Title: Love and Revenge!

Author: Ray Hyuuga

Pairing: SasuSaku (Uchiha Sasuke and Haruno Sakura)

Rate: M

Genre: Romance and Drama

Warning: OOC, Typos, Konten pembangkangan dan balas dendam, serta kekurangan yang lainnya.

Summary:

Haruno Sakura, Cherry Blossom Girl yang 'manis' dan pandai mendapat kesempatan bersekolah di Konoha High School berkat kepandaiannya. Sebagai siswa baru, tentunya ia harus mengikuti MOS. Seharusnya semua baik-baik saja. Namun, keberaniannya menentang aturan MOS membuat dirinya harus berurusan dengan berbagai macam hukuman. Hingga ia bertemu dengan sosok sempura itu. Mampukah sosok itu membuat Sakura berubah dari sifatnya?

~ Special For Sakura's Birthday ~

28th March

Enjoy and Happy Reading

Chapter 2

~ Sakura POV ~

Time has a precise way to show what's really to our life. Waktu memiliki cara yang paling akurat untuk menunjukkan apa yang paling berharga dalam hidup kita. Namun, benarkah demikian? Pada kenyataannya tak selalu demikian. Apa yang ku miliki sekarang ini? Tak ada yang berharga sama sekali. Tak ada orang tua, teman, ataupun remeh temeh yang menemani hari demi hari. Waktu memang tahu bagaimana membulatkan takdir seseorang menjadi sebuah kenyataan yang serba kebetulan atau biasa di sebut serenpidity.

Kehadiran Ino cukup membuat hidupku menjadi sedikit berwarna. Mulanya berwarna hitam dan putih menjadi sebuah lengkungan cahaya yang indah. Itu semua karena waktu mempertemukan kami di Konoha High School. Saat kami bersama-sama melihat hasil pengumuman kelulusan dan akhirnya kami berteman walaupun itu baru berjalan sehari. Teman? Kalau kata friend sudah keluar dari mulutku, berarti aku menerimanya apa adanya. Aku percaya padanya dengan berikat pada sebuah komitmen. Ino adalah satu-satunya yang seumur hidupku dapat ku ambil kepercayaannya. Ya, mungkin yang kedua...

Juga, waktulah yang mempertemukanku dengan pemuda tampan yang penuh pesona itu. Saat aku menunggu Ino di depan kamar kecil dan ia menubrukku. Keberanianku membuat pertemuan dengannya seakan menjadi istimewa. Andaikan aku tak melawan saat itu dan hanya meminta maaf, maka aku tidak akan pernah bisa mencium bau tubuhnya yang menggoda serta merasakan sentuhannya yang menghanyutkan. Perlahan, ku sentuh leherku. Masih ada tanda kemerahan di sana. Cih, sebuah kissmark. Entah mengapa, sedari malam tadi, aku rasanya merindukan sentuhan serta sapuan hangat dari pemuda itu. Seumur-umur, baru kali ini aku merindukan seseorang. Lelaki pula. Tuhan, walau bagaimanapun, aku seorang perempuan. Perempuan mana yang tidak menyukai pemuda tampan dan gagah, memiliki segudang pesona, dan menyentuhmu dengan lembutnya? Aku normal, bukan kaum yang melenceng dari kenyataan itu. Rasa-rasanya, aku ingin sentuhan itu lagi. Rasanya seperti candu. Aku..., ah apa yang kau pikirkan, baka? Dia brengsek! Berani menyentuhmu tanpa alasan yang jelas! Menciummu pula! Walaupun kau mengalahkannya. Lupakan! Shannaroo!

" Kau akan menyesal menujukkan sisi liarmu. Aku akan mencarimu"

Kalimatnya membayang di pikiranku. Benarkah dia akan mencariku? Tuhan, masihkah aku bisa mempercayai sebuah anugerah yang kau berikan ini? Tapi, aku tidak hidup di negeri dongeng. Dimana sang Pangeran seolah tahu dimana menemukan sang Putri, tanpa alasan yang jelas. Lantas, menciumnya demi kehidupan sang Putri. Logikaku tak bisa menerimanya. Bagaimana mungkin Pangeran tahu dimana Putri dan sebuah ciuman bisa mengembalikan kehidupan? Heh! Ku gelengkan kepalaku sedikit demi mengumpulkan kembali kesadaranku.

Hari ini adalah hari pertama MOS di Konoha High School. Sehubungan dengan MOS, ku lirik sebentar catatan yang di berikan oleh Ino kemarin. Heh, jangan pikir aku akan menggunakan aksesoris gila macam itu. Ku tekankan sekali lagi jikalau aku bukanlah objek untuk memuaskan senior gila itu. Bukan. Aku manusia dan manusia tidak berhak memerintah manusia yang lainnya. Yang ada hanyalah minta tolong. Camkan itu! Sedikit ku sunggingkan senyum sinis ke catatan tersebut. Ku lemparkan catatan itu ke atas tempat tidurku. Membuatnya melayang sesaat di udara, lantas turun dengan perlahan tergolek di atas tempat tidur dengan tidak elite.

