Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Xi Luhan and others
Warn : Boyslove, Crackpair, Gramatical error, Typos, don't like don't read
.
.
-Dazzling Kaise-
"Annyeong... Kamu Kim Jongin kan? Apa aku salah rumah?" Tanyanya polos. Jangan lupa adegan ia mengerjapkan matanya bingung yang berasa slow motion bagi Jongin. Itu sungguh... sungguh... sangat manis sekali. Matanya mengerjap lucu dan ketika tersenyum membentuk lengkungan sabit yang entah kenapa ia jadi sangat suka.
Jongin menggaruk kepala belakangnya gugup. Duh... seumur-umur baru kali ini deh ia merasakan hal seperti ini.
"Iya. Aku Kim Jongin. Kau siapa?" Ucapnya datar. Sebisa mungkin Kai mengontrol perasaannya. Bukan Jongin sekali langsung 'jatuh terpesona' dengan seseorang pada pandangan pertama. Karena biasanya cewek-cewek yang seperti itu padanya.
Lagi-lagi senyuman yang ditampilkan sang pemuda manis membuat ia merasakan beribu kupu-kupu terbang di perutnya. Anak ini manis sekali sih. Sewaktu mengandung ibunya ngidam apa? Semua permen yang ada di dunia ini? bahkan dia jauh lebih manis.
"Perkenalkan aku Sehun. aku yang akan tinggal bersamamu untuk beberapa waktu ke depan." Pemuda manis itu menjulurkan tangannya mengajak Jongin berkenalan. Setelah kira-kira 5 detik lamanya Jongin baru balas menjabat.
.
-Jongin in Progress-
-'Tinggal bersamanya selama beberapa waktu kedepan?'-
-'Apa ini ada hubungannya dengan pembantu yang di janjikan Mama'-
.
"Aku yang dikirim Mamamu. Kalau tidak percaya aku bisa menghubunginya.'' Namja manis itu berniat mengeluarkan ponsel dari celana jeansnya. Dan saat akan mengetikkan nomor, Jongin segera menghentikannya.
"Tidak, aku percaya. Ayo masuk. Bawa Barangmu."
Jika memang benar Sehun yang dikirim ibunya sbg Pembantunya, wow ini fantastic sekali.
.
.
.
.
Sehun mengikuti Jongin yang berjalan di depannya. Tepat di depan sebuah ruangan yang di asumsikan Sehun sebagai kamarnya, mereka berhenti.
"Kau boleh menggunakan kamar ini. di dalam sedikit berantkan kau bisa merapikannya."
Sehun mengangguk mengerti. "Boleh aku melihat ke dalam?"
Jongin mengangguk.
"Jika butuh sesuatu aku ada di kamar depan" Ucap Jongin kemudian meninggalkan sehun. Demi seluruh koleksi kaset ps nya jantung Jongin tengah bekerja 'sangat-tidak-normal' ia sampai merasa punya penyakit jantung. Sebisa mungkin Jongin mengabaikannya. 'Setidaknya ada yang membangunkan pagi-pagi nanti'
Jongin kembali ke kamarnya dan berniat melanjutkan acara mengeprint yang sempat tertunda. Sementara Luhan masih asyik berkutat dengan ponselnya dan Headset yang menempel di telinganya. Menyadari kehadiran Jongin, Luhan mendongak.
"Kau sedang tidak terserang anemia mendadakkan?" Tanya Luhan tiba-tiba.
Jongin memasang wajah 'WTF' nya.
"Wajahmu pucat sekali. Memangnya siapa tadi yang berkunjung? Penagih Hutang?" Tanya Luhan Asal.
Jongin masih berusaha menetralkan detak jantungnya dengan tidak menanggapi candaan Luhan yang sama sekali tidak lucu itu.
"Hey... ada apa denganmu? Aku serius, kau sedang tidak sakitkan Jongin?"
Tanya Luhan memastikan, melepaskan headset dan ponsel dari genggamannya.
"Tidak. Aku baik-baik saja.'' Jawab Jongin datar.
"Memangnya siapa yang berkunjung tadi?"
"Malaikat mungkin. Aku tidak tahu bagaimana menyebutnya lagi"
"Ha? Hahaha..." Luhan tertawa. Jongin mendesis.
"Malaikat pencabut nyawa. Dan kau segera mengusirnya karena tidak ingin mati. Lalu, berakhir dengan wajahmu yang pucat seperti ini?" Ujar Luhan bego.
"Bodoh... Lanjutkan saja pekerjaanmu." Ujar jongin acuh. Mengambil kertas hasil cetakannya kemudian menyusun dan meletakkan di atas meja.
"Habisnya kau menjawab seperti bukan jawaban. Siapa yang datang tadi?"
Tanya Luhan sekali lagi. Luhan kalau belum mendapat jawaban, akan seperti ini terus pada Jongin. Membuat Jongin kesal setengah mati.
"Pembantu-ku!"
