"Cinta adalah ketika kau ingin memberi sebanyak mungkin bahkan ketika kau tidak diminta"

-GREY MORNING-

::

Pagi itu, sebelum berangkat ke kampus, Kibum mampir ke Garden Cafe, cafe dengan nuansa hijau dan taman dengan dinding-dinding kaca yang berkilauan. Memantulkan nuansa taman di sekelilingnya. Cafe itu terletak di pinggir jalan yang sering dilalui Kibum ketika berjalan kaki menuju kampusnya…

Dulu pada awalnya Kibum ragu memasuki cafe itu karena sepertinya harganya mahal, dia hanya berdiri di depan cafe itu, merasa tertarik tetapi ragu. Tetapi seorang pelayan, yang kebetulan sedang berada di depan cafe itu menyapanya dengan ramah, mempersilahkannya masuk sehingga akhirnya Kibum memberanikan diri untuk masuk. Pelayan yang ramah itu bernama Shindong dan mereka akhirnya berteman. Sekarang setiap pagi sebelum berangkat ke kampus, Kibum pasti akan mampir ke cafe ini untuk membeli minuman kesukaannya yaitu Oreo Milkshake.

Kibum sangat menyukai susu, dan ketika pertama kali memilih menu di cafe itu, matanya langsung mengarah ke bagian milkshake. Dia mencoba oreo milkshake, dari susu yang nikmat, dengan whipped cream yang lembut di atasnya, tentu saja dipadukan dengan remahan oreo yang bercampur putihnya susu menjadikan warnanya abu-abu yang menggugah selera.

"Milkshake lagi, Kibum?" Shindong langsung menyapanya dan menyebutkan pesanannya, bahkan sebelum Kibum sempat memesan.

Kibum tertawa, "Ya. Seperti biasanya."

Shindong menatap Kibum dengan pandangan mencela, "Dan aku heran kau tidak bertambah gemuk padahal kau mengkonsumsi minuman itu setiap hari, kau terlalu kurus, mungkin kau harus menambah porsi makanmu."

"Aku sedang dalam program penggemukan, karena itulah aku memesan milkshake setiap hari." jawab Kibum dengan senyum geli. Dia duduk di kursi tinggi di depan counter bar yang menyediakan sarapan dan kopi hangat tiap pagi, dan berubah menjadi bar minuman kalau menjelang malam. Beberapa saat kemudian Shindong datang membawakan pesanannya. Kibum menerimanya dengan senang, lalu menyedot Milkshake itu dari sedotan besar di gelas tingginya, rasa manis, gurih, dan nikmatnya susu bercampur oreo dan whipped cream langsung berpadu di mulutnya, membuatnya senang. Dan yang pasti memberinya kekuatan untuk menghadapi suasana kampus yang tidak menyenangkan setiap hari. Kibum langsung mengerutkan keningnya, dan Shindong yang masih berdiri di situ beserta beberapa pelayan lain yang menyiapkan pesanan sarapan di meja counter rupanya memperhatikannya.

"Suasana kampus masih tidak menyenangkan, Kibum?" tanya Shindong penuh pengertian.

Kibum mendongak dan menatap Shindong, lalu tersenyum sedih. Shindong benar-benar sudah menjadi teman bicaranya yang baik. Lelaki itu ternyata bukan hanya sekedar pelayan. Dari cerita pelayan lain, Shindong ternyata adalah orang kepercayaan dari pemilik cafe ini dan diberikan kendali penuh untuk mengelola cafe, tetapi dia menyerahkan tugas itu kepada orang yang lebih muda, kemudian memilih menjadi pelayan dan menikmati hidup dengan bercakap-cakap dan berbagi cerita bersama para pelanggannya. Dia lelaki setengah baya yang hidup sendirian. Berdasar gosip juga, lelaki ini kehilangan keluarganya di masa lalu dan kemudian memilih untuk hidup sendiri selamanya.

"Mereka semua masih bersikap sama. Menjauh dan memusuhiku." Kibum mengangkat bahu. Dia memang sering bercerita tentang suasana kampusnya kepada Shindong, karena lelaki itu sangat baik dan bersedia mendengarkan, Shindong membuat Kibum teringat kepada ayahnya. "Yah mau bagaimana lagi, aku memang bukan bagian dari mereka."

"Kau harus tetap semangat dan melupakan mereka." Shindong tersenyum bijaksana seperti biasanya, "Sebenci-bencinya orang kepadamu, hidupmu adalah hidupmu, jadi teruslah melangkah maju."

