[ Pemilik Karakter Anime Naruto ]

[ Masashi Kishimoto ]

#Romance

#School

#Rated [ M = Dewasa ]

[ GUARDIAN ANGEL ]

BAGIAN KEDUA

Hinata hanya bisa menunduk sambil berjalan menulusuri koridor kelas. Dia hanya berpura-pura tidak mendengar semua gumaman para murid SMA Konoha, yang terus membicarakannya.

"Dia itu memang pintar tapi sayang matanya sangatlah menakutkan, semakin dia, diam semakin membuatku merinding."

Hinata mempercepat langkah kaki untuk melangkah maju menuju perpustakaan. "Aku harus cepat kesanan" gumamnya.

Dukh.

"Matamu yang mengerikan itu, sudah buta ya?, kalau jalan lihat kedepan!,"

Hinata melihat siapa yang membentaknya, dia membungkuk berberapa kali untuk meminta maaf, karena telah tidak sengaja menabrak Ino Yamanaka yang terkenal sangat galak.

"Ma-maaf, Ino-san. Aku tidak segaja.."

"Ooh, tidak segaja ya?"

Ino membimbing Hinata melihat kearah wajahnya. Tatapan yang sangat mengancam, Ino perlihatkan sangat jelas untuk memberitahu Hinata secara tidak langsung, bahwa dialah yang harus dihormati dan ditakuti.

"Cium sepatuku, cepat!" ucap Ino.

Sakura yang berada disebelah kiri Ino. Dia hanya merasa kasihan terhadap Hinata yang selalu Ino jaili sebagai penghilang rasa bosan.

"Maaf, aku tidak mungkin melakukan hal itu" gumam Hinata.

Murid yang ada ditempat itu, mereka memilih untuk pergi meninggalkan mereka bertiga. Sasuke melintas dengan kedua tangan didalam saku celana. Dia mendecih seakan merendahkan.

"Sa-sasuke-kun, kau mau kemana?"

Sakura bertanya tiba-tiba dan mengikuti Sasuke yang hanya diam sambil berjalan santai.

"Dasar jidat, dia malah pergi mengejar si sombong itu," gumam Ino, saat melihat Sakura mengikuti Sasuke.

"Hey, mata hantu. Cepat cium sepatuku, disini sudah tidak ada siapapun" ucap Ino tegas.

Hinata mengeleng beberapa kali mencoba menolak perintah Ino yang kali ini benar-benar kelewatan.

"Ino-san, aku sangat minta maaf. Aku ingin ke perpustakaan," ucap Hinata, dia pun langsung tertunduk takut.

"Dasar sok pintar, lebih baik kau mati saja daripada ke perpustakaan. Kau itu hanya kutu tanpa teman," ujar Ino.

"Woy! Hinata. Aku mencarimu loh!,"

Ino berbalik arah, dia melirik Hinata dengan ekspresi sinis.

"Sejak kapan kau punya teman?,"

"A-aku baru mengenalnya" jawab Hinata lirih.

"Hinata, kau ternyata disini, maaf menganggu ya. Aku boleh pinjam Hinata sebentar, aku ada perlu dengannya" ucap Naruto yang sedang mengaruk belakang kepalanya sendiri.

Ino pergi meninggalkan Hinata dan Naruto.

"Sombongnya," gumam Naruto.

"Hinata, kau kelihatan murung?, kau tidak apakan?" tanya Naruto.

Hinata menghela nafas, lalu dia mulai tersenyum. Naruto merasa bingung dengan sikap Hinata yang terlihat aneh menurut Naruto.

Mereka berdua menuju ke perpustakaan, saat mereka berdua sampai disana. Hinata membaca buku yang dia baca sebelumnya sedangkan Naruto membaca komik dengan ekspresi tegang.

"Sial, Kurama kalah" gumam Naruto.

"Kurama?" ucap Hinata tiba-tiba.

"Ini Kurama si tokoh utama. Dia itu Kitsune, kau tau Kitsune kan?,"

"Iya, aku tau Kitsune" jawab Hinata.

"Dia kalah saat melawan Madara, mengesalkan sekali..."

Hinata sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Naruto katakan, dia hanya mengangguk-angguk seolah paham dengan semua cerita Naruto.

"kau kelihatan murung dari tadi?, apa kau sedang memikirkan sesuatu yang rumit?"

"A-aku tidak sedang memikirkan sesuatu" jawab Hinata.

"Baguslah, coba senyum sedikit jangan ber'ekspresi seperti orang yang sedang di bully" ujar Naruto.

