My Lovely Bento

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

~ The Story is Mine ~

.

Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll

.

~Don't like Don't read~


Notif:

Bentō(弁当atau べんとう?) atau o-bentō adalah istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain (wikia)


Surai Indigonya menari bersama angin. Kulitnya dapat merasakan sejuknya udara hari ini. Ia mencoba merapihkan rambutnya dan memastikan rambutnya tak berantakan. Baiklah, Kini ia benar-benar siap! Hyuuga Hinata, Kini telah siap memulai Masa terakhir SMAnya.

Konoha Gakuen, Sekolah Menengah Atas yang pastinya sangat terkenal seantero Jepang. Sekolah yang megah berisi Kumpulan anak-anak berada dan terjamin memiliki masa depan yang cemerlang. Kebanyakan dari mereka adalah para penerus perusahaan dari orang tua mereka.

Tapi ada juga yang tidak. Salah satunya adalah Hinata, dia bukan dari keluarga kaya. Bahkan kini ia hidup sebatang kara. Kedua Orang tuanya telah meninggal. Ia memang memiliki saudara seperti pamannya,bibinya dan sepupunya Neji. Namun, karena konflik antara ayahnya dan Saudaranya membuat keluarga ini terbelah menjadi dua. Kubu ayahnya dan kubu Pamannya. Entahlah apa yang membuat keduanya terpisah dan kini saling mengacuhkan.

Konflik tak berujung itu kini berimbas pada Hinata. Ayahnya meninggal 8 bulan yang lalu karena penyakitnya yang telah lama ia derita, sementara Ibu Hinata telah meninggal saat Hinata menginjak usia 5 tahun.

Ia hanya tinggal di apartemen yang sangat sederhana berukuran minimalis. Dan soal kebutuhan sehari-hari dan sekolahnya. Ayahnya telah memberikan asuransi untuk sekolahnya dan juga tabungan yang sangat cukup untuk kebutuhan sehari-harinya. Syukurlah Hinata juga bukan tipe orang yang boros.

Ayah Hinata sangat menyayangi putrinya. Oleh karena itu dari jauh hari ia telah menyiapkan segala kebutuhan Hinata agar Hinata hidup dengan tenang. Seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya dan ingin putri kecilnya bahagia. Hinata tahu itu, karena ia juga sangat menyayangi Ayahnya sebanyak Ayahnya menyayanginya.

Tahun ajaran baru maka itu berarti kelas yang baru akan segera Hinata hadapi. Para siswa bergerombol saling dorong medorong untuk melihat papan pengumuman. Memastikan dimana kelas yang akan mereka tempati selama satu tahun ini. Benar-benar suasana yang tak terkendali.

Hinata melangkah pelan, hanya bisa melihat keadaan itu dari jarak yang lumayan jauh. ia dapat membayangkan jika ia ikut bergabung dalam kerumunan siswa disana pasti ia sudah terjepit-jepit dan kehabisan nafas. apa daya, Hinata memiliki tubuh yang tergolong mungil. Tubuhnya tak cukup tinggi untuk melihat papan pengumuman itu dari tempat ia berdiri sekarang.

"Bagaimana caranya agar aku bisa kesana?" Lirihnya pelan. Mungkinkah ia harus masuk dalam kerumunan itu? Ha! Mustahil. Bagaimana jika ia terdorong dan jatuh dilantai. Lalu lebih parahnya lagi, bagaimana kalau dirinya terinjak-injak? Baiklah, masuk dalam kerumunan itu bukanlah hal yang bagus.

"Kau kesulitan ya?" Ucap seseorang.

Hinata menoleh kesumber suara tersebut dan mendapati seorang pemuda beriris Sapphire bertubuh kekar dan memiliki rambut pirang yang sedikit mencolok berdiri disampingnya. Iris birunya terpaku menatap para siswa yang berada dalam kondisi chaos sambil menyilangkan tangannya didepan dada.

"itu- Kau bertanya padaku?" Hinata memiringkan kepalanya.

Alis pria itu terangkat dan kini menatapnya. "Memangnya siapa lagi?" Seringai nakal kini menghiasi bibirnya.

"Eh? A-aku tidak kesulitan kok" jawab Hinata dengan kikuk. Pria itu malah menaikan sebelah alisnya semakin tinggi dan memasang wajah heran. Hinata mencoba untuk berusaha bersikap senormal mungkin. Walaupun sebenarnya Hinata benar-benar gugup sekarang. Yah, Hinata memang pemalu. Meski ini bukan pertama kalinya ia mengobrol dengan lelaki namun tetap saja ia merasa canggung.