Kibum menatap Shindong dengan senyum tulus, 'Terima kasih, Shindong... Aku senang berbagi cerita kepadamu, kau benarbenar mirip ayahku," gumamnya malu-malu.

Shindong tertawa mendengar perkataannya, "Apakah kau memujiku karena ingin mendapatkan milkshake gratis?" godanya sambil tergelak, "Bersemangatlah! Oke. Aku harus kesana dan melanjutkan pekerjaanku." setelah melempar senyuman untuk terakhir kalinya, Shindong membalikkan badan dan meninggalkan Kibum sendiri, menikmati oreo milkshakenya.

"Mereka menghebohkannya di kampusnya." Nickhun melirik ke arah Siwon, "Adikku yang cerita. Banyak yang memusuhi dan merendahkannya karena menganggapnya tak sederajat."

Siwon mengalihkan pandangannnya dari buku yang dibacanya, "Siapa yang berani memusuhi Kibum di kampus?"

"Hampir semuanya," gumam Nickhun, "Yah sudah biasa terjadi kalau anak-anak keluarga kaya, di kampus khusus keluarga kaya akan merasa terganggu kalau tiba-tiba ada anak miskin yang naik status menjadi bagian dari keluarga yang paling berpengaruh di antara mereka. Dulu Kibum hanyalah anak biasa yang mendapat beasiswa di sana, sekarang posisinya tentu berbeda, dia menjadi bagian dari keluarga Choi, tinggal di mansion ini. Tentu saja permusuhan ini tidak terang-terangan, tetapi ada. Anak itu tidak punya teman sama sekali."

"Dan bagaimana Kibum? Apakah adikmu bisa mengawasinya?"

"Yoora tidak tahu," gumam Nickhun menyebut nama adiknya, "Dia satu tingkat di atas Kibum jadi tidak bisa mengawasinya terus menerus, menurutnya, Kibum biasa saja menghadapi semuanya, tampaknya dia sudah terbiasa menghadapi perlakukan macam itu."

Siwon tercenung, "Apakah menurutmu dia butuh bantuanku?"

"Menurutku dia tidak butuh bantuan siapa-siapa." Nickhun tersenyum kagum, "Dia bisa menghadapimu dan mengalahkanmu, dan menurutku teman-teman di kampusnya tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu."

Kibum duduk sendirian di kantin itu, di bagian paling ujung, tempatnya biasa duduk. Tidak ada yang menemaninya, tidak ada yang menyapanya. Begitulah kesehariannya di kampus paling terkenal milik keluarga Choi ini. Tetapi tidak apa, dia sudah terbiasa. Dulu ketika masuk pertama kali ke sini dengan beasiswa dari nyonya Choi, dia sudah dimusuhi, tidak ada yang mau berteman dengan manusia yang mereka pandang dari kelas rendahan. Bahkan banyak yang tampak merasa jijik hanya dengan tersentuh olehnya. Tetapi sekarang, ketika kabar bahwa dia tinggal dan diangkat anak oleh Nyonya Choi di mansionnya sudah menyebar. Aura permusuhan itu terasa lebih kental dan menguar di udara meskipun makin tertahankan.

"Bolehkah aku duduk di sini?" Sapaan manis itu membuat Kibum mendongakkan kepalanya dengan kaget. Seorang perempuan. Perempuan yang sangat cantik dengan baju dan penampilan mahalnya.

"Silahkan." Kibum mempersilahkan meskipun masih merasa bingung, siapa perempuan ini? Kenapa dia tidak pernah mengenalnya selama berada di kampus ini? Seharusnya perempuan secantik ini sangat terkenal di sini, apalagi dari penampilannya yang jelas-jelas berasal dari keluarga kaya.

"Namaku Kim Hyeji." perempuan cantik itu mengulurkan tangannya dankibum membalas. Kemudian Hyeji meletakkan piring makanannya di meja lalu duduk di depan Kibum dan tersenyum manis kepadanya, "Aku baru pindah kesini, sebelumnya aku kuliah di London, tetapi eomma sakit sehingga aku memutuskan tinggal dekat dengannya." dia tersenyum manis, "Aku sudah mendengar tentangmu, Kibum dan tahu mereka memusuhimu karena alasan yang cukup konyol, jangan pedulikan mereka ya."

Kibum menatap Hyeji yang tampak begitu tulus di depannya, dan kemudian tersenyum. "Aku tidak apa-apa, aku sudah terbiasa," gumamnya lembut.

