WIIIIIIIIII akhirnya jadi juga nih chapter duanyaaaaaaa~ :D huhu makasih ya buat yang udah review, aku juga ngeliat statsnya, wuih~ sampe bingung karena aku ngepost fic tanggal 26 shubuh tapi statsnya mulai dari tanggal 25, pembaca Iceland lebih banyak daripada Indonesia, apa yang terjadi selama saya hiatus? :"D

Aku bakal coba bikin chapter sebelumnya sama yang sekarang sama rata, jadi kalo chapter satu hampir 6rb words ya... sampe terakhir aku bakal bikin 6rb words :"3 harus baca doa sama jampijampi sih ini(?) btw sesi balesbales review bakal selalu ada di akhir fic okeeee :3 special thanks to hari libur diselasela uas yang bikin kepala ini mau pecah. Makin cinta sama kampus :"D

Ya udah, daripada lamalama, nih ya chapter kedua~


.

.

DISCLAIMER:
All characters belongs to Masashi Kishimoto. Satusatunya milik aye cuma plot.

.

.

WARNING:
AU, bisa jadi OOC.

.

.

The Diary

~Kimi to Deai~

Page 2: A Competition

© nadilicious

.

.


"Teme?" Naruto berkali-kali mengetuk pintu kamar Sasuke, namun tak ada jawaban.

"Teme?" Naruto kembali mengetuk pintu kamar Sasuke, dan masih tidak ada jawaban.

"Teme, kau tidak makan malam? Semuanya mencarimu," kata Naruto, masih sambil mengetuk pintu kamar Sasuke.

"Hn..." jawab Sasuke dengan nada lemas.

"Itu artinya iya atau tidak?" tanya Naruto lagi, tidak mengerti apa yang dimaksud Sasuke.

"Nanti... nanti aku makan sendirian, jadi kalian duluan saja," kata Sasuke.

"Justru kami semua sudah makan, Shikamaru akan mengadakan pertemuan untuk membahas soal peraturan," kata Naruto.

"Baiklah..." Sasuke pun akhirnya mau beranjak dari tempat tidurnya, lalu menggunakan sandalnya, dan membuka pintu kamar.

"Astaga," Naruto refleks kaget melihat wajah Sasuke yang sangat amat kusut, terlihat sangat lelah, letih, dan lesu, seperti tidak berjiwa, walaupun Sasuke yang biasanya memang terlihat seperti tidak berjiwa, namun kali ini ia benar-benar terlihat seperti patung asli.

"Ada apa denganmu?" Naruto antara ingin tertawa geli melihat sahabatnya yang biasanya wajahnya datar-datar saja menjadi sangat lemas, "apakah perjalanan dari sekolah ke dorm terlalu berat untukmu?"

"Tidak..." jawab Sasuke.

"Lalu ada apa?" tanya Naruto lagi, kali ini benar-benar cemas karena sahabatnya terlihat sangat beda.

"Tidak apa-apa..." Sasuke pun melangkah keluar dari kamarnya, menutup pintu kamarnya, dan langsung berjalan ke lantai bawah. Naruto hanya mengikuti Sasuke dari belakang sambil terus berpikir tentang masalah apa yang sedang menimpa sahabatnya itu.

"Oh, Uchiha-san!" panggil Madam Shijimi ketika melihat Sasuke turun dari tangga, yang kebetulan tangga menuju lantai dua dan ruang makan hanya dibatasi oleh lorong yang luas, dan ruang makan tidak mempunyai pintu.

"Kau tidak apa-apa nak? Kau sama sekali tidak turun ke bawah sini untuk makan."

"Aku baik-baik saja..." jawab Sasuke dengan nada datar.

"Apakah kau sakit, Uchiha-san?" tiba-tiba, Sakura, yang kebetulan berada di ruang makan, bertanya kepada Sasuke karena cemas saat melihat wajah Sasuke yang sangat kusut. Sasuke menoleh kepada Sakura dan diam sebentar sebelum menjawab pertanyaannya.

"T-Tidak apa-apa," jawab Sasuke singkat, namun dicurigai oleh Naruto.

Sasuke pun langsung menarik kursi dan segera duduk, "kalau begitu, kau harus makan dulu, ya... aku sudah buatkan tonkatsu untuk menu makan malam hari ini," Madam Shijimi menyodorkan semangkuk besar tonkatsu beserta sumpitnya pada Sasuke.

"Terima kasih, Madam," kata Sasuke, mengambil sumpit yang disediakan.

"Habiskan ya, nanti kau malah sakit," kata Madam Shijimi sambil tersenyum.

"Madam..." Shikamaru menepuk bahu Madam Shijimi, "kira-kira kapan pertemuannya bisa dimulai ya?"

"Terserah kau saja," balas Madam Shijimi, "karena kupikir nanti ada beberapa hal yang bersifat personal yang akan kalian sampaikan pada sesama, jadi aku memilih untuk tidak ikut. Kau yang akan mengurus semuanya."

"Hah... merepotkan," gumam Shikamaru, "baiklah."

Madam Shijimi pun masuk kembali ke dalam kamarnya. Sesuai keinginan Madam Shijimi, Sasuke meneruskan makanannya, walaupun Madam Shijimi tidak mengawasi.

"Ne... Shikamaru, kemana yang lain?" tanya Naruto pada Shikamaru.

"Mereka semua ada di ruang tamu, aku sedang berpikir bila sebaiknya rapat ini diadakan sekarang saja di meja makan selagi Sasuke makan, atau kita menunggu Sasuke selesai makan lalu bergabung di ruang tamu bersama yang lainnya," kata Shikamaru sambil menggaruk kepalanya.

"Uchiha-san?" Sakura menepuk bahu Sasuke, "bagaimana kalau kita adakan rapat disini selagi kau makan? Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya.

Sasuke, yang ditepuk bahunya, sedikit kaget dan diam sebentar untuk berpikir, "aku tidak apa-apa, coba tanya yang lain."

"Uchiha-san tidak apa-apa, Shikamaru-kun. Coba kau tanya kepada mereka," kata Sakura pada Shikamaru.

"Oke..." jawab Shikamaru dengan nada malas, lalu berjalan keluar dari ruang makan dan berhenti di depan ruang tamu, melewati lorong.

"Minna," Shikamaru memanggil semua murid penghuni dorm 1101 yang berada di ruang tamu. Mereka semua pun langsung menoleh ke arah Shikamaru.

"Sasuke baru saja turun untuk makan, dia bilang dia tidak keberatan jika kita mengadakan rapat di meja makan, bagaimana dengan kalian?"

"Dia tidak sakit?" tanya Ino, melenceng keluar topik.

"Dia baik-baik saja," jawab Shikamaru, "jadi bagaimana?"

"Tidak apa-apa," jawab Lee, diikuti oleh anggukan yang lain.

"Baiklah, kita pindah ke ruang tamu sekarang," kata Shikamaru.

Mereka pun beranjak dari tempat mereka masing-masing, membereskan bantal sofa, mengembalikan barang-barang yang diambil ke tempat semula, dan semacamnya, terutama Chouji yang membereskan bungkusan-bungkusan snack keripik kentang.

"Kau ini, berantakkan sekali!" ujar Ino pada Chouji.

"Kau sendiri sudah tau, kan, bagaimana pola makanku!" jawab Chouji.

