Dulu, ia amat sangat menyukai pemandangan seperti saat ini di setiap musim semi tiba. Duduk di dahan pohon yang cukup tinggi sambil menikmati paparan sinar rembulan didalam hutan. Hanya seorang diri. Menjauh dari kawanannya. Tapi rasanya itu semua sudah berlalu sekian abad yang lalu. Dan faktanya, ia baru meninggalkan kawanannya, keluarganya, hutan favoritnya empat bulan yang lalu. Dan sudah lebih dari empat purnama ini ia lewati seorang diri tanpa sang pujaan hati. Rasanya ia masih sanggup melewati hari demi hari seorang diri. Jika boleh memilih ia takmau berada didalam posisi semenyulitkan ini. Ia sama sekali tak suka. Dan pada akhirnya ia kembali mendesah dipenghujung hari seperti saat ini. Ia merasa baik – baik saja akan tetapi perasaan kosong itu terasa begitu kuat. Ia tak yakin sampai kapan sanggup bertahan tanpa sang kekasih.
"Anak gadis dilarang mendesah seperti kuda," celetuk seorang laki - laki tampan yang baru saja keluar dari ruang khusus karyawan.
Gadis cantik yang mengenakan jaket berwarna putih gading itu mencebikkan bibirnya sesaat sebelum bangkit dari tempatnya duduk. "Jadi, apa hanya kaummu saja yang boleh mendengus seperti kuda?" Ucap gadis cantik itu sambil tetap melangkah menuju pintu keluar toko tempatnya bekerja lalu berdiri diundakan paling atas sambil menunggu patner kerjanya.
"Sialan kau," sungut laki - laki bersurai hitam itu dengan nada tak cantik yang memiliki rambut sehitam malam itu terkikik geli seraya memperhatikan tingkah temannya. "Puas kau?" Laki - laki itu berjongkok memastikan bahwa pintu kaca depan Coffee House tempat mereka berdua bekerja terkunci dengan benar.
"Sedikit," jawab gadis itu lengkap dengan nada menggoda dan berjalan perlahan menuruni beberapa anak tangga lalu berhenti di trotoar menunggu laki – laki itu.
Setelah mengunci pintu depan Coffee House, laki - laki bersurai hitam itu bangkit dan menatap si gadis berjaket putih dengan senyuman yang begitu manis. "Ayo kita pulang," ajak laki - laki itu dan segera saja, gadis itu menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Pemandangan musim semi seperti saat ini memang paling nikmat jika dinikmati dengan seseorang," bisik laki - laki itu.
Gadis berjaket putih kemudian sedikit melirik sosok laki - laki yang berjalan disampingnya dengan tenang. Dalam hati ia mengamini ucapan laki - laki itu. Rasanya pasti menyenangkan jika berjalan berdua dengan orang yang disukai seraya menikmati pemandangan bunga cherry yang bermekaran disepanjang jalan seperti saat ini. Sayangnya, sang pujaan hati tengah berada jauh diwilayah sebelah utara tanpa tau apa yang ia rasakan saat ini. Sekarat dalam kubangan rindu yang selalu ia halau sebisa mungkin.
"Hei.. apa lusa kau senggang?" Laki - laki itu memecah keheningan diantara mereka berdua setelah berjalan beberapa puluh meter meninggalkan tempat keduanya bekerja.
"Apa kau ingin mengajakku keluar?" Tanya gadis berjaket putih itu dengan senyuman tipis yang tak mencapai kedua matanya."Jangan katakan kau mengajakku berkencan."
Laki - laki itu mengangguk sekali sebagai jawabannya. "Bisa diasumsikan seperti itu. Apa kau mau keluar denganku?"
Gadis berjaket putih itu menghentikan langkah kakinya lalu menatap wajah sang lawan bicara. "Aku senang kau mau menawariku untuk pergi tapi, sayangnya aku tak bisa. Aku harus bekerja, jadwal libur kita tak sama."
"Kau bisa mengganti hari liburmu dengan yang lain, ku rasa mereka tidak akan keberatan."
Gadis itu tertawa merdu dikeheningan malam, "aku tetap tidak bisa. Yang lain juga pasti punya rencana tersendiri pad hari itu. Dan rasanya tidak baik jika aku pergi berkencan dengan dirimu sementara aku sudah memiliki seorang kekasih."
Laki – laki itu sesaat tampak terkejut lalu kembali mengusai raut wajahnya. Hanya saja gadis berjaket putih itu menangkap emosi sesaat yang muncul di wajah tamapn laki – laki itu. "Kau punya kekasih? Benarkah? Kenapa aku tak percaya, ya?"
Lagi – lagi gadis itu tertawa sebagai jawabannya. "Ya, aku memang punya. Hanya saja dia berada ditempat yang cukup jauh dari sini. Aku merindukannya." Bisiknya begitu lirih diakhir kalimat.
Laki – laki tampan itu termanggu sejenak saat melihat wajah gadis berjaket putih itu tampak begitu tersiksa oleh kerinduannya. Baru saja ia ingin mengucapkan sesuatu, suaranya tergantikan oleh sebuah suara baru.
"Zi Tao," panggil suara baru itu dari arah belakang keduanya. Suara seorang laki - laki dewasa yang terdengar begitu parau seolah – olah ia telah sejak lama tak menegak cairan apapun untuk membasahi tenggorokannya.