Hyeji menatap menantang kepada beberapa orang di kantin yang menatap mereka dengan sembunyi-sembunyi, "Aku akan menjadi temanmu di sini, supaya mereka menyadari betapa konyolnya memusuhi seseorang hanya berdasarkan kekayaan dan kemiskinan."

Kibum tersenyum tertahan melihat kekeras kepalaan Hyeji, "Terima kasih Hyeji, aku senang kau mau menjadi temanku."

"Bagaimana keadaan di sekolah?" Siwon menyambut Kibum di ballroom mansion mereka, dengan gayanya yang elegan dan tetap tampan. Lelaki itu sekarang memegang beberapa cabang perusahaan Jonathan dan menjalankannya dengan baik. Karena kesibukannya, sangat jarang Siwon berada di rumah sore-sore begini.

Kibum menatap Siwon dan mencoba tersenyum. Hubungan mereka bisa dibilang baik. Siwon benarbenar

melaksanakan janjinya untuk bersikap baik kepada Kibum di rumah ini, meskipun kadang lelaki itu masih menyimpan arogansi dan sikap kasarnya.

"Baik-baik saja." jawab Kibum pelan.

"Aku dengar mereka memusuhimu."

"Mereka memusuhiku sejak awal, tidak apa-apa, aku sudah terbiasa Siwon."

"Kau adikku." suara Siwon terdengar keras, "Mereka tidak boleh memusuhimu, itu penghinaan terhadap keluarga Choi."

Kibum meringis mendengar suara mengancam Siwon, dia takut lelaki itu akan melakukan sesuatu yang mengerikan. Seperti memaksa semua orang berteman dengannya misalnya. Kibum berpikir itu bukan ide baik. Teman-temannya tidak bisa dipaksa menerimanya, ketika mereka dipaksa, yang timbul nanti adalah permusuhan yang lebih mendalam.

"Jangan lakukan apapun atas nama keluarga Choi." Kibum menyela dengan waspada, "Berjanjilah."

Siwon mengerutkan keningnya marah, "Kenapa aku harus berjanji kepadamu? Aku bisa melakukan apapun yang aku suka, tidak perlu diatur-atur olehmu."

"Kau berhak melakukan apapun yang kau mau, selama itu tidak berpengaruh kepadaku." Kibum mengeluarkan senjatanya, menatap Siwon dalam-dalam, "Kau sudah berjanji kepadaku Siwon, tidak akan berbuat jahat kepadaku."

Siwon mengerutkan keningnya. Dia memang pernah mengucapkan janji itu, di malam yang berhujan, tetapi apa hubungannya dengan semua ini.

"Aku tidak akan berbuat jahat kepadamu, aku bahkan membantumu supaya tidak dimusuhi di kampus. Aku akan memperingatkan dewan sekolah supaya memperingatkan teman-temanmu atas perlakukan mereka kepadamu, mereka harus bersikap baik kepada adikku."

"Kau hanya akan menghina mereka dan memaksa mereka melakukan sesuatu yang tidak mereka suka. Oh ya, mereka mungkin akan bersikap baik kepadaku, tetapi mereka akan semakin membenciku."

Siwon mengernyit, "Kau harusnya tahu Kibum, kami para orang kaya tidak peduli apa yang ada di hati semua orang. Yang penting mereka bersikap baik dan menghormati kami."

Kibum menghela nafas, "Tetapi aku bukan orang kaya Siwon, aku tidak mau orang berbuat baik kepadaku dengan menjilat atau kebaikan palsu, tetapi di belakangnya menanam kebencian." lalu Kibum teringat kepada Hyeji, "Lagipula akhirnya aku punya seorang teman."

"Siapa?"

"Namanya Kim Hyeji, dari keluarga Kim, dulu dia sekolah di London, dan baru pindah kemari di awal bulan, dia berkata bahwa sikap semua orang yang memusuhiku hanya karena harta adalah konyol dan dia bersedia berteman denganku." Kibum terkekeh kembali mengingat kata-kata Hyeji dan kedekatan mereka setelahnya, mereka cocok mengobrol bersama dan sepertinya benar-benar bisa bersahabat, "Aku senang menemukan orang kaya yang tidak berpikiran sempit seperti Hyeji."

"Aku juga orang kaya yang tidak berpikiran sempit," sela Siwon sambil melipat tangannya di dada dengan santai.

"Oh ya?" Kibum menatap Siwon menantang, "Kau adalah orang kaya yang berpikiran paling sempit yang pernah kukenal Choi Siwon!"