Ku rapikan pakaian yang ku kenakan. Kaus dari sutra tipis berwarna putih dengan bordir bunga mawar di dadanya. Rok hitam pendek di atas lutut 12 senti serta sepatu hak tinggi berwarna merah muda melekat manis di kakiku. Tak lupa, sebuah syal berwarna cream melilit leherku dengan manisnya. Maskara hitam terpoles sempurna di antara bulu mataku nan lentik. Perlahan, ku patut diriku di depan cermin. Sempurna. Sebagai sentuhan terakhir, ku semprotkan parfum N⁰5 Chanel yang terkenal itu. Baiklah, selesai sudah.

DRTT...

Teleponku bergetar, di susul nada panggil pendek melengking bebas memenuhi ruang kamarku. Ku perhatikan nama pemanggilnya, Ino. Segera saja, ku tekan tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan darinya. " Yoo, Ino? Ada apa?" tanyaku seraya merapikan sedikit syalku.

" Aku sudah menunggu di depan rumahmu." katanya dengan nada ceria dan berbunga-bunga. Aku hanya mengangguk pelan.

" Yoo, aku akan turun." kataku seraya meraih tas Chanel dengan tulisan Lait de Coco yang ada di atas ranjangku. Dengan segera, ku matikan hubungan telepon kami seraya melesakkan handphone milikku ke dalam tas. Dengan segera, aku menutup pintu kamarku dan menuruni tangga dengan langkah cepat. Hak tinggi yang ku kenakan bukanlah penghalang bagiku untuk bergerak lincah dan tangkas. Aku tetaplah Haruno Sakura. Walaupun, aku rada-rada gila hari ini. Seumur hidup, baru pertama kali aku mengenakan pakaian seperti ini, plus parfum pula. Kalian mau tahu mengapa? Ini karena pemuda itu. Ya, dia membuatku setengah sinting saat ini. Walau bagaimanapun, aku adalah seorang gadis. Mana ada gadis yang bisa tahan dengan lelaki setampan dia coba? Heh! Kecuali kalau aku memang rada kelainan. Mungkin aku berdandan seperti ini untuk Ino, bukan untuknya.

Ku lihat sebuah mobil Volvo hitam berada di halaman rumahku. Dengan sigap, ku kunci pintu rumah dan ku lesakkan di dalam tas kecilku yang berwarna merah muda tersebut. Dengan langkah pasti, ku langkahkan segenap langkahku mendekati mobil Ino seraya membuka pintu mobil Ino. Ku lihat ia melongo beberapa saat sebelum aku benar-benar membenamkan diri di jok mobilnya. Ada apa dengan anak ini?

" Moo? Kau tidak salah baju? Atau kau sakit?" kata Ino seraya menyentuh dahiku. Aku mendengus sebal.

" Aku tidak apa-apa, Ino. Kau ini kenapa sih? Seperti melihat hantu saja!" kataku ketus seraya mengaktifkan handphoneku kembali. Ino hanya menggeleng melihatku. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku hanya mendengus kesal.

" Kau ini kenapa sih? Kenapa aku di pelototi sampai sebegitunya?" kataku kesal seraya memandangnya tajam.

" Hei, Nona. Kita ini MOS, bukannya mau piknik atau holiday ke Prancis. Seharusnya kau mengenakan apa yang tertera di list yang ku berikan kemarin. Itu juga. Kau bawa apa dalam tas pesta sekecil itu? Kau gila, ya?" katanya seraya menunjuk wajahku lalu tas yang ku kenakan.

" Cih, aku tidak akan pernah mau mengenakan aksesoris gila macam ini. Lagipula, untuk apa aku memakainya?" kataku seraya menyentuh sebuah pot bunga yang berada di kepala Ino. Di sekelilingnya terdapat permen kecil-kecil yang di gantung mengenakan tali. Di depannya ku lihat ada foto dari Ino sendiri. Persis seperti orang gila yang di injak-injak harga dirinya.

" Hei, ini namanya kewajiban. Kalau kau di siksa secara sadis oleh para senior kita, aku takkan tanggung jawab." katanya seraya menampik tanganku dan mulai menjalankan Volvo hitamku. Aku hanya tersenyum sinis seraya menyapukan lipgloss Cherry di bibirku. Cih, lihat saja! Siapa yang akan berakhir dengan sadis? Aku atau para senior gila itu!

~ Love and Revenge! ~

Dengan sigap, aku turun dari mobil Volvo hitam milik Ino. Angin berhembus lembut, membuat rambutku menjadi bergoyang-goyang karenanya. Kami sudah sampai di tujuan, Konoha High School. Dengan tatapan tajam, ku perhatikan sekelilingku. Terlihat, segerombolan murid mengenakan aksesoris yang bermacam-macam. Bermacam-macam di sini bukan menggambarkan kemewahan, melainkan sebuah ketakutan. Aksesoris semacam tali warna-warni, pot bunga, permen, sapu lidi, dan papan nama dari kertas kardus yang di letakkan di kedua sisi, depan dan belakang. Cih, apa mereka semua berakal? Kenapa mau mengenakan aksesoris semacam itu? Hanya karena takut dengan para senior? Huh, dasar bodoh!

