DISCLAIMER :

HIRO MASHIMA

PAIRING :

NATSU - LUCY [NALU FOREVER]

WARNING :

AU, OOC, Lime inside, naik rate M, Typo di mana-mana.

COPYRIGHT STORY:

Bellisima Kirei

A/N:

Ini adalah salah satu ff dari Bellisima Kirei di fandom HxH, yang saya pinjam- republish karna saya sangat menyukai alur ceritanya, dan lagi karna di fandom FT sepertinya kekurangan fic dengan rate M haha. Tentu saja melalui tahap ijin dan pengeditan untuk menyesuaikan karakter. Jika diantara kalian sudah pernah membaca fic dari penulis aslinya, psssstt. Special thanks to Bellisima Kirei

Happy Reading

Chapter 2 : Touching


You must be know what I've been waiting for

My temperature's through the roof

May I touch your body now?


Natsu mengemudikan mobil sport mewah miliknya yang berwarna merah (lihat mobil edolas Natsu warna merah) dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya tak pernah melepaskan genggamannya dari tangan si gadis pirang yang duduk di sebelahnya. Sesekali orb onyx pemuda tersebut meliriknya, nemimbulkan semburat kemerahan di pipi putih sang gadis, menambahkan kesan imut pada dirinya.

'Aaaah… kenapa Natsu terus menatapku seperti itu?!' keluh Lucy di dalam hati. Tatapan Natsu membuatnya salah tigkah, tak lama kemudian keheningan di dalam mobil itu terusik ketika terdengar suara ramai para siswa. "akhirnya… samapai juga ha..ha..ha." ucapnya lega dan sedikit salah tingkah. Namun dia langsung terdiam ketika melihat ke arah sang kekasih.

Tatapan itu….

"Luce, kesini sebentar," ucap Natsu sedikit dingin-menggambarkan sikap seriusnya, namun tanpa menunggu sahutan dari Lucy, ia langsung menarik gadis cantik itu ke arahnya hingga bibir keduanya bertemu.

Lucy membiarkan hal itu terjadi, namun dia sontak menjauh ketika merasakan Natsu yang mulai memberikan lumatan kecil di bibirnya.

"Na-Na-Na-Na-Natsu.. se-sekolah, ini sekolah.." Lucy tergagap dan menundukkan kepalanya, guna menutupi wajahnya yang semakin memerah.

Natsu terkekeh geli mendapatkan ekspresi gadisnya yang seperti itu, dan ia sangat menyukai itu. "Luceee, kau menggelikan haha, aku tahu ini sekolah, dan aku tak mengerti apa yang kau maksud na-na-na-na, apa itu nama baru untukku? Hahaha."

"Bu-bukan begitu! maksudku Belnya! Bel pelajaran pertamanya! kau menyebalkan Pinky boy!" balas lucy sedikit menggembungkan pipinya yang memerah.

Mendengar jawaban Lucy, Natsu mendekatkan wajahnya kembali, dan tanpa ekspresi, juga tak mengindahkan perkataan gadis pirang itu. 'Ah… sial, jika seperti itu dia semakin manis saja!' batinnya

"Na-NATSUUU! Kelas akan dimulai, dan aku tak mau Erza mengukum kita!" pekik Lucy segera, hingga pemuda bersurai Pink itu bergidik ngeri, ketika mendenngar nama Erza sang Ketua Kedisiplinan dan membayangkan hukuman yang akan diterimanya jika ia melanggar peraturan.

"A-AYE SIR!" Jawab Natsu, dan Lucy pun merasa geli dan tak bisa menahan tawa atas perubahan sikap kekasihnya, pagi itu menjadi awal hari yang menyenangkan bagi keduanya.


'Uhhk.. sial dia mengerjaiku!' runtuk Lucy sambil sejenak menyandarkan dirinya di dinding kelas. Namun matanya langsung terbelak ketika merasakan adanya tepukan di bahunya. "KYAAAAAA….! Ti-ti-ti-tidak! Jangan di sini!"

