Note : halo-halo, hehe, belum ada seminggu sudah saya update.. sebelumnya terima kasih kepada kalian yang menyempatkan diri membaca fik ini.. dan untuk balasan review,

Ayahina : awalnya memang mau ngebikin si Yuichiro tewas, tapi tak jadilah, soalnya dia tokoh penting. lalu 'dia'.. chap ini belum ada penjelasan tentang 'dia', maaf.. terima kasih sudah review..

Guest : penasaran sama 'dia'? iya, saya juga penasaran, *loh? terima kasih sudah review..

okay, lanjut ya..

.

.

.

Mystery2. Piano di Ruang Musik

Beberapa hari sejak kejadian Yuichiro mengalami retak pada tulang kaki, akhirnya remaja itu diperbolehkan pulang ke rumah, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut tentunya. Kedua orang tua Yuichiro marah, kenapa bisa anaknya itu mengalami kecelakaan di sekolah? Padahal, sudah jelaskan jika yang salah Yuichiro itu sendiri.

Akane maupun Mikaela, yang merupakan tetangga sekaligus teman dekat, setiap saat jika ada waktu selalu mengujungi temannya itu, entah sekedar lihat keadaan atau malah memberikan setumpuk tugas-tugas sekolah yang tentunya harus dikerjakan.

Hei, walaupun Yuichiro sakit, ia masih punya kewajiban sebagai siswa, betul?

Lalu, pada suatu hari, pada saat jam menunjukkan pukul 3.45 PM. Sekolah akan memulai sistem belajar mengajar pada sore hari.

Mikaela melangkah pelan di lorong sekolah, menatap keluar jendela yang menunjukkan cuaca di luar sedang mendung. Mungkinkah akan hujan? Suasana sekitar juga cukup gelap, membuat lampu lorong mau tak mau harus dinyalakan.

Remaja ini mendengus pelan, kemudian melanjutkan perjalan menuju lokernya. Hendak mengambil beberapa buku yang akan digunakan untuk kelas sore nanti.

Di ujung lorong, nampak Lacus dan Rene tengah berjalan sambil serius berbincang-bincang. Sadar jika ada Mikaela, maka Lacus langsung saja mempercepat langkahnya menghampiri sobat sekelasnya itu.

"Hei, Mika, Mika!" panggil Lacus dengan girangnya.

"Hmm?" Mikaela tak menoleh, masih fokus dengan buku-buku dalam lokernya.

"Kamu tahu tentang murid baru kelas sebelah?"

Mikaela terdiam sebentar, "Tidak.." jawabnya datar. Ingin sebenarnya bertanya 'Memangnya kenapa?', namun remaja ini urung bertanya, takut jika Lacus malah berceloteh panjang lebar tentang si murid baru itu.

"Jika begitu aku akan memberitahumu.."

Ya, walau tak ditanya pun, Lacus pasti akan tetap berceloteh. Entah kenapa Mikaela mengutuk pada waktu yang mempertemukan mereka di saat tak menyenangkan seperti ini.

"Namanya Shinoa, dia baru pindah ke sini 2 hari yang lalu.." Lacus memulai penjelasannya.

"Kamu tahu, mungkin saja Lacus ini menaruh hati padanya, itu karena warna rambut mereka sama.." timpal Rene yang sepertinya diam saja sejak tadi.

"Hei, bukan begitu!" Yang disebut menyangkal. "Ya, walaupun dia manis sih.. Sudah begitu badannya kecil, kan jadi terkesan sekali unyunya.."

"Aku rasa masih kecil senior Krul ketimbang Shinoa.."

Mendengar ucapan Rene, Lacus terdiam sebentar, "Mungkin perkataanmu ada benarnya juga. Menurutmu gimana, Mika?"

"Tidak tahu. Aku tak pernah lihat orangnya seperti apa, mana mungkin aku bisa menilainya.." balas Mikaela masih sama datar seperti sebelumnya.

Lacus mendengus pelan sembari menyederkan tubuhnya di loker samping, "Ya memang sih.. Cuma, aku takut saja jika gadis seperti itu jadi korban bully para senior maupun teman sekelas.."

Mikaela entah kenapa menghentikan aktifitasnya. Korban bully ya? Yah, yang namanya sekolah pasti di mana pun ada aksi bully untuk setiap siswa baru, hanya saja..

"Oh ya, Lacus.." remaja bersurai kuning ini memanggil, yang dipanggil melirik bingung. "Kamu tahu di mana buku Sastra Mandarin-ku?" tanyanya mengalihkan topik.

"Bukannya kemarin sudah kukembalikan ya?" Lacus menjawab dengan alis terangkat sebelah.