Lamunanku berhenti tatkala aku merasakan sebuah sentuhan di bahuku. Dengan gerakan perlahan, ku alihkan badanku menghadap sosok yang ada di hadapanku sekarang. Aku merasa seperti deja vu. Seakan-akan kejadian bertemu dengan Ino kembali terulang. Namun, kali ini sosok yang menemuiku seakan pernah ku kenal. Mata lavender, rambut panjang nan lembut sepinggang, dan wajah yang cantik untuk typical orang Asia. Siapa dia? Aku rasa aku tak pernah bertemu dengannya? Namun, di satu sisi aku merasa jikalau aku pernah melihatnya? Tapi dimana? Sejenak, ku pasang wajah dingin dan datarku.

" Sakura?" panggil sosok tersebut dengan lembut. Aku hanya memicingkan mata untuk lebih mengenali lagi sosoknya. Namun, tak ada anggukan ataupun suara yang menyambut panggilannya dariku.

" Tuhan! Kau lupa padaku? Ich bin's. Ini aku." pekiknya seraya mencengkram kedua belah bahuku. Seketika, aku mengenali sosok dengan sikap perilaku seperti itu. Mungkinkah...?

" Hinata?" gumamku pelan. Namun, seperti mendengar gumamku, ia mengangguk cepat seraya menyentuh kedua belah pipiku. Wajahnya merona lembut tatkala bertemu denganku.

" Aa, ini aku. Sudah lama sekali ya." katanya seraya tersenyum lembut. Menampakkan giginya yang bersih dan putih. Seketika, ia memelukku dengan eratnya. Ku balas pelukannya. Tuhan, lama sekali aku dan Hinata tak bertemu. Terakhir kali kami bertemu saat aku mengantarnya ke bandara 8 tahun yang lalu. Saat keluarganya memutuskan untuk tinggal di Vienna. Saat itulah aku kehilangan sosok temanku yang sangat berharga. Seketika, mataku berair mengingatnya. Aa, Hinata adalah sosok yang menjadi komitmen pertama dalam hidupku.

" Kau banyak berubah, ya?" katanya seraya melihat ku dari atas sampai bawah. Benarkah? Mungkin secara mental iya. Namun, secara fisik rasanya aku tidak banyak berubah. Malahan, dia yang sekarang banyak sekali perubahan.

" Benarkah? Perasaan kau yang banyak berubah! Oh ya, kapan kau pulang?" kataku seraya menatap matanya. Mata lavender yang serupa dengan mutiara itu hanya berputar-putar lembut.

" Setahun yang lalu. Aku mencarimu kemana-mana. Tapi tidak ketemu. Oh ya! Cie..., senior ya? Pakaianmu hari ini cantik sekali. Ada yang kau incar memangnya?" kata Hinata seraya tertawa malu. Menahan semburat merah muda di pipinya. Seketika, pipiku merona merah. Cih, kenapa dia bisa tahu? Ah, mungkin tebakan yang beruntung.

" Senior? Aku di sini murid baru, dan hari ini akan ikut MOS. Kau sendiri kenapa ada di sini?" kataku seraya memperbaiki posisi tas yang ada di samping badanku. Seketika, wajah Hinata berubah. Dahinya mengerut.

" Aku sudah setahun sekolah di sini dan sekarang kelas 11. Aku termasuk OSIS yang mengurusi MOS tahun ini. Tapi, tunggu! Kau ikut MOS? Are you sure, Lady? Dengan pakaian seperti itu? Kau mau mati?" kata Hinata seraya menyentuh syal yang ku kenakan. Aku hanya memutar bola mata bosan.

" Lantas, apa kau mau aku memakai aksesoris semacam mereka? Cih, kau sudah tahu bagaimana aku, dan aku tidak mau melakukan hal-hal semacam itu." kataku seraya membuang muka sebal.

" Aku memang bisa memakluminya. Masalahnya, bukan aku OSIS utama tahun ini. OSIS yang menjadi ketua tahun ini Neji-nii dan Tenten-nee. Kalau kau mau tahu, saat kemarin aku ikut MOS, Neji-nii dan Tenten-nee juga yang menjadi OSIS utamanya. Kemarin, ada yang melakukan kesalahan dan Neji-nii dan Tenten-nee menghukumnya dengan sadis. Dengar-dengar, bahkan ada yang sampai masuk ruang ICU gara-garanya. Aku tidak mau hal itu terjadi padamu. Kemarin, aku di hukum karena aku lupa memotong rambutku yang panjang. Namun, karena aku dan Neji-nii masih satu keluarga, hukumanku ringan. Hukumanku saja harus meminum jus yang gila. Aku bahkan diare satu minggu karenanya. Itu masih ringan." katanya seraya menggenggam kedua belah tanganku. Menatapku dengan tatapan simpati.