Lucy segera berbalik, mulutnya membentuk oval sempurna ketika mendapati Juvia yang tengah menjilati ice creamnya. "Lucy… ada apa denganmu? Apa yang jangan di sini?" Tanya Juvia dengan tatapan polosnya. Tapi itu hanya terjadi sebentar saja, karna kemudian gadis berambut biru itu kembali fokus pada ice creamnya dan berlalu pergi, sementara tanpa sadar Lucy langsung menghembuskan nafas super leganya diikuti tepukan kecil di keningnya.

'Reaksiku berlebihan, ini karna si kepala pink itu huh.' Batinya, dan ia pun teringat kembali pada kejadian di kantin sekolah beberapa saat lalu.

-Flash back-

Lucy tengah melangkah sambil membawa nampan berisi makan siangnya, dia menoleh di sekelilingnya, mencoba untuk menemukan kursi kosong. Tiba-tiba seseorang mengambil nampan tersebut dari tangannya, yahh siapa lagi kalau bukan Natsu Dragneel.

"Oi Luce, ayo di ke sini," kata Natsu, sambil memberi isyarat dengan matanya untuk beranjak ke salah satu meja di kantin itu."Di sana masih kosong…"

"Ah iya… baiklah, terima kasih Natsu~," jawab Lucy sambil tersenyum tulus. Dia pun melangkah mengikuti kekasihnya, diiringi tatapan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Yah, mungkin sebagian dari mereka berpikir 'akhirnya 2 orang itu bisa bersatu juga, setelah semua kekonyolan yang mereka lemparkan satu sama lain. Dan tentu mereka terlihat sangat serasi.' Begitulah.

Lucy makan dengan tenang, sementara Natsu hanya memesan roti isi danging saus kari ditambah dengan tobasco (lihat ova 2)Lucy pun berpikir bahwa Natsu itu 'panas' bukan? Namun tiba-tiba Natsu tersenyum.

"A-apa? Ada yang lucu dari caraku makan?!" Lucy langsung bertanya sambil merengutkan bibirnya

Natsu terkekeh, ia menunnjuk bagian bawah bibirnya. "Kau makan seperti 'banteng-taurus' yang kelaparan Luce, di bibirmu.. ada bekas makanan yang menempel."

"E-eeh benarkah?"

Sungguh, tingkah Lucy saat itu sangat menggemaskan bagi pemuda itu. Natsu melihat daerah sekitarnya, setelah menyadari tak ada yang memperhatikan mereka, dia mencondongkan tubuhnya kearah Lucy dan langsung menjilati bagian bawah bibir gadis itu. Dan tentu saja tanpa diduga sang gadis.

"Yooosh! Sudah, hehehe" ia berkata setengah bersemangat dan kemudian kembali ke posisinya semula.

Lucy mematung, wajahnya kini sudah semerah rambut Erza sang Ketua kedisiplinan, dan bodohnya lagi Natsu setengah berteriak ketika membenarkan posisinya, ia hanya berharap tak ada yang melihat kejadian tersebut.

-End Flash back-

"Lucy..?" Juvia menegurnya lagi, membuat Lucy tersadar dari lamunannya. Kini ia berada di kelas dan duduk manis di bangkunya. "Apakah kau-"

"Ti-tidak Juvia, aku sama sekali tidak demam dan tidak perlu ke UKS, emh itu terima kasih sudah mengkhawatirkanku." potong Lucy sambil tersenyum tulus.

"Ah.. kau salah mengerti, Juvia hanya ingin menanyakan, apakah kau benar-benar sudah menjadi kekasih Natsu?"

"A-A-A-AH-HAHA, it-itu da-da-da-dari mana kau tahu tentang itu?" jawab Lucy tergagap.

Wajar saja baginya menjadi salah tingkah seperti itu, karna semua orang tahu bahwa Lucy belum pernah sekalipun mempunyai pacar, namun ia cukup popular dikalangan siswa laki-laki, bahkan ada beberapa dari teman laki-lakinya yang merasa tertarik padanya, karna kepintaran dan jangan lupakan juga sisi manis yang ia miliki. Termasuk Gray Fullbaster, pemuda yang disukai oleh sahabatnya, Juvia.