Sementara itu, di ruang makan, Sakura mengawasi sambil menunggu kedatangan Shikamaru dan kawan-kawan, sementara Sasuke masih sibuk dengan tonkatsu-nya yang ia lahap dengan ukuran yang besar di setiap suapannya, dan Naruto yang tidak tau apa yang ia harus lakukan.

Tiba-tiba muncul ide jahil di kepala Naruto. Ia ingin membuktikan jika Sasuke benar-benar jatuh cinta pada Sakura atau tidak, maka sebuah ide muncul di kepalanya, demi mengetahui jika sahabatnya ini akhirnya bisa diluluhkan oleh seorang perempuan. Ia tersenyum jahil.

"Sakura-chaaaaaaan~" Naruto memanggil Sakura, dan Sakura pun refleks menoleh ke Naruto. Sasuke, yang mendengar Naruto memanggil Sakura dengan nama kecilnya, sejenak berhenti dari kegiatan makannya yang sebenarnya tinggal tiga suap lagi.

"Ya, Uzumaki-san?" jawab Sakura.

"Jangan panggil aku seperti itu, panggil saja aku Naruto~" kata Naruto iseng, sambil melirik ke arah Sasuke, dan mendapati sahabatnya itu memutuskan untuk melanjutkan kegiatan makannya dengan brutal. Naruto terkekeh-kekeh pelan.

"Ah, ya, Naruto-san," kata Sakura sambil tersenyum. Nada kelembutan Sakura bisa Sasuke rasakan dengan jelas, membuatnya semakin terbakar oleh api cemburu. Cemburu?

'Aku dan dia hanya biasa-biasa saja,' Sasuke mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia masih dirinya yang dulu; tidak menyukai siapa-siapa, dia dan semua yang dia temui hanyalah teman.

"Baju yang kau kenakan itu sangat lucu, Sakura-chan~" Naruto memuji Sakura yang menggunakan sweater berwarna putih susu.

"Ah, terima kasih..." Sakura tersenyum dengan sangat manis kepada Naruto. Sasuke masih berusaha untuk tidak menoleh ke Naruto dan Sakura.

"Kau memakai celana pendek, apa tidak kedinginan?" tanya Naruto lagi, melihat Sakura menggunakan celana pendek pada malam hari di musim semi, yang sudah pasti dingin.

'Bodoh, kenapa kau memperhatikan pahanya? Kau baru saja memberi tahu faktanya kalau kau adalah lelaki mesum,' pikir Sasuke saat mendengar pertanyaan Naruto kepada Sakura.

"Aku tidak apa-apa," jawab Sakura sambil tersenyum, "aku sudah biasa."

"Kalau kau kedinginan, beri tahu aku, ya!" kata Naruto iseng, yang disambut oleh tawa dari Sakura. Sasuke, yang mendengarkan pembicaraan mereka, entah kenapa merasa marah.

"Omatase," ucap Shikamaru saat kembali ke ruang makan, sambil membawa 'pasukan'-nya dari ruang tamu.

"Hinata-chan!" sahut Naruto saat melihat Hinata masuk ke dalam ruang makan.

'Bodoh, satu detik lalu kau menggoda Sakura, lalu sekarang kau memanggil nama pacarmu sendiri,' ucap Sasuke dalam hati. Sahabatnya, Naruto, memang gampang luluh terhadap perempuan cantik atau imut. Ia meneguk habis kuah dari sup miso yang disediakan berbarengan dengan tonkatsu-nya, lalu memakan rumput laut dan tofu dari sup miso itu.

"Kau sudah selesai?" tanya Shikamaru, sedikit kaget saat menghampiri Sasuke dan melihat mangkuk makanannya sudah habis dilahap olehnya, padahal baru saja beberapa menit sejak ia akhirnya mau keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk makan.

"Aa," jawab Sasuke, lalu beranjak dari kursinya dan mencuci mangkuknya. Semua siswa penghuni dorm 1101 pun langsung duduk, supaya rapat bisa segera dimulai. Saat Sasuke hendak kembali duduk di kursinya, posisinya berada di paling ujung meja, yang kini kursi-kursi di sebelahnya telah diisi oleh murid-murid lain, ia melihat Sakura duduk persis di dekatnya, berhadap-hadapan dengan Shikamaru, yang sama-sama duduk di ujung meja.

"Ah, Uchiha-san, ayo duduk," ajak Sakura sambil tersenyum. Senyum manis itu lagi, menurut penilaian Sasuke, kembali meluluhkan hatinya. Rasa tenang pun tercipta di hati Sasuke.

"Un," jawab Sasuke sambil berusaha menyembunyikan perasaannya, namun dalam hati, selain luluh akan senyum Sakura, ia mengutuk dirinya sendiri yang beritngkah bodoh. Sasuke pun duduk di dekat Sakura.

"Baiklah, kali ini kita akan membahas tentang peraturan di dorm 1101," Shikamaru membuka pembicaraan.

"Aku selaku ketua harus bertanggung jawab atas seisi dorm ini, terhadap kerusakan, kehilangan barang atau murid, maka jika kalian ada urusan di luar dorm yang mengharuskan kalian pulang sedikit larut, kalian harus memberi kabar kepadaku secara langsung atau lewat SMS," Shikamaru mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pulpen, "jadi, tolong tuliskan nomor kalian di kertas ini beserta nama, lalu aku akan mengirimkan SMS setelah pertemuan ini selesai, dan tolong simpan nomorku."

Para murid pun mulai menulis nomor ponsel mereka di kertas yang Shikamaru berikan, lalu dioper ke teman di sebelahnya dan melakukan hal yang sama, terus sampai kertas itu kembali ke Shikamaru.

"Hmm... oke," Shikamaru pun melanjutkan pembicaraannya, "untuk menyalakan televisi, menyalakan lampu, air conditioner, menyalakan DVD player, menyalakan air hangat di kamar mandi, itu sudah tercantum di kertas panduan yang diltakkan di masing-masing tempat, begitu juga dengan alat-alat dapur jadi kita ada kekurangan, tolong laporkan pada Madam Shijimi."

Para murid mengangguk.

"Lalu... sekolah kita tidak melarang pacaran, begitu juga dengan dorm ini, tapi kepada siapapun pasangan yang menghuni dorm ini, jika ada, tolong ketahui batasan kalian," lanjut Shikamaru.

"Oh, pasti!" Naruto, satu-satunya siswa yang sudah memiliki pasangan dengan siswi sesama penghuni dorm 1101, langsung menyahut dengan keras.

"Kuharap aku bisa mempercayaimu," kata Shikamaru, sambil menyeringai.

"Lalu..." Shikamaru berusaha mengingat peraturan lainnya yang disampaikan Madam Shijimi, "tolong jangan sampai ada perkelahian, apalagi sampai merusak fasilitas dorm, karena sekecil-kecilnya kerusakan yang terjadi, kerusakan terkecil pun bisa memakan biaya sampai 50.000 ryo," lanjutnya.

"Mahal sekali..." gumam Kiba, "memangnya ada yang pernah rusak di dorm ini?"

"Karena biaya kerusakan terkecil pun sudah disebutkan oleh Madam Shijimi, mungkin senior kita yang pernah menghuni di dorm ini sudah pernah merusakkan sesuatu," jawab Shikamaru.

