Rae Hee POV

"Kamu!" teriakku lalu melepaskan genggamannya dengan kasar. Jreg! Aku menginjak salah satu kakinya. Jelas saja dia kesakitan.

"Aissshhh…!" ia mengaduh dan meloncat ke sana kemari sambil memegangi kakinya.

Kalian mau tahu siapa namja ini? Kuberi tahu, ya. Namja inilah yang bernama JUNG… JIN… YOUNG! Namja yang MENYEBALKAN! Atau haruskah kupanggil dia…. JUNG MENYEBALKAN?

"Kenapa kamu ini " ucapku. Sebentar, aku kehabisan nafas.

"Kenapa kamu melakukan itu padaku?" tanya Jinyoung dan aku bersamaan.

"Kenapa apa maksudmu? Kamu mengacaukan rencanaku untuk pulang!" seruku di hadapannya.

"Mwo?! Bukannya kamu yang mengacau rencanaku untuk pulang?!" balasnya tak kalah nyaring.

"Apa...?! Aku sedang beristirahat sejenak lalu kamu memanggilku. Siapa yang mengacaukan, hah?!"

Kami terlibat perang mulut. Tak terasa kalau kami menjadi pusat perhatian orang yang lalu-lalang. Bahkan, saking hebatnya pertengkaran kami, kami saling mengejek seperti: "Kau tukang ngorok!", "Kamu jarang mandi", "Kakimu berbau seperti celana olahraga" dsb.

Aku berhenti sebentar karena kehabisan nafas. Aku hanya bisa terduduk kesal. Aku sudah kehabisan kata-kata.

Akhirnya, di saat semua terdiam, Aku berusaha mengakhiri perang mulut ini dengan berkata: "Kupikir, aku bisa berteman baik denganmu. Tapi, kita memang nggak bisa dekat,"

Jinyoung terdiam sebentar. Tiba-tiba dia menyahut. "Mianhaeyo. Baiklah, ini memang salahku. Aku sengaja mencarimu untuk mengantarmu pulang. Aku lihat ramalan cuaca, sore ini sudah mulai turun salju," kata Jinyoung lembut.

Hoh? Ini Jinyoung atau siapa? Aku tak pernah mendengar suara selembut ini dari seorang namja bahkan dari Appa sekalipun. Apalagi Jinyoung, yang selalu kasar padaku. Tapi tadi turun salju katanya? Wah, bagaimana aku pulang? Aku saja ke sini dengan bus.

"Kamu serius mau mengantarku pulang?" tanyaku sambil berdiri.

"Ya, setelah aku dinner."

"Baiklah. Aku berserah diri kepadamu!" jawabku akhirnya. Aku mengira-ngira apa jawaban dari Jung Menyebalkan ini.

"Ya. Begitu dong, anjing kecilku…," katanya sambil menarik tanganku lagi.

Kutepis tangannya. "Tapi, aku tidak mau ada tarik-tarikan, lari-larian sama teriak-teriakan lagi!" ucapku tegas. Selembut-lembutnya Jinyoung, tapi tetap saja dia namja yang sembarangan.

Kami berjalan beriringan. Jinyoung mengajakku berkeliling dulu sebelum pulang. Dia bilang, Dia mau makan di rumah saja.

Rumah? Iya. Aku tidak tahu namja ini tinggal bersama siapa. Mungkin ada istri atau kakak perempuannya?

Eh, tapi aku belum tahu kalau orang ini punya istri. Lalu kalau dia sudah beristri kenapa dia berani mengajak anak gadis orang jalan-jalan di mal? Apalagi gadis itu adalah atasannya. Selain itu, Hyu Ri bilang Jinyoung anak tunggal. Kalau dia tinggal sendiri bagaimana dia makan? Delivery? Every day?

Aku mendongakkan kepalaku. Eh? Eh? Dimana Jung Menyebalkan? Sekitar semenit yang lalu kan dia masih di depanku. Aku celingukan mencarinya. Aku hampir menangis ketika ada seseorang menarik kerah bajuku dari belakang.

"Hei, kamu nyasar ke mana saja, hah?" gertak orang itu dengan wajahnya yang menyeramkan.

"Hiii… Jung Menyebalkan! Eh, salah, maksudku Jinyoung!" ucapku sambil memasang muka Suneo-nya Doraemon.

