Mermaid Tears

Kim Minseok Xi Luhan

Disc : Inspired by mermaid tales, a pirate movie (Pirate of The Caribbean : On A Stranger Tides), and Xiumin 'under the sea' cuteness at EXO's Showtime episode 5.

A Fanfiction by Frozen Deer

.

Chapter 2 : Strandedterdampar

.

.

.

.

.

Uhuk uhuk!

Dadaku rasanya sangat sakit sekali, seperti terhimpit diantara tembok dan lemari. Berkali-kali aku terbatuk untuk mengeluarkan sesuatu yang tidaku aku ketahui apa—kurasa itu air yang mengisi paru-paruku. Semakin lama, aku sudah tidak terbatuk-batuk lagi. Deru nafas lega keluar begitu saja dari mulutku. Ya, lega karena sudah tidak terbatuk lagi—asal kau tahu, batuk-batuk itu melelahkan.

Aku perlahan membuka mataku. Sinar mentari adalah yang pertama kali menyapaku. Aku tersenyum, ternyata aku masih bisa bertemu dengan Tuan Matahari. Tapi senyumku luntur, cahayanya perlahan hilang berganti dengan warna hitam yang menutupi pandanganku hampir secara menyeluruh. Apa gerhana? Atau mungkin waktu hidupku sudah habis?

"Halo."

Ada seorang laki-laki dihadapanku. Jaraknya sangat dekat denganku. Tak jelas bagaimana rupanya.

Perlahan aku membuka mataku. Sinar matahari langsung menerpaku tanpa gangguan Tuan Gerhana. Aku mengedarkan pandanganku. Semuanya biru laut dan aku tertidur diatas pasir putih. Dibelakangku ada semacam hutan hijau yang aneh dan cukup rindang. Ada seorang pria berambut pirang duduk tidak jauh dariku.

"A-aku dimana?" bisikku pelan—mungkin sepelan suara semut.

"Kau seharusnya tidak ada disini." Aku kira suaraku akan teredam oleh bunyi ombak yang memecah. Atau telinga pria itu yang bagus ya?

Aku berdiri mengangkat tubuhku dan melangkah lemas mengitari pulau ini. Aku tidak tahu apa nama tempat ini. Setelah kutelusuri, pulau ini terbentuk dengan anehnya. Pulau ini sangat kecil, bentuknya melingkar sehingga tidak ada bagian ujungnya, sebagian besar daratannya berisikan daratan pasir, dan ditengah pulau yang aneh ini terdapat sebuah hutan lebat dengan pohon-pohon berlumut menjulang tinggi. Aku belum pernah menemui pulau ini sebelumnya.

Dan fakta terakhir yang mustahil aku percayai, ada seorang manusia laki-laki tinggal disini. Tubuhnya ringkih dan kecil, rambutnya pirang emas, dia tidak memakai sehelai benang pada tubuh bagian atasnya, dia hanya memakai celana panjang berwarna hitam yang terlihat compang-camping.

"Maaf, apa kau melihat sekociku?" dia tengah menguliti sebatang kayu dengan sebilah pisau.

"Apa kau lihat aku sedang apa?" pandangannya tidak sama sekali terlepas dari batang kayu digenggaman tangan kirinya.

Aku berdiri tak jauh darinya. Tanganku meraba tubuhku sendiri secara tidak sadar. Kemeja putih dan celanaku masih terpakai walau terlihat banyak bagian yang robek. "Kau sedang menguliti sebongkah kayu. Dan kau menatap kayu itu fokus dan serius."

Pria itu berhenti menguliti sebongkah kayu. Ia menatapku datar tanpa ekspresi. "Kau lihat, kan. Lalu bagaimana bisa aku melihat sekocimu kalau pandanganku sedang terfokus dengan kayu ini."

"Siapa tahu …" gumamku kecil.