"Lalu, jika kalian sakit, mohon berkata jujur, laporkan kepada teman dan minta sampaikan kepada Madam Shijimi atau berhadapan langsung dengan Madam, maka kalian akan dibuatkan surat izin sakit dari Madam kepada pihak sekolah, dan kalian tidak diizinkan untuk keluar dari dorm sampai ada murid yang kembali ke dorm. Bila penyakitnya parah, maka tim medis dari Konoha Private School akan membawa kalian ke rumah sakit dan menghubungi orang tua masing-masing," lanjut Shikamaru.

"Sekian peraturan dorm 1101, ada pertanyaan?"

"Ano..." Sakura mengangkat tangannya.

'Bahkan di luar kelas pun ia adalah orang yang kritis...' batin Shikamaru, "ada apa?"

"Apakah kita diperbolehkan untuk keluar dari area dorm maupun sekolah saat akhir pekan? Misalnya, pergi jalan-jalan ke mall, ke taman, dan berbagai tempat lainnya?" tanya Sakura.

"Oh, itu," Shikamaru seperti teringat sesuatu, "boleh, asalkan kalian meminta izin dan memberi tahu kemana kalian akan pergi kepadaku atau Madam Shijimi."

"Bagaimana jika kita ingin mengunjungi dorm teman?" tanya Sakura lagi.

"Itu tidak dilarang, asalkan kau sudah meminta izin kepada Madam atau aku," Shikamaru menjawab pertanyaan Sakura lagi.

"Baiklah..." kata Sakura sambil tersenyum, puas karena semua pertanyaannya sudah terjawab.

"Bisa nge-date sama Sakura-chan ke mall~" bisik Naruto pada Sasuke. Sasuke, yang mendengar itu, ingin sekali facepalm, namun ia tahan karena tidak ingin ditanya kenapa oleh Shikamaru atau yang lain.

"Baiklah... bila ada pertanyaan lain, hampiri aku saja. Rapat selesai disini."


Jam dinding menunjukkan pukul 12:30 tengah malam. Biasanya, Sasuke mulai mengantuk atau malah sudah tertidur sekitar pukul 11:30, namun ia masih belum bisa tertidur, walaupun ia sudah berbaring di atas tempat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut. Selagi mencoba tidur, hal yang ia lakukan adalah berganti posisi tidur setiap lima belas menit. Ia pun duduk dan mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Tidak biasanya ia mengalami insomnia, apalagi begadang, jika tidak dibantu oleh kopi. Namun, sepertinya ia menemukan obat baru untuk menjaganya dirinya tidak tidur sampai larut malam.

Tok, tok, tok...

Tiba-tiba Sasuke mendengar pintunya diketuk, dan matanya refleks menatap ke arah pintunya. Beberapa detik kemudian...

"Teme..."

"Hmph..." Sasuke mendengus, mengetahui ternyata Naruto lah yang mengetuk pintu kamarnya.

"Masuk."

Naruto pun membuka pintu kamar Sasuke dengan pelan, lalu menemukan sosok sahabatnya itu yang masih terbangun. Naruto membawa sebuah buku cetak, buku tulis, dan sebuah pensil bersamanya.

"Kau belum tidur? Tumben," kata Naruto, melangkah masuk ke dalam kamar Sasuke, lalu menutupnya. Naruto sendiri pun tau akan kebiasaan Sasuke yang memiliki waktu tidur yang teratur, kecuali jika kopi sudah masuk ke dalam tubuhnya.

"Ya..." jawab Sasuke dengan datar, lalu melihat ke arah tangan Naruto, "kau belum mengerjakan PR?"

"Hehe~" Naruto tersenyum, "ada beberapa nomor yang aku tidak bisa kerjakan, apakah kau sudah menyelesaikannya?"

"Hmm? Mana, coba kulihat," kata Sasuke, lalu membuka selimutnya, dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Naruto pun duduk di samping Sasuke dan memberikan buku cetak, buku tulis, dan pensilnya.

Perlahan Sasuke membaca soal-soal di buku cetak itu, lalu mengingat kembali jawaban yang ia tulis ke dalam buku tulisnya, "cara mengerjakannya itu seperti ini," Sasuke menjelaskan kepada Naruto, dengan Naruto yang memperhatikan Sasuke menuis-nulis di buku tulisnya, mencoba mengingat langkah demi langkah untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Salah satu dari keuntungan dorm yang disediakan oleh Konoha Private School ini yaitu setiap kamar didesain kedap suara. Sepanjang apapun penjelasan Sasuke kepada Naruto untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya, suaranya tidak akan tembus sampai ke kamar di sebelahnya atau ke luar kamarnya.

"Kau mengerti?" tanya Sasuke pada Naruto seusai menjelaskan.

"Ya... sepertinya," kata Naruto sambil tersenyum lebar.

"Kau ini..." kata Sasuke, heran karena Naruto sangat susah diajarkan, mau bagaimanapun caranya.

"Hehe~ aku akan mencoba mengingat lagi nanti," Naruto pun mengambil buku dan pensilnya dari Sasuke, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur milik sahabatnya.

"Hei, kasurmu lebih nyaman dari punyaku!" Naruto berguling-guling di atas kasur dan merasa nyaman karena kasur milik Sasuke terasa lebih empuk dan nyaman, membuat siapapun yang berada diatasnya langsung mengantuk.

Namun Naruto merasakan ada sesuatu yang salah, maka ia pun menoleh pada Sasuke. Ya, bukannya Sasuke memperhatikan Naruto dengan wajah heran setiap kali Naruto melakukan hal yang tidak penting, Sasuke masih diam pada posisinya. Duduk di pinggir tempat tidur, melihat ke lantai dengan tatapan kosong.

"Oi, teme, kenapa kau?" Naruto pun kembali duduk dan memasang wajah kebingungan pada Sasuke.

"Sakura..."

"...sudah punya kekasih, ya?"

"Hah?" Naruto terkaget saat Sasuke melontarkan pertanyaan tentang Sakura, dan beberapa detik kemudian, Naruto tertawa lepas.

"Hei... aku serius," kata Sasuke, menanggapi reaksi Naruto saat mendengar pertanyaannya.

"Kau ini," Naruto masih menahan geli di perutnya akibat pertanyaan dari sahabatnya yang terkenal dengan panggilan 'Pangeran Es' ini, "iya, dan dia adalah saudaramu sendiri, Uchiha Shisui."

Uchiha Shisui. Lelaki yang Sasuke lihat kemarin menghampiri Sakura dan menggandeng tangannya, berjalan pulang bersama, adalah saudaranya sendiri, dan juga kekasih Sakura. Tak heran lagi jika Sasuke sampai mematung saat melihat Sakura dan Shisui bergandengan tangan, terlihat bahagia, karena Shisui adalah saudaranya sendiri, dan juga kekasih dari Sakura, perempuan yang saat ini menarik perhatiannya. Saudaranya dan perempuan yang menarik perhatiannya adalah sepasang kekasih. Sasuke masih belum bisa menerima fakta tersebut.

"Kau tidak tahu soal itu? Padahal kau dan dia sama-sama berasal dari keluarga Uchiha," timpal Naruto.

"Aku tahu soal dia masuk SMA Konoha Private School, tapi aku tidak peduli soal dimana kelas dia atau dengan siapa dia berpacaran," kata Sasuke, berusaha menahan emosinya.

"Oh, begitu," Naruto sudah pernah bertemu dengan Shisui, berkat bersahabat dengan Sasuke, jadi ia sesekali diundang ke pesta keluarga Uchiha, begitu juga dengan saudara-saudara Sasuke yang lain, "tapi kudengar dia biasa-biasa saja dalam bidang akademik kalau dibandingkan dengan dirimu."