"Iya, tapi aku lupa meletakkannya di mana.."

"Aku rasa kamu meninggalkannya di ruang musik, kemarin kan kamu latihan di sana.." terang Rene.

"Begitukah? Ya sudah, aku ambil dulu.."

Mikaela menutup lokernya, kemudian membalikkan badan hendak melangkah.

"Eh, eh, tunggu!" Lacus tiba-tiba menghentikan langkah temannya itu.

Manik biru melirik, kesal lantaran aksi cabutnya dihentikan dengan tidak terhormat. Ia menatap ke arah Lacus, mengisyaratkan agar remaja itu melanjutkan apa yang ingin diucapkan.

"Kamu tidak tahu tentang 'piano di ruang musik yang berbunyi sendiri'?" tanya remaja bersurai ungu itu kemudian.

"Tahu, memang kenapa?"

"Yakin mau ke sana? Sendirian pula?"

Mikaela mendengus singkat, "Memang kalian mau menemaniku?"

Mendengar pertanyaan itu, Lacus langsung saja menggelengkan kepala cepat, "Woo, maaf tapi aku tidak mau.."

Mikaela memutar kedua matanya, mengumpat tidak jelas kemudian melanjutkan perjalannya. Lacus hanya mesam-mesem lantaran sukses membuat temannya itu kesal.

"Memang kenapa dengan 'piano berbunyi sendiri'?" tanya Rene yang sepertinya tidak mengerti.

"Ya pianonya bunyi sendiri, seperti ada yang main tapi tak ada siapa-siapa di sana.." terang Lacus cepat.

"Serem dong.."

Kali ini giliran Lacus yang menatap kesal ke arah sobatnya itu, entah karena Rene tolol atau memang tak bisa membaca situasi.

Mengenai 'piano yang berbunyi sendiri', semua orang bahkan tahu akan hal itu. Dikebanyakan film ataupun komik juga sering dijelaskan. Mikaela sendiri tentunya tahu, hanya saja remaja ini tak ingin terlalu memusingkan hal itu. Lagipula, itukan hanya cerita, isapan jempol untuk menakuti-nakuti. Haruskah dipercaya?

Lorong menuju ruang musik amat sangat sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Lampu yang berada di langit-langitnya pun berkedap-kedip tidak jelas, seperti memang sudah mau padam saja.

Mikaela melangkah dalam diam, tak ada suara apa pun yang mengisi kecuali suara langkah kakinya. Perlahan pikiran mulai memikirkan hal yang aneh-aneh, mengenai 'piano yang berbunyi sendiri', dan juga 'dia' yang dimaksud Yuichiro beberapa hari yang lalu.

Temannya itu berkata jika pernah bertemu, tapi mana mungkin kan?

Lalu, akhirnya ia tiba di depan ruang musik. Tangan meraih kenop dan membuka pintu secara perlahan. Tak ada apa pun, hanya ruang musik biasa dengan piano yang berada di tengah serta instrumen lain yang terletak di sisi-sisi ruangan.

Mikaela menghela nafas singkat, entah lega atau apa. Kemudian remaja ini membawa dirinya menuju salah satu meja yang terletak agak ujung, melirik ke arah laci dan iya memang benar bukunya berada di sana. Kenapa bisa lupa gitu? Lain kali, Mikaela akan merekatkan tangannya dengan buku supaya tidak pernah meninggalkan buku-bukunya.

Dan mengenai piano. Remaja beriris biru ini memperhatikan piano yang sepi.

Ini kisah yang pernah Mikaela baca dari sebuah novel, jika piano berbunyi secara tiba-tiba maka orang yang berada di tempat harus mendengarkan lagu yang dimainkan hingga usai, jika tidak maka entahlah apa yang akan terjadi. Mikaela sendiri sebenarnya takut untuk membayangkan.

Lalu setelah permainan usai, jangan pernah menyentuh piano dan memainkan sebuah lagu, karena jika hal itu terjadi maka seseorang yang sebelumnya memainkan lagu akan marah dan berujung menyiksa.

Di sini bagian yang membuat Mikaela bertanya-tanya, apa penunggu piano itu tak ingin disaingi? Yah, mungkin saja.

Lagipula, selama main-main dengan piano, Mikaela tak pernah merasakan keanehan tersebut terjadi. Jadi tak masalahkan? Hanya saja, karena diingatkan Lacus tentang keanehan piano, remaja ini jadi enggan untuk sentuh-sentuh piano.

Sebaiknya segera kembali ke kelas sebelum hal yang tak diinginkan terjadi. Namun baru saja Mikaela akan melangkah keluar ruangan..

Ting..

