. Tapi Luhan menyentak kasar tangannya.
"Jangan menyentuhku, lebih baik kau pergi dari hadapanku!"
Irene menangis sembari terus bergumam menyebut ibunya. Aku mendekat ke arahnya, menenangkannya. Irene tak menyalahkanku. Dia justru mengatakan, "yang kuat ya.. Hun..."
Belum aku membalas, Luhan menyambar rambut wanita itu, menjambaknya, sampai Irene terpeleset dan jatuh tersungkur di lantai.
"IRENE...!"
"Apa maksudmu memeluk Sehun hah?! Benar-benar wanita rendahan!"
"Luhan, cukup!"
Aku merangkul Irene, membantunya berdiri, lalu menggendongnya di punggung. Akibat heels sepatunya patah, mata kakinya terantuk lantai dan akhirnya memar.
"Kau membelanya, Sehun? Bukankah seharusnya kau membelaku karena aku istri dari atasanmu??"
"Tutup mulut sialanmu itu, Wu Luhan!"
"Kau berkata apa?... 'Sialan'?" Tatapan nyalang Luhan meredup.
"Aku keluar dari perusahaan ini."
"Tidak tidak... Jangan Sehun-Oppa kau tidak boleh—"
Kepanikan Luhan tak membuatku berbalik ke arahnya.
"Sehun...! Kembali ke sini, Sehun-oppa!"
Kuabaikan para staf yang sibuk memandang penasaran padaku. Sambil memperbaiki posisi gendonganku agar Irene nyaman, aku keluar dari perusahaan itu.
Aku bersumpah, ini hari terakhirku bekerja di sini.
.
.
.
.
.
"Appa? Gwenchana?"
"Hm? Ya, Appa baik, sayang..."
Namanya Oh Baekhyun. Anakku dari Luhan. Pernah aku melakukan tes DNA apakah Baekhyun anak kandungku atau tidak, karena aku tahu Luhan tak membantah saat Shixun mengakui kandungan Luhan adalah janinnya. Tapi setelah hasilnya cocok 99%, aku lega bukan main.
Setahuku, Luhan hamil anak kembar. Yang satu anakku dan lainnya adalah anak Shixun. Itu karena kami tidur dengannya dalam waktu nyaris bersamaan. Hal ini pernah ditemui di medis sebelumnya.
Baekhyun punya saudara kembar serta ibu. Tapi aku tak ambil pusing. Gadis cantikku ini juga tak pernah bertanya. Dia lebih suka melukis dan diam. Atensinya memandang datar dunia tanpa kata.
Baekhyun hanya cerewet jika di depanku, tapi jika di depan orang lain?
Dia bisa sangat hemat bicara, sepertiku dulu.
Hm, like father like daughter.
Seperti biasa Baekhyun melukis wajahku, dari berbagai sudut pandang, di kanvasnya. Tanpa foto sebagai contoh. Dia bilang, "Appa Baekki tampan. Baekki hanya bisa melukis Appa Baekki. Karena Baekki sayang Appa Baekki."
Senyumnya berbentuk persegi. Begitu imut. Saking gemasnya, aku mencium pucuk kepalanya, memeluknya dari belakang ketika dia melukis potret mataku. Sesekali aku meminta izin agar memperbaiki posisi duduknya di pangkuanku, dan dia berhenti sejenak lalu kembali duduk nyaman sembari melukis.
Baekhyun mengidap retardasi mental. Itu bukan faktor keturunan, melainkan kecelakaan kecil sewaktu Luhan hamil. Sewaktu bayi, Baekhyun langsung dimasukkan dalam inkubator, karena berat tubuhnya belum ideal.
Acap kali aku melihat Baekhyun pulang dalam keadaan memar. Dia bilang, "Baekki jatuh dari tangga," atau "Mian... Appa Baekki, Baekki terpeleset." Padahal aku tahu anakku tidak pandai berbohong dan dia memar karena dibully.
Pernah aku bicara pada pihak yayasan di sekolah tersebut, namun apa yang mereka katakan?
"Anda tidak akan bisa melanjutkan ini ke ranah hukum, karena anak anda berurusan dengan anak konglomerat kaya. Pria miskin seperti anda hanya akan jadi semut untuk mereka injak. Jika anda tidak suka, kenapa anak anda tidak pindah sekolah saja?"
