Awan melayang semakin lambat. Gemuruh seakan menggelegar seperti nyanyian paduan suara. Jarum detik seakan terhenti. Namun cuaca masih mendung seperti beberapa saat lalu.

Sementara batu yang mengganjal tenggorokan Furihata terasa semakin besar. Semakin menyumbat dan menyesakkan. Perutnya melilit kesakitan.

"Kenapa…" Desahnya. Rasanya air matanya akan keluar, namun ia tahan. Ia menatap lurus, berusaha menembus sepasang sapphire yang redup itu. Tapi yang Furihata temukan hanyalah dalamnya samudera.

"Sebenarnya pihak Akashi sudah berusaha mencarikan pengacara, " Lautan samudera dalam mata Aomine semakin dalam, "Namun apa daya, tidak ada yang percaya lagi padanya. Tidak ada yang mau mewakilinya dalam persidangan. Sehingga hakim segera memutuskan vonis mengerikan itu." Tutupnya.

Erangan putus asa meluncur mulus dari mulut Furihata. Sekarang hidup mempermainkan panggung hidup Akashi terlalu jauh. Terlalu kejam, terlalu memaksa.

Apakah tidak ada—?

"Kenapa—"

"Akashi tidak mau kau yang mewakili, " Sergah Aomine cepat, menambah besarnya sumbatan di tenggorokan Furihata, "Mengetahui kau dari pihak kepolisian. Kau tahu polisi harus bersikap netral."

Tangan Furihata terkepal kuat, marah, dan sedih, ia berkata, "Tidakkah… Aomine-san ingin menyelamatkannya juga…?" Dan Furihata melihat Aomine mengejang. Tatapannya yang sudah menyeramkan semakin nampak gelap. Furihata berjengit—ketakutan.

Tapi ekspresi Furihata berubah melihat raut Aomine berubah sedih, "Kami sahabat dan rekan satu tim semasa SMP… kau pikir aku tidak mau menyelamatkan dia?" Ucapnya sendu.

Furihata mengerti. Prinsip bahwa polisi harus netral telah menghentikan usaha Aomine. Ia tahu, Aomine memiliki perasaan yang sama dengannya.

"Kau tahu, Furihata, " Aomine meneguk sisa kopinya, seraya bangkit dan berjalan ke arah pintu, tangannya terhenti pada kenop pintu, "Perasaan, dalam kasus ini, tidak akan bisa menolong." Katanya final, seraya membanting pintu pelan.

Meninggalkan Furihata dalam lautan penyesalan.

.

.

12 APRIL

Genre : Angst/Friendship

Rate : T…?

Pair : AkaFuriAka (terserah reader-sama…)

Setting : semi-AU, policeman!Furihata

Warnings : Typo(s) , alur kecepetan, angst gagal, amburegul, emeseyu, de-el-el

.

.

#HappyReading!

.

.

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

FanFiction © Amelia MereGod'Schonovfizch

.

Panggung 'hidup' merupakan sebuah tempat yang kejam.

.

Furihata duduk di cafeteria kantor. Ia tidak lapar, namun rasanya ia perlu makan. Pernyataan Aomine tadi masih membekas di benaknya. Apakah semua orang begitu tidak percayanya dengan Akashi, yang bahkan merupakan korban perbuatan Haizaki. Kalau begitu, semua pembunuh level A dan S harusnya sudah mati sejak lama.

Ia mencengkeram cangkir kopinya. Panasnya menjalar membakar, tapi Furihata mengacuhkannya.

Kami sahabat dan rekan satu tim semasa SMP… kau pikir aku tidak mau menyelamatkan dia? Kalimat sedih Aomine masih menari dalam pikiran Furihata. Ia baru bertemu Akashi semasa SMA, perasaan simpatinya sudah sebesar ini. Bagaimana dengan Aomine—dan mungkin—seluruh anggota Generation of Miracles yang sudah bersama pemuda rambut merah itu sejak lama?