"Hn," jawab Sasuke singkat, sudah tahu bahwa posisi Sasuke dalam bidang akademik berada di atas Shisui, dan keluarga besar Uchiha sering memuji Sasuke soal itu.

"Berarti, kau mulai peduli dengan Sakura-chan, ya?" tanya Naruto sambil tersenyum lebar.

"T-Tidak," bantah Sasuke, "hanya berpikir, mengapa murid sepintar dia masih sempat untuk berpacaran," Sasuke membuat alasannya secepat kilat.

"Hehe, jadi begitu~" Naruto tersenyum puas, lalu bangkit dari tempat tidur Sasuke.

"Aku hanya ingin mengingatkan saja..." Naruto berjalan ke arah pintu kamar Sasuke dan menoleh pada Sasuke saat hendak membuka pintunya. Sasuke langsung menoleh ke arah Naruto, penasaran akan apa yang akan ia katakan selanjutnya.

"Aku pun yang sudah mempunyai pacar masih bisa tergoda oleh Sakura-chan, dan kudengar hampir seluruh siswa sampai senior di atas kita menyukai Sakura-chan."

Sasuke menelan ludahnya. Hampir seluruh siswa?

"Sebaiknya kau tidur sekarang, teme, kau akan terlihat sangat bodoh jika kau jatuh tertidur di atas meja seperti waktu SMP dulu," Naruto mengungkit masa lalu mereka dimana Sasuke terlalu memaksakan dirinya untuk begadang demi menyelesaikan sebuah tugas kelompok sampai ia jatuh tertidur di atas meja.

"Diam kau," Sasuke kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

"Hehe, oyasuminasai," ucap Naruto sebelum menutup pintu kamar Sasuke dan kembali ke kamarnya.

'Shisui...' Sasuke memanggil nama saudaranya itu didalam hatinya, masih tidak percaya bahwa saudaranya sendiri adalah kekasih dari perempuan yang menarik perhatiannya saat ini. Entah kenapa, dia tidak bisa menerima faktanya bahwa Sakura sudah mempunyai kekasih.

'Apa-apaan aku ini,' batin Sasuke, mengacak rambutnya, lalu membetulkan posisi tidurnya, kali ini benar-benar siap untuk tidur. Kurang dari satu jam, Sasuke kali ini berhasil terlelap.


"Pagi ini, aku akan membagi kalian dalam beberapa kelompok," Kakashi membuka sesi pembinaan di pagi hari ini dengan rencana membagi murid kelas 11-A menjadi beberapa kelompok, untuk memudahkan adanya tugas merangkum atau kelompok belajar. Ia pun mengangkat sebuah kotak kecil berisi gulungan-gulungan kertas. Setelah sesi pembinaan, kelas pertama yang akan diajar oleh Kakashi di hari itu adalah kelas 11-A, jadi ia memanfaatkan waktu tersebut untuk mengadakan undian penentuan kelompok.

"Saya akan membagi kalian menjadi sembilan kelompok, namun jumlah kalian ada 28 anak, jadi ada satu kelompok yang memiliki empat anggota," kata Kakashi, sambil menggoyang-goyangkan kotak undiannya untuk mengacak kertas-kertas undian.

Kakashi pun menyuruh satu persatu anak muridnya mengambil kertas undian dari dalam kotak yang ia bawa itu, dimulai dari anak yang duduk di baris paling depan dan paling dekat dengan pintu, lalu berlanjut ke sampingnya hingga anak yang duduk paling dekat dengan jendela, lalu urutan pengambilan undiannya menjadi zig-zag.

"Kalian semua sudah dapat kertasnya?" tanya Kakashi sambil melihat ke satu persatu murid-muridnya, "kalau begitu, silahkan buka gulungan kertas itu."

Semua anak pun membuka gulungan kertas undian itu, sesuai dengan perintah wali kelasnya, yang ternyata isi di dalam kertas itu adalah sebuah angka, dari satu sampai sembilan. Mereka semua langsung bertanya ke teman-teman di sekitar bangku mereka untuk mencari tahu jika teman yang duduk di sekitar bangku mereka mendapatkan nomor yang sama atau tidak.

"Tujuh..." gumam Sasuke sambil melihat ke kertas undian yang ia dapatkan.

"Oi, teme! Aku dapat tujuh! Kau dapat berapa?" tanya Naruto yang langsung membalikkan badan kepada Sasuke. Sasuke sedikit terkejut mengetahui bahwa Naruto mendapatkan nomor yang sama dengannya, tapi ia langsung menanggapi pertanyaan Naruto dengan memutar balikkan kertasnya kepada Naruto, menunjukkan angka tujuh pada Naruto.

"EEEEEH!?" Naruto berteriak sangat keras saat melihat Sasuke mendapatkan angka yang sama dengannya, "lalu, siapa ya, yang akan berada di kelompok yang sama dengan kita..." Naruto menjadi penasaran.

"Entahlah," namun Sasuke cuek dengan hal itu.

"Baiklah, siapa yang mendapatkan kertas nomor satu?"

Kakashi mengkonfirmasi sambil mencatat nama anak-anak yang sudah dibagi menjadi beberapa kelompok itu. Ia mulai dari kelompok satu, dua, tiga, empat, lima, dan enam.

"Sejauh ini anggota tiap kelompok masih tiga orang saja ya," Kakashi tiba-tiba lupa akan pengaturan anggota kelompok untuk murid kelasnya, yang disambut oleh tawa dari para muridnya. Tak disangka, Hatake Kakashi-sensei, menurut yang mereka dengar dari guru yang lainnya, adalah sosok yang teliti. Tapi kali ini, Kakashi memperlihatkan sisi humorisnya kepada para muridnya.

"Hah... maafkan aku," mungkin Kakashi tersenyum di balik maskernya, karena ia menunjukkan matanya yang juga tersenyum, atau bisa dibilang ia menunjukkan sebuah eyesmile kepada para muridnya.

"Baiklah, selanjutnya... tim tujuh," Kakashi memanggil, sambil melihat ke arah para muridnya untuk melihat siapa yang mengangkat tangannya.

"Uzumaki Naruto... Uchiha Sasuke..." Kakashi mencatat selagi melirik.

"Haruno Sakura."

Saat Kakashi menyebutkan nama Sakura, itu berarti Sakura juga mendapatkan kertas undian dengan angka tujuh. Mendengar nama Sakura disebut, Sasuke, sambil mengangkat tangannya, menoleh ke arah Sakura, yang juga mengangkat tangannya, dan juga sedang melihat ke arahnya, keduanya memasang ekspresi terkejut kepada satu sama lain. Setelah beberapa detik, Sasuke kembali melihat ke arah Kakashi, begitu juga dengan Sakura.

"Oke, kalian boleh turunkan tangan kalian..." Naruto, Sasuke, dan Sakura pun menurunkan tangannya menurut perintah Kakashi.

"Yah, setidaknya ada dua tutor handal yang bisa mengajarkan Naruto," canda Kakashi.

"Oi, Kakashi-sensei!" Naruto terkejut dengan candaan Kakashi yang ditujukan pada dirinya, maka ia berteriak sambil menunjuk kepada Kakashi.

"Maaf, maaf," kata Kakashi.

