"Kurapika… Sebaiknya kau jangan memanggil Danchou dengan –sama di akhir namanya. Sepertinya dia tidak enak mendengarnya…." Kata Shalnark berbisik kepada Kurapika.

"Baiklah…." Ucap Kurapika datar.

"Kurapika, kemarilah…." Panggil Kuroro sambil memainkan telunjuknya.

Kurapika selalu menuruti perintah Kuroro. Selalu. Tanpa ragu dan takut, ia menghampiri Kuroro yang tengah duduk menunggunya.

"Duduklah di sampingku," kata Kuroro. "Biasanya, apa yang kau lakukan sewaktu di Kuruta, huh?" tanya Kuroro kemudian.

Kurapika menoleh ke Kuroro dan menggelengkan kepalanya. Ia berkata, "Aku hanya duduk berdiam diri di kursi, kamar, atau tempat yang okaa-sama bilang indah….".

"Baiklah…. Kalau begitu, lihat ini."

"Apa itu?"

"Ini lukisan yang Shalnark dapat dari situs."

"Itu aku…? Otou-sama to Okaa-sama…." Gumam Kurapika lirih.

"Kau rindu pada mereka?"

"Sangat," air mata Kurapika mulai menetes. "Boleh aku menyimpannya?" pinta Kurapika sambil menunjuk gambar yang Kuroro pegang.

"Terserah," kata Kuroro sambil memberikan gambar yang ia pegang.

Kurapika menariknya dan memeluk Kuroro secara tiba-tiba. Kuroro dan yang lainnya terkejut bukan main. Kurapika memeluk Kuroro tanpa senyuman, tetapi air mata.

"Arigatou…." Ucap Kurapika lirih.

[Skip Time]

"Nah, tidurlah…." Kata Kuroro yang berbaring di samping Kurapika.

Kurapika langsung menutup matanya dan Kuroro pun pergi meninggalkannya. Yaah… Kurapika benar-benar tidur.

"Cepat sekali dia tidur…." Ucap Pakunoda sambil menyalakan lilinnya.

"Aku menyuruhnya dan ia langsung menutup matanya…. Mungkin jika tadinya ia punya hati, ia tidak akan bisa tidur dengan cepat…." Ucap Kuroro.

"Apa Danchou menyayanginya?" tanya Shizuku kepada Shalnark.

"Entahlah. Tapi aku juga merasakan hal itu," kata Shalnark mengangkat bahu. "Tapi itu nggak apa-apa 'kan?" lanjut Shalnark selanjutnya.

"Gak apa-apa apanya?!" sahut Machi tajam.

Jangan-jangan Machi cemburu. Ah! Gak mungkin… Dia 'kan gak suka sama Kuroro. Tapi dia kagum…. (Ha?).

"Sudah jangan dibahas. Danchou, kapan kita kumpulin pecahan hatinya Kurapika….?" Shalnark menoleh ke Kuroro.

"Kalau bisa secepatnya," ucap Kuroro sambil membuka bukunya yang tebal.

"Kalau sekarang?" saran Shizuku.

"Jangan…! Kalau sekarang, nanti Kurapika bisa bangun…." Kata Shalnark agak cemberut.

"Baiklah…." Shizuku melanjutkan kegiatannya, membaca buku.

"Besok kalian harus membelikan baju untuk Kurapika…." Kata Kuroro santai.

"HEEEEEE?!" semuanya kaget. "That's no fair, Danchou!" kata mereka serentak.

"Bagaimana kalau kita mencuri saja? Boleh 'kan, Danchou?" kata Phinks penuh harap.

"Baiklah…. Jika kalian ingin melakukannya sekarang, aku-," ucap Kuroro langsung terpotong ketika beberapa dari mereka sudah pergi menjalankan misi. "Bagus…." Kuroro mengangkat bahunya seakan tidak peduli apa yang mereka lakukan.

"Hei, Danchou…. Boleh aku melihat gadis itu?" pinta Franklin.