Dan Luhan kembali tertawa terpingkal-pingkal bahkan kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Hahahahaha... ahahahha.. ja ja... jadi Mamamu masih bersikeras menyewa pembantu untukmu... Hhahahahah... Dasar anak mama... Kau Kai...hahaha... Tampang aja preman, anak mama.. "
"saraf tertawamu putus ya. sehingga tidak bisa mengontrolnya?" Ujar Jongin sengit.
Luhan melanjutkan tawanya.
"Hati-hati terlalu keras, rahangmu geser! Minggir aku mau berbaring!"
Jongin tiduran sambil tengkurap, otaknya masih memikirkan kejadian barusan. Astaga, Astaga, Jadi Mamanya serius mengirim Sehun sebagai Pembantu-nya? Bagaimana bisa? Aaa.. Mamanya hebat sekali sih, tahu selera anak muda? Ha-ha-ha. Tanpa Luhan sadari Jongin sendiri cengengesan memikirkan sang pembantu yang sangat manis itu, siapa tadi namanya? Thehun? Sehun? Bahkan namanya saja manis. Sehun. Sehunnie. Sehunna. A...
Sementara Luhan setelah menetralkan tawanya ia kembali melanjutkan ngegame di Ponselnya. Jongin sepertinya juga sudah ke alam mimpi. Ia melirik jam dinding. Jam tujuh malam. Pantas saja perutnya berteriak minta di isi karena setahunya 'Luhan' terakhir makan siang tadi jam 1. Maka atas dasar lapar ia turun dari ranjang king size Jongin. Berjalan hendak menuju dapur. Mana tahu ada roti-roti atau setidaknya biskuit yang bisa ia makan. perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Luhan terus berjalan ke belakang, mengenai pembantu Jongin, akh kenapa tidak sekalian minta di masakkan. Hanya Roti saja untuk mengganjal perutnya sepertinya tidak akan cukup. Ia memutar jalan menuju kamar pembantu yang biasa di sediakan Jongin. Mengetuknya perlahan dan tak lama kemudian bunyi suara pintu dibuka terdengar.
"Maaf.. Kau siapa?" Tanya seseorang yang barusan membuka pintu.
Luhan di buat terperanjat olehnya. Astaga, astaga, ini siapanya Jongin? Adiknya? Saudaranya? Tidak mungkin Jongin.. kan anak Tunggal. Atau jangan-jangan...
"Tunggu.. Kau yang siapa? Setahuku Jongin tinggal sendiri." Ucap Luhan memotong perkataan Sehun.
"Aku Sehun. aku orang yang dikirim mama Jongin untuk tinggal di sini. Apa kau temannya Jongin?" Tanya pemuda itu lucu.
Luhan menganga di buatnya, Tinggal di sini? Apa itu artinya, Sehun itu yang dimaksud Jongin sebagai asisten rumah tangganya? Jongin kenapa beruntung sekali bisa mendapat pembantu semanis Sehun... Huaaaa... mantan-mantan nya saja tidak semanis orang di hadapannya ini.
"Aku Luhan.. Kakak tingkat Kai. Eh maksudku Jongin." Luhan menjulurkan tangannya.
Sehun membalas uluran tangan Luhan. Luhan tersenyum bahagia sekali.
Sehun di buat tercengang olehnya. Lalu, melepas genggaman tangan Luhan padanya. lagi, Luhan malah memberikan wink pada Sehun.
"Aku boleh minta bantuan?" Tanya Luhan lembut dan senyuman yang bertengger indah di bibirnya.
Sehun mengangguk.
"Bisa buatkan kami makanan. Kau bisa memasakkan? Sup daging pun jadi." Pinta Luhan.
"Sup daging? Tentu saja. tunggu sebentar ya." Jawab Sehun ramah. Membuat Luhan semakin girang saja. sepertinya besok-besok ia akan selalu modus pada Kai dengan bermain ke apartemennya.
.
.
15 menit kemudian masakkan Sehun jadi. Ia menghidangkan di meja makan dimana Luhan menunggu.
"Tidak usah. Aku bisa mengambilnya sendiri." Tolak Luhan ketika Sehun juga akan mengambilkan makanan untuknya. Sehun kembali duduk di tempatnya. Oh ya, Luhan menyuruh Sehun ikut makan juga ngomong-ngomong.
"Kamu darimana Sehun? maksudku asalmu?" Tanya Luhan memulai obrolan, sekalian modus pdkt.
"Aku dari Daegu." Jawabnya.
Luhan mengangguk, "Sekarang kelas berapa?"
Sehun menelan nasi yang tengah di kunyahnya kemudian menjawab "Tahun ini aku masuk SMA"
Dan saat itu Luhan tersedak sup daging yang di makannya.
"Hati-hati Luhan Hyung..." Sehun segera mengambilkan minum dan memberikannya kepada Luhan.