Siwon terkekeh, mencoba kelihatan tersinggung, "Aku hanya berpikiran sempit kepada orang-orang tertentu saja." Kibum mendengus, "Oh ya, tentu saja."

"Aku hanya ingin kau berhati-hati Kibum. Tentang Hyeji itu, kau harus memahami motif dibalik keputusannya menjadi temanmu."

"Tidak, tidak perlu, aku tahu Hyeji orang yang tulus." jawab Kibum yakin.

Siwon mengernyit menatap Kibum.

'Hyeji, kenapa nama itu terdengar tidak asing?'

"Namanya Kim Hyeji, dari keluarga Kim yang terkenal itu. Pantas aku merasa dia tidak asing," Siwon duduk di depan meja kantor sang eomma. Sang ibu yang dari tadi tampak menelusuri pekerjaannya terpaksa mengalihkan perhatiannya kepada anak laki-laki satu-satunya.

"Dan kalau eomma boleh tahu, kenapa kau tiba-tiba jadi tertarik kepadanya?"

Siwon mengerutkan alis, "Karena dia satu-satunya orang yang mau berteman dengan Kibum di kampusnya."

Sang eomma menumpukan jemarinya di dagunya, "Dan menurutmu itu aneh? Apakah kau tidak bisa berpandangan bahwa ada beberapa orang yang memang benar-benar tulus?"

"Itu aneh karena dia tiba-tiba mucul setelah sekian lama."

Nyonya Choi tersenyum, "Mungkin memang kebetulan yang aneh..." sang eomma melepas kacamatanya di meja dan menatap Siwon, " Kim Hyeji adalah perempuan yang pernah ditunangkan kepadamu sejak kau dilahirkan. Itu adalah salah satu janji antara kakekmu dengan kakek Hyeji."

"Apa?"

"Ya. Kau punya tunangan sejak kecil. Tetapi karena Hyeji tubuhnya lemah, dia dirawat di London dan bersekolah di sana sejak kecil. Dia seumuran denganmu, tetapi karena sakitnya dia terlambat bersekolah, mungkin karena itulah dia bisa setingkat dengan Kibum. Dan karena dia sejak kecil di London-lah, kau tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini."

"Kenapa eomma tidak pernah bercerita kepadaku tentang pertunangan ini?"

"Karena hal itu sudah tidak penting lagi, sebab ketika usiamu lima tahun setelah kejadian percobaan penculikan itu, appamu membatalkan kesepakatan itu. Seperti eomma bilang tadi, itu adalah janji yang dibuat oleh kakekmu dengan kakek Hyeji, eomma tidak tahu alasan appamu membatalkannya, mungkin dia berpikiran kalau kesepakatan itu tidak relevan lagi di jalan sekarang, appamu adalah orang yang berpandangan modern… Kau bisa menanyakan alasan pastinya nanti kalau dia sudah pulang dari Eropa."

Siwon mengernyitkan keningnya makin dalam. Entah kenapa dia merasa bukanlah suatu kebetulan Hyeji muncul di kehidupan mereka dan menjadi sahabat Kibum.

Kibum melangkah di balkon sambil menghirup udara segar yang berhembus dari luar, rasanya dingin, menyejukkan dan menyenangkan. Rasanya begitu damai berdiri di sini. Dipegangnya kalung pemberian dari mendiang sang ayah dan tersenyum. Sang ayah pasti senang melihatnya diurus di sini. Kibum tidak pernah menyalahkan ayanya karena hidup miskin. Kibum tidak menyalahkan ayanya karena kehilangan bakat di jemarinya yang membuatnya terpuruk menjadi seorang buruh bangunan.

Mereka memang miskin, tetapi mereka bahagia, hidup dengan penuh cinta di rumah mereka yang kecil tetapi hangat. Tidak perlu takut akan niat lain di balik kebaikan orangorang, karena mereka tidak punya apapun untuk diincar. Kehidupan di masa itu biarpun sulit dan berkekurangan, tetapi terasa menyenangkan karena kehangatan yang mereka miliki.

Suara alunan biola membuat Kibum teralih dari lamunannya, suara itu terdengar dekat dari sini, dari ruang keluarga. Alunannnya begitu indah, memainkan musik yang menyayat hati, terbawa oleh hembusan angin merasuk hingga ke jiwa. Kibum berdiri dengan ragu di ruang keluarga, lalu melangkah masuk. Ada seorang lelaki sedang memainkan biola di tengah ruangan, lelaki yang tampan dan sepertinya seumuran dengan Siwon.