"Kau yakin?" Pria mencoba menyamakan posisi tubuhnya dengan ukuran tubuh Hinata "kau sangat kecil dan aku yakin kau tak bisa melihat apapun dari sini"

"Sungguh! Aku-aku tak apa-apa" Hinata mengalihkan wajahnya pada pria itu. Kini, pria itu dapat melihat dengan jelas rona merah di wajah gadis itu. Pria itu masih menunjukan wajah datarnya sambil mengamati Hinata yang masih merasa canggung dan malu.

"Siapa Namamu?" Tanyanya cepat.

"Eh? Hinata... Hyuuga Hinata" kini Hinata bertanya-tanya. Apa yang akan dilakukan pria ini sekarang? Ia mulai curigai pria pirang disampingnya ini akan mencatat namanya untuk dijadikan salah satu anak yang akan ia masuk dalam daftar anak yang akan pria itu Bully.

Oh, Tidak! Mungkinkah begitu Batinnya dalam hati. Tiba-tiba pria itu melangkah mendekati kerumunan itu. Matanya tampak mencari sesuatu yang tertulis di papan pengumuman yang tengah menjadi pusat perhatian para siswa.

"Itu Dia!" Ucap pria itu lantang. Kini pria itu menghampiri Hinata dan Menarik tangannya. Hinata terkejut, pria ini tiba-tiba menarik tangannya dan menariknya mendekat ke arah papan pengumuman "Ikut aku! Aku melihat namamu. Itu disebelah sana!"

"A-ano... aku tetap tidak bisa melihatnya. Terlalu banyak orang"

Pria itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal "Payah! Tidak ada pilihan lain!" Pria itu berjalan pelan. Iris Hinata tetap mengamati gerak-gerik pria itu. Kali ini pria itu tepat dibelakangnya dan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Hinata.

"Eh? Apa yang- Apa yang kau lakukan?" Wajah Hinata kini memerah. Demi Tuhan, ia belum pernah sedekat ini dengan pria. Beberapa detik kemudian Hinata merasa ada seseorang yang memeluk pinggangnya dan kini ia merasakan kakinya kini tak bertapak lagi di lantai. Ternyata pria blonde itu kini mengangkatnya tinggi-tinggi.

Hinata meronta "kyaa.. apa yang kau lakukan? Tu-turunkan aku!"

"Apa sekarang kau bisa melihatnya? Namamu! Coba lihat Namamu disana!" Jelas pria itu tegas.

Hinata mengangguk pelan dan kini ia mencari Namanya ke arah yang tadi pria itu katakan, semakin cepat ia menemukan namanya semakin cepat pria ini melepaskannya. Okay, tubuhnya memang kecil dan lemah tapi jangan pernah menyepelekan matanya.

'Baiklah Hinata, Focus! Cari namamu dan akhiri semua ini' Gerutunya dalam hati. Tak butuh waktu yang lama Hinata mencari namanya. Senyumnyapun tersungging "Itu dia! Namaku! Kelas 3-B!"

"Benarkah?" Tanya pria itu antusias dan menurunkan tubuh Hinata dari gendongannya. "Kau hebat, Hinata!" Pria itu memamerkan senyumannya. Hinata yang melihat senyuman itu merasa terkesan. Senyuman yang begitu ceria dan penuh semangat. Senyuman yang membuat orang lain merasa hangat.

"A-ano..." Hinata memaikan jarinya. Pria itu menatapnya heran "Hm? Apa?"

"Itu... Arigato gozaimasu!" Hinata membungkukan badannya dengan cepat sebagai tanda terima kasih dan tersenyum lembut. "Kau baik sekali, kuharap aku bisa membalas kebaikanmu suatu saat nanti" Hinatapun beranjak pergi.

Pria itu tertegun sambil melihat kepergian Hinata. Seringai muncul kembali diwajah tannya "terlalu cepat untukmu berterima kasih, Hinata"

.

.

Hari ini tak begitu buruk, sejauh ini Hinata berhasil melewatinya dengan sangat baik. Ada beberapa anak yang dulu sekelas dengannya. Meskipun tak semua anak masuk kelas. Tapi beberapa dari mereka dengan senang hati membantunya jika ia kesulitan. Contohnya seperti sekarang, ia berada di sebuah taman kecil yang sangat sepi ini. Tempat ini berada di taman belakang sekolah, ia bertanya-tanya kenapa tempat ini begitu sepi?

Tapi itu tidak penting, yang terpenting disini adalah Teman-teman yang telah mengenalnya menjelaskan kepada murid lainnya bahwa Hinata adalah orang yang pemalu dan lebih suka sendirian. Dan dengan mudahnya mereka dapat mengerti akan kebiasaan Hinata tersebut. Terima kasih, Kami-sama!