Spontan saja keduanya berpaling meghadap kearah sumber suara. Dua reaksi berbeda ditunjukan dari keduanya. Yang laki - laki menatap sang tokoh baru dengan tatapan heran, bingung tapi juga terkesima dan ketakutaan yang tiba – tiba muncul tak beralasan. Sementara sang gadis berjaket putih itu menatap sosok tampan bak pahatan patung Dewa Yunani dengan tatapan kebencian, marah, kesal, takut, bingung, terkejut menjadi satu. Akan tetapi diantara begitu banyak emosi yang berkumpul menjadi satu, kerinduanlah yang paling terlihat dari kedua mata gadis itu.
"Kris," bisik gadis berjaket putih itu dengan lirih saat menyebutkan nama pemilik rupa yang begitu indah itu.
Laki - laki tampan dengan perpaudan wajah seperti seorang peranakan dua ras berbeda itu berjalan mendekat kearah keduanya. Kulitnya yang begitu pucat tampak begitu kontras dengan pakaiannya yang serba hitam. Surai pirangnya yang menawan tampak melengkapi semua kesempurnaan rupanya. Wajahnya yang begitu tampan, matanya yang tampak segelap langit malam dan tinggi tubuhnya yang sekiranya cocok menjadikannya seorang atlet basket terasa begitu pas dengan dirinya. Baginya, laki – laki yang berdiri disamping gadis berjaket putih itu jelas bukan tandingannya. Dilihat dari segi manapun, laki – laki itu jelas kalah saing dengan dirinya. Dibutuhkan sosok pasangan yang kuat jika ingin menjadikan si cantik itu sebagai miliknya. Contohnya adalah dirinya. Ia kuat, tak mudah dihancurkan, kokoh dan menakutkan. Tapi, itu saja tak cukup. Butuh kegilaan seumur hidup untuk bisa bersama sosok cantik berjaket putih itu.
"Hyunjae-ssi, perkenalkan, ini kekasihku, Kris. Dan Kris, ini Hyunjae-ssi, dia teman kerjaku." Ucap si cantik Zi Tao saat melihat Kris bergerak mendekati dirinya.
Dengan percaya diri Hyunjae mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan pada Kris. Akan tetapi, sang lawan hanya menganggukkan sedikit kepalanya sebagai tanda salam perkenalan keduanya. Hyunjae tertawa pelan mendapati penolakan Kris seraya menggaruk tengkuknya dengan gerakan kikuk. Entah mengapa begitu ia berhadapan langsung dengan Kris, perasaan ketakutan itu semakin menjadi – jadi. Tapi jika melihat wajah Zitao yang tampak begitu bahagia, ia merasa dirinya berlebihan.
"Sudah lewat dari jam satu pagi, kurasa aku harus segera pulang. Tak apakan jika aku lebih dulu pulang, Zi Tao-ssi?" Hyunjae melirik sekilas pergelangan tangannya dimana jam kesayangannya menggantung dengan tenang disana.
Zi Tao menggangguk pelan dan memperhatikan Hyunjae yang berpamitan pada Kris dengan canggung. Laki – laki tampan itu menjauh dari keduanya tanpa menyinggung ajakan untuk keluar bersamanya lagi. Jelas saja baginya, ia tak bisa menandingi Kris dalam berbagai segi dilihat dari sepintas lalu sekalipun. Kris tampak seperti seorang taipan muda yang begitu kaya raya dengan wajah begitu sempurna dimatanya.
Sepeninggalan Hyunjae, baik Zi Tao dan Kris masih setia berdiri disana tanpa beranjak sedikitpun. Mungkin Tuhan mendengar sedikit keinginan Zi Tao beberapa saat lalu untuk berjalan bersama dengan orang yang ia sukai dibawah pohon cherry yang tengah berbunga, seraya menikmati sinar rembulan yang begitu indah malam ini.
Perlahan Zi Tao melangkah maju mendekati sosok tampan sang kekasih lalu memandangi wajah itu baik – baik sebelum akhirnya memeluk tubuh sedingin dan sekokoh gunung es itu begitu erat. Seolah mengamini luapan perasaan yang ditumpahkan Zi Tao, Kris balas memeluk gadisnya. Mengabaikan bahwa bau gadisnya seperti anjing basah. Satu kecupan ringan Kris berikan dikening kekasih cantiknya itu. Dalam hening keduanya saling melepas rindu sejak beberapa bulan ini tak bertemu. Hingga Kris tersadar bahwa Zi Tao mulai menangis tanpa suara sedikitpun.
"Zi Tao," bisik Kris lirih seraya menangkup kedua pipi tirus gadis itu. Jari tangannya yang besar dan panjang itu mencoba mengusir aliran air mata yang menganak sungai disana.
Dengan mata terpejam, jari tangannya mengusap tangan sang kekasih lalu menggenggamnya begitu erat. "Kau nyata.. kau benar - benar nyata, Kris..." bisik Zi Tao begitu pelan saat angin malam berhembus dan menjatuhkan kelopak bunga - bunga cherry disekitar keduanya.
.
.
.
SilverMoon: XOXO
By
RoxanneJung
Inspiration:Aurelian,fanfictionfromHarpotfandomandTwilight
.
.
.
Selesai nulis ini anjing disekitar rumah melolong mengerikan T.T
With love,
Roxanne Jung
26032016 12:06am