Dan benar saja, mereka malah memutar balikkan fakta, menjadikanku tersangka kasus pencemaran nama baik dan dengan baik hatinya mereka... 'aku dibebaskan.'
Sialan...!
Sudah tiga kali Baekhyun berpindah sekolah, dalam satu tahun, tapi hasilnya sama. Gangguan mental yang dideritanya mengundang keinginan jahat orang-orang untuk membullynya.
Kadang aku berpikir, apakah aku orang tua yang layak? Apakah Baekhyun termasuk beruntung memiliki orang tua sepertiku?
Sayang sekali, jawabannya adalah 'tidak'.
Namun apa yang anakku katakan selanjutnya membuat hatiku menghangat.
"Appa Baekki baik! Baekki sayang Appa Baekki! Jangan tinggalkan Baekki, nanti Baekki menangis. Ugh! Lihat... Appa Baekki tampan di kanvas Baekki."
"Ehm... Ya, sayang, Appa Baekki juga sayang Baekki."
Aku mengeratkan pelukanku pada si gadis kecil berusia tujuh tahun ini. Permata hatiku ini sudah mengalami banyak hal di hidupnya sejak dilahirkan. Dia kuat sekali, begitu tegar, banyak mengajarkanku untuk jangan lemah menantang dunia.
"Appa Baekki menangis?"
Eh? Apa aku menangis?
"Appa Baekki jangan menangis... Lihat... Baekki melukis Appa Baekki. Tampan kan?"
Di lukisan itu, wajahku tengah melirik sesuatu dan rambut hitamku kejatuhan dedaunan musim gugur. Aku mencium pelipis anakku, berucap, "ini indah sekali..."
"Terima kasih atas pujiannya, Appa Baekki!"
"Terima kasih kembali sayang, nah! Karena ini sudah malam..." Kataku sembari mengusap ringan air mataku. "...Sebaiknya Baekki tidur."
Baekhyun mengangguk. Dia kembali memunculkan senyum tipis khasnya.
Senyum... Secantik Luhan.
.
.
.
.
.
["Sehun-ssi, Baekhyun pingsan sewaktu jam pelajaran. Bisakah anda ke sekolah saat ini juga?"]
Aku panik. Nyaris menjatuhkan ponselku.
Setelah aku mendapat kabar dari salah satu guru Baekhyun, langsung aku bersiap tanpa peduli flat kecil tempat kami tinggal masih berantakan. Seorang Ahjumma tiba-tiba menghadangku selesainya aku mengunci pintu. Aku hanya tersenyum tapi cemas bukan main.
Song-ahjumma pasti membahas tentang menunggaknya biaya sewa flat.
"Song-ahjumma, bisakah saya diberi waktu sampai besok? Anak saya sedang sakit dan saya benar-benar butuh uang ini untuknya berobat!"
Song-ahjumma menatapku iba, "baiklah... Nak Sehun. Tapi boleh dong, kalau nak Sehun membayarnya sambil mampir ke rumah ahjumma."
Wanita tua yang sebenarnya lumayan cantik itu, mendekatkan bibirnya di telingaku, "mumpung tidak ada suami di rumah."
Mataku melebar. Aku bukan pria bodoh mengenai ini.
Sial, aku benar-benar geli terhadap Ahjumma jaman sekarang.
"Ma...maaf... Itu bisa dibicarakan nanti. Terima kasih atas kebaikan... Song... Ahjumma..."
"Ya, sayang." Bisiknya lagi sambil mengerling menggodaku.
Aku membungkuk padanya. Setelah dia balas anggukan, aku langsung berlari secepat yang kubisa. Uangku tak cukup untuk membayar bis. Ini adalah uang terakhir kami untuk dua hari ke depan.
Nyaris saja aku menerobos lampu hijau, padahal lampu untuk pejalan kaki masih merah. Aku membungkuk, memijat-mijat kakiku, sembari mengusap keringatku. Aku tertegun saat ada gadis muda berambut pirang di seberang, tengah tersenyum ke arahku. Saat aku menegakkan badan dan berkedip beberapa kali, gadis itu menghilang.