Dia mendengus pelan. Tangannya berpindah pada bongkahan kayu kedua disampingnya dan mengulitinya seperti bongkahan kayu sebelumnya. Netra hazel-nya tetap fokus bak mata elang. Rambut emasnya basah dan meneteskan tetesan air garam disetiap ujung helai rambut yang menyatu. Tubuhnya basah—entah cairan apa yang membasahinya, mungkin cairan keringat yang bercampur dengan air laut. Badannya tidak atletis, melainkan kurus ceking tapi tidak sampai memperlihatkan tulang rusuknya. Dia benar-benar menggambarkan gelandangan dipelabuhan-pelabuhan yang sering kutemui saat bersinggah.

Tidak terasa dia sudah menguliti semua kayu yang berjejer disebelahnya. Pria itu berdiri dan melangkah masuk kedalam hutan tanpa beban apapun. Netraku tak pernah melepas pandangan darinya hingga tak sadar kakiku membawaku untuk mengikutinya. Terus mengikuti kemana punggung telanjang itu pergi melangkah dan berhenti disebuah tempat dengan bau gosong khas pembuatan api unggun dan sisa-sisa pembakaran yang melingkar ditanah yang hijau ini. Pria itu menumpuk kayu-kayu yang telah dikulitinya dan menyiramkan minyak kuning bening dengan bau khas diatas tumpukkan kayu itu.

Pria itu berdiri dan membersihkan tangannya dengan bantuan kain celana yang ia pakai. Kemudian ia berlalu begitu saja tanpa melihatku terlebih dahulu. "Hei!" aku berseru memanggilnya. Tidak tahu, seruan itu lolos begitu saja tanpa mulutku rundingkan terlebih dahulu. Dan, gosh, dia berhenti, tapi tidak berbalik.

"Kalau kau ingin makan kau bisa ambil makanan laut yang tersaji bebas dilautan." Aku terdiam. Tidak, bukan itu yang ingin kusampaikan. Pria ini salah tanggap. "Apa kau tidak bisa berenang? Aku heran mengapa para perompak selalu mengandalkan seseorang untuk memasak, padahal laut membukakan kesempatan kalian untuk makan."

Ha?

Si Rambut Kuning—kuputuskan mulai sekarang aku akan memanggilnya begitu—mulai melangkah. "Bu-bukan itu yang mau kusampaikan." Kali ini Rambut Kuning tidak berhenti sama sekali. Punggungnya mulai menjauh dan hilang dibalik hijaunya daun-daun raksasa yang tumbuh liar dimana-mana.

.

Tidak pernah aku menyangka, ada manusia seperti Rambut Kuning yang bagaikan tembok. Lurus, lempeng, tidak ada ekspresi. Kalau begitu seluruh umat manusia yakin tidak ada seorang gadispun—bahkan duyung—mau berkencan dengannya. Walaupun harus diakui parasnya lumayan tampan dan mempesona, tapi ada sedikit kesalahan cetak disana karena wajah Rambut Kuning manis dan imut seperti perempuan.

Ah, aku jadi teringat Baekhyun …

Bagaimana Baekhyun sekarang? Apakah dia kehilangan nafsu makan karena kutinggal pergi? Lalu Jongdae, dia sudah sehat atau belum. Kyungsoo pasti sudah membuatkan makan siang dan membujuk para awak kapal agar makan dibantu Yixing dan Joonmyeon. Tao, dia pasti tidak bisa berlatih wushu lagi kalau mengetahui tongkatnya hilang ditelan luasnya samudera. Dan Kris, … sedang apa Kris sekarang?

Lalu seekor ikan jatuh diatas pangkuanku. "Makanlah!"

Si Rambut Kuning. Dia menjatuhkan ikan hasil tangkapannya kepadaku. Disertai seruan memerintah untuk makan. Ikan ini kuangkat dengan cara memegang ekornya. Kurasa hewan ini aman dan bisa dimakan—maksudku tidak beracun dan tidak mencurigakan.

Setelah menancapkan sebuah ranting pohon yang kutemukan tidak jauh, aku mendekati Rambut Kuning yang sedang membakar ikan miliknya. Rambut Kuning mengangkat ikannya dan menggigit, mengunyah, kemudian menelan daging ikan hasil tangkapannya yang telah matang itu. Sementara aku sendiri masih sibuk membolak-balikkan ikanku. Kurasa ikanku sudah matang, aku segera mengangkatnya dan memakannya seperti Si Rambut Kuning lakukan tadi.