Hinata mengamati keadaan sekitar, Tak ada siapapun disana. Dengan perlahan Hinata membaringkan dirinya di rumput. Ia memutuskan untuk menutup matanya dan merasakan suasana nyaman yang kini sedang ia nikmati. Senyuman kecil hadir di wajahnya.

"Kau memang suka sendirian ya?"

Suara itu terdengar begitu dekat dengan Hinata sampai Hinata memekik dan melompat menjauh."Kau!"

Pria yang tadi menolongnya berada disebelahnya dan tersenyum polos "Hai, Hyuuga Hinata."

Lagi-lagi pria tadi. Apa yang dilakukannya disini? Apa pria ini mengikutinya?

"Jika kau berpikir aku mengikutimu. Jawabannya tentu saja tidak!" Pria itu menyilangkan tangannya di depan dada.

Hinata mengerjap. 'Bagaimana dia melakukannya? Bagaimana dia bisa tahu apa yang kupikirkan?'

"Dan jika kau bertanya dari mana aku tahu. Itu tak penting"

Sial, Lagi-lagi pria ini membaca pikirannya. Pria itu dengan santai segera duduk disamping Hinata. otomatis Hinata mencoba menggeser tubuhnya agar jarak diantara mereka semakin jauh.

"Kau tak perlu takut, aku bukanlah orang jahat."alis pria itu berkerut. "Oh ya, tadi pagi aku telah menolong, bukan?"

Hinata mengangguk tanda setuju. Lagi-lagi Hinata merasa gugup hingga Hinata menundukan wajahnya sambil memaikan jarinya.

"Hey~ aku sudah mengenalmu tapi kau belum mengenalku" ucap Pria itu riang.

benar juga, ia masih belum tahu siapa pria disebelahnya ini. Ia terlalu malu untuk bertanya. Namun, secara tiba-tiba Pria itu mengulurkan tangannya pada Hinata" Namaku Naruto, Namikaze Naruto"

Dengan ragu Hinata meraih uluran tangan Naruto. "emm.. Hyuuga Hinata. Sa-Salam kenal. Namikaze-san"

Alis Naruto kembali berkerut saat Hinata menaggilnya begitu. "Oh! Ayolah Hinata, kau seperti sedang memanggil nama Ayahku!" Naruto memutar kedua bola matanya.

Hinata melirik Naruto pelahan "l-lalu.. bagaimana aku memanggilmu?"

Seulas senyuman tersunging di wajah Naruto. " Naruto. kau bisa memanggilku Naruto."

Hinata mengangguk pelan. "baiklah, Na-Naruto-san?".

Naruto kembali memutar matanya. "ayolah Hinata, Kau bisa memanggilku secara biasa. Tak perlu dengan sopan seperti itu."

Hinata ragu sejenak "eh-ano... Na-Naruto...-kun?"

Senyuman yang lebih cerah tersunging di wajah tampannya " Itu lebih baik. Salam kenal, Hinata."

Hinata mulai mengangkat wajahnya dan tersenum manis "Salam kenal, Naruto-kun"

Naruto tertegun. Ini kedua kalinya ia Hinata tersenyum. Tapi senyuman kali ini berbeda. Ia baru menyadari bahwa Hinata memiliki senyuman yang indah. Dan senyuman itu juga membuatnya ingin tersenyum.

Tangan mereka masih berpautan. Hinata sedikit merasa tak nyaman, tak ada tanda-tanda tangannya akan dilepaskan oleh Naruto. "A-ano, Naruto-kun... Tanganku. Apa kau bisa me-melepaskannya?"

Naruto melirik tangan mereka yang masih berpautan. Ia kembali menatap wajah gadis disebelahnya itu. Pipinya yang merona, sikapnya yang kikuk, kulitnya yang putih, tangannya yang lembut. 'Dia.. Cantik.'

"Kau tahu Hinata? Bukan seperti itu cara berkenalan di Eropa" kata Naruto dengan cepat sambil menarik lembut tangan Hinata. Secara otomatis tubuh Gadis itu mendekat padanya.

"eh? A-apa maksudmu?" Hinata menatapnya Bingung. Kini, Naruto bisa menyimpulkan sesuatu. Hinata adalah gadis yang polos.

Senyuman nakal menghiasi bibirnya. "biar kuberi tahu. Pertama, jarak diantara kita harus dekat.." Naruto menarik tubuh gadis itu semakin dekat padanya. Hinata sendiri tak bisa melakukan apa-apa. "dan saling bertatapan.." Tangannya kini meraih dagu Hinata. Keduanyapun berpandangan. Iris Shappire miliknya dan iris Amethys Hinata bertemu.