Hinata terdiam dan menunduk. Dia merasa benar-benar sangat menyedihkan, karena ucapan Naruto secara tidak langsung tepat sasaran.

Naruto mengangkat tangan kanan, dengan polosnya dia mulai mengelus kepala Hinata yang sedang tertunduk.

"Kau, polos sekali. Kita benar-benar akan menjadi teman akhrab nantinya, aku yakin itu" gumam Naruto.

Hinata terus tertunduk dan tersenyum bahagia. Sayangnya Naruto tidak melihat senyum kebahagian itu.

"Naruto-san, terimakasih." kata-kata yang sangat pelan dari Hinata itu membuat remaja bernama Naruto tersenyum lebar penuh kecerian dengan tangan yang tak

henti-hentinya bergerak meng'elus kepala Hinata.

"Hinata, teman pertamaku. Aku akan menjagamu Hinata." ujar Naruto.

Hinata refleks menatap Naruto dengan tatap penuh tanda tanya juga tidak begitu yakin dengan apa yang dia dengar barusan.

Mereka baru mengenal saat jam istirahat pertama, baru saja menjadi teman namun terlihat sangat dekat seperti telah saling mengenal sejak lama. Naruto berhenti melakukan tindakannya karena tatap Hinata begitu dalam dengan senyum yang tulus.

"Ke-kenapa kau melihatku seperti itu Hinata?" ucap Naruto yang terdengar gugup.

"Naruto-san, aku senang bisa menjadi temanmu. A-aku boleh menjadi temanmu selamanya?"

"Tentu saja boleh, malah baguskan kita menjadi teman selamannya. Kita adalah teman mulai sekarang dan selamannya!, ini janjiku padamu Hinata." ucap Naruto tegas.

Penjaga perpustakaan menatap horror kearah Naruto, yang tiba-tiba bicara tegas sampai terdengar diruangan perpustakaan.

Hinata hanya menunduk malu berpura-pura melanjutkan yang dia baca tadi dengan rona merah di pipinya.

Saat Naruto dan Hinata akan meninggalkan perpustakaan. Penjaga perpustaan memberi ceramahnya untuk Naruto.

Naruto yang sedang diceramahi hanya mengangguk-angguk dengan polosnya, sesekali melirik Hinata sambil tersenyum ceria yang sempat dia perlihatkan tadi.

Bel sekolah belum berbunyi, Naruto mengajak Hinata kebelakang sekolah. Hinata sempat berpikir untuk menolak ajakkan Naruto namun dia urunkan.

Situasi belakang sekolah terlihat sepi. Hinata mulai ragu mengikuti langkah Naruto yang sedang terburu-buru. "Uwaahh, akhirnya sampai jugaa"

Naruto merentangkan kedua tangan keatas seperti melakukan pemanasan. Hinata mulai tersenyum saat dia melihat tingkah Naruto. "Naruto-san, apa yang sedang kaulakukan?" tanya Hinata.

"Aku sedang melakukan pemanasan apa kau tidak lihat gaya kerenku ini hehe..."

"Naruto-san, apa aku boleh tanya sesuatu?"

Naruto duduk di bangku panjang berwarna putih seperti bangku taman. Dia menepuk-nepuk bangku yang dia duduki.

"Boleh tapi kau duduk dulu, sini."

Hinata ikut duduk disebelah Naruto yang kini sedang bersandar di bangku itu. "Naruto-san, a-apa kau tidak malu menjadi temanku?"

Naruto menoleh dengan tatapan penuh tanya. Hinata yang ditatap seperti itu refleks menundukan kepala. "Kenapa harus malu?, dan kenapa kau bertanya seperti itu Hinata?" tanya Naruto.

"Ma-maaf, aku pikir kau malu, tadi banyak yang membicara kita saat berjalan bersama," ucap Hinata lirih.

"Abaikan saja mereka. Hinata aku pinjam pundak mu sebentar, huaaamm... Aku ngantuk sekali."

Naruto bersandar di pundak Hinata sambil memejamkan mata. Sementara Hinata hanya diam dengan gugupnya dan rasa malu yang dia tahan diikuti debaran yang mulai muncul, berdetak cukup kencang.

"Naruto-san-."

Hinata berhenti berucap saat dia tahu bahwa yang duduk disebelahnya kini sedang terlelap sambil mendengkur pelan.

"Dia kelihatannya kelelahan" kata batin Hinata.

Hinata sempat ingin membelai surai pirang milik Naruto, namun dia memilih untuk mengurunkan niatnya itu dan kembali diamlah yang Hinata pilih.

BERSAMBUNG

NEXT

BAGIAN KETIGA