Mobil sedan hitam metalik itu berhenti dipinggir pantai, hanya beberapa meter tepat didepannya, berdiri sebuah rumah mungil dengan cat putih gading, dan sebuah rumah anjing didepannya.

Sasuke keluar dan mendekati rumah yang menyendiri itu.

Tangannya terulur menyentuh dinding luar rumah.

KRIETTT

Dulu, bunyi derit pintu yang khas ini sudah menjadi alunan musik baginya, karena pemilik rumah yang sepasang suami istri itu tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli pintu yang lebih bagus.

Rumah itu hanya terdiri dari 1 kamar sederhana, 1 kamar mandi, dapur, ruang tengah dan gudang, namun gudang itu sudah disulap menjadi kamar.

Sasuke melangkah ke arah dapur, ada 2 cangkir teh diatas wastafel.

Dia tersenyum dan menyentuh cangkir itu.

Sasuke adalah pemilik rumah itu..

Dia dan istrinya, Hinata.

7 tahun yang lalu, saat dia memutuskan keluar dari keluarga Uchiha, saat itu juga dia menghapus marganya dan hidup bersama istrinya.

Benar-benar keputusan besar bagi seorang pewaris perusahaan raksasa nomor 1 di Jepang, untuk menikahi seorang gadis yatim piatu sebatang kara yang dikenalnya di bangku kuliah yang saat itu hanya mendapat beasiswa dan hidup dengan bekerja paruh waktu.

Tapi itulah pilihannya, dan Sasuke tidak pernah menyesal.

Mereka memilih pergi dari kota besar dan tinggal di pinggir pantai Karena Fugaku tidak pernah merestui mereka, dia selalu menggagalkan usaha Sasuke untuk bekerja di luar perusahaan Uchiha, alhasil, Sasuke yang pergi dari rumah uang sepeserpun, memilih membawa istrinya keluar kota dan bekerja seadanya.

"asalkan kita bersama"

Sasuke teringat akan kalimatnya sendiri pada istrinya saat suatu malam dia pulang babak belur, dan wanita mungil itu menangis dan meminta Sasuke untuk kembali ke rumah ayahnya karena Fugaku menyuruh seseorang untuk 'memberi pelajaran' kepada Sasuke.

Namun darah lebih kental daripada air.

Bila ayahnya begitu keras kepala, begitu pula Sasuke.

"Hinata" bisik Sasuke saat dia menyentuh topi lusuh miliknya yang dia gunakan untuk berlayar dulu bersama nelayan lainnya.

Mata Sasuke tertuju pada gudang yang sudah disulap menjadi kamar mungil.

Tepat saat membuka pintu kamar itu, mata Sasuke memanas, dadanya terasa sakit.

Betapa tidak, kamar kosong yang dulunya hanya berhiaskan cat lusuh didindingnya, sekarang ber cat biru muda, lengkap dengan ornamen hewan-hewan dan pepohonan, sekarang begitu lucu dan menggemaskan.

Bahkan yang lebih menyesakkan hati adalah sebuah baby crib pojok ruangan, hanya itu benda yang ada di kamar ini.

Saat Sasuke mendekat, dia melihat beberapa lembar surat yang dilipat rapi diatas bantal berdebu kasur mungil itu.

###

Untuk calon bayi kami,

16 Maret 2010

Hari itu, ibu mengetahui bahwa ada jantung kecil yang berdetak didalam rahimku, akhirnya aku menjadi calon ibu..

Tapi saat itu ayahmu sedang pergi ke pasar di kota untuk menjual ikan tangkapannya, ayahmu seorang nelayan lepas, tapi ibu yakin dia akan sangat menyayangimu. Malam itu, saat dia kembali dari pasar di kota, ternyata ayahmu bertengkar lagi dengan kakekmu..ibu begitu takut untuk mengatakan bahwa kau sudah tercipta didunia ini, akhirnya ibu memutuskan untuk menundanya..

23 maret 2010

Hari demi hari berlalu, hingga hari itu, ayahmu tidak pulang selama berhari-hari, ibu tidak tau kemana ayahmu, tidak ada satupun yang tau..

Sampai ibu memutuskan pergi mencari ayahmu ke kota, tapi insiden itu terjadi..

Ibu kehilanganmu karena mobil yang melaju sangat cepat menabrak ibu dari belakang.

Tapi hari itu juga, ibu mendengar kabar bahwa ayahmu sudah pergi dari negara ini. Meninggalkan ibu dan tanpa tau kabar tentangmu..

22 November 2011

Hari ini kamu berumur 1 tahun tapi kamu sudah pergi..maaf ibu tidak bisa menjagamu dengan baik, maafkan ibu juga karena ibu harus pergi dari rumah ini.

Untuk hadiah pertamamu, ibu sudah membeli crib ini untukmu..

Kesayangan ibu

###

Sasuke menggenggam surat itu dengan erat, setetes air mata jatuh di pipinya.