'Siapa lelaki ini?' Lelaki itu menyelesaikan alunan lagunya dengan nada pedih yang semakin pelan, menyisakan kesesakan bagi yang mendengarkan, karena terbawa oleh kesedihan nadanya. Lalu berhenti, menghela napas, dan menatap Kibum, seolah baru menyadari kehadiran Kibum di sana.

"Hai." lelaki itu meletakkan biolanya dengan anggun di meja, lalu tersenyum lembut, "Kau pasti Kibum, kenalkan aku Taecyeon," dia mengulurkan tangannya.

Dengan gugup Kibum membalas uluran tangan itu.

"Aku sudah lama melihatmu, bahkan sejak kau datang pertama kali ke mansion ini, aku salah satu sahabat Siwon," senyum lembutnya tidak pernah hilang dari wajahnya, "Tetapi baru sekarang aku berkesempatan berbicara langsung denganmu."

"Di sini kau rupanya. Aku sudah curiga kau tak tahan untuk memainkan biola dari koleksi appa," suara Siwon menyela di pintu, lelaki itu melangkah masuk, dan kemudian berdiri tertegun, mengernyit kepada Kibum dan Taecyeon yang berdiri berhadap-hadapan.

"Kenapa kau ada di sini Kibum?"

Taecyeon tersenyum kepada Siwon, "Dia mengikuti alunan permainan biolaku dan masuk ke sini, ah, aku harus pergi." Taecyeon melirik ke arah jam tangannya, "Terima kasih sudah meminjamiku biola itu Siwon," sebelum keluar, Teacyeon mengedipkan matanya kepada Kibum.

Setelah pintu itu tertutup Siwon menatap Kibum dengan tajam, "Jangan berhubungan dengan Taecyeon, jangan melakukan kontak dengannya, pokoknya jangan sampai kau berinteraksi dengannya."

Kibum menatap Siwon dengan bingung, "Kenapa?"

"Karena dia benci perempuan." Taecyeon menatap Kibum dengan serius, "Dia dipanggil sebagai penghancur hati perempuan, semuanya. Tidak peduli tua atau muda, bersuami atau lajang, semua akan dihanyutkan dalam pesonanya untuk kemudian dihancurkan. Dia menyimpan kebencian yang mendalam kepada ibu kandungnya yang meninggalkannya, lalu melampiaskannya kepada semua perempuan. Jangan pernah dekati dia atau kau akan menjadi korbannya."

Kibum menghela napas, sedikit merinding mendengar penjelasan Siwon. Kalau memang benar deskripsi Siwon tentang Taecyeon, dia pasti akan menghindarinya. Tetapi entah kenapa ada perasaan aneh ketika dia melihat Taecyeon tadi, perasaan aneh yang akrab, seolah-olah dia telah mengenal Taecyeon sebelumnya.

"Keadaannya makin buruk ya." Hyeji duduk di sebelah Kibum di kelas sambil menatap ke sekeliling, beberapa orang tampak langsung berbisik-bisik melihat Hyeji mendekati Kibum. Kibum menoleh ke arah Hyeji dan tersenyum sedih.

"Maafkan aku."

"Tidak perlu minta maaf." Hyeji terkekeh, "Pendapat orang-orang yang picik dan dangkal sama sekali tidak mempengaruhiku. Aku senang dengan yang kulakukan, lagi pula aku dulu sama sepertimu, tidak punya teman."

Kibum menoleh ke arah Hyeji dan menatap dengan tertarik, "Benarkah?" Mana mungkin orang secantikmu dan tampak jelas dari keluarga berkelas bisa merasakan tidak punya teman?"

"Aku dulu sering sakit-sakitan dan tinggal kelas. Pada akhirnya aku harus diam di dalam rumah dan menjalani perawatan." Mata Hyeji menerawang jauh, "Dan kemudian teman-temanku hanyalah para dokter dan perawat yang hilir mudik."

"Kau sakit apa?"

"Bukan sakit yang penting." Hyeji memalingkan muka dan menatap buku di tangannya, "Sekarang aku sudah sembuh, dan aku masih tidak suka membicarakannya." lalu perempuan itu menatap Kibum dengan mata bulatnya yang begitu bening, "Maafkan ya."

Kibum langsung luluh dan tersenyum pengertian pada Hyeji, "Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau sudah

sembuh."

"Ya. Aku senang bisa berteman denganmu Kibum." jawab Hyeji, setengah berbisik.

.

.

.

To Be Continued. . .

Review pleaseee... ^^