Aku mengendikkan bahu, tak ambil pusing, segera aku menyebrang jalan, berlari lagi sekuat tenaga demi Baekhyun.
"Sehun-ssi, Baekhyun ada di dalam ruang kesehatan. Tempatnya ada di ujung lorong lantai satu." Ujar gurunya setelah aku sampai di ruangannya.
Aku menelan ludah kelu sambil terengah-engah, "terima kasih, Junsu-saem."
Aku bergumam sembari mencari-cari di mana ruang kesehatan berada.
Aku bersorak setelah menemukan ruangan yang dicari. Tanpa pikir panjang, aku masuk, meraih tubuh Baekhyun, dan menggendongnya di punggung.
"Hei, Appa datang untukmu sayang..."
"Appa... Baekki..."
"Hm... Ini Appa Baekki. Baekki tidur lagi ya?"
Lebih dari tiga kali dalam seminggu, Baekhyun pingsan di sekolah dalam keadaan tubuh memar dan pakaian berantakan. Kadang basah oleh air bekas cucian piring. Ini kesekian kalinya aku melihat ketidakberdayaanku menjaga anakku. Semua itu hanya karena uang yang bicara, menyampirkan kemanusiaan.
Rasa-rasanya aku ingin Baekhyun belajar di rumah saja, tapi penghasilanku tak cukup untuk membayar home schooling. Belum lagi aku pengangguran. Argh! Aku merutuki egoku karena keluar dari perusahaan Shixun.
Jika sudah separah ini, mungkin aku akan ekstra kerja keras menjadi apa saja hanya agar Baekhyun bisa belajar dengan tenang.
Ya, sepertinya tekadku sudah bulat mengenai ini. Aku tidak boleh mengeluh, aku sudah punya anak, aku bisa menjadi ayah yang bertanggung jawab atas kebahagiaannya.
Aku kembali berlari. Tak bisa lagi memanggil ambulans karena uangku juga belum cukup untuk biaya sewa ambulan. Semua serba mahal di Seoul, kuakui, karena itulah fisikku diperlukan untuk mengimbangi kekuranganku saat ini.
Syukurlah letak flat kami strategis. Dekat dengan sekolah, pusat perbelanjaan, dan rumah sakit. Jadilah kami tepat waktu menemui dokter Suho. Suho-hyung.
Aku mengigit bibir cemas.
Setelah sampai di rumah sakit, Baekhyun langsung ditangani Suho-hyung. Sementara aku menunggu anakku di depan kamarnya.
"Permisi."
Aku terkejut atas kedatangan seorang wanita baya.
"Ehm, ya?"
Dia tersenyum sembari memberiku kartu nama, "jika kau ada kesulitan, kau bisa menemui pihak kami."
"Tidak..." Aku menyodorkan kartu itu kepadanya. "Terima kasih." Aku merasa aneh, sebab seorang wanita tiba-tiba datang tanpa aba-aba
Tangannya terentang, memaksaku menerima dan menyimpan kartu namanya.
"Bagimu, aku memang mencurigakan. Tapi percayalah ini yang terbaik untuk anakmu. Kau cukup tampan. Visual seperti ini sangat kubutuhkan untuk agensi kami."
"Apa anda ini semacam... Pencari bakat?"
Wanita itu tersenyum ramah, "bisa dikatakan begitu. Apa anda berminat untuk mengikuti training?"
"Maaf, bukankah seharusnya anda mencari orang yang belum menikah atau masih remaja?"
Wanita itu terkekeh, "anda saja terlalu muda untuk seukuran ayah beranak satu."
Sejujurnya, aku tidak suka dengan pujian itu.
"Jika aku membayangkan menjadi trainee disaat anakku membutuhkanku..." Kepalaku menggeleng. "Saya menolak, nyonya."
"Hm... Sayang sekali jika visual sepertimu tidak bisa kau gunakan dengan baik. Kami menjanjikan gaji besar jika kau dapat membantu kami sukses besar. Kalau kau keberatan mengikuti trainee, kau mungkin bisa menarik perhatian Presdir dengan cara lain agar beliau bisa mempromosikanmu."