Angin bertiup. Siulannya menenangkan, tapi tidak cukup untuk memadamkan api kemarahan dalam diri Furihata.

"Furihata-kun?"

Kini yang dipanggil namanya terlonjak, penuh keterkejutan. Lihat siapa yang duduk di seberangnya dengan tatapan yang nyaris tidak pernah berubah?

"Ku—Kuroko-kun."

Kuroko Tetsuya tidak banyak berubah secara harafiah. Ia bertambah tinggi cukup banyak sejak hari kelulusan mereka di Seirin. Rambutnya dipotong pendek, poninya tidak terlalu menutupi matanya. Ia agak lebih tirus, tapi tatapan datarnya masih sama seperti yang selalu dilihat Furihata.

"Lama tak jumpa, Furihata-kun." Katanya sopan. Furihata masih memasang raut terkejut.

"Kuroko-kun… sejak kapan datang?"

"Sejak tadi. Sejak kau terlihat meremas cangkir itu." Katanya. Nadanya masih sama datarnya. Dan satu fakta yang diketahui Furihata, bahwa keberadaannya masih sama tipisnya.

"Ah, iya, lama tak jumpa, " Furihata melempar senyumnya, senang melihat kawan lama, "Ngomong-ngomong—"

Kuroko menyela, "Aku sudah mendengar putusan atas Akashi-kun." Katanya. Dan sesak yang sesaat hilang kembali muncul.

"O—oh…"

"Aku hanya ingin menyampaikan, " Lanjut Kuroko, memakan sedikit donatnya, "Bahwa Akashi-kun melewati hari-hari yang menyenangkan bersamamu."

"A…ku?"

Kuroko tidak menjawab, ia mengeluarkan amplop coklat lusuh yang diambilnya dari tasnya. Furihata mengambil, membalik amplopnya. Ada cap kepolisian. Ah, Furihata ingat. Ini surat yang ia periksa dua hari lalu.

Ia membuka amplop itu dan menemukan tulisan tangan Akashi.

Temanku, Kuroko Tetsuya,

Tidak ada alasan khusus bagiku untuk mengirimimu surat, Tetsuya, hanya ingin berbagi cerita. Jujur saja aku bahagia di sini. Kouki menjagaku dengan baik. Hari-hari kelam yang kupikirkan sebelum ini semuanya sirna. Aku bahkan bersyukur aku hidup di penjara ini.

Sayang sekali kurasa hidupku tidak akan kurang dari seminggu. Aku yakin cepat atau lambat keluarga Haizaki akan menututku lebih berat. Dan jangan mewakili dirimu, Tetsuya, apalagi Shintarou. Aku tidak ingin menambah dendam.

Aku hanya ingin menyampaikan, terima kasih atas segalanya. Terutama, jika kau bertemu Kouki, katakan padanya aku sangat bersyukur atas hidupku. Semoga, ia sehat selalu. Ia polisi yang hebat dan memang seharusnya begitu.

Salam hangat,

Akashi Seijuuro

Furihata tidak mampu membendung air matanya.

"Akashi-san…, " Sengalnya, mengelap air matanya yang tumpah dengan lengan kemeja polisinya, "…dia…terlalu..be—bertanggung ja—jawab…"

Kuroko hanya memandang dengan datar. Walaupun begitu kilat sedih tersirat diantara mata aquamarine-nya. Ia menerima kembali suratnya yang sudah agak basah oleh air mata Furihata.

"Dia sangat senang karena kau, Furihata-kun, " Kuroko tersenyum tipis, "Itulah obat yang selama ini dicari Akashi-kun."

Furihata menatap tidak mengerti.

"Cinta, " Kuroko menunduk sedih, "Kasih sayang, Akashi-kun tidak pernah menerima itu sejak ibunya meninggal. Ia, sudah dingin bagai es."