Dia tetap memegang surat itu di genggamannya bahkan saat dia menyetir, dalam benaknya hanya ada satu tempat yang ingin dia tuju, tidak peduli resikonya.

###

BRAK BRAK BRAK

Hinata terkesiap saat mendengar suara gedoran pintu yang berasal dari puntu masuk apartemennya.

Dia meninggalkan aktifitasnya di dapur dan mematikan kompor yang sedang memasak sup.

"sebentar"

Mungkin Naruto baru pulang, pikirnya.

"Hinata" suara itu menahan Hinata untuk memutar kenop pintu, tangannya membatu duatas kenop pintu.

"jangan buka pintunya" ucap Sasuke dari luar.

Keheningan menyelimuti mereka untuk sesaat, sampai Sasuke memecah keheningan.

"maafkan aku, sekarang aku mengerti kenapa dulu kau sangat ingin mengubah gudang menjadi kamar " suara Sasuke bergetar.

Hinata membatu didepan pintu.

"kau ingat saat kita pertama kali bertemu? Saat festival musim panas?" Sasuke duduk menyenderkan punggungnya di balik pintu yang saat ini menyembunyikan sosok Hinata.

"aku masih ingat semua detail yang kulihat malam itu tentangmu, wajah polosmu, senyummu, bahkan yukata yang kau kenakan hari itu..Hinata, kenapa kau sangat cantik? Membuatku sulit untuk melupakanmu" Hinata menutup mulutnya dengan tangan kanannya, menahan suara isakan yang mulai keluar.

"aku selalu mencintaimu, dari dulu hingga sekarang..tapi aku bahkan tidak bisa memberimu apapun, kau menderita karena aku, kau selalu menangis saat di sisiku, tapi rasanya itu tidak dapat membuatku dengan rela melepasmu, aku selalu menjadi yang paling egois"

Hinata menyentuh daun pintu itu, berharap kehangatan punggung Sasuke bisa dia rasakan di telapak tangannya. Dadanya terasa sesak karena tangisan tanpa suara.

"kau selalu menjadi perisaiku, kau melindungiku dengan tubuh mungilmu dari dari dunia, bahkan dari ayahku sendiri..tanpa sadar, aku membiarkan semua orang menyakitimu" terdengar suara isakan dari luar, namun itu semakin membuat hati Hinata terasa sesak.

"Aku bahkan tidak mengetahui tentang bayi kita, dia begitu malang"Hinata berdiri dan meletakkan tangannya di kenop pintu.

CKLEK

Sasuke yang mendengar bunyi pintu terbuka langsung memalingkan wajahnya dan menghapus air matanya.

" kenapa kau membicarakan hal menyedihkan seperti itu depan rumah seseorang" tanya Hinata, namun pandangannya tidak menatap Sasuke.

"aku hanya merasa tidak pantas untukmu"

DEG

Jantung Hinata berdegup kencang, kalimat Sasuke saat ini, dia pernah mendengarnya..

'kau tidak akan pernah pantas bersama Sasuke'

"pulanglah Uchiha-san, Naruto akan pulang sebentar lagi"

"aku tidak akan kembali ke rumah itu"

"apa?"

"kau pernah bilang padaku bahwa keputusanku selalu yang terbaik, karena itu aku memutuskan sesuatu yang seharusnya sudah kuputuskan sejak dulu"

"kau sudah pernah pergi dari rumah lalu kembali lagi, dan sekarang kau pergi lagi, apa yang kau harapkan?"

"aku tidak pernah kembali"

Hinata lagi-lagi membisu

Sasuke berdiri dan menatap Hinata yang menunduk.

"aku tidak pernah kembali untuk memilih ayahku, baik itu dulu ataupun saat ini. Bila ada sesuatu yang menganggumu, katakan, sebelum aku pergi" Hinata meneguk ludahnya.

"ma-mau kemana?" mendengar itu, senyum Sasuke mengembang sedikit, setidaknya wanita dihadapannya masih seperti dulu.

"ke tempat awal semua ini bermula" Hinata akhirnya menatap Sasuke, dia tidak mengerti yang dimaksud Sasuke.

"tapi bu-bukankah besok ada acara di kantormu?"

"dari mana kau tau itu?"

"Naruto-kun akan kesana" senyum Sasuke luntur, dia lupa bahwa perusahaan kekasih Hinata, Uzumaki adalah rekan bisnis ayahnya.

"bila tidak ada yang ingin kau katakan, aku harus pergi Hinata"

"Uchiha-san" tepat saat Sasuke mengambil 1 langkah kedepan dengan wajah murung, kalimat Hinata menghentikannya.

"kembalilah ke rumahmu" hanya itu yang diucapkan Hinata, namun kalimat Sasuke selanjutnya membuat jantung Hinata berdegup kencang sekali.

"bila begitu, aku harus membawamu pergi Hinata" Hinata menatap Sasuke bingung.

"karena kau adalah rumahku"

Dan punggung Sasuke menjauh lalu menghilang dari pandangan Hinata.