Aku tertawa canggung. Aku tidak paham apa yang dia katakan, karena dunia hiburan jauh sekali dari profil hidupku.
"Mungkin anda bisa mempekerjakan saya sebagai office boy di kantor anda?"
"Hah?" Dia memandangku speechless. "Yang benar saja?! OB?!" pekiknya tertahan.
Aku menggaruk pelipis, memangnya aku salah bicara ya?
"Kalau boleh tahu, apa pekerjaan yang anda tawarkan pada saya?" tanyaku waspada sembari membolak-balik kartu namanya.
Aku tertegun saat dia menjawab,
"Model."
.
.
.
.
.
"Appa Baekki baik?"
Aku mengecup keningnya. Dia hanya melihatku begitu polosnya sambil berbaring di ranjang rumah sakit.
"Lebih dari baik, sayangku. Bagaimana dengan Baekki sendiri?"
Gadis mungilku memejamkan mata saat ibu jariku mengelus keningnya. "Baekki baik, appa Baekki yang tidak baik."
"Apakah Appa Baekki jahat?"
"Appa Baekki kecapekan. Appa Baekki bisa sakit. Appa Baekki bisa tidak baik."
Baekhyun mengkhawatirkanku. Sebagai hadiah atas rasa sayangnya, aku mencium pucuk kepalanya lalu dia menguap lebar dan tertidur.
"Suho-hyung, bisakah aku menitipkan Baekhyun padamu?"
Suho-hyung, dokter sekaligus sahabatku, memandangi Baekhyun sembari mengangguk.
"Anakmu cantik sekali. Sekilas, dia tak seperti gadis gangguan mental."
"Dia spesial."
"Karena kau, ayahnya, yang membuatnya semakin spesial," Suho-hyung memicingkan mata ke arahku. "katakan, kau ingin pergi ke mana? Bekerja? Setahuku kau keluar dari perusahaan Shixun."
Suho-hyung tahu banyak mengenaiku. Selain kedudukannya sebagai sahabatku, dia seperti kakak untukku. Aku beruntung mengenalnya.
"Aku mencari pekerjaan. Sudah seminggu lebih aku mengabaikan keuangan kami dan ini adalah puncaknya. Sekarang aku harus memulainya dari awal lagi."
"Kau terlalu menyayangi Baekhyun, sampai sulit berkonsentrasi mencari pekerjaan."
"Ya, kurasa," responku sembari mengendikkan bahu.
"Tapi wajahmu pucat. Tidurlah dulu, aku akan menyuruh perawat membawakan ranjang untukmu. Agar kau bisa merebah sambil mengawasi Baekhyun."
Aku menggeleng lemah, "aku baik-baik saja."
"Ya Tuhan..." Erang Suho-hyung. "Demi apapun! Kau habis berlari sejauh nyaris dua kilo, kau bukannya tidur tapi bekerja? Setidaknya makanlah dulu."
"Kadang kau bisa secerewet Ahjumma-ahjumma di sekitar flat sewaanku," gerutuku dibalas dengusan oleh Suho-hyung.
"Suho-hyung."
"Hm?" Suho-hyung masih kesal. Aku terkikik geli.
"Apakah kau punya makanan? Apapun? Aku lapar."
"Apapun?" Aku mengangguk. "Fesesku saja bagaimana?"
Aku menatapnya datar, Suho-hyung tertawa.
.
.
.
.
.
Aku menurunkan tanganku yang menggenggam sebuah kartu.
Sedetik kemudian, aku menengadah pada sebuah gedung pencakar langit.
Arsitekturnya keren. Artistik. Pasti ada banyak makna simbolik di balik gemerlapnya gedung ini. Aku akui ini luar biasa. Mengingatkanku pada cita-citaku dulu sebagai arsitek.
Aku melangkah walau sedikit canggung. Dua satpam berpakaian hitam membungkuk hormat setiap ada pendatang. Begitu pula padaku. Pintu kaca terbelah secara otomatis, lalu aku memasukinya. Hawa dingin dari air conditioner bukannya menenangkanku, malah membuatku seakan demam panggung.
Gedung SM Entertainment, inilah tempatnya.
