special thanks for
MalaysianVisitor, Ranifk, aiko chiharu, Inshi-kun, Arina nee-chan, Kedebong Ares, Indrikyu88
for reviews follow and fav ^^
Untuk Cinta
Chapter 2
Disclaimer: Animonsta studio
Warning: Fanfic dari autor newbie, Typo, jelek, alur ga jelas dll
(fang scene ) song by: Afgan syahreza : Untukmu aku bertahan)
.
.
.
.
Selamat Membaca~~
.
.
.
Cuaca mendung saat itu tidak membuat Ying ragu untuk tetap berangkat ke sekolah. Dengan bersemangat ia menyusuri trotoar yang basah karena hujan semalam, sambil sesekali ia bersenandung kecil.
Tiba tiba ada mobil berkecepatan tinggi yang melewati genangan air. Matanya terpejam dan menunduk, sepertinya ia akan pergi ke sekolah dalam keadaan seragam yang kotor dan bau. Ya. itu yang ia fikirkan, tapi di luar dugaannya.
Seragamnya baik-baik saja.
Ia mendongkak.
"Boboiboy?"
"Kau tidak apa-apa?"
"Eh seragammu.." Boboiboy mengalihkan pandangannya pada seragamnya.
"HEEE?!"
*Flashback*
Ying menyusuri trotoar yang basah karena hujan semalam, sambil sesekali ia bersenandung kecil.
Tiba-tiba ada mobil berkecepatan tinggi yang melewati genangan air. Matanya terpejam dan menunduk, sepertinya ia akan pergi ke sekolah dalam keadaan seragam yang kotor dan bau.
"GERAKAN KILAT" Tiba-tiba Boboiboy muncul dan menghalangi cipratan air itu dengan punggungnya.
*Flashback Off
"Maaf, Boboiboy. Gara-gara aku seragamu-"
"Ah sudahlah.. Mau berangkat sekolah bersamaku? Kebetulan aku bawa sepeda" Boboiboy memang berangkat ke sekolah menggunakan sepeda, mengingat ia baru akan membuat Sim jadi ia belum di ijinkan untuk membawa kendaraan bermotor sendiri.
Biasanya ia berangkat ke sekolah berboncengan dengan Gopal, tapi berhubung Gopal tengah demam, jadi Gopal tidak bisa berangkat bersamanya.
"Aih, sepeda? Di mana?" Ying celingukan.
"Itu di ujung jalan sana"
"Aih, Jauhnya.."
"Aku pakai kuasaku tadi, hehe"
"Hee, dasar kau ini, Kenapa tidak kau pakai kuasamu untuk menghindari cipratan air tadi?"
"Aku tidak sempat.. Oh iya, Jadi apa kau mau berangkat bersamaku?"
"Ya jika kau tidak keberatan"
"Oke, tunggu di sini" Ying mengangguk, dan secepat kilat Boboiboy mengambil sepedahnya.
Sesampainya di sekolah...
Boboiboy memarkirkan sepedahnya. Dan berjalan di belakang Ying yang terlebih dulu berjalan.
"Ying?" Ying berbalik.
"Ya Boboiboy?" tanya Ying
"Ini.." Boboiboy mendekat, dan menunjukan kalung liontin tepat di hadapan wajah Ying.
Kalung liontin berbentuk hati dengan intan merah jambu yang juga berbentuk hati yang berada tepat di tengah liontin, dilengkapi ukiran sewarna emas yang berkilau bila terterpa cahaya matahari. Mata Ying membulat seketika.
"Wah! Cantiknya!"
"Um.. Ya, Itu untukmu.."
"Untukku?" tanya ying memastikan.
"Tentu"
"Wah kerennya"
"Ya.. Eh! Sini aku pasangkan!"
Boboiboy memegang kedua ujung kalung itu, ia mendekat ke arah Ying, mata mereka bertemu, saling memandang.