"Tadi, kan, aku sudah bilang, ikuti saja ke mana aku pergi! Selain itu, apa itu? Jung Menyebalkan?!" kata Jinyoung sambil melipat tangannya didada.

"Mianhae, salah nama," jawabku sambil menunduk.

"NO WAY!" teriak Jinyoung menirukan isi emailku. "Ayo, kita pulang. Nanti saljunya makin tebal!" serunya sambil menarik tanganku. Dia melanggar perjanjiannya!

Seperti tahu apa yang ada dalam pikiranku, dia jawab "Supaya tidak terpisah," dengan entengnya.

Kami lari menuju parkiran di lantai empat. Orang ini suka sekali berlari seperti ada tsunami. Uwah, Jung Menye Jinyoung ternyata membawa mobil. Apa lagi ini keluaran terbaru. Dia pasti seorang pegawai yang sukses.

Aku ternganga. Ternyata boleh juga namja ini.

"Wah, di mana aku menaruh kuncinya, ya?" kata Jinyoung meraba-raba sakunya.

Sementara itu, aku sibuk memperhatikannya dari atas sampai bawah. Jinyoung begitu cocok dengan apa yang dipakainya. Seragam Haesbich, bajunya sekarang yang ini... sangat pas dengan rambut cokelatnya yang sudah mulai panjang.

"Ah, ketemu!" seru Jinyoung sambil mengangkat tinggi-tinggi benda yang dikenal dengan kunci itu. Dia terdiam saat tahu aku memperhatikannya. "Wae?" tanyanya di tengah keheningan.

"HUACHIII!" aku menjawab pertanyaannya dengan bersin! Aku merasa kedinginan. Salju pasti sudah mulai turun.

Salju pertama di bulan November. Ah, sepertinya aku salah pakai baju. Mana aku tidak bawa jaket, lagi. Kupikir salju akan datang minggu depan.

"Rae Hee…? Kamu kenapa? Kedinginan, ya? Ini, pakai jaketku!" katanya bertubi-tubi sambil melepaskan jaketnya. Dia memakaikannya di punggungku.

"Eh? Gomawo. Nanti kucucikan dan kukembalikan besok, deh!" aku merapatkan jaket tebal Jinyoung. Aroma maskulin khas Jinyoung segera menyapa hidungku.

"Ah... Tidak perlu! Ayo berangkat...!" jawab Jinyoung sembari membukakan pintu mobil. Aku memperhatikannya yang sedang menyetir di sebelahku. Aku agak gugup kali ini. Mungkin karena ini pertama kalinya aku melihat Jinyoung memakai baju selain seragam Haesbich. Berkali-kali aku menelan air liurku.

Suasana sangat sepi dan canggung. Aku takut mengajaknya bicara karena mungkin dia benar-benar konsentrasi memperhatikan jalanan yang agak padat. Ditambah lagi salju turun.

"Cuacanya dingin, ya," kata Jinyoung memulai topik pembicaraan.

"I…iya. Tapi aku cukup hangat di dalam jaketmu," jawabku sambil menatap keluar.

Suasana jadi lengang lagi. Tiba-tiba….

'GRUUKKGRUUKK…!'

Aku menoleh ke arah Jinyoung. "Ba…barusan perutmu bunyi, ya?" tanyaku sambil tersenyum-senyum.

"Yah…."

"Apa kamu lapar?" tanyaku lagi.

"Iya, tenang saja, setelah mengantarmu aku mau makan,"

Aku memandang wajahnya lama. "Rumah kamu di mana?" tanyaku antusias.

"Kenapa tanya-tanya seperti itu?" jawab Jinyoung cuek.

"Nggak kenapa-kenapa. Lagian nggak ada salahnya, kan?" kataku dengan nada mulai tinggi.

"Salah. Sangat salah!" jawab Jinyoung dengan nada yang lebih tinggi lagi.

Aku menjadi emosi. "Oke. Kalau kamu tidak mau bilang, Aku akan ikut kerumahmu!" teriakku.

"Apaan sih, kamu? Berisik!" bentak Jinyoung sambil memasang sepasang penutup kuping yang entah darimana datangnya.

"Aku enggak mau tahu. AKU IKUT KE MANA PUN KAMU PERGI!" bentakku.