"Minuman disini hanya ada soju, kusimpan dipeti itu." Dan ia beranjak kemudian pergi. Aku menatap peti yang mirip peti harta karun dibawah pohon kelapa.

Ikanku kini sudah tinggal tulang. Aku membuang asal ranting yang kubuat untuk menusuk tubuh pipih tapi lumayan berisi ikan bakar yang tinggal tulang itu. Aku jadi rindu dengan masakan Kyungsoo. Setiap hari aku makan hasil masakan Kyungsoo yang selalu bervariasi. Kyungsoo selalu menambahkan sayur mayur kedalam masakannya sehingga para awak kapal tetap sehat dan tidak banyak kalori. Sekarang dan seterusnya aku harus bisa makan makanan bakaran. Karena Kyungsoo tidak ada disini. Melainkan seonggok daging berambut pirang yang bagaikan dinding tembok yang lurus.

Netraku memandang sekitar. Sedikit tercengang bisa-bisanya ada hutan hujan disini. Aneh. Tumbuhan lumut tumbuh menghiasi pepohonan dan daratan hijau ini. Bau khas kayu basah juga tercium. Dengan latar suara ombak bukan burung berkicau tentunya. Kalau dilihat-lihat hutan ini cukup luas, dan hanya butuh kurang dari belasan langkah untuk menuju perairan.

Aku bergegas keluar hutan aneh ini. Tidak perlu bingung, tidak perlu menggunakan penunjuk arah, tidak perlu mengingat-ingat langkah sebelumnya. Pulau ini berbentuk melingkar, kan. Jadi dimana aku menemukan jalan masuk, selalu ada jalan keluarnya. Mudah sekali.

Pemandangan orang minum minuman keras menyapaku. Si Rambut Kuning tengah menenggak sebotol soju dan duduk diatas pasir putih. Mungkin aku perlu sedikit pendekatan agar dapat bersahabat dengannya, siapa tahu dia ada sedikit manfaatnya bagiku.

"Hai, aku Kim Minseok." tanganku terulur didepan wajahnya. Si Rambut Kuning hanya melirik sekilas lalu kembali menenggak soju. Aku hanya tersenyum—Baekhyun juga pernah seperti ini saat dia masih awak baru dan belum mengenalku. Tidak hilang akal, kutarik satu tangannya yang bebas tidak memegang botol soju dan mengenggamnya. "Aku harap kita bisa jadi teman baik, …" dia tidak menjawab melainkan menatap biru air disana, "hanya beberapa minggu saja, mungkin …" bisikku pelan.

"Aku tidak tertarik." si pirang ini bangkit dan melangkah meninggalkanku, kali ini dia tidak masuk hutan.

Pantatku meminta untuk duduk dan kuturuti. Netraku memandang punggung telanjang Rambut Kuning. "Kenapa? Aku bisa menjadi teman baikmu."

"Aku tidak butuh teman." Rambut Kuning menghempaskan botol soju yang kukira telah kosong di atas pasir. Ia berbelok dan mengambil sebuah tombak kayu yang disimpannya dipinggir hutan. "Dan aku tidak ingin dipaksa."

"Aku tidak memaksamu." Kataku membela, entah aku selalu tidak setuju dengan si pirang ini walaupun aku berusaha bersahabat dengannya. "Hanya menawari. Toh, sama-sama orang terdampar dipulau antah berantah memang tidak boleh berteman?"

Rambut Kuning menghempaskan tombak keasal arah. Dia berbalik dan menatapku tajam. Kaki jenjangnya mengayun mendekatiku. Aura hitam kelam tiba-tiba muncul membuatku bergidik ngeri. Dia … benar-benar menyeramkan, lebih menakutkan dari Kris yang sering mengeluarkan aura hitamnya. Aku bersumpah dia sudah ada dihadapanku, berjongkok dan menyamakan tinggi kami. Dia meraih daguku kasar dan menatap obsidianku tajam.