Selagi Kakashi mengkonfirmasi dan mencatat ke dalam agendanya, Sasuke sekali lagi melirik ke arah Sakura, yang bangkunya selang satu meja di sampingnya. Kelas 11-A memiliki 28 bangku, empat kursi menyamping dan tujuh ke belakang. Sasuke dan Sakura sama-sama duduk di barisan paling belakang. Sasuke duduk di nomor dua dari pintu belakang kelas, dan Sakura duduk paling dekat dengan jendela.

Sasuke teringat kembali akan misinya untuk mengalahkan Sakura dalam bidang akademik, namun terhadang karena tanpa ia sadari, ia terpesona akan paras cantik Sakura, yang otomatis menarik perhatiannya, dan itu tidak pernah terjadi sampai saat ini. Kesempatan pembagian kelompok belajar ini membuat ia kembali membangkitkan semangatnya untuk mengalahkan Sakura. Bagaimanapun juga, Sasuke tidak sudi dikalahkan oleh perempuan dalam bidang apapun yang ia kuasai.


SMA Konoha Private School memiliki kantin yang cukup luas, makanan yang bervariasi yang sehat dan lezat dengan harga yang terbilang reasonable, serta tersedia banyak meja, namun beberapa meja sengaja disebarkan di area luar kantin, di halaman sekolah, di atas rumput hijau dan dibawah pohon, demi siswa yang ingin menikmati suasana makan, mengobrol, atau mengerjakan sesuatu di alam terbuka, menikmati angin sejuk di bawah pohon. Naruto dan Sasuke sedang makan siang bersama di bangku yang berada di luar kantin.

"Ramen-nya sangat enaaaaaaaak~!" Naruto baru saja menghabiskan ramen yang ia beli di kantin sekolah. Disebelahnya, duduk Sasuke yang masih fokus ke roti isi tuna, seledri, keju, dan tiga lapis irisan tomat yang sangat ia cintai. Naruto melihat Sasuke penuh dengan rasa penasaran saat melihat Sasuke menutup matanya sambil menikmati rasa tomat yang ia kunyah di dalam mulutnya, setengah bagian dari irisan tomat menggantung keluar dari mulutnya.

"Teme, kau terlihat seperti orang bodoh dengan bagian tomat yang menggantung keluar dari mulutmu," Naruto tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya yang pecinta tomat itu.

"Berisik," karena diledek Naruto, Sasuke pun melahap semua bagian tomat itu, mengunyahnya dan merasakan asam dari tomat itu.

"Tapi aku penasaran," Naruto menaruh sikunya di atas meja dan menopang dagunya dengan telapak tangannya, "sebenarnya tomat itu buah atau sayur?"

Sasuke pun meneguk seluruh isi makanan yang ada di dalam mulutnya, siap menjawab pertanyaan Naruto, "secara botani, tomat adalah buah, namun secara kuliner, tomat adalah sayur. Jika dimakan mentah-mentah, maka tomat adalah buah, namun jika dicampur atau dimasak dan menjadi bagian dari sebuah masakan, maka tomat adalah sayur. Tergantung bagaimana kau memakannya," Sasuke menjelaskan secara panjang dan lebar kepada Naruto. Tidak salah lagi, Sasuke si pecinta dan pengamat tomat.

"Heee..." Naruto mengangguk-angguk mendengar penjelasan Sasuke.

"Yo, Sasuke!" Sasuke mendengar namanya dipanggil, namun ia malas menoleh jika itu adalah kakak kelas laki-laki yang mengingatkannya untuk tidak mendekat kepada siswi yang kakak kelas itu sukai, akibat mendengar rumor bahwa siswi itu menyukai Sasuke, walaupun Sasuke sendiri tidak melakukan apapun dan tidak berniat melakukan apapun terhadap siapapun siswi itu. Namun ia tetap menoleh karena suara yang memanggil namanya terdengar familiar.

"Yo!" siswa berambut putih yang lurus mencapai dagunya dengan bola mata berwarna ungu dan gigi-gigi yang tajam menyapa Sasuke sambil berjalan mendekat.

"Suigetsu?" Sasuke menyapa balik orang yang menyapanya. Houzuki Suigetsu, teman Sasuke yang tinggal di satu komplek perumahan dengannya.

"Oh!" Naruto juga mengenali Suigetsu sebagai sesame teman yang sering berkunjung ke rumah Sasuke.

"Yo, Naruto!" Suigetsu pun menyapa Naruto juga, lalu duduk di sebelah Naruto, diagonal-nya Sasuke.

"Yo, kita bertemu lagi!" kata Naruto, sambil menepuk bahu Suigetsu.

"Kau membatalkan rencana pindah sekolah?" tanya Sasuke, mengingat Suigetsu pernah berkata pada Sasuke bahwa ia akan pindah sekolah dengan beberapa alasan.

"Aku mengubah pikiranku," kata Suigetsu, "aku memilih untuk berjuang disini."

"Baguslah," kata Sasuke sambil menyeringai.

"Oh, kau disini rupanya," seorang siswa berambut oranye model jabrik dengan bolat mata oranye tua menghampiri Sasuke, Suigetsu, dan Naruto, sambil membawa nampan berisi tempura donburi.

"Hooo! Juugo!" sapa Naruto dengan wajah sangat bahagia. Juugo juga tinggal di satu komplek perumahan yang sama dengan Sasuke dan Suigetsu. Mereka bertiga sering bermain saat mereka masih kecil sampai SMP, hanya saja hal yang mereka mainkan sejak kecil dan sejak SMP berubah. Dari bermain kelereng dan petak umpet, menjadi bermain video game console. Jika Naruto datang berkunjung, mereka berempat menjadi lebih ramai.

"Sudah lama tidak bertemu," kata Juugo, lalu duduk di samping Sasuke, berhadap-hadapan dengan Suigetsu. Walaupun tinggal di satu komplek perumahan, Suigetsu dan Juugo tidak selalu berkunjung ke rumah Sasuke. Mereka biasanya lebih suka bermain di luar, itupun juga tidak sering. Beda dengan Naruto yang sering sekali berkunjung ke rumah Sasuke, bolak-balik naik kereta bawah tanah yang sudah biasa bagi Naruto, dan sudah dianggap seperti penghuni rumah Sasuke. Sasuke juga berkunjung ke rumah Naruto sebagai gantinya. Dia malah heran dengan Naruto yang mempunyai segalanya yang ada di rumah Sasuke, tapi tetap sering berkunjung ke rumah Sasuke. Sepertinya inilah nasib anak tunggal seperti Naruto. Tapi kenapa tidak menyuruh Sasuke saja yang datang ke rumah Naruto? Jawabannya hanya satu dan tidak bisa diganggu gugat; Sasuke tidak suka disuruh.

"Hn," Sasuke menanggapi, "kalian dari kelas apa?"

"Kami berdua dari kelas 11-C," jawab Suigetsu.

"C... tidak seburuk itu," pikir Naruto, mengingat ada lima kelas di setiap angkatan ada lima, yang terbaik yaitu 11-A dan yang terburuk itu 11-E.

"Kami berada di tengah-tengah, dan ini sedikit rumit. Kami tidak pintar, juga tidak bodoh, namun tetap saja, mengejar nilai sempurna itu susah," kata Juugo, sambil menyuapi makanannya.

"Rajin-rajin saja mencari jawaban sendiri, atau lebih dari itu," Sasuke memberikan saran kepada Suigetsu dan Juugo, lalu meneguk air mineral yang ia bawa dengan termos.