Untuk pertama kalinya, Hinta dapat melihat dengan jelas betapa birunya mata Naruto. ia tak dapat menggerakan tubuhnya. Oh! Tidak. Hinata lemah dengan tatapan ini.

"Dan... melakukan ini" dengan cepat Naruto menyatukan bibirnya dengan bibir Hinata. Mata Hinata melebar. Apa-apaan ini? Pria ini menciumnya.

Tangan Hinata dengan cepat mencoba mendorong dada Naruton dan ia juga mencoba melepaskan pautan bibir mereka. Tapi, tenaga Naruto begitu kuat. Naruto tak membiarkannya memberontak.

Setelah bersusah payah akhirnya ciuman itu terlepas. Hinata dengan cepat menyentuh bibirnya dan menjauhkan jaraknya dengan Naruto. Naruto tersungkur kebelelakang dengan wajah sumringah.

"Ahahaha.. aku hanya bercanda. Itu bukanlah cara berkenalan di Eropa, tapi itu hanya-" kata-katanya terputus begitu saja saat melihat apa yang kini ada dihadapannya.

Hinata menangis. Wajahnya merona, badannya bergetar, dan wajahnya terlihat ketakutan. Gadis itu masih berusaha menghapus air matanya kembali menyentuh bibir yang tadi dicium oleh Naruto. "hiks..hiks..."

"kau... Hinata, jangan bilang.. itu ciuman petamamu?" tanya Naruto pelan. Hinata masih tak menjawab apa-apa. Bahkan kali ini gadis itu tak menatapnya. Hinata ketakutan. Ia takut pada Naruto.

"Aku.." suara Hinata terdengar parau. Ia masih berusaha menahan tangisanya. "Aku membencimu!" Dengan cepat Hinata berdiri dan berlari pergi dari tempat itu, Naruto kini hanya bisa menatap punggung Hinata yang semakin jauh hingga ia tak dapat melihatnya lagi

.

.

Jam masih menunjukan pukul 10.00 dan ini masih terlalu cepat untuk kembali belajar bagi sebagian orang. Biasanya para siswa memanfaatkan situasi ini dengan sekedar memabaca buku di perpustakaan atau mungkin kantin.

Tapi Mungkin pria pirang ini lebih memilih kantin sebagai pilihannya. Yang benar saja jika ia harus menghabiskan waktu ditempat menyedihkan yang bernama perpustakaan. tentu saja dia tak sendirian, kini dia bersama teman-temannya, duduk di tepat yang biasanya memereka selalu duduki. Seperti biasa, mereka sedang bergurau atu berdiskusi tentang permainan olahraga atau sebagainya. Tapi sepertinya tidak semua dari mereka ikut dalam diskusi tersebut. Siapa lagi selain Namikaze Naruto.

Pikirannya tengah menerawang entah kemana, seringai nakal tak juga hilang dari pipinya. Tentu saja teman-temannya menyadari hal aneh itu. sejak tadi teman pirangnya itu tak hentinya memasang wajah menjemukan seperti itu.

"Hentikan senyumanmu itu. Bodoh! Itu menjijikan." Tanya temannya yang memiliki tato segitiga di masing-masing pipinya.

Merasa namanya dipanggil. ia langsung menoleh "he? Kau bicara sesuatu Kiba?" Ia menggaruk pipinya pelan.

Pria bernama Kiba itu mendengus pelan " kau tahu Naruto, kau selalu seperti ini jika ada sesuatu yang mrmbuatmu tertarik. Bukankah begitu Shikamaru?"

Pria berkuncir disebelah Kibapun melirinya malas. "Itu membosankan.. tapi itu benar"

"Katakan pada kami apa yang terjadi. Naruto!" Kali ini pria berkulit putih dan memasang senyum yang sedikit aneh.

"Well..." Naruto tak langsung menjawab. Berusaha menimbang-nimbang apa ia harus ceritakan kejadian pagi ini pada teman-temannya. "Ada seorang Gadis.." suara terdengar sedikit ragu.

Kiba menaikan sebelah alisnya dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada "Gadis?maksudmu Sakura?"

"Bukan, Gadis ini Bukanlah Sakura-chan!" Bantah Naruto cepat. Teman-temannya mulai bingung. Tak biasanya Naruto membicarakan seorang Gadis, Apalagi Gadis itu bukanlah Sakura.

"Tunggu sebentar Namikaze! Maksudmu ini tentang Gadis yang berbeda?" Tanya Shikamaru dengan nada sedikit tinggi.

"Demi Tuhan, Shikamaru. Bisakah kau pelankan suaramu sedikit?" Naruto sedikit geram pada teman berkuncirnyai. "Well... Kurasa.. Gadis yang kutemui tadi pagi, merurutku dia... menarik." Naruto mengangkat kedua bahunya pelan.