Semakin dekat jaraknya dengan Ying, semakin kuat ia mencium wangi parfum yang Ying gunakan.
Kini wajah mereka hanya berpaut beberapa inci, dan Boboiboy menghentikan pergerakannya.
Wajah mereka berhadapan, refleks Ying menutup matanya. Boboiboy tersenyum. Lalu melanjutkan memasangkan kalung itu di leher Ying.
"Nah sudah!" Berlahan Ying membuka matanya.
"Eh ya.." Ying menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya bagaimana pun ini pertama kali ia berada sedekat ini dengan lawan jenis,
Boboiboy pun memalingkan wajahnya menatap ke jendela.
Boboiboy yakin, wajahnya sudah seperti kepiting rebus sekarang.
Yaya mematung. Sebelumnya ia bermaksud untuk menyapa kedua temannya di pagi itu, tapi ia malah mendapati pemandangan yang sejujurnya-adalah hal terakhir dalam daftar hal yang paling tidak ingin ia lihat seumur hidupnya. Hingga sebuah tangan menariknya, membuyarkan lamunannya.
"Fang?"
"Ikut aku" Perintah Fang.
"Kemana?"
"Ruang musik,"
'Ruang musik?' Tiba-tiba Yaya teringat sesuatu.
"Eh tidak boleh! Itu hanya boleh di masuki pada saat pelajaran musik berlangsung!"
Fang menghentikan langkahnya.
"Hm, Aku tidak perduli!"
kembali Fang memaksa Yaya mengikutinya
"Kau ini! Mau aku tulis namamu?" Yaya mengeluarkan pulpen dan note kecil dari sakunya.
"Tulis saja! Sudah aku bilang aku tidak perduli"
"Apa?! Apa yang kau mau hah? Fang! Cepat Lepas-"
"DIAMLAH!" Yaya diam. Ia memejamkan mata.
Entah mengapa ia takut sekarang.
"Kau-Tentu tidak ingin melihat pemandangan memuakan itu terus menerus bukan?"
'Eh?' Yaya membuka matanya lalu mengangkat kepalanya.
"Apa maksudmu?"
"Nah kita sampai, cepat buka pintunya!"
Yaya menatap Fang garang, ia merasa di abaikan sekaligus di perintah dalam waktu bersamaan, membuat Yaya benar-benar ingin meledak.
"Tunggu apa lagi? Cepat buka!" Yaya menghela nafas.
Ya. Untuk kali ini saja ia harus bersabar menghadapi makhluk di hadapannya ini.
Pintu di buka. Hanya ada bangku kecil dan sebuah piano. 'Kemana alat musik yang lain?' tanya Yaya dalam hati.
Fang berjalan mendekati piano tersebut, dan mendudukan diri di bangku, menghadap tepat ke arah piano, dengan lihai tangannya mulai memainkan tuts-tust, nada indah mulai terdengar.
Seperti terhipnotis, Yaya sejenak melupakan kejadian menyakitkan yang ia saksikan tadi. Semakin lama Yaya semakin menikmati permainan piano Fang.
"Fang?" Fang menghentikan jemarinya, meski matanya masih tetap terfokus pada tuts tuts piano yang ia mainkan tadi.
"Maukah kau bernyanyi untukku?" tanpa menjawab, tangan Fang kembali bergerak.
Dan ia mulai bernyanyi.
Tenanglah kekasihku..
Ku tahu hatimu menangis..
Beranilah.., dan percaya Semua ini pasti berlalu..
Meski takkan mudah..
Namun kau takkan sendiri..
Ku ada di sini..
Untukmu aku akan bertahan..
Dalam gelap takkan ku tinggalkan..
Engkaulah teman sejati, kasihku..
Di setiap hariku..
Untuk hatimu ku kan bertahan..
Sebentuk hati yang ku nantikan..
Hanya kau dan aku yang tahu..
Arti cinta.. yang telah kita punya..