" Kau tenang saja. Aku bisa menjaga diriku." kataku seraya menepuk pucuk kepalanya dengan pelan. Matanya masih menatapku dengan tatapan sayu dan sendu.

" Setidaknya, kalau kau tidak ingin mengenakan aksesoris semacam mereka, kau bawa barang yang ada di list. Dengan begitu, hukumanmu mungkin bisa di kurangi." kata Hinata lirih. Namun, telingaku masih bisa mengangkap suaranya.

" Kau sudah tahu bagaimana aku, bukan? Aku tidak akan pernah bisa berubah." kataku tak kalah lirih. Namun, Hinata hanya menggeleng. Membuat rambutnya bergoyang-goyang.

" Setiap manusia pasti akan berubah. Kau juga begitu. Mungkin, belum saatnya kau berubah. Bukan aku yang akan merubahmu atau yang lain. Tapi, aku yakin jikalau suatu saat akan ada seseorang yang mampu membuatmu berubah." kata Hinata seraya menatapku dengan tatapan serius. Aku hanya menghela nafas mendengarnya. Mungkinkah aku bisa berubah, Hinata? Aku yang sekarang ini sudah sangat berbeda dengan diriku yang lalu. Masih ada kesempatankah untukku di dunia ini? Setidaknya, di Konoha High School ini.

" Ah, ya. Ayo! MOS akan segera di mulai." kata Hinata seraya menarik tanganku. Seketika, aku tersadar dari lamunanku. Tatapanku yang semula menatap langit, kini lurus ke depan. Melihat di mana semua murid baru berbondong-bondong masuk ke dalam halaman sekolah. Dengan segala aksesoris mereka yang menurutku sangat gila. Aku jelas minoritas untuk MOS tahun ini. Tatkala murid lain mengenakan apa yang di perintahkan senior kami di sini, aku justru mengenakan pakaian yang sangat melenceng dan jauh dari kata 'patuh' terhadap senior. Aku sadar jikalau..., pertempuran akan di mulai!

~ Love and Revenge! ~

Di dalam list yang di berikan oleh Ino, terdapat dua aturan yang berlaku selama MOS di Konoha High School berlangsung. Dua aturan yang sebenarnya mengandung arti sama, namun dengan manjanya di jabarkan menjadi dua aturan yang sama. Sama-sama mengandung keegoisan dari para senior.

Aturan MOS di Konoha High School

Pertama, senior selalu benar dan menang. Kedua, jikalau senior melakukan kesalahan, maka kembalilah ke aturan pertama. Aturan mutlak!

Kedua aturan ini jelas mengandung unsur pemaksaan serta sombongnya para senior. Egoisme terkadung di dalamnya. Fitrah manusia yang tak luput dari kesalahan, seolah hilang sesaat dengan dua aturan diatas. Walau bagaimanapun manusia, setinggi apapun jabatannya, pasti tak luput dari salah dan khilaf. Namun, kenyataan yang melenceng jauh dari fitrah ini menjadi bahan ancaman para senior guna memastikan jikalau tak satupun para murid baru yang berani menentang mereka. Jelas, mengandung unsur egois yang tinggi.

Sesama manusia seharusnya saling menasehati dan memberikan manfaat, bukan sebaliknya. Seolah-olah murid baru adalah slave bagi para master. Listen up, tidak ada yang namanya manusia lebih rendah kedudukannya di antara manusia yang lainnya. Bagaimanapun dia, tetaplah ia memiliki hak untuk di sayangi, kasihi, dan di cintai apa adanya. Ini justru melekat di dalam kepalaku sedari ku kecil. Tatkala anak seusiaku dulu terbuai dengan dongeng menghanyutkan Putri Salju atau Cinderella, aku justru membuat perbandingan tentang kehidupan nyata. Memberikan warna baru dalam pemikiranku. Sekasar dan sebengis apapun aku, tetaplah aku memiliki hati yang murni dari segala bentuk penindasan.

Aku berdiri di barisan paling belakang di lokal 1. Di lokal 1, tempat dimana aku di tempatkan untuk mendapat materi selama MOS dan seterusnya, terdapat sepuluh perempuan termasuk aku dan sepuluh laki-laki. Jangan bertanya. Sudah tentu tak ada yang ku kenal. Aku juga tidak memiliki niat untuk berkenalan. Beruntungnya, Ino satu lokal denganku sehingga setidaknya aku memiliki teman untuk berbincang.

Ku lihat, seorang pemuda dengan rambut panjang menawan, mata lavender, serta tatapan tajam berjalan mengawasi anggota dari lokal 1 seraya memperhatikan setiap anggotanya dari atas sampai bawah, memastikan kalau semuanya berjalan lancar. Mataku yang tajam dapat melihat dengan jelas tanda pengenalnya yang berkilau sesaat di terpa sinar matahari. Hyuuga Neji. Inikah orang yang di bicarakan oleh Hinata? Sekejam apa dia? Cih, jangan pikir kalau aku takut.