Sebuah nada tinggi tertangkap indera pendengaran Mikaela. Remaja ini menghentikan langkah, ia tak salah dengarkan?

Ting.. Ting..

Nada-nada itu semakin jelas terdengar, kali ini membentuk sebuah lagu.

Yang benar saja?

Mikaela tak ingin menatap kebelakang, berlama-lama pun juga tak mau, maka ia memberanikan diri terus berjalan ke arah pintu. Namun angin entah datang dari mana berhembus kencang, mendorong standpart hingga benda itu tergeletak di depan pintu.

Lalu apa ini? Mikaela sepertinya paham jika si pemain piano melarangnya untuk keluar.

Maka dengan keberanian setengah-setengah, remaja ini membalikkan badan, menarik kursi dan duduk memperhatikan piano dari arah jauh. Membiarkan si pemain misterius menyelesaikan permainannya.

Mikaela entah kenapa merinding mendengarkan lagu yang dimainkan. Memang terdengar agak kacau, namun remaja ini tak ingin banyak berkomentar, ia hanya ingin lagu yang dimainkan segela selesai.

Kriet.. Suara pintu terdengar terbuka, seketika itu juga permainan berhenti.

Mikaela menegakkan tubuhnya, sedikit terkejut. Perlahan menatap ke belakang.

"Oh, rupanya kau?" Seorang wanita berbadan mungil menyembulkan kepalanya dari balik pintu kemudian masuk ke dalam.

Wanita itu adalah Krul, salah satu senior kelas 3 di sekolah ini.

"Tadi aku dengar ada suara piano, terus penasaran siapa yang main, makanya aku ke sini.." Wanita itu menjelaskan sembari melangkah pelan mendekati piano.

Mikaela hanya terdiam menatap seniornya itu. Dalam hati berharap agar seniornya tak menyentuh piano.

Krul menggerakan tangannya, jari telunjuk hendak menekan salah satu tuts. Iris biru yang memperhatikan bergetar, entah karena khawatir atau apa.

"Ah.." Krul mengangkat jari telunjuknya, teringat akan sesuatu, "Kudengar kamu pintar bermain piano, bagaimana jika kamu mainkan untukku satu lagu..?"

Mikaela entah kenapa kesusahan bernapas, "A- apa?"

"Ayo, sini! Mainkan satu lagu!" Wanita itu mendekati adik kelasnya, menarik remaja itu dan menyuruhnya duduk di kursi yang menghadap langsung ke piano.

"Ta- tapi aku.." Mikaela hendak menolak.

Namun Krul sudah menunjukkan raut tak suka, mengisyaratkan agar cepat laksanakan tugas. Keringat dingin mengalir perlahan, sebagai adik kelas, Mikaela tak mungkin membantah ucapan seniornya.

Mikaela menatap perlahan ke arah balok-balok hitam putih, jari-jari tangannya bergetar, keringat bahkan mengalir.

"Ayo cepat! Kau tak berencana membuatku jadi abu lantaran lama menunggu kan!?" protes wanita senior tiba-tiba.

Remaja itu memberanikan diri, walau dalam hati sungguh ketakutan. Tunggu. Bukannya Mikaela tidak percaya dengan kisah piano itu? Lalu apa yang membuat dirinya ketakutan?

Kesepuluh jari akhirnya bergerak memainkan sebuah lagu. Entah lagu apa, Mikaela hanya mengimprove-kan apa yang ada dalam pikirannya.

Krul tersenyum kecil, menyentuh bahu adik kelasnya itu, mengisyaratkan agar permainan tetap dilanjutkan. Lalu wanita itu berjalan perlahan ke arah jendela, menatap langit yang sudah menurunkan rintik-rintik hujan.

Pikiran Mikaela entah kenapa melayang ke kejadian beberapa bulan yang lalu, tidak tahu waktunya kapan, namun remaja ini seperti memiliki memori dirinya bersama dengan 'dia' sedang bermain piano.

Oh, sial! Kenapa disaat seperti ini malah mengenang masa lalu?

Seketika, Mikaela menyadari akan sesuatu. Seorang wanita entah sejak kapan duduk di sampingnya, mengamati remaja itu dengan tatapan tajam.

Mikaela sebenarnya ingin menghentikan permainannya, namun wanita itu mencengkram kedua tangan remaja ini, melarangnya untuk berhenti. Dan entah kenapa, cengkraman wanita itu amat sangat kuat, seperti hendak mematahkan saja.

Gerakan jari-jari remaja ini tak beraturan, memukul-mukul tuts dengan serampangan, sebagian kuku entah kenapa terkelupas, bahkan terasa mau patah.