"Waktu masuk ke kantin tadi, Juvia melihat Natsu menciummu, selamat ya Lucy, akhirnya Gray-samaaaaaa~~ Juvia bisa memiliki Gray-samaaa~." Ucap gadis cantik itu dan segera memeluk teman pirangnya. Orbs Karamelnya membelak terkejut mendengar apa yang diucapkan sahabatnya itu, dan cukup lama ia menyadari akhir kalimat yang dilontarkan Juvia, oh ia hanya bisa ber sweatdrop.


Sepulangnya dari sekolah, Natsu mengajak Lucy ke rumahnya untuk mengerjakan tugas. Tugas itu diberikan sejak dua minggu yang lalu-sebelum mereka menjadi pasangan kekasih-dan besok tugas tersebut harus dikumpulkan.

"Tolong bawakan dua gelas minuman dingin ke kamarku," ucap Natsu pada Kinana, salah seorang pelayan di rumah itu.

"Baik, Natsu sama." Jawab Kinana sebelum akhirnya melangkah ke arah dapur, sementara Natsu menggandeng Lucy kekamarnya. Jika ada orang luar yang melihat hal tersebut, bisa dipastikan otak mereka akan memikirkan hal yang tidak-tidak.

Sesampainya di dalam kamar, Natsu langsung menyalakan PCnya. "Luce, apa kau keberatan kalau aku mandi dulu? Maukah kau menunggu sebentar? Atau kau mau ikut mandi bersamaku hahahaha," tawa jahilnya menggema di dalam ruangan itu, sukses membuat Lucy melemparkan tempat pensilnya tepat di kepala pink Natsu.

"A-akuma!" sergah Natsu setelah menerima pemberian manis dari gadis pirang itu, 'Ya Tuhan, dia seperti Erza!' lanjutnya dalam hati.

"Aaah kaulah menyebalkan Natsu! heeemn baiklah, aku menunggumu." Jawab Lucy ketus, kemuadian kembali tersenyum. Setelah Natsu pergi ke kamar mandi, gadis itu mulai mencari data dan beberapa refrensi melalui internet yang di perlukan untuk menyempurnakan tugas mereka. Lucy begitu serius saat itu, hingga tiba-tiba ia mencium aroma menyegarkan dari belakang. Refleks dia menoleh, mendapati Natsu tengah berdiri dan masih mengenakan sehelai handuk putih yang melilit di pinggangnya. Pipinya pun merona sebelum akhirnya dia kembali mengalihkan pandangannya ke layar komputer.

Sebenarnya, Natsu selalu tergelitik setiap kali melihat wajah Lucy yang memerah, dalam hati ia menertawakan gadis itu. Dia melangkah menuju ke depan lemari lalu mulai berpakaian. Dalam waktu sebentar saja, pemuda itu sudah mengambil sebuah kursi dan duduk tepat di belakang Lucy.

"Tugas dari Porlyusica sensei ini mengenai sistem saraf, sangat merepotkan…" keluh Natsu.

Lucy menghela napas, seolah menyatakan persetujuannya atas apa yang baru saja di katakan pemuda di belakangnya. Keadaan rumah yang sepi, berdua dalam kamar yang tertutup, dan aroma strawberry Lucy yang berada begitu dekat di hadapan Natsu, menyebabkan sesuatu muncul di benak pemuda itu beberapa saat kemuadian. Dia menyunggingkan senyum di ujung bibirnya, ah.. mungkin itu sebuah seringai.

"Luce… apa kau tahu tentang feromon?" dia bertanya.

Lucy hanya mengernyit sambil membuka buku yang sudah ditandai Natsu sebelumnya. "Itu zat kimia, bukan?" gadis itu menjawab seenaknya dan sedikit menoleh, namun kembali memusatkan perhatiannya ke dalam buku yang tengah ia baca.