"Kalau aku membawamu ke hadapan appa-mu bagaimana?" kata Jinyoung sambil tersenyum sinis.

Aku hanya terdiam. 'Aku menang!' pasti beginilah yang ada dipikiran Jinyoung.

"Yah, paling-paling aku hanya dihukum untuk tidak keluar rumah selama satu atau dua hari, lalu jika kamu tidak memberikan alasan yang tepat pula, kamu yang akan DIPECAT!" jawabku menyudutkannya. "Sudahlah, sekeras apapun kamu berusaha membujukku tidak akan membuatku merubah rencanaku. Aku ini kepala batu,"

"Awas Kamu. Aku pasti akan mengadukanmu ke ayahmu, setelah membawamu kerumahku," jawab Jinyoung akhirnya.

YA! ITULAH JAWABAN YANG KUTUNGGU-TUNGGU!

Ternyata, Jinyoung tinggal disebuah apartemen. Ruangannya berada di lantai paling atas, lantai dua puluh.

"Aku pulang," seru Jinyoung tiba-tiba. Aku jadi kaget. Siapa yang tinggal dengan Jinyoung? Aku melihat ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda ada orang di sini. Sialan. Ternyata dia membodohiku.

Dasar yang namanya laki-laki. Apalagi jika tinggal sendiri. Yap, apakah kalian sudah menangkap maksudku? Ini rumah… atau malah kandang kambing?!

Iya, benar pemirsa! Rumah Jinyoung sangat BERANTAKAN! Aku hampir tidak bisa melihat lantai karena lantainya dipenuhi dengan pakaian, celana, bahkan underwear….

Hiii! Aku tak tahu harus ke mana, harus apa. Aku mau kabur, tapi pintunya dikunci oleh… Jinyoung. Jinyoung! Di mana kamu?! Aku terus berjalan masuk ke ruang tengahnya. Satu-satunya yang bersih di sini hanyalah dapurnya.

Tiba-tiba setan itu muncul di hadapanku. Sekarang pakaiannya sudah ganti dengan kaos putih tangan pendek yang banyak ikon 'smile'-nya, serta celana tiga perempat.

"Mau ke mana kamu?" tanyanya.

"Hei, aku mau tanya, kapan rumah ini terakhir dibersihkan?!"

"Kenapa? Ini kan rumahku. Tidak ada urusannya sama kamu," sahut Jinyoung cuek. "Kalau kamu nggak tahan, pulang saja!" usirnya.

"Jahat. Padahal di luar sedang turun salju. Kenapa kamu tega mengusirku? Kamu akan kulaporkan ke Appa!" ancamku tanpa memperhatikan posisiku sekarang.

"Lalu appa-mu tanya, "Bagaimana bisa ketemu Jinyoung?" maka kamu akan jawab apa?" Jinyoung membalikkan ancamanku.

Aku hanya bisa tertunduk. "Bagaimanapun, kamu sekarang sedang terjepit," kata Jinyoung sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Baiklah," katanya setelah sekian lama diam. "Jika kamu mau rumah ini bersih, silahkan bersihkan rumah ini sesukamu," sambungnya. Ini sebuah perintah.

"Apa?! Kamu akan menjadikanku pembantumu?!"

"Atau kamu mau aku telepon papamu?!" Jinyoung kembali mengancam.

Aku terdiam lagi. "Silakan. Dimulai dari lantai, ya," kata Jinyoung seraya memakaikan sebuah celemek padaku, kemudian menghilang.

UKH! TAHU BEGINI, LEBIH BAIK AKU LANGSUNG PULANG!

Aku mulai memisahkan baju kotor dengan baju bersih. Lalu membuang semua sampah yang berserakan. Menyapu lantai, ngepel, membersihkan jendela, dan tugas tambahan yaitu membersihkan kamar mandi. Sementara yang punya rumah hanya tidur-tiduran di sofa besar sambil membaca majalah.

Aku beristirahat sejenak di kamar mandinya Jinyoung. Aku mengambil ponselku dan mengirimkan e-mail ke Baro. 'Aku ada urusan sama temanku, jadi pulangnya telat. Silakan makan duluan.' Begitu bunyi e-mail-ku. Tak lama berselang, aku mendapat balasan.

'Terserah kamu. Aku sedang tak ada di rumah. Silakan menghilang selamanya.' Aku tersenyum membacanya. Kami memang berjanji untuk tidak mencampuri urusan masing-masing.