Ini salah satu gedung agensi terbesar di Korea Selatan. Itu yang kutahu dari internet. Ah... Pantas saja atmosfernya sedikit berbeda. Begitu mengintimidasi untukku, pria lusuh miskin bermodal kemeja putih dan celana hitam.
Aku meneguk ludah kasar ketika banyak orang menatapku aneh. Beberapa seakan geli melihat penampilanku, beberapa tertarik, lainnya tak peduli. Aku menghela nafas, di mana wanita bernama 'Jung Jessica' itu berada?
Jadilah aku bertanya pada wanita di balik meja resepsionis.
"Selamat sore, nona. Di mana saya bisa menemui Nyonya Jessica?"
"Apakah anda ada janji dengannya?"
Aku membalas senyum ramahnya, "ya. Saya diserahi kartu nama ini."
Aku menyodorkan kartu itu, wanita tersebut menerimanya, membolak-balik kartu itu, lalu mengangguk pelan. "Lantai dua puluh lima. Di ruang CEO."
Aku mengernyitkan dahi, setahuku nama CEO SM Entertainment adalah Lee Sooman, kenapa jadi Jung Jessica? Tapi baiklah, bukan masalah untukku.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Tempat ini lumayan sibuk. Terbukti dari bagaimana aku berdesak-desakan di dalam lift. Walau pada akhirnya mereka keluar sedikit demi sedikit di lantai berbeda, hingga aku sendirian di lantai teratas.
Suara dentingan menandakan pintu lift terbuka.
Aku keluar dari lift, sendirian di lantai teratas ini. Aku menggaruk pelipis, mendadak seperti anak TK yang suka keluyuran lalu menghilang di mall.
Kucari-cari ruang CEO. Dan GOTCHA! Aku menemuinya!
Aku mengetuk pintu beberapa kali. Setelah ada teguran, barulah aku membuka pintu ragu-ragu.
"Selamat sore, ehm... Maaf, apa saya bisa menemui Nyonya Jessica di sini? Wanita di resepsionis mengatakan saya bisa menemuinya di sini."
"Kau tidak bisa baca ya? ini ruang CEO, bukan ruang manager Jung!"
Mataku mengerjap-ngerjap. Aku kenal suara ini.
"Maaf?"
Punggung wanita. Mataku dihadapkan pada punggung sempit seorang wanita berbalut blazer hitam. Kursi kebesarannya pun diputar, hingga kudapati seorang wanita cantik tersenyum lebar ke arahku.
"Terkejut, Sehunna?"
Mataku melebar,
"Irene?"
Dan wanita itu hanya tersenyum simpul atas kebingunganku.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
OMAKE
(Part ini berupa AUTHOR POV. dilewati juga Monggo:)
.
.
.
Namanya Wu Chanyeol. Tidak dengan kedua orang tuanya, Chanyeol memiliki nama kelahiran Korea karena diberikan langsung dari sang nenek.
Di usianya kini, Chanyeol dikenal cerdas dan jenius. Diusianya itu, dia tak lagi duduk di bangku taman kanak-kanak, tapi langsung ke sekolah dasar tingkat dua. Mama papanya bangga atas prestasi itu. Sehingga keduanya cenderung memanjakan Chanyeol.
Bocah tujuh tahun itu tak kekurangan kasih sayang. Seluruh keluarga besar Wu juga gemas padanya. Kehidupannya seakan pangeran di keluarga tersebut. Sepupu-sepupunya bahkan tak canggung mengatakan suka padanya. Tapi begitulah tabiat Chanyeol, dengan kepolosannya, dia menolak sembari berkata, 'tunggu sampai Yeolli besar ya!'
Sekarang Chanyeol berada di rumah sakit. Mamanya tengah menjenguk salah seorang teman, biasa Chanyeol panggil 'Kyungsoo-ahjumma'. Saking lamanya mereka mengobrol, Chanyeol jadi bosan dan berjalan keluar dari kamar inap teman mamanya tersebut. Alhasil, Chanyeol lepas dari pengawasan mamanya. Sepanjang lorong rumah sakit, tak jarang banyak wanita dewasa atau remaja menyapanya dan gemas mencubiti pipi gembulnya. Chanyeol tak risih. Dia sudah biasa kok.