"Tetapi kau datang disaat semua berpikir tidak ada gunanya membantu Akashi-kun, dan kau, terlebih, membantu bukan hal yang sepele, " Ia meneguk cangkir tehnya, "Kau membantunya keluar dari jalur dingin itu. Kau telah membuka hatinya akan kasih sayang yang sudah lama hilang dari dalam dirinya. Kau membangkitkan kembali api kehidupan dalam dirinya, Furihata-kun." Tutur Kuroko lagi, seakan menyemangati.

Tapi kenyataannya adalah bahwa itu tidak menyemangati Furihata. Dan kenyataan lainnya bahwa api kehidupan dalam diri Akashi sebentar lagi akan padam. Tidak kurang dari dua puluh empat jam.

"Aku merasa… aku tidak membantu apa-apa." Ujar Furihata, merasakan penyesalan bagaikan lubang besar dalam hatinya. Tapi Kuroko menggeleng.

"Tidak, Furihata-kun, kau sudah membantu lebih dari cukup, " Kata Kuroko, "Akashi-kun pernah mengirimiku surat lain, kau ingat? Sayang aku tidak membawanya. Ia berkata bahwa kau membuat Akashi-kun siap menghadapi yang terburuk…" Furihata tahu apa yang terburuk itu.

"Aku…"

"Jangan salahkan dirimu, Furihata-kun, " Potong Kuroko, pelan, "Perbuatanmu… adalah yang terbaik untuk Akashi-kun sekarang ini."

Tak lama, hening mengitari mereka. Kuroko nampak tidak ingin meneruskan, sementara hati Furihata masih tercenung akan kalimat Kuroko.

'Benarkah, sudah cukup?' Batin Furihata, 'Benarkah aku, sudah memberi yang terbaik untuk Akashi-san?' Cangkir kopi bergetar dalam genggamannya, 'Apakah bagi Akashi-san, ini adalah yang terbaik…?' Matanya pedas lagi.

Tiba-tiba saja Furihata terperanjat—seakan ada yang menepuk pundaknya. Seperti ada suara yang berdesing di rongga kepalanya,

Tapi jika ini bukan yang terbaik, apakah kau mau mengembalikan Akashi dalam situasi dimana seluruh dunia akan membencinya?

Apa—

Apakah kau akan memberikan cukup kasih sayang untuk Akashi kalau ia sudah bebas?

Tentu saja… kau pikir—

Kau pikir, penderitaannya akan berkurang jika kau membebaskannya?

Aku…

"Kurasa aku akan pergi sekarang, Furihata-kun, " Kuroko membuyarkan lamunan Furihata, "Sampaikan… salamku pada Akashi-kun."

Kuroko merendah, bersuara dengan pelan,

"Akashi-kun… ia akan mati dengan senyuman di wajahnya."

.

.


12 April 20xx—

Sejak fajar menyingsing, tidak ada tanda-tanda sang surya akan menyapa penduduk Bumi. Ia bersembunyi di balik gelapnya awan. Gemuruh gunturlah yang menyapa semua orang. Angin bertiup dengan liarnya, seperti dapat menerbangkan apa saja. Langit tengah bermuram durja.

Tetapi suasana di ruangan bawah tanah itu lebih dingin dari yang di atasnya. Di ruangan sempit itu, Furihata berdiri seakan kakinya dilem. Tangannya mengepal erat. Matanya menatap nyalang shotgun yang diam membisu di atas meja. Diseberangnya, Aomine, menautkan jari seraya menghela napas.

"Harinya telah tiba, Furihata, " Furihata menelan ludah, kelu, "Kau akan didampingi empat polisi lain. Kau, Enoue, Miyahara, Shinjo, dan… Hanamiya, " Aomine mendelik Hanamiya Makoto yang tengah bersandar diam di dinding batu, "Salah satu diantara shotgun kalian berisi peluru yang langsung menghabisi nyawa tersangka." Ujarnya, menjelaskan.

Namun lem tidak kasat mata masih menempel di sol sepatu Furihata.

"Apa kau mengerti?"

Lidah Furihata—ia yakin—sudah berubah menjadi kayu.