"Heh, itu dia!" Naruto menyetujui saran Sasuke.

"Dobe, kau bisa masuk ke kelas 11-A karena aku," kata Sasuke.

"O-oi, jangan mempermalukan aku seperti itu!" sahut Naruto, sambil menunjuk ke arah Sasuke. Suigetsu dan Juugo tertawa karena ulah Sasuke yang bisa sesekali jahil terhadap Naruto yang terkenal paling jahil dari yang paling jahil.

"Kau memang jahil, tapi bisa mendapatkan seorang kekasih ya," kata Suigetsu.

"I-Itu... itu beda lagi! Hehehe," Naruto tertawa malu sambil menggaruk kepalanya.

"Dobe..." Sasuke heran dengan sahabatnya ini, 'kalau soal berpasangan, dia menjawab dengan sangat baik.'

'Pasangan, ya...' batin Sasuke lagi, sambil menatap ke langit.

Di dalam Konoha Private School, selain termasuk golongan murid berprestasi, Sasuke termasuk golongan murid yang kaya. Keluarga Uchiha yang terkenal dengan kekuasaannya di Konoha Military Police Force, organisasi peradilan milik Konoha, dikuasai sepenuhnya oleh keluarga Uchiha, dengan pemimpinnya saat ini yaitu Uchiha Fugaku, ayah Sasuke. Walaupun memiliki keluarga yang kaya raya, hidup Sasuke entah kenapa selalu merasa kesepian. Ayah yang berjabatan tinggi dan sangat sibuk, lalu ibunya seorang businesswoman yang memiliki jabatan sebagai pemimpin perusahaannya dan juga sangat sibuk, kakak laki-laki yang sibuk namun masih sesekali menemani Sasuke, hidupnya kesepian setelah ia memasuki sekolah dasar kelas lima, dimana orang tuanya berpikir bahwa Sasuke sudah berkembang menjadi anak yang cerdas dan hampir tidak butuh bantuan mereka, dan Sasuke semakin tidak diperhatikan lagi setelah orang tuanya melihat Sasuke telah memiliki jakun dan saat Sasuke bertanya soal mimpi yang didapatkan semua kaum Adam kepada ayahnya. Sasuke yang sudah besar tidak lagi diurus oleh kedua orang tuanya, kecuali urusan uang, namun bisa saja walaupun Sasuke tidak memintanya, uang itu sudah ada di dalam rekening bank yang dibuatkan orang tuanya saat Sasuke masih kecil. Bila ada bantuan di dalam rumah, ia lebih meminta kepada para pembantunya di rumah, mengingat orang tuanya jarang sekali ada di rumah. Sasuke sesekali bersyukur memiliki seorang kakak dan mengenal Naruto semenjak masuk taman kanak-kanak, namun dirinya tetap merasa kesepian disaat kakaknya sedang sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya atau memang sudah waktu bagi kakaknya untuk istirahat, atau disaat Naruto pulang ke rumahnya setelah menghabiskan waktu di rumah Sasuke.

Sasuke sangat membutuhkan seseorang untuk menemani dirinya, menjaganya, mengurusnya, membantunya, berada di sampingnya, menasihatinya, untuk mengobati rasa kesepiannya, dan ia bisa merasakan kebutuhan untuk ditemani itu semakin besar saat umurnya semakin bertambah. Dan mungkin sudah saatnya baginya untuk mempunyai orang semacam itu.

Yang sudah pasti artinya ia ingin memiliki seorang kekasih.

'Tch,' batin Sasuke, 'apa tidak ad acara lain selain memiliki seorang kekasih untuk menemani diriku?' pikirnya lagi.

"Sakura! Nanti kita berbicara lagi ya lewat chat!" seorang siswi terlihat sedang berjalan keluar kantin bersama Sakura dan mereka hendak berjalan ke arah yang berlawanan. Sasuke, mendengar nama Sakura disebut, langsung menangkap sosok siswi berambut pink itu. Ia menatap siswi itu dengan tajam, tanpa pikiran apapun.

"Un! Nanti sore, aku akan menghubungimu!"

Dan mungkin inilah tipe orang yang Sasuke inginkan untuk menemani hidupnya.


"Hari ini lumayan hangat ya~" kata Ino, sambil berjalan pulang dari sekolah ke dorm-nya bersama Tenten, Hinata, dan Sakura.

"Un! Karena itu, aku hanya memakai syal keluar," timpal Tenten, diikuti anggukan tanda setuju dari Hinata dan Sakura.

"Aku sangat suka musim semi~ peralihan dingin ke hangat," kata Ino, sambil melihat ke sekelilingnya.

"Sakura, bungamu masih bermekaran, ya!" kata Ino, sambil melihat ke pohon-pohon ceri di sepanjang jalan dengan bunga yang masih mekar, berwarna merah muda, satu persatu kelopak berjatuhan dengan indah ke tanah.

"Iya, indah sekali, ya," Sakura melihat ke sekelilingnya dengan mata berbinar-binar.

"Apa kita harus berhenti sebentar untuk mengambil foto bersama pemandangan ini?" kata Ino, sambil mengeluarkan ponselnya dari kantong jas seragamnya.

"Ayuk! Tidak apa-apa, kan, Sakura, Hinata?" kata Tenten, lalu menoleh ke Sakura dan Hinata.

"Tidak apa-apa! Aku suka dengan pemandangan ini!" kata Sakura, menyetujui ajakan Ino dan Tenten.

"B-Biar aku yang mengambil gambarnya..." Hinata menawarkan diri untuk memotret Ino, Tenten, dan Sakura.

"Kau harus ikut berfoto bersama kami~" kata, Ino, lalu merangkul Hinata.

"Kita selfie saja!" kata Sakura.

"Ide bagus!" Ino pun membuka aplikasi kamera di telepon genggamnya, menempatkan posisinya di paling pinggir agar bisa mengatur bagaimana mereka berempat bisa masuk ke dalam satu frame beserta pemandangan pohon ceri di belakangnya.

"Oke! Bilang, cheese!" Ino memencet tombol capture, lalu mereka berempat bergegas melihat hasil foto itu di telepon genggam Ino.

"Hasilnya bagus! Kirimkan foto ini padaku, ya," kata Sakura, sangat puas melihat hasil foto mereka berempat, lalu mereka berempat kembali berjalan pulang.

"Pasti!" kata Ino, sambil memencet tombol-tombol di telepon genggamnya untuk mengirimkan foto mereka berempat kepada Sakura, "ngomong-ngomong, Sakura, tumben sekali kau tidak pulang bersama Shisui-san, ada apa?" tanya Ino sambil menoleh ke Sakura.

"Umm... dia ada urusan hari ini, jadi ia tidak bisa pulang denganku," kata Sakura, raut wajahnya yang bersinar tiba-tiba berubah menjadi muram.

"Oh, begitu..." Ino, yang menyadari ekspresi Sakura berubah, memutuskan untuk menyudahi pembicaraan tentang Shisui.

Tanpa mereka sadari, Sasuke berjalan sendirian di seberang mereka, namun posisinya berada di belakang mereka, sehingga mereka tidak begitu menyadari bahwa ada Sasuke di seberang jalan, ditambah anak-anak yang melewati jalan ini campuran dari anak kelas sebelas dan dua belas, maka agak sulit bagi para murid untuk mengidentifikasi jika yang berjalan di sekitar mereka itu kelas sebelas atau kelas dua belas.