(fang memejamkan matanya)
Jemari Fang berhenti menandakan permainanya telah usai.
Yaya berdiri, dan bertepuk tangan.
"Tidak kusangka Fang, kau bisa bernyanyi dan memainkan piano sebagus itu,"
Fang membuka matanya. Menghela nafas sejenak. Ia berbalik.
Matanya menatap Yaya intens.
"Bagaimana dengan Boboiboy? Bukankah ia jauh lebih hebat dariku?"
Yaya terdiam. Baru saja pemuda di hadapannya ini membuatnya melupakan sejenak tentang Boboiboy, tapi malah pemuda ini juga yang kembali mengingatkannya.
Mata Yaya mulai berair. Menyadari hal itu, Fang mengambil sapu tangan dari sakunya.
"Ini hapus air matamu, aku tidak suka melihat gadis jelek, cerewet dan galak menangis" ujar Fang dengan nada acuh.
Dengan ragu di terimanya saputangan dari Fang itu.
Tanpa sadar mata Yaya tertuju pada sulaman benang di ujung saputangan Fang. 'Y & F? Ying-kah? Ah pantas ia mengajakku pergi dari tempat itu, karena ia juga merasakan rasa sakit yang sama denganku rupanya' Yaya tersenyum miris.
Ya. Ia tak sendirian sekarang.
Sementara Fang sendiri masih tak mengalihkan pandangannya dari gadis berhijab merah muda itu.
Fang POV
Mataku tak mampu beralih darimu. katakan Yaya..
Mantra apa yang membuatku tak mampu memandang objek yang lain?
Mengapa hanya kau yang terlihat begitu menarik?
Di balik diamku,
Di balik kata-kata kasarku padamu..
Sebenarnya..
Aku menyukaimu. Ah tidak! Aku sangat sangat mencintaimu..
Ya. Meski aku tau kau sebenarnya mencintai Boboiboy bukan?
Ah. Ingin rasanya aku mendengar kau berkata bahwa kau hanya menganggap Boboiboy temanmu.
Tapi air matamu kini, menunjukan betapa dalamnya rasamu kepadanya.
Dan kenyataan pahit itu begitu keras menamparku.
Ya aku tau..
Kau mencintainya..
Kau mencintai seseorang yang kalau aku boleh jujur, sangat ingin aku lampaui.
Boboiboy. Ya. Dia yang memiliki sifat yang sangat jauh berbanding terbalik denganku.
Aku bayangan. Hitam. Gelap.
Bahkan mataku berwarna merah jika dalam kekuatan penuh. Mengerikan bukan?
Dan Haha! Aku menyerupai iblis! Tapi aku tampan! Ya. Aku iblis yang tampan.
Taukah kau? Terlalu lama aku memendam perasaan ini kepadamu. Sebelumnya, aku memang sudah tertarik padamu saat pertama kali aku melihatmu di stasiun, saat pertama kali aku datang ke Pulau Rintis.
Kau melambai dengan semangat ke arah kereta yang melaju. Yang baru aku tau ternyata Boboiboy-lah yang ada di dalam kereta itu. Sial!
Tapi benar-benar di luar dugaanku. Ternyata saat itu kau sekelas denganku, dan aku yang saat itu masih terbilang kanak-kanak, sebagai anak baru, aku agak merasa kesulitan untuk bersosialisasi dan memulai percakapan. Apa lagi setiap hari Gopal selalu membicarakan Boboiboy yang cukup membuat daya tarikku merosot drastis di mata teman-teman sekelas dan terutama dimatamu.
Ya, aku tidak mempermasalahkan awalnya, tapi setelah melihatmu yang seolah-olah sangat bersemangat membicarakan anak yang bernama Boboiboy, itu sukses membuatku geram.
Lalu bagaimana denganku? Ya. Aku yang sendirian. Aku yang Kesepian. Dan kau yang terlihat tertarik membicarakan Boboiboy, cukup membuatku untuk tidak membuka suara dan menutup diri, dan juga cukup untuk membuatku mencatat nama Boboiboy sebagai rival yang harus aku lampaui.