"Hm? Boleh…. Bawa lampu. Di kamar itu sangat gelap," ucap Kuroro tanpa berpaling sedikit pun dari bukunya. "Ingat, jangan bangunkan dia…." Lanjut Kuroro.

Franklin pun melangkah menuju kamar Kuroro. Di dalam, terdapat Kurapika yang sedang tertidur pulas dengan gaya tidurnya yang menyamping. Franklin menghampirinya dan meletakkan lenteranya di meja kecil. Ia duduk di kursi sebelah ranjang. Padahal tadinya Franklin ingin bicara banyak dengan Kurapika. Tapi mau bagaimana lagi? Kuroro tidak mengizinkannya untuk membangunkan Kurapika.

"Ah!" Kurapika terbangun dengan tiba-tiba. Ia seperti dikagetkan sesuatu. Dan ia juga terbangun dengan keringat dingin yang mengucur deras di tubuhnya.

"Ada apa, Kurapika?"

"Ta- tadi aku melihat sesuatu. Aku terbangun dan aku berada di tempat lain. Tempat itu… Tempat itu sangat gelap…." Kata Kurapika gemetar.

"Mungkin itu mimpi buruk…." Kata Franklin sambil menepuk kepala Kurapika.

'Dia gemetaran…. Mungkin ia sudah tau perasaan takut,' pikir Franklin. "Tidurlah lagi…." Franklin menidurkan tubuh Kurapika ke kasur.

"Ba- baiklah…." Kurapika pun kembali menutup mata.

Franklin pergi. Kuroro menatap tajam Franklin. Sepertinya Franklin sendiri tau apa yang dimaksud Kuroro. Ya, Kuroro ingin tau apa yang Frankling lakukan di dalam kamar itu. Rasa ingin tau? Ini baru pertama kalinya Kuroro memiliki perasaan 'keingintahuan'. Kau tempe tidak? Semua orang punya perasaan itu… -_- Hanya Kurorolah yang pertama kalinya memiliki itu sepanjang hidupnya.

"Dia mimpi buruk…." Kata Franklin singkat, padat, dan berharap itu membuat Kuroro mengerti.

"Eh? Seperti apa mimpinya?" Tanya Kuroro kemudian.

"Aku tidak tanya tentang itu padanya," jawab Franklin.

Dan pada saat itulah, anggota GR yang diperintahkan untuk mencari baju untuk Kurapika.

"Danchou…! Aku bawakan kimono ini…!" Nobunaga muncul (dari mana dia?) dengan membawa sepotong kimono putih dengan motif bunga-bunga biru.

"Bagaimana dengan yang ini, Danchou?" Shizuku menampakkan hasil curiannya. Baju terusan selutut berwarna hitam dengan kerah dan renda bawah berwarna putih.

"Danchou…! Karena aku bingung memilih yang mana, jadi aku 'curikan' dia tiga pasang sepatu…!" ucap Shalnark yang membawa tiga kotak sepatu.

"Aku rasa dia juga butuh aksesoris rambut. Rambutnya panjang. Jadi, aku curi beberapa ikat rambut, sumpit, dan yang lain-lain…." Kata Pakunoda. Dia membawa sekotak aksesoris yang cukup besar, bukan…! Maksudku sedang.

"Letakkan semua ke kamarku. Harus ditata dengan rapi…." Kata Kuroro.

Pada akhirnya, mereka rame-rame ke kamar Kuroro! :v

[Skip Time]

Kurapika bangun dari tidurnya. Dia celingukan ketika melihat banyak barang-barang di sekitarnya.

"Ohayou…." Sapa Kuroro.

"Ku- Kuroro…. Ada apa ini?" tanya Kurapika dengan nada bingung.

"Hadiah dari mereka," jawab Kuroro. "Ini. Cepat mandi…." Kuroro menyerahkan handuk kepada Kurapika.

Kurapika menurutinya dan bergegas.