Huuuhhh… akhirnya selesai juga. Aku beristirahat di sofa sebentar, sebelum Aku sadar kalau pemilik rumah ini sedang melakukan sesuatu di dapur. KLONTANGGG!

Suara panci dan piring riuh berkelentongan. Apa yang dilakukan Jinyoung? Karena penasaran, aku mengintip ke dapur.

"Waaah?!" seruku kaget. Aku benar-benar tak tahu yang dilakukannya. Ternyata, Jung Menyebalkan sedang memasak dan menyiapkan makan malam!

Sedetik kemudian Jinyoung muncul dengan membawa sepanci penuh hidangan yang sepertinya berbahan dasar kimchi. Tapi, sikap angkuhnya tidak berubah karena dengan dinginnya dia berkata; "Minggir!" sambil sengaja menyenggol bahuku.

"Ya! Kamu ngapain, sih?"

Sebelum menjawab pertanyaanku, Jinyoung terlebih dahulu meletakkan makanannya ke atas meja makan. "Kamu pikir aku ngapain? Aku sedang menyiapkan makan malam, tahu!" jawabnya ketus."Aku tahu kamu pasti lapar. Apalagi setelah membersihkan seluruh rumah ini. Sebagai ucapan terima kasihku, aku sengaja masak enak malam ini,"

"Sejak kapan kamu bisa masak?" tanyaku.

Jinyoung melongo. Kenapa? Pertanyaanku barusan aneh, ya? Kan jarang-jarang ada seorang namja yang bisa masak. Wajar kan, kalau aku tanya seperti itu?

"Jangan banyak tanya. Cepat kita makan, Aku sudah lapar...!" jawab Jinyoung sambil berlalu. Aku mengikutinya menuju meja makan.

"Apa nama hidangan ini?" tanyaku sambil duduk di kursi.

"Entahlah, menurutmu nama yang bagus apa?" tanya Jinyoung sambil memasang senyum aneh dan menautkan jemari-jemarinya di dagu.

"Aaahh, aku tak pandai memberi nama. Kau saja karang namanya!"

"Apa semua masakan harus ada namanya? Lalu bagaimana kamu memberi nama anakmu nanti?"

"Ya, semua masakan punya nama. Aku pernah bikin kue tart dan ternyata kuenya asin dan bantet. Jadi, aku menyebutnya "Si Hancur"!" jawabku. Spontan jawaban itu membuat Jinyoung tertawa.

"Hahaha…. Ternyata nggak semua yeoja bisa memasak kue enak, ya!" ejeknya.

"Lalu kenapa? Apa kamu marah?"

Jinyoung yang rupanya sudah memasukkan makanan ke dalam mulutnya langsung tersedak dan tertawa. Melihat reaksi lucunya saat tersedak membuatku gemas. Akupun ikut tertawa setelah sedikit membela diriku.

Kemudian kami semua terdiam. Aku menggunakan kesempatan ini untuk menjawab pertanyaan Jinyoung yang lain.

"Kalau...kalau soal anakku itu biar saja calon suamiku yang memberinya nama," ucapku sambil tersenyum.

Jinyoung mendongakkan kepalanya. Aku jadi bingung harus apa. Kenapa? Kenapa lagi ini?

Tiba-tiba dia tersenyum dan berkata; "OK, terserah saja. Ayo makan!"

Aku memasukkan suapan pertamaku. Um… enak. "Wah. Ini enak. Aku tidak tahu orang seperti kamu bisa memasak..." komentarku.

Jinyoung tersenyum lalu meneruskan makannya. "Yah, kamu memang tidak bisa menilai orang."

Belum lagi Jinyoung menyelesaikan kalimatnya, PRAANNGGG…!

Aku terkejut. Gelas yang dipegang Jinyoung tiba-tiba jatuh dan pecah berkeping-keping. Kulihat Jinyoung tertunduk sambil memegangi perutnya.

"JINYOUUUNGGG!" teriakku dan menghampirinya. Mukanya memperlihatkan kalau dia sangat kesakitan. "Kamu kenapa?"

Situasi sangat tidak bisa dikendalikan. Aku menyuruh Jinyoung istirahat dan merebahkannya ke tempat tidur.