"Menarik? Apa maksudmu dengan menarik?" Shikamaru menatapnya curiga.

Naruto memasang wajah gugup sembari tersenyum nakal. Ia memamerkan senyumannya dan mulai menggaruk lehernya yang tak gatal. Ia mengangkat wajahnya dan mencoba mengingat kejadian pagi tadi. "Yah... awalnya aku hanya berusaha membantunya karena kasihan, tapi saat aku mendekatinya lebih dekat. Dia... tersenyum, dan senyuman itu membuatku..ermh-Terpesona"

Kitiga temannya saling berpandangan. Memastikan mereka tak salah dengar apa yang dikatakan teman pirang mereka itu.

"Tak biasanya kau tertarik pada gadis selain Sakura. Maksudku mengingat dia adalah kekasihmu. Naruto" Tanya si pria berkulit putih.

"Aku tahu Sai. Tapi kurasa Gadis ini.. berbeda" iris biru Naruto menerawang kembali.

Kiba menatapnya curiga "Jangan katakan Kau berniat untuk memiliki dua kekasih, Naruto?"

"Ayolah Kiba! Kau tahu betul bangaimana hubunganku dengan Sakura-chan. Kami memang sepasang kekasih tapi kami tidak seperti pasangan kekasih pada umumnya!" Naruto mengacak-acak rambutnya sendiri tanda frustasi.

Shikamaru menaikan sebelah alisnya "jadi... kau akan mendekati gadis yang membuatmu terpesona itu dan membiarkannya tahu bahwa kau sudah memiliki kekasih?"

Naruto melirik Shikamaru dan memasang wajah datar "terkadang aku membenci caramu bertanya, Shikamaru."

"Jadi... siapa nama Gadis itu?"tanya Sai dengan santai.

Senyuman nakal milik Naruto kembali muncul diwajahnya. "Namanya adalah.. Hinata."

Kiba melebarkan matanya "Hinata? Maksudmu Hyuuga Hinata?"

Naruto dengan cepat melirik Kiba dan mengerucutkan bibirnya "Bagaimana kau bisa tahu namanya?" Ia menyipitkan matanya kearah Kiba "apa kau mengenalnya?"

Kiba tersenyum simpul "Hyuuga Hinata, berambut Biru tua yang panjang, memiliki tubuh yang indah, dan matanya yang berwarna Amethys itu bukan?" Naruto tertegun.

"Gadis Hyuuga itu terkenal pendiam dan pemalu. Dia jarang bersosialisasi dengan orang lain" jelas Sai singkat. Naruto menatapnya dan seakan-akan mata itu berkata ' dari mana kau tahu semua itu?'

Shikamaru mendesah pelan "hah... merepotkan.. dia adalah seorang Hyuuga, Naruto. Jelas kami tahu. Jangan bilang kau tak tahu soal itu!"

"Apa yang kau rencakankan, Naruto?" Sai mulai menatap Naruto dengan serius. "Kau harus ingat kau juga sekarang masih terikat dengan Sakura"

"Apa yang akan kulakukan ya?" Naruto bergumam pelan. Senyuman nakal masih tersunging di wajah tampannya. "Kita lihat saja.. Apa yang akan terjadi selanjutnya"

.

.

Cih! Harinya benar-benar buruk. Ini semua karena pria pirang yang awalnya ia kira baik dan ramah ternyata dia adalah seorang Pencuri. Ya! Dia telah mencuri ciuman petamanya.

Setelah kejadian itu suasana hati Hinata benar-benar berantakan. Ia ingin sekali meledakan emosinya sekarang. Tapi, meledakan emosi bukanlah hal yang baik. Oleh karena itu ia hanya dapat mengumpat dalam hati.

Ia bersumpah demi Dewa dan demi tujuh lautan ia tak akan pernah memaafkan Pencuri itu. Tidak akan pernah! Persetan dengan petolongan yang tadi ia berikan. Apa harinya tak dapat lebih buruk dari in?i.

Bruak!

Suara bantingan pintu terdengar. Otomatis semua yang ada diruang kelas langsung melirik ke arah pintu -termasuk Hinata pastinya- dan melihat sesosok Pria berambut pirang, beriris biru yang memiliki tiga garis di masing-masing pipinya. –Oh, Tidak!

"Namaku adalah Namikaze Naruto. Aku juga ditempatkan dikelas ini. Mohon kerja samanya" ucapnya lantang dengan memasang senyum mempesona dan membuat semua gadis yang ada disana bertekuk lutut. Ya, semua gadis kecuali Hinata. Tubuhnya bagaikan tersambar kilat transparan saat melihat pemuda itu. Kami-sama...