Mata bulat serupa sang mama itu melebar senang saat melihat dokter yang dia kenal. Dia ingin berseru memanggil dokter tersebut.
"Suho-ahjus—"
Chanyeol terdiam saat dokter itu pergi begitu saja, seakan tak merasakan keberadaannya. Chanyeol menoleh pada kamar inap yang pintunya tak tertutup sempurna. Kamar tempat tadi dokter Suho keluar. Chanyeol perlahan membuka pintu kamar itu, dan bibirnya melongo saat dia temui senyum seorang gadis cantik duduk di atas ranjang.
Gadis itu mungil. Matanya sedikit sipit, persis sang papa. Rautnya memang pucat, tapi bibirnya memerah dan rambutnya tergerai cantik. Chanyeol suka, sangat suka, sampai dia terkejut karena gadis cantik itu menegurnya.
"Nugu?"
Bocah tampan itu perlahan menutup pintu. Dia mengibaskan jaketnya, mengelap tangannya, lalu mengulurkan tangan menyalami si gadis cantik.
"Namaku Yeolli..!"
Gadis mungil itu menyimpul bibir, lalu balas menjabat tangan bocah itu.
Senyum persegi muncul menghiasi manisnya si gadis.
"Baekki!"
Setelah jabatan tangan itu terlepas, Chanyeol tak bisa untuk tak memandang gadis cantik itu. Kali ini si gadis menunduk dan terfokus pada buku sketsa dan pensil di genggamannya.
"Baekki menggambar apa?"
Si gadis menoleh.
"Appa Baekki! Baekki suka Appa Baekki!"
"Kalau begitu, apa bisa Baekki menggambar Yeolli?" celetuk Chanyeol.
Gadis mungil itu memajukan bibirnya sambil mengetuk dagu dengan ujung pensil. Kepalanya menggeleng lemah, "Baekki harus sayang Yeolli dulu baru Baekki bisa menggambar Yeolli... hehehe!"
Sontak pipi Chanyeol memerah, "sayang...ya?"
Lalu keheningan tercipta di antara keduanya.
Chanyeol menikmati wajah samping Baekhyun yang serius.
Dan, Baekhyun sibuk menggambar wajah appa-nya sambil terkikik geli.
Chanyeol mengambil kursi. Duduk di sana dan bertopang dagu, dengan sikut tangan di ranjang tuk menyangga. Bocah itu asyik memperhatikan Baekhyun, kedua kakinya mengayun, dan bibirnya tersenyum senang.
Sedetik kemudian Chanyeol terpaku saat si gadis mungil berkata, "Yeolli mau jadi teman Baekki?"
"Hm..." Chanyeol menggeleng lemah. "Yeolli tidak mau!"
"Eh?" Mata cantik itu langsung berkaca-kaca. Chanyeol terkikik geli dan mengapit hidung Baekhyun seraya berkata,
"Jadi istrinya Yeolli, mau? Baekki cantik sih, Yeolli suka!"
Mata Baekhyun mengerjap-ngerjap. Tanpa pikir panjang, meski tak mengerti maksud Chanyeol, Baekhyun mengangguk mantap.
"Baekki juga suka Yeolli!"
Tapi siapa yang menyangka, ucapan seorang bocah pada gadis mungilnya akan kembali terulang diwaktu tak tepat. Dan saat ucapan itu terulang dengan pembawaan berbeda...
...akankah jawaban si gadis masih sama?
.
.
.
.
.
NEXT CHAPTER
02 : Luhan
"Aku sedikit tidak waras, maafkan aku."
.
.
.
.
.
AUTHOR NOTE:
Oke, ini adalah HARI TERAKHIR UPDATE SEBELUM HIATUS DI BULAN RAMADHAN...!
Irene sama Sehun murni hubungan pertemanan. Sekedar spoiler aja sih, aku gak bikin pihak ketiga untuk Sehun. Males!
Mungkin di awal berjalan membosankan, ya gimana, gak bisa asal gradak ke intinya. Jadi aneh entar :(
inti dari cerita ini nanti dimulai kalau Chanbaek dah gede!
Okelah, itu aja cuap-cuapnya.
Makasih udah berpartisipasi dalam hobi abal-abalku ini :3
Surabaya, 05 Mei 2019