###

Itachi memandangi layar ponselnya.

"sebenarnya dimana anak itu?!" tanyanya kesal, sesekali menelpon nomor tujuan.

"Tuan, acaranya sudah akan dimulai, tapi Sasuke-sama tidak ada di ruangannya, beliau harus membuka acara" Itachi memutar bola matanya malas

"dia tidak akan datang, aku akan menggantikannya" dia sudah tau Sasuke tidak akan menghadiri pesta malam ini, tapi setidaknya dia harus ingat bahwa dia punya kakak yang menunggu kabarnya.

"tapi tuan, bagaimana saya harus mengatakan ini pada Presdir?"

"dia sudah tau, dan dia juga tau kalau aku tidak akan membawa Sasuke ke hadapannya, jadi pergilah, aku yang akan bicara pada ayah" Itachi membenarkan jas-nya lalu melangkah keluar dari ruangan.

Ballroom hotel megah itu sudah dihiasi dengan cantik dan mewah, semua orang berpakaian rapi dan terlihat sangat 'mahal' bahkan beberapa reporter juga sudah siap meliput kegiatan acara ini.

Tentu saja karena ini adalah acara perusahaan Uchiha, dan mereka tidak mengundang tamu-tamu 'biasa'

Itachi naik ke atas panggung dan melipat tangannya ke belakang punggungnya.

"selamat malam semuanya" mendengar suara dari atas panggung, semua orang menatap Itachi bahkan Fugaku yang sedang bicara dengan rekan bisnisnya menatap Itachi penuh selidik.

"selamat datang, dan terima kasih telah berhadir disini malam ini untuk acara ulang tahun Uchiha Corporation dan penyambutan adik saya sekaligus Manager umum perusahaan, Uchiha Sasuke" gemuruh tepuk tangan semua orang sudah mengisi ruangan itu.

"tapi mohon maaf, karena adik saya, tidak bisa berhadir kali ini karena masalah yang harus dia selesaikan"

Semua orang saling menatap, bahkan raut wajah Fugaku mulai berubah.

"aku yakin kalian keberatan karena orang yang sangat kalian ingin temui tidak ada, tapi jangan khawatir, kalian akan segera bertemu dengan Sasuke"

"kapan itu?" tanya salah seorang reporter.

"seperti yang kalian tau, Sasuke menangani bagian investasi, jadi berinvestasilah maka kalian akan bertemu dengannya"

Terdengar tawa dari beberapa orang, termasuk Itachi yang tersenyum.

" silahkan nikmati kembali pestanya" Itachi turun dari atas panggung dan disambut Fugaku yang menatapnya seakan memberi perintah untuk mengikutinya.

"kau sedang bermain-main dengan Ayahmu?" tanya Fugaku saat mereka sudah tiba di ruangan tertutup.

"Sasuke memang tidak akan hadir ayah, cobalah mengerti bahwa dia sudah berubah"

"berubah apa? Menjadi pemberontak begitu maksudmu?"

TOK TOK

Fugaku yang sedang naik pitam pada putra sulungnya menatap ke arah pintu dan melihat sosok itu berdiri di ambang pintu.

"selamat malam Uchiha-sama"

Itachi menatap wanita yang berdiri itu tak percaya.

Bagaimana tidak?

Sosok yang pernah diusir oleh ayahnya dari negara ini memberanikan diri berdiri dihadapan Uchiha Fugaku.

"maaf saya lancang Tuan, saya melihat anda masuk kesini dan saya memutuskan untuk langsung bicara ke intinya" ucap Hinata penuh penegasan.

"beraninya kau datang kesini"

Hyuuga Hinata berdiri dihadapan Fugaku dengan percaya diri, tidak seperti dulu, saat dia masih begitu takut pada kekuasaan yang dimiliki pria itu.

"saya ingin membatalkan perjanjian kita tempo hari" nata fugaku membulat tajam.

Bahkan Itachi memandangnya tak percaya.

Sekarang dia semakin yakin, bahwa Hinata-lah orang yang tepat untuk bersama adiknya yang berantakan itu.

TBC

Balasan review~

Miwa03: siap Miwa-san, akan diusahakan ^^

Ranmiablue: akan Aya usahakan Ranmia-san ^^

Shl: yap, ini semua murni didedikasikan untuk SasuHina :3

Hiru nesaan: iya Hiru-san, dan semuanya sudah jelas di chapter ini untuk hubungan SasuHina..terima kasih Hiru-san^^

Machuniangel: iya berbeda, dan Sasuke mengalaminya tidak bersamaan, ada suatu waktu dia mengalami self-abuse, lalu saat dia sudah sembuh, dia kembaki merasa depresi karena masalahnya yang semuanya akan jelas di episode depan ^^

princeExoL: siap Prince-san ^^

Terima kasih untuk semua review-nya, saran, kritik dan apapun itu silahkan review, Aya akan dengan senang hati menerimanya :3