Naruto melirik gadis di ujung sana. Gadis berambut indigo dan memiliki mata Amethys. Ia tak dapat melihat warna matanya dari sini tapi ia yakin mata gadis itu berwarna Amethys. Gadis yang kini tengah menatap horor dirinya. Naruto tersenyum singkat, ia pasti telah membuat gadis itu sebal sengah mati.

.

.

.

Selama berada dikelas Naruto ternyata tidak mengganggunya. Bahkan Naruto bersikap seolah-olah mereka belum pernah saling mengenal. Tapi, syukurlah. Itu yang diharapkan Hinata. Ia tak akan sudi lagi berurusan dengan pria itu.

Percaya atau tidak setelah kejadian terkutuk itu, Hinata mendapat beberapa informasi tentang pencuri bernama Naruto itu. Pertama, Pencuri bernama Naruto itu adalah anak dari Namikaze Minato yang seorang pengusaha besar yang sangat dihormati oleh hampir seluruh penduduk jepang. Kedua, Pencuri benama Naruto itu cukup terkenal, bahkan ia pernah mendapatkan posisi kedua dalam deretan anak pengusaha tertampan. Ya ampun! Memangnya ada yang seperti itu? Dan fakta yang ketiga adalah -fakta yang benar-benar tak Hinata duga-, Pencuri bernama Naruto itu telah memiliki seorang kekasih!.

Hah! Bisa-bisanya pencuri itu mencium gadis lain selain kekasihnya, Yang benar saja. Benar-benar seorang bajingan. Jangan kalian kira Hinata sengaja mencari tahu informasi tentang Naruto. Karena kemunculannya yang heboh, Naruto langsung menjadi Tranding Topic dikelasnya. Otomatis ia dengan tidak sengaja mendengar semua yang dibicarakan teman-temannya.

Senja telah tiba, Hinata berjalan lunglai menuju gerbang sekolah. Setelah apa yang telah ia lalui hari ini, sepertinya berendam diri di bak mandi adalah pilihan yang baik. Ia melirik handphonenya. Sial, ini sudah terlalu sore. Jika ia tidak ingin terlambat ia harus cepat. Hinata mempercepat langkahnya meninggalkan sekolah.

.

.

Hinata berjalan dengan cepat, entah mengapa seperti ada yang terus mengikutinya sejak di perempatan tadi. Daerah disini memang sepi, itulah mengapa ia harus segera pulang sebelum larut. Namun, langkahnya terhenti.

"hey~ gadis manis.. kenapa kau sendirian?" ucap seseorang. Kini dihadapannya berdiri beberapa pria bertubuh kekar dan bertindik dimana-mana. Oh, tidak! Dirinya dalam bahaya.

Hinata melangkah cepat mencoba melewati pria-pria bertidik itu. Tapi tangannya malah di cengkram kuat oleh salah satu dari mereka. "le-lepaskan aku!"

"kalau kau mau kulepaskan.." pria itu menarik tubuh Hinata dan membuatnya terkapar ditanah. "kau harus membayar.."

Tubuh Hinata bergetar. Air mata yang berada di pelupuk matanya keluar tanpa seijin si empunya. Wajahnya terlihat takut. "be-berapa? Berapa aku harus membayar?" suara Hinata bergetar.

"Ha? Kau ini polos atau tolol? Tentu saja kau harus membayarnya dengan tubuhmu." Mata Hinata melebar. Setelah apa yang terjadi hari ini, apa ia akan berakhir dengan menjadi korman pemerkosaan dari sekumpulan pria ini?

Tangan salah satu pria itu mulai terulur dan saat itu pula hinata angsung menuntup matanya.

Seseorang... tolong aku!

Bug!

Terdengar suara pukulan. Hinata masih enggan untuk membuka matanya, ia terlalu ketakutan untuk membuka matanya. Tangannya memeluk dirinya sendiri, Hinata mulai terisak "hiks.. hiks.. hiks"

"kau tak apa-apa?" suara lembut terdengar oleh telinga Hinata. "kau tak perlu takut, aku bukanlah orang jahat" 'suara ini, kata-kata itu...' dengan perlahan Hinata membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria dengan senyuman secerah matahari, pria yang tadi pagi menolongnya. Pria itu... "Na-Naruto...-kun?"

Seulas senyum tersunging di wajahya. "Ya. ini aku, Hinata" ucapnya lembut. Hinata melihat sekelilingnya. Sekelompok pria itu telah tersungkur dan tergeletak tak berdaya. Naruto mengalahkan mereka. sekali lagi, Namikaze Naruto telah berhasil menolongnya. Naruto mengulukan tangannya pada Hinata. "Ayo, kita pulang."