Dan setelah kedatangan Boboiboy ke Pulau Rintis, Jujur saja, aku sempat menganggapmu sebagai orang asing,
dan aku sempat berfikir untuk tidak membeli biskuitmu lagi. Biar saja aku di bunuh oleh kucing gila itu. Toh, kau tak peduli kan? Emm lebih tepatnya kau tidak tau..
Aku juga sempat menganggap kau dan kawan-kawanmu itu musuh. Terlebih kawan kawanmu juga menganggapku begitu bukan?
Tapi ternyata aku salah... kau lain, Yaya.
Kau.. mengatakan kepada mereka untuk tidak menuduhku sembarangan, dan kau tidak berfikiran buruk tentang kehadiranku di antara kalian.
Ya.. Kau percaya padaku..
Dan di saat itulah aku sadar kau berbeda..
Dan di saat itu pula aku kembali memperhatikanmu..
Bahkan semakin memperhatikanmu..
Ya. Meski aku tak menunjukannya.
Dan kini kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, masih dengan hijab merah mudamu yang dulu, hanya saja kini tanpa corak bunga-bunga.
Ya. kau sempurna, meski harus ku akui biskuitmu masih sering membuatku pinsan.
Tapi terkadang aku merindukan rasanya, jadi secara diam-diam aku membelinya, dan menikmati rasanya.
Meski akhirnya aku harus di larikan ke rumah sakit terdekat.
Coba kau fikir, Yaya. Dari mana dulu aku tau kau menjual biskuit? Kau fikir dari mana dulu aku tau bahwa ibu kantin menjual biskuitmu?
Aku selalu memperhatikanmu, Yaya!
Dan lagi, 3 biskuit sudah cukup untuk membuat kucing gila itu pinsan bukan? Dan di dalam 1 pack biskuitmu, ada lebih dari 3 biskuit di dalamnya, tapi setiap hari aku rutin membelinya di kedai Tok aba.
Lalu kemana sisanya? Dapat kau menjawabku Yaya?
Setidaknya jika tak ada kau yang sangat ingin aku gigit, aku bisa menggigit biskuitmu kan?
"Emm Fang? Bisakah kau tidak melihatku dengan pandangan seperti itu?"
Fang POV End
"A-ah, Ma-maaf"
Fang mulai gugup. Muncul rona merah tipis di wajahnya. Yaya terlihat khawatir.
"Kau sakit kah?"
"Ah, Em.. Tidak.."
"Tapi wajahmu merah, Fang."
"Eh mm.. Ah! Cuaca! Di sini panas sekali!" Fang tertawa canggung.
"Panas? Bukankah di luar sedang hujan lebat? Aku pun merasa kedinginan di sini" fang semakin terlihat panik, entah mengapa otak jeniusnya seperti tidak berfungsi saat ini
"Ah sepertinya.. Kau memang demam"
"Um, Ya. Aku rasa aku memang sedikit demam,"
"Oke aku antar kau ke Guru Kesehatan" Yaya bersiap untuk menyeret Fang.
"Eh, Tidak perlu, bisakah kita tetap di sini? Lagi pula pelajaran baru akan di mulai 30 menit lagi..
Yaya tersenyum.
"Baiklah.."
Tanpa mereka sadari Ying sedari tadi memperhatikan mereka. Bibir gadis itu gemetar. Ia menangis dan berlari menjauh.
Ying berlari, tidak memperdulikan tatapan kesal dari orang yang di tabraknya. Di taman belakang sekolah ia keluarkan segala rasa sakit itu. Ia terduduk, Menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. Ia menangis.
Dari jauh Boboiboy melihat tubuh kecil Ying bergetar.