'Shisui... tidak bersama Sakura?' Sasuke mendengar pembicaraan empat siswi itu, 'kemana ya dia?' pikirnya lagi, sambil melihat ke kiri-kanannya.

'Mungkin kegiatan ekstrakulikuler,' pikir Sasuke, mengingat kegiatan ekstrakulikuler sudah dimulai sejak hari itu.

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya.

"Sa-su-ke~" siswa bertubuh sedikit lebih tinggi dari Sasuke, dengan rambut hitam yang panjang dan diikat, poni belah tengah yang panjang dan membingkai kedua sisi wajahnya—mirip Sasuke, barbola mata hitam bagaikan batu onyx, dengan garis kerutan yang panjang diantara mata dan batang hidungnya.

"Aniki," Sasule terkejut melihat sosok yang merangkulnya adalah kakak kandungnya, Uchiha Itachi.

"Aku mencarimu kemana-mana sejak kemarin," kata Itachi, "akhirnya, kali ini aku bisa bertemu denganmu sesering mungkin, walaupun hanya satu tahun," lanjutnya sambil tersenyum.

"Maa," Sasuke tidak tau harus berkata apa dengan perkataan Itachi, walaupun ia merasa sedikit lega karena kakaknya berada di sekolah yang sama dengannya.

"Bagaimana kelas sebelas? Menyenangkan?" Itachi memulai pembicaraan.

"Baru hari kelima, jadi aku belum bisa memberikan komentar," jawab Sasuke.

"Oke," kata Itachi, "bagaimana dengan dorm-mu? Menyenangkan?"

"Aku tidak begitu sering keluar dari kamarku," jawab Sasuke lagi.

"Hmm, wali kelasmu siapa?" tanya Itachi lagi.

"Hatake Kakashi-sensei," jawab Sasuke.

"Kakashi-sensei, ya... dia bisa pelit nilai dan sangat teliti, walaupun kelihatannya tidak serius, jadi hati-hati," kata Itachi, mengingatkan adiknya, menjadi kakak yang penyayang seperti biasanya.

"Hn," jawab Sasuke, tanda mengerti.

"Kau ini, tidak pernah berubah ya sejak dulu," tangan Itachi yang merangkul Sasuke naik ke atas kepala adiknya dan mengacak rambutnya, bermaksud untuk bercanda.

"Berisik," Sasuke menepis tangan Itachi pelan, lalu merapihkan rambutnya. Itachi tertawa kecil melihat adiknya yang selalu bersikap dingin dan tidak pernah merubahnya sejak kecil.

Itachi pun melihat ke sekitarnya sambil berjalan di samping adiknya, lalu matanya menangkap sosok siswi berambut merah muda yang berjalan di seberang jalan dan tak jauh darinya.

"Itu, kekasihnya Shisui, kan? Sakura-san, bukan?" tanya Itachi, melihat ke arah Sakura. Beda dengan Sasuke, Itachi selalu up-to-date mengenai informasi tentang keluarganya, sampai ia mengetahui tiap kekasih yang saudara-saudaranya miliki. Sasuke melirik ke arah Itachi melihat.

"Aa," jawab Sasuke singkat.

"Cantik sekali, ya," ujar Itachi saat melihat wajah Sakura yang sedang tersenyum, "bahkan aku pun ingin memiliki kekasih secantik dia."

"Kau sudah punya Konan-senpai," Sasuke mengingatkan kakaknya supaya tidak mengalihkan pandangannya dari kekasihnya, yang juga kakak kelas Sasuke di Konoha Private School, satu angkatan dengan Itachi, tentunya.

"Aku tahu, tapi Sakura-san pantas mendapat pujian," kata Itachi.

"Lagipula, siapa kau, memanggilnya dengan nama kecilnya," komentar Sasuke, melupakan tentang dirinya yang juga memanggil Sakura dengan nama kecilnya.

"Maaf," kata Itachi, sambil tersenyum.


Malam itu, Sakura berjalan turun dari tangga, hendak memeriksa kulkas jika persediaan susu masih ada, karena ia ingin meminumnya sebelum ia tidur. Ia mengenakan baju hangat dan celana pendek seperti beberapa hari sebelumnya, berjalan menuruni anak tangga dengan pelan, menguap selama beberapa detik, berjalan masuk ke dapur dan membuka pintu kulkas. Ia mengambil sekotak susu putih, mengambil sebuah cangkir kecil, dan menuangkan susu itu. Supaya tidak harus bolak-balik, ia naik dan duduk di meja dapur, sambil meminum secangkir susu. Kurang dari sepuluh menit, susu itu sudah ia habiskan. Ia turun dari meja dapur dan mencuci cangkir itu, mengeringkannya, lalu menaruhnya kembali di rak cangkir.

Ia mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya selagi berjalan keluar dari dapur, namun matanya sempat menoleh ke arah lain, yaitu teras, dan ia melihat seseorang sedang duduk sendirian disitu. Ia berhenti berjalan dan berusaha mengingat ciri-ciri dari orang yang duduk di teras itu.

"Uchiha-san?" gumamnya, setelah mengetahui bahwa yang duduk di teras adalah Sasuke. Ia pun segera kembali ke dapur dan membuat secangkir teh tanpa gula. Lalu ia berjalan ke teras.

Sasuke menatap ke arah tanaman yang menghiasi halaman dorm dengan tatapan yang kosong, pikirannya melayang, memikirkan tentang keluarga dan rumahnya. Ia yakin, bahwa ayah dan ibunya masih tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing, supir-supir yang bekerja di rumahnya kini khusus untuk mengantarkan kedua orang tuanya ke tempat kerja masing-masing, namun pembantu-pembantunya semakin bingung karena rumah kini menjadi lebih sepi, kamar Sasuke dan Itachi tidak lagi berantakan, jadi apa yang harus dibersihkan selain kamar orang tuanya, yang pulang ke rumah seperti hanya untuk numpang tidur dan sarapan? Sarapan pun jika mereka masih punya waktu, apalagi makan malam, yang biasanya orang tua Sasuke dan Itachi lebih sering makan di restoran bersama rekan kerja, atau kliennya. Makan malam di rumah jika mereka tidak sedang bersama rekan kerja atau klien dan lebih memilih untuk makan malam di rumah dan mengobrol dengan satu sama lain; berbagi cerita sebagai sepasang suami istri. Namun hal itu jarang terjadi, jadi kalau dipikir-pikir lagi, pembantu-pembantu di rumah akan memakan gaji buta untuk setahun kedepan, sampai Itachi lulus dan kembali lagi ke rumah. Itupun kalau ia belum memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya dan membeli rumah baru. Ia menghela nafas cukup panjang.

"Uchiha-san?" Sakura pun menepuk bahu Sasuke, yang membuat Sasuke terkejut dan langsung menoleh ke belakang.

"Sakura?" Sasuke terkejut melihat Sakura menghampiri dirinya, membawa secangkir teh, "kau belum tidur?"

"Aku hendak tidur," kata Sakura, sambil duduk di samping Sasuke, "namun aku memutuskan untuk meminum susu, maka aku turun ke bawah, namun aku melihatmu sedang duduk sendirian disini," lanjutnya.

"Ini sudah larut malam, kau sebagai perempuan harus tidur," kata Sasuke.