"Kalau begitu, silakan." Aomine mengulurkan tangan, di depan moncong shotgun.

Dengan tangan bergetar Furihata mengambil senjata itu. Rautnya ngeri, seakan dengan menyentuhnya benda itu akan meledak. Kemudian Furihata memandang pintu besi tua yang mengarah langsung ke ruang eksekusi.

"Semoga berhasil, Furihata." Ujar Aomine pelan.

Pintu dibuka, ia dan Hanamiya melangkah masuk. Ruangan itu lebih besar, dengan besi sebagai pelapis dinding. Di tengah ruang eksekusi itu, Akashi duduk di atas kursi yang dilengkapi rantai jeruji. Tiga polisi lainnya sudah ada di tempat. Furihata dan Hanamiya segera menempatkan diri.

Ruang eksekusi juga terbagi atas dua bagian. Ruang yang lebih sempit digunakan polisi untuk melancarkan hukuman tembak. Disini lima polisi berjejer. Satu diantara pistol mereka berisi peluru yang akan membunuh langsung tersangka.

Selama beberapa lama, tidak ada yang bicara. Suasana cukup tegang, dan suara Aomine bergaung dari ruang dibelakang para polisi berdiri.

"Dengarkan aba-abaku! Dalam hitungan ketiga!" Furihata memandang Akashi, berharap ia juga memandang balik.

Tapi Akashi masih bergeming. Ia menunduk.

'Akashi-san,' Batin Furihata menjerit. Shotgun ditangannya bergemetaran.

Akashi akhirnya mendongak, dan tatapannya mengingatkan Furihata akan pertemuan mereka yang pertama di penjara. Menusuk, dan penuh dengan kebencian.

Hati Furihata mencelos, 'Kuroko-kun, kau berbohong.' Batinnya pahit.

Gaung suara Aomine menarik Furihata kembali ke dunia nyata, "Senjata siap!"

Shotgun Furihata terangkat dengan penuh getar ketakutan. Furihata berkeringat, padahal ia yakin ruangan ini sangat dingin.

Tatapan Akashi masih tidak berubah.

'Maafkan aku, Akashi-san…' Batin Furihata lagi, 'Pada akhirnya…aku—'

"SIAP!"

Getarannya semakin kentara. Bagaimana kalau pistolnya berisi peluru itu?

Apakah Akashi akan mati dengan tatapan seperti itu?

Apakah Kuroko berbohong padanya, agar ia siap menerima kenyataan mengerikan ini?

"SATU!"

Terdengar suara pelatuk pistol. Semua telah siap. Tatapan Akashi masih sama menusuknya.

Inikah akhir, yang Akashi-san inginkan? Kematian?

Bukankah semuanya bisa dibangun dari awal?

Apakah Akashi-san, telah menyerah atas hidupnya?

Manik kucing Furihata kembali bertabrakan dengan hetero itu. Dan Furihata tercengang.

Tidak ada genangan kebencian dalam kedua mata beda warna itu. Mata itu damai, walaupun menatapnya tajam. Jernih, dan sejuk. Apakah ini yang Kuroko maksudkan?

Bahwa Akashi sudah siap?

"DUA!"

.

.

"Kau yakin, Akashi-san?"

"Mm, aku sudah memutuskan. Lagipula, aku akan mati bahagia."

"A—Akashi-san! Jangan bicara seperti itu!"

"Kenapa? Aku bahagia, bisa mati di depanmu…"

"A—Aku—"

"Aku mati tanpa dendam dan penyesalan… merupakan suatu kebahagiaan bagiku."

.

.

Furihata tersenyum getir. Sudah hitungan kedua.

Pelatuk siap dilepaskan.

Akashi-san…

"Ah—"

Furihata melihat, dari jauh,

Dengan pelan,

Bibir itu melengkung indah,

Mata itu menatapnya damai,

Air mata tidak sanggup Furihata bendung.


"Akashi-kun… ia akan mati dengan senyuman di wajahnya."