"Machi, uruslah Kurapika…." Ucap Kuroro sambil memasukkan kancing-kancing kemejanya ke lubang-lubang kemeja itu, tentunya.

"Baik," Machi bergegas pergi ke kamar Kuroro.

Dahi Machi berkerut menatap pemandangan yang terlihat dari jendela kamar Kuroro. Kenapa? Ia cemburu? Mungkin dia sedih… Dan cemburu? Ah, itu tidak diketahui sama sekali. Perasaannya sangat kacau sejak Kurapika ada di GR.

"Kau kenapa?" tanya seorang gadis di belakang Machi.

Gadis itu sama seperti Kurapika yang kemarin. Memancarkan sinar merah.

"Aku sedih. Danchou lebih mementingkan gadis itu daripada kami…." Kata Machi.

"Kalau begitu, tetaplah bersamaku…." Ucap gadis itu memeluk Machi dari belakang.

Gadis itu pun masuk ke dalam tubuh Machi secara perlahan.

BRAKK!

"Machi!" Pakunoda muncul. "Aku sudah menduga hal ini…! Machi, kenapa kau tidak mengembalikan hati itu kepada Kurapika?!"

Machi menoleh. Matanya yang kuning menampakkan warna merah samar-samar.

"Itu bukanlah urusanmu, Pakunoda…." Machi mengikat tubuh Pakunoda dengan benang Nen-nya.

Kemudian, Machi menggantung Pakunoda. Machi pun pergi setelah selesai.

"MACHI! TUNGGU!" tapi terlambat, Pakunoda. Machi sangat cepat.

"Pakunoda? Apa yang terjadi padamu?" tanya Nobunaga yang muncul entah dari mana, author nggak ingat.

"Bebaskan aku dulu!" kata Pakunoda sambil menggoncang-goncang tubuhnya.

Setelah Nobunaga membebaskan Pakunoda dari benang Machi, Pakunoda menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, juga tentang Machi.

"Nani?! Dia cemburu?!" Nobunaga terbelalak kaget.

"Sebaiknya kau cepat pergi kejar dia… Aku akan urus Kurapika. Nanti aku akan menyusul…." Ucap Pakunoda.

"Kurapika, kau sudah selesai?" tanya Pakunoda kemudian.

Kurapika keluar dengan sehelai kain putih yang tebal menutupi auratnya.

"Ya…." Jawab Kurapika.

Pakunoda memakaikan kimono putih dari Nobunaga yang Nabunaga curi tadi malam. Kemudian, Pakunoda menggendong Kurapika menyusul Nobunaga, Phink, dan Kuroro.

Sementara itu, Machi… Machi sedang duduk di tepi sungai. Dia melempar batu-batu kecil ke dalam sungai. Ia juga berbicara pada dirinya sendiri.

"Aku merasakan kesepian saat gadis itu muncul…." Kata Machi.

"Tenanglah…. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu…." Kata gadis yang ada di dalam tubuh Machi.

"Machi!" Kuroro menghampiri Machi.

"Danchou…." Gumam Machi.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nobunaga.

"A- aku…." Machi agak gugup.

"Kau kesepian?" tebak Kuroro dengan ekspresi dan nada yang datar.

Machi menunduk dan kemudian mengangguk.

"Tenanglah… Aku tidak memilih-milih orang. Karena aku tidak suka hal itu…. Kembalilah…." Kuroro mengulurkan tangannya.

Machi pingsan. Gadis Merah itu muncul dan menyentuh tangan Kuroro.

"Aku "kesepian"," Gadis itu memperkenalkan dirinya kalau dia adalah perasaan yang bernama "Kesepian".

Kemudian, gadis itu seperti "Si Rasa Sakit", ia menjadi batu merah. Kuroro menampakkan batu itu pada Kurapika dan batu itu melayang masuk ke dalam dada Kurapika. Kurapika pun memejamkan matanya sambil memegangi dadanya. Setelah batu itu masuk ke dalam, Kurapika jatuh terduduk ke tanah.