Boboiboy terdiam. Ia hanya mampu melihat Ying yang terlihat begitu rapuh. Bagaimana pun, ia juga merasakan perasaan yang sama dengan Ying saat ini.
Hatinya tergerak. Ia melangkah. Ia ingin menguatkan gadis itu. Ia tidak ingin Ying merasakan rasa sakit seperti yang ia rasakan.
"Ying?"
"Eh? Boboiboy." Ying buru buru menghapus air matanya dan bersiap untuk memasang senyum palsu. Namun di cegah oleh Boboiboy,
yang kini sudah berada di sampingnya.
"Tidak perlu kau hapus, Ying..," Boboiboy tersenyum, "Kau boleh menangis sepuasnya, itu lebih baik dari pada kau harus memendam semuanya, jika kau seperti itu kau akan semakin terbebani,"
Berlahan namun pasti lengan Boboiboy terulur, menyandarkan kepala Ying pada bahunya.
Ying memandang Boboiboy.
"Jika kau perlu tempat untuk bersandar.., datanglah padaku.."
Lengan seragam Boboiboy mulai basah, Ying menangis. Ya. Ia perlu bersandar, dan Ying sadar. Boboiboy-lah sandaran itu.
Lain hari lain waktu...
Boboiboy dengan segera menuruni tangga, tas telah tersampir di pundaknya.
"Boboiboy, berangkat dulu!" seru Boboiboy.
Tok aba memasang wajah bingung.
"Hey mau kemana kau Boboiboy?"
"Pergi sekolah lah, Tok" jawab Boboiboy cepat, tangannya memegang handle pintu.
"Sekolah? Sekarang'kan hari libur nasional!"
"Libur? Lalu kenapa Ochobot sumbat mulut Boboiboy dengan bikuit Yaya?
"Atok yang suruh," celetuk Ochobot.
"Aih, kenapa?"
"Kau lupa? Kau harus bantu Atok di kedai, sudah ramai tau." ujar Ochobot.
"Haih.. Terbaik" Boboiboy terjatuh dengan indahnya (?)
"Sudah-sudah, cepat ganti baju, gopal sudah tunggu kau di kedai tuh," Tok aba mengulurkan tangan untuk membantu cucu kesayanganya itu bangun.
"Hee? Gopal? Bukankah ia sedang demam?" tanya Boboiboy.
Tok Aba menghela nafas lelah.
"Kau ini, Seperti tidak tau bagaimana si gopal itu, sekarang libur, langsung sembuhlah itu sakitnya"
"Hm.. Betul juga.."
"Sudah cepat ganti baju"
"Baik Tok.." Boboiboy berlari menaiki tangga.
Di Kedai Tok Aba
"Hey boboiboy?" Gopal berbisik.
"Apa?"
"Kau tau tidak belakangan ini, kalau si fang tuh bersikap aneh?" Boboiboy mengerenyitkan dahinya, bingung.
"Aneh apanya?"
"Menurut insting detektif-ku si Fang tuh ada rasa terhadap Yaya,"
"haah..aku sudah tau lah gopal!"
"Eh kau sudah tau? Sahabat macam apa kau ini?! Sampai hati kau tidak memberi tahu aku!" Gopal menarik kerah Boboiboy, dan mengguncang-guncangkan tubuh sahabat karibnya itu.
"Sudahlah gopal, kau berlebihan.." Boboiboy menatap Gopal dengan wajah malas.
"Hehe maaf, maaf, eh tapi kau tau dari mana?" tanya Gopal.
"Fang sendiri yang mengatakannya kepadaku.."
"Apa?! Kau ini memang tega boboiboy kenapa kau tidak cerita hah!" Gopal kembali menarik kerah baju Boboiboy, dan kembali mengguncang-guncangkannya.
"Aih tidak cerita? Aku cerita pada kau semalam,"
*flashback*
Semalam di kedai tok aba.
"Eh gopal.." Boboiboy membuka pembicaraan.
"Apa?" jawab Gopal yang tengah terfokus pada TV.