Dengan langkah yang tegap, ia berjalan mengawasi anggota lokal 1. Hingga, yang tersisa hanyalah aku. Dengan langkah perlahan, ia berhenti tepat di sampingku. Matanya dengan tajam memperhatikanku dari atas hingga bawah. Seolah, berpikir siapa aku? Dahinya mengerut kencang. Rambutnya yang panjang terurai lembut di punggungnya. Sejenak, aku mengenakan wajahku yang dingin dan datar. Aku sama sekali tidak menoleh ke arahnya apalagi menatapnya. Tatapanku dengan lurus menghadap ke depan.

" Siapa namamu?" tanyanya secara tiba-tiba dengan nada tak senang. Aku tak menyambut pertanyaannya dengan apapun. Baik suara ataupun anggukan. Bahkan aku tak bergerak sedikitpun. Membiarkan emosinya naik perlahan-lahan. Neji masih menatapku dengan tatapan yang menyalak.

" Siapa namamu?" ulangnya. Namun, aku tetap pada pendirianku. Diam.

" Namanya Ha..."

" Diam, Pig. Aku bertanya padanya, bukan kepadamu!" bentak Neji kepada Ino yang berusaha memberitahukan namaku. Membuat Ino yang berada di depanku seketika kecut dan menunduk ketakutan. Ada apa dengan anak ini? Di bentak sedikit saja masak langsung takut? Memalukan! Di saat anggota lokal 1 mengenakan nama samaran hewan di depan dadanya dan nama asli di belakangnya dengan menggunakan kardus bekas, aku justru membawa sebuah tas pesta Chanel langka saat ini. Anehnya, kenapa Ino memilih babi sebagai nama samarannya? Ah, lupakan saja.

" Haruno Sakura." kataku akhirnya menjawab pertanyaan dari Neji. Membuatnya menoleh ke arahku dengan tatapan sedikit marah dan tajam luar biasa. Namun, aku tak takut sama sekali. Justru aku mencoba melawan tatapan matanya. Matanya yang tajam menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

" Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian seperti itu? Kau tidak mendengar pendisiplinan selama MOS di sini, hah?" bentak Neji seraya menunjuk wajahku. Dengan sedikit ku angkat wajahku, ku tatap matanya.

" Lalu, apa kau mau aku seperti mereka? Mengenakan pakaian seperti orang gila? Bermimpilah!" kataku seraya menunjuk wajahnya. Bagiku sekarang tak ada lagi kata senior atau junior. Yang ada hanyalah lawan. Neji jelas lawanku sekarang. Kata lawan semakin berkibar di antara kami tatkala sebuah tamparan mendarat di pipiku. Sakit, namun aku tak bereaksi apa-apa. Dengan sebuah suara bisikan kemarahan, ku alihkan wajahku menatap wajahnya.

" Kurang ajar kau! Berani sekali kau! Kau pikir kau itu siapa, hah?" kata Neji seraya menatapku dengan tatapan kemarahan. Emosi mengkilat di kedua belah mata lavender pucatnya. Dengan segera, ku layangkan sebuah tamparan ke pipinya. Terlihat, ia terkejut, lantas menahan ringisan di wajahnya. Berani sekali kau macam-macam denganku, Hyuuga Neji!

" Aku masuk ke sekolah ini bukan sebagai objek untuk memuaskan egomu, Hyuuga. Aku masuk ke sekolah ini untuk belajar. Dengan masuknya aku ke sekolah ini, aku berarti akan patuh terhadap aturan sekolah ini. Bukan kepada kalian para senior gila dan tak berguna. Camkan itu!" kataku seraya menunjuk wajahnya. Terlihat wajahnya merah padam akibat hal yang ku lakukan.

" BERANI SEKALI KAU! Kau harus menerima hukuman. IKUT AKU KE DEPAN!" bentaknya seraya menyeretku ke hadapan ratusan murid baru. Jelas, saat ini aku dan Hyuuga Neji di tonton oleh murid-murid yang berada di sekitar kami. Bisik-bisik terdengar seperti lebah yang mendengung di telinga. Tak hanya murid baru yang terkejut dengan sikapku, para senior juga demikian.

Posisiku sekarang berada di hadapan ratusan murid baru. Semua mata seakan tertuju pada satu titik. Seorang murid perempuan modis yang melanggar 'aturan' MOS, dengan sangat berani melawan sang senior utama tahun ini. Cih, aku hanya mendencih kesal. Namun, aku tetap memasang wajah dinginku ke arah murid-murid yang ada di hadapanku sekarang.

" Ada apa ini, Neji?" tanya seorang gadis bercepol dua seraya mendekat ke arah Neji. Dari tanda pengenalnya dapat ku lihat sebuah nama, Tenten. Jadi, ini dua sejoli yang di kabarkan sangat sadis itu. Aku jadi ingin tahu, seberapa sadisnya mereka?

" Kau lihat! Bagaimana gadis ini berpakaian seperti itu saat akan ikut MOS. Gila sekali, bukan? Belum lagi dia melawanku tadi. Apa dia benar-benar niat bersekolah di sini?" kata Neji sinis seraya menunjuk arahku. Iris Tenten yang berwarna cokelat menatapku dengan tak senang.