"Apa yang harus kulakukan sekarang…?" gumamku seorang diri.

Tiba-tiba Jinyoung memanggilku...

"Rae Hee!" serunya. Aku masuk ke kamarnya. Jinyoung menyembunyikan kepalanya di bawah bantal sambil berguling-guling.

"Wa…wae? bagaimana keadaanmu?" tanyaku khawatir. Aku benar-benar khawatir sekarang, apalagi kalau mengingat wajahnya yang sangat kesakitan tadi.

"Tidak bisa lihat aku sedang kesakitan…?!" Jinyoung berusaha memarahiku. Bodoh. Masih sakit begini masih bisa-bisanya… "Huh, sudahlah. Kalau kamu mau dirimu berguna, cepat ambilkan obat di kotak obat di dapur sana!" perintahnya.

"Obat?"

"Ya, obat maag. Yang bungkusnya warna hijau! Palli…!"

O…obat maag? Jinyoung menderita maag?

Jadi, ini semua kesalahanku? Bagaimana bukan kesalahanku? Jinyoung sudah lapar sejak di mal tadi, kemudian terjebak macet di jalan selama 30 menit, lalu menungguku selesai bersih-bersih selama dua jam. Bagaimana dia tidak bisa dikatakan telat makan? Ditambah lagi aku memperlambatnya dengan mengajaknya bicara.

Ukh! Pabo, pabo, PABOOO! Kenapa kamu begitu, Rae Hee? Kamu yeoja yang payah, biang kerok…! Sama seperti kejadian di Haesbich setahun lalu!

"Ooooiii…. Obatnya mana?! Kamu belum menemukannya atau sesat di jalan?! Cepat dong, kotak obatnya ada diatas kulkas…! Palli...!" teriakan Jinyoung membuyarkan lamunanku.

Benar juga, sebaiknya aku berusaha memperbaikinya daripada terus menghina diri sendiri…! OK! Aku tidak akan pulang ke rumah sampai Jinyoung merasa baikan!

"Ne, ne… aku dataaangg!" teriakku semangat. Aku mengambil obat dan air minum untuk Jinyoung, kemudian kembali ke kamar.

JLEB! Tiba-tiba mati lampu…! "Kyaaa!" teriakku kaget. Aku perlu penerangan di sini. Gelap sekali!

Aku mengambil ponselku untuk mendapat sedikit cahaya. Eh, tapi ponselku LOW BATTERY! Ahhh! Aku dalam bahaya. Aku nggak bisa jalan ke kamar Jinyoung kalau begini.

Aku mundur tiga langkah, dan, Bruk! Rupanya aku membentur dinding. Eh tapi dinding kok hangat dan banyak tonjolan seperti tulang begini? Ada juga yang empuk-empuknya….

"A…APA… INI?!" tanyaku curiga. Aku menemukan sebuah suara. 'Deg… deg… deg….' Lho ini kan seperti detak jantung. Jangan-jangan ini….

Tap! Tiba-tiba sebuah senter dinyalakan. Terlihat jelas apa yang kutabrak tadi.

"INI JINYOUNG," jawab 'sesuatu' yang kutabrak tadi, sambil mengarahkan senter ke atas dan memposisikannya di bawah dagunya.

"Hiiii…. Jangan suka mengagetkan, dong!" teriakku setengah menangis. Aku perlu mencuci tanganku dengan air dari tujuh lautan mengingat apa yang kusentuh tadi…!

"Habis, obatku nggak datang-datang. Nah, mana obatnya?"

"I…iya, ini," jawabku sambil menyerahkan sekapleng obat.

Plet! Tiba-tiba senter yang dipegang Jinyoung mati. Jelas saja kami kaget dan spontan langsung saling berpelukan. Tapi, sedetik kemudian, kami langsung berusaha 'memantaskan diri'.

"Dasar senter tua. Nggak bisa dipakai satu kali 24 jam, pasti habis baterai!" rutuk Jinyoung sambil mengganti baterai senter.

"Kalau begitu, sih, baterainya yang payah," kataku sambil tertawa.

"Nah, sudah betul."

Plet! Senter menyala bersamaan dengan listrik. Dahi Jinyoung kembali berkerut. Dia mematikan senter dan pergi ke kamar dalam kesunyian. Tapi langkahnya terhenti sebelum seutuhnya diri Jinyoung masuk kedalam kamar.