Pantas saja Tuhan. Pantas saja dia masih sangat polos, mau masuk sma toh. Batin Luhan. "Ayah Sehun orang China ya?"
Sehun mengangguk.
"Bisa berbahasa China? Hyung juga orang China. Kau boleh memanggilku Lu-Ge saja."
"Sedikit, saat SD aku tinggal di China, Ge."
Luhan tersenyum, sepertinya mereka akan mudah akrab nantinya.
"Gege, juga punya adik seusiamu. Kau punya saudara lain?"
Sehun mengangguk, "Adik. Sekarang dia masih sekolah dasar tingkat satu."
...
Saat Luhan sedang membantu Sehun membersihkan piring kotor di dapur, muncul sosok lain. Pemuda berkulit tan dengan rambut acak-acakan, mata sembap yang sesekali masih terpejam. Jangan lupakan mulutnya yang tengah menguap lebar sekarang. Anak itu pasti baru bangun tidur. Pemuda berkulit tan itu berjalan menuju meja makan. Hendak mengisi perutnya yang berteriak kelaparan. "Ah.. Bagus. Aku jadi tidak repot memesan makanan lagi sekarang." Gumam lelaki dengan nama keren 'Kai' tsb saat menemukan semangkok sup daging yang menggoda nya untuk makan.
...
Luhan tetap melanjutkan kegiatan bersama Sehun. ia senang sekali bisa dekat-dekat Sehun seperti ini. selain manis, sehun ini anaknya nyambung kalau di ajak ngobrol. Tadi saja mereka sudah mengobrol banyak. Mungkin karena faktor sama-sama anak China juga ya?
"Sehun kapan masuk sekolahnya? Sudah mengurus pendaftaran?" Tanya Luhan.
Sehun yang tengah membilas piring menoleh sebentar. Kemudian mengangguki iya.
"Dimana?"
"SOPA." Jawab Sehun singkat.
Luhan terkejut, "Bukannya SOPA sekolah bergengsi seni itu ya?"
Kali ini Sehun kembali mengangguk, "Makanya Sehun mau jauh-jauh ke Seoul. Itu sekolah yang Sehun impikan dari dulu."
Luhan hanya ber'oh' ria. "Oh ya Sehunnie, kapan mulai masuk?"
"Awal maret Ge."
Luhan mengangguk-angguk. "Oh ya, sebentar lagi Gege libur semester. Kalau mau, Gege bisa ajak Sehun keliling Seoul. Sehun belum tahu banyak daerah sini kan?" Luhan kembali memodusi Sehun, langkah awalnya ya ngajak jalan. Cerdaskan, hehe.
"Eh... Serius Ge? Gak ngerepotin?" Tanya Sehun antusias. Kedua anak adam itu sekarang telah menyelesaikan acara cuci piring nya. Dan sekarang sedang meletakkan perkakas makan itu di lemari penyimpanan.
"Sehun mau kan?"
"Hmm.." Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senang.
Sedang asyik mengobrol tentang rencana jalan-jalan mereka. Namja berkulit coklat eksotis, Jongin yang mengatakannya, menghampiri dua anak lelaki beda usia ini.
"Ekhem.." merasa kesal dengan kehadiran dua namja di depannya, Jongin berdeham dengan keras. Bukan lagi deheman cool khas orang tampan batuk.
Luhan hanya melirik sebentar, Sehun juga begitu. Senyum sedikit. Bedanya kalau lirikan Sehun itu mengirimkan gelombang-gelombang kebahagian bagi Jongin, nah kalau Luhan sebaliknya. Kemudaratan. Haha..
"Sepertinya seru sekali ngobrolnya. Ku kira sudah pulang kau Luhan." Jongin berujar santai, dalam hatinya ia merutuki rusa China di sebelahnya. Sial.. Jongin kecurian start.
Luhan hanya mengabaikannya dan kembali melanjutkan obrolannya bersama Sehun. Jongin sangat kesal melihatnya, sekali lagi ia berdehem. "Ekhem.. Bisa tolong cucikan piringnya Sehun?" Perintah Jongin.
"Oh.. ya, Tentu.. Maaf Jongin Hyung."
Sehun pun kembali ke dapur di tempat cucian piring, sementara Luhan yang berniat membuntuti segera saja Jongin tarik tangannya. "Ya. kau mau kemana?" Ucap Jongin tak santai.
"Santai, dude! Kau kenapa, eh?" Ujar Luhan. Mereka berdua memandangi kepergian Sehun secara bersamaan.
"Oh ya, aku tahu apa yang kau fikirkan." Ucap Luhan.
...
tbc
a/n.. sorry, ini lama bgt updt nya, kelanjutannya jg biasa aja... double sorry.. untuk typos kemarin makasih yg udah ngingetin..
ini ff nya rated T ya, fyi. Ya udh intinya makasih yg udah fav fol rev.. ini lanjutannyya.. bagus ga bagus udah nikmatin aja.. ho-ho