"Ya… zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seksual. Sinyal feromon diterima di dalam hudung dan dijangkau oleh ota-"

"Natsuu, sejak kapan kau sepintar in-"

"Luce, penjelasanku belum selesai, dan sebelumnya aku belajar untuk menyelesaikan tugas ini, ah ya aku akan melanjutkan yang tadi. Jadi zat kimia tersebut menimbulkan perubahan hormon yang menghasilkan respon perilaku dan fisiologis-" Natsu menghentikan penjelasannya sejenak untuk menyibakkan surai pirang Lucy perlahan. "Misalnya seperti ini…"

Natsu mengecup leher jenjang Lucy. Dia menciumi daerah itu berkali-kali dengan gerakan lambat yang lembut. Lucy merasa geli dan merinding yang aneh, itu adalah rasa yang belum pernah ia diketahui sebelumnya.

"essh-.. j-jangan.. Natsu..," bisik Lucy berusaha menoleh ke belakang, ia menolak ketika Natsu menyibakkan kerah seragam Lucy agar bisa menciumi perpotongan leher gadis itu.

"Shhtt.."

Natsu terus melakukan kegiatannya hingga kemudian Lucy merasakan sesuatu yang basah di lehernya.

'N-Na-Natsu! Menjilati leherku!' pekiknya dalam hati, membuat kedua pahanya saling terpaut erat.

Ketakutan akan apa yang mungkin terjadi kemudian, Lucy berusaha menghentikan Natsu namun kekasihnya itu malah memeluknya erat dari belakang dan melumat pelan bibirnya untuk membuatnya bungkam.

Untuk kesekian kalinya, mereka terlibat dalam French kiss yang panas. Ciuman kali ini terasa lebih lama…membuat napas keduanya memburu karena mulai terangsang dan udara yang kurang.

Lucy pun hanya mampu menikmati ciuman itu. Rasanya begitu membutakan… membuatnya melupakan atas segalanya. Ketika akhirnya Natsu melepaskan ciumannya, Lucy terengah-engah. Mata indahnya menatap mata hitam pemuda itu yang penuh nafsu. Namun Lucy terkejut ketika menyadari apa yang telah terjadi.

Dia menunduk, mendapati beberapa kancing atas seragamnya sudah terbuka, dan memperlihatkan pangkal belahan dadanya yang cukup-besar. Bra yang ia kenakan pun sudah terlihat.

Belum sadar sepenuhnya dari keterkejutan itu, Natsu menyentuh belahan dada Lucy, hingga kemuadian menyentuh tepi payudara kiri si pirang.

"Ahh.. N-Natsuuu… jangan… aku..-"

"Lucee.."

"Aku… takut.."

"Tenanglah…"

Lucy menolak, sementara Natsu mempererat pelukannya dan mengelus daerah yang tengah disentuhnya itu beberapa kali.

"Sudah… Natsuuu.. lepaskan…," Lucy merintih sangat pelan, sambil memengangi tangan kekasihnya yang masih beraksi.

"Aku ingin melihatnya…," jawab Natsu

Lucy tersentak ketika jemari Natsu bergerak masuk ke dalam bra dan menyentuh putingnya yang ternyata sudah menegang.

"Natsuuuu.. jangan.. ouhh aku mohon!" ucapnya sedikit mendesah

Natsu tak mendengarkan penolakan gadisnya. Dia mengeluarkan payudara kiri Lucy dari dalam bra hingga menyebul keluar. Lucy memalingkah wajahnya. Dia merasa sangat malu. Ini adalah pertama kalinya seorang laki-laki melihat bagian dalam tubuhnya, Natsu pun baru pertama kali melihat langsung, namun pemuda itu lebih pandai mengendalikan dirinya.

'Aku tak mau mebuatnya takut, ah tenangkan pikiranmu dan bersabarlah Natsu!' batin pemuda itu. Dia mengecup dagu Lucy. "Kenapa? Luce aku mohon jangan takut ataupun malu padakuu.."

Setelah mengatakan hal tersebut, Natsu sedikit menunduk dan langsung menjilati nipple payudara Lucy sebentar akhirnya ia menghisapnya lembut dan melumatnya, ia memainkan dengan lidahnya.

Lucy meringis. Rasanya aneh.. ngilu-sedikit sakit. Berbagai hal berekelebat dalam benaknya. Perasaanya campur aduk, bahkan mitos mengenai mengendurnya payudara jika dihisap pun muncul dan membuatnya takut.