" Hei, apa kau tidak mendengar instruksi kami semalam? Atau kau memang tidak tahu?" kata Tenten seraya menatapku dari samping. Dengan wajahku yang datar, ku hadapkan wajahku ke hadapan wajah Tenten yang sekarang terlihat sedikit bersabar.

" Aku tahu." kataku dingin seraya mendekatkan sedikit wajahku ke wajahnya.

" Lalu, kenapa kau mengenakan pakaian seperti itu?" kata Tenten seraya menunjuk pakaian yang ku kenakan.

" Karena aku bukanlah orang bodoh yang bisa di perintah sesuka hatimu. Aku masuk ke sekolah ini bukan karena kalian. Melainkan usahaku sendiri dan rekomendasi kepala sekolahku. Aku masuk sekolah ini, otomatis aku hanya akan tunduk kepada aturan sekolah ini, bukan dengan kalian." kataku sinis seraya menyunggingkan senyum mengejek.

" Heh! Kau pikir aturan sekolah saat ini bisa melindungimu?" kata Tenten seraya tersenyum licik ke arahku seraya mengejek.

" Sampai saat ini, aku melindungi diriku sendiri." kataku seraya menghela nafas berat. Ku lihat wajah senior yang berada di belakang Tenten tampak merah padam. Emosi mereka mengkilat di antara kedua belah mata mereka. Sedang, Tenten hanya menatapku seraya tersenyum sinis.

" Kita lihat seberapa baik kau melindungi dirimu sendiri. Shion! Bawakan mereka minumannya!" kata Tenten menatapku lantas memalingkan tatapannya ke belakang. Menatap seorang gadis cantik dengan rambut pirang. Gadis tersebut hanya mengangguk seraya maju ke depan. Di belakangnya terdapat empat orang gadis yang membawa minuman yang sama. Berwarna hijau kekuningan. Dapat ku cium baunya yang menyengat. Bau busuk. Hampir sama seperti telur busuk. Ku lirik di sebelahku. Terdapat satu orang perempuan dan dua orang laki-laki yang bernasib sama denganku. Dapat ku tangkap ekspresi mereka sangat ketakutan. Pucat menyelimuti wajah mereka. Lain halnya denganku. Catat sekali lagi, aku tidak pernah takut dengan mereka semua!

Empat gadis yang membawa minuman di belakang Shion menyebar. Satu orang mendapat satu minuman. Di hadapanku sekarang juga tersaji minuman busuk tersebut, sama halnya dengan tiga orang di sampingku. Kami semua tak menyentuh minuman tersebut. Tiga orang di sampingku hanya menunduk. Lain halnya denganku, aku lurus menatap ke depan. Menatap tajam wajah Tenten. Hingga, terdengar instruksi dari Tenten.

" Kalian akan mendapat hukuman ringan karena baru pertama kali. Lain kali, jika kalian melakukan kesalahan yang sama, ku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup." kata Tenten seraya menatap kami semua satu persatu. Kami semua hanya diam. Jangan berpikir aku diam karena aku takut! Justru sebaliknya!

" Minum!" kata Tenten seraya memberi perintah tegas. Ku lirik sebelahku. Ku lihat mereka bertiga yang terkena hukuman menyambut gelas dengan ragu dan mulai meminumnya. Dapat ku lihat ekspresi mereka seperti hendak muntah. Di lihat dari warna dan baunya, dapat ku pastikan minuman ini terdapat campuran alpukat busuk, telur busuk, akar merah, dan kacang hijau yang sudah tak bagus lagi. Akar merah dan kacang hijau yang kutahu dapat menyebabkan kemandulan jika terus-menerus di minum. Aku hanya diam seraya menatap gelas yang ada di hadapanku. Hingga tiga orang di sebelahku selesai minum, aku sama sekali tak menyentuh minuman yang tersaji di hadapanku. Melihatku, Tenten mungkin merasa sedikit gusar.

" Apalagi yang kau tunggu. Minum!" katanya seraya membentakku. Aku hanya menatap wajahnya sedikit seraya menghela nafas pelan.

" Sekarang!" bentaknya lagi seraya menunjuk gelas yang ada di hadapanku. Dapat ku lihat di antara senior di belakang Tenten, Hinata memandangku dengan tatapan sedikit takut sekaligus khawatir. Dengan perlahan, ku pegang gelas tersebut seraya mengangkatnya dari nampan. Perlahan, ku dekatkan bibir gelas ke bibirku. Dapat ku lihat ekspresi Tenten menjadi senang sekaligus tersenyum licik. Namun, sebelum minuman tersebut menyentuh bibirku, ku jauhkan gelas tersebut dan ku tumpahkan semua isinya. Membuat Tenten seketika marah.

" Apa yang kau lakukan, hah?" bentaknya seraya menatap minuman yang tercecer sia-sia di dekat kakinya. Mengeluarkan aroma busuk yang menyengat.