Dengan pelahan Hinata meraih tangan Naruto dan kembali berdiri. Tubuhnya masih bergetar. Wajahnya masih terlihat panik, Naruto melihat keadaan Hinata. Gadis itu ketakutan. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Memeluk Hinata sekarang adalah ide yang buruk. Mengingat apa yang ia lakukan pada Hinata sebelumnya, pasti itu akan membuat Hinata semakin ketakutan.

Naruto berbalik dan merendahkan tubuhnya. "Ayo cepat! Biar kugendong." Hinata yang masih syok menatap Naruto dengan tatapan bingung. "Bukan waktunya untuk berburuk sangka kepada orang yang telah menolongmu dua kali. Ayo cepat!"

Hinata menatap sayu pria itu. Mungkin pria itu benar, ia tak harusnya mencurigai Naruto sekarang. Ia terlalu ketakuatan, setelah apa yang terjadi tadi ia benar-benar merasa ketakutan. "aku tak akan menyakimu" ucap Naruto pelan.

Hinata melangkah maju, mendekatkan tubuhnya pada punggung Naruto. Ia melingkarkan tangannya pada leher pria itu. Narutopun menggendong Hinata dipunggungnya. Naruto bisa meraskan tubuh Hinata yang dingin dan gemetar. "kau tenang saja kau aman bersamaku..dan.. aku harus minta maaf atas apa yang kulakukan padamu" suara Naruto terdengar begitu rendah dan begitu lembut ditelinga Hinata. "kau akan baik-baik saja.. Aku akan melindungimu."

Entah mengapa kata-kata Naruto membuat Tubuhnya berhenti bergetar. Naruto berhasil membuatnya tenang. "Naruto-kun.." Hinata memanggil Naruto pelan.

"hm?" Naruto tetap berjalan pelan. "ada apa, Hinata?"

Pelukannya di leher Naruto semakin erat. Hinata memutuskan untuk memejamkan matanya. "Arigatou..dan.. aku memaafkanmu."

Hinata mengejapkan matanya beberapa kali. Kepalanya pusing, matanya terasa lembab. Ia melihat langit yang sudah gelap. Apa yang terjadi?.

"kau sudah bangun?" Suara itu menyadarkannya. Hinata melirik kearah suara tersebut "Na-Naruto-kun?" ucapnya pelan. "Dimana ini? Kenapa kita disini?" Hinata berusaha bangun dari posisinya.

Seulas senyuman muncul di wajah tampannya. "kita ada di taman belakang sekolah. Kau pasti tak menyadarinya karena tempat ini sedikit gelap bukan?"

Naruto benar, taman ini adalah taman yang ia kunjungi tadi pagi, taman ini adalah tempat dimana untuk kedua kalinya Naruto dan dirinya bertemu. Hinata melirik Naruto sesaat, Naruto masih tetap tersenyum. Tapi senyumannya lebih lembut dari biasanya. Senyumannya begitu manis dan-tunggu, kenapa pipinya terasa panas? Apa ia terkena demam?

Tempat ini cukup gelap tapi Hinata masih dapat melihat. "kenapa kau membawaku kemari?"

Naruto mengangkat pudaknya "well, aku tak tahu dimana rumahmu dan kau tertidur saat kugendong. Apa kau mau aku membawamu kerumahku?" ucapnya santai.

"ehh? Maaf telah merepotkanmu, aku pasti sangat berat. Aku benar-benar minta maaf" pipi Hinata merona, ia menundukan kepalanya sambil memaikan jarinya.

"aku benar-benar tidak merasa direpotkan, aku melakukannya dengan senang hati. Kau tak perlu minta maaf" Naruto menyilangkan kedua tangannya ke dada.

"Naruto-kun..." Hinata tetap memainkan jarinya "A-Arigato... Aku tak tahu bagaimana harus membalasnya." Sejujurnya Hinata benar-benar merasa menyesal, karena beberapa saat yang lalu ia telah mengutuk pria ini dan sempat menyebutnya pencuri.

Naruto menaikan alisnya "kau ingin membalasnya? Benarkah?" Naruto tersenyum nakal. Ia memperhatiakn Hinata lagi, Rambutnya sedikit berantakan, matanya sembab, bajunya sedikit berantakan, dan ditambah lagi tempat yang tak cukup terang membuat Hinata terlihat begitu sexy. Sial, Lagi-lagi sensasi ini muncul lagi.

Hinata mengalihkan pandangannya pada Naruto, mungkin inilah caranya membalas kebaikan yang Naruto berikan padanya. Baiklah, ia telah membulatkan tekad. Hinata menatap Naruto dan tersenyum manis. "A-Aku serius. Apa yang kau inginkan? Aku bisa mengerjakan PR-mu, aku juga bisa membuatkanmu Bento setiap hari"

Naruto mendekatkan dirinya pada Hinata dan membuat jarak mereka semakin dekat. "Bento ya? Kau bisa membuatkanku Bento?"