Mikaela ingin berteriak namun lidahnya kelu, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Matanya melirik ke samping, berharap seniornya mau menolong namun dirinya malah langsung bertatapan dengan sosok itu.

Wanita itu tersenyum, senyum lebar yang tak tahu wujudnya seperti apa. Mulutnya sobek hingga pipi, mata merahnya berair bahkan lendir bercampur darah mengalir.

"Mi.. kae.. la.."

Dan.. BRAK!

"GYAAA..!"

Tutup piano itu menutup dengan keras, menghantam jari-jari Mikaela yang masih berada di atas tuts-tuts hitam putih itu.

Krul yang mendengar teriakan itu, langsung membalikkan badannya menatap Mikaela, "Hei, ada apa?" tanyanya sedikit panik.

Mikaela tak menjawab, ia menarik jari-jarinya yang terjepit dengan paksa, tak peduli jika kulitnya terkelupas bahkan jari-jarinya terasa seperti patah. Remaja ini hanya ingin segera pergi, pergi dari hadapan piano terkutuk itu.

"Hei, tunggu!" Krul memanggil namun Mikaela sudah buru-buru keluar ruangan, mengabaikan panggilan seniornya itu.

Remaja ini berlari di koridor, tak tahu hendak ke mana, tapi sialnya dirinya malah bertabrakan dengan seseorang di ujung koridor.

"Kyaa..!" Gadis berbadan mungil itu terjatuh.

Mikaela tersentak kaget, tentunya merasa bersalah, "Ah, ma- maafkan aku.." ucapnya dengan suara sedikit bergetar, masih ketakutan. Remaja ini mengulurkan tangan, hendak membantu gadis itu berdiri.

"Aa, tidak apa.." Gadis bersurai ungu itu menerima uluran tangan dari remaja di hadapannya, "Eh? Tanganmu terluka?"

Mikaela buru-buru menarik tangannya, "Ti- tidak.." bantahnya malah mengingat-ingat kejadian sebelumnya.

"Itu berdarah! Harus diobati!" bentak gadis itu kemudian mengajak Mikaela ke ruang kesehatan.

Maka remaja ini menurut, kenyataan kan jika memang tangannya terluka akibat piano itu. Untungnya sih tak terlalu parah, hanya saja, beberapa jari mengalami retak ringan. Mungkin harus dibawa ke rumah sakit.

Mikaela terdiam memperhatikan gadis di hadapannya yang tengah memberikan obat merah pada kulit terkelupasnya, juga melilitkan perban. Entah kenapa ia teringat akan sesuatu.

"Kamu.. Shinoa kan?" tanya remaja ini pelan.

Gadis itu mengangkat kepalanya, "Ah, iya.. Bagaimana kamu bisa tahu?"

"Banyak murid yang membicarakan dirimu.." balasnya sembari mengalihkan pandangannya. "Kamu murid baru itu kan?"

"Begitulah.."

"Kenapa pindah ke sini?"

"Eng.." Manik coklat kemerahan itu menatap ke arah lain, sedang berpikir, "Ada sesuatu yang harus kucari, hehee.."

"Oh.. Kuharap kau betah di sini.." ucap Mikaela agak memelan dibagian akhir.

"Huh? Kenapa?"

"Tidak.. Sebaiknya kau kembali ke kelas, masih pelajaran kan?"

"Ah, iya. Aku lupa!" Shinoa bangkit dari duduknya, "Kalau begitu aku permisi, ung..?"

"Mikaela.."

"Oke, Mikaela.. Sampai bertemu lain waktu.." ucap gadis itu sembari berlari keluar dari ruang kesehatan.

Mikaela terdiam mendengarkan langkah kaki yang sudah semakin mejauh. Remaja ini kemudian memejamkan matanya sembari mendengus pelan. Berpikir tentang gadis yang baru saja ia temui. Gadis yang ceria sepertinya, tapi pasti tak akan bertahan lama.

Manik biru kemudian memperhatikan jari-jarinya yang kini sudah dibalut perban. Menggerakkannya sedikit, merasakan jika jari-jarinya itu terasa sakit. Ah, sial! Kenapa harus jari?

Perlahan hawa dingin terasa. Seseorang memeluk Mikaela dari belakang, menyentuh tangan remaja itu. Mata Mikaela terbelalak lebar.

"Mi.. kae.. la.." Suara seorang wanita terdengar lembut.

Mikaela kesusahan untuk bernapas. Mengutuk diri sendiri yang dengan bodohnya menyuruh Shinoa untuk kembali ke kelas.

.

.

.

END

.

.

.

Note : chap ini tidak seram? aih, maafkan saya..

kesan pesan saya tunggu..

Next, Mystery3. Toilet Ujung

See ya~