"Kau tau tidak?" Boboiboy memunggungi Gopal ia mengelap beberapa gelas, sebagai pengalih. Sebenarnya Boboiboy sedikit ragu untuk bercerita.
"Kau tidak bilang, bagaimana aku bisa tau."
"Ish kau ini.."
Gopal tertawa canggung.
"Hehe maaf, oke oke coba ceritakan ada apa?"
"Fang bilang padaku, kalau ia tertarik kepada Yaya!" Boboiboy memegang cangkir erat.
"HUAA SEDAPNYA~"
"Eh sedap?" Boboiboy berbalik.
"Burger super burger super"
"Aih iklan burger rupanya" Boboiboy memasang wajah bosan.
*flashback off
"Eh, Hehe aku lupa.."
"Ish dasar kau ini, sekarang lepaskan aku.." Gopal melepaskan cengkramannya, dan memasang wajah malu-malu(?)
"Lalu kau bagaimana boboiboy?" tanya Gopal.
"Eh memangnya aku kenapa?" Boboiboy balik bertanya.
"Lho bukannya cucu Atok ini tertarik pada Yaya?"
"Eh mana ada! Aku tertarik pada Ying-lah!" ralat Boboiboy cepat.
"Eh tok aba?" Boboiboy terlihat panik.
"Kau kira atok tidak tau eh? tiap-tiap malam boboiboy menginggau tentang Yaya" Goda Tok aba.
"Eh mana ada!" bantah Boboiboy.
"Kau tidak tau.. kau kan tertidur" sela Ochobot.
"Aih dari mana saja kau Ochobot?" tanya Gopal.
"Hehe aku ada, hanya menghindari konflik di awal awal tadi." jawab Ochobot
"Ish dia ini, sama saja!" komentar Boboiboy.
"Sebentar! Eh boboiboy Atok bilang kau mengigau tentang Yaya, kau masuk masa puber-kah boboiboy?" tanya Gopal, ia memasang wajah menggoda.
"Ish aku memimpikan biskuit yaya lah!" wajah Boboiboy memerah.
"Eh? Biskuit? Oh.. Mimpi buruk rupanya" celetuk Gopal
"Pandainya kau berbohong," Atok aba tertawa kecil.
"Aih bohong apa lagi, Tok," wajah Boboiboy memelas.
"Iyalah, sudah ketauan masih saja tidak mau mengaku.." tambah Ochobot yang membuat Boboiboy semakin tersudut.
*flashback.
"Waah sedaplah masakanmu yaya~"
Mendengar Suara itu, mata Ochobot berlahan terbuka.
"Aih, boboiboy?"
"Iye iye memang sedaplah! Macam kau...~~"
Ochobot melihat Boboiboy yang ternyata masih memejamkan mata,
"Aih mengigau rupanye"
*flashback off
"Pfftt... Hahaha benarkah itu boboiboy," Gopal berguling-guling menahan tawa.
"Ah.. Em.. BOBOIBOY PERGI DULU..." Boboiboy mulai gugup. dan segera berlari.
"Eh mau pergi kemana?" tanya Tok aba.
"Ma-mau ambil koko lah~hehe" jawab Boboiboy sekenanya. tanganya meraih handel pintu terdekat.
"Aih ambil koko?!.. Pfftt.. HAHAHAHA" Gopal kembali tertawa terguling-guling.
"Eh gopal, apa yang lucu?" tanya Boboiboy.
Ochobot menepuk jidatnya,
"Aduhai.. Eh Kau gila kah? Sampai-sampai kau mau Ambil koko di toilet umum?"
"To-toilet?" dengan cepat Boboiboy melihat ke arah pintu di hadapannya.
"Alamak...!" Boboiboy pinsan dengan muka memerah.
"Hehe Terbaik" celetuk Ochobot dan Tok aba Bersamaan.
.TBC~~
.
.
.
review?