"Kau tidak apa-apa, Kurapika?" Kuroro menghampiri Kurapika.

"Sabishi…." Gumam Kurapika masih memegangi dadanya.

"Dia merasa kesepian, Danchou?" Pakunoda menghampiri mereka.

"Tenanglah, aku di sini…." Kuroro tidak mengubris Pakunoda maupun Nobunaga dan Phinks. "Mungkin kita harus cepat-cepat pulang…." Kata Kuroro sambil menggendong Kurapika ala bridal style.

"Kalian kembalilah ke markas. Aku akan membawa pulang Kurapika…."

Maka, mereka pun bubar. Akhirnya, Kuroro mengajak Kurapika ke rumah Kuroro yang sebenarnya.

Sesampainya di rumah Kuroro, Kuroro meletakkan Kurapika di kursi yang terdapat di kamar. Satu-satunya! :v

"Kau mau makan…?" Tanya Kuroro.

"Aku mau diajarkan memasak," ucap Kurapika tanpa menoleh ke Kuroro.

Nah, setelah itu, Kuroro mengajak Kurapika ke dapur.

"Kau hanya bantu aku memotong sayuran dan daging…. Seperti ini…." Kuroro mengajarkan Kurapika cara memotong wortel. Posisinya menuntun tangan Kurapika… Cara memegang pisau dan cara menahan wortelnya.

"Sepertinya kau sudah mengerti. Teruskan…." Kuroro pergi dan sibuk dengan kegiatannya selanjutnya.

Kurapika memotong wortel dengan cepat sehingga bilah pisau itu mengenai jari telunjuknya.

"…!" Kurapika agak sedikit terkejut ketika pisau itu mengiris telunjuknya. "Kuroro… Perih…." Kata Kurapika sambil memegangi telunjuk kanannya itu.

Kuroro menghampirinya lalu berkata, "Itu namanya rasa sakit, Kurapika….".

Kurapika diam saja menatap darah yang menetes dari telunjuknya. Ia tidak penasaran sama sekali apa cairan merah itu.

"Hei, jangan diam saja! Hisap darahmu agar pengalirannya berhenti,"

Kurapika menghisap darahnya. Seperti biasa, Kurapika menuruti ucapan Kuroro dan selalu.

Mereka melanjutkan kegiatan mereka, yaitu memasak. 1 jam kemudian, makanan selesai!

[Skip Time] (Author : "Sudahlah… Di skip aja…. :v )

Malam hari

"Tidurlah…."

Ucapan Kuroro itu selalu dituruti Kurapika dengan cepat. Kurapika menutup matanya dan mengatur posisi tidurnya. Kemudian, Kuroro pun meninggalkannya.

"Jangan pergi…." Kurapika menarik lengan Kuroro tanpa menoleh sedikitpun. "Aku kesepian…." Desis Kurapika lembut.

"Baiklah…." Kuroro mengatur posisi tidurnya di sebelah Kurapika.

Kurapika pun berbalik menghadap Kuroro. Mata birunya yang tak berdasar seperti laut yang paling dalam itu menatap arang hitam Kuroro.

"Oyasumi… Watashi no kawaii Ningyo-chan…." Kata Kuroro sambil membelai rambut Kurapika.

Kuroro mematikan lampu dan menemani Kurapika tidur.


TBC


Saatnya balas-bilis (?) review…. :3

XxJingoku-no-HanaxX : Hi nama susah dan keren…. :v Aku sungguh merindukanmu…. Ini silahkan sudah dilanjut. Norak 'kan? :v /

Moku-Chan : Lama tidak bertemu di lobi (?) review. Makasih sudah menyukai fic-ku ini. xD (Bagiku ini norak….)

Kiyoshi Uzumaki : Terima kasih sudah menunggu….. :'3 Aku senang anda mau menunggu…. x'D