"essh..aah~ sudaa-aah Natsuuuu…" protesnya lirih

Natsu melepaskan bibirnya dari payudara kiri itu, dan beranjak mengeluarkan payudara sebelah kanan kekasihnya. Lucy mencengkram bagian depan baju Natsu ketika payudara kanannya ikut dihisap dan dilumat juga. Aroma segar yang menyeruak dari tubuh Natsu mau tak mau turut membuat Lucy terbuai. Mereka memiliki pendapat yang sama mengenai hal ini.

'Wangi Natsu begitu maskulin…aku...' Batin Lucy

'Ummhh.. Aroma tubuhmu begitu membuatku gila… sungguh Luce… aku menyukai ini dan tak bisa menghentikannya..' batin Natsu

Natsu mengarahkan pandangannya ke atas, menyaksikan ekspresi kenikmatan Lucy. Gadis itu setengah memejamkan matanya dan mendongak, bahkan ketika Natsu memainkan nipple payudara kirinya tanpa menyudahi hisapannya di payudara kanan, Lucy mulai tak bisa menahan kenikmatannya dan dorongan kuat untuk desah, dan sesekali menggigit bibir bagian bawahnya.

'Yoooshh… sekarang aku semakin bersemangaaaath..' batin Natsu (dengan nada khas seperti yang Natsu ucapkan di ft)

Perlahan tapi pasti, ia mulai lihai melakukan aktivitas barunya itu. Hisapannya semakin panas. Setelah puas, sambil melakukan French kiss, Natsu meremas lembut kedua payudara Lucy, lalu memainkan kedua nipplenya secara bersaan pula, dengan memelintir dan menariknya.

"A-aah… Natsuuuuh~~.." desahan Lucy disela sela ciumannya, membuat sang pemuda semakin bergairah.

Natsu melepas ciumannya lagi.. menatap penampilan kekasihnya sekarang. Wajah cantik yang merona, bibir merah muda yang sedikit terbuka berusaha mengatur napasnya, dan matanya yang setengah terbuka, kedua payudara indahnya yang terekspos di depan matanya… Oooh itu adalah ekspesi paling mengairahkan dan menjadi favorit bagi Natsu, Lucy hanya untuk diriya sendiri, begitupun sebaliknya.

Lalu tiba-tiba dia menyadari… pemandangan baru yang mungkin disebabkan aktivitas mereka tadi. Rok seragam Lucy sedikit tersingkap, memperlihatkan kulit paha yang putih mulus milik gadis itu. Natsu yang sudah dikuasai nafsunya, mencoba sedikit memasukkan tangannya ke dalam rok Lucy dan mulai membelai pahanya…

KLEEK !

"Maaf.. Ini minumannya," ucap orang itu yang ternyata adalah Kinana.

Natsu menoleh ke arahnya. "Ya, simpan saja di situ, terima kasih Kinana." Ucapnya sambil menunnjuk sebuah meja dengan tangannya yang semula memeluk pinggang Lucy, sedangkan tangan yang satunya membeku di dalam rok seragam gadis itu.

Lucy tak bisa berbuat apa-apa selain menghadap lurus kearah computer, karena kedua payudaranya masih berada di luar jangkauan bra nya. Kalau tidak, Kinana akan menyadari apa yang baru saja terjadi, dan itu akan sangan memalukan.

Waktu terasa begitu lambat bagi mereka ketika Kinana meletakkan dua gelas minumannya sebelum pergi dari sana.

"S-Su-Sudah ya Natsu.." bisik Lucy sambil membenarkan bra nya, dan mengancingkan kembali kemeja bagian atasnya. Jujur saja Natsu sangat kecewa atas berakhirnya adegan itu, namun ia tak mau memaksa gadisnya. Dia hanya menciumi dan menjilati tengkuk leher Lucy serta terus membelai paha mulusnya. Perlahan-lahan semakin naik… tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh sesuatu yang tertutup kain-celana dalam. Refleks Lucy langsung memegangi tangan natsu yang berada di dalam roknya.