"Aku mau istirahat. Tolong carikan sesuatu untuk kumakan. Awas kalau rasanya hancur," titah Jinyoung lalu masuk ke kamar.

"I…iya."

Aku berlari ke dapur. Aku segera menggali-gali kulkas Jinyoung. Kimchi Pork Duruchigi (nama yang kuberikan untuk masakan Jinyoung tadi)-nya juga sudah dingin, pasti perlu waktu lama untuk memanaskannya. Aku melihat lemari dapur di atas wastafel.

Kugali-gali lemari itu, dan akhirnya ketemu! Harta karunku!

Yap, aku menemukan satu bungkus bubur instan. Aku bersyukur Jinyoung memiliki benda seperti ini. Aku tidak mau mengumumkan bahwa Jung Rae Hee yang terhormat ini tidak bisa memasak. Apalagi di hadapan Jung Menyebalkan yang pintar masak. Aku bisa ditertawakan dan diejeknya habis-habisan.

Kalau soal peralatan memasaknya, aku tidak perlu pusing. Dapur orang yang suka masak memang beda dengan dapur orang biasa. Mungkin bisa kusimpulkan bahwa dapur inilah surganya Jinyoung.

Ngomong-ngomong soal makanan ini, kurasa bubur saja masih belum mencukupi gizi dan karbo Jinyoung. Apalagi Jinyoung itu seperti tengkorak berjalan.

Jadi, aku menggali-gali lagi kulkas Jinyoung. Aku menemukan daging, dan susu… rendah lemak. Minuman ini cocoknya untukku. Tanpa permisi aku meminum susu itu dan mulai memasak daging. Aku tidak tahu kuapakan daging ini, aku hanya melumurkan saos barbeque (yang juga kutemukan di kulkas) di sekeliling daging itu, lalu memasukannya kedalam wajan berisi minyak panas.

Finally, bubur dan dagingnya matang. Aku membawanya menuju raja yang sedang sakit ini. Rasanya, aku benar-benar sudah menjadi pembantunya.

"Makanan dataaang!" teriakku membangunkan tidurnya. Aku menaruh makanan itu di atas meja kecil dan menarik selimut Jinyoung yang makin dirapatkannya ketika melihat Aku datang.

"Nggak mau makan. Aku mau tidur saja!" serunya dari dalam selimut.

"Jangan menjadi childish. Aku sudah susah-susah membuatnya. Masa kamu tidak menghargai masakan buatanku? Kamu sendiri, kan, yang menyuruhku membuatkan makanan untukmu? Ayo bangun dan makan!" seruku sambil menarik paksa selimutnya. Jinyoung malah berbalik membelakangiku sambil terus masuk ke dalam selimutnya

"Aku bilang nggak mau, ya nggak mau! Eomma istirahat saja!" seru Jinyoung sambil mempertahankan selimutnya.

MWO?! DIA MEMANGGILKU EOMMA? EOMMA?! EOMMA?! APA-APAAN DIA ITU!

Sekarang darahku benar-benar sudah mendidih.

"Jung Jinyoung!" bentakku sambil berusaha membuang kain besar dan tebal yang disebut selimut itu.

"BANGUUUUUUNNNN!"

Jinyoung meringkuk seperti anak kucing setelah aku berhasil menyingkirkan selimutnya. Dia menoleh ke arahku dengan kesal. Dia lebih kesal lagi setelah melihat menu yang aku bawa.

"Ayo makan!" bentakku lagi.

"Hah? Apa ini? Kenapa kamu masak bubur sepanci penuh begini?! Terus apa itu? Akh! Kenapa kamu sembarangan memasak daging yang mau kumakan hari libur nanti?! Terus kenapa bubur dengan daging?!" Jinyoung marah sampai-sampai dari kepalanya keluar uap, entah itu uap dari bubur atau dari tubuhnya.

"Nggak terima masukan!" teriakku sambil menutup kupingku.

"Siapa yang memberi masukan? Orang juga lagi protes!" kata Jinyoung sambil menyuap daging aneh buatanku itu. Tidak lama….

BRUK! Jinyoung mendorong tubuhku sampai-sampai aku terbentur ke dinding. Dia keluar kamar dan berlari ke kamar mandi. Aku mengikutinya dari belakang, sampai di pintu kamar mandi. Karena pintunya tertutup, aku tidak bisa melihat apa yang dilakukannya. Tapi Aku mendengar bunyi "Hoeeek" dari dalam sana….