"Kau juga, sebagai seorang siswa, harus mendapatkan tidur yang cukup, supaya tetap sehat," kata Sakura, mengikuti perkataan Sasuke, "diluar dingin, maka aku membuatkan teh untukmu," Sakura memberikan secangkir teh yang ia buat kepada Sasuke. Sejenak, Sasuke terkejut dengan apa yang Sakura lakukan untuknya.

"Terima kasih," kata Sasuke, menerima secangkir teh itu, lalu meneguknya sedikit, 'hangat,' pikirnya.

"Apa yang kau lakukan, duduk sendirian disini?" Sakura sedikit menunduk dan melihat ke wajah Sasuke.

"T-Tidak apa-apa," Sasuke, yang wajahnya ditatap, berusaha mengontrol dirinya.

"Heee..." Sakura sedikit heran.

"Hanya memikirkan tentang keluargaku di rumah," Sasuke memberikan jawaban yang singkat namun mudah dipahami oleh Sakura. Jika itu tentang keluarga dan status mereka masih belum begitu dekat dengan satu sama lain, maka Sasuke sedang memikirkan sesuatu yang menyangkut privasinya.

"Oh, begitu," Sakura tersenyum, lalu berdiri, "jangan terlalu lama disini, ya. Diluar dingin, nanti kau malah sakit," lanjutnya, sambil berjalan masuk ke dorm. Lagi, Sasuke sedikit terkejut dengan perkataan Sakura.

"Oh ya, jangan lupa mencuci cangkir itu, ya, sebelum kau naik ke atas untuk tidur," Sakura meninggalkan pesannya, lalu masuk ke dalam dorm.

"Aa," jawab Sasuke singkat.

Saat dirasakannya bahwa Sakura sudah agak jauh ke dalam dorm, Sasuke menoleh dan menatap Sakura yang berjalan naik ke kamarnya. Ia mengingat kembali semua yang Sakura lakukan padanya; membuatkan teh karena diluar dingin, bertanya apa yang ia lakukan selagi duduk sendirian di teras, mengingatkannya untuk tidak lupa mencuci cangkir sebelum tidur.

'Rasanya...' Sasuke memegang dada kirinya, merasakan jantungnya berdegup kencang, teringat kembali akan kenangan semasa ia kecil, saat ia masih mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Ayahnya yang selalu bermain dengannya, mendengarkan cerita-ceritanya, mengajarkannya berdisiplin, dan memberi nasihat kepadanya, ibunya yang sangat lembut, penuh kasih sayang, membuatkan makanan dan minuman yang lezat untuknya dan keluarganya, dan melakukan hal yang sama seperti apa yang ia biasanya lakukan bersama ayahnya; bermain bersama, berbagi cerita, diajarkan disiplin, dan diberikan nasihat. Semua kenangan hangat di masa kecilnya yang ia sangat rindukan, Sakura membuatnya teringat akan hal itu.

.

.

'Mungkin aku...'

.

.

'membutuhkannya?'


Mwahahhahahhahhahahahahahhaaha~ aku gak tau deh kalo chapter ini ngena apa enggak. Ngena gak? :"D

Btw aku lupa pas di bagian sharing kemaren, tentang angka 4 sama 13, kalo ada yang penasaran, 4 dalam bahasa Jepang bisa dibaca yon atau shi, trus ada banyak banget huruf kanji untuk shi, salah satunya kanji yang punya arti "kematian" (bentuk kamus: shinu, artinya mati atau meninggal), makanya angka 4 buat orang Jepang itu kayak angka keramat~ trus angka 13 ya angka sial, masuk ke angka keramat juga. Kalo kalian pernah ke mall atau hotel atau gedung tinggi yang lantainya pake angka 3A dan bukan 4 yaa mungkin yang ngedesain atau yang punya orang Jepang(?) atau orang yang percaya sama hal-hal keramat =w=

Sharing di chapter ini, kata minna udah familiar belom buat kalian? Kalo belom, itu artinya semuanya/everyone, makanan tonkatsu itu makanan yang terdiri dari irisan daging babay yang digoreng pake tepung, disajikan pake irisan kubis, semangkok nasi, sama miso soup, sama aja kayak chicken katsu pake nasi tapi kalo tonkatsu udah jelas pake daging babay, soalnya ton dari tonkatsu pake huruf kanji yang berarti babay :3 tempura donburi ya simply tempura, seafood sama beberapa sayuran yang dilapisin adonan trus digoreng trus ditaroin diatas nasi. Donburi sendiri itu makanan isinya kalo bukan ikan, daging, atau sayur, atau malah campuran dari bahan itu yang dimasak trus disajikan diatas nasi. Singkatan tempura donburi itu tendon, tapi aku takutnya kalian jadi salah paham ke otot, bukan nama makanan :"D

Fufufufu diriku bahagia bacain review yang nebakin kemungkinan siapa yang jadi pacarnya Sakura~ ternyata Shisui~ :3 sengaja aku ambil dari Uchiha juga biar persaingannya ketat gitchu(?), padahal temen kampusku nyaranin Gaara aja, aduh, suman :"D berhubung gaada lagi review yang masuk pas aku nyelesain ini, mari balas review~

mii-chanchan2: Sudah terlanjut(?) :3

Miyuyuchan: Aduh makasih banyak /blush(?)/ hehe rencanaku mungkin juga bakal bikin Sakura menderita, tapi Sasuke menderita lebih karena perlakuan Sakura, atau
malah duaduanya menderita sampe mabok(?) :"3 maacih cuyunq~

Horyzza: Udah lewat dari siang di hari kamu nandain fic aku nih, udah dibaca belom? xD yeee malah di chapter depannya, yaudin, nih kamu wajib review di chapter ini ya pokoknya :3 canda deh wkwk salam kenal jugaaaa :D

GaemSJ: Wqwq maafkan daku :"3 sudah dilanjut! :3

Hwang Energy: Seriuuus? Garagara kebanyakan Sasuke nya sih ya jadi kayak dari sudut pandang Sasuke? :"D ya mungkin main characternya disini lebih ke Sasuke yaa walopun fokusnya harusnya ke Sakura juga :"3 terimakasih dan salam kenal juga! :)

hanazono yuri: Terlanjut(?) :)

Luca Marvell: Bukan duaduanya~ hehe udah disebutin kok di cerita ini :b

aka-chan: Terlanjut~ :3 yeeey tebakanmu salah xD /dor/

Aveena27: Tadaima dek~ iya ini langsung hurt, bablas dikit gavavah donq :v iya ini aku terusin kok~ aduh nanti deh aku pikirpikir buat fic gombalan, gombalanku udah kepake semua di RL :"3

AnGgi Cherryblossom: Jarang ya? :v - udah lama gak aktif jadi kudet :")
Iyah bakal kulanjutin sampe abis kok~ btw ah dirimu ngasih aku ide judul fic, makasih ya :"D

Ifaharra sasusaku: Terima kasih! Sudah kulanjut :3

Special thanks buat yang udah ngefollow sama ngefave, aku lupa siapa aja, notif emailnya mendelep, tapi pokoknya makasih banget, ai luph yu feri mach(?) OwO

Rumornya(?) sih aku punya dua minggu libur, jadi mungkin aku bakal ngehabisin waktu buat nulis chapter tiga lebih cepet. Jadi, sampai bertemu di chapter 3~ jangan lupa review atau kamu saya cubit~ :3 /gak