"Diam. Sekali lagi berbicara akan kusuruh kroni duyung memaksamu mengawini mereka!" daguku lepas dari cengkramannya, tapi kasar sekali. Aku merintih pelan dan mengusap-usapkannya berharap rasa sakitnya hilang.

"Kenapa kau tak ingin berteman denganku?! Kita sama-sama perompak—maksudku sama-sama perompak yang terdampar bukan? Kenapa kau tak mau menerimaku menjadi temanmu, bukankah itu ide yang bagus. Kita bisa bertukar ce …–"

"Diam." desirnya. Sebuah tombak menyentuh kulit leherku, sekali bergerak maka aku akan terluka. Aku tidak dapat melihat wajah Rambut Kuning karena tertutupi helai rambut kuningnya yang berantakan.

Hening. Hening selama beberapa saat. Dan aku sanga penasaran apa ekspresi yang Rambut Kuning tunjukkan. Yang aku lihat hanyalah helai-helai rambut pirang yang menutupi sebagian wajahnya secara samar-samar menyisakan satu bola mata yang menatap hamparan pasir putih dibawah kakinya.

Angin berhembus, kulitku mulai gatal karena terlalu lama bersentuhan dengan besi—sedikit informasi kulitku jenis kulit sensitif, bahkan sangat sensitif.

Si Rambung Kuning menghela napas, akhirnya. "-… aaf." Lirih sekali suaranya. Ia menarik tombak dan mensejajarkan dengan tubuhnya.

"Aku Luhan."

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

Hellooooo /tebar kelopak mawar/

Adoohh, Put minta maaf karena lama sekali update chapter 2 padahal pada minta update soon. Put minta maaf banget, abis yang namanya writers block itu gak tau kapan bakal nyerang jadi Put gak antisipasi dulu deh /apasih/?

Gantung? Gantung gak? Ya, gantung aja dehhh ._.

Oke, ini review di chapter awal aku bahas yakkk :*

Sweet Venus : iyaa, ini udah update koxxx

mmilo :aaaaa. Iyaaa waw.-. hehe iyaa, ini udah lanjut^^9

xiuxiu : okee saeng /berasa tua/ /digoreng'-')

Guest :haha,, makasihh …

ttalgibit : hai, tan! Hehe iyaaa….aku suka banget pirates of the caribbean (padahal udah ketingalan banyak banget-_-) captain!kris, brave!min, and mermaid!lu weee, perfyy fairytales /paan/?

yehetxoxo :omaaigatt ini udah tbc lagi wks :p,,,, iyaa minseok adalah seorang anak baik hati dan rajin menabung /dibanting

Xiuxiu Lu :oke ini udah kokk^^9

: ohemjii tooo ... /cup balik/ hiyaaa,,, yang dispongebob itu mah mermaidman dan barnakle boy, ini lu-ge jadi merman (jangan bayangin lu-ge pake kostum oren, underwear item didepan, dan hidung ditutupin bintang laut *?) for mee, as usual lu-ge always be on top of minsokuu

heart, pirate-pirate ganteng di kapal black pearl

feyy : hehee,,, makasihh feyy,,,

Pinky05KwmS : ini udah lanjutt kok chinguu ..

:se sweet face min-ge /aegyo bareng minsoku ,,, yeps, lu-ge jadi SEKE aja /ditimpuk

twentae : kamu beneran baca fanfic ini sambil nganga? /sok polos/ ,,,, yeheett, thx twentae^^/

omjunmen :hehee,,, gak juga kooo... wehhh, makasih udah suka ... ini udah lanjut kooo, thx kak yas!:*

inaue95 : amiennn,,, ini udah lanjut koo

BoemWonkyu'98 : hohoo,,,,ini udah lanjuttt^^/

SnowJiHye :thx,,min-ge sayang kris makanya mau berlayar cuma pake sekoci'-') yaps, mermaid!lu..ini udah update koo'-'/

JonginBro :giillllaaaaakkkkkk *tunggu, siapa yang gila? /sok polos/,,,,, ini udah lanjut chinguuu^^

Jongin48 :hai Jongin48,, kok kaya nama girlband yakkk #abaikan,,,wahaha novel apa rumus ruwet matematika(?)