"Jangaaan," pintanya sungguh-sungguh.

Natsu menurut, dan merapikan baju Lucy. Mereka pun segera menyelesaikan tugasnya.


Natsu mengantar Lucy pulang. Di sepanjang perjalanan, gadis itu lebih banyak diam dari pada biasanya. Sepertinya ia masih sedikit terkejut, matanya terlihat berkaca-kaca. Dan sesampainya di rumah, benar saja ia segera masuk ke kamarnya, Lucy langsung menangis terisak.

'Oh… tadi itu apa yang kulakukan? Kenapa aku mebiarkannya terjadi?'

Di lain tempat, sesampainya Natsu di rumah, ia menyegerakan diri untuk menghubungi Lucy melalui telepon. Pemuda itu merasakan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya, dia merasa salah.

"Luceee… apakah masih terasa sakit..?" tanyanya penuh rasa khawatir dan peduli.

"Ya.. begitulah.." jawab Lucy pelan

"Bagaimana rasanya?"

"Sedikit nyeri… seperti ngilu.."

"maafkan aku Luce,… apa aku terlalu memaksamu?"

Lucy terdiam, kejadian yang baru saja terjadi di kamar kekasihnya kembali terbayang dalam memorinya. Dia merasakan sensasi aneh ketika mengingat hal itu. Hingga akhirnya Lucy sampai pada satu kesimpulan.

"Tidak Natsu.. aku pun membiarkan hal itu terjadi." Jawab lucy '…dan aku pun sangat menikmatinya, Natsuuu..' batinnya lirih.


Di rumahnya, Natsu tersenyum tipis mendengar jawaban Lucy. Ia sangat menyayangi gadis itu, bukan hanya sekedar membutukan tubuhnya saja. Ia yakin bahwa kini wajah kekasihnya itu kembali merona.

"Luce… kau mau tahu sesuatu…"

"Apa?"

"Payudaramu indah," komentar Natsu, "Dan aku menyukai aroma tubuhmu…"

"A-a-a-a-pa? A-a-aku…" ucap Lucy terbata-bata.

"Ya? apa yang kau maksud a-a-apa itu Lucy, Kau seperti Erza saat demam panggung, hahah itu sangat konyol, badannya seperti besi yang berkarat hahaha." Tawa Natsu pecah seketika.

"B-bodoh! Dasar kau otak api, teruskan saja bualamu itu, huh! Besok akan kau akan aku giling." Jawab Lucy dingin, membuat Natsu bergidik ngeri.

'Dia benar-benar Erza kedua.' Batin pemuda itu. "Oi oi tentu saja aku hanya bercanda, Lu-ce-ku." Goda Natsu

"B-ba-baiklah! Maksudku… aku pun menyukai a-aroma tubuhmu…" balas gadis itu canggung, terdengar suaranya lebih pelan. Oh benar saja, wajahnya sudah semerah tomat. Namun Natsu teringat satu hal lagi sebelum mengahiri teleponnya, dan sambil menyeringai penuh arti dia berkata, "Pahamu yang putih mulus itu, akan mengacaukan benakku malam ini… Lucee"

TUUUT…


TBC


A/N :

Yaaa.. akhirnya selesai juga chapter 2 ini, saya ngetik beneran ga konsen-oia ff sekarang ga bisa diblok copy paste

jadi otak saya beneran kerja buat fokus, padahal saya cuma nyalin ya haha.

FF ini benar-benar menyesuaikan dengan char FT. Untuk alur cerita yang menarik, berterima kasihlah sama author aslinya :D

Oh iya terima kasih juga untuk yang sudah membaca dan me-review 'MAY I' versi char FT.

Kahfi. Hidayah : Sip, ini sudah dilanjutkan

Hatsune Cherry : Oh yaampun! saya udah cek barusan dan udah diedit, terima kasih koreksinya :D

Aiko Asari : Iya, dan ini sudah di update, ikutin sampai chap abis ya, rate M cuma bbrapa ya di fandom ini, setuju. terima kasih udah nemuin typo nya huhu :P


sampai ketemu di chap 3

Review please... ^^