Tubuh Hinata menegang. Tubuhnya terasa panas, apa yang akan dilakukan Naruto kali ini? "ah..emm.. Y-ya, begitulah"

Naruto menyentuh pinggang Hinata dan semakin mendekatkan Hinata pada dirinya. "Na-Naruto-kun, Apa- apa yang kau lakukan?" kini Hinata telah berada di pelukan Naruto. Tangan gadis itu menempel di dada bidang Naruto.

Naruto mengeleminasi jarak diantara wajah mereka. Hingga dahi mereka bersentuhan. "kau bilang kau bisa membuatkanku Bento setiap hari bukan?" Hinata hanya bisa mengangguk. Kenapa ini? Ia tak menolak apa yang dilakukan pria ini padanya. Matanya kini bertatapan dengan mata Naruto. "jika aku meminta kau yang menjadi Bento-ku setiap hari bagaimana?" Naruto mengucapkannya dengan suara yang begitu rendah.

"eh- aku.. yang menjadi... Bento-mu?" Hinata tak bisa melepaskan matanya dari iris pria itu. Seakan-akan ia benar-benar terhipnotis olehnya. "apa maksudmu?"

Naruto semakin mendekatkan jaraknya dengan Hinata hingga Hidung mereka sekarang saling bertemu. "ya, kau yang akan menjadi Bento-ku. Kau yang akan membuatku merasa puas, aku lebih suka mencicipi bibirmu dari pada makanan."

Jantung Hinata berdetak lebih cepat. Ada sesuatu di dirinya yang ingin meledak, seakan-akan ia ingin sesuatu yang lebih. " tapi bagaimana? bagaimana dengan kekasihmu?"

"kau akan memberikan sesuatu yang tak kudapatkan darinya, Hinata." Tangan Tan milik Naruto mulai menyentuh pipinya lembut.

"tapi bagaimana? Bagaimana kita memulainya?" tanya Hinata pelan. Tangannya mulai meremas baju pria itu.

"tutuplah matamu, Hinata! Kita kan memulainya sekarang." Nafas Hinata mulai terengah. Ia menutup kedua matanya. Membiarkan Naruto melakukan yang pria itu mau. Dan sedetik kemuadian, ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

Naruto menciumnya.

Naruto melumat bibir Hinata lembut. Tak ada yang bisa Hinata lakukan selain membalas ciuman pria itu. Pria yang tadinya berhasil mencuri ciuman pertamanya, kini berhasil mencuri sesuatu yang jauh lebih berharga.. Pria itu berhasil mencuri Hatinya.

Dan disinilah mereka. berada di taman belakang Konoha gakuen, dibawah sinar rembulan. Saling menikmati ciuman yang kini mereka lakukan. Namikaze Naruto dan Hyuuga Hinata telah memulai kisah rahasia mereka.

.

.

.

~To be Continue~


yaho~~ Yupi hadir lagi ^^v gimana chapter kali ini? ngebosenin kah? -3- Yupi akhir-akhir ini agak sibuk... kalian pasti tahukan jika bulan januari, febuari, maret, dan april datang.. itu adalah mimpi buruk untuk? yap! untuk anak kelas 3 SMA maupun SMP yang akan menghadapi ujian. dan Yupi menjadi salah satu dari anak malang itu -3- jadi mohon maaf jika Yupi lama updatenya... tapi jujur deh~ yg bikin Yupi lama update kayanya Yupi bingung milih Cerita selanjutnya yg mana.. Yupi udah nyelsain 2 chapter sebenernya.. tapi yang di publish duluan yang ini dulu deh ^^ soalnya banyak yang request bagaimana kejadiannya Hinata jadi bentonya Naruto.

terima kasih atas reviewnya :") Yupi seneng banget bacanya! terima kasih juga kepada yang mem-follow dan mem-favourite fic ini! terima kasih untuk silent readers sekalian! ^^ ditunggu ya reviewnya ^^ Yupi sayang kalian~

Yupi minta maaf jika chapter ini banyak kekurangannya.. Yupi masih harus banyak belajar, jadi mohon sarannya dan supportnya.. inget! komentarnya jangan terlalu pedes ya kata-katanya ^^" Mohon bantuannya pada para pembaca sekalian bila ada kesalahan. Oh iya! kembali diingatkan Fic ini akan lanjut jika respon dari para pembaca sekalian bagus~ jika respon minna-sama tidak terlalu baik, maka fic ini tak akan berlanjut.. arigatou!

Akhir Kata,

Mind to Review?