"TIGA!"

Furihata tidak tahu, sudah berapa lama ia menarik pelatuk itu,

Empat pistol lainnya hanya berbunyi kosong, tidak mengeluarkan apapun,

Sementara pistolnya,

Peluru kecil nan berbahaya keluar dari moncong pistolnya,

Dan,

"TIDAK!"

Kepala Akashi jatuh lemas. Darah keluar dari dada sebelah kirinya. Tidak hanya itu, mulutnya juga mengeluarkan darah.

"TIDAK, TIDAK! LEPASKAN AKU! AKASHI-SAN!" Jerit Furihata. Namun Akashi tetap diam. Darah menetes ke atas baju tahanannya yang berwarna putih.

"FURIHATA, TETAP DITEMPAT!" Raung Aomine, namun peringatan itu tidak diindahkan Furihata. Polisi Miyahara masih mengapit lengan Furihata dengan sengit, sementara jeritan Furihata semakin keras. Air mata sudah tumpah.

"AKASHI-SAN!"

Tidak dijawab.

"TIDAK, KUMOHON—"

Tidak ada jawaban.

"Kumohon, Akashi-san…" Jeritannya berubah menjari lirih. Ia berteriak dengan sesenggukan. Tarikannya untuk melepaskan diri melonggar, ia menangis pelan.

Senyuman itu…

.

.


Furihata melihat Akashi berdiri tak jauh darinya. Dibelakangnya,

Ada sebuah pintu kayu tertutup.

Mata Akashi berbinar damai, tersenyum pada Furihata.

"Akashi-san...?"

Akashi masih tersenyum, tak lama,

"Terima kasih, Kouki."

Furihata menggeleng.

"Padahal, Akashi-san nantinya bisa bahagia…"

"Aku bahagia." Katanya absolute.

"…"

"…"

"Aku bahagia, pada akhirnya aku meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan dan dendam yang berarti…" Tuturnya.

Air mata Furihata tumpah kembali.

"Akashi-san—"

Pintu kayu di belakang Akashi terbuka perlahan.

"Wah, sudah saatnya. Aku harus pergi, Kouki." Ucap Akashi tenang, Furihata terperanjat.

"Tunggu, kemana—"

"Tugasku sudah selesai, Kouki."

"Tidak, kau tidak boleh pergi."

"Harus, atau aku akan menghantuimu."

"Tidak apa, asal jangan—"

"Kau polisi, Kouki. Kariermu masih panjang."

Hanya terdengar isakan perih Furihata.

"Terima kasih, Kouki."

Akashi berbalik, lalu berjalan.

Furihata merentangkan tangannya, berusaha menangkap Akashi

Tapi sosoknya semakin jauh,

Semakin kabur,

Tidak,

Jangan masuk ke pintu itu,

Padahal kau baru saja mendapatkan kembali kasih sayangmu…

Jangan pergi…

.

.

Dan pintu kayu itu tertutup pelan, dengan Akashi yang menghilang di dalamnya.

.

.

"…"

.

.


THE END


AMPUN MELANKOLIS BANGET HAHAHAHA :"DDD

Ujian praktik emng nguras tenaga, Ameru niatnya mo namatin kemaren, tpi saking capeknya akhirnya baru bisa post hari ini :"D /tiduran/ malah Maret sekolah Ameru udh mo try out I lgi, duuh QAAQ smoga aj Ameru lulus, amieenn /tabur air suci/

Ameru senang bnyk yg suka cerita ini, padahal bagiku ini asli gaje /salto/ makasih banyak, yaa :DD ohya, berhubung semangat(?) sdng naik, Ameru open utk request fanfic. Yaa, maunya sih pair yg ada Akashi-nya, AkaFuri.. boleh, AkaKuro.. juga boleh, tpi mungkin Ameru ga nerima pair MidoAkaato sejenisnya, hehehe /gimana seh/ fanficnya Ameru buat jenis oneshot.

Okey, sampai ketemu di fic lainnya!