" Mencampurkan akar merah dan kacang hijau kedalam minuman ini, heh? Kau pikir aku tidak tahu? Dua bahan tersebut dapat menyebabkan kemandulan. Selain itu, untuk apa aku meminumnya? Aku tidak akan patuh terhadapmu. Aku hanya patuh terhadap aturan sekolah ini. Camkan itu!" kataku seraya menunjuk wajahnya. Dapat ku dengar di belakangku suara ratusan murid seakan-akan seperti dengungan lebah melihat aksiku. Ku lihat, wajah Tenten seketika merah padam dan menjadi ke seringai licik.

" Begitu? Kalau begitu bacakan aturan sekolah ini! Kalau ada satu saja yang salah, aku pastikan kalau kau akan mendapat hukuman yang membuatmu tak lagi bisa berjalan besok." kata Tenten seraya tersenyum licik.

Aku hanya menghela nafas sebelum mulai membacakan aturan sekolah ini. Lihat saja Tenten, siapa yang akan tertawa setelah ini?

" Semua murid harus berperilaku sopan. Dua hal yang harus di miliki murid Konoha High School, ketenangan dan keikhlasan. Tenang dalam menjalankan aturan dan ikhlas menerima konsekuensinya. Harus berpakaian rapi dari hari Senin hingga Jum'at. Di larang mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan aturan sekolah. Menjaga kebersihan sekolah dan diri. Tak boleh berbicara saat guru menjelaskan. Saat..." ucapanku terputus.

" CUKUP! Kau mau pamer?" kata Tenten seraya menahan merah padam di wajahnya. Aku hanya tersenyum sinis.

" Karena kau sangat tahu dengan aturan sekolah, maka kau harus di hukum karena melanggar salah satunya. Tenang dan ikhlas. Salin aturan sekolah di perpustakaan sebanyak 50 salinan. Selama kau belum selesai, kau tidak di izinkan keluar dari perpustakaan. Tidak ada makanan atau minuman sampai kau selesai." katanya seraya tersenyum sinis kepadaku. Seketika aku membelalakkan mataku. Tenten, kau sekarang benar-benar mengobarkan perang denganku!

~ Love and Revenge! ~

Aku sekarang duduk di sebuah kursi perpustakaan. Tidak ada siapapun selain aku dan Hinata di dalam sini. Di hadapanku terdapat tinta, kuas, dan banyak sekali buku tebal. Semua ini ku perlukan untuk menyalin aturan sekolah ini sebanyak 50 salinan. Dengan perlahan, Hinata mendekat dan menyentuh bahuku pelan.

" Menyalin aturan sekolah sudah menjadi hukuman yang biasa selama MOS di sini. Namun, ini baru pertama kali tidak boleh makan atau minum selama hukuman berlangsung." kata Hinata dengan suara bergetar. Dengan perlahan, ku hadapkan wajahku ke wajahnya.

" Jangan khawatirkan aku. Kau harus pergi. Pergilah." kataku seraya menatap matanya. Hinata hanya mendesah seraya berjalan keluar dari perpustakaan. Meninggalkanku seorang diri untuk menjalani hukuman ini. Aku hanya menatap tajam semua barang yang ada di hadapanku seraya mendesis tajam.

" Aku takkan mengaku kalah. Hyuuga Neji, Tenten, aku takkan mengaku kalah terhadap kalian." kataku seraya mulai menulis salinan aturan sekolah ini. Waktu terus berjalan menemaniku. Satu buku, dua buku, lima buku, hingga tujuh buku sudah habis ku tulis dengan salinan aturan sekolah. Hingga malam menyambutku. Menyambutku dengan segala warna kelam yang ada. Memberikan semangat agar aku cepat selesai. Pegal menyerang tanganku. Sakit. Namun, aku harus bertahan. Aku takkan kalah. Camkan itu! Hingga larut malam, aku berhasil menuliskan 50 salinan dengan jumlah buku 30 buah. Buku-buku setebal novel tersebut penuh dengan tulisanku. Tulisan aturan sekolah ini. Heh, aku takkan kalah. Saatnya keluar dari sini. Dengan langkah terhuyung, aku berjalan dan berusaha membuka pintu perpustakaan. Tepat, saat aku akan melangkah keluar, aku merasa seperti kehilangan kendali. Semuanya menjadi gelap. Yang ku rasakan hanyalah seseorang menahan tubuhku. Untuk terakhir kalinya.

~ Love and Revenge! ~

~ Sasuke POV ~

" Yoo, Teme. Aku pergi dulu." kata Naruto seraya berjalan menjauhiku. Aku hanya mendengus kesal. Kenapa aku harus di libatkan tugas seperti ini? Naruto sialan! Memang dobe dia itu! Apa dia tahu yang mana malam yang mana siang?

Aku mendapat tugas dari Neji untuk bergilir dengan Naruto menjaga seseorang di perpustakaan ini. Sampai dia berhasil menyalin aturan sekolah sebanyak lima puluh salinan, dia tak boleh keluar. Cih, sialan! Ini berarti aku harus menjaga perpustakaan ini selama dia belum keluar. Sialnya, aku mendapat bagian di malam hari untuk menjaga entah siapa itu. Kejam sekali Neji dan Tenten itu. Masak aku harus kena imbasnya sih? Yang benar saja?

Malam semakin larut. Tidak ada tanda-tanda bahwa yang menjalani hukuman di dalam perpustakaan ini akan segera keluar. Aku sendiri mulai merasa mengantuk. Beberapa kali aku harus menggetok kepalaku sendiri agar kesadaranku kembali. Tepat, saat aku akan tertidur untuk kesekian kalinya, ku dengar suara pintu di buka. Ku lihat, seorang gadis keluar dari perpustakaan. Seorang perempuan rupanya. Aku hampir-hampir bernafas lega. Namun, dia seperti akan ambruk. Dengan segera, ku tangkap tubuhnya agar tak terjatuh mengenai lantai. Ku lihat dalam remang seorang gadis cantik dengan rambut pink berada di dalam dekapanku. Ah, bukankah dia...? Tidak mungkin! Tapi, dia benar-benar mirip dengan gadis itu. Gadis yang kemarin menabrakku dan mengalahkanku dalam hal French Kiss. Cih, memalukan! Gadis yang baru pertama kali ku sentuh dan ku berikan sebuah kissmark. Apa benar ini dia? Wanginya juga sama dengan gadis waktu itu. Ah..., pikiranku kalut.

Ku tengok kanan-kiri. Setelah memastikan semuanya aman, ku bawa masuk gadis tersebut ke dalam perpustakaan kembali. Ku kunci pintu perpustakaan rapat-rapat. Dalam cahaya terang dapat ku lihat dengan jelas wajah gadis tersebut. Aku terkesiap. Benar-benar mirip dengan gadis yang menciumku kemarin. Ku periksa lehernya. Sungguh aku terkejut. Sebuah kissmark tersemat di lehernya yang putih. Aku menelan ludahku berat. Ini benar-benar dia. Aku yakin sekali. Aku tak mungkin salah orang.

Keringat membasahi tubuhnya, membuat tubuhnya terekspos jelas di hadapanku. Apalagi kaus yang di kenakannya benar-benar tipis dan semakin tipis akibat keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, membuat lekuk setiap inchi tubuhnya terlihat. Tiba-tiba, aku merasa gerah. Sebuah seringai ku yakin muncul di wajahku saat ini.

Dengan perlahan, ku lepaskan kaos yang ku kenakan. Membiarkan suhu tubuhku yang memanas saat ini bisa bebas. Ku peluk gadis tersebut ke dalam pelukanku. Ku hirup baunya yang wangi dari jenjang lehernya seraya ku cium dan ku sapu lehernya dengan lidahku dengan lembut. Tanganku bergerak menyusuri bentuk tubuhnya yang indah dan menawan di mataku. Ku sandarkan kepalanya di dada bidangku. Ku tatap wajahnya lama. Hingga, dengan perlahan, ku berikan sebuah ciuman yang panas di bibirnya. Ku lumat bibir mungil tersebut dengan ganas.

" Kau akan menjadi milikku malam ini." desisku seraya tersenyum. Ku tatap gadis yang ada di pelukanku dengan seringaiku yang mesum. Tanganku bergerak menyusuri bentuk tubuhnya perlahan, seiring dengan larutnya malam.

~ TBC ~

Gomen sebelumnya kalau Chap 2 ini mengecewakan. Bagaimana chap 2 ini? Sebenarnya, penulisan fanfic ini sempat tertunda kemarin. Karena, aku sempat holiday ke Sydney sama New Zealand kemarin. Namun, aku sudah ada di Indonesia sekarang. Oh ya, aku mau ngasih tahu kalau aku akan hiatus dari FFn selama dua bulan ke depan. Banyak pekerjaan yang harus ku urus, dan tidak mungkin bisa di tinggalkan. Jadi, aku nggak akan update dulu selama dua bulan.

Sebenarnya sih, aku sudah selesai bekerja pas tengah Mei. Namun, rencananya aku mau holiday ke Paris, Swiss, atau Austria dari tengah sampai akhir Mei. And, awal Juni balik ke Indonesia. Itu rencananya doang. Jadi, jangan kecewa ya kalau aku nggak update selama dua bulan ke depan.

Aku agak mepet menulis chap ini karena besok sudah harus bekerja. Jadi, gomen kalau kurang memuaskan. Tapi, aku yang puas. Aku menuliskan chap ini dalam keadaan kekenyangan. Banyak sekali kiriman oleh-oleh khas berbagai negara datang. Mulai dari oleh-oleh Paris, Sydney, Czech, Vienna, sama Italia. Haha... Maaf, aku nggak bisa balas review satu-satu saat ini. Tapi, aku sudah baca semua reviewnya dan aku sangat senang banyak yang suka.

Okey, one again. Menurut kalian, lanjutkan or delete saja fic ini? Kalau menurut kalian lanjut, bulan Juni nanti aku akan lanjut. Kalau menurut kalian delete saja, ya nanti aku akan delete! Bagaimana? Tuliskan pendapat kalian di review!

So, see you in the next chapter...

REVIEW PLEASE *^*