BEFORE WE BECAME YOTSU NAITO

CHAPTER 1: Nadeshiko Karasuma

--- In someplace... ---

"Fantastik! Luar biasa, miss Nadeshiko!!" puji para penonton.

"Merveilleux!" puji seorang penonton asal Perancis.

"Kono Yamato Nadeshiko wa hontou ni ii no kawaii kao ne..." puji seorang penonton lain.

Panggung gemerlapan, suara musik bersahutan, tarian seorang Yamato Nadeshiko bergerak dengan luwes, ditemani para penari latar yang berada di belakangnya, mengikuti alur lagu enka, lagu balada Jepang yang terdengar sepenjuru sebuah gedung kesenian.

Saat lagu enka berakhir, Nadeshiko membungkukkan kipas yang dipegangnya sebagai tanda pemberian hormat.

Tepuk tangan terdengar di sepenjuru kursi penonton, membuat gadis berambut hijau muda itu tersenyum manis. Oh, tidak, dia bukan seorang gadis. Dia adalah seorang laki-laki. Karena pekerjaannya adalah seorang Yamato Nadeshiko, dia harus bisa bertingkah menjadi perempuan yang sesungguhnya—meski tak bisa menyempurnai gerakannya yang selembut perempuan asli.

"Meskipun kau seorang Yamato Nadeshiko, kau sudah seperti wanita sesungguhnya saja!" puji sesosok ibu-ibu—atau ibu Nadeshiko sendiri.

"Iya, ibunda. Nadeshiko akan berusaha sebaik-baiknya." jawab Nadeshiko dengan tutur kata yang mencerminkan seorang gadis.

"Ah... Kau benar-benar mencerminkan gadis yang sesungguhnya, Nadeshiko. Pertahankan apa yang sudha kau buat selama ini." puji ibunya sambil menepuk pundak Nadeshiko, membuat Nadeshiko tersenyum sedikit. "Malam ini kau tak ada acara panggung, jadi kau boleh istirahat semalaman ini."

Nadeshiko berjalan sendirian melewati kegelapan malam di kota, sambil tetap mengenakan pakaian kimono hijau dengan jahitan aksen bunga-bunga lili berwarna-warni favoritnya. Dia melangkah mengenakan geta, sendal khas Jepang, mengeluarkan bunyi khas yang membuatnya terlihat seperti seorang gadis Jepang yang sesungguhnya. Banyak orang yang lalu-lalang melihatnya dan mengira dia sebagai gadis.

"Aku bukan banci..." bisik Nadeshiko pelan sambil meneguk teh buatannya sendiri. "Meski aku Yamato Nadeshiko, aku bukan banci..."

Suara itu hanya terdengar oleh Nadeshiko sendiri.

Di meja makan, di rumahnya. Dia hanya sendirian. Ibunya masih ada kegiatan—menjadi pengatur acara drama. Ayahnya juga—sebagai Yamato Nadeshiko juga, sama seperti dirinya sendiri.

"Haah..." Nadeshiko mengehela napas. Aku ini laki-laki, tapi aku harus bertingkah seperti perempuan. Apakah aku bisa bebas dari kekangan aliran Yamato Nadeshiko ini? Apakah aku bisa menjadi seorang laki-laki sesungguhnya, yang bisa melindungi gadis-gadis yang disayanginya, seperti yang ada di drama-drama legenda Jepang dulu? Apakah aku bisa?

/Halo/

"Hah?" Nadeshiko tersadar dari lamunannya. "Siapa itu?"

/Aku adalah Ratu Leafe, namaku Sara/

Nadeshiko terdiam dengan tutur kata kalimat itu. Suaranya lembut sekali, membuat gadis itu terpana dan ingin sekali memiliki suara selembut itu untuk menjadi perempuan. Ups—Maksudnya di saat sedang drama saja, hehehe.

/Kau ingin menjadi seseorang yang mampu melindungi kan?/

Nadeshiko terkejut. Sejak kapan dia tahu?!

/Suara hatimulah yang membuatku tahu. Kau adalah Nadeshiko Karasuma, seorang Yamato Nadeshiko, yang selalu dilatih untuk menjadi seorang gadis. Nama aslimu Negihiko Karasuma, dan kau selalu tak bisa seperti anak-anak biasa. Kau selalu bermain menjadi perempuan, perempuan. Wajar saja banyak orang berpikir kau wadam/

"Wadam, apa itu?" tanya Nadeshiko.

/Wadam itu Wanita Adam. Sebenarnya laki-laki, tapi bertingkah seperti perempuan/

GUBRAK!

Seketika Nadeshiko langsung pasrah mendengarkan suara lembut namun tepat menusuk hatinya. Oke, oke, dia mengerti memang banyak orang yang mengira kalau dia banci setelah tahu kalau dia adalah laki-laki, dan bukan perempuan.

/Tapi aku mengerti perasaanmu. Nah, cobalah buka beranda rumahmu/

Nadeshiko menurutinya dan membuka beranda rumahnya. Di halaman rumah Nadeshiko, ada pohon sakura yang masih bermekaran bunga-bunganya, menyebabkan aroma sakura tercium di sepenjuru halaman rumah Nadeshiko.

/Coba dekati pohon sakura itu, dan sentuhlah pohonnya dengan kedua tanganmu./

Nadeshiko menurut lagi. Dia langsung mendekati satu-satunya pohon sakura yang ada di halaman rumahnya, lalu menyentuhnya.

/Nadeshiko, sebelum kau bisa melindungi seseorang, ada saat dimana kau harus kehilangan seseorang. Kau harus menerima itu apa pun resikonya. Segala yang harus kau pilih ada resikonya. Sekarang pejamkan matamu./

Nadeshiko menutup kedua matanya.

/Jangan takut dan janganlah bimbang. Kau tak sendirian menjadi seseorang yang mampu melindungimu. Ada 3 orang yang akan selalu disampingmu sebagai orang yang memilih takdir yang sama denganmu./

Nadeshiko masih terus bingung dengan perkataan lembut itu.

"Boleh... Nadeshiko membuka mata?"

/Silahkan/

Nadeshiko membuka matanya. Dia terbelalak kaget. Sekarang kimono kesayangannya berubah menjadi pakaian berwarna hijau muda dengan jubah transparan.

/Kau adalah Nadeshiko Karasuma, Yotsu Naito berelemen Ilusi. Kau akan menjadi pelindung bagi para Yotsu Naito yang lain/

--

Chapter 2 selesai! Kyaaa! Review yah!!