Brak! Pintu kamar mandi dibuka. Jinyoung keluar dengan wajah yang sangaaat menyeramkan sambil membersihkan air di sekitar mulutnya. Dia menoleh ke arahku. Aku semakin ketakutan. Rasanya ingin kabur saja, tapi kaki ini seperti dilem.

"Hei, bagaimana caramu memasak daging itu?! Itu daging atau racun?!" gertak Jinyoung. Kudengar giginya bergemeretakan.

"Hiii… maaf, maaf! Memang rasanya tidak enak sekali, ya?" tanyaku takut-takut.

Jinyoung tidak menjawab apa-apa. Dia terus berjalan ke kamarnya dan melanjutkan ritual makan. Maaf, aku benar-benar minta maaf, Jinyoung.

"Ugh, daging ini sama sekali tidak bisa dimakan," gumam Jinyoung sambil menyingkirkan daging itu ke sudut piring.

"Coba makan," tawar Jinyoung sambil menyodorkan sepotong daging kepadaku. Reflek aku menjauhkan kepalaku sambil berkata; "Ti…tidak, terima ka…"

Tapi, belum selesai aku bicara, Uppp! Jinyoung menyuapkan sepotong besar daging itu ke mulutku. "Jangan begitu, nanti dagingnya menangis. Nah, iya, begitu. Habiskan, ya… Hahaha…" katanya plus dengan senyum sadisnya.

Hekkk! rasanya benar-benar hancur dan kacau. Rupanya aku menggosongkan bagian luar daging tetapi bagian dalamnya masih setengah matang. Belum lagi efek dari saos barbeque dan minyak…. AHHH! AKU TIDAK MAU MEMBAHASNYA LAGIII!

Aku benar-benar ingin kabur dan mengeluarkan daging yang sebagian sudah memaksa masuk kedalam kerongkonganku. Tapi, Jinyoung mencengkeram kuat kedua tanganku. Terpaksa aku menelan seluruh daging itu. Rasanya aku ingin meloncat-loncat. Untung ada susu rendah lemak yang belum sempat kuhabiskan tadi. Segera kuminum sampai habis.

Jinyoung tertawa puas melihat aku terkapar di lantai. Aku marah dan kehilangan kontrol tubuhku. "Sekarang giliran kamu. Ayo cepat makan!" bentakku sambil duduk diatas perutnya lalu menyuap paksa bubur yang (menurutku) rasanya masih aman itu. Jinyoung tak kuasa menolak. Suapanku nggak mau berhenti. Beberapa kali dia berontak dan berusaha melepaskan diri. Tapi semua usahanya sia-sia karena aku duduk diatas tubuhnya. Aku betul-betul lupa kalau ini di tempat tidur.

Setelah aku berhasil memasukkan sepanci penuh bubur itu ke mulutnya, aku memaksanya untuk tidur lagi. Tentu saja Jinyoung tidak menolak karena sejak beberapa suapan terakhir tadi dia sudah seperti mau pingsan.

Seakan ingat sesuatu, aku segera keluar dari kamarnya dengan jantung berdebar-debar.

Ooh… apa yang kulakukan tadi! Benar-benar tak kusangka kalau tadi kami berantem dan berguling-guling di atas…. TEMPAT TIDUR?!

Uh... Aku benar-benar keluar dari kontrol. Apalagi, Jinyoung itu… seorang namja, sedangkan aku seorang… yeoja!

Aku duduk di sofa besar sambil memeluk lutut. Mungkin, mulai dari sekarang aku harus menjaga jarakku dengannya. Ini sudah keterlaluan. Bahkan, rasanya sekarang aku lebih dekat dengan Jinyoung daripada dengan Baro.

Krek! Tiba-tiba pintu masuk terbuka. Aku menunggu dengan was-was. Jangan-jangan itu…

Ah, tidak, tidak mungkin. Tapi jangan-jangan Jinyoung memang tidak tinggal sendiri? Jangan-jangan itu keluarganya?! Atau temannya? Atau jangan-jangan itu pencuri?! Eh, tidak mungkin. Rumah Jinyoung dilindungi dengan